Adi Purwandana
Center for Research and Development of Oceanology, Indonesian Institute of Science (P2O-LIPI), Jakarta, Indonesia

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

ESTIMASI MEDAN KRITIS-ATAS SUPERKONDUKTIVITAS DARI KRISTAL TUNGGAL Bi2Sr2CaCu2O8+δ DENGAN KADAR OKSIGEN BERBEDA Purwandana, Adi; Darminto, Darminto
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.601 KB)

Abstract

ESTIMASI MEDAN KRITIS-ATAS SUPERKONDUKTIVITAS DARI KRISTAL TUNGGAL Bi2Sr2CaCu2O8+δ DENGAN KADAR OKSIGEN BERBEDA. Dilaporkan dalam makalah kajian batas medan kritis-atas superkonduktivitas Bc2 pada sampel kristal tunggal Bi2Sr2CaCu2O8+δ yang dipersiapkan dengan metoda travelling solvent floating zone. Penentuan nilai medan kritis dilakukan berdasarkan data magneto-resistivitas pada bidang-ab kristal, ρab(T,H), dari kristal-kristal dengan kadar oksigen rendah, optimal dan tinggi dengan suhu kritis berurutan Tc = 80,6 K, 93 K dan 76 K. Hasilnya menunjukkan bahwa sampel-sampel yang berturutan memiliki medan kritis-atas pada suhu mutlak 0 K : Bc2(0) = 4,01 T, 49,52 T dan 55,10 T. Hasil ini menyiratkan bahwa bertambahnya kadar oksigen dalam kristal menimbulkan peningkatan kekuatan pinning dan penurunan derajat anisotropi, yang berdampak lebih jauh pada peningkatan nilai medan kritis-atas tersebut.
Profil Densitas Akustik Perikanan di Perairan Lamalera, Nusa Tenggara Timur (Fisheries Acoustics Density Profiles in Lamalera Waters, East Nusa Tenggara) Purwandana, Adi; Purwongko, Fis
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 18, No 2 (2013): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sound Scattering Layer merupakan lapisan sejumlah organisme yang memantulkan sinyal hidroakustik. Pengetahun mengenai hal ini penting untuk memahami fungsi ekosistem epipelagis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kuantitas akustik guna memperoleh karakteristik kawasan perairan kepulauan Lamalera. Pengukuran hidroakustik dilakukan pada bulan Juli 2011, yang bertepatan dengan musim timur. Penelitian dilakukan menggunakan peralatan split beam echosounder EK500 dioperasikan pada frekuensi 38 kHz dan 120 kHz. yang terdapat pada kapal Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Data parameter fisik lingkungan diperoleh dengan CTD Seabird Electronics (SBE) 911 Plus. Sedangkan kelimpahan klorofil-a diukur dengan Fluorometer Mk III Aquatracka. Verifikasi data kelimpahan akustik dengan data kelimpahan klorofil-a dari CTD menujukkan adanya korelasi positif antara profil klorofil-a dengan densitas akustik. Identifikasi lapisan krill pada perairan selatan kepulauan Lamalera memiliki rentang nilai kuat pantul individu antara -70 hingga -58 dB pada frekuensi 120 kHz. Hasil ini menunjukkan bahwa kelimpahan akustik pada perairan selatan lebih tinggi dibandingkan pada perairan utara kepulauan Lamalera. Kata kunci: akustik perikanan, perairan lamalera, musim timur. Sound Scattering Layer is a layer of a number of organisms that reflects hidroacustic signals. Knowledge on this subject is important to understand the functioning of epipelagic ecosystems. The aim of the study is to determine abundance of biologically active layers within the waters. Hydroacoustics measurement with 38 and 120 kHz, splitbeam EK500 echosounder vessel operated at a frequency of 38 kHz and 120 kHz mounted at Baruna Jaya VIII research vessel were made in July, 2011 at Lamalera Islands waters. Data environmental physical parameters were obtained with CTD Seabird Electronics (SBE) 911 Plus. While the abundance of chlorophyll-a were measured with a Mk III Fluorometer Aquatracka. Verification of acoustics abundance with chlorophll-a derived from fluorometer (CTD) shows positive signal of correlation. Identification of presummed krill layer within southern Lamalera waters shows range of target strength -70 to -58 dB at 120 kHz. It suggests that sound scattering layer which is represents biologically acoustics abundance was found to be higher in the southern waters than in the northern part of Lamalera. Keywords: fisheries acoustics, lamalera waters, southeast monsoon
Distribusi Percampuran Turbulen di Perairan Selat Alor (Distribution of Turbulence Mixing in Alor Strait) Purwandana, Adi; Purba, Mulia; Atmadipoera, Agus S
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.139 KB)

