Articles

Found 10 Documents
Search

PEMIKIRAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Qomar, Mujamil
Research Collections Book Collections 2013
Publisher : Research Collections

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku yang ada di tangan pembaca ini berasal dari naskah yang telah penulis susun 20 tahun yang lalu, tepatnya pada 1993 hingga 1994. Naskah aslinya lebih tebal, tetapi setelah penulis telaah kembali ada bagian-bagian tertentu sebanyak 1 bab setengah, terpaksa penulis delete karena informasinya telah basi (out of date), yakni telah tertinggal oleh dinamikanya sendiri. Bagian yang di- delete itu berkaitan dengan pembahasan mengenai porspek alih status dari STAIN/IAIN menuju UIN dan kurikulum 1994, keduanya merupakan informasi yang telah terlewati jika diukur dari waktu sekarang.Pendidikan Islam dari segi prakteknya mengalami kelemahan dan keterbelakangan, mulai dari metodologi pengajaran hingga soal kepemimpinan (leadership), dari kualitas raw in-put (siswa/ mahasiswa baru) hingga kualitas out-put (tamatan/sarjana), dari etos kerja hingga prospek kerja, dan dari penggalian dana hingga penggunaannya. Potensi bahasa Arab dan Inggris belum me- nunjukkan pengembangan yang seimbang dan optimal baik di kalangan siswa/mahasiswa maupun guru/dosen. Profesionalisme dan tingkat pendidikan tenaga edukatif masih jauh dari kelayakan  dan ketinggalan dibanding tenaga edukatif yang dimiliki lembaga pendidikan lain. Upaya-upaya pegembangan tampaknya belum memperoleh konsensus-konsensus yang mendukung sepenuhnya akibat polemik wawasan dan kontroversi kepentingan sehingga belum mampu berjalan secara kondusif.Buku ini mencoba menawarkan alternatif strategi pengem-bangan pendidikan Islam dengan menekankan pada kajian manajerial berdasarkan fakta empiris di lapangan. Berbagai kelemah- an sengaja diungkap guna menerapkan strategi dan jurus-jurus pengembangan yang lebih bijaksana dan tepat sasaran. Cacat-cacat pelaksanaan pendidikan Islam sengaja ditunjukkan secara gamblang bukan untuk mendiskreditkan prestasi dan pristise pendidikan Is- lam melainkan untuk mengenali lebih dekat terhadap penyebab- penyebabnya, kemudian mencari terobosan-terobosan strategis yang fungsional merubah nasip buruk yang selama ini membelenggunya.Dengan memperhatikan pada sifat kajian buku ini yang berupaya menyodorkan pemecahan problematika (problem solving) yang terjadi di dalam tubuh institusi pendidikan Islam, maka buku ini dapat digunakan sebagai penunjang literatur mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam dan Kapita Selekta Pendidikan dilingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN dan UIN maupun Jurusan Tarbiyah di STAIN, Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS).
RAGAM PENGEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF DI INDONESIA Qomar, Mujamil
Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.155 KB)

Abstract

Ada kontroversi pemikiran di kalangan pengamat tentang tasawuf. Sebagian mereka mengkritik secara tajam terhadap tasawuf sebagai salah satu faktor penyebab kemunduran dunia Islam lantaran menyebabkan sikap pasrah, acuh tak acuh dan pasif terhadap kehidupan duniawi. Namun pada bagian lain, justru muncul penilaian sebaliknya. Tasawuf memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar pada kebangunan umat Islam dan kemajuannya. Maka masalahnya terletak pada potensi tasawuf dalam kehidupan umat Islam. Masalah ini selanjutnya difokuskan pada kreativitas pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam mengembangkan tasawuf. Lalu diajukan rumusan masalah (pertanyaan penelitian): bagaimanakah kreativitas pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam mengembangkan ilmu tasawuf mulai 1980 hingga sekarang (2014)? Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, peneliti mengumpulkan data melalui metode dokumentasi (studi teks/telaah pustaka). Kemudian setelah data-data terkumpul, dianalisis melalui analisis isi (content analysis) dan analisis kritis (critical analysis). Penelitian ini menghasilkan delapan macam tawaran pengembangan tasawuf, yaitu tasawuf sosial, tasawuf positif, tasawuf perkotaan, tasawuf falsafi, tasawuf irfani, tasawuf kontekstual, tasawuf Jawa dan tasawuf Muhammadiyah. Tasawuf terakhir ini memancing perhatian sebab sebagai kalangan modernis, Muhammadiyah dahulu senantiasa menyerang tasawuf sekaligus menawarkan tajdid dan ijtihad. Melalui tasawuf Muhammadiyah ini, berarti terjadi pergeseran sikap Muhammadiyah dalam menghadapi tasawuf sehingga tampak lebih ramah. There is a controvertial thought in Sufism. Some critical thought said that Sufism can cause Islam will have’nt progress. But in other side, Sufism has great contribution to develop and strengthen Islam. So, this problem is focused a the creativeness of Moslem scholars to support the Sufism grows well. The research problem is how did the Islamic thinkers of Indonesia develop Sufism science from 1980 until now (2014). The researcher used documentation (library study) to collect the data, then analized through content analysis and critical analysis. The researcher finding are: Social Sufism, Positive Sufism, Philosophycal Sufism, Irfani Sufism, Contextual Sufism, Javanese Sufism and Muhammadiyah Sufism.
RAGAM IDENTITAS ISLAM DI INDONESIA DARI PERSPEKTIF KAWASAN Qomar, Mujamil
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.532 KB) | DOI: 10.21274/epis.2015.10.2.317-352

Abstract

Sebenarnya pada level al-Qur’an maupun secara substantif, Islam itu di mana saja satu. Namun, ketika Islam berjumpa dengan budaya dan tradisi lokal, ekpresi Islam bisa bermacam-macam. Ekpresi Islam itu bisa diperhatikan dari peranan, corak, pendekatan dan kawasannya. Tulisan ini merekam hasil penelitian yang telah menjawab permasalahan ragam identitas Islam ditinjau dari segi kawasannya. Data-data jawaban itu dikumpulkan melalui metode dokumentasi dan dianalisis melalui metode content analysis. Hasilnya, identitas Islam dari perspektif kawasan yang dipublikasikan di Indonesia ini ada tujuh: Islam Nusantara, Islam Indonesia, Islam Jawa/Islam Kejawen, Islam Sasak, Islam Syariah dan Islam Adat Hatuhaha, Islam Bubuhan Kumai dan Islam Pesisir. Semua identitas Islam ini dipengaruhi budaya dan tradisi lokal. Hanya ada sedikit dari varian identitas itu yang agak menjaga jarak dengan budaya dan tradisi lokal tersebut, yaitu Waktu Lima pada Islam Sasak, Islam Syariah pada Hatuhaha dan Kelompok Nahu pada Islam Bubuhan Kumai. Actually, both in the Qur’an and substantive level, Islam is just one. However, when Islam met with local culture and tradition, Islamic expression can be diverse. It could be considered Islamic expression of its role, character, approach and region. This paper records the results of research that has addressed the problem variety of Islamic identity in terms of region. The data was collected through a method answer documentation and analyzed through content analysis. As a result, Islamic identity from the perspective of the region published in Indonesia there are seven: Archipelago Islam, Indonesian Islam, Javanese Islam, Islamic Sasak, Islamic Syariah and Islam Indigenous Hatuhaha, Kumai Bubuhan Islamic and Coastal Islam. All Islamic identity is influenced by culture and local traditions. Only a handful of variants that identity rather keep a distance with the local culture and tradition, Waktu Lima in Islamic Sasak, Islamic Syariah in Hatuhaha and Nahu Group in Kumai Bubuhan Islamic.
KONSTRUKSI PENGEMBANGAN KEILMUAN PROGRAM STUDI PAI PADA PROGRAM PASCASARJANA Qomar, Mujamil
Didaktika Religia Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : STAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/didaktika.v1.i1.p%p.2013

