Mulia Purba
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB, Bogor

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

The Relationship of Phytoplankton Abundance and Environment Parameters in Barru Regency Coastal Water, Macassart Strait Hatta, Muh.; Kaswadji, Richardus F; Purba, Mulia; Monintja, Daniel R.
Forum Pasca Sarjana Vol 33, No 1 (2010): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.729 KB)

Abstract

The researh for study relationship between phytoplankton abundance and environment parameters and determining contribuion each environment parameters on phytoplankton abundance discrimination had been conducted in 2005 in bagan rambo fishing ground at coastal water Barru Regency, Makassar Strait.  Environment parameters and phytoplankton abundance data collection were conducted on May (6 stations), June, July, September, October and November (9 stations).  Spatio-temporal distribution of environment parameters probably ralate to fresh water loading to stations inshore.  Phytoplankton abundance found in this research ranged from 431 to 5438 cels/liter.  Phytoplankton population dominated by diatom i.e: Bacteriatrum, Biddulphia, Chaetoceros, Coscinodiscus, Ditylum, Eucampia, Melosira, Navicula, Nitzschia, Rhizosolenia, Skeletonema, Thalassionema, Thalassiosira, dan Thalassiothrix.  Regression analysis result show significantly positive linear correlation between phytoplankton abundance with temperature and phosphate concentration, but low correlation coefficient R = 0,4366 (R2 = 0,1906).  Discriminant analysis result show that high average of phytoplankton abundance occured when high temperature and nitrat concentration, and moderate salinity, pH and phosphate concentration.  Phosphate concentration have higher contribution on discriminating phytoplankton abundance.  The contribution of nitrate and silicat concentration and pH are low.   Key words: phytoplankton, phytoplankton abundance, diatom, discriminant analysis, environment parameters
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN PENUTUPAN LAHAN ANTARA WAY PENET DAN WAY SEKAMPUNG, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Purba, Mulia; Jaya, Indra
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2136.693 KB)

Abstract

Analisis terhadap perubahan garis pantai dan penutupan lahan di pesisir Lampung Timur, antara Way Penet dan Way Sekampung dilakukan berdasarkan citra satelit LANDSAT-TM antara tahun 1991, 1999,2001 dan 2003. Observasi dan pengukuran kondisi pantai dan gelombang di lapangan dilakukan untuk mempelajari dinamika pantai. Dari rangkaian data citra satelit tersebut ditemukan bahwa garis pantai mengalami proses erosi dan sedimentasi yang cukup nyata pada bagian-bagian pantai tertentu. Erosi yang terjadi di bagian selatan di Desa Purworedjo, misalnya, bervariasi antara 90 - 600 m dalam kurun waktu 12 tahun (1991 - 2003). Sementara itu, ke arah utara dari desa ini proses sedimentasi bervariasi antara 90 - 550 m. Ke arah utaranya lagi, garis pantai mengalami erosi, kemudian sedimentasi. Bentuk morfologi garis pantai, variasi arah angin dan karakteristik gelombang ditelaah sebagai faktor yang berperan dalam perubahan garis pantai tersebut. Intensitas perubahan dan uraian dinamika pantai yang terjadi dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tindakan mitigasi ekologi yang efektif untuk melindungi daerah tersebut.Kata kunci: dinamika garis pantai, citra satelit, Lampung Timur
TEMPERATURE VARIABILITY AT SENUNU BAY, WEST SUMBAWA Hidayat, Syamsul; Purba, Mulia; Waworuntu, Jorina
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 5, No 2 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.451 KB)

