Articles

Found 34 Documents
Search

KEBIJAKAN INTERNASIONALMENGENAI KESELAMATAN NELAYAN (International Safety Policy on Fishermen) Purwangka, Fis; Wisudo, Sugeng Hari; Iskandar, Budhi Hascaryo; Haluan, John
Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal ikan, alat tangkap ikan dan nelayan merupakan tiga faktor yang mendukung keberhasilan suatu operasi penangkapan ikan. Aktivitas menangkap ikan, terutama di laut merupakan kegiatan yang beresiko tinggi. Faktor keselamatan kapal maupun nelayan merupakan hal yang utama untuk menunjang kesuksesan suatu operasi penangkapan. Menurut IMO, 80% dari kecelakaan, disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) dan sebagian besar kesalahan ini dapat dihubungkan dengan kekurangan manajemen yang menciptakan pra-kondisi untuk terjadinya kecelakaan. Kebijakan internasional dibuat berdasarkan persetujuan dan kesepakatan bersama negara-negara anggota yang tergabung didalamnya, sehingga menjadi kewajiban untuk setiap negara anggota melaksanakannya. Telaah yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengidentifiksi kebijakan internasional yang berhubungan dengan keselamatan nelayan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Data tersebut diperoleh dengan cara studi pustaka, yaitu melakukan pengumpulan data pustaka atau telaah dokumen berupa aturan yang terkait dengan materi penelitian. Dokumen tersebut didapatkan dari lembaga internasional yang terkait, antara lain IMO, ILO dan FAO yang mempunyai kepentingan pada keselamatan nelayan, serta penelusuran melalui situs-situs internet yang terkait. Saat ini, pada tingkat internasional, telah ada lembaga atau organisasi internasional yang mengatur tentang keselamatan pelayaran. Keselamatan pelayaran yang dimaksud oleh lembaga tersebut mencakup keselamatan nelayan dan kapal ikan yang digunakan. Lembaga yang dimaksud adalah IMO, ILO dan FAO.  Setiap lembaga yang terlibat, mempunyai batasan-batasan sesuai dengan cakupan organisasi masing-masing. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, secara jelas telah mengatur tentang keselamatan nelayan dan kapal ikan, sedangkan implementasi yang dilakukan pada negara-negara anggotanya tersebut masih kurang. Kebijakan internasional yang ada belum dapat diimplementasikan sebelum dilakukan kesepakatan pada regional tersebut. Kata kunci: kebijakan keselamatan, keselamatan nelayan
Desain Perahu Fiberglass Bantuan LPPM IPB di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Sukabumi (Fiberglass Boat Design LPPM IPB Donation in Cikahuripan Village, CisolokDistrict, Sukabumi) Yulianto, Eko Sulkhani; Iskandar, Budhi Hascaryo; Purwangka, Fis; Mawardi, Wazir
Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Cikahuripan sebagian besar penduduknya, yaitu 1.425 dari total penduduk sebanyak 2.507 jiwa adalah sebagai nelayan. Sebagai nelayan, kapal/perahu merupakan kebutuhan vital yang digunakan untuk sarana unit penangkapan ikan, yaitu sebagai alat transportasi dari fishing base ke fishing ground dan media pengangkutan ikan. Keadaan dari perahu nelayan Cikahuripan sebagian besar sudah tua dan tidak layak laut, sehingga perlu peremajaan kapal. Namun kendala yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku berupa kayu yang berkualitas tinggi di daerah Cikahuripan sangat sulit dan ditambah lagi maraknya isu illegal logging yang semakin menambah susah dalam usaha mencari bahan baku. Sehingga dipilih bahan fiberglass sebagai alternatif pengganti kapal kayu. Permasalahan sakarang ini adalah belum adanya pengujian kelayakan dari perahu yang diproduksi sehingga peneliti merasa perlu meneliti lebih lanjut. Perahu fiberglass yang diproduksi diberi nama perahu “Kahuripan Nusantara“. Perahu ini mempunyai dimensi utama sebagai berikut; panjang total (LOA) sebesar 9,56 m; LPP sebesar 8,2 m; dalam (D) sebesar 73,5 cm dan lebar (B) sebesar 111,6 cm. Bahan baku utama pembuatan fiberglass yaitu resin, katalis, talk, erosil, met, roving dan kayu sebagai penguat rangka (gading-gading). Perahu yang diproduksi mengikuti desain perahu dari Cilacap. Proses pembuatan perahu fiberglass masih menggunakan metode sederhana yaitu hand lay up dengan urutan pengerjaan yaitu pelapisan gelcoat -> met -> roving -> met dan terakhir dilakukan pelapisan gelcoat kembali. Secara umum perahu fiberglass yang diproduksi sesuai dengan kapal-kapal yang beroperasi di Indonesia, mulai dari nilai rasio dimensi utama sampai nilai parameter hidrostatisnya. Selain itu, perahu Kahuripan Nusantara juga tergolong mempunyai kestabilan yang cukup baik. Kata kunci: desain perahu, fiberglass, general arrangement, lines plan, parameter hidrostatis
PEMETAAN DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN IKAN DI PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI AKUSTIK Purwandana, Adi; Purwangka, Fis; Fahmi, .
