Cahyono Purbomartono
Faculty of Fisheries and Marine Science, Muhammadiyah University of Purwokerto

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA LELE DUMBO YANG TERSERANG PENYAKIT DI KABUPATEN BANYUMAS

SAINTEKS Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to isolate, characterize, and identify bacteria on infected African catfish in Banyumas Regency. The researcher used survey method and purposive random sampling technique. Samples were infected African catfish. They were taken from three areas that had potential cultivation for African catfish in Banyumas, namely Rempoah, Kebanggan, and Singosari. In each area, the researcher chose two African catfish cultivating ponds randomly and each pond was taken randomly 3 fishes. Symptoms of the disease in African catfish sample were carefully observed, both externally and internally with surgically. External observation covered wounds and bleeding in some parts of the body, sores or ulcers on the body, protruding eyes, while the internal observation included kidney. Isolation of bacteria carried from the skin (scales), body sores, fin, and kidney. Characterization was done by observing the structure of macroscopic, microscopic, and biochemical tests. The results indicated that 130 isolates of bacteria, and identified to be genus Alcaligenes, Bacillus, Arachnia, Acidomonas, Aeromonas, Amphibacillus, Salmonella, Neisseria, Pseudomonas, Micrococcus, and Clostridium. Keywords: isolation, characterize, identify, bacterium, African catfish, Banyumas regency

AN INVESTIGATION ON THE NON SPESIFIC IMMUNE SYSTEM (MUCOSAL) OF TILAPIA (Oreochromis mosambicus) BASED ON HISTOCHEMICAL ANALYZES

JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 6, No 3 (2003): Volume 6, Number 3, Year 2003
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.409 KB)

Abstract

Mucus is one of a non-specific defense mechanism, since this is the first element of aquatic organisms, which contact physically, chemically, or biologically with the environment.  The mucus self defense mechanism investigation was carried out on fresh  water fish tilapia (Oreochromis mosambicus).  Eight (8) types of lectine were used to examine residual carbohydrate-based protein from mucous component based on histological and histochemical observation method.  The review was directed as basic information for detail review about physiology adaptation aspects. The results showed that mucous in goblet cells from palatal, gills primary lamella, ecophagus and skin reacted with WGA (Wheat Germ Aglutinin) lectine.  In another part, mucous from the goblet cells in palatal and esophagus cells reacted with PNA (Peanut Aglutinin).  Based on these results, therefore, it can be concluded that mucous from goblet cells in esophagus contains residual of N-asetil glucosamine and/or similar acid β-galactose and α-N-acetyl galactomine.  Mucous from goblet cell in palatal contains residual of X-acetyl glucosamine and/or sialat acid and galactose.  While mucous in the gills lamella contains carbohydrate residual, namely N-acetyl glucosamine and/or sialat acid

Pengembangan Produksi Krupuk Ikan Berbahan Dasar Ikan Rucah dan Limbah Tahu

Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Nasional LPPM 2014, 20 Desember 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nelayan tradisional di Cilacap menggunakan peralatan tangkap cukup sederhana, sehingga wilayah jangkauan penangkapan terbatas hanya sekitar 5 mil dari garis pantai dan lama melaut antara jam 05.00 pagi sampai jam 13.00. Hal ini mengakibatkan hasil tangkapan berukuran kecil dan bernilai jual relatif rendah (sering disebut dengan ikan rucah). Untuk mengatasi merosotnya harga jual hasil perikanan dilakukan penanganan dan pengolahan menjadi produk-produk baru krupuk. Kerupuk ikan termasuk produk yang mempunyai potensi sebagai salah satu komoditas ekspor. Negara tujuan ekspor kerupuk ikan Indonesia meliputi Belanda, Perancis, Amerika Serikat, Arab Saudi, Malaysia, Korea Selatan, Inggris, Singapura, Jepang, Cina, Belgia, Canada, Taiwan, Selandia Baru, Srilangka dan Brunai Darus salam. Selain sebagai penghasil devisa, industri kerupuk ikan juga memiliki peranan yang cukup besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta peningkatan nilai tambah produk perikanan. Pengembangan produksi kerupuk berbahan dasar ikan rucah dan limbah tahu dilakukan dengan pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemberdayaan secara maksimal melalui kelompok wanita nelayan. Penetapan prioritas kegiatan IbM dilakukan melalui diskusi kelompok dengan berbagai pihak terkait. Metode yang digunakan adalah participatory learning and action (PLA) dan participatory technologi development (PTD). Metode PLA dan PTD diterapkan dalam kegiatan pemberdayaan yang mencakup: pendidikan, pembelajaran, pelatihan, pemberdayaan, pengorganisasian, pedampingan, dan pembinaan. Jenis luaran dari kegiatan tersebut meliputi: (a) pengetahuan dan keterampilan wanita nelayan dalam usaha produksi makanan olahan berbahan dasar ikan rucah dan limbah ampas tahu, (b) Kelengakpan sarana produksi kerupuk ikan yang sederhana dan bersih, (c) organisasi unit usaha dalam bentuk koperasi di masing-masing unit KWN, dan Klaster UKM KWN, dan (d) sistem manajeman kewirausahaan dan produksi yang baik, tertata dan berkelanjutan.Kata kunci: kerupuk, ikan rucah, limbah tahu (ampas tahu), bergizi tinggi, wanita nelayan

ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA LELE DUMBO YANG TERSERANG PENYAKIT DI KABUPATEN BANYUMAS

SAINTEKS Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Sainteks Volume VII No 1 Maret 2011
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to isolate, characterize, and identify bacteria on infected African catfish in Banyumas Regency. The researcher used survey method and purposive random sampling technique. Samples were infected African catfish. They were taken from three areas that had potential cultivation for African catfish in Banyumas, namely Rempoah, Kebanggan, and Singosari. In each area, the researcher chose two African catfish cultivating ponds randomly and each pond was taken randomly 3 fishes. Symptoms of the disease in African catfish sample were carefully observed, both externally and internally with surgically. External observation  covered wounds and bleeding in some parts of the body, sores or ulcers on the body, protruding eyes, while the internal observation included kidney. Isolation of bacteria carried from the skin (scales), body sores, fin, and kidney. Characterization was done by observing the structure of macroscopic, microscopic, and biochemical tests. The results indicated that 130 isolates of bacteria, and identified to be genus Alcaligenes, Bacillus, Arachnia, Acidomonas, Aeromonas, Amphibacillus, Salmonella, Neisseria, Pseudomonas, Micrococcus, and Clostridium. Keywords: isolation, characterize, identify, bacterium, African catfish, Banyumas regency              

PENINGKATAN KUALITAS AMPAS TAHU SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN DENGAN FERMENTASI Rhizopus oligosporus

SAINTEKS Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Sainteks Volume XII No 1 Maret 2015
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas ampas tahu sebagai bahan baku pakan ikan dengan fermentasi Rhizopus oligosporus. Penelitian  menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu P0 = ampas tahu non fermentasi, P1 = ampas tahu dengan 1,5 mL suspensi R. oligosporus, P2 = 2,5 mL dan P3 = 3,5 mL,  untuk masing-masing ampas tahu sebanyak 50 g. Parameter yang diamati adalah hasil uji proksimat, meliputi kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar air, kadar abu, dan kadar serat kasar serta uji organoleptik, meliputi warna, tekstur, dan bau. Data hasil uji proksimat dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) dan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) dengan taraf uji 5%, sedangkan data hasil uji organoleptik dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian maka fermentasi ampas tahu dengan R. oligosporus dapat meningkatkan kualitas ampas tahu sebagai bahan baku pakan ikan, dan perlakuan P2 adalah perlakuan yang paling baik karena menghasilkan kualitas protein dan kadar abu tinggi, dan menurunkan kadar lemak paling banyak.                          Kata Kunci : ampas tahu, fermentasi,  Rhizopus oligosporus, kualitas, pakan ikan

Fermentasi Ampas Tahu DenganAspergillus nigerUntuk Meningkatkan Kualitas Bahan BakuPakan Ikan

Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 2014: Proceeding Seminar Nasional LPPM 2014, 20 Desember 2014
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkajifermentasi ampas tahu dengan  Aspergillus niger untuk meningkatkan kualitas bahan baku pakan ikan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu P0 = non fermentasi; P1 = fermentasi dengan2,5 ml inokulum A. niger; P2 = fermentasi dengan3,0 ml inokulum A. niger; P3 = fermentasi dengan3,5 ml inokulum A. niger, masing-masing untuk ampas tahu sebanyak 50 g.Parameter yang diamati yaitu uji proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein kasar, kadar lemak kasar, kadar serat kasar) dan parameter pendukung, yaitu uji organoleptik (warna, tekstur dan bau). Data berupa hasil uji proksimat dianalisis menggunakan Analisis of Variance (ANAVA) pada taraf uji 5%, dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5%,  sedangkan untuk data hasil organoleptik dianalisis secara deskriptif kualitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi ampas tahu dengan A. niger dapat meningkatkan kualitas bahan baku pakan ikan. Pada uji proksimat, penurunan kadar air terendah ditunjukkan pada perlakuan P3, peningkatan kadar abu tertinggi ditunjukkan pada perlakuan P1, peningkatan kadar protein ditunjukkan pada perlakuan P1 dan P2, sedangkan penurunan serat kasar dan lemak kasar ditunjukkan pada perlakuan P3. Perlakuan P1 adalah perlakuan yang paling efektif karena menghasilkan protein yang tinggi dengan menggunakan inokulum yang paling rendah, dengan kadar protein 27, 00 % dibandingkan non fermentasi sebesar 14,93 %.Kata Kunci: ampas tahu, Aspergillus niger, fermentasi, ujiorganoleptik, uji proksimat

UJI LAPANG PAKAN BERVAKSIN Aeromonas hydrophila PADA LELE DUMBO DI DAERAH CILACAP

Techno Jurnal Ilmu Teknik Vol 16, No 2 (2015): Jurnal Techno Volume 16 No 2 Oktober 2015
Publisher : UMP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah utama dalam budidaya lele dumbo adalah penyakit, terutama yang disebabkan oleh bakteri  Aeromonas hydrophila. Penyakit tersebut dikenal dengan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Salah satu penanggulangan penyakit MAS adalah dengan vaksinasi. Masalah lain yang sering muncul adalah tingginya biaya pakan sedangkan harga jual ikan cenderung stabil, sehingga pembudidaya ikan cenderung merugi. Perlu strategi untuk membuat pakan sendiri dari bahan-bahan yang masih memiliki kualitas gizi yang baik tetapi harganya murah bahkan memanfaatkan limbah, bahan tersebut mudah diperoleh dan tersedia setiap saat.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara lapang penggunaan pakan bervaksin pada lele dumbo di daerah Cilacap. Uji lapang dilakukan di Desa Purwodadi, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)  dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 : pemberian pakan bervaksin selama 10 hari; P2 : pemberian pakan bervaksin selama 15 hari; dan P3 : kontrol (non vaksin).  Pakan diberikan sebanyak 5% /bb/ekor/hari. Penelitian menggunakan kolam terpal plastik dengan ukuran panjang x lebar x tinggi : 60 x 60 x 80 cm. Lele dumbo yang digunakan berumur 2 bulan, berukuran panjang 12-15 cm dengan berat 16-25 g. Ikan dipelihara selama 8 minggu. Parameter yang diamati adalah respons imun berupa titer antibodi, pertambahan berat dan panjang, serta sintasan ikan. Parameter pendukung yang diamati adalah parameter kualitas air meliputi suhu air, pH, dan oksigen terlarut. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (Anova) dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan bervaksin dapat meningkatkan produksi titer antibodi (P<0.05) dibandingkan kontrol. Perlakuan P1 (pemberian pakan bervaksin 10 hari) lebih efektif dan efisien dibandingkan P2 (pemberian pakan bervaksin 15 hari). Penggunaan pakan bervaksin dapat diaplikasikan secara lapang. Kata Kunci : Aeromonas hydrophila, Cilacap, lele dumbo, pakan bervaksin, uji lapang.

IMUNOGENISITAS ANTIGEN WHOLE CELL BAKTERI Aeromonas hydrophila

Sain Akuatik Vol 14, No 1 (2012): SAINS AKUATIK VOLUME 14 NO. 1 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui imunogenisitas antigen whole cell Aeromonas hydrophila dari beberapa strain bakteri A. hydrophila yang diberikan pada lele dumbo (C. gariepinus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan, yaitu A : strain GPW-02, B : strain KLK -11, C : strain GLR-08, D : strain KLK-14, E : strain KLK-05, F : kontrol (PBS pH 7,0) dengan 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan adalah lele dumbo berumur sekitar 2 bulan dengan ukuran panjang 10-13 cm dan berat antara 12,2-14,5 g. Parameter utama yang diamati adalah titer antibodi dan uji reaksi silang, sedangkan parameter pendukungnya adalah parameter kualitas air, meliputi suhu air, pH, dan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) yang diamati setiap minggu. Titer antibodi diamati 3 kali, yaitu sebelum divaksinasi, seminggu setelah vaksinasi booster dan dua minggu setelah vaksinasi booster. Kemudian dilakukan uji reaksi silang pada antigen dengan titer antibodi yang tinggi, yaitu ≥ 25. Data titer antibodi dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (Analysis of Variance/ANOVA), dan apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf uji 5% (Steel & Torrie, 1993), sedangkan data kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antigen whole cell A. hydrophila berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap imunogenisitas ikan lele dumbo. Strain yang memiliki imunogenisitas paling tinggi adalah strain A (antigen whole cell A. hydrophila strain GPW-02). Parameter kualitas air selama penelitian dijaga pada kisaran optimal, yaitu suhu air 25-28°C, pH air 7,1-7,9, dan DO 6,6-6,8 mg/L.

OPTIMASI DOSIS VAKSIN PROTEIN SITOPLASMA SEL Aeromonas hydrophila UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT MAS (Motile Aeromonas Septicemia) PADA GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

Sain Akuatik Vol 12, No 1 (2009): SAINS AKUATIK VOLUME 12 NO. 1 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dua masalah, yaitu (1) mengetahui efektivitas vaksin sitoplasma sel A. hydrophila untuk pengendalian penyakit MAS pada gurami, dan (2) mengetahui dosis optimal vaksin sitoplasma sel A. hydrophila untuk pengendalian penyakit MAS pada gurami. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tiga ulangan, yaitu : (1) K : kontrol yang divaksin dengan larutan PBS steril, (2) D1: vaksin protein sitoplasma sel  A. hydrophila dosis 2,5 µg/ekor, (3) D2 : vaksin protein sitoplasma sel  A. hydrophila dosis 5 µg/ekor, (4) D3 : vaksin protein sitoplasma sel  A. hydrophila dosis 7,5 µg/ekor, (5) D4 : vaksin protein sitoplasma sel  A. hydrophila dosis 10 µg/ekor  Gurami yang digunakan berukuran panjang 10-12 cm dengan berat 25,8-28,5 g. Vaksinasi dilakukan secara suntikan intramuskular. Satu minggu setelah vaksinasi dilakukan vaksinasi booster, dan uji tantang dilakukan dua minggu setelah vaksinasi booster. Parameter yang diamati meliputi titer antibodi, sintasan, tingkat perlindungan relatif (Relative Percent Survival/RPS), dan rerata waktu kematian (RWK). Data dianalisis dengan analisis varian dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksin protein sitoplasma sel  A. hydrophila efektif untuk pengendalian penyakit MAS pada gurami. Vaksin ini dapat meningkatkan produksi titer antibodi, sintasan, dan RPS (P<0,5) gurami. Dosis vaksin protein sitoplasma  sel  A. hydrophila optimum adalah 7,4 mg/ekor yang memberikan nilai RPS tertinggi sebesar 89,31 %. 

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI LEVAMOSIL DAN VAKSIN Aeromonas hydrophila TERHADAP PERTUMBUHAN, JUMLAH NEUTROFIL, DAN SINTASAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)

Sain Akuatik Vol 12, No 1 (2009): SAINS AKUATIK VOLUME 12 NO. 1 2009
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research conducted n gouramy fish with size among 12-15 cm in length and average of 30 g in wight. the treatment used levamisol and their combination with vaccine Aeromonas hydrophila which applied by immersion during 6 hours. Methods of research used experimentally laboratories using completely randomized design with 6 replication. The fishes placed in aquaria, each of its 12 fishes. The data’s observed consisted of growth both of length and weight, number of neutrophyl, survival rate, and water quality. The aim of the research was to know the effect of levamisol and its combination with vaccine on the respons against their growth, neutrophyl responses and survival rate of gouramy fishes. The results showed, treatment of levamisol and their combination with vaccine could increase on the growth and the best result revealed on P1, as 1.2 cm and 0.68 g for their length and weight respectively. Cellular response of neutrophyl showed better reached at P3 and P4 as number of 5.3 neutrophyl cell between on day H18 and H24. Higher survival rate reached on P2 and P3. During researched, water quality was on qualified standard requirements for larvae rearing.