Articles

Found 11 Documents
Search

The Potential of Vegetation Species Diversity for Ecotorourism Development at Nature Reserve of Panjalu Lake Rachman, Encep; Hani, Aditya
Jurnal Wasian Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Wasian
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPLHK)Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jwas.v4i1.1985

Abstract

The Nature Reserve of Panjalu Lake is one of the oldest conservation area in Indonesia. As a conservation area, Panjalu Lake has different species of flora that are useful as germplasm conservation, science and education. This study aims to know the potential of vegetation species diversity for ecotourism development at Nature Reserve of Panjalu Lake. The inventory method used is line plot sampling with intensity 15 % in two paths of 500 m (adjusted according length of the area) and 20 m width. Spacing between lines is 200 m and spacing between observation plot is 100 m. Within each path, 50 m x 20 m observation plots were established. The results showed that there are three species of seedlings with highest IVI, namely: Dysoxylum densiflorum Miq. (47.64 %), Calamus zollingerii (47.64 %), and Sterculia macrophylla Vent. (44.37 %). The four species at sapling stage with highest IVI are: Litsea cassiaefolia (114.29 %); Dysoxylum densiflorum Miq (57.14 %); Litsea sp. and Endiandra rubescens Miq (14.29 %). Three species at pole stage with highest IVI, namely: Dysoxylum densiflorum Miq. (143.04%); Litsea cassiaefolia (99.78 %) and Artocarpus elasticus Reinw 9.53 %). Three species at tree stage with highest IVI, namely: Dysoxylum densiflorum Miq (147.924 %), Litsea cassiaefolia (68.753 %), and Eugenia fastigiata Miq ( 31.410 %). Keywords: conservation area, Nature reserve of Panjalu Lake, vegetation structure, Important Value Index
KEBERHASILAN STEK PUCUK GANITRI ( Elaeocarpus ganitrus ROXB) PADAAPLIKASI ANTARA MEDIA TANAM DAN HORMON TUMBUH Rachman, Encep; Rohandi, Asep
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BIOMASSA LANTAI HUTAN DAN JATUHAN SERASAH DI KAWASAN MANGROVE BLANAKAN, SUBANG, JAWA BARAT Siarudin, M.; Rachman, Encep
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.4.329-335

Abstract

Penelitian mengenai produksi biomassa lantai hutan dan jatuhan serasah telah dilaksanakan di kawasan hutan mangrove Blanakan, Subang, Jawa Barat pada bulan Juli-Desember 2006. Pengambilan data dilakukan dengan metode contoh acak bertingkat, yaitu dengan memilih dua petak masing-masing berukuran ± 50 m x 50 m. Untuk setiap plot dipilih tiga titik pengamatan secara acak terpilih yang dianggap mewakili kondisi ekosistem. Parameter yang diamati adalah berat basah, berat kering, kadar air, dan kedalaman lapisan bahan organik lantai hutan, dan jatuhan serasah. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, biomassa yang tersedia di lantai hutan mangrove Blanakan adalah sebesar 11,164 ton/ha dan kadar air rata-rata 74,60%, yang terdiri dari lapisan humus = 4,37 ton/ha, lapisan fermentasi-1 = 1,558 ton/ha, lapisan fermentasi-2 = 0,84 ton/ha, dan lapisan serasah = 4,396 ton/ha. Lapisan serasah terletak pada kedalaman 0-1 cm, lapisan fermentasi pada kedalaman 1-2,5 cm, dan lapisan humus pada kedalaman 2,5-3 cm. Laju jatuhan serasah mencapai rata-rata 8,56 ton/ha/th berdasarkan berat basah atau 6,23 ton/ha/th berdasarkan berat kering. Berdasarkan jenis mangrove yang mendominasi daerah Blanakan, diketahui bahwa jenis api-api (Avicennia marina (Forssk.) Vierh.) menghasilkan serasah lebih banyak dibandingkan dengan bakau (Rhizophora apiculata Blume), yaitu masing-masing 6,51 ton/ha/th dan 4,95 ton/ha/th.
VARIATION OF DIMENSION AND MOISTURE CONTENT OF Agathis labillardieri Werb. FRUIT BASED ON ITS COLOUR Rachman, Encep
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 3 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2007.1.3.115-121