Buletin PSP Vol 21, No 2 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Kalimantan Selatan merupakan wilayah strategis yang berbatasan dengan perairan laut dalam, Selat Makassar dan laut Banda. Penelitian akustik perikanan dilakukan dengan menggunakan echosounder EK500 berfrekuensi 38 kHz pada bulan Nopember 2010. Hasil menunjukkan bahwa kelimpahan akustik perikanan yang direpresentasikan dengan nilai hambur rata-rata SA tertinggi berada di sebelah selatan Pulau Matasiri, dan menurun menuju perairan pesisir Kalimantan Selatan. Tingginya kelimpahan ikan di sebelah selatan Pulau Matasiri ini diduga berkaitan dengan lokasinya yang berbatasan dengan laut terbuka, dimana merupakan batas (front) pertemuan massa air Selat Makassar, Laut Jawa, serta Sungai Barito; dimana aliran massa air yang membawa nutrien tinggi di?segarkan dengan massa air laut dalam. Dugaan panjang ikan di perairan Kalimantan Selatan berada pada kisaran 3,9 hingga 18,6 cm atau berada dalam rentang kuat pantul (target strength) -60,0 hingga -46,5 dB. Presentase kehadiran ikan-ikan berukuran besar (>-57,0 dB) terpantau berada di selatan Pulau Matasiri dan dekat muara Barito, sedangkan ikan berukuran kecil (<-57,0 dB) berada di utara dan barat Pulau Matasiri. Diperoleh juga kesesuaian kelimpahan ikan dengan periodisasi pasang-surut.
MACHINERY INSTALLATION ON PSP 01 BOAT Wiyastra, Anjaya Purwa; Baskoro, Mulyono S; Purwangka, Fis
JURNAL TEKNOLOGI PERIKANAN DAN KELAUTAN Vol 2, No 2 (2012): Mei 2012
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PSP 01 boat is an accustomed boat and also fishing vessels that owned by the Department of Fisheries Resource Utilization (PSP), Faculty of Fisheries and Marine Sciences (FPIK), IPB. These ships use an inboard propulsion four stroke diesel engine from Mitsubishi Canter truck with type 4D30-C. This study aims to describe the modifications to the installation of ship machinery at the PSP 01 boat and describe the suitability of its machinery installation guidelines refer to the FAO in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing Boats. These study approach by using case study method in which observation and data collection that includes modifications to the installation of ship machinery PSP 01 and compliance with the FAO guidelines on Safety Guide for Small Fishing Boats. The results obtained that the PSP 01 engine already modified on the ignition system, fuel system, lubrication system, transmission system, and engine cooling system. Based on FAO guidelines in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing boats, installation of machinery on PSP 01 boat in bilge pump fullfilled 58.33%, fuel system fulfilled 52.63%, the combustion gas exhaust system met 33.33%, the engine room vents are met 0%, range 85.71% met the electrical installation, battery installation are met 100%, daily checks before turning on the engine are met 75%, daily checks after turning on the engine are met 100%, the examination of every fourteen days are met 20%, and the examination of every 100 -150 hours of engine operation are fulfilled 0%. Based on FAO guidelines in 2009 on the Safety Guide for Small Fishing Boats, installation of Machinery on PSP 01 Boat on a whole scale are fulfilled 47,65%.
