Maryatul Qiptiyah
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PERILAKU HARIAN TARSIUS DALAM KANDANG DI PATUNUANG, TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG Qiptiyah, Maryatul; Broto, Bayu Wisnu; Setyawati, Titiek
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 1, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.402 KB)

Abstract

Tarsius is one of the protected and endegered species. This study aims to examine the behavior of Tarsius fuscus in captivity in Patunuang, Batimurung Bulusaraung National Park, South Sulawesi Province. The observations were made from March until October of 2011, with 6 periods of observation and each the observations made during of three days from 15:00 pm until 8:00 am. The observations were not done during the day because Tarsius dont present any activity during daylight. The observed behaviors were ingestive, allelomimetic, agonistic, shelter-seeking, grooming, eliminative, playing, and resting behaviors. Observations indicated that the behavior of Tarsius which has the highest proportion was playing, followed by allelomimetic and rest behavior.Keywords : Daily behaviour, Tarsius fuscus, Captivity, Bantimurung Bulusaraung National Park
KERAGAMAN JENIS BURUNG PADA KAWASAN MANGROVE DI TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI Qiptiyah, Maryatul; Broto, Bayu Wisnu; Setiawan, Heru
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.264 KB)

Abstract

Bird is one of the important species associated with mangrove vegetation. This study aims to determine the diversity of birds in the mangrove areas of Rawa Aopa Watumohai National Park, Indonesia. Observations were done at 12 points for data collection by scanning field by field method. The results revealed that about 54 bird species was found in the surrounding mangrove, eight types of which species was Sulawesi endemic birds and at least three types of which species was migratory birds. The bird species commonly found was Pergam Laut (Ducula bicolor), as many as 63 individuals. Index of bird diversity in the mangrove Rawa Aopa Watumohai National Park was 3.40.Keywords : Diversity, birds, mangrove, Rawa Aopa Watumohai National Park
KEPADATAN POPULASI DAN KARAKTERISTIK HABITAT TARSIUS (Tarsius spectrum Pallas 1779) DI KAWASAN PATUNUANG, TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG, SULAWESI SELATAN Qiptiyah, Maryatul; Setiawan, Heru
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Tarsius merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi yang dilindungi dan hidup, baik di hutan primer maupun hutan sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan populasi dan karakteristik habitat tarsius (Tarsius spectrum Pallas 1779) di Kawasan Patunuang, TN Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Penghitungan kepadatan populasi menggunakan metode transect line  dan concentration count, karakteristik habitat didekati dengan analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian manunjukkan bahwa tarsius hidup berkelompok antara  2-8 individu dengan kepadatan populasi di kawasan Patunuang yang didapatkan selama penelitian adalah sebesar 70,15 individu/km2. Habitat tarsius adalah hutan campuran dengan bambu (Bambusa multiflex) yang rapat sekitar celah tebing karst. Indeks Nilai Penting tertinggi pohon, tiang, pancang dan anakan masing-masing adalah kayu nona (Metrosideros sp.) (75,01), lambere (Melochia umbellata) (37,08), puca (Barringtonia racemosa (L.) Spreng) (19,31), dan bu’rung (Ailanthus sp.) (25,64).
MODEL ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL RAWA AOPA WATUMOHAI, DI PROVINSI SULAWESl TENGGARA Gunawan, Hendra; Allo, Merryana K; Putri, Indra A.S.L.P.; Qiptiyah, Maryatul; Rakhman, M Azis
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15334.942 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang sesuai dengan karakteristik biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya Kriteria dan indikator yang di gunakan di adaptasi dari berbagai sumber yang sudah banyak di terapkan. suatu survei dengan wawancara terstruktur, kuesioner, dan checklist di gunakan untuk menganalisis vegetasi dan transek untuk menginventarisasi satwaliar. Hasil penelitian merekomendasikan model  penyangga yang dapat mengurangi atau menghilangkan tekanan terhadap taman nasional sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Model penyangga yang dapat berfungsi demikian adalah penyangga ekonomi dan zona pemanfaatan nasional.
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN MANGROVE DAN PERAIRAN TERBUKA DI KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN Qiptiyah, Maryatul; Halidah, Halidah; Rakhman, M. Azis
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.589 KB)

