Jati Listiyanto Pujo
Staf Bagian Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

ANGKA KEMATIAN PASIEN KANKER DI ICU DAN HCU RSUP DR.KARIADI PERIODE FEBRUARI 2010 – FEBRUARI 2012 Grahakusuma, Gilang; Pujo, Jati Listiyanto
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang : Menurut WHO pada tahun 2008 diperkirakan ada 12 juta kasus baru kanker terdiagnosis, 7 juta orang meninggal akibat kanker dan 25 juta orang saat ini hidup dengan kanker. Kanker pada stadium lanjut dapatmenimbulkan berbagai komplikasi yang mengakibatkan diperlukannya perawatan yang intensif pada penderita tersebut. Namun, data jumlah penderita kanker yang masuk maupun yang meninggal di pelayanan Intensive Care Unit (ICU) masih belum jelas.Tujuan : Mengetahui jumlah penderita kanker yang meninggal di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi Semarang periode Februari 2010 sampai 2012Metode : Jenis penelitian ini adalah descriptive observasional. Sampel penelitian ini adalah pasien penderita kanker di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi Semarang periode Februari 2010 – Februari 2012. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari catatan medik di ICU RSUP dr. Kariadi Semarang.Hasil : Terdapat 20 pasien kanker yang dirawat di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi Semarang periode Februari 2010 sampai dengan Februari 2012. Pasien kanker yang hidup sebanyak 6 (30%) pasien dari 20 (100%) pasien dan yangmeninggal sebanyak 14 (70%) pasien.Kesimpulan : Jumlah pasien kanker yang dirawat di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi Semarang periode Februari 2010 – Februari 2012 berjumlah 20 pasien dan yang meninggal sebanyak 14 pasien.Kata Kunci : Kanker, kematian, ICU.
ANGKA KEMATIAN PASIEN END STAGE RENAL DISEASE DI ICU DAN HCU RSUP DR. KARIADI Wahyudi, Ignatius Erik Dwi; Pujo, Jati Listiyanto
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Angka kejadian ESRD terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini merupakan masalah medik, sosial dan ekonomi terutama di negara - negara berkembang termasuk Indonesia yang memiliki sumber terbatas untuk membiayai perawatan. Negara - negara ini jarang memiliki sistem pendataan nasional yang baik untuk kasus penyakit ginjal, sehingga menyebabkan insidensi dan prevalensi ESRD tidak diketahui secara pasti.Tujuan : Mengetahui dan mendapatkan data angka kematian pasien End Stage Renal Disease di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi periode Februari 2010 – Februari 2012.Metode penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel penelitian adalah pasien ESRD yang dirawat di ICU dan HCU RSUP dr. Kariadi dari Februari 2010 – Februari 2012. Data diperoleh dari catatan rekam medik di Instalasi Rekam Medik RSUP dr. Kariadi.Hasil : Didapatkan 43 pasien ESRD yang dirawat di ICU dan HCU. Dari jumlah tersebut terdapat 27 (62,8%) yang meninggal dunia dan 16 (37,2%) yang keluar hidup. Indikasi masuk pasien ESRD ke ICU dan HCU adalah karena gangguan pernafasan sebanyak 22 (51,2%), gangguan kesadaran sebanyak 13 (30,2%), 4 (9,3%) sepsis, 2 (4,7%) overhidrasi, dan masing – masing 1 (2,3%) karena post nefrostomi dan hipertensi. Penyebab kematian karena sepsis 44,4% dan CHF 14,8%. Untuk skor APACHE II, rentang skor 20 – 24 menjadi yang terbanyak dengan 13 (30,2%) pasien. Secara keseluruhan, jenis pembiayaan yang paling banyak adalah biaya pribadi sebanyak 17 (39,5%).Kesimpulan : Berdasarkan catatan rekam medik di RSUP dr. Kariadi dari Februari 2010 – Februari 2012 diperoleh 27 (62,8%) pasien meninggal dari 43 pasien ESRD yang dirawat di ICU dan HCU.Kata kunci : ESRD, kematian, skor APACHE II, ICU, HCU
ANGKA KEMATIAN IBU (AKI) KATEGORI PASIEN OBSTETRI DI ICU DAN HCU RUMAH SAKIT KARYADI SEMARANG PERIODE FEBRUARI 2010 – FEBRUARI 2012 sari, Vitricya purnama; pujo, Jati listiyanto
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

ABSTRACTResearch Background: The gavormnets’ expectation was the decrease of mother death it was to know Millenium Development Goals (MDGs) achievement in 2015.Aim: Knew or got the data concerning the mothers death rate (MDR) the category of the obstetrics patient who was treated in HCU/ICU RSUP Dr. Karyadi Semarang the period in February 2010 in February 2012 and described the distribution of matters that it was estimated were influential towards the mothers death rate (MDR)Method: This reserach was descriptive reserach used secondary data from medical recording after in HCU/ICU RSUP Dr. Karyadi Semarang February 2010 – February 2012 periode. It was Observasional researchResults: Patients who were obstetrics catagory after in HCU/ICU RSUP Dr. Karyadi Semarang February 2010 – February 2012 periode was about 126 patients. Death came out were 23 patients (18,25%). Matters that it was estimated were influential towards this