Abstract

Selat Alor merupakan kanal terdalam setelah Selat Ombai di kepulauan Alor. Kontribusinya sebagai salah satu celah keluar Arus Lintas Indonesia (Arlindo) belum banyak dikaji hingga saat ini. Selat Alor memisahkan Laut Flores dan Laut Sawu, dan memiliki sill yang tinggi di dalamnya, diduga turbulensi akibat interaksi antara aliran selat dengan topografi dasar dapat memicu percampuran dan memodifikasi properti massa air yang melaluinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi transformasi massa air yang melalui Selat Alor dan mengkaji kemungkinan percampuran di dalam selat berdasarkan estimasi sesaat properti percampuran, yakni percampuran turbulen menggunakan metode skala Thorpe. Penurunan CTD dilakukan di 15 stasiun di perairan Selat Alor. Diperoleh hasil bahwa kontur kedalaman yang menghubungkan Laut Flores dengan Laut Sawu adalah ~300 m pada kanal utama. Salinitas maksimum massa air Subtropis Pasifik Utara (NPSW) dar i Laut Flores di Selat Alor banyak mengalami reduksi akibat intensifnya percampuran yang diduga dipicu oleh topografi dasar dan aliran selat yang menghasilkan turbulensi. Lapisan salinitas maksimum Massa Air Subtropis Samudera Hindia Utara (NISW) pada σθ = 23,5-24,5 terdeteksi di bagian selatan selat (Laut sawu). Jejak massa air NISW menurun dan banyak tereduksi mendekati pintu selatan selat. Intrusi Massa Air Lapisan Menengah Samudera Hindia Utara (NIIW) juga dijumpai di lapisan bawah Laut Sawu, konsisten dengan profil arus pada lapisan bawah. Rata-rata nilai difusivitas vertikal eddy (Kρ)  di Selat Alor bagian utara memiliki orde of 10-3 m2 s-1, dan di bagian selatan memiliki orde bervariasi, 10-6-10-4 m2 s-1. Penyempitan celah Selat Alor diduga merupakan pemicu turbulensi tinggi aliran yang berkontribusi pada tingginya nilai difusivitas vertikal. Kata kunci: Arlindo, percampuran turbulen, difusivitas vertikal, Selat Alor Alor Strait is the deepest channel in Alor islands after Ombai Strait. Contribution of the strait as one of the secondary exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) has not been studied yet. The strait separates Flores Sea and Sawu Sea, and is featured by the existence of high sill within the strait, suggested that turbulence due to interaction between strait flow and bottom topography could drive mixing and then modify the water mass properties. The purpose of this study is to investigate transformation of ITF water mass and turbulent mixing process with Thorpe scale method. A hydrographic survey has been carried out in July 2011, in which 15 CTD casts were lowered in the strait. The results show that Alor sill depth is about 300 ms in the main gate. Maximum salinity of NPSW from Flores Sea within Alor Strait is significantly reduced due to strong mixing, perhaps driven by bottom topography and strait flow which creates turbulence. NISW (Northern Indian Subtropical Water) with maximum salinity layer at σθ = 23,5-24,5 is dominant in the southern part of Alor Strait (i.e. Sawu Sea). The existence of NIIW (North Indian Intermediate Water) is also found in the deeper layer of Sawu Sea. The average value of vertical eddy diffussivity (Kρ) estimate in the thermocline layer and deep layer in northern part and central part of strait channel is within the order of 10-3 m2 s-1. Lower order of Kρ in the thermocline layer and deep layer were found in southern part of the Strait (Sawu Sea), ranging from 10-6 to 10-4 m2 s-1. These indicate that the existence of sills in the northern part and central part of Alor Strait could drive mixing significantly. Narrowing passage of Alor Strait probably contribute to the high value of vertical eddy diffusivity due to highly turbulence flow. Keywords: Indonesian Throughflow (ITF), turbulent mixing, vertical diffussivity, Alor Strait
OBSERVATION OF COASTAL FRONT AND CIRCULATION IN THE NORTHEASTERN JAVA SEA, INDONESIA Atmadipoera, Agus S.; Kusmanto, Edi; Purwandana, Adi; Nurjaya, I Wayan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2139.873 KB)

