Articles

Found 26 Documents
Search

KUALITAS BIOLOGI PERAIRAN SITU CILEUNCA KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT BERDASARKAN BIOINDIKATOR PLANKTON Rahman, Arip; Purnamaningtyas, Sri Endah
Jurnal Akuatika Vol 2, No 2 (2011): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini telah dilaksanakan di perairan Situ Cileunca Kabupaten Bandung Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali yaitu pada bulan Juni 2010, Agustus 2010 dan Oktober 2010 dengan menetapkan tiga stasiun pengambilan sampel, yaitu: Stasiun 1 Cileunca, Stasiun 2 Cipanunjang dan Stasiun 3 Cipanyisikan. Data yang diperoleh dihitung dengan menggunakan rumus kelimpahan plankton, indeks Dominansi Simpson, indeks Keanekaragaman Simpson dan Koefisien Saprobik. Hasil identifikasi ditemukan 5 kelas fitoplankton yang terdiri dari 51 genus dan 5 kelas zooplankton yang terdiri dari 18 genus. Kelimpahan fitoplankton terbanyak adalah dari kelas Dinophyceae 329521 sel/L dengan genus yang paling banyak ditemukan adalah Peridinium sp., sedangkan kelimpahan terbanyak zooplankton adalah kelas Copepoda 10172 ind/L dengan genus yang paling banyak ditemukan Cyclops sp. Di perairan Situ Cileunca tidak terjadi dominansi baik fitoplankton maupun zooplankton. Indeks dominansi fitoplankton dan zooplankton berturut-turut 0,14-0,37 (<0,5), 0,23-0,40 (<0,5) menandakan tidak terjadi dominansi sehingga keanekaragaman fitoplankton dan zooplanktonnya tinggi. Indeks keanekaragaman fitoplankton dan zooplankton berturut-turut 0,63-0,86 (>0,5), 0,60-0,77 (>0,5). Dilihat dari indeks keanekaragaman fitoplankton dan zooplankton, kondisi ekosistem perairan Situ Cileunca menunjukan kondisi perairan yang masih stabil dan dilihat dari nilai koefisien saprobik (X) (0,6), tingkat pencemaran perairan Situ Cileunca termasuk perairan yang tercemar ringan (β-mesosaprobik).
RELATIONS OF SEVERAL PHYSICOCHEMICAL PARAMETERS AND PHYTOPLANKTON IN COASTAL KUBU RAYA DISTRICT, WEST KALIMANTAN Purnamaningtyas, Sri Endah; Hedianto, Dimas Angga; Riswanto, .
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19305

Abstract

This research was conducted in April, July and October 2013 at 8 (eight) stations: 1. Tj. Intan, 2. Tj. Tempurung, 3. Tj. Bunga Dalam, 4. Tj. Bunga dalam, 5. Tj. Burung, 6. P. Dabung, 7. Tasik Malaya, and 8. Tj. Harapan. This study aims to determine the relationship between several physic-chemical parameters and phytoplankton abundance. The results show the growth of phytoplankton biomass (chlorophyll a) was determined by high concentration of NH4 and NO3, while its growth is limited by turbidity (turbidity). Station that has high fertility in the Coastal District of Kubu Raya is Dabung Island. Keyword: water quality, chlorophyll a, coastal Kubu Raya district
Distribution and Habitat Karakteristics of Shrimp Juvenile in Segara Anakan Lagoon Purnamaningtyas, Sri Endah; Tjahjo, Didik Wahju Hendro
Journal Omni-Akuatika Vol 14, No 1 (2018): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.141 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2018.14.1.383