Abstract

Agathis labillardieri fruits can be distinguished according to their colours into three different colours i.e. light green and green. This study examined variation of dimension and moisture content of Agathis labillardieri based on those colours. The fruitys are measured their avarege fruits diameter, fruits length, fruit weight, moisture content and and germination percentage. The expweriment were laid out as a Completely Randomized Design. The result indicated that mature fruits have dark green colour. The charateristics of these green fruits are germination percentage 91 %, moisture content 31.2 %, fruit diameter 8.6 cm, length 8.7 cm and fruit weight 526.97 gr.
BIOMASSA LANTAI HUTAN DAN JATUHAN SERASAH DI KAWASAN MANGROVE BLANAKAN, SUBANG, JAWA BARAT Siarudin, M.; Rachman, Encep
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian mengenai produksi biomassa lantai hutan dan jatuhan serasah telah dilaksanakan di kawasan hutan mangrove Blanakan, Subang, Jawa Barat pada bulan Juli-Desember 2006. Pengambilan data dilakukan dengan metode contoh acak bertingkat, yaitu dengan memilih dua petak masing-masing berukuran ± 50 m x50 m. Untuk setiap plot dipilih tiga titik pengamatan secara acak terpilih yang dianggap mewakili kondisi ekosistem. Parameter yang diamati adalah berat basah, berat kering, kadar air, dan kedalaman lapisan bahan organik lantai hutan, dan jatuhan serasah. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, biomassa yang tersedia di lantai hutan mangrove Blanakan adalah sebesar 11,164 ton/ha dan kadar air rata-rata 74,60%, yang terdiri dari lapisan humus = 4,37 ton/ha, lapisan fermentasi-1 =1,558 ton/ha, lapisan fermentasi-2 = 0,84 ton/ha, dan lapisan serasah = 4,396 ton/ha. Lapisan serasah terletak pada kedalaman 0-1 cm, lapisan fermentasi pada kedalaman 1-2,5 cm, dan lapisan humus pada kedalaman2,5-3 cm. Laju jatuhan serasah mencapai rata-rata 8,56 ton/ha/th berdasarkan berat basah atau 6,23 ton/ha/th berdasarkan berat kering. Berdasarkan jenis mangrove yang mendominasi daerah Blanakan, diketahui bahwa jenis api-api (Avicennia marina (Forssk.) Vierh.) menghasilkan serasah lebih banyak dibandingkan dengan bakau (Rhizophora apiculata Blume), yaitu masing-masing 6,51 ton/ha/th dan 4,95 ton/ha/th.
TINGKAT KEBERHASILAN MODEL RESTORASI DI PONDOK INJUK KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK : Studi Kasus Kampung Cimapag, Sebagai Model Kampung Konservasi Hani, Aditya; Rachman, Encep
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengkaji keberhasilan penerapan model restorasi yang dilaksanakan oleh masyarakat  Kampung Cimapag sehingga diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan bagi pengelola Taman Nasional lainnya.  Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan metode purposive sampling terhadap anggota kelompok Masyarakat Kampung Konservasi (MKK) yang berjumlah 15 responden. Data sekunder diperoleh dari hasil laporan penelitian yang telah dilakukan sebelumya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Pondok Injuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu tempat yang mengalami kerusakan akibat adanya tekanan penduduk berupa penebangan pohon dan pembukaan hutan untuk lahan pertanian. Untuk mengembalikan kepada kondisi seperti semula, Balai TNGHS mengupayakan melalui kegiatan restorasi dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dikembangkan yaitu pembentukan MKK yang telah dimulai sejak tahun 2004. Model Kampung Konservasi mempunyai tiga kegiatan pokok meliputi : 1) Memperbaiki atau merehabilitasi kawasan TNGHS yang rusak, 2) Observasi kawasan TNGHS secara bersama-sama dengan masyarakat lokal dengan tujuan untuk memantau situasi sekaligus untuk mengurangi kegiatan-kegiatan illegal, serta menjalin hubungan yang baik antara TNGHS dengan masyarakat lokal melalui komunikasi yang intens, dan 3) Untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan restorasi yang telah dilaksanakan oleh masyarakat   Kampung Cimapag   antara lain melakukan penanaman secara swadaya tanaman kayu-kayuan jenis asli setempat. Luas lahan yang berhasil ditanami adalah 49,5 ha dengan 19.817 bibit pohon terdiri dari rasamala (Altingia excelsa Noronha), puspa (Schima wallichii Reinw), dan huru (Litsea javanica BL). Bibit pohon yang ditanam berasal dari cabutan anakan alam yang ada di sekitar Kampung Cimapag. 
TINGKAT KEBERHASILAN MODEL RESTORASI DI PONDOK INJUK KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK : Studi Kasus Kampung Cimapag, Sebagai Model Kampung Konservasi Hani, Aditya; Rachman, Encep
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.591-602

