Articles

Found 22 Documents
Search

Koefisien Perpindahan Massa pada Ekstraksi Aspal Buton dari Kabungka dan Bau-Bau dengan Pelarut n-Heksan Purwono, Suryo; Murachman, Bardi; Tri Yulianti, Dyah; Suwati, dan
Majalah Forum Teknik UGM Vol 29, No 1 (2005)
Publisher : Majalah Forum Teknik UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Butonion  natural  asphalt  can be used for binder in road construction after its impurities were  removed  by  extraction  using  suitable  solvent.  Researches  on  extraction of Butonion asphalt  have been  done. However, most of them  are  explorative  research.This  experiment  tried  to find mass  transfer  coeficient for Butonion  asphalt  extraction.  The mass tronsfer  coefficient  will be  used  in  extraction  tower  design. In  this  experiment,  multi-stage  cross-cwrent  extraction  was  used  using  n-hexane  as  a solvent.  The number  of  stages was  seven.  Bitumen  obtained  was then  distilled to  separate  the  n-hexane. The operation  variables  were  :  size  of  solid,  rotation  and extTaction  time.The  relationship  of the  mass transfer  coefficient with other variables  can  be written  as:The  constant  values  of  Kabungka  asphalt  are  :  K=6.43558x10tt,  a=0.141569, b=0.2825804,  c =1.76857,  d=  -  1.381755,  e=t.636537x102 ;  those  of Bau-Bau  asphalt  are  : K=  6.3x  I0tta  = 0.0891,  b=  0.28258,  c=  L7699,  d = -1.3821Keywords  :  extraction,  mass transfer,  Butonion asphalt
Study on Lignin Isolation from Oil Palm Empty Fruit Bunches Iman Prakoso, Nurcahyo; Purwono, Suryo; Rochmadi, Rochmadi
Eksakta: Jurnal Ilmu-Ilmu MIPA VOLUME 16, ISSUE 1, February 2016
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/eksakta.vol16.iss1.art6

Abstract

Telah dilakukan studi tentang isolasi lignin dari tandan kosong kelapa sawit dengan metode batch. Diharapkan melalui studi ini dapat memperoleh metode isolasi lignin yang optimal. Studi yang dilakukan meliputi optimasi suhu reaksi, rasio massa NaOH terhadap pelarut, rasio serabut terhadap pelarut, dan waktu reaksi. Dari semua perlakuan, didapatkan bahwa suhu reaksi, tekanan, konsentrasi NaOH, rasio serabut terhadap pelarut dan waktu reaksi optimum berturut-turut yaitu, 170 °C, 15 atm, 1% (b/v), 9% (b/v), dan reaksi dilakukan selama 5 jam
Pengaruh Aerasi Terhadap Pretreatment Eceng Gondok Oleh Phanerochaete Chrysosporium Septria, Rully; Purwono, Suryo; Syamsiah, Siti; Sari, Eka