Abstract

Shrimp is a wealth of fishery resources are abundant and has a high economic value in Laguna Segara lagoon. So the existence and habitat of life from larvae to adult need attention to maintain the survival of shrimp. Therefore, the purpose of this research is to know the distribution of abundance and characteristics of shrimp juvenile habitat in Segara Anakan lagoon. Sampling is done 3 times (June, August and October 2013), with 9 stations Observation station. The results showed that the abundance of shrimp based on the amount in Segara Anakan lagoon was dominated by Metapenaeus elegans (205-8723 ind./1000 m2), whereas the abundance of  M. ensis, F merguensis, P. semisulcatus and P. monodon relatively low had the same habitat , ie waters with high fertility and relatively low salinity, relatively high pH. Found in Motean observation station, Muara Dua, Kleces and Majingklak. Harpiosquilla annandalei (0-330 ind/1000 m2), P. monodon (0-238 ind/1000 m2), and Acetes sp (0.1-5.196 ind/1000 m2) sounded a lot of water habitat that contain BOT and high zooplankton abundance. Thus the shrimp Harpiosquilla annandalei, P. monodon, and Acetes sp are found in Tritih observation stations, and are quite commonly found in Kleces observation stations. Keywords: abundance, habitat preferences, juvenile shrimp, Segara Anakan Lagoon
Kebiasaan Makan Beberapa Spiny Lobster di Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang, Nusa Tenggara Barat Purnamaningtyas, Sri Endah; Nurfiani, Amula
Jurnal Akuatika Indonesia Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumberdaya lobster merupakan komoditas ekspor dari sektor perikanan dan merupakan sasaran dari penangkapan (target spesies) yang cukup penting bagi usaha penangkapan di Nusa Tenggara Barat. Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan makan beberapa spiny lobster di Teluk Gerupuk dan Bumbang, Nusa Tenggara Barat.  Pengambilan sampel dilakukan pada bulan April dan September 2015 serta Mei 2016, sampel diperoleh dari pengumpul lobster yang diambil pada malam hari, kemudian pagi hari diambil isi makanannya dan diukur panjang berat. Isi saluran pencernaan diawetkan dengan menggunakan formalin 4%.  Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan merupakan kombinasi antara analisis kualitatif dan kuantitatif  dengan menggunakan indeks bagian terbesar (Index of Preponderance). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan lobster terdiri dari dua kelompok, yaitu: 1. omnivora dan 2. Carnivora. Kelompok omnivore terdiri dari: Panullirus longipes, Panullirus versicolor, Panullirus ornatus dan Panullirus penicialliatus femotrigista yang banyak memanfaatkan detritus, makrofita dan moluska sebagai makanan utama. Kelompok carnivore terdiri dari: Panullirus penicialliatus dan Panullirus homarus dengan memangsa krustasea dan moluska sebagai makanan utamanya.
BEBERAPAASPEK BIOLOGI IKAN OSKAR (Amphilophus citrinellus) DI WADUK IR. H. DJUANDA, JATILUHUR, JAWA BARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Tjahjo, Didik WahjuHendro
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.725 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.9-16

Abstract

Ikan oskar (Amphilophus citrinellus) telah berkembang pesat di Waduk Ir. H. Djuanda, di mana keberadaannya dianggap meresahkan pada kebanyakan nelayan setempat. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis yang rendah dan bersifat omnivora-karnivora, diduga perkembangan ikan ini mampu mendesak perkembangan jenis ikan lainnya di perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek biologi ikan oskar, meliputi pola kebiasaan pakan ikan, tingkatkematangan gonad, dan fekunditas yang dilakukan di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret, Juni, Agustus, Oktober, dan Desember 2006. Pengambilan contoh ikan menggunakan gillnet percobaan dengan ukuran mata jaring 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5; dan 4 inci. Ikan oskardi waduk Ir. H. Djuanda merupakan ikan omnivora-karnivora yang memanfaatkan tumbuhan dan ikan sebagai pakan utamanya, larva serangga, dan fitoplankton sebagai pakan tambahan dan serangga, detritus dan zooplankton sebagai pakan pelengkap. Dari hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa ikan oskar dapat berkembang dan bertelur sepanjang waktu dan fekunditasnya berkisar antara 1.595-3.567 butir. Oskar (Amphilophus citrinellus) has rapidly expanded in Ir. H. Djuanda Reservoir, where existence of the fish is assumed fretting by local fishermen. This fish has low economic value and the character is omnivore-carnivore, development anticipation of this fish can depress growth of other fish species in the territorial water. This research aims to know some biology aspects of Oskar in Ir. H. Djuanda Reservoir, such as food habit, level of gonad maturity, and fecundity. This study is conducted in March, June, August, October, and December 2006. Gillnet with mesh size of 1; 1.5; 2; 2.5; 3; 3.5; and 4 inch were used for fish sampling. This species is categorised in omnovora-carnivora fish feed mainly on plant and small fish, while insect larvae and phytoplankton as additional food and insect, detritus andzooplankton as complement food. From this study resulted thet oskar could develop and spawn in a long season with fecundity range from 1,595-3,567 grains.
KEANEKARAGAMANPLANKTONDANLINGKUNGANPERAIRANMANGROVE DI DAERAHMAYANGAN, SUBANG, JAWABARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Syam, Amran Ronny; Tjahjo, Didik WahjuHendro
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 5 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2578.915 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.5.2011.299-310