Abstract

The article explores the development construction of Islamic education at post graduate program both at PTAIN and PTAIS. The results show that the development construction of Islamic education at Islamic tertiary education need certain formula by considering all situation and condition related to the existence of the Islamic education. It is of paramount importance since they do contribute to the development construction of Islamic education. In addition, the emphasis of the construction should be reflected in any activity conducted by both leaturers and students. Key words: Development construction, Islamic education, Tertiary education
IMPLEMENTASI ASWAJA DALAM PERSPEKTIF NU DI TENGAH KEHIDUPAN MASYARAKAT Qomar, Mujamil
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 2, No 01 (2014)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.152 KB) | DOI: 10.21274/kontem.2014.2.01.

Abstract

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) is a theological sect who claimed by various Islamic organization in both redactional and substantive. Some of them is Laskar Jihad Ahlussunnah wal  Jamaah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam and Wahabi. But of all the organization doesn’t have the same attitude, thingking, response to a tradition (culture) and political view. Aswaja among the public and ulama still partically understood, local and organizational ideology tendentious. The emergence of Aswaja is reaction to the Mutazilah were less strong in holding the sunnah of the Prophet rather than else, so it appears as an antithesis to Hegelian dialectic perspective. Aswaja’s doctrine is constructed by al-Asyari and al-Maturidi, but both have different patterns of thought: al-Asyari’s thought is more traditional whereas al-Maturidi is rational. Aswaja’s doctrine version of al-Asyari, in practically followed by NU. The fikih sect follow Imam Syafii and Sufism follow Imam Junaid al-Baghdadi or Imam al-Ghazali. All they thoughts represented moderate character, so NU is a moderate Islamic organization. But NU becomes less interesting now. Therefore NU need to reconstruction four actions related to both management and organizational leadership, role model of society and state, human resources in a expertise variety and strategic forces in contemporary society.Keywords: Aswaja, NU, Society
Pengembangan Sistem Pendidikan Pesantren dalam Perubahan Sosial Qomar, Mujamil
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan EDUKASI | VOLUME 8, NOMOR 1, APRIL 2010
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.151 KB)

Abstract

Pesantren as a system of education has reciprocity with the other system. pesantren education system changes seen in the pattern of adaptation which may range from a very gradual adaptation to change very responsive. the adaptation of changes that occur the question is whether the boarding school on the subject or object position. when included in the formal areas, mobility was still limited to boarding school graduates in the sector, the religious department, and then only limited, if compared with other education. for that, the next boarding schools not only prepare the formal sector is limited, but must meet the needs of the open in the informal sector such as public and private.
ISLAM NUSANTARA: SEBUAH ALTERNATIF MODEL PEMIKIRAN, PEMAHAMAN, DAN PENGAMALAN ISLAM Qomar, Mujamil
EL HARAKAH (TERAKREDITASI) Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i2.3345

Abstract

Islam Nusantara is a model of thought, comprehension, and implementation of Islamic teachings covered by culture and tradition developed in Southeast Asia (the scope of which is limited to Indonesia), that reflects Islamic identity with methodological nuance. The identity has various and controversial responses when it is socialized among Moslem because Islam is one, namely, Islam taught by prophet Muhammad. Otherwise, the majority of Islamic scholars accepted Islam Nusantara. That Islam is one is substantively true, but it expressed widely including Islam Nusantara. Islam is presented (thought, comprehended, and implemented) through cultural approach. The result leads to the thinking model, comprehending, and implementing Islamic teachings which are harmonious, moderate, inclusive, tolerant, peaceful, and multicultural based. The diverse Islamic thought is caused by local culture, especially Javanese culture, or called cultural acculturation. The Indonesian Islam can be a role model. It brings peaceful and harmonious messages, so it could be socialized internationally and replaced misleading opinion that Islam is full of violence. Islam Nusantara merupakan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang dikemas melalui pertimbangan budaya atau tradisi yang berkembang di wilayah Asia Tenggara (tetapi kajian ini dibatasi pada Indonesia), sehingga mencerminkan identitas Islam yang bernuansa metodologis. Identitas ini ketika disosialisasikan di kalangan umat Islam, khususnya para pemikirnya direspons dengan tanggapan yang kontroversial: ada yang menolak identitas Islam Nusantara itu karena Islam itu hanya satu, yaitu Islam yang diajarkan oleh Nabi. Sebaliknya, banyak pemikir Islam yang menerima identitas Islam Nusantara itu. Bagi mereka, Islam hanya satu itu benar secara substantif, tetapi ekpresinya beragam sekali, termasuk Islam Nusantara. Islam ini ditampilkan (dipikirkan, dipahami dan diamalkan) melalui pendekatan kultural. Hasilnya melahirkan model pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang ramah, moderat, inklusif, toleran, cinta damai, harmonis, dan menghargai keberagaman. Keberagamaan Islam demikian ini terjadi lantaran perjumpaan Islam dengan budaya (tradisi) lokal, khususnya Jawa, yang biasa disebut akulturasi budaya. Islam Indonesia patut menjadi contoh cara berislam yang demikian. Model Islam yang serba menyejukkan ini perlu dipublikasikan secara internasional dan diharapkan mampu menggugurkan persepsi dunia bahwa Islam itu penuh kekerasan.
PROFESIONALISME GURU BERBASIS NILAI-NILAI RELIGIUS DAN AKHLAK MULIA Qomar, Mujamil
J-MPI (Jurnal Manajemen Pendidikan Islam) J-MPI Vol. 1, No. 2, Juli - Desember 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jmpi.v1i2.3965

Abstract

Profession, professional, and professionalism are the three words that have different editors and with different emphases, but the same substance. These three words are used in the elaboration of the position of teachers PAI. All three of understanding the existence of a work performed by the expertise, so that the three important especially in performing work involving other people in an educational institution. The teacher's role is not limited to the transfer function of knowledge to students, but teachers have a wider role in the community to creating value changes.Changes in the value of the community showed the competence of teachers able to encourage their learning interactions. The teaching profession is able to provide a strong impetus values and can convey information and knowledge to the learners. It is the responsibility inherent to each educator. Educator is the predicate in charge of implementing keteladan-based learning and religious values. The aspect of responsibility. Another thing is the issue of competence. PAI teacher competence was actually the heaviest and most complex than teachers in addition to PAI. Because the material PAI includes the disciplines of theology (tawhid), the science of morals, the science of the Koran, the science of hadith, the science of fiqh, the science of the history of Islamic culture and the Arabic language. Indeed, the Arabic language is not included in the components of PAI, but the Arabic language as a tool of science is always attached to the PAI. One can not possibly master the material PAI without the ability to master the Arabic language.
PENELUSURAN PROTOTIPE PEMIKIRAN ISLAM FAISAL ISMAIL DAN PROBLEM YANG MENGHADANG Qomar, Mujamil
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i1.41

