Articles

Found 16 Documents
Search

Bumi Berotasi, Pendekatan Teks Wahyu Matahari Tidak Mungkin Mendahului Bulan

PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengajaran sains alamiah (natural science) bukan perkara mudah apalagi remeh. Sebabnya bukan saja karena materi sains yang relatif lebih berat dibanding sains sosial atau humaniora tetapi juga karena faktor budaya dan agama. Sejarah mencatat bagaimana peralihan gagasan geosentris ke heliosentris di abad pertengahan mengalami kesulitan karena konsep ini telah menjadi bagian dari doktrin keagamaan. Kesulitan ini ternyata bukan hanya fenomena abad pertengahan tetapi juga fenomena dunia modern. Pemahaman umum yang diterima luas tentang fenomena siang dan malam adalah disebabkan oleh rotasi Bumi. Tetapi terdapat sebagian masyarakat, guru dan sekolah khususnya sekolah berbasis agama Islam, berdasardalil dan pemahaman keagamaan, menolak pandangan ini dan mengatakan bahwa Bumi diam dan Matahari serta Bulan yang bergerak mengelilingi Bumi.  Artikel ini memberi pemahaman baru bahwa Bumi tidak diam melainkan berotasi berdasar teks Al-Quran surat Yaasin ayat 40  dan fenomena Bulan sabit yang terus naik pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya bulan Qomariyah. Pendekatan ini sangat tepat dan cukup mendesak diberikan di sekolah-sekolah islam. Kata Kunci : Bulan Sabit, Matahari, al-Quran

STRATEGI AKREDITASI PRODI DALAM RANGKA MENJAMIN KUALITAS PENDIDIKAN GURU

Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.714 KB)

Abstract

Penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas merupakan dambaan bagi banyak pihak, baik pemerintah, penyelenggara, maupun pengguna. Terlebih lagi apabila pendidikan tinggi yang berkualitas tersebut dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah. Untuk kebutuhan tersebut, pembukaan program studi baru yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders dan diselenggarakan dengan penjaminan kualitas yang baik merupakan salah satu mekanisme perluasan akses yang diharapkan. Adanya tuntutan-tuntutan tersebut, maka pada tahun 2001 terbit Surat Keputusan  Mendiknas  nomor 184/U/2001 tentang Pedoman Pengawasan–Pengendalian dan Pembinaan Program Diploma, Sarjana dan Pascasarjana di Perguruan Tinggi.Program Studi adalah penyelenggara pendidikan akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar mahasiswa dapat menguasai pengetahuan, keterampilan & sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum. Program Studi mempunyai tugas melaksanakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sebagian atau satu cabang ilmu pengetahuan tertentu.

MODEL PEMBINAAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT USING

KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman Vol 22, No 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : STAIN Pamekasan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.362 KB)

Abstract

Lembaga sosial sebagai asosiasi berperan dalam meningkatkan produktivitas masyarakat suku Using. Peran lembaga sosial dalam hal ini lembaga seni  berkaitan dengan pengembangan budaya sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat suku Using. Namun peran tersebut belum optimal dalam menunjang produktivitas masyarakat suku Using karena kurangnya peran dan dukungan dari pemerintah daerah setempat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model pembinaan lembaga sosial dalam peningkatan produktivitas masyarakat suku Using. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, diskusi, dan dokumentasi serta dianalisis dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan lembaga sosial yang ada di masyarakat Using belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Meskipun pemerintah daerah sudah membuat beberapa kebijakan untuk memberdayakan lembaga sosial namun belum sepenuhnya dirasakan oleh lembaga sosial. Oleh karena itu perlu ada pembinaan terhadap lembaga sosial khususnya lembaga seni agar mereka terpacu untuk meningkatkan produktivitasnya.

PENGEMBANGAN POLA KEMITRAAN DALAM RANGKA PENGENTASAN KEMISKINAN DI JAWA TIMUR

UNEJ e-Proceeding 2016: Dinamika Global: Rebranding Keunggulan Kompetitif Berbasis Kearifan Lokal
Publisher : UNEJ e-Proceeding

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668 KB)

Abstract

To develop and strengthen the small business sector, one important strategy is partnering with medium and large business sector through a partnership that is based on the principle of mutual need, mutually reinforcing and mutually beneficial. In general, this study aimed to analyze the effectiveness of a partnership for the empowerment of the poor in East Java. Based on the research, programs and activities that have been implemented are as follows: (a) Program for Community Empowerment; (B) Development Program Rural Economic Institute; (C) Community Participation Program In Village Building; and (d) Capacity Building Program Apparatus village government; Based on these results is the recommended that the partnership model from the perspective of the system at least, there are 3 types suitable to be applied in the community empowerment program in East Java province, namely: Vertical Linkage Backward, Forward Vertical and Horizontal Linkage Linkage.

MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISTEM KELISTRIKAN KENDARAAN RINGAN DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARING

TAMAN VOKASI Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.478 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: (1) meningkatan keaktifan belajar siswa; dan (2) meningkatkan hasil belajar kelistrikan kendaraan ringan siswa kelas XI TKR. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 3 siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) Perencanaan tindakan; (2) Pelaksanaan tindakan; (3) Observasi; dan (4) Refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI TKR 1 SMK Giripuro Sumpiuh yang berjumlah 42 siswa, objek penelitian adalah keaktifan dan hasil belajar sistem kelistrikan kendaraan ringan. Teknik analisis data menggunakan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar kelistrikan kendaraan ringan siswa kelas XI TKR 1 SMK Giripuro Sumpiuh. Peningkatan keaktifan belajar dapat dilihat dari nilai rata-rata keaktifan siklus I sebesar 52,38%, siklus II sebesar 64,29%, dan 74,79% pada siklus 3, persentase keaktifan siklus I ke siklus II meningkat sebesar 11,19%, dan siklus II ke siklus III meningkat sebesar 10,50%. Peningkatan hasil belajar dilihat dari nilai ratarata siklus I sebesar 47,62%, siklus II sebesar 64,29%, dan 88,10% pada siklus III, persentase peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 16,67%, dan siklus II ke siklus III meningkat sebesar 23,81%. This study aims to: (1) improve the students’ learning activeness; and (2) increase the students’ learning outcomes of light vehicles electricity system of grade XI students of Light Vehicle Engineering. This study is a Classroom Action Research/Penelitian Tindakan Kelas consisting of 3 cycles in which each cycle comprises four stages: (1) Action planning; (2) Implementation of action; (3) Observation; and (4) Reflection. The subjects of the study were 42 students of grade XI of Light Vehicle Engineering (TKR) 1 class in Giripuro Sumpiuh Vocational High School. Meanwhile, the research object was the students’ activeness and learning outcomes of the light vehicles electrical system. Data analysis technique used was quantitative analysis. The result shows that the application of discovery learning model can improve the students’ activeness and learning outcomes of light vehicles electrical system of grade XI students of Light Vehicle Engineering (TKR) 1 class in Giripuro Sumpiuh Vocational High School. The improvement of the learning activeness can be seen from the average of the activeness of cycle I of 52.38%, cycle II of 64.29%, and cycle III of 74.79%, with the percentage of activeness in cycle I to cycle II increases by 11.19% and in cycle II to cycle III increases by 10.50%. The increase of learning outcomes is seen from the average score of cycle I of 47.62%, cycle II of 64.29%, and cycle III of 88.10%, with the percentage of the increase in students’ learning outcomes from cycle I to cycle II increases by 16.67%, and cycle II to cycle III increased by 23.81%. 

IMPREGNATION OF 2-MERCAPTOBENZOTHIAZOLE ON DIATOMACEOUS EARTH AND ITS APPLICATION AS MERCURY(II) ADSORBEN IN AQUEOUS MEDIUM

Indonesian Journal of Chemistry Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An adsorbent was prepared by impregnating 2-mercaptobenzo-thiazole onto polystirene treated diatomaceous earth support. This adsorbent was then applied to adsorb mercury(II) in aqueous medium. The mercury(II) adsorption characteristics of the adsorbent was studied by the use of the original diatomaceous earth as reference. Interaction of mercury(II) and both of diatomaceous earth as well as MBT-diatomaceous were performed in a aqueous batch system to include the following parameters: (a) medium acidity and (b) mercury(II) adsorption characteristic on MBT-diatomaceous with and without the present of other metal ions. In the present work quantification of mercury(II) adsorption was done by determining the mercury concentration left in the solution after adsorption. A cold vapour-generation atomic absorption spectroscopy technic was used in this determination.The experiment results show, that the adsorption affinity of MBT-diatomaceous is higher than the original diatomaceous earth. The total adsorption energy of mercury(II) for diatomaceous earth (24.702 kJ/mol) and MBT-diatomaceous (46.942 kJ/mol) suggest that the interaction is chemisorption. The mercury(II) maximum adsorption on diatomaceous earth is obtained at pH 6, while similar adsorption on MBT-diatomaceous practically was not influenced by pH changes. The present of other metals, i.e. Fe(III), Co(II), Ni(II), Cu(II), Cd(II) and Zn(II) in solution does not give any appreciable influence to the adsorption affinity of MBT-diatomaceous to mercury(II); the total sum of the mercury(II) adsorbed is constantly high, almost 100 %. Keyword: Impregnation, MBT-diatomaceous, adsorption, mercury(II)