Abstract

Eksploitasi sumber daya di daerah mangrove kawasan pantai utara Jawa telah mengalami degradasi lingkungan. Untuk melakukan perbaikan, diperlukan data dan informasi keanekaragaman plankton dalam rantai makanan disuatu perairan. Perairan Mayangan merupakan perairan estuari yang mempunyai potensi perikanan yang cukup besar karena daerah ini merupakan daerah penjebak zat hara sehingga mempunyai produktivitas yang tinggi dari perairan lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui keragaman plankton dan lingkungan perairan di sekitar perairan mangrove Desa Mayangan, Subang, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Pebruari, Mei, dan Desember 2007. Pengambilan contoh plankton menggunakan kemmerer bottle sampler secara vertikal dengan plankton net nomor 25 pada kedalaman antara 0,5-2,0 m. Parameter lingkungan yang diamati meliputikecerahan 17-62 cm, oksigen terlarut 1,9-3,7 mg/l, nitrit 0,007-0,187 mg/l, nitrat 2,483-3,986mg/l, amonium1,589-2,648mg/l, orthofosfat 0,026-0,334mg/l, dan salinitas 19,27-33,08‰. Hasil penelitian ini menunjukkan komposisiplankton di perairan tersebut terdiri atas lima kelas fitoplankton dan empat kelas zooplankton serta satu kelompok larva naupli. Kelimpahan fitoplankton didominansi oleh kelas Bacillariophyceae (26 spesies), sedangkan zooplanktondidominansi oleh kelas Crustacea (tiga spesies), dan Ciliata (tiga spesies). Perairan mangrove Desa Mayangan termasuk perairan dengan kesuburan sedang, dengan kelimpahan fitoplankton berkisar antara 4.024-99.594 sel/l (35.210±19.313) dan kelimpahan zooplankton berkisar antara 1.006-23.138 ind./l (8.249±5.132). Indeks keragaman fitoplankton dan zooplankton menunjukan kondisi kestabilan komunitas dalam kategori sedang. Selama tiga periode pengamatan komunitas plankton tersusun dari 35 komponen (spesies fitoplankton) dan sembilan komponen (spesies zooplankton). Exploitation of resources in the area of mangroves in coastal areas north of Java has suffered environmental degradation. To make improvements, necessary data and information on the diversity of plankton in the food chain in the waters.Mayangan estuarine waters are waters that have potential for significant fisheries for this area is an area of trap nutrients that have a higher productivity than other waters. The purpose of this study is to investigate the diversity of plankton and marine environment in waters around mangrove Mayangan Village, Subang, West Java. Research done in February, May, and December 2007. Plankton sampling using kemmerer bottle sampler plankton net vertically with nomor 25 at depths between 0.5-2 m. Environmental parameters observed included brightness, tranparancy 17-62 cm, dissolved oxygen 1.9-3.7 mg/l, nitrite 0.007-0.187 mg/l, nitrate 2.483-3.986 mg/l, ammonium 1.589-2.648 mg/l, orthophosphate 0.026-0.334 mg/l, and salinity 19.27-33.08‰. The results showed the composition of plankton in these waters consist of five classes of phytoplankton and three classes and one group of zooplankton, larval naupli. Phytoplankton abundance class was dominated by Bacillariophyceae (26 species), while the zooplankton was dominated by the Crustacea (3 species) and Ciliate (3 species).Mangrove waters Village Mayangan including waters with medium fertility, with phytoplankton abundance ranged from 4,024-99,594 cells/l (35,210±19,313) and the abundance of zooplankton ranged between 1,006-23,138 ind./l (8,249±5,132). Diversity index of phytoplankton and zooplankton communities show stable condition in the medium category. During the three observation periods of plankton community composed of 35 components (phytoplankton species) and 9 components (species of zooplankton).
KEBIASAAN MAKAN DAN LUAS RELUNG BEBERAPA JENIS UDANG DAN IKAN DI PESISIR MUARA KAKAP, KALIMANTAN BARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Hedianto, Dimas Angga
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.334 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.2.2015.95-102