death rate were the illness diagnosis, often happened to the hypertension diagnosis 60 people (47.63%). The indication entered, most with Post SCTP+hipertensi 56 people (44.44%) the person. The age, most to the age group 21-30 years, that is as many as 57 people (45.2%) and. The address, often came from outside Semarang, with the number of patients 74 people (58.7%) .The use of the ventilator, most patients went out died was the patient who used the ventilator, that is numbering 17 people from 29 users of the ventilator. For a long time the use of the ventilator, most the patient who went out died for a long time the use of the ventilator 2 days i,t means numbering 9 people. For a long time the day treated, the patient went out died most that is > 2 maintenance days, with the number 12 people. And his funding kind, often used personal funding, that is as many as 47 people (37,3%). And the score of Apache II, most revolving 10-14 totalling 45 people (35.71%).Conclussions : For 2 years laters in February 2010-2012 based on medical recording in RSUP Dr. Karyadi Semarang was gotten 126 obstetrics cases who cared in HCU/ICU. From that number gotten 23 patients who has been died. And hypertension was the most cause.keyword: the mothers Death Rate, the patient Obstetrics, HCU/ICU RSUP Dr.Karyadi.
Fisiologi dan Patofisiologi Aksis Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal Nugroho, Taufik Eko; Pujo, Jati Listiyanto; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The endocrine system consists of glands that secrete hormones that help maintain and regulate vital functions such as (1) in response to stress and injury, (2) the growth and development, (3) reproduction, (4) ion homeostasis, (5) energy metabolism, and (6) the immune response. Secretion of cortisol by the adrenal cortex is regulated by negative feedback system involving the arc length of the hypothalamus and anterior pituitary. In the system of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis, corticotropin releasing hormone (CRH) causes the release of pituitary ACTH. ACTH then stimulates the adrenal cortex to secrete cortisol. Cortisol returned to give further feedback on the hypothalamic-pituitary axis, and inhibits the production of CRH-ACTH. Fluctuating system, will vary according to the physiological needs of cortisol. If the system produces too much ACTH, so that too much cortisol, the cortisol affects the back and inhibit the production of CRH by the hypothalamus and decreased sensitivity of ACTH-producing cells to CRH by working directly on the anterior pituitary. Through this dual approach, cortisol negative feedback control to stabilize itself in the plasma concentration. When cortisol levels begin to drop, the inhibitory effects of cortisol on the hypothalamus and anterior pituitary is reduced so that the factors that stimulate increased secretion of cortisol (CRH-ACTH) will increase. The system is sensitive for the production of cortisol or cortisol administration or other synthetic glucocorticoid excess can rapidly inhibit the hypothalamic-pituitary and stop the production of ACTH.Keywords : -ABSTRAKSistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar yang mensekresi hormon yang membantu memelihara dan mengatur fungsi-fungsi vital seperti (1) respons terhadap stres dan cedera, (2) pertumbuhan dan perkembangan, (3) reproduksi, (4) homeostasis ion, (5) metabolisme energi, dan (6) respons kekebalan tubuh. Sekresi kortisol oleh korteks adrenal diatur oleh sistem umpan balik negatif lengkung panjang yang melibatkan hipotalamus dan hipofisis anterior. Pada sistem hipotalamus-hipofisis-adrenal, corticotropin releasing hormone (CRH) menyebabkan hipofisis melepaskan ACTH. Kemudian ACTH merangsang korteks adrenal untuk mensekresi kortisol. Selanjutnya kortisol kembali memberikan umpan balik terhadap aksis hipotalamus-hipofisis, dan menghambat produksi CRH-ACTH. Sistem mengalami fluktuasi, bervariasi menurut kebutuhan fisiologis akan kortisol. Jika sistem menghasilkan terlalu banyak ACTH, sehingga terlalu banyak kortisol, maka kortisol akan mempengaruhi kembali dan menghambat produksi CRH oleh hipotalamus serta menurunkan kepekaan sel-sel penghasil ACTH terhadap CRH dengan bekerja secara langsung pada hipofisis anterior. Melalui pendekatan ganda ini, kortisol melakukan kontrol umpan balik negatif untuk menstabilkan konsentrasinya sendiri dalam plasma. Apabila kadar kortisol mulai turun, efek inhibisi kortisol pada hipotalamus dan hipofisis anterior berkurang sehingga faktor-faktor yang merangsang peningkatan sekresi kortisol (CRH-ACTH) akan meningkat. Sistem ini peka karena produksi kortisol atau pemberian kortisol atau glukokortikoid sintetik lain secara berlebihan dapat dengan cepat menghambat aksis hipotalamus-hipofisis dan menghentikan produksi ACTH.