Abstract

Buku yang berjudul Visi Pluralis-Humanis Islam Faisal Ismail ini merupakan hasil final dari upaya Aksin Wijaya dalam menelusuri dan menformulasikan model pemikiran Islam Faisal Ismail yang tersebar di berbagai media baik buku, jurnal, majalah, antologi maupun surat kabar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa prototipe pemikiran Faisal Ismail sebagai pluralis-humanis ini sebagai hasil “Ijtihad Ilmiah” dari intelektual muslim asal Sumenep Madura ini.Judul buku ini cukup menarik perhatian terutama pada kata pluralis yang seakar kata dengan pluralisme. Sebagai sebuah konsep, pluralisme yang digagas antara lain oleh Harold Coward[1] ini di Indonesia pernah menimbulkan kontroversi yang sangat tajam antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pemikir Islam liberal. MUI bahkan mengharamkan pluralisme itu, sedangkan pemikir Islam liberal memandang sebagai suatu keniscayaan sejarah yang tidak mungkin dihindarkan terutama dalam kehidupan global sekarang ini di mana arus interaksi pergaulan umat manusia semakin kompleks. Dengan kata lain, sebenarnya pluralisme merupakan sunnatullah. Faisal Ismail sendiri juga dalam buku ini telah mengritik fatwa MUI tersebut, meskipun dia bukan pemikir Islam liberal.Tulisan dalam buku ini sesungguhnya merupakan upaya membaca, mencermati, menyimpulkan, dan menegaskan formulasi identitas sebuah prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail. Suatu upaya yang relatif sulit lantaran pemikiran seseorang itu seringkali merefleksikan prototipe yang ganda. Misalnya, Imam Al-Ghazali oleh kalangan konservatif dinilai liberal tetapi oleh kalangan liberal dinilai konservatif; Al-Ghazali oleh kalangan tertentu dianggap anti-intelektualisme namun menurut kalangan lainnya justru dipandang sebagai intelektual Muslim kaliber dunia; dan berdasarkan kitabnya, Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali dipersepsi sebagai pemikir Islam yang anti-filsafat, namun kelompok lainnya justru mempersepsinya sebagai pemikir Islam yang mendalami dan terpengaruh oleh filsafat Yunani berdasarkan karya al-Ghazali lainnya, seperti Mi’yar al-‘Ilm, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul dan al-Qisthas al-Mustaqim. Sosok Gus Dur juga bisa dikategorikan sebagai pemikir tradisional, modernis, neomodernis, substantivistik, pluralis, kosmopolit, divergen, bahkan liberal. Demikian juga, prototipe pemikiran Faisal Ismail juga tidak mudah dirumuskan secara utuh dan tuntas, mengingat masih muncul bayang-bayang prototipe lainnya kendatipun tidak sekompleks al-Ghazali maupun Gus Dur.Kesulitan merumuskan prototipe pemikiran seperti yang dilakukan oleh Aksin Wijaya ini, makin terasa setelah dia menghadapi setidaknya empat hal: substansi pemikiran yang dikaji, metode atau pendekatan yang digunakan oleh tokoh yang dikaji, karakteristik pemikiran yang dikaji, dan kategorisasi atau prototipe pemikiran yang dikaji. Tambahan lagi, yaitu metode atau pendekatan yang dipakai oleh pengkaji sendiri. Kesulitan menangkap substansi pemikiran yang sedang dikaji karena pengkaji harus mencermati berbagai pemikiran seorang tokoh yang berserakan dan terkadang tidak sambung bahkan bertentangan; kesulitan menangkap metode atau pendekatan yang digunakan karena seringkali tokoh yang dikaji tidak menyebutkan jenis metode atau pendekatannya, dan jika misalnya dia menyebutkannya juga seringkali tidak jelas; kesulitan menangkap karakteristik pemikiran juga terjadi karena pengkaji harus mampu membedakan pemikiran yang sedang dikaji dengan pemikiran-pemikiran tokoh lainnya yang begitu banyak dan tidak jarang terjadi kemiripan-kemiripan; sedangkan kesulitan menangkap kategori atau prototipe pemikiran yang dikaji -- sebagaimana di depan telah disebutkan – karena suatu pemikiran seringkali mencerminkan wajah ganda, dan banyaknya sudut pandang yang dijadikan untuk memotret pemikiran seseorang. Metode atau pendekatan yang digunakan oleh pengkaji sendiri juga ikut mempersulit perumusan prototipe pemikiran seseorang tokoh karena seringkali terjebak dalam subjektivitas, sehingga pemahaman pengkaji terhadap pemikiran tokoh berbeda jauh dengan yang dimaksudkan oleh tokoh itu sendiri.Empat macam problem ini sekaligus sebagai tahapan dalam merumuskan prototipe pemikiran sesorang tokoh tersebut sehingga menuntut keseriusan pengkaji. Problem pertama terkait dengan substansi pemikiran Faisal Ismail telah berhasil dilalui oleh Aksin Wijaya dengan keberhasilannya menjelajahi dan mendalami berbagai pemikiran Faisal Ismail yang tersebar pada berbagai media kemudian mengambil intisarinya. Aksin Wijaya telah mengumpulkan dan menelaah isi/kandungan karya-karya Faisal Ismail mulai dari karya berbentuk puisi, sajak-sajak, pemikiran, maupun kritik yang menggugat pemikiran tokoh-tokoh tertentu, yang termuat baik dalam majalah, jurnal, koran, antologi, tesis, disertasi, buku ajar, buku ilmiah,  makalah, dan artikel populer.Beberapa ilustrasi pemikiran Faisal Ismail telah dipaparkan oleh Aksin Wijaya dalam buku yang ada di tangan pembaca ini. Misalnya, Faisal Ismail telah berusaha mendudukkan perbedaan tiga istilah kunci yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman yaitu modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi.[2] Pengertian modernisasi tidak sama dengan westernisasi. Jika proses westernisasi mengandung proses sekularisasi, maka tidaklah demikian dengan modernisasi.[3] Kebudayaan Barat tidak serta merta mesti modern.[4] Modernisasi memang bayak dipraktikkan oleh orang-orang Barat, tetapi modernisasi bukan monopoli Barat dan Barat juga tidak identik dengan modernisasi. Modernisasi bisa terjadi di belahan bumi mana pun.[5] Apalagi jika modernisasi dikaitkan dengan tradisi. Turki pada masa Kemal Ataturk ternyata gagal mencapai kemajuan seperti yang dicapai oleh beberapa Negara Barat kendati tradisi-tradisi Islam telah dibabat habis guna mengikuti secara taat model kehidupan Barat, karena yang ditempuh oleh Turki ternyata bukan mengambil modernisasi Barat melainkan justru terjebak pada westernisasinya. Sebaliknya, Jepang meskipun negeri sakura ini sangat kuat mempertahankan tradisinya, ternyata Jepang justru mampu mengungguli kemajuan Barat di bidang teknologi elektro. Sebab Jepang merupakan raja teknologi elektro di dunia ini.Kenyataan ini menunjukkan bahwa westernisasi tidak identik dengan modernisasi. Selanjutnya modernisasi tidak selalu berbenturan dengan tradisi.  Di kalangan ulama, hubungan tradisi dan modernisasi itu telah dirumuskan dengan sangat ideal melalui slogan al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara hal-hal lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih mencerminkan sikap kita terhadap tradisi, sedang al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah mencerminkan sikap kita terhadap modernisasi. Rumusan ini mensyaratkan kualitas yang baik pada tradisi dan kualitas yang lebih baik pada modernisasi. Maka harus ada seleksi pada tradisi dan modernisasi. Tidak semua tradisi kita pertahankan, dan tidak semua modernisasi dapat kita ambil.