Abstract

Sumberdaya udang dan ikan merupakan komoditas ekspor dari sektor perikanan dan merupakan sasaran utama bagi usaha penangkapan di Kalimantan Barat. Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebiasaan makan dan luas relung beberapa jenis udang dan ikan di perairan pesisirMuara Kakap, Kalimantan Barat. Pengambilan sampel udang dan ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Tempat Pelelangan Ikan sebanyak 4 kali ulangan (Maret, Juni, September dan November 2012). Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan ikan adalah kombinasi antara analisis kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan indeks bagian terbesar (Indeks of Preponderance) dan estimasi tingkat tropik jens ikan menggunakan analisis pengelompokkan (dendogram) berdasarkan pada jarak euklidean pautan lengkap (complete linkange). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok udang di perairan ini umumnya pemakan bangkai (scavenger) berupa sisa-sisa organisme hewanimaupun nabati yang berada di dasar perairan. Ikan di perairan banyakmemanfaatkan krustasea, tumbuhan dan cacing sebagai sumber makanannya, sehingga peluang terjadinya kompetisi sangatrendah, baikmakanan maupun ruang.Shrimp and fish resources are export commodities of the fisheries sector and are a main target for fishing effort inWest Kalimantan. Food is an important key to the growth and survival of fish. The purpose of this study was to evaluate eating habits and extensive niche some kind of shrimp and fish in the coastal waters of Muara Snapper,West Kalimantan. Samples were obtained from shrimp and fish catches of fishermen landed at the fish auction place as much as 4 replications (March, June, September and November 2012). The analytical method used to determine the feeding habits of fish is a combination of qualitative and quantitative analysis using the lion’s share index (index of preponderance) and estimated trophic level of fish jens using clustering analysis (dendogram) based on the Euclidean distance of the complete linkage (complete linkange). The results showed that the group of shrimp in these waters are generally scavengers (scavenger) in the form of remnants of animal and vegetable organisms that are in the bottom waters. The fish in the waters of many utilizing crustaceans, plants and worms as a source of food, so the chances are very low competition, good food and space.
EVALUASIKEBERHASILANPENEBARANIKANBANDENG(Chanos chanos) DIWADUK IR. H. DJUANDA Tjahjo, Didik Wahju Hendro; Purnamaningtyas, Sri Endah; Kartamihardja, Endi Setiadi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.111 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.231-237

Abstract

Waduk Ir. H. Djuanda mempunyai potensi pengembangan budi daya ikan yang tinggi, dan pertumbuhan budi daya tersebut berkembang sangat pesat. Perkembangan yang pesat tersebut sangat berdampak pada penurunan kualitas air dan mendorong peningkatan kelimpahan plankton yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pemerintah melakukan penebaran ikan bandeng (Chanos chanos) pada bulan Juli sampai Agustus 2008 sebanyak 2.116.000 ekor benih dalam upaya menanggulangi kelimpahan plankton yang tinggi dan sekaligus meningkatkan produksi ikannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keberhasilan penebaran ikan bandeng di Waduk Ir. H. Djuanda, Purwakarta, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan setiap bulan pada periode bulan Juli 2008 sampai Januari2009. Pengamatan dilakukan denganmetode teratifikasi dengan enamtitik stasiun pengamatan. Evaluasi keberhasilan penebaran ikan bandeng dievaluasi kemampuan memanfaatkan kelimpahan plankton, pertumbuhannya, dan dapat tertangkap kembali.Hasil analisis kebiasaanmakan, ikan bandeng mempunyai kemampuan yang tinggimemanfaatkan kelimpahan plankton di perairan tersebut, dan ikan ini mempunyai laju pertumbuhan yang sangat cepat (K=3.381 dengan L”=45 cm). Ikan bandeng ini dapat tertangkap kembali oleh nelayan setempat pada bulan September 2008 sampai Pebuari 2009 dan juga secara tidak langsung mampu memperbaiki kualitas perairanWaduk Ir. H. Djuanda. Oleh karena itu, dalam upaya peningkatan dampak penebaran ikan bandeng untuk memperbaiki kualitas perairan dan peningkatan kesejahteraan nelayan, maka perlu dilanjutkan penelitian strategi penebaran ikan bandeng dan penguatan kelembagaan nelayan yang ada. Ir. H. Djuanda Reservoir has high potency in developing of fish culture, that the growth has developed very fast. The fast growth of fish culture affected the degradation of water quality and push increasing of plankton abundance. Therefore, government conduct stocking of bandeng on July until August 2008 as much 2,116,000 individual as on effort of overcoming of plankton bloom and increasing of fish production. The aim of this study is to evaluate the successfulness of fish stocking of bandeng (Chanos chanos) in Ir. H. Djuanda Reservoir, Purwakarta, and West Java. The research was conducted every month at period of July 2008 until January 2009. Observation was done by sampling stratification method at 6 point of observation station. Evaluation of successfulness fish stocking base on the ability using of plankton, the growth and percentage of recaptured. The result should that bandeng have high ability inusing of plankton in waters as a feed (97.8%), and this fish had high growth rate (K=3.381 and L”=45 cm). This fish could be recaptured by local fisherman in September 2008 until February 2009. Beside, this bandeng stocking indirectly have been able to improve waters quality of Ir. H. Djuanda Reservoir. Therefore, the effort of increasing impact of bandeng stocking improved waters quality and improvement of fisherman prosperity, thus require to be continued of bandeng stocking and reinforcement institute of local fisherman.
KAJIANBIOLIMNOLOGI PERAIRANDI SITUCILEUNCA, BANDUNGJAWABARAT Tjahjo, Didik Wahju Hendro; Purnamaningtyas, Sri Endah
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 6 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.526 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.6.2011.405-413

