Teguh Putranto
Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisa Pengaruh Variasi Jarak Gading Terhadap Lenturan dan Tegangan Pada Pelat Sisi Dengan Metode Elemen Hingga Putranto, Teguh; Imron, Asjhar
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.584 KB)

Abstract

Pelat berpenegar pada ponton yang terletak diantara 2 sekat kedap air dengan beberapa kondisi batas dianalisa menggunakan metode elemen hingga dan metode beda hingga. Gaya hidrostatik yang bekerja diambil dari gaya per satuan luas yang bekerja pada pelat sisi kapal sesuai dengan peraturan BKI. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa perbedaan lenturan relatif kecil antara kedua metode pada jumlah elemen yang besar. Analisa dilakukan dengan variasi jarak penegar. Lenturan paling besar terjadi pada jarak gading 0.8 m dan jarak sekat 3 kali jarak gading besar, sedangkan lenturan paling kecil terjadi pada jarak gading 0.65 m dan jarak sekat 2 kali jarak gading besar. Analisa dilakukan pada variasi kondisi batas. Tumpuan sederhana lebih konservatif dari pada tumpuan jepit. Tegangan yang dihasilkan oleh Metode Elemen Hingga dengan kondisi batas jepit-sederhana selalu lebih kecil dari tegangan izin dari Biro Klasifikasi Indonesia pada setiap variasi jarak gading.
ANALISA NUMERIK GERAKAN DAN KEKUATAN KAPAL AKIBAT BEBAN SLAMMING PADA KAPAL PERANG TIPE CORVETTE Putranto, Teguh; Sulisetyono, Aries
Kapal Vol 12, No 3 (2015): Oktober
Publisher : Teknik Perkapalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.386 KB) | DOI: 10.12777/kpl.12.3.158-164

Abstract

Pengawasan sumber daya laut terhadap tindakan pencurian menjadi salah satu tolok ukur bahwa negara dapat mempertahankan kedaulatan wilayah maritimnya. Kebutuhan kapal perang tentunya dapat mendukung kinerja TNI untuk menjalankan operasi militernya. Kendala teknis utama pada kapal perang adalah perilaku seakeeping yang relatif kurang stabil. Disisi lain perilaku slamming yang sering terjadi pada kapal berkecepatan tinggi berakibat pada kegagalan struktur pada bagian haluan kapal sehingga membahayakan keselamatan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji desain lambung kapal perang untuk daerah operasional tertentu dimana perairan terbuka di Indonesia memiliki tinggi rata-rata gelombang sekitar 2-5 m. Pembahasan dititikberatkan pada analisa gerakan kapal (seakeeping) untuk mengetahui tingkat keamanan dan kenyamanan kapal dan kekuatan lambung untuk mengetahui ketahanan struktur dimana diakibat oleh hidroelastisitas slamming. Analisa dapat dibuktikan dengan metode numerik / komputasi dengan metode elemen hingga dan metode panel. Skenario divariasikan berdasarkan kecepatan kapal, sudut hadap, dan sea state. Dari hasil simulasi didapatkan beban slamming terjadi paling besar adalah 306,893 kPa pada gading ke 147 ketika kapal beroperasi pada sea state 7, sudut hadap 180 derajat, dan kecepatan kapal 30 knot. Tegangan yang terjadi pada konstruksi kapal masih memenuhi persyaratan tegangan izin peraturan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).
Analisa Gerakan Rolling Kapal Bocor Akibat Beban Gelombang Laut Pada Kapal Bulk Carrier Putranto, Teguh; Purwanto, Dedi Budi
TEKNIK Vol 39, No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.13 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v39i2.15783

Abstract

Stabilitas menjadi syarat utama kapal yang laik layar. Artikel ini memuat analisa gerakan rolling pada kapal bulk carrier yang mengalami kebocoran ketika dikenai beban gelombang dengan sudut heading 90⁰ dan 270⁰ dan tinggi gelombang maksimum. Kapal berada pada kondisi muatan full load saat simulasi dan analisa dilakukan dengan skenario terjadi kebocoran pada ruang muatnya. Karena kapal dengan kebocoran kompartemen mengalami kondisi trim dan oleng maka hasil gerakan rolling menunjukkan perbedaan pada setiap arah datang gelombang. 3D diffraction panel method digunakan untuk mendapatkan gerakan rolling kapal sebagai fungsi waktu. Hasil penelitian tanpa efek sloshing menunjukkan bahwa kapal bulk carrier memiliki resiko tenggelam jika terdapat kebocoran pada dua ruang muatnya.
KAJIAN PENENTUAN GETARAN SISTEM PROPULSI KAPAL PATROLI DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Putranto, Teguh; Imron, Asjhar; Yulianto, Totok
Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v13i2.6659

Abstract

Kapal patroli adalah salah satu kapal perang berkecepatan tinggi yang digunakan untuk melakukan operasi militer dalam rangka menjaga kedaulatan wilayah maritim suatu negara. Kapal patroli tidak hanya mampu beroperasi sesuai dengan targetnya tetapi juga perlu diperhatikan juga faktor kenyamanan dan keselamatan awak kapalnya. Sebelum kapal dibangun, penentuan desain dan konstruksi kapal patroli menjadi tahap yang sangat penting karena kapal cepat sering terjadi persoalan terhadap getaran kapal yang diakibatkan sistem propulsi. Penelitian ini akan mengkaji tentang metode numerik untuk menganalisa getaran sistem propulsi kapal. Finite Element Method (FEM) merupakan salah satu metode numerik untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsial dengan cara membagi model menjadi elemen-elemen. Pemodelan numerik dilakukan pada sistem propulsi dan sebagian dari badan kapal. Untuk memulai simulasi, kondisi batas ditentukan berdasarkan posisi sekat ceruk buritan, sekat pada strut, transom, center girder, dan side girder. Setelah simulasi selesai, frekuensi alami pada mode shape 1 - 5 didapatkan sebesar 26,26; 35,68; 44,23; 90,62; 97,66 Hz secara berurutan. Frekuensi eksitasi propeller pada kecepatan dinas didapatkan sebesar 54,93 Hz dimana fungsi dari rotasi propeller dan jumlah daunnya. Frekuensi 26,26 dan 35,68 Hz (mode shape 1 dan 2) mengalami getaran ke arah lateral sedangkan frekuensi 44,23 Hz (mode shape 3) mengalami getaran ke arah vertikal. Sistem propulsi akan beresiko mengalami resonansi pada mode shape 3 ketika beroperasi pada kecepatan 25 knot.