[6] Hanya saja, Faisal Ismail –menurut penilaian Aksin Wijaya– agak condong pada pandangan Barat yang mempertentangkan antara modernisasi dengan tradisi.Ilustrasi berikutnya yang terkait dengan pemikiran Faisal Ismail adalah tentang multikulturalisme dan pluralisme. Faisal Ismail mendefinisikan multikulturalisme sebagai paham atau pandangan yang mengakui dan menghargai realitas multikultur dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan pluralisme adalah ”prinsip yang menganggap bahwa orang-orang dari berbagai ras, agama, dan pandangan politik dapat hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang sama.”[7] Jadi pluralisme dipertegas oleh Faisal Ismail hanya sekedar “prinsip pengakuan” terhadap keberagaman ras, agama dan pandangan politik dalam masyarakat, sama sekali tidak dimaksudkan sebagai “pengakuan terhadap kebenaran semua agama”.Dan juga, Faisal Ismail menyatakan bahwa doktrin atau ajaran Islam yang bersumber dari wahyu Allah tidak mengandung unsur atau bagian dari kebudayaan Islam, tetapi justru pengamalan umat Islam terhadap ajaran agamanya yang membentuk kebudayaan. Jadi agama Islamlah yang membentuk kebudayaan.[8]  Bukan sebaliknya, kebudayaan yang membentuk Islam. Pemikiran Faisal Ismail ini dalam konteks mengritisi pemikiran Sidi Gazalba yang menyatakan “Islam adalah agama dan kebudayaan.” Faisal Ismail benar karena paradigma berpikirnya adalah Islam sebagai wahyu sedangkan kebudayaan sebagai produk akal, sehingga memunculkan pernyataan berikutnya, tidak ada unsur-unsur kebudayaan yang membentuk ajaran Islam.Problem kedua terkait dengan metode atau pendekatan yang digunakan Faisal Ismail. Menghadapi problem ini Aksin Wijaya agak terbantu karena Faisal Ismail secara ekplisit telah menyebut istilah kritis-apresiatif dan apresiatif-kritis. Hanya saja penyebutan keduanya masih menyisakan pertanyan di benak pembaca, apakah keduanya sebagai pandangan, metode, pendekatan atau sekadar sikap? Apakah istilah kritis-apresiatif maupun apresiatif-kritis itu dimaksudkan sebagai struktur kata yang terdiri atas kata sifat beserta kata yang disifati (na’at-man’ut maupun shifat-maushuf) atau frase yakni gabungan dua kata atau lebih yang tidak menimbulkan arti baru (mudhaf-mudhaf ilaih)? Kemudian yang ditonjolkan oleh Faisal Ismail, apakah pada kritis-apresiatif atau sebaliknya, apresiatif kritis? Pertanyaan-pertanyaan ini harus diperjelas oleh Aksin Wijaya, karena semua penekanan memiliki konsekuensi dan implikasinya masing-masing.Problem ketiga terkait dengan karakteristik pemikiran Faisal Ismail. Di sini Aksin Wijaya dituntut membandingkan pemikiran Faisal Ismail dengan pemikiran tokoh-tokoh lainnya, dan pada tahapan ini harus berhadapan dengan sekian banyak pemikir Islam, setidaknya dengan sesama pemikir Islam yang berasal dari Indonesia. Dalam hal ini Aksin Wijaya telah membedakan pemikiran Faisal Ismail dengan Sidi Gazalba tentang hukum sekularisasi Islam, dengan Nurcholish Madjid tentang sekularisasi Islam, dengan Ahmad Wahib tentang sekularisasi al-Qur’an, dan dengan A. Qodri Azizi tentang humanisasi-sakralisasi ilmu. Pemikiran Faisal Ismail juga berbeda dengan pemikiran pimpinan MUI dalam hal menghadiri perayaan Natal dan pluralisme agama. Demikian juga sebaliknya, Aksin Wijaya berhasil menunjukkan kesamaan pemikiran Faisal Ismail dengan Naquib al-Attas dalam menolak ide sekularisasi pada segala manifestasi dan bentuknya yang dikaitkaan dengan Islam. Namun, apakah pemikir Muslim Malaysia yang pemikirannya sama atau mirip dengan pemikiran Faisal Ismail itu hanya terbatas pada seorang Naquib al-Attas tersebut? Dalam tahapan inilah, pengkaji mendapatkan tantangan yang cukup berat, khususnya dalam memotret pemikiran Faisal Ismail.Problem keempat terkait dengan kategorisasi atau prototipe pemikiran Faisal Ismail. Tahapan ini merupakan tahapan paling sulit yang dilalui oleh Aksin Wijaya, sebab tahapan ini mendasarkan pada tahapan ketiga yang berusaha mengidentifikasi karakteristik pemikiran Faisal Ismail. Jika identifikasi ini kurang tepat, akan berpengaruh terhadap penyimpulan prototipe pemikiran intelektual asal Madura ini yang oleh Aksin Wijaya disebut intelektual kelana. Di samping itu, tahapan ini merupakan hasil terakhir dari penelusuran panjang Aksin Wijaya yang diharapkan merefleksikan substansi temuannya dalam membingkai pemikiran-pemikiran seorang pemikir Islam yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Agama dan Duta Besar untuk Kuwait merangkap Bahrain tersebut, sehingga prototipe pluralis-humanis Islam itu benar-benar sebagai miniatur pemikiran Faisal Ismail.Prototipe pluralis-humanis Islam ini memancing suatu pertanyaan yang cukup mengganggu bagi Aksin Wijaya sebagai pengkaji. Apakah pemikiran Islam Faisal Ismail sudah tepat dikategorikan sebagai pluralis-humanis Islam? Apakah pemikiran Islam Faisal Ismail hanya dapat dikategorikan sebagai pluralis-humanis Islam? Apakah tidak ada tipe-tipe lainnya yang lebih cocok dengan model pemikiran Islam Faisal Ismail daripada pluralis-humanis Islam? Atas dasar sudut pandang apakah (perspektif sifat pemikiran, corak pemikiran, objek pemikiran, atau perspektif-perspektif lainnya) sehingga pemikiran Islam Faisal Ismail tergolong pluralis-humanis Islam? Mungkinkah prototipe pluralis-humanis Islam bagi pemikiran Islam Faisal Ismail diganti prototipe lainnya? Pertanyaan-pertanyaan ini cukup mengusik, manakala penetapan prototipe pluralis-humanis Islam tidak memiliki dasar yang kokoh dan parameter yang jelas.   Tampaknya, penyimpulan prototipe pemikiran pluralis-humanis Islam ini oleh Aksin Wijaya lebih didasarkan pada perspektif objek pemikirannya daripada perspektif-perspektif lainnya yang biasanya lebih menonjolkan unsur subyektif pengkaji. Untuk memperkuat penyimpulan prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail sebagai pluralis-humanis Islam, Aksin Wijaya mendasarkan pada delapan prinsip yang dia sebut sebagai manifesto pemikiran keislaman dan keindonesiaan Faisal Ismail. Delapan prinsip ini meliputi: 1) muslim pluralis-humanis mengakui dan menghargai adanya keberagaman baik dalam hubungan intra-agama maupun antaragama; 2) muslim pluralis-humanis memandang manusia seagama dan manusia di luar agamanya sebagai “kawan”, bukan sebagai lawan; 3) muslim pluralis-humanis menaruh “respek dan hormat” kepada orang seagama dan orang yang berbeda agama; 4) muslim pluralis-humanis menghargai dan merealisasikan toleransi dan harmoni antarumat beragama; 5) muslim pluralis-humanis memahami teks-teks kitab suci agama tidak bersifat hitam-putih, tekstualis-skripturalis, tidak rigit, tidak kaku, tidak sempit, dan tidak eksklusif; 6) muslim pluralis-humanis mengedepankan agenda kemanusiaan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; 7) muslim pluralis-humanis mengedepankan dialog antarumat beragama, sehingga suatu persoalan yang menyangkut hubungan antarumat beragama diharapkan dapat terpecahkan melalui musyawarah secara adil dan damai, yang diterima oleh komunitas-komunitas agama peserta dialog itu; dan 8) muslim pluralis-humanis lebih mengedepankan dan mengutamakan saluran institusi-institusi pendidikan daripada saluran institusi/partai politik (formalisme syari’ah atau formalisasi Islam) dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.