Abstract

ABSTRAKMangrove memainkan peranan penting, baik pada ekosistem perairan maupun darat. Salah satu peranan mangrove adalah sebagai penghasil nutrien dengan mekanisme dekomposisi guguran daun.   Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang struktur komunitas plankton di perairan mangrove dan perairan terbuka (non mangrove).   Penelitian dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel air pada ekosistem  mangrove  yang  dibandingkan dengan  perairan  terbuka  (non  mangrove).    Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 22 jenis plankton di perairan mangrove dan 12 jenis di perairan terbuka dengan kelimpahan 828-1.548 individu/liter pada perairan mangrove dan 882-972 pada perairan terbuka.   Indeks keanekaragaman plankton di perairan mangrove berkisar antara 2,402-2,633, sedangkan di perairan terbuka berkisar antara 1,527-1,839.   Indeks perataan pada ekosistem mangrove berkisar antara 0,831-0,859 dan perairan terbuka berkisar antara 0,713-0,798. Indeks dominansi plankton di perairan mangrove berkisar antara 0,102-0,134, sedangkan di perairan terbuka berkisar antara 0,243-0,288.
KEPADATAN POPULASI DAN KARAKTERISTIK HABITAT TARSIUS (Tarsius spectrum Pallas 1779) DI KAWASAN PATUNUANG, TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG, SULAWESI SELATAN Qiptiyah, Maryatul; Setiawan, Heru
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.132 KB)

Abstract

ABSTRAK Tarsius merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi yang dilindungi dan hidup, baik di hutan primer maupun hutan sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan populasi dan karakteristik habitat tarsius (Tarsius spectrum Pallas 1779) di Kawasan Patunuang, TN Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Penghitungan kepadatan populasi menggunakan metode transect line  dan concentration count, karakteristik habitat didekati dengan analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian manunjukkan bahwa tarsius hidup berkelompok antara  2-8 individu dengan kepadatan populasi di kawasan Patunuang yang didapatkan selama penelitian adalah sebesar 70,15 individu/km2. Habitat tarsius adalah hutancampuran dengan bambu (Bambusa multiflex) yang rapat sekitar celah tebing karst. Indeks Nilai Penting tertinggi pohon, tiang, pancang dan anakan masing-masing adalah kayu nona (Metrosideros sp.) (75,01), lambere (Melochia umbellata) (37,08), puca (Barringtonia racemosa (L.) Spreng) (19,31), dan bu’rung (Ailanthus sp.) (25,64).
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN MANGROVE DAN PERAIRAN TERBUKA DI KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN Qiptiyah, Maryatul; Halidah, Halidah; Rakhman, M. Azis
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangrove memainkan peranan penting, baik pada ekosistem perairan maupun darat. Salah satu peranan mangrove adalah sebagai penghasil nutrien dengan mekanisme dekomposisi guguran daun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang struktur komunitas plankton di perairan mangrove dan perairan terbuka (non mangrove).   Penelitian dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel air pada ekosistem  mangrove yang dibandingkan dengan  perairan terbuka (non mangrove). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 22 jenis plankton di perairan mangrove dan 12 jenis di perairan terbuka dengan kelimpahan 828-1.548 individu/liter pada perairan mangrove dan 882-972 pada perairan terbuka. Indeks keanekaragaman plankton di perairan mangrove berkisar antara 2,402-2,633, sedangkan di perairan terbuka berkisar antara 1,527-1,839.   Indeks perataan pada ekosistem mangrove berkisar antara 0,831-0,859 dan perairan terbuka berkisar antara 0,713-0,798. Indeks dominansi plankton di perairan mangrove berkisar antara 0,102-0,134, sedangkan di perairan terbuka berkisar antara 0,243-0,288.
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI WANARISET MALILI, KABUPATEN LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN Gunawan, Hendra; Putri, Indra A.S.L.P; Qiptiyah, Maryatul
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5756.008 KB)