JENIS MUATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP ROLLING PERIOD MODEL KAPAL Liliana, Nurtsani; Novita, Yopi; Purwangka, Fis
Buletin PSP Vol 20, No 3 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu jenis kapal perikanan adalah kapal pengangkut ikan hidup. Kapal pengangkut ikan hidup (KPIH) ini terdiri dari dua muatan yaitu padat dan cair. Perbedaan muatan tersebut akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pergerakan kapal. Perbedaan pergerakan ini dikarenakan muatan padat akan bersifat tetap sedangkan muatancair mudah berubah bentuk sesuai dengan tempatnya. Selain itu, apabila tangki yang bermuatan cair tidak terisi penuh maka akan terdapat  permukaan bebas yang dapat mengakibatkan terjadinya efek free surface yang dapat menurunkan kualitas stabilitas kapal. Pengaruh perbedaan muatan terhadap pergerakan kapal dapat diamati melalui pergerakan rolling yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan nilai rolling period kapal bermuatan padat pada ketinggian muatan yang berbeda, 2) mendapatkan nilai rolling period kapal bermuatan cair pada ketinggian muatan yang berbeda, dan 3) mendapatkan nilai perbedaan rolling period antara kapal bermuatan padat dengan kapal bermuatan cair. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengamati gerakan rolling model kapal sebagai efek dari keberadaan muatan padat dan pergerakan free surface muatan cair. Dari hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata rolling period kapal bermuatan padat pada ketinggian 2,2 cm adalah 0,28 detik; pada ketinggian 4,5 cm adalah 0,28 detik; dan pada ketinggian 6,7 adalah 0,33 detik. Sedangkan rata-rata rolling period kapal  bermuatan cair pada ketinggian 2,2 cm adalah 0,45 detik; pada ketinggian 4,5 cm adalah 0,37 detik; dan pada ketinggian 6,7 adalah 0,37 detik. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kapal dengan muatan cair memiliki rolling period lebih lama dibandingkan kapal dengan muatan padat. Kata Kunci: free surface, stabilitas, rolling period
Peralatan Keselamatan Kerja Pada Perahu Slerek di PPN Pengambengan, Kabupaten Jembrana, Bali Santara, Adi Guna; Purwangka, Fis; Iskandar, Budhi Hascaryo
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fishing is one of the most challenging activities in the world. It is about 80% of ship accidents due to human error. The availability and proper use of safety equipment can minimize the risk. This study aims to identify the suitability of safety equipment used on Slerek boat in PPN Pengambengan, Bali in accordance with international and national standards, and describes the role of relevant institutions to increase the fishermen safety. In this study, we used a survey method, in which focussed on three main aspects including  the types of safety equipment, numbers of safety equipment, and the suitability of equipment which must be taken. The lack of equipment and awareness about safety, and do not comply with the national standards for boat less than 24 meters length will directly affect the fishermen safety. The lack of regulations on the small boat safety showed that the fishermen safety in fishing activities in Indonesia have not been considered and there is no clear policy from local and central government.  