Abstract

The purposes of this study were to determine the variability of temperature and its relation to regional processes in the Senunu Bay. The result showed clear vertical stratifications i.e., mixed layer thickness about 39-119 m with isotherm of 27°C, thermocline layer thickness about 83-204 m with isotherm of 14–26°C, and  the deeper layer from the thermocline lower limit to the sea bottom with isotherm <13°C. Temperature and the thickness of each layers varied with season in which during the Northwest Monsoon the temperature was warmer and the mixed layer was thicker than those during Southeast Monsoon. During Southeast Monsoon, the thermocline layer rose  about 24 m. The 2001, 2006, and 2009 (weak La Nina years),  the Indonesia Throughflow (ITF) carried warmer water, deepening thermocline depth and reducing upwelling strength.  In 2003 and 2008 thickening of mixed layer occurred in transition season  was believed  associated with the  arrival of Kelvin Wave from the west. In 2002 and 2004 (weak El Nino period,) ITF carries colder water shallowing thermocline depth and enhancing upwelling strength. In 2007 was believed to be related with positive IODM where the sea surface temperature were decreasing due to intensification of southeast wind which induced strong upwelling. The temperature spectral density of mixed layer and thermocline was influenced by annual, semi-annual, intra-annual and inter-annual period fluctuations. The cross-correlation between wind and temperature showed significant value in the annual period.  Keywords: temperature, thermocline, variability, ENSO, IODM.
STUDY OF SHORELINE CHANGES AT JENEBERANG RIVER DELTA, MAKASSAR Sakka, Sakka; Purba, Mulia; Nurjaya, I Wayan; Pawitan, Hidayat; Siregar, Vincentius P.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 3, No 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.813 KB)

Abstract

The study of shoreline changes during 1990 - 2008 in the delta of the River Jeneberang, Makassar was conducted by evaluating sediment transport into and out of a cell. Longshore sediment transport was computed by considering the influence of heights and angles of the breaking waves. Results of calculation of sediment transport showed that the dominant of sediment transport was to the north during the arrival of the southwest and west waves, and to the south when the wave coming from the northwest. Comparison between shore profiles resulting from model and coastline satellite imagery showed similarity. The difference between the two tend to be occurred at the head land part of the shoreline. This was due to complexity of coastal dynamic at the area. The results of the 19 years shoreline simulation showed that there was a tendency of abrasion at the upsteam head land part as the wave energy tend to converge and accretion at the bay part as the wave energy tend to diverge. Abrasion mainly occurred at Tanjung Bunga (head land) where the coast retreat 181.1 m. Accretion occur in the bay area (Tanjung Merdeka) where the coast advance to the sea for about 59.8 m. The shoreline tend to be stable when the profile was straight such as Barombong Coast.Keywords: abrasion, accretion, sediment transport, shoreline changes.
Distribusi Percampuran Turbulen di Perairan Selat Alor (Distribution of Turbulence Mixing in Alor Strait) Purwandana, Adi; Purba, Mulia; Atmadipoera, Agus S
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 1 (2014): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.139 KB)