Abstract

The structure and spatial extent of a coastal front and circulation in the shallow (<55 m depth) northeastern Java Sea in Indonesia was investigated with a new dataset of high-resolution conductivity-temperature-depth (CTD) and along-track shipboard acoustic Doppler current profiler (SADCP) during a DIKTI-LIPI 2010 joint research cruise on R.V. Baruna Jaya 8.  The coastal front separates fresh warm coastal water derived mainly from Barito River discharge and the saline, cool Java Sea water.  The surface fresh water plume extends approximately 760 km from the Barito River estuary to the south, and its thickness varies from the surface to 10 m and 20 m depth, depending on its proximity to the fresh water source.  The front is aligned a northeast and east direction, probably related to a meandering of strong northeastward monsoon current in the eastern part of the Java Sea during the observation time. Keywords: hydrographic measurement, coastal front, Matasiri Islands, Barito River, the northwest monsoon current
Current Structure and Spatial Variation of Indonesian Throughflow in Makassar Strait Under Ewin 2013 (Struktur Arus dan Variasi Spasial Arlindo di Selat Makassar dari Ewin 2013) Horhoruw, Selfrida Missmar; Atmadipoera, Agus Saleh; Purba, Mulia; Purwandana, Adi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.092 KB)

Abstract

Selat Makassar (SM) merupakan pintu masuk utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) membawa transport Arlindo sekitar 75% dari total 15 Sv.  Pengukuran mooring arus di Kanal Labani telah dilakukan sejak tahun 1996, namun pengukuran hidrografi yang mencakup seluruh kawasan SM jarang dilakukan. Kontur selat yang berupa kanal dengan keragaman batimetri sangat mempengaruhi karakteristik massa air yang bergerak di dalamnya sehingga diperlukan penelitian mencakup seluruh kawasan SM. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji variasi spasial dan struktur arus dan massa air Arlindo di kawasan SM dari hasil ekspedisi EWIN Juni 2013. Data hidrografi yang digunakan terdiri dari 29 casts CTD yang tersebar di kawasan SM dan data arus di kedalaman 0-125 m dari shipboard ADCP sepanjang lintasan survei. Hasil penelitian menunjukkan Arlindo Makassar dicirikan arus jet kuat intensif di kedalaman termoklin (75-125 m), dimana pola alirannya mengarah ke selatan sampai barat daya di pintu masuk utara SM. Arus ini berlanjut sampai mendekati lintang 2°LS, yang selanjutnya arah alirannya berubah ke tenggara menyusuri lereng dangkalan Kalimantan yang mengarah ke Kanal Labani.  Arus jet berubah ke arah selatan sampai tenggara di kanal ini dan menjadi lebih kuat. Sirkulasi di sisi tepi barat laut SM terbentuk pusaran arus searah jarum jam. Stratifikasi massa air Arlindo Makassar didominasi massa air Pasifik Utara, yaitu North Pacific Subtropical Water (NPSW) di kedalaman termoklin dan North Pacific Intermediate Water (NPIW) di bawah termoklin. Terdapat variasi spasial massa air NPSW dan NPIW, dimana semakin kearah selatan nilai salinitas maksimum (minimum) NPSW (NPIW) semakin berkurang sekitar 0.03 psu. Ketebalan lapisan termoklin sisi timur selat lebih besar sehingga distribusi vertikal massa air Pasifik Utara tersebut cenderung lebih kuat di sisi timur sehingga ditemukan intensifikasi Arlindo ke arah barat Selat Makassar.
INVENTARISASI FAUNA IKAN MENGGUNAKAN BOTTOM TRAWL DI PERAIRAN KEPULAUAN MATASIRI, KALIMANTAN SELATAN Purwangka, Fis; Fahmi, Fahmi; Purwandana, Adi
Buletin PSP Vol 20, No 1 (2012): Buletin PSP (Edisi Khusus)
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.067 KB)