Jurnal Sains Dan Teknologi Lingkungan Vol 7, No 2 (2015): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eceng gondok (Eichornia Crassipe) memiliki potensi dapat dikonversi menjadi bioetanol. Pretreatment biologi denganPhanerochaete Chrysosporium memerlukan waktu lama karena kurangnya pasokan oksigen untuk pertumbuhanP.Chrysosporium. Upaya untuk memenuhi kebutuhan oksigen dapat dibantu dengan aerasi. Variasi kecepatan aerasiyang digunakan 0 L/m2.men sampai 30,10 L/m2.men. Sampel diambil setiap 4 hari selama 24 hari. Kecepatan aerasi2,15 L/m2.men sampai dengan hari ke 24 menghasilkan degradasi lignin sebesar 0,3076 gram. Sedangkan kecepatanaerasi 15,05 L/m2.men; 17,20 L/m2.men; dan 30,10 L/m2.men menunjukkan degradasi lignin yang lebih tinggi yaitu0,3374 gram; 0,4151 gram; dan 0,3944 gram. Aerasi 2,15 L/m2.men merupakan kecepatan optimum. Hal tersebutdapat dilihat dari hasil lignin yang paling rendah.Kata Kunci : Aerasi, pretreatment, eceng gondok, lignoselulosa
PYROLYSIS OF LIGNIN FROM WASTE OF PALM OIL INDUSTRIES FOR THE DEVELOPMENT OF SURFACTANTS FOR ENHANCE OIL RECOVERY (EOR) Purwono, Suryo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 8, No 3 (2001)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pyrolysis of lignin from waste of palm oil industries produces alcohol and its derivatives which can be sulfonated to become surfactant. The experimental procedures for the pyrolysis process were as follows: 1) dried palm oil husks at a certain weight were put into the pyrolysis reactor and heated up to a certain temperafure; 2) the product leaving the reactor was cooled down to room temperature; and 3) the liquid product was collected in a flask while the gas product was put into a big bottle. The best temperature obtained for producing liquid product was 400 oC for lignin from palm oil fruit fibers and 350 oC for lignin from palm oil fruit stems. The surfactant developed was in the range between 34 and 38% from the pyrolysis product. In this experiment, the reaction rate was assumed to be in first order. The result showed that the surfactant obtained from the experiment could form emulsion with crude oil. This suggests that the surfactant developed can be used for EOR process.
Pemanfaatan Cangkang Biji Pala sebagai Briket dengan Proses Pirolisis Rukmana, ; Purwono, Suryo ; Yuliansyah, Ahmad Tawfiequrrahman
Jurnal Rekayasa Proses Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.31033