Abstract

Selat Alor merupakan kanal terdalam setelah Selat Ombai di kepulauan Alor. Kontribusinya sebagai salah satu celah keluar Arus Lintas Indonesia (Arlindo) belum banyak dikaji hingga saat ini. Selat Alor memisahkan Laut Flores dan Laut Sawu, dan memiliki sill yang tinggi di dalamnya, diduga turbulensi akibat interaksi antara aliran selat dengan topografi dasar dapat memicu percampuran dan memodifikasi properti massa air yang melaluinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi transformasi massa air yang melalui Selat Alor dan mengkaji kemungkinan percampuran di dalam selat berdasarkan estimasi sesaat properti percampuran, yakni percampuran turbulen menggunakan metode skala Thorpe. Penurunan CTD dilakukan di 15 stasiun di perairan Selat Alor. Diperoleh hasil bahwa kontur kedalaman yang menghubungkan Laut Flores dengan Laut Sawu adalah ~300 m pada kanal utama. Salinitas maksimum massa air Subtropis Pasifik Utara (NPSW) dar i Laut Flores di Selat Alor banyak mengalami reduksi akibat intensifnya percampuran yang diduga dipicu oleh topografi dasar dan aliran selat yang menghasilkan turbulensi. Lapisan salinitas maksimum Massa Air Subtropis Samudera Hindia Utara (NISW) pada σθ = 23,5-24,5 terdeteksi di bagian selatan selat (Laut sawu). Jejak massa air NISW menurun dan banyak tereduksi mendekati pintu selatan selat. Intrusi Massa Air Lapisan Menengah Samudera Hindia Utara (NIIW) juga dijumpai di lapisan bawah Laut Sawu, konsisten dengan profil arus pada lapisan bawah. Rata-rata nilai difusivitas vertikal eddy (Kρ)  di Selat Alor bagian utara memiliki orde of 10-3 m2 s-1, dan di bagian selatan memiliki orde bervariasi, 10-6-10-4 m2 s-1. Penyempitan celah Selat Alor diduga merupakan pemicu turbulensi tinggi aliran yang berkontribusi pada tingginya nilai difusivitas vertikal. Kata kunci: Arlindo, percampuran turbulen, difusivitas vertikal, Selat Alor Alor Strait is the deepest channel in Alor islands after Ombai Strait. Contribution of the strait as one of the secondary exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) has not been studied yet. The strait separates Flores Sea and Sawu Sea, and is featured by the existence of high sill within the strait, suggested that turbulence due to interaction between strait flow and bottom topography could drive mixing and then modify the water mass properties. The purpose of this study is to investigate transformation of ITF water mass and turbulent mixing process with Thorpe scale method. A hydrographic survey has been carried out in July 2011, in which 15 CTD casts were lowered in the strait. The results show that Alor sill depth is about 300 ms in the main gate. Maximum salinity of NPSW from Flores Sea within Alor Strait is significantly reduced due to strong mixing, perhaps driven by bottom topography and strait flow which creates turbulence. NISW (Northern Indian Subtropical Water) with maximum salinity layer at σθ = 23,5-24,5 is dominant in the southern part of Alor Strait (i.e. Sawu Sea). The existence of NIIW (North Indian Intermediate Water) is also found in the deeper layer of Sawu Sea. The average value of vertical eddy diffussivity (Kρ) estimate in the thermocline layer and deep layer in northern part and central part of strait channel is within the order of 10-3 m2 s-1. Lower order of Kρ in the thermocline layer and deep layer were found in southern part of the Strait (Sawu Sea), ranging from 10-6 to 10-4 m2 s-1. These indicate that the existence of sills in the northern part and central part of Alor Strait could drive mixing significantly. Narrowing passage of Alor Strait probably contribute to the high value of vertical eddy diffusivity due to highly turbulence flow. Keywords: Indonesian Throughflow (ITF), turbulent mixing, vertical diffussivity, Alor Strait
TURBULENT MIXING IN OMBAI STRAIT Suteja, Yulianto; Purba, Mulia; Atmadipoera, Agus S.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.301 KB)

Abstract

Ombai Strait is one of the exit passages of Indonesian Throughflow (ITF) which conveys hotspot of strong internal tidal energy. Internal tide is the one of main energy which causes mixing processes in the oceans and could lead to changes in water mass characteristics. The purpose of this research was to estimate the turbulent mixing by using Thorpe analysis. Nine CTD cast were obtained for one tidal cycle (24 hours) in Ombai Strait. The results showed the average value of the turbulent mixing is 833.5 x 10-4 m2s-1, the highest found in deep homogeneous layer (2383.4x 10-4 m2s-1), followed by mixed surface layer (103.0 x 10-4 m2s-1) and thermocline (14.2 x 10-4 m2s-1). This Turbulent mixing value is much higher than the previous measurement in Indonesian Sea. This is presumably due to the strong internal tidal energy and its interaction with existing deep sill in Ombai Strait. Keywords: Indonesian throughflow (ITF), Ombai Strait, turbulent mixing
Current Structure and Spatial Variation of Indonesian Throughflow in Makassar Strait Under Ewin 2013 (Struktur Arus dan Variasi Spasial Arlindo di Selat Makassar dari Ewin 2013) Horhoruw, Selfrida Missmar; Atmadipoera, Agus Saleh; Purba, Mulia; Purwandana, Adi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 2 (2015): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.026 KB)