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengkaji keberhasilan penerapan model restorasi yang dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Cimapag sehingga diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan bagi pengelola Taman Nasional lainnya.  Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan metode purposive sampling terhadap anggota kelompok Masyarakat Kampung Konservasi (MKK) yang berjumlah 15 responden. Data sekunder diperoleh dari hasil laporan penelitian yang telah dilakukan sebelumya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Pondok Injuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu tempat yang mengalami kerusakan akibat adanya tekanan penduduk berupa penebangan pohon dan pembukaan hutan untuk lahan pertanian. Untuk mengembalikan kepada kondisi seperti semula, Balai TNGHS mengupayakan melalui kegiatan restorasi dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dikembangkan yaitu pembentukan MKK yang telah dimulai sejak tahun 2004. Model Kampung Konservasi mempunyai tiga kegiatan pokok meliputi: 1) Memperbaiki atau merehabilitasi kawasan TNGHS yang rusak, 2) Observasi kawasan TNGHS secara bersama-sama dengan masyarakat lokal dengan tujuan untuk memantau situasi sekaligus untuk mengurangi kegiatan-kegiatan illegal, serta menjalin hubungan yang baik antara TNGHS dengan masyarakat lokal melalui komunikasi yang intens, dan 3) Untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan restorasi yang telah dilaksanakan oleh masyarakat   Kampung Cimapag   antara lain melakukan penanaman secara swadaya tanaman kayu-kayuan jenis asli setempat. Luas lahan yang berhasil ditanami adalah 49,5 ha dengan 19.817 bibit pohon terdiri dari rasamala (Altingia excelsa Noronha), puspa (Schima wallichii Reinw), dan huru (Litsea javanica BL). Bibit pohon yang ditanam berasal dari cabutan anakan alam yang ada di sekitar Kampung Cimapag. 
MUTU BIBIT MANGLID (Manglieta glauca BI) PADA TUJUH JENIS MEDIA SAPIH Sudomo, Aris; Rachman, Encep; Mindawati, Nina
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2010.7.5.265-272