[9]Di samping itu, pendekatan yang ditempuh oleh pengkaji sendiri terkadang menyumbangkan kesimpulan yang bias terhadap pemikiran tokoh yang dikaji. Hanya saja, Aksin Wijaya sangat tepat dalam menggunakan pendekatan dalam  kajian ini yang dia sebut dengan membaca Faisal Ismail melalui Faisal Ismail. Dengan pengertian lain, pendekatan ini adalah memahami pemikiran Faisal Ismail melalui alur berpikirnya. Pendekatan ini tepat sekali setidaknya dalam mengurangi subjektivitas pengkaji dan mempertegas pemikiran Faisal Ismail sebagai objek kajian menurut jalan pikirannya sendiri. Pendekatan ini mengingatkan saya pada sosok Prof. Harun Nasution ketika membedah suatu pemikiran: ketika mengkaji filsafat, dia seperti filosof; ketika membahas tasawuf, dia laksana sufi; ketika membahas ilmu kalam, dia seperti mutakallim; secara lebih spesifik ketika membahas aliran Khawarij, dia seperti Khariji; ketika membahas aliran Murjiah, dia seperti Murji’i; ketika membahas aliran Jabariyah, dia seperti Jabari; ketika membahas aliran Qadariyah, dia seperti qadari; ketika membahas Mu’tazilah, dia merefleksikan diri seperti Mu’tazili; ketika membahas aliran Syi’ah, dia seperti Syi’i; dan ketika membahas aliran Ahlussunnah waljama’ah, dia tampak seperti Sunni. Karena itu, mahasiswa yang memperhatikan uraiannya merasakan kesulitan di mana posisi Harun Nasution tersebut.Seandainya Aksin Wijaya menggunakan perspektifnya sendiri yang subyektif mungkin banyak penafsiran dan analisis terhadap pemikiran Islam Faisal Ismail yang “liar”, memaksakan maksud maupun makna pemikiran Islam sesuai dengan kehendaknya sendiri, dan menyimpang dari maksud-maksud yang dikehendaki oleh Faisal Ismail sendiri. Namun model pendekatan yang “menyesatkan” ini sama sekali tidak pernah ditempuh oleh Aksin Wijaya sebagai bukti bahwa dia telah mampu berdiri tegak dalam kapasitasnya sebagai pengkaji pemikiran Islam seorang Faisal Ismail. Sikap yang sangat tepat ini disebabkan karena lulusan doktor tercepat dan terbaik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada periodenya ini telah memiliki pengalaman panjang sebagai penulis maupun peneliti, di samping itu juga lantaran dia telah berkenalan dengan metodologi penelitian maupun metodologi pengkajian modern dari para ilmuan Barat secara intensif.Dengan demikian, terlepas masih terdapat kesulitan-kesulitan tertentu dalam mendefinisikan saripati pemikiran Islam Faisal Ismail yang tentu saja melampaui temuan Aksin Wijaya, yang jelas secara umum Aksin Wijaya telah berhasil mengatasi problem-problem yang mengganggu selama melakukan kajian mendalam terhadap pemikiran Faisal Ismail tersebut. Keberhasilan Aksin Wijaya ini tidak lepas dari komitmennya yang tinggi dalam upayanya menghadirkan dan mempertegas prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail, seorang pemikir Islam dari Madura yang karya-karya dan pemikiran-pemikirannya yang tajam layak mendapatkan perhatian publik Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran ini merupakan kontribusi yang sangat besar dari Faisal Ismail terutama dalam membangun kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang penuh rasa toleran, damai, sejuk dan harmonis.Akhirnya, menurut pengamatan saya, buku yang ada di tangan pembaca ini sangat layak untuk dibaca, ditelaah, dan diteliti terutama bagi pelajar, mahasiswa, guru, dosen, muballigh, da’i, khatib dan pemerhati pluralisme maupun humanisme Islam untuk memahami hakekat pluralisme dan humanisme Islam tersebut. Di samping itu, buku ini juga sangat bermanfaat ketika digunakan sebagai panduan bagi umat Islam dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di mana saja, khususnya di negara-negara yang kondisi populasinya plural sekali seperti Indonesia ini. Apalagi buku ini telah disusun oleh sorang penulis yang berpengalaman dengan narasi yang sistematis. Kepada penulisnya, saudara Aksin Wijaya, semoga sukses dan selamat berkarya lagi.Buku yang berjudul Visi Pluralis-Humanis Islam Faisal Ismail ini merupakan hasil final dari upaya Aksin Wijaya dalam menelusuri dan menformulasikan model pemikiran Islam Faisal Ismail yang tersebar di berbagai media baik buku, jurnal, majalah, antologi maupun surat kabar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa prototipe pemikiran Faisal Ismail sebagai pluralis-humanis ini sebagai hasil “Ijtihad Ilmiah” dari intelektual muslim asal Sumenep Madura ini.Judul buku ini cukup menarik perhatian terutama pada kata pluralis yang seakar kata dengan pluralisme. Sebagai sebuah konsep, pluralisme yang digagas antara lain oleh Harold Coward[1] ini di Indonesia pernah menimbulkan kontroversi yang sangat tajam antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan pemikir Islam liberal. MUI bahkan mengharamkan pluralisme itu, sedangkan pemikir Islam liberal memandang sebagai suatu keniscayaan sejarah yang tidak mungkin dihindarkan terutama dalam kehidupan global sekarang ini di mana arus interaksi pergaulan umat manusia semakin kompleks. Dengan kata lain, sebenarnya pluralisme merupakan sunnatullah. Faisal Ismail sendiri juga dalam buku ini telah mengritik fatwa MUI tersebut, meskipun dia bukan pemikir Islam liberal.Tulisan dalam buku ini sesungguhnya merupakan upaya membaca, mencermati, menyimpulkan, dan menegaskan formulasi identitas sebuah prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail. Suatu upaya yang relatif sulit lantaran pemikiran seseorang itu seringkali merefleksikan prototipe yang ganda. Misalnya, Imam Al-Ghazali oleh kalangan konservatif dinilai liberal tetapi oleh kalangan liberal dinilai konservatif; Al-Ghazali oleh kalangan tertentu dianggap anti-intelektualisme namun menurut kalangan lainnya justru dipandang sebagai intelektual Muslim kaliber dunia; dan berdasarkan kitabnya, Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali dipersepsi sebagai pemikir Islam yang anti-filsafat, namun kelompok lainnya justru mempersepsinya sebagai pemikir Islam yang mendalami dan terpengaruh oleh filsafat Yunani berdasarkan karya al-Ghazali lainnya, seperti Mi’yar al-‘Ilm, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul dan al-Qisthas al-Mustaqim. Sosok Gus Dur juga bisa dikategorikan sebagai pemikir tradisional, modernis, neomodernis, substantivistik, pluralis, kosmopolit, divergen, bahkan liberal. Demikian juga, prototipe pemikiran Faisal Ismail juga tidak mudah dirumuskan secara utuh dan tuntas, mengingat masih muncul bayang-bayang prototipe lainnya kendatipun tidak sekompleks al-Ghazali maupun Gus Dur.Kesulitan merumuskan prototipe pemikiran seperti yang dilakukan oleh Aksin Wijaya ini, makin terasa setelah dia menghadapi setidaknya empat hal: substansi pemikiran yang dikaji, metode atau pendekatan yang digunakan oleh tokoh yang dikaji, karakteristik pemikiran yang dikaji, dan kategorisasi atau prototipe pemikiran yang dikaji. Tambahan lagi, yaitu metode atau pendekatan yang dipakai oleh pengkaji sendiri. Kesulitan menangkap substansi pemikiran yang sedang dikaji karena pengkaji harus mencermati berbagai pemikiran seorang tokoh yang berserakan dan terkadang tidak sambung bahkan bertentangan; kesulitan menangkap metode atau pendekatan yang digunakan karena seringkali tokoh yang dikaji tidak menyebutkan jenis metode atau pendekatannya, dan jika misalnya dia menyebutkannya juga seringkali tidak jelas; kesulitan menangkap karakteristik pemikiran juga terjadi karena pengkaji harus mampu membedakan pemikiran yang sedang dikaji dengan pemikiran-pemikiran tokoh lainnya yang begitu banyak dan tidak jarang terjadi kemiripan-kemiripan; sedangkan kesulitan menangkap kategori atau prototipe pemikiran yang dikaji -- sebagaimana di depan telah disebutkan – karena suatu pemikiran