UJI COBA PEMANFAATAN ENERGI SURYA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF SISTEM KELISTRIKAN LAMPU NAVIGASI PADA KAPAL IKAN Syahbana, Reza Akhmad; Purwangka, Fis; Purwangka, Fis; Imron, Mohammad; Imron, Mohammad
Buletin PSP Vol 20, No 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi merupakan isu yang sangat krusial bagi masyarakat dunia. Apalagi semenjak terjadinya krisis minyak dunia pada awal dan akhir dekade 1970-an dan pada akhirnya ditutup dengan adanya krisis minyak yang terjadi baru-baru ini, dimana harga minyak mentah saat ini yaitu $110 /barel. Dengan kondisi tersebut, negara-negara di dunia berlomba untuk mencari dan memanfaatkan sumber energi alternatif untuk menjaga keamanan ketersediaan sumber energinya. Salah satu energi alternatif yang perlu dikembangkan di Indonesia adalah energi surya. Energi listrik yang dihasilkan oleh energi surya akan diuji coba pada beberapa LED yang dirangkai menjadi sebuah lampu navigasi. Penelitian bertujuan untuk menghitung besarnya daya yang dihasilkan oleh sel surya dan menghitung besar daya yang dibutuhkan dalam pemakaian lampu LED untuk navigasi. Panel sel surya yang digunakan mempunyai dayasebesar 30 Wp. Daya total yang dihasilkan sel surya pada saat proses pengisian adalah sebesar 420 Wh. Rangkaian lampu LED yang dibuat membutuhkan daya sebesar 0,14256 W untuk bisa berfungsi sebagai lampu navigasi.  Kata kunci: lampu navigasi, kapal ikan, lampu LED, sel surya, lampu navigasi
UJI COBA PEMANFAATAN ENERGI SURYA SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF SISTEM KELISTRIKAN LAMPU NAVIGASI PADA KAPAL IKAN Syahbana, Reza Akhmad; Purwangka, Fis; Purwangka, Fis; Imron, Mohammad; Imron, Mohammad
Buletin PSP Vol 20, No 4 (2012): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi merupakan isu yang sangat krusial bagi masyarakat dunia. Apalagi semenjak terjadinya krisis minyak dunia pada awal dan akhir dekade 1970-an dan pada akhirnya ditutup dengan adanya krisis minyak yang terjadi baru-baru ini, dimana harga minyak mentah saat ini yaitu $110 /barel. Dengan kondisi tersebut, negara-negara di dunia berlomba untuk mencari dan memanfaatkan sumber energi alternatif untuk menjaga keamanan ketersediaan sumber energinya. Salah satu energi alternatif yang perlu dikembangkan di Indonesia adalah energi surya. Energi listrik yang dihasilkan oleh energi surya akan diuji coba pada beberapa LED yang dirangkai menjadi sebuah lampu navigasi. Penelitian bertujuan untuk menghitung besarnya daya yang dihasilkan oleh sel surya dan menghitung besar daya yang dibutuhkan dalam pemakaian lampu LED untuk navigasi. Panel sel surya yang digunakan mempunyai dayasebesar 30 Wp. Daya total yang dihasilkan sel surya pada saat proses pengisian adalah sebesar 420 Wh. Rangkaian lampu LED yang dibuat membutuhkan daya sebesar 0,14256 W untuk bisa berfungsi sebagai lampu navigasi.  Kata kunci: lampu navigasi, kapal ikan, lampu LED, sel surya, lampu navigasi
Keselamatan Kerja Di Area Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat Asriani, Ayu; Purwangka, Fis; Imron, Mohammad
Jurnal Akuatika Indonesia Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dibagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah kerja dan wilayah pengoperasian.  Salah satu faktor yang menunjang keselamatan kerja adalah dengan adanya fasilitas di kedua wilayah tersebut.  Pihak pelabuhan sudah berupaya meningkatkan keselamatan masyarakat dan nelayan.  Tujuan penelitian ini mengidentifikasi area kerja beserta fasilitas pelabuhan yang menunjang keselamatan kerja dan mengidentifikasi pengelolaan keselamatan kerja di area PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat.  Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder.  Data primer ini diperoleh dengan cara wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran dokumen (peraturan) mengenai keselamatan kerja di laut pada instansi terkait.  Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling terhadap beberapa pihak yang berkepentingan dengan keselamatan kerja nelayan seputar keselamatan kerja.  Fasilitas yang ada di pelabuhan untuk menunjang keselamatan kerja sudah memenuhi sebesar 69% standar yang berlaku sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor KEP.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, peraturan yang sudah ada untuk menyesuaikan SOP yang berlaku mengenai keselamatan kerja di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.  