Pengaruh Dimensi Kepercayaan Terhadap Adopsi Layanan E-Government

An International Journal on Information and Communication Technology Vol 3, No 1: January 2018
Publisher : An International Journal on Information and Communication Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi e-Government berkembang secara pesat, namun pada kenyataannya penggunaan e-Government masih rendah, salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya penggunaan e-Goverment adalah kurangnya kepercayaan, telah ditunjukkan bahwa kepercayaan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kesuksesan dari adopsi e-Government . Penelitian ini bertujuan mengetahui dimensi kepercayaan pada e-Goverment dan hubungannya dengan niat menggunakan e-Government, pada penelitian ini juga memvalidasi 8 dimensi kepercayaan pada e-Government berdasarkan data empiris dan menyajikan hubungan 8 dimensi kepercayaan pada e-Government itu dengan niat menggunakan e-Government. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi berupa model berdasarkan pada 8 dimensi trust in e-Goverment dan hubungannya dengan keinginan untuk menggunakan e-Goverment malalui mediasi trust in e-Goverment. Kata kunci— kepercayaan, dimensi kepercayaan, 8 dimensi kepercayan pada e-government, keinginan menggunaakan e-government.

ANALISIS PENERAPAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI PROGRAM SEKOLAH BERBASIS ALAM

Jurnal Sosial Humaniora Vol 9, No 2 (2018): OKTOBER
Publisher : Universitas Djuanda Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan karakter peduli lingkungan melalui program sekolah berbasis alam di internasional green school sumedang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini adalah hasil observasi dan wawancara. Hasil dan kesimpulan penelitian mengungkapkan bahwa: (1) strategi penerapan karakter nilai peduli lingkungan siswa diterapkan melalui program pengembangan diri, pengintegrasian dalam mata pelajran, program sekolah,dan pengembangan proses, (2) peran lembaga pemerintah dalam perencanaan dan pelaksanaan penerapan karakter peduli lingkungan yaitu dengan menjalin kerjasama, (3) faktor pendukung penerapan karakter nilai peduli lingkungan di Internasional Green School Sumedang yaitu sekolah dan guru sudah melakukan pembiasaan, sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya kerjasama orang tua dalam menerapkan karakter peduli lingkungan di rumah dan konentrasi siswa terganggu apabila situasi pembelajaran yang diakukan di luar kelas terlalu ramai.

PENGARUH PAKET PEMBELAJARAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Jakarta)

Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Vol 13 No 1 (2012): PLPB: Jurnal Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, Volume XIII N
Publisher : Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.551 KB)

Abstract

The objective of the research was aimed at finding out whether there is effect of the environmental education learning package and cognitive style on environmental problem solving skills. This research conducted was exsperiment methode. The target of population is the students at the Mathematics and Natural Sciences at the State University of Jakarta. Then accessible of population is Department of Chemistry and take it by randomly (n=40).The research came five conclusions are follow: the first, as a whole the ability of students problem-solving learning environment in an integrated package of environmental education is high than the monolithic environmental education learning package; the second, the ability of students problem-solving learning environment in field independent style cognitive is not high than the field dependent style cognitive; the third, interaction effect between learning and cognitive styles environmental education package; the fourth, the ability of students to solve environmental problems based on cognitive style of field dependent on an integrated learning package environmental education lower than on learning environmental education monolithic package, and the five, there is the ability of students to solve environmental problems based on field independent cognitive styles in an integrated learning package environmental education is high than on learning environmental education monolithic package.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN EKOLITERASI TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH LINGKUNGAN PESERTA DIDIK

Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Vol 19 No 02 (2018): PLPB: Jurnal Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, Volume XIX N
Publisher : Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.876 KB)

Abstract

The purpose of this study is to determine whether there is a model of learning and ekoliteration on the ability to solve environmental problems. This research used experimental method 2 X 2 factorial design. This study was conducted in February - March 2018. The population in this study were all students of class X SMA Negeri 13 Kabupaten Tangerang which amounted to 176 respondents. The sample in this research is 44 respondents randomly simpling. The conclusion showed that there was no significant interaction between learning model and ekoliteration on the ability of problem solving environment of learners; there is one significant problem between learners that is significant between learners whose learning processes use project-based learning and problem-based learning; no one is able to solve the non-significant environmental problems of learners between learners who have high and low ecoliteration; for groups of learners who have high ecoliteration, there are no factors capable of solving environmental problems that are carried out using learning based on project-based learning (A1B1) and problem-based learning (A2B1); for groups of learners who have low ecoliteration, there are no effective differences in environmental problems of learners whose learning process uses project-based learning (A1B2) and problem-based learning (A2B2)