seringkali mencerminkan wajah ganda, dan banyaknya sudut pandang yang dijadikan untuk memotret pemikiran seseorang. Metode atau pendekatan yang digunakan oleh pengkaji sendiri juga ikut mempersulit perumusan prototipe pemikiran seseorang tokoh karena seringkali terjebak dalam subjektivitas, sehingga pemahaman pengkaji terhadap pemikiran tokoh berbeda jauh dengan yang dimaksudkan oleh tokoh itu sendiri.Empat macam problem ini sekaligus sebagai tahapan dalam merumuskan prototipe pemikiran sesorang tokoh tersebut sehingga menuntut keseriusan pengkaji. Problem pertama terkait dengan substansi pemikiran Faisal Ismail telah berhasil dilalui oleh Aksin Wijaya dengan keberhasilannya menjelajahi dan mendalami berbagai pemikiran Faisal Ismail yang tersebar pada berbagai media kemudian mengambil intisarinya. Aksin Wijaya telah mengumpulkan dan menelaah isi/kandungan karya-karya Faisal Ismail mulai dari karya berbentuk puisi, sajak-sajak, pemikiran, maupun kritik yang menggugat pemikiran tokoh-tokoh tertentu, yang termuat baik dalam majalah, jurnal, koran, antologi, tesis, disertasi, buku ajar, buku ilmiah,  makalah, dan artikel populer.Beberapa ilustrasi pemikiran Faisal Ismail telah dipaparkan oleh Aksin Wijaya dalam buku yang ada di tangan pembaca ini. Misalnya, Faisal Ismail telah berusaha mendudukkan perbedaan tiga istilah kunci yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman yaitu modernisasi, westernisasi, dan sekularisasi.[2] Pengertian modernisasi tidak sama dengan westernisasi. Jika proses westernisasi mengandung proses sekularisasi, maka tidaklah demikian dengan modernisasi.[3] Kebudayaan Barat tidak serta merta mesti modern.[4] Modernisasi memang bayak dipraktikkan oleh orang-orang Barat, tetapi modernisasi bukan monopoli Barat dan Barat juga tidak identik dengan modernisasi. Modernisasi bisa terjadi di belahan bumi mana pun.[5] Apalagi jika modernisasi dikaitkan dengan tradisi. Turki pada masa Kemal Ataturk ternyata gagal mencapai kemajuan seperti yang dicapai oleh beberapa Negara Barat kendati tradisi-tradisi Islam telah dibabat habis guna mengikuti secara taat model kehidupan Barat, karena yang ditempuh oleh Turki ternyata bukan mengambil modernisasi Barat melainkan justru terjebak pada westernisasinya. Sebaliknya, Jepang meskipun negeri sakura ini sangat kuat mempertahankan tradisinya, ternyata Jepang justru mampu mengungguli kemajuan Barat di bidang teknologi elektro. Sebab Jepang merupakan raja teknologi elektro di dunia ini.Kenyataan ini menunjukkan bahwa westernisasi tidak identik dengan modernisasi. Selanjutnya modernisasi tidak selalu berbenturan dengan tradisi.  Di kalangan ulama, hubungan tradisi dan modernisasi itu telah dirumuskan dengan sangat ideal melalui slogan al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (memelihara hal-hal lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik). Al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih mencerminkan sikap kita terhadap tradisi, sedang al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah mencerminkan sikap kita terhadap modernisasi. Rumusan ini mensyaratkan kualitas yang baik pada tradisi dan kualitas yang lebih baik pada modernisasi. Maka harus ada seleksi pada tradisi dan modernisasi. Tidak semua tradisi kita pertahankan, dan tidak semua modernisasi dapat kita ambil.[6] Hanya saja, Faisal Ismail –menurut penilaian Aksin Wijaya– agak condong pada pandangan Barat yang mempertentangkan antara modernisasi dengan tradisi.Ilustrasi berikutnya yang terkait dengan pemikiran Faisal Ismail adalah tentang multikulturalisme dan pluralisme. Faisal Ismail mendefinisikan multikulturalisme sebagai paham atau pandangan yang mengakui dan menghargai realitas multikultur dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan pluralisme adalah ”prinsip yang menganggap bahwa orang-orang dari berbagai ras, agama, dan pandangan politik dapat hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang sama.”[7] Jadi pluralisme dipertegas oleh Faisal Ismail hanya sekedar “prinsip pengakuan” terhadap keberagaman ras, agama dan pandangan politik dalam masyarakat, sama sekali tidak dimaksudkan sebagai “pengakuan terhadap kebenaran semua agama”.Dan juga, Faisal Ismail menyatakan bahwa doktrin atau ajaran Islam yang bersumber dari wahyu Allah tidak mengandung unsur atau bagian dari kebudayaan Islam, tetapi justru pengamalan umat Islam terhadap ajaran agamanya yang membentuk kebudayaan. Jadi agama Islamlah yang membentuk kebudayaan.[8]  Bukan sebaliknya, kebudayaan yang membentuk Islam. Pemikiran Faisal Ismail ini dalam konteks mengritisi pemikiran Sidi Gazalba yang menyatakan “Islam adalah agama dan kebudayaan.” Faisal Ismail benar karena paradigma berpikirnya adalah Islam sebagai wahyu sedangkan kebudayaan sebagai produk akal, sehingga memunculkan pernyataan berikutnya, tidak ada unsur-unsur kebudayaan yang membentuk ajaran Islam.Problem kedua terkait dengan metode atau pendekatan yang digunakan Faisal Ismail. Menghadapi problem ini Aksin Wijaya agak terbantu karena Faisal Ismail secara ekplisit telah menyebut istilah kritis-apresiatif dan apresiatif-kritis. Hanya saja penyebutan keduanya masih menyisakan pertanyan di benak pembaca, apakah keduanya sebagai pandangan, metode, pendekatan atau sekadar sikap? Apakah istilah kritis-apresiatif maupun apresiatif-kritis itu dimaksudkan sebagai struktur kata yang terdiri atas kata sifat beserta kata yang disifati (na’at-man’ut maupun shifat-maushuf) atau frase yakni gabungan dua kata atau lebih yang tidak menimbulkan arti baru (mudhaf-mudhaf ilaih)? Kemudian yang ditonjolkan oleh Faisal Ismail, apakah pada kritis-apresiatif atau sebaliknya, apresiatif kritis? Pertanyaan-pertanyaan ini harus diperjelas oleh Aksin Wijaya, karena semua penekanan memiliki konsekuensi dan implikasinya masing-masing.Problem ketiga terkait dengan karakteristik pemikiran Faisal Ismail. Di sini Aksin Wijaya dituntut membandingkan pemikiran Faisal Ismail dengan pemikiran tokoh-tokoh lainnya, dan pada tahapan ini harus berhadapan dengan sekian banyak pemikir Islam, setidaknya dengan sesama pemikir Islam yang berasal dari Indonesia. Dalam hal ini Aksin Wijaya telah membedakan pemikiran Faisal Ismail dengan Sidi Gazalba tentang hukum sekularisasi Islam, dengan Nurcholish Madjid tentang sekularisasi Islam, dengan Ahmad Wahib tentang sekularisasi al-Qur’an, dan dengan A. Qodri Azizi tentang humanisasi-sakralisasi ilmu. Pemikiran Faisal Ismail juga berbeda dengan pemikiran pimpinan MUI dalam hal menghadiri perayaan Natal dan pluralisme agama. Demikian juga sebaliknya, Aksin Wijaya berhasil menunjukkan kesamaan pemikiran Faisal Ismail dengan Naquib al-Attas dalam menolak ide sekularisasi pada segala manifestasi dan bentuknya yang dikaitkaan dengan Islam. Namun, apakah pemikir Muslim Malaysia yang pemikirannya sama atau mirip dengan pemikiran Faisal Ismail itu hanya terbatas pada seorang Naquib al-Attas tersebut? Dalam tahapan inilah, pengkaji mendapatkan tantangan yang cukup berat, khususnya dalam memotret pemikiran Faisal Ismail.Problem keempat terkait dengan kategorisasi atau prototipe pemikiran Faisal Ismail. Tahapan ini merupakan tahapan paling sulit yang dilalui oleh Aksin Wijaya, sebab tahapan ini mendasarkan pada tahapan ketiga yang berusaha mengidentifikasi karakteristik pemikiran Faisal Ismail. Jika