Pihak pengelola PPN Palabuhanratu telah mengacu Peraturan Pemerintah nomor 20/PERMEN-KP/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan.  Struktur organisasi PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat memiliki nilai persentase sebesar 70,1% dengan kategori sedang dalam upaya peningkatan fasilitas pelabuhan.Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dibagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah kerja dan wilayah pengoperasian.  Salah satu faktor yang menunjang keselamatan kerja adalah dengan adanya fasilitas di kedua wilayah tersebut.  Pihak pelabuhan sudah berupaya meningkatkan keselamatan masyarakat dan nelayan.  Tujuan penelitian ini mengidentifikasi area kerja beserta fasilitas pelabuhan yang menunjang keselamatan kerja dan mengidentifikasi pengelolaan keselamatan kerja di area PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat.  Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder.  Data primer ini diperoleh dengan cara wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran dokumen (peraturan) mengenai keselamatan kerja di laut pada instansi terkait.  Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling terhadap beberapa pihak yang berkepentingan dengan keselamatan kerja nelayan seputar keselamatan kerja.  Fasilitas yang ada di pelabuhan untuk menunjang keselamatan kerja sudah memenuhi sebesar 69% standar yang berlaku sesuai dengan peraturan Peraturan pemerintah Pemerintah nomor KEP.16/MEN/2006 tentang pelabuhan Pelabuhan perikananPerikanan, peraturan yang sudah ada untuk menyesuaikan SOP yang berlaku mengenai keselamatan kerja di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat.  Pihak pengelola PPN Palabuhanratu telah mengacu peraturan Peraturan pemerintah Pemerintah nomor 20/PERMEN-KP/2009 tentang organisasi Organisasi dan tata Tata kerja Kerja unit pelaksana Pelaksana teknis Teknis pelabuhan Pelabuhan perikananPerikanan.  Struktur organisasi PPN Palabuhanratu Sukabumi Jawa Barat memiliki nilai presentasipersentase sebesar 70.,1% dengan kategori sedang dalam upaya peningkatan fasilitas pelabuhan.
Desain Perahu Fiberglass Bantuan LPPM IPB di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Sukabumi Yulianto, Eko Sulkhani; Iskandar, Budhi Hascaryo; Purwangka, Fis; Mawardi, Wazir
Buletin PSP Vol 21, No 1 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Cikahuripan sebagian besar penduduknya, yaitu 1.425 dari total penduduk sebanyak 2.507 jiwa adalah sebagai nelayan. Sebagai nelayan, kapal/perahu merupakan kebutuhan vital yang digunakan untuk sarana unit penangkapan ikan, yaitu sebagai alat transportasi dari fishing base ke fishing ground dan media pengangkutan ikan. Keadaan dari perahu nelayan Cikahuripan sebagian besar sudah tua dan tidak layak laut, sehingga perlu peremajaan kapal. Namun kendala yang dihadapi adalah pengadaan bahan baku berupa kayu yang berkualitas tinggi di daerah Cikahuripan sangat sulit dan ditambah lagi maraknya isu illegal logging yang semakin menambah susah dalam usaha mencari bahan baku. Sehingga dipilih bahan fiberglass sebagai alternatif pengganti kapal kayu. Permasalahan sakarang ini adalah belum adanya pengujian kelayakan dari perahu yang diproduksi sehingga peneliti merasa perlu meneliti lebih lanjut. Perahu fiberglass yang diproduksi diberi nama perahu ?Kahuripan Nusantara?. Perahu ini mempunyai dimensi utama sebagai berikut; panjang total (LOA) sebesar 9,56 m; LPP sebesar 8,2 m; dalam (D) sebesar 73,5 cm dan lebar (B) sebesar 111,6 cm. Bahan baku utama pembuatan fiberglass yaitu resin, katalis, talk, erosil, met, roving dan kayu sebagai penguat rangka (gading-gading). Perahu yang diproduksi mengikuti desain perahu dari Cilacap. Proses pembuatan perahu fiberglass masih menggunakan metode sederhana yaitu hand lay up dengan urutan pengerjaan yaitu pelapisan gelcoat -> met -> roving -> met dan terakhir dilakukan pelapisan gelcoat kembali. Secara umum perahu fiberglass yang diproduksi sesuai dengan kapal-kapal yang beroperasi di Indonesia, mulai dari nilai rasio dimensi utama sampai nilai parameter hidrostatisnya. Selain itu, perahu Kahuripan Nusantara juga tergolong mempunyai kestabilan yang cukup baik.Kata kunci: desain perahu, fiberglass, general arrangement, lines plan, parameter hidrostatis