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis media sapih yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan mutu bibit Manglieta glauca BI terbaik. Penelitian dilakukan di persemaian Balai Penelitian Kehutanan Ciamis dari bulan Februari 2008 s/d September 2008. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 7 jenis media sapih yaitu M1 (Tanah + Pupuk kandang (3:1)), M2 (Tanah), M3 (Tanah + Pupuk kandang + Sekam padi (1:1:1)), M4 (Tanah + Pupuk kandang + Pasir (1:1:1)), M5(Tanah + Pupuk kandang + Serbuk sabut kelapa (1:1:1)), M6 ((Tanah + Pupuk kandang + Serbuk gergaji (1:1:1)) dan M7 ( Tanah + Pupuk kandang + Abu sekam padi (1:1:1)). Masing-masing perlakuan 60 bibit sehingga total bibit yang diperlukan adalah 7 x 60 = 420 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran media M4 (Tanah+ Pupuk kandang+Pasir (1:1:1)) memberikan pertumbuhan diameter (0,469 cm), tinggi (22,678 cm) dan jumlah daun (9,978) M. glauca BI yang lebih baik dibanding media lainnya. Campuran media M5 (tanah+pupuk kandang+serbuk sabut kelapa (1:1:1)) memberikan berat kering akar (2,096), berat kering batang dan daun (4,046) dan indeks mutu bibit (0,132) M. glauca BI yang terbaik dibanding media lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan campuran media M4 dan M5 masing-masing memberikan pertumbuhan dan indeks mutu bibit yang terbaik dalam teknik pembibitan M. glauca BI. .
KEBERHASILAN STEK PUCUK GANITRI ( Elaeocarpus ganitrus ROXB) PADAAPLIKASI ANTARA MEDIA TANAM DAN HORMON TUMBUH Rachman, Encep; Rohandi, Asep
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.4.219-225

Abstract

Perbanyakan tanaman ganitri secara generatif mengalami hambatan karena terjadinya dormansi kulit sehingga benih sulit untuk berkecambah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bibit adalah melalui perbanyakan secara vegetatif dengan stek pucuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tumbuh stek pucuk ganitri (Elaeocarpus ganitrus) pada aplikasi antara media dan hormon tumbuh di persemiaan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan pola faktorial 4 x 4. Faktor A adalah media tumbuh yang terdiri dari : A . Pasir, A . pasir : arang sekam (1 : 1), A . pasir : sabut kelapa (1 : 1) dan A. sabut  kelapa : arang sekam (1 : 1), faktor Badalah hormon /zat pengatur tumbuh (ZPT) IAA yang terdiri dari : B . 0 ppm; B. 100 ppm; B . 200 ppm dan B . 300 ppm, setiap kombinasi perlakuan diulang tiga (3) kali serta masing-masing ulangan terdiri dari 15 stek. Parameter yang diamati adalah persen hidup, keberhasilan pembentukkan tunas (jumlah dan berat kering), perakaran (jumlah, panjang dan berat kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tumbuh pasir dan zat pengatur tumbuh IAA ppm 300 ppm (A1 B4) memberikan pertumbuhan terbaik dibandingkan kombinasi perlakuan yang lain. Hal tersebut ditunjukkan dengan persen hidup, jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar berat kering akar berat kering tunas yang lebih tinggi yaitu berturut-turut 97,77%; 5,66 buah; 4,66 buah; 14,35 cm; 0,67 gram dan 1,57 gram.
THE USE OF WILDLING OF TISUK (Hybiscus macrophyllus) FOR ENRICHMENT PLANTING OF PRIVATE FOREST AT TASIKMALAYA Sudomo, Aris; Rachman, Encep
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2008.2.1.181-188

Abstract

Research on tisuk (Hibiscus macrophyllus) wildlings was conducted in the private forest area in Pasirbatang Village, Manonjaya Sub-District, Tasikmalaya District. The material of tisuk wildings was grown in nursery area of Ciamis Forestry Research Institute. The research was conducted on September 2007, starting with the private forest observation, which covers the potency of natural seedling spreading and the measurement of 2 years old-tisuk wildling, which came from natural seedling. The diameter growth of 2 years old-tisuk natural seedling that belong to the private forest farmer are 5.6 cm, 4.9 cm and 7.1 cm, while its height are 6.0 cm, 6.3 cm and 7.1 cm. The huge number of tisuk wildling availability under the tisuk stand has high potency to be the material for forest regeneration. Some of its techniques are covering the big tree selection, tisuk natural seedling selection, taking off, packaging, tisuk natural leaf cutting, replacement and seedling maintaining.