Abstract

The abundance of nutmeg seed shells in Tidore is the reason to study the possibility to produce charcoal briquettes. The use of charcoal briquettes was expected to reduce waste of nutmeg seed shell and can be an alternative energy source with a high economic value. This study aims to investigate the effect of pyrolysis temperature and composition of tapioca adhesive to resulting quality of briquettes. The first step of the research was the preparation of nutmeg seed shells consisted of drying and size reduction into less than 20 mesh size. Afterward, the powder was put into furnace and heated to 350°C, 400°C, and 450°C for 90 minutes. During the process, volume of gas and liquids were measured every 15 minutes, while gas was sampled at 60-minute reaction. When pyrolysis was finished, about 20 g of charcoal was mixed with tapioca adhesive. The compositions of adhesive were 10%, 15%, 20%, 25%, and 30%. Finally, composite was formed in a cylindrical shape and compressed with hydraulic press at f 3 tons weight for a minute. The briquettes were then dried and analyzed with proximate analysis test. The results show that the highest calorific value was 6717.74 cal/g for material pyrolyzed at 450oC and 20% adhesive. The effect of adhesive on shatter index test showed that increasing composition of adhesive makes a better briquette quality as shown by a lower shatter index. In this study, the minimum weight loss was obtained by the addition of 30% adhesive. Keywords: briquettes, nutmeg seed shells, pyrolysis Ketersediaan cangkang biji pala yang melimpah di kota Tidore menjadi dasar dilakukannya penelitian mengenai pemanfaatan cangkang biji pala menjadi briket arang. Penggunaan briket arang diharapkan dapat mengurangi limbah cangkang biji pala dan sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu pirolisis dan komposisi campuran perekat dengan arang cangkang biji pala terhadap kualitas briket. Tahap pertama dalam penelitian ini adalah penyiapan bahan baku berupa pengeringan dan penyesuaian ukuran cangkang biji pala sebesar 20 mesh. Tahap kedua yaitu proses pirolisis dengan cara memasukkan bubuk cangkang biji pala ke dalam tungku pirolisis (pirolisis selama 90 menit dengan variasi suhu 350oC, 400oC dan 450oC). Selama proses pirolisis berlangsung, volume gas dan cairan diukur setiap 15 menit, sedangkan pengambilan sampel gas dilakukan setelah pirolisis mencapai waktu 60 menit. Setelah dipirolisis, arang cangkang biji pala ditimbang seberat 20 gram kemudian bahan ini dicampurkan dengan perekat tapioka dengan variasi komposisi sebesar 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Setelah itu, arang cangkang biji pala dicetak dalam bentuk silinder dan dikempa dengan alat kempa hidrolik dengan berat 3 ton selama 1 menit. Briket kemudian dikeringkan dan dianalisis uji proksimat. Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa nilai kalor yang tertinggi sebesar 6717,74 kal/g dimiliki oleh bahan hasil pirolisis suhu 450oC dengan campuran perekat 20%. Pengaruh perekat terhadap uji shatter index menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan perekat dalam briket maka semakin baik shatter index dari briket. Pada penelitian ini diketahui bahwa briket dengan penambahan perekat sebesar 30% mengalami kehilangan berat yang paling sedikit. Kata kunci: briket, cangkang biji pala, pirolisis
Pengaruh Diameter Partikel Terhadap Konsentrasi L-Dopa, Kc Dan De Pada Ekstraksi L-Dopa Dari Biji Kara Benguk (Mucuna Pruriens Dc.) Budiyati, Eni; Mulyono, Panut; Purwono, Suryo
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mucuna pruriens (biji kara benguk) merupakan tanaman penghasil bahan obat-obatan karena mengandung senyawa L-Dopa. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk pengobatan penyakit gangguan syaraf, anti bisa ular, meningkatkan bobot dan kekuatan otot, vitalitas seksual pria, zat anti-aging dan obat cacing pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi L- Dopa dari biji kara benguk dengan menggunakan pelarut air. Di samping itu, penelitian ini juga mengevaluasi pengaruh dari diameter partikel terhadap konsentrasi L- dopa hasil ekstraksi, koefisien transfer massa (kC), dan difusivitas efektif (De). Tahapan yang digunakan pada penelitian ini adalah, persiapan bahan baku, proses ekstraksi, dan analisis L-Dopa. Proses ekstraksi dilakukan dalam tangki yang dilengkapi dengan thermometer. Analisis L-Dopa dilakukan dengan dengan High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil diameter partikel maka konsentrasi L-Dopa terekstrak semakin besar. Konsentrasi tertinggi diperoleh pada diameter partikel 0,5 mm yaitu 1739,56 ppm. Nilai difusivitas efektif (De) untuk variabel diameter partikel (0,5; 0,675; 2,18; dan 2,5 mm) hampir sama yaitu 2,99.10–5 sampai 3,07.10–5 cm2/menit. Sedangkan nilai koefisien transfer massa (kC) berbanding terbalik dengan diameter partikel. Nilai kC berkisar antara 2,83.10-2 sampai 3,98.10-2 g/cm2.menit. 
Tin (II) Chloride Catalyzed Esterification of High FFA Jatropha Oil: Experimental and Kinetics Study Kusumaningtyas, Ratna Dewi; Handayani, Prima Astuti; Rochmadi, Rochmadi; Purwono, Suryo; Budiman, Arief
International Journal of Renewable Energy Development Vol 3, No 2 (2014): July 2014
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijred.3.2.75-81