Abstract

Wanariset Malili  merupakan pulau  ekosistem hutan yang terletak di antara pemukiman dan lahan  budidaya sehingga memiliki peranan penting dalam mendukung konservasi hidupan liar, khususnya burung, Penelitan yang bertujuan mempelajari Kekayaan dan Keanekaragaman jenis burung ini dilakukan menggunakan metode IPA dangan lima buah titik pengamatan.  Dalam penelitian ini, ditemukan 30 jenis burung dimana tujuh jenis diantaranya merupakan burung endemik dan tujuh jenis burung dilindungi. Indeks keanekanragaman jenis burung di Wanariset  Malili adalah 2,7359   dan indeks eveness  0,8022. Sebagian  besar burung yang dijumpai merupakan  jenis terestrial dan penghuni tetap Wanariset Malili. 
PRODUKSI DAN LAJU PELAPUKAN SERASAH, MORPHOEDAFIK, DAN SALINITAS AIR TANAH DARATAN PADA TIGA JENIS MANGROVE Halidah, Halidah; Anwar, Chairil; Qiptiyah, Maryatul
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18797.571 KB)

Abstract

Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan informasi  tentang produksi dan laju pelapukan serasah, substrat, sifat kimia, dan biologi tanah serta salinitas air tanah daratan pada berbagai jenis tegakan mangrove. Tiga jenis tegakan mangrove yang diamati adalah Sonneratia  alba J. Smith., Rhizophora mucronata Lamk., dan  Avicennia marina  (Forsk.)Vierh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah masing-masing  tegakan adalah 27,51 ton/ha/th dan 28,93 %/bl (S. alba), 15,40 ton ha/th dan 28,05  %/bl (R. mucranatay; serta  8,96  ton/ha/th dan 26,20 %/bl  (A. marina). Subsrrat pada  tegakan R mucronata didorninasi oleh partikel debu pada kedalaman 0-20 cm dan pasir oada kedalaman 20-40 cm. Pada tegakan A.  marina  didormnasi  oleh partikel debu, sedangkan pada tegakan S  alba oleh partikel  pasir. Kemasaman atau pH pada semua tegakan netral, BO  rendah kecuali pada tegakan R. mucronata. DHL, salinitas, KTK umumnya tinggi. Demikian juga unsur hara fosfor dan kalium, tinggi kecuali nitrogen. Sedangkan kation-kation yang dapat tukar juga umumnya tinggi. Fauna tanah yang  ditemukan rnempunyai nilai  indeks keragaman dan indeks dominasi yang berbeda pada setiap tegakan. lndek keragaman dan indek dommansi untuk A. marina adalah 2,023 dan 0,159, S. alba 1,632 dan 0,330, sedangkan R. mucronata  0,926 dan Avicennia  marina (Forsk.) Vierh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan laju pelapukan serasah 0,500. Kualitas salinitas  air tanah daratan cendcrung semakm rnembaik  dengan adanya bentangan mangrove di sepanjang pantai
KARAKTERISASI KERAGAMAN GENETIK POPULASI JABON PUTIH MENGGUNAKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA Nurtjahtjaningsih, ILG; Qiptiyah, Maryatul; Yudohartono, Tri Pamungkas; Widyatmoko, AYPBC; Rimbawanto, Anto
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.32 KB)

Abstract

Anthocepalus cadamba (white jabon) has high economical value for furniture. White jabon forests severely degraded due to intensive exploitation and land conversion. Genetic diversity is one of important consideration to design conservation and improvement strategies. Aim of this study was to access the genetic diversity values within and among population of white jabon. Leaf samples of white jabon were collected from conservation plots originated from West Lombok, Sumbawa, South Sumatera and West Sumatera. Red jabon was included as an outgroup population. Based on 37 polymorphic RAPD loci, the results showed comparable value of genetic diversity between white jabon and red jabon. Number of detected and rare alleles was highest founded in Sumbawa population among the other three populations of white jabon. As consequence, value of expected heterozygosity in the population was highest (HE=0.315). Private allele was only detected in South Sumatera population. Principal coordinate analysis (PCA) showed that integrating between genetic and geographical distance was inconsistent; similar gene resources or human impact might be responsible for this result. The populations that have high value of genetic diversity and private allele are recommended to be selected for the conservation strategies, i.e. Sumbawa and South Sumatera.