Abstract

Perairan Situ Cileunca terletak di Kabupaten Bandung Selatan, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan peternakkan sapi perah yang berkembang sangat pesat diKecamatan Pengalengan sehingga menghasilkan limbah organik yang dibuang ke sungai dan akhirnya masuk ke Situ Cileunca. Hal tersebut mendorong terjadinya kerusakan habitat dan mempengaruhi keanekaragaman hayati perairan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui aspek biolimnologi dan beberapa aspek biologi beberapa jenis ikan dominan di Situ Cileunca. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli, Agustus, dan Oktober 2009. Hasil pengamatan menunjukkan kecerahan perairan Situ Cileunca bekisar antara 0,5- 0,8 m, oksigen terlarut sangat rendah (0,78-5,98 mg/l), ortofosfat relatif tinggi (0,028-0,469mg/l), dan kelimpahan fitoplankton tinggi (279.668-2.169.938 sel/l). Perairan ini dapat digolongkan mempunyai kesuburan eutrofikhipertrofik. Berdasarkan atas biomasa fitoplankton, Situ Cileunca mempunyai potensi sumber daya ikan berkisarantara 714-1.000 kg/ha. Jenis ikan yang ditemukan selama penelitian 11 jenis. Berdasarkan atas kebiasaanmakannyaikan betutu (Oxyeleotris marmorata), golsom (Aequidens golsom), dan lele (Clarias batrachus) termasuk golonganikan karnivora, dan ikan mas (Cyprinus carpio) dan beunteur (Puntius binotatus) yang termasuk ikan herbivora. Di Situ Cileunca, kelimpahan pakan yang tersedia sangat tinggi tetapi jumlah ikan yangmemanfaatkan rendah, sehingga sumber daya pakan yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, Situ Cileunca perlu mengembangan culture based fisheries dengan penebaran jenis ikan pemakan plankton. Situ Cileunca waters located in South Bandung Regency, West Java Province. Activities of the dairy farm that growing very rapidly in the District of Pengalengan resulting organic wastes discharged into rivers and into Situ Cileunca. It encourages the occurrence of damage or degradation of habitat and affecting aquatic biodiversity. This study aims to determine the aspects of biolimnologies and some aspects of the biology of some fish species predominant in Situ Cileunca. The study was conducted in July, August, and October 2009. The observations showed that waters at Situ Cileunca transparancy range between 0.5-0.8m, dissolved oxygen is very low (0.78-5.98mg/l), orthophosphate relatively high (0.028-0.469 mg/l) and high phytoplankton abundance (279,668-2,169,938 cells/l). These waters can be classified into eutrophic-hypertrophic waters. Based on phytoplankton biomass, Situ Cileunca fish resources have the potential ranges between 714-1,000 kg/ha. Species of fish found during the study as many as 11 species. Based on the food habits of marbled gudgeon (Oxyeleotrismarmorata), red devil (Aequidens golsom), and walking catfish (Clarias batrachus) grouped as carnivorous fish. On the otherhand common carp (Cyprinus carpio), and spotted barb (Puntius binotatus) classified as herbivorous fish. In Situ Cileunca, abundance of food available is very high but the amount of fish that use is still low, so the available feed resource has not been used optimally.Therefore, to develop culture based fisheries Situ Cileunca need to be stocked with plankton feeder species.
KEBIASAAN MAKAN DAN LUAS RELUNG BEBERAPA JENIS IKAN DI WADUK DJUANDA, JAWA BARAT Purnamaningtyas, Sri Endah; Hendro Tjahjo, Didik Wahju
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.905 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.3.2013.151-157