Perbedaan Efektifitas Oral Hygiene Antara Povidone Iodine Dengan Chlorhexidine Terhadap Clinical Pulmonary Infection Score Pada Penderita Dengan Ventilator Mekanik Sebayang, Kurniadi; Pujo, Jati Listiyanto; Arifin, Johan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Oral hygiene antiseptic can reduce incidence of Ventilator Associated Pneumonia (VAP) that reduce Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) in patients with mechanical ventilation. Chlorhexidine can prevent formation of biofilm compare with povidone iodine. Objectives : This study was performed to find out wether chlorhexidine 0, 3 % was better than povidone iodine 1 % on Clinical Pulmonary Infection Score in patients with mechanical ventilation. Methods : An experimental study, as consecutive sampling on 32 subjects was decided in two groups (n = 16). Povidone iodine 1% was administrated in first group and cholrhexidin 0,2 % in second group. Clinical Pulmonary Infection Score was determined using Mann-Whitney before and after treatment in each group temperature, blood gas analysis, tracheal secretion, blood analysis and chest x-ray. Statistical analysis was performed with Wilcoxon test to compare CPIS and corelative test to analyzed GC plaque and spearman test to analyzed the correlation between GC plaque score and CPIS. Result : There were significant diference in the first group on CPIS (p<0,05) and no difference in the second group (p>0,05). The difference score before and after treatment in both group were significantly different (p=0,05). GC plaque score in chlorhexidinee group were significantly different (p=0, 0000). There were no correlation between GC plaque score and CPIS. Conclusion : Chlorhexidinee 0,3% is more effective in oropharing decontaminated antisepcic that decrease CPIS than povidone iodine on patients with mechanical ventilation. No correlation between GC plaque score with score of CPIS.Keywords : Povidone iodine 1 %, chlorhexidine 0, 2%, CPIS, mechanical ventilation, GC plaqueABSTRAKLatar belakang : Antiseptik oral hygiene merupakan salah satu cara non farmakologi yang dapat menurunkan insiden Ventilation Associated Pneumonia (VAP) dengan menurunkan skor Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) pada penderita dengan ventilator mekanik. Chlorhexidine adalah antiseptik yang lebih mampu mencegah pembentukan biofilm dibandingkan dengan povidone iodine. Tujuan : Mengetahui chlorhexidine 0,2% lebih efektif menurunkan angka Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS) dibandingkan dengan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik. Metode : Merupakan penelitian eksperimental, dua subjek dibagi dua kelompok sama besar (n =16). Kelompok chlorhexidinee 0,2 % dan kelompok kontrol povidone iodine 1%. Kedua kelompok sebelum dan setelah perlakuan dilakukan pemeriksaan CPIS, yaitu: suhu, analisa gas darah, sekret trakea, darah rutin dan foto ronsen dada. Uji wilcoxon adalah uji korelatif untuk melihat GC plaque sebelum dan setelah perlakuan.Sedangkan uji spearman melihat korelasi GC plaque dan skor CPIS pada kelompok perlakuan. Hasil : Hasil skor CPIS berbeda makna pada kelompok I (p<0,05). Analisis komparatif selisih skor sebelum dan sesudah perlakuan kedua kelompok berbeda bermakna (p<0,05). Skor GC plaque sebelum [6,00 (5,60-7,00)] dan setelah aplikasi chlorhexidinee 0,2% [7,00 (6,80-7,20)] menunjukkan hasil berbeda bermakna (p= 0,000). Uji spearman skor GC plaque dan CPIS menunjukkan hasil berbeda tidak bermakna, hasil korelatif negatif. Kesimpulan : Chlorhexidinee 0,2% merupakan antiseptik orofaring yang lebih efektif menurunkan skor CPIS dibandingkan dengan povidone iodine 1% pada pasien dengan ventilator mekanik. Tidak ada korelasi antara kenaikan skor GC plaque dengan penurunan skor CPIS.