Abstract

Biodiesel is one of the promising energy source alternatives to fossil fuel. To produce biodiesel in a more economical way, the employment of the low-cost feed stocks, such as non-edible oils with high free fatty acid (FFA), is necessary. Accordingly, the esterification reaction of FFA in vegetable oils plays an important role in the biodiesel production. In this work, esterification of FFA contained in Crude Jatropha Oil (CJO) in the presence of tin (II) chloride catalyst in a batch reactor has been carried out. The esterification reaction was conducted using methanol at the temperature of 40-60 °C for 4 hours. The effect of molar ratio of methanol to oil was studied in the range 15:1 to 120:1. The influence of catalyst loading was investigated in the range of 2.5 to 15% w/w oil. The optimum reaction conversion was obtained at 60 °C with the catalyst loading of 10% w/w oil and molar ratio of methanol to oil of 120:1. A pseudo-homogeneous reversible second order kinetic model for describing the esterification of FFA contained in CJO with methanol over tin (II) chloride catalyst was developed based on the experimental data. The kinetic model can fit the data very well.
Modifikasi Sodium Lignosulfonat Melalui Epoksidasi Minyak Biji Kapuk dan Penambahan Kosurfaktan Anam, Muhammad Khoirul; Purwono, Suryo ; Supranto,
Jurnal Rekayasa Proses Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.31032

Abstract

The objective of this research is to reduce the interfacial tension of sodium lignosulfonate (SLS). SLS formulation (1%) showed the interfacial tension of 2.34 mN/m. This value is still relatively large when compared to interfacial tention of required surfactant for enhanced oil recovery (EOR). The terms of surfactants that can be used in EOR must have ≤10-3 mN/m interfacial tension. The performance of SLS was expected to be improved by adding the epoxide compound and co-surfactants (1-octanol). Epoxide compound was made by reacting kapok oil with acetic acid and hydrogen peroxide with in-situ method. Temperature of epoxidation reaction was varied i.e. 60°C, 70°C and 80°C, while the time of reaction was varied from 15 to 90 minutes. The evaluation showed that equation of the reaction rate coefficient (k) for the epoxide was 𝑘= 124,82 exp (−24,14/RT). The addition of the epoxide compound 0.5% w/w of the formulation SLS was able to reduce the interfacial tension value up to 9.95 x 10-2 mN/m. The addition of co-surfactant (1-oktanol) was varied between 0.1 and 0.4% of the total mass (SLS + epoxide + water formation). The lowest interfacial tension (2.43 x 10-3 mN/m) was obtained by co-surfactants addition of 0.2% w/w. Keywords: Sodium lignosulfonat, epoxidation kapok oil, co-surfactant, interfacial tension, enhanced oil recovery Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan tegangan antarmuka dari sodium lignosulfonat (SLS). Pengukuran tegangan antarmuka yang telah dilakukaan pada formulasi sodium lignosulfonat atau SLS (1%) memiliki nilai tegangan antarmuka sebesar 2,34 mN/m. Nilai tegangan antarmuka dari SLS ini masih relatif besar jika dibandingkan dengan syarat surfaktan untuk perolehan kembali minyak bumi atau enhanced oil recovery (EOR). Syarat surfaktan sebagai agen EOR adalah memiliki nilai tegangan antarmuka sebesar ≤10-3 mN/m. Kekurangan dari SLS diharapkan dapat diperbaiki dengan penambahan senyawa epoksida dan kosurfaktan (1-oktanol). Senyawa epoksida dibuat dengan mereaksikan sabun minyak biji kapuk dengan asam asetat dan hidrogen peroksida secara insitu. Reaksi epoksidasi divariasikan pada suhu 60oC, 70oC, dan 80oC, sedangkan waktu reaksi divariasikan pada rentang 15 dan 90 menit. Persamaan konstanta laju reaksi untuk epoksidasi diperoleh sebesar 𝑘= 124,82 exp (−24,14/RT). Penambahan senyawa epoksida 0,5% w/w pada formulasi SLS mampu menurunkan nilai Tegangan antarmuka hingga 9,95x10-2 mN/m. Penambahan kosurfaktan 1-oktanol divariasikan antara 0,1–0,4% dari massa total formulasi utama (SLS+Epoksida+Air Formasi). Nilai tegangan antarmuka terkecil diperoleh pada penambahan kosurfaktan sebanyak 0,2% w/w, yaitu sebesar 2,43x10-3 mN/m. Kata kunci: Sodium lignosulfonat, epoksidasi, minyak biji kapuk, kosurfaktan, tegangan antarmuka, enhanced oil recovery
Evaluasi Nilai Difusivitas Ion Kalsium & Magnesium pada Proses "Low Salinity Waterflood" di Batuan Berea Yusuf, Yusmardhany; Purwono, Suryo; Wirawan, Sang Kompiang
Jurnal Rekayasa Proses Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jrekpros.28890