Abstract

Selat Makassar (SM) merupakan pintu masuk utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) membawa transport Arlindo sekitar 75% dari total 15 Sv.  Pengukuran mooring arus di Kanal Labani telah dilakukan sejak tahun 1996, namun pengukuran hidrografi yang mencakup seluruh kawasan SM jarang dilakukan. Kontur selat yang berupa kanal dengan keragaman batimetri sangat mempengaruhi karakteristik massa air yang bergerak di dalamnya sehingga diperlukan penelitian mencakup seluruh kawasan SM. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji variasi spasial dan struktur arus dan massa air Arlindo di kawasan SM dari hasil ekspedisi EWIN Juni 2013. Data hidrografi yang digunakan terdiri dari 29 casts CTD yang tersebar di kawasan SM dan data arus di kedalaman 0-125 m dari shipboard ADCP sepanjang lintasan survei. Hasil penelitian menunjukkan Arlindo Makassar dicirikan arus jet kuat intensif di kedalaman termoklin (75-125 m), dimana pola alirannya mengarah ke selatan sampai barat daya di pintu masuk utara SM. Arus ini berlanjut sampai mendekati lintang 2°LS, yang selanjutnya arah alirannya berubah ke tenggara menyusuri lereng dangkalan Kalimantan yang mengarah ke Kanal Labani.  Arus jet berubah ke arah selatan sampai tenggara di kanal ini dan menjadi lebih kuat. Sirkulasi di sisi tepi barat laut SM terbentuk pusaran arus searah jarum jam. Stratifikasi massa air Arlindo Makassar didominasi massa air Pasifik Utara, yaitu North Pacific Subtropical Water (NPSW) di kedalaman termoklin dan North Pacific Intermediate Water (NPIW) di bawah termoklin. Terdapat variasi spasial massa air NPSW dan NPIW, dimana semakin kearah selatan nilai salinitas maksimum (minimum) NPSW (NPIW) semakin berkurang sekitar 0.03 psu. Ketebalan lapisan termoklin sisi timur selat lebih besar sehingga distribusi vertikal massa air Pasifik Utara tersebut cenderung lebih kuat di sisi timur sehingga ditemukan intensifikasi Arlindo ke arah barat Selat Makassar.
VARIABILITAS ANOMALI TINGGI PARAS LAUT (TPL) DAN ARUS GEOSTROPIK PERMUKAAN ANTARA L. SULAWESI, S. MAKASSAR DAN S. LOMBOK DARI DATA ALTIMETER TOPEX/ERS Purba, Mulia; S . Atmadipoera, Agus
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2005): Desember 2005
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.22 KB)

Abstract

Fluktuasi anomali tinggi paras laut (TPL) dari data altimeter TOPEX/ERS2 selama 4 tahun (April1998 - Maret 2002) sepanjang lintasan barat aliran Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) antara L. Sulawesi, S. Makassar dan S. Lombok ditelaah dengan menggunakan analisis deret waktu. Fluktuasi anomali TPL dengan periode 2 - 6 bulanan terdapat di sepanjang lintasan Arlindo, sementara periode tahunan hanya terdapat di L.Flores dan kedua ujung S. Lombok. Spektral energi fluktuasi tertinggi terdapat di selatan S. Lombok, kemudian diikuti L. Flores dan L. Sulawesi serta yang terlemah di S. Makassar. Anomali TPL tahunan yang tinggi di selatan S. Lombok pada Desember Maret diperkirakan merupakan sinyal tibanya Arus Pantai Jawa (APJ).Anomali semi-tahunan yang tinggi di lokasi yang sama pada bulan Mei dan November diduga sinyal gelombang Kelvin. Anomali TPL tahunan yang rendah pada Juni - September di sisi selatan S. Lombok diperkirakan akibat menggesernya poros Arus Ekuator Selatan ke utara pada saat bertiupnya Angin Muson Tenggara. Kelihatannya pengaruh sistem Angin Muson lebih terasa di bagian selatan (kedua ujung S. Lombok) dari bagian utara (L. Sulawesi dan S. Makassar) dari lintasan barat aliran Arlindo. Perbedaan anomali TPL tegak lurus lintasan Arlindo dihitung pada posisi 4oS sejauh 166.1 km di S. Makassar untuk memperkirakan anomali arus geostropik permukaan dan apakah hasilnya dapat digunakan sebagai indikator proxy aliran Arlindo. Anomali arus geostropik permukan yang telah ditapis 30 hari bervariasi antara -9 cm/det (ke selatan) sampai +5.5 cm/det (ke utara) dengan periode fluktuasi antara 2 - 4bulanan. Aliran ke utara dan ke selatan hampir sebanding dengan aliran bersih selama 4 tahun ke selatan (-0.43 cm/det). Kelihatannya, anomali arus geostropik permukaan terlalu berfluktuasi dan tidak mengambarkan aliran Arlindo yang menurut pengamatan umumnya ke selatan dan terfokus di lapisan termoklin. Akan tetapi, seperti halnya karakter Arlindo, arus permukaan ini menguat ke selatan pada bulan Juni - Agustus dan aliran cenderung ke utara pada bulan Desember –Maret.Kata kunci: anomali Tinggi Permukaan Laut (TPL), Arus Lintas Indonesia (Arlindo), fluktuasi, anomali arusgeostropik permukaan.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN PENUTUPAN LAHAN ANTARA WAY PENET DAN WAY SEKAMPUNG, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Purba, Mulia; Jaya, Indra
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 11, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2136.693 KB)