identifikasi ini kurang tepat, akan berpengaruh terhadap penyimpulan prototipe pemikiran intelektual asal Madura ini yang oleh Aksin Wijaya disebut intelektual kelana. Di samping itu, tahapan ini merupakan hasil terakhir dari penelusuran panjang Aksin Wijaya yang diharapkan merefleksikan substansi temuannya dalam membingkai pemikiran-pemikiran seorang pemikir Islam yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Agama dan Duta Besar untuk Kuwait merangkap Bahrain tersebut, sehingga prototipe pluralis-humanis Islam itu benar-benar sebagai miniatur pemikiran Faisal Ismail.Prototipe pluralis-humanis Islam ini memancing suatu pertanyaan yang cukup mengganggu bagi Aksin Wijaya sebagai pengkaji. Apakah pemikiran Islam Faisal Ismail sudah tepat dikategorikan sebagai pluralis-humanis Islam? Apakah pemikiran Islam Faisal Ismail hanya dapat dikategorikan sebagai pluralis-humanis Islam? Apakah tidak ada tipe-tipe lainnya yang lebih cocok dengan model pemikiran Islam Faisal Ismail daripada pluralis-humanis Islam? Atas dasar sudut pandang apakah (perspektif sifat pemikiran, corak pemikiran, objek pemikiran, atau perspektif-perspektif lainnya) sehingga pemikiran Islam Faisal Ismail tergolong pluralis-humanis Islam? Mungkinkah prototipe pluralis-humanis Islam bagi pemikiran Islam Faisal Ismail diganti prototipe lainnya? Pertanyaan-pertanyaan ini cukup mengusik, manakala penetapan prototipe pluralis-humanis Islam tidak memiliki dasar yang kokoh dan parameter yang jelas.   Tampaknya, penyimpulan prototipe pemikiran pluralis-humanis Islam ini oleh Aksin Wijaya lebih didasarkan pada perspektif objek pemikirannya daripada perspektif-perspektif lainnya yang biasanya lebih menonjolkan unsur subyektif pengkaji. Untuk memperkuat penyimpulan prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail sebagai pluralis-humanis Islam, Aksin Wijaya mendasarkan pada delapan prinsip yang dia sebut sebagai manifesto pemikiran keislaman dan keindonesiaan Faisal Ismail. Delapan prinsip ini meliputi: 1) muslim pluralis-humanis mengakui dan menghargai adanya keberagaman baik dalam hubungan intra-agama maupun antaragama; 2) muslim pluralis-humanis memandang manusia seagama dan manusia di luar agamanya sebagai “kawan”, bukan sebagai lawan; 3) muslim pluralis-humanis menaruh “respek dan hormat” kepada orang seagama dan orang yang berbeda agama; 4) muslim pluralis-humanis menghargai dan merealisasikan toleransi dan harmoni antarumat beragama; 5) muslim pluralis-humanis memahami teks-teks kitab suci agama tidak bersifat hitam-putih, tekstualis-skripturalis, tidak rigit, tidak kaku, tidak sempit, dan tidak eksklusif; 6) muslim pluralis-humanis mengedepankan agenda kemanusiaan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; 7) muslim pluralis-humanis mengedepankan dialog antarumat beragama, sehingga suatu persoalan yang menyangkut hubungan antarumat beragama diharapkan dapat terpecahkan melalui musyawarah secara adil dan damai, yang diterima oleh komunitas-komunitas agama peserta dialog itu; dan 8) muslim pluralis-humanis lebih mengedepankan dan mengutamakan saluran institusi-institusi pendidikan daripada saluran institusi/partai politik (formalisme syari’ah atau formalisasi Islam) dalam menyebarluaskan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.[9]Di samping itu, pendekatan yang ditempuh oleh pengkaji sendiri terkadang menyumbangkan kesimpulan yang bias terhadap pemikiran tokoh yang dikaji. Hanya saja, Aksin Wijaya sangat tepat dalam menggunakan pendekatan dalam  kajian ini yang dia sebut dengan membaca Faisal Ismail melalui Faisal Ismail. Dengan pengertian lain, pendekatan ini adalah memahami pemikiran Faisal Ismail melalui alur berpikirnya. Pendekatan ini tepat sekali setidaknya dalam mengurangi subjektivitas pengkaji dan mempertegas pemikiran Faisal Ismail sebagai objek kajian menurut jalan pikirannya sendiri. Pendekatan ini mengingatkan saya pada sosok Prof. Harun Nasution ketika membedah suatu pemikiran: ketika mengkaji filsafat, dia seperti filosof; ketika membahas tasawuf, dia laksana sufi; ketika membahas ilmu kalam, dia seperti mutakallim; secara lebih spesifik ketika membahas aliran Khawarij, dia seperti Khariji; ketika membahas aliran Murjiah, dia seperti Murji’i; ketika membahas aliran Jabariyah, dia seperti Jabari; ketika membahas aliran Qadariyah, dia seperti qadari; ketika membahas Mu’tazilah, dia merefleksikan diri seperti Mu’tazili; ketika membahas aliran Syi’ah, dia seperti Syi’i; dan ketika membahas aliran Ahlussunnah waljama’ah, dia tampak seperti Sunni. Karena itu, mahasiswa yang memperhatikan uraiannya merasakan kesulitan di mana posisi Harun Nasution tersebut.Seandainya Aksin Wijaya menggunakan perspektifnya sendiri yang subyektif mungkin banyak penafsiran dan analisis terhadap pemikiran Islam Faisal Ismail yang “liar”, memaksakan maksud maupun makna pemikiran Islam sesuai dengan kehendaknya sendiri, dan menyimpang dari maksud-maksud yang dikehendaki oleh Faisal Ismail sendiri. Namun model pendekatan yang “menyesatkan” ini sama sekali tidak pernah ditempuh oleh Aksin Wijaya sebagai bukti bahwa dia telah mampu berdiri tegak dalam kapasitasnya sebagai pengkaji pemikiran Islam seorang Faisal Ismail. Sikap yang sangat tepat ini disebabkan karena lulusan doktor tercepat dan terbaik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada periodenya ini telah memiliki pengalaman panjang sebagai penulis maupun peneliti, di samping itu juga lantaran dia telah berkenalan dengan metodologi penelitian maupun metodologi pengkajian modern dari para ilmuan Barat secara intensif.Dengan demikian, terlepas masih terdapat kesulitan-kesulitan tertentu dalam mendefinisikan saripati pemikiran Islam Faisal Ismail yang tentu saja melampaui temuan Aksin Wijaya, yang jelas secara umum Aksin Wijaya telah berhasil mengatasi problem-problem yang mengganggu selama melakukan kajian mendalam terhadap pemikiran Faisal Ismail tersebut. Keberhasilan Aksin Wijaya ini tidak lepas dari komitmennya yang tinggi dalam upayanya menghadirkan dan mempertegas prototipe pemikiran Islam Faisal Ismail, seorang pemikir Islam dari Madura yang karya-karya dan pemikiran-pemikirannya yang tajam layak mendapatkan perhatian publik Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran ini merupakan kontribusi yang sangat besar dari Faisal Ismail terutama dalam membangun kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang penuh rasa toleran, damai, sejuk dan harmonis.Akhirnya, menurut pengamatan saya, buku yang ada di tangan pembaca ini sangat layak untuk dibaca, ditelaah, dan diteliti terutama bagi pelajar, mahasiswa, guru, dosen, muballigh, da’i, khatib dan pemerhati pluralisme maupun humanisme Islam untuk memahami hakekat pluralisme dan humanisme Islam tersebut. Di samping itu, buku ini juga sangat bermanfaat ketika digunakan sebagai panduan bagi umat Islam dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara di mana saja, khususnya di negara-negara yang kondisi populasinya plural sekali seperti Indonesia ini. Apalagi buku ini telah disusun oleh sorang penulis yang berpengalaman dengan narasi yang sistematis. Kepada penulisnya, saudara Aksin Wijaya, semoga sukses dan selamat berkarya lagi. 
ISLAM NUSANTARA: AN APPROACH TO PRACTICE ISLAM Qomar, Mujamil
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2019.14.1.183-210