Abstract

Salah satu aspek yang diteliti dalam Ekspedisi Kelautan Kepulauan Matasiri–Kalimantan Selatan yang dilaksanakan pada minggu pertama sampai dengan minggu kedua bulan November 2010 adalah untuk menginventarisasi jenis ikan yang terdapat di Perairan Matasiri, Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode swept area dengan menggunakan pukat dasar (Bottom Trawl) dan berhasil mengumpulkan 4.073 ekor ikan.  Dari hasil identifikasi yang dilakukan di perairan Kepulauan Matasiri–Kalimantan Selatan menunjukkan ikan-ikan yang terkoleksi terdiri dari 108 spesies yang mewakili 46 famili (Tabel2). Berdasarkan perhitungan jumlah individu, spesies Scolopsis taeniopterus,Apogon ellioti, Sorsogona tuberculata, Grammoplites scaber, Upeneus assymetricus, Apistus carinatus, Cynoglossus borneensis, Paramonacanthus choirocephalus, Nemipterus thosaporni (sp.2),dan Priacanthus tayenus merupakan spesies yang dominan, yang menempati urutan sepuluh (10) besar.  Dalam tulisan ini juga dibahas mengenai komposisi hasil tangkapan bottom trawl berupa sebaran dan indeks kekayaan spesies.Kata kunci: indeks kekayaan spesies
PEMETAAN DISTRIBUSI DAN KELIMPAHAN IKAN DI PERAIRAN KALIMANTAN SELATAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI AKUSTIK Purwandana, Adi; Purwangka, Fis; Fahmi, .
Buletin PSP Vol 21, No 2 (2013): Buletin PSP
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.071 KB)

Abstract

Perairan Kalimantan Selatan merupakan wilayah strategis yang berbatasan dengan perairan laut dalam, Selat Makassar dan laut Banda. Penelitian akustik perikanan dilakukan dengan menggunakan echosounder EK500 berfrekuensi 38 kHz pada bulan Nopember 2010. Hasil menunjukkan bahwa kelimpahan akustik perikanan yang direpresentasikan dengan nilai hambur rata-rata SA tertinggi berada di sebelah selatan Pulau Matasiri, dan menurun menuju perairan pesisir Kalimantan Selatan. Tingginya kelimpahan ikan di sebelah selatan Pulau Matasiri ini diduga berkaitan dengan lokasinya yang berbatasan dengan laut terbuka, dimana merupakan batas (front) pertemuan massa air Selat Makassar, Laut Jawa, serta Sungai Barito; dimana aliran massa air yang membawa nutrien tinggi di’segarkan dengan massa air laut dalam. Dugaan panjang ikan di perairan Kalimantan Selatan berada pada kisaran 3,9 hingga 18,6 cm atau berada dalam rentang kuat pantul (target strength) -60,0 hingga -46,5 dB. Presentase kehadiran ikan-ikan berukuran besar (>-57,0 dB) terpantau berada di selatan Pulau Matasiri dan dekat muara Barito, sedangkan ikan berukuran kecil (<-57,0 dB) berada di utara dan barat Pulau Matasiri. Diperoleh juga kesesuaian kelimpahan ikan dengan periodisasi pasang-surut.