Penggunaan Sedasi dan Pelumpuh Otot di Unit Rawat Intensif Istanto, Tatag; Pujo, Jati Listiyanto; Soesilowati, Danu
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Sedation should be administered to patients with critical illness who were treated in the ICU, it is used to reduce patient anxiety reducing patient anxiety of invasive measures, monitoring and treatment, reducing the oxygen demand by reducing the activity of the patient and amnesia effect of treatment in ICU. Muscle paralytic rarely used in the ICU for sedation usually be enough to calm the patient and provide patient comfort with mechanical ventilation. The use of excessive sedation or slightly increased patient morbidity. The use of paralytic muscle in a long time has many disadvantages to be considered, even more so when there is impaired hepatic and renal function in patients.Keywords : -ABSTRAKSedasi sebaiknya diberikan pada pasien dengan penyakit kritis yang dirawat di ICU, hal ini digunakan untuk mengurangi kecemasan pasien mengurangi kecemasan pasien terhadap tindakan invasif, monitoring dan pengobatan, mengurangi kebutuhan oksigen dengan mengurangi aktivitas pasien dan menimbulkan efek amnesia terhadap perawatan di ICU. Pelumpuh otot jarang digunakan di ICU karena biasanya sedasi saja sudah mencukupi untuk menenangkan pasien dan memberikan kenyamanan pasien dengan ventilasi mekanik. Penggunaan sedasi yang terlalu berlebihan atau telalu sedikit meningkatkan angka morbiditas pasien. Penggunaan pelumpuh otot dalam waktu lama memiliki banyak kerugian yang harus dipertimbangkan, terlebih lagi bila terdapat gangguan fungsi hepar dan ginjal pada pasien.Kata kunci : -
Pengelolaan Pasca Operasi dan Rawat Intensif pada Pasien Trauma ., Rindarto; Pujo, Jati Listiyanto; Leksana, Ery
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Postoperative management of trauma patients in the ICU on patient outcomes is critical, because with good management in ICU trauma patient survival rate is higher. Management of trauma patients in the ICU is primarily focused on the management of hypothermia, coagulopathy, acidosis, and abdominal compartment syndrome, ARDS, it is because of these factors is the leading cause of death in the first hours after trauma.Keywords : -ABSTRAKPengelolaan pasca operasi di ICU pada pasien trauma sangat menentukan hasil akhir pasien, karena dengan pengelolaan yang baik di ICU, tingkat survival pasien trauma menjadi lebih tinggi. Pengelolaan pasien trauma di ICU terutama difokuskan pada pengelolaan hipotermi, koagulopati, asidosis, sindrom kompartemen abdomen dan ARDS, hal ini karena faktor-faktor tersebut merupakan penyebab utama kematian pada jam-jam pertama pasca trauma.Kata kunci : -
Pengelolaan Trauma Susunan Saraf Pusat Winarno, Igun; Pujo, Jati Listiyanto; Harahap, Mohamad Sofyan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

CNS trauma is a major health problem as the cause of death and disability worldwide. The severity of the injury is crucial primary outcome, whereas secondary injury caused by physiological factors hypotension, hypoxemia, hiperkarbi, hyperglycemia, hypoglycemia, and other develop further will cause further brain damage and aggravate CNS trauma. Appropriate perioperative anesthetic management and began preoperative period, especially when the patient is in the emergency, determine the outcome of the patient.Keywords : -ABSTRAKTrauma SSP merupakan masalah kesehatan yang utama sebagai penyebab kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Tingkat keparahan cedera primer sangat menentukan hasil, sedangkan cedera sekunder yang disebabkan faktor fisiologi hipotensi, hipoksemia, hiperkarbi, hiperglikemi, hipoglikemia, dan lainnya yang berkembang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan otak lanjutan dan memperburuk trauma SSP. Manajemen anestesi perioperatif yang tepat dan dimulai sejak periode preoperatif, terutama saat pasien berada di Unit Gawat Darurat, sangat menentukan keluaran dari pasien.Kata kunci : -