Abstract

Ikan seperti hewan lainnya membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Makanan merupakan kunci pokok bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kebiasaan makan, dan luas relung beberapa jenis ikan di perairan Waduk Djuanda. Penelitian ini dilakukan selama Januari hingga Desember 2010, dengan menggunakan alat tangkap gill-net percobaan yang dipasang di 6 (enam) stasiun. Analisis kebiasaan makan menggunakan  Indeks of Preponderance. Tingkat trofik dan luas relung jenis ikan dievaluasi berdasarkan makanan atau ruang yang dimanfaatkan oleh ikan. Berdasarkan kebiasaan makannya, ikan di Waduk Djuanda dibagi dalam 4 kelompok yaitu: (1) Ikan herbivora terdiri dari ikan kepiet (Thynnichtys thynnoides) dengan tingkat tropik 2,34 dan luas relung 4,04, nila (Oreochromis niloticus) dengan tingkat tropik 2,12 dan luas relung 2,82, patin (Pangasiondon hypopthalmus) dengan tingkat tropik 2,26 dengan luas relung 2,06, beunteur (Puntius binotatus) dengan tingkat tropik 2,05 dan luas relung 2,54; (2) Ikan omnivora terdiri dari: bandeng Channos channos) dengan tingkat tropik 2,49 dan luas relung 2,89, lalawak (Barbonymus ballaroides) dengan tingkat tropik 2,32 dengan luas relung 3,17 (3) ikan karnivora terdiri dari: oskar (Amphilophus citrinellus) dengan tingkat tropik 3,05 dan luas relung 2,59, kebogerang (Mystus nigriceps) dengan tingkat tropik 3,01 dan luas relung 2,57 (4) ikan predator terdiri dari: golsom  (Amphilophus alfari) dengan tingkat tropik 3,69 dan luas relung 1,47, betutu (Oxyeleotris marmorata) dengan tingkat tropik  3,92 dan luas relung 3,08, hampal (Hampala macralepidota) dengan tingkat tropik 4 dan luas relung 1.Fish is similar with other animals, it is need a feeding for their of life and growth. The purpose of this study was to assess feeding habits and broad niches several species of fish in the waters Juanda Reservoir. This study was conducted during January to December 2010, using the trial as a gill-net fishing gear mounted on the 6 (six) stations.  Feeding habits analysis used of the index of preponderance. Trophic levels and broad niches are evaluated based on the type of fish meal or space utilized by fish. Based on fish eating habits, Juanda Reservoir fish were divided into 4 groups: (1). Herbivorous fish, which consists of  kepiet (Thynnichtys thynnoides) with trophic level 2,34 and niche breadth 4,04, nila (Oreochromis niloticus) with trophic level of 2,12 and niche breadth of 2,82, patin (Pangasiondon hypopthalmus) with trophic level 2,26 and niche breadth 2,06, beunteur (Puntius binotatus) with trophic level 2,05 and niche breadth 2,54 group (2). Omnivorous fish consisting  of bandeng Channos channos) with trophic level 2,49 and niche breadth 2,89, lalawak (Barbonymus ballaroides) with trophic level 2,32 and niche breadth 3,17 group (3). Carnivorous fish consisting oskar (Amphilophus citrinellus) with trophic level 3,05 and niche breadth 2,59, kebogerang (Mystus nigriceps) with trophic level 3,01 and niche breadth 2,57  and group (4). Predatory fish consists of golsom  (Amphilophus alfari) with trophic level 3,69 dan luas relung 1,47, betutu (Oxyeleotris marmorata) with trophic level  3,92 dan luas relung 3,08, hampal (Hampala macralepidota) with trophic level 4 and niche breadth 1.