Abstract

Islam Nusantara is not a new religion, a rival of Islam, sect, or a usual mazhab, but actually is a character of thoughtful mazhab or manhaj Islam. Islam Nusantara is just an approach in practicing Islamic teachings, namely cultural approaches. This Islam has the most prominent character which is called as wasathiyah (moderation) that is reflected in some attitude such as, inclusive, tolerant, friendly, respect other parties, friendly with diverse cultures and religions, tasamuh, tawazun, and i’tidal. Islam Nusantara sees local cultures as “oxygen”; filters and then respect good culture and tradition (al-‘urfal-shalih) so it can have a dialogue with the environment around it positively. This cultural approach has been successfully used by the Walisongo in preaching using tembang, Wayang Kulit, socializing key terms, and so on. In the faith, Islam Nusantara is manifested in some rituals, tahlilan, istighasah, haul akbar, and selametan. Furthermore, in fiqh it’s such as imsak, zakat, halal-bihalal, marriage registration, marriage book, and the reading of ta’liq talaq. Islam Nusantara successfully consolidate Islam with nationalism so both of them are harmonious, and bring the tradition together with modernization through slogan al-muhafadzah ‘ala al-qadîm al-salih wa al-akhdz bi al-jadîdal-aslah [keep the old good tradition and take a new and better tradition].