Perbedaan Jumlah Bakteri Orofaring Pada Tindakan Oral Hygiene Menggunakan Chlorhexidine Dan Povidone Iodine Pada Penderita Dengan Ventilator Mekanik Helmi, Mochamat; Arifin, Johan; Pujo, Jati Listiyanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Oral hygiene antiseptic is one of the manner can reduce incident ventilator associated pneumonia (VAP). Chlorhexidine and povidone iodine can reduce number of bacteria on decontamination oropharyngel processObjectives: To find the difference in decrease in the number of oropharyngeal bacteria on oral hygiene with chlorhexidine 0.2% and povidone 0.1% on patients with mechanical ventilatorMethods: A randomized clinical control trial study on 30 patients with mechanical ventilator. Patients were divided into 2 groups (n=15), group 1 using chlorhexidine 0,2% and group 2 using povidone iodine 1%. Each group was given oral hygiene every 12 hours for 48 hours. Each group was taken secretions from the oropharynx before and after treatment, for later examination in counting the number and type of oropharyngeal bacteria. Statistical test using paired t-test, Wilcoxon, and Mann Whitney (with degrees of significance <0.05)Result: In this study, a decrease in the number of oropharyngeal bacteria of chlorhexidine group 140±76.625 (significant difference, p =0.000) while in povidone iodine group amounted to 100.80±97.209 (significant difference, p=0.008). While the comparative difference test result obtained both groups did not differ significantly (p-0.234).Conclusion: The decrease number of oropharyngeal bacteria on oral hygiene with chlorhexidine 0,2% was not different from povidone iodine 1%Keywords : Chlorhexidine 0,2%, povidone iodine 1%, number of oropharyngeal bacteria, oral hygiene, mechanical ventilator.ABSTRAKLatar belakang: Antiseptik oral hygiene merupakan salah satu cara yang dapat menurunkan insiden ventilator associated pneumonia (VAP). Chlorhexidine dan povidone iodine merupakan antiseptik yang mampu menurunkan jumlah bakteri pada proses dekontaminasi orofaring.Tujuan: Untuk mengetahui adanya perbedaan penurunan jumlah bakteri orofaring pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0.2% dan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik.Metode : Merupakan penelitian Randomized clinical control trial pada 30 penderita dengan ventilator mekanik. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=15), kelompok 1 menggunakan chlorhexidine 0,2% dan kelompok 2 menggunakan povidone iodine 1%. Masing-masing kelompok diberikan oral hygiene tiap 12 jam selama 48 jam. Tiap kelompok diambil sekret dari orofaring sebelum dan setelah perlakuan, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hitung jumlah dan jenis bakteri orofaring. Uji statistik menggunakan paired ttest, Wilcoxon, dan Mann Whitney (dengan derjat kemaknaan < 0,05).Hasil : Pada penelitian ini didapatkan penurunan jumlah bakteri orofaring pada kelompok chlorhexidine sebesar 140±76,625 (berbeda bermakna, p=0,000) sedangkan pada kelompok povidone iodine sebesar 100,80±97,209 (berbeda bermakna, /p=0,008). Sedangkan pada uji selisih komparatif kedua kelompok didapatkan hasil berbeda tidak bermakna(p=0,234).Kesimpulan : Penurunan jumlah bakteri orofaring pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0,2% tidak berbeda bermakna dengan povidone iodine 1%.
Pengaruh Pemberian Minuman Karbohidrat Dan Protein Whey Pra Operasi Terhadap Kadar C- Reactive Protein Pasca Operasi Pada Pasien Mastektomi Endrianto, Edwin Santoso; Primatika, Aria Dian; Pujo, Jati Listiyanto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Latar belakang : CRP adalah protein fase akut yang kadarnya dalam darah sangat berkaitan erat dengan respon inflamasi akut yang terjadi.Tindakan pembedahan dan puasa yang berkepanjangan menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin  proinflamasi dan  mediator inflamasifaseakut melalui proses yang rumit.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian minuman karbohidrat dan protein whey praoperasi terhadap kadar CRP pascaoperasi pada pasien mastektomi.Metode : Penelitian jenis uji klinis acak terkontrol. Sampel penelitian sebanyak 26 dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (13 sampel) diberikan 400 mL minuman karbohidrat dan protein whey malam sebelum operasi dan 200 mL 4 jam sebelum operasi. Kelompok kontrol diberikan air mineral dengan jumlah dan waktu pemberian yang sama dengan kelompok perlakuan. Kedua kelompok diperiksa kadar CRP pra dan pascaoperasi.Hasil : Terdapat perbedaan bermakna ( p = 0,001) pada kadarCRP pascaoperasi antara kelompok kontrol yaitu 7,62 ± 2,074 dibandingkan dengan CRP pascaoperasi kelompok perlakuan yaitu 2,81 ± 2,920. Selain itu juga terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,000) dalam selisih kadar CRP praoperasi dan pascaoperasi pada kelompok kontrol yaitu 5,36 ± 0,535 dibandingkan dengan kelompok perlakuan yaitu 0,89 ± 0,938.Kesimpulan : Pemberian minuman karbohidrat dan protein whey pra operasi terbukti menurunkan respon inflamasi fase akut pascaoperasi, yang tergambar dari peningkatan kadar CRP pascaoperasi yang lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol.