Ramadhani Eka Putra
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pertumbuhan dan perkembangan larva Musca domestica Linnaeus (Diptera: Muscidae) dalam beberapa jenis kotoran ternak

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.592 KB)

Abstract

House fly (Musca domestica) is an important urban insect that can transmit various infectious diseases. This insect usually utilized organic wastes as nutrition source for their larvae. One of the main sources of organic wastes is livestock manure produced by animal farming located near human dwelling area. Thus, appropriate house fly population control program at animal farm is needed,  based on information on the house fly’s life history. The research is focused on the development of house fly larvae reared with different livestock manures, such as cow, chicken, and horse. As comparison, rice bran were used as control. Results showed that larvae reared with horse manure has the shortest development time (5 days), with lowest larval survival rate (30%), pupal weight (6.8 ± 0.141 g), and weight of female imago (4.9 ± 0.14 g). This finding indicates the lowest nutrition value of horse manure for house flies larvae. Further research is needed to find the effect of manure to variables that directly influence population growth, such as fecundity of female flies and egg survivorship. These additional information on life history will help the design of appropriate house fly population management program for animal farm.Key words: larval survivorship, livestock manure, house flies, larvae nutrition, development time

Pola kunjungan serangga liar dan efek penambahan koloni Trigona (Tetragonula) laeviceps Smith pada penyerbukan kabocha (Cucurbita maxima)

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 14, No 2 (2017): July
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.983 KB)

Abstract

Serangga penyerbuk liar maupun terdomestikasi memainkan peran penting dalam proses penyerbukan pada berbagai tanaman bernilai ekonomi terutama tanaman monoceious seperti dari kelompok Cucurbitaceae. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi mengenai peran dari serangga penyerbuk liar dan aplikasi koloni Trigona (Tetragonula) laeviceps Smith terhadap produksi dan kualitas buah kabocha (Cucurbita maxima) sebagai model tanaman pada lahan pertanian tradisional. Pengamatan dilakukan pada pukul 07:00–15:00 selama periode pebungaan dalam kurun waktu tiga minggu. Pengamatan dilakukan pada tiga plot perlakuan: open pollination + T. laeviceps (OPT), open pollination (OP), dan hand pollination (HP). Efek dari polinator ditinjau melalui tiga parameter, yaitu pola kunjungan, plant reproductive success, dan kualitas buah. Pola kunjungan diukur berdasarkan frekuensi dan lama kunjungan serangga, plant reproductive success diukur dari fruit set dan jumlah biji, sedangkan kualitas buah diukur berdasarkan diameter dan berat buah serta produksi buah/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas polinator liar aktif pada pagi hari, sedangkan T. laeviceps lebih aktif mulai siang yang diduga disebabkan oleh pengaruh variasi toleransi terhadap suhu pada tiap spesies. Terdapat perbedaan signifikan pada fruit set antara perlakuan OPT (80%), OP (65%), dan HP (38.3%) (F2,35 = 19.907, P = 0.000). Jumlah biji dan kualitas buah yang dihasilkan pada perlakuan OPT dan OP lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan HP, sedangkan jumlah buah pada OPT jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Rendahnya kesuksesan penyerbukan pada plot HP menunjukkan ketepatan waktu penting bagi penyerbukan kabocha. Berdasarkan hasil ini maka penyerbukan oleh lebah pada tanaman kabocha sulit digantikan oleh manusia dan variasi kunjungan yang dimiliki oleh T. laeviceps berdampak positif pada produksi buah kabocha.  

Toksisitas beberapa jenis fungisida komersial pada serangga penyerbuk, Trigona (Tetragonula) laeviceps Smith

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 14, No 1 (2017): March
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.26 KB)

Abstract

Salah satu pestisida yang umum digunakan pada sistem perkebunan adalah fungisida. Walaupun spesifik didesain untuk mengatasi serangan cendawan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa fungisida memiliki efek neurotoksik terhadap hewan uji. Hal ini memberikan potensi merugikan bagi hewan-hewan non target yang menguntungkan pada sistem pertanian, seperti serangga penyerbuk. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan toksisitas dari fungisida yang beredar di pasaran pada salah satu agen penyerbuk Trigona (Tetrgonula) laeviceps Smith, dengan parameter toksisitas berupa nilai LD50 dan Hazard Quotient (HQ). Fungisida yang diujikan adalah dari golongan triazole (triadimefon dan difenoconazole), golongan propamokarb (propamokarb HCl), dan golongan ditiokarbamat (mankozeb dan propineb). Lebah pencari makanan T. laeviceps dikoleksi dan dianestesi dengan suhu -10 °C selama 1 menit. Sebanyak 1 μl larutan triadimefon, difenoconazole, propamokarb HCl, mankozeb, dan propineb diaplikasikan secara topikal dengan microsyringe di bagian dorsal lebah. Setiap kelompok perlakuan terdiri atas 10 individu lebah yang diulangi sebanyak tiga kali. Pengamatan mortalitas lebah dilakukan 48 jam setelah aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LD50 (48 jam) dan HQ untuk fungisida uji adalah triadimefon 13,43 ±1,78 μg/lebah, HQ = 18,62; difenoconazole 9,25 ± 1,21 μg/lebah, HQ = 27,03; propamokarb HCl 270,45 ±19,48 μg/lebah, HQ = 14,34; mankozeb 3,75±0,47 μg/lebah, HQ = 512; dan propineb 9,71 ±2,20 μg/lebah, HQ = 144,18. Dari kelima fungisida, terdapat dua fungisida yang memiliki toksisitas moderat dan memiliki potensi menyebabkan mortalitas bagi lebah pencari makanan dan merugikan bagi koloni lebah saat aplikasi di lapangan, yaitu mankozeb dan propineb.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA LEDAKAN KASUS MALARIA DI KECAMATAN CINEAM, KABUPATEN TASIKMALAYA PADA TAHUN 1998

JURNAL ISTEK Vol 8, No 2 (2014): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.315 KB)

Abstract

Pada tahun 1998, kecamatan Cineam di kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria dengan jumlah kasus mencapai 800 kasus sehingga Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) kecamatan Cineam berada pada stratifikasi High Case Incidence (HCI). Kondisi berbeda terjadi pada tahun 2009 dan 2010 dimana jumlah kasus yang terjadi adalah 15 dan 6 kasus, secara berurutan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang menyebabkan KLB malaria tahun 1998. Metoda pengambilan data dengan (1) pencuplikan nyamuk Anopheles menggunakan CO2 Trap di 5 dari 10 desa pada kecamatan Cineam untuk mengetahui populasi nisbi dari nyamuk vektor malaria dan (2) wawancara dengan petugas pemberantasan penyakit menular (P2M) yang bertugas pada PUSKESMAS kecamatan Cineam saat KLB pada tahun 1998. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini, dari 320 individu nyamuk Anopheles yang ditangkap, terdapat empat jenis nyamuk Anopheles dengan tingkat dominansi, Anopheles vagus (33,13%), Anopheles aconitus (28,75%), Anopheles barbirostris (23,75%), dan Anopheles kochi (14,38%) dimana hanya An. aconitus dan An. barbirostris yang merupakan vektor malaria. Keberadaan nyamuk Anopheles ini didukung oleh faktor klimat serta keadaan lingkungan setempat yang menyediakan feeding place, resting place, dan breeding site bagi nyamuk Anopheles. Walaupun demikian, keberadaan populasi nyamuk Anopheles bukan merupakan faktor utama penyebab KLB malaria, melainkan rendahnya pemahaman masyarakat pada penyakit ini. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya tingkat prevalensi malaria yang sangat rendah (Low Case Incidence) yaitu pada tahun 2009 dan 2010 (sebesar 0,44‰ dan 0,18‰ secara berurutan) setelah dilakukan penanggulangan penyebaran malaria dalam bentuk penyuluhan pada warga sejak KLB pada tahun 1998.

The Potency of Trigona’s Propolis Extract as Reactive Oxygen Species Inhibitor in Diabetic Mice

Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.633 KB)

Abstract

Hyperglycemia has been proven to increase oxidative stress due to the production of reactive oxygen species (ROS) that exceed the capabilities of the natural antioxidant defenses, causing a deficiency in insulin receptors and insulin resistance. In this study, the effect of propolis on ROS was observed. Fifty five (55) male mice (Mus musculus SW.) were divided into 5 groups, i.e. KN (normal control), KDM (diabetes control), and P1, P2, P3. Propolis solution 50, 100 and 175 mg/kg bw was given to groups P1, P2 and P3 respectively, while distilled water was given to groups KN and KDM by oral gavage for 21 days. Density of ROS was measured every 7 days, while measurement of plasma insulin was carried out every 3 days. The results show that the density of ROS in the groups treated with propolis was lower than in the KDM group. However, the plasma insulin levels in the propolis groups were higher than in the KDM group. It was concluded that propolis can decrease ROS density and causes an increase in plasma insulin levels.

Infeksi Subletal Bacillus thuringiensis pada Helicoverpa armigera: Mungkinkah Menyebabkan Resurgensi?

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 7, No 1 (2001)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the effect of B. thuringiensis sublethal infection to the chance of H. armigera to resurgence has been conducted. Third instar insects were used and the concentration applied were 0 ppm, 150 ppm, 300 ppm, 450 ppm and 600 ppm. The result showed that along with the increase of B. thuringiensis infection, the number and the viability of the eggs production declined. In addition, the weight difference between the 3rd and the 4th instar became higher however between the 4th and the 5th became lower, moreover, the weight of female imago decreased, the life longevity of male and female imago were shorter and longer, respectively, along with the increase of B. thuringiensis infection. The possibility for resurgence will be discussed.Key words: B. thuringiensis, H. armigera, sublethal, resurgence

Aplikasi campuran serbuk kayu pinus dan fipronil sebagai umpan rayap tanah Macrotermes gilvus (Hagen) (Isoptera: Termitidae) di Bandung

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 12, No 2 (2015): July
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.777 KB)

Abstract

In this study, termite bait comprising pinewood of sawdust and a slow action insecticide, fipronil, was made and applied to control subterranean termite Macrotermes gilvus (Hagen) (Isoptera: Termitidae) in Bandung. Colony size was measured using capture-mark-release-recapture prior to the bait application, along with the measurement of wood consumption at each station.  Colony foraging populations at all stations were estimated to be 77,951 termites, with mean wood consumption rates ranging from 0.02 to 6.16 g/station/day. Observation at 18 stations installed with bait consisted of 40 ppm fipronil mixed with pinewood sawdust showed that number of foraging activity termites was effectively reduced in 40 days. It is concluded that fipronil-treated pinewood sawdust bait is effective in controlling the population of foraging M. gilvus workers in 40 days.

Pertumbuhan dan perkembangan larva Musca domestica Linnaeus (Diptera: Muscidae) dalam beberapa jenis kotoran ternak

Jurnal Entomologi Indonesia Vol 10, No 1 (2013): April
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.592 KB)

Abstract

House fly (Musca domestica) is an important urban insect that can transmit various infectious diseases. This insect usually utilized organic wastes as nutrition source for their larvae. One of the main sources of organic wastes is livestock manure produced by animal farming located near human dwelling area. Thus, appropriate house fly population control program at animal farm is needed,based on information on the house fly’s life history. The research is focused on the development of house fly larvae reared with different livestock manures, such as cow, chicken, and horse. As comparison, rice bran were used as control. Results showed that larvae reared with horse manure has the shortest development time (5 days), with lowest larval survival rate (30%), pupal weight (6.8 ± 0.141 g), and weight of female imago (4.9 ± 0.14 g). This finding indicates the lowest nutrition value of horse manure for house flies larvae. Further research is needed to find the effect of manure to variables that directly influence population growth, such as fecundity of female flies and egg survivorship. These additional information on life history will help the design of appropriate house fly population management program for animal farm.

EFIKASI PROPOLIS LEBAH Trigona sp. SEBAGAI BAHAN EDIBLE COATING UNTUK PERLINDUNGAN PASCA PANEN BUAH PISANG AMBON LUMUT (Musa acuminata L.)

JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol 10 No 01 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, University of Jember

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.498 KB)

Abstract

This study aimed to determine the efficiency of the use of propolis as a biocoating for post-harvest bananas in order to extend shelf life. This study used local banana that typical in Indonesia, Moss banana (Musa acuminata) and the propolis bee Trigona laeviceps, which is also produced by local agriculture, with a concentration of application 5%, 10%, 15%, coating using 70% ethanol as a positive control, and bananas without coating as a negative control. Observation parameters that measured are weight loss, pulp to peel ratio, size, color, fruit temperature, cell death, fruit firmness, total soluble solid (TSS), sucrose content, vitamin C, and potassium content on days 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18 and 21 after coating. The results showed that coating using 5% propolis significantly extend the shelf life compared to the control by slowing the increase in fruit maturity index (color), weight loss, size loss, pulp to peel ratio, fruit temperature, pulp softening, and increased levels of vitamin C. Treatment process itself does not have a significant effect on changes in the value of TSS and sucrose during the storage period.Keywords: propolis, moss banana, post-harvest protection.

Kajian Karakter Bunga Coffea arabica L. Terkait Dengan Kemungkinan Aplikasi Lebah Madu Lokal Sebagai Agen Penyerbuk

Jurnal Matematika dan Sains Vol 20 No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi arabika merupakan salah satu tanaman bernilai ekonomi penting di dunia, dimana Indonesia memegang peranan dalam produksi kopi dunia. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas produksi kopi adalah meningkatkan polinasi dengan bantuan serangga polinator yang telah didomestikasi, seperti lebah madu. Dalam proses aplikasi serangga penyerbuk ini diperlukan pengetahuan dasar mengenai karakteristik dari bunga kopi terutama berkaitan dengan kemampuan bereproduksi dan menarik kunjungan lebah madu. Karakteristik yang diamati pada penelitian ini adalah beberapa karakter bunga yang berkaitan dengan sindrom penyerbukan seperti warna, bentuk, dan panjang tabung bunga serta karakter yang menjadi "reward" bagi lebah madu dalam bentuk ketersediaan nektar dan polen serta kualitas dari nektar. Uji viabilitas polen menggunakan aceto-orcein 2% menunjukkan bahwa polen yang dihasilkan oleh kopi arabika lokal memiliki viabilitas sangat tinggi (96,92% ± 4,38). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan aktivitas penyerbuk dapat meningkatkan efisiensi polinasi serta produksi biji kopi. Kata kunci: Kopi arabika, Viabilitas polen, Polinasi. Study of Flower Characteristics of Coffea arabica L. Related to Insect pollinators Visits in Pollination Efficiency Improvement Abstract Arabica coffee is one of the most important economic crop in the world and Indonesia could contribute more to total world production. One of efforts that could improve  qu  ality and quantity of coffee production is increasing pollination efficiency through application of domesticated insect pollinator, such as honey bees. Prior application, it is necessary to understand basic knowledge of  characteristics of coffee's flowers related to its reproductive potential and ability attract the honey bees. The main characters observed in this study  were color, scent, shape and length of the flower tube, availability and quality of nectar and pollen. Pollen viability test of local Arabica Coffee by aceto-orcein 2% showed high score (96.92% ± 4.38) while other flower's characteristics highly related to preference of honey bees to visit flowersOur study also shows that increasing the pollinator activity could increase pollination efficiency and coffee bean production. Keywords: Coffea arabica, Pollen viability, Pollination.