Abstract

Analisis terhadap perubahan garis pantai dan penutupan lahan di pesisir Lampung Timur, antara Way Penet dan Way Sekampung dilakukan berdasarkan citra satelit LANDSAT-TM antara tahun 1991, 1999,2001 dan 2003. Observasi dan pengukuran kondisi pantai dan gelombang di lapangan dilakukan untuk mempelajari dinamika pantai. Dari rangkaian data citra satelit tersebut ditemukan bahwa garis pantai mengalami proses erosi dan sedimentasi yang cukup nyata pada bagian-bagian pantai tertentu. Erosi yang terjadi di bagian selatan di Desa Purworedjo, misalnya, bervariasi antara 90 - 600 m dalam kurun waktu 12 tahun (1991 - 2003). Sementara itu, ke arah utara dari desa ini proses sedimentasi bervariasi antara 90 - 550 m. Ke arah utaranya lagi, garis pantai mengalami erosi, kemudian sedimentasi. Bentuk morfologi garis pantai, variasi arah angin dan karakteristik gelombang ditelaah sebagai faktor yang berperan dalam perubahan garis pantai tersebut. Intensitas perubahan dan uraian dinamika pantai yang terjadi dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tindakan mitigasi ekologi yang efektif untuk melindungi daerah tersebut.Kata kunci: dinamika garis pantai, citra satelit, Lampung Timur
KARAKTER DAN PERGERAKAN MASSA AIR DI SELAT LOMBOK BULAN JANUARI 2004 DAN JUNI 2005 Purba, Mulia; N .Utami, Iriana
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.64 KB)

Abstract

Data CTD pada Januari 2004 dan Juni 2005 dan data ADCP pada Juni 2005 hasil ekspedisi oseanografi program INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di Selat Lombok dianalisis untuk mempelajari karakter dan pergerakan massa air. Karakter massa air pada lapisan permukaan dan massa air Northern Subtropical Lower Water (NSLW) pada lapisan termoklin memperlihatkan perbedaan yang jelas antara kedua pengukuran yang diperkirakan berkaitan dengan perubahan karakter dan pergerakan massa air di Laut Jawa dan Laut Flores. Akan tetapi karakter massa air North Pacific Intermediate Water (NPIW) dan massa air lapisan dalam tidak jauh berbeda. Arus geostropik yang ditentukan dari perbedaan kedalaman dinamik dari dua stasiun yang berdekatan menghasilkan variasi kecepatan yang terlalu besar dan kecepatan yang terlalu tinggi bila dibandingkan dengan kecepatan arus yang diukur secara langsung dengan ADCP. Kelihatannya jarak antar stasiun yang terlalu dekat (kurang dari 9 km) menyebabkan kecepatan arus yang tidak akurat.Kata kunci: karakter massa air, arus geostropik.