Abstract

In recent years Low Salinity Waterflood (LSW) had been supposed as trusty method to improve oil recovery and the most essential aspect is a alteration of divalent ion concentration in reservoir pore volume as a respon LSW. The objective of this paper are to find divalent diffusivity constant (Ca2+ and Mg2+) in berea sandstone by ionsmass conservation equation along with Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) as validation. The study was conducted at 2 berea core having porosity : 0.235 and 0.230 and permeability : 661 mD and 550 mD, we use synthetic formation water accordance to "LN" field property. Experiment was treated by by diluting Ca2+ up to 79% from its original value and  by diluting Mg2+ up to 95% from its original value while other ion were maintained fit to their original value. As a result we got difusion constant 0.0620 cm2.min-1 and 0.2667 cm2.min-1for Ca2+ and Mg2+, respectively.ABSTRAKPenelitian mengenai metode low salinity waterflood (LSW) dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu aspek esensial dalam metode tersebut adalah respon perubahan konsentrasi ion divalent dalam ruang pori reservoir. Penelitan ini bertujuan mencari konstanta difusivitas ion kalsium dan magnesium pada batuan Berea sandstone. Konstanta difusivitas dihitung menggunakan persamaan konservasi massa dan ditinjau secara difusi yang divalidasi oleh atomic absorption spectroscopy (AAS). Penelitian dilakukan pada 2 batuan Berea dengan porositas masing-masing: 661 mD dan 550 mD. Air formasi dibuat secara sintetik sesuai data lapangan "LN". Eksperimen difusivitas Ca2+ dilakukan dengan pengenceran hingga 79% dari konsentrasi awal. Sedangkan eksperimen Mg2+ dilakukan dengan pengenceran hingga 95% dari konsentrasi awal. Sementara itu ion lain diatur tetap sesuai konsentrasi awal. Dari hasil percobaan didapat konstanta difusivitas Ca2+ sebesar 0,0620 cm2/menitdan Mg2+ sebesar 0,2667 cm2/menit.
Koefisien Perpindahan Massa pada Ekstraksi Aspal Buton dari Kabungka dan Bau-Bau dengan Pelarut n-Heksan Purwono, Suryo; Murachman, Bardi; Tri Yulianti, Dyah; Suwati, dan
Forum Teknik Vol 29, No 1 (2005)
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Butonion  natural  asphalt  can be used for binder in road construction after its impurities were  removed  by  extraction  using  suitable  solvent.  Researches  on  extraction of Butonion asphalt  have been  done. However, most of them  are  explorative  research.This  experiment  tried  to find mass  transfer  coeficient for Butonion  asphalt  extraction.  The mass tronsfer  coefficient  will be  used  in  extraction  tower  design. In  this  experiment,  multi-stage  cross-cwrent  extraction  was  used  using  n-hexane  as  a solvent.  The number  of  stages was  seven.  Bitumen  obtained  was then  distilled to  separate  the  n-hexane. The operation  variables  were  :  size  of  solid,  rotation  and extTaction  time.The  relationship  of the  mass transfer  coefficient with other variables  can  be written  as:The  constant  values  of  Kabungka  asphalt  are  :  K=6.43558x10tt,  a=0.141569, b=0.2825804,  c =1.76857,  d=  -  1.381755,  e=t.636537x102 ;  those  of Bau-Bau  asphalt  are  : K=  6.3x  I0tta  = 0.0891,  b=  0.28258,  c=  L7699,  d = -1.3821Keywords  :  extraction,  mass transfer,  Butonion asphalt