Eko Pujiono
Balai Penelitian Kehutanan Kupang Jl. Untung Suropati No. 7 (blk) Airnona Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia P.O Box 69 Telp. 0380-823357, 833472

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

KESESUAIAN LAHAN UNTUK JENIS CENDANA (SANTALUM ALBUM LINN.) DI KABUPATEN ALOR PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Bumi Lestari Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cendana (Santalum album L.) is an indigenous species of east nusa tenggara (Nusa TenggaraTimor/NTT) which has high economies value. The existency of this species in nature hasalmost extinct due to uncontrolled exploitation. It needs conservation and developmentefforts. The efforts needs data of land suitability endorsement to support the success ofplantation. This research was aimed to set land suitability digital map for cultivatingcendana as guidance in making plan cendana plantation in Alor Regency. The researchused land suitability analysis method  by field survey. Purposive sample was determinedbased on land variation by land cover and type of soil. The result showed the large of landsuitability 2 is the largest with 126.810,73 Ha, followed by land suitability 1 with 58.893,2Ha large of area, then land suitability 4 with 20.011,41 Ha, and land suitability 3 with5.664,58 Ha large of area.

PENILAIAN TINGKAT KERENTANAN SUMBER DAYA AIR TERHADAP VARIABILITAS IKLIM DI DAS AESESA, PULAU FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan sumber daya air terhadap variabilitas iklim di DAS Aesesa Provinsi NTT. Penaksiran kerentanan menggunakan konsep IPCC, dimana kerentanan merupakan fungsi dari keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptif. Kriteria dan indikator keterpaparan, sensitivitasdan kapasitas adaptif didapatkan dari kajian terdahulu. Kriteria dan indikator kemudian diberikan skor dan bobot sesuai derajat kepentingannya dan disajikan secara spasial serta dilakukan overlay untuk mendapatkan peta kerentanan. Hasil menunjukkan bahwa tren suhu tahunan di hulu DAS dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, sedangkan di bagian hilir mengalami kenaikan. Sementara indikator curah hujan tahunan, di daerah hulu DAS menunjukkan tren kenaikan, sedangkan di daerah tengah dan hilir tren menurun.Terkait dengan kuantitas air, Sungai Aesesa, sungai utama di DAS Aesesa mempunyai debit yang relatif sama selama lima tahun terakhir. Kualitas air di Sungai Aesesa dikategorikan cemar ringan di hulu dan cemar sedang di hilir dalam beberapa tahun terakhir . Peta kerentanan menunjukkan bahwa sekitar 54% wilayah DAS memiliki tingkat kerentanan tinggi, 13% diklasifikasikan ke tingkat kerentanan sedang dan 33% dikategorikan ke tingkat kerentanan rendah. Hasil kajian ini bisa bermanfaat bagi pengelola DAS, atau pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun strategi, rencana dan aksi dalam menanggulangi masalah kerentanan sumber daya air.

Potensi Mahoni (Swietenia macrophylla King) Pada Hutan Rakyat Sistem Kaliwo di Malimada, Sumba Barat Daya

Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 14, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hutan rakyat berpotensi menjadi solusi defisit kebutuhan kayu secara lokal maupun nasional. Optimalisasi peran hutan rakyat memerlukan perencanaan yang tepat dan data yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi dan komposisi kayu penyusun hutan rakyat di Malimada, Kecamatan Wewewa Utara Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Penelitian menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif dengan metode sampling kuadrat. Sampel berjumlah 10 plot yang diambil secara puposive. Indeks Nilai Peneting (INP) digunakan untuk menggambarkan potency kayu dan komposisi jenis penyusun hutan rakyat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahoni (Swietenia macrophylla King) mendominasi tegakan dengan nilai INP pada tingkat sapihan, tiang dan pohon berturut-turut adalah 188,28; 211,28 dan 246,04. Struktur tegakan yang ada memiliki karakteristik yang hampir sama dengan hutan alam,  hal ini terlihat dari grafik distribusi tingkat pertumbuhan yang berbentuk (J) terbalik (reverse J-shape). Kata kunci : potensi kayu, hutan rakyat, mahoni, analisis vegetasi   ABSTRACT Private forests potentially solve the problem of local and national wood deficit. Optimizing the role of private forests, needs proper plannings and accurate data. This study aimed at determining wood potency and composition on private forest of Malimada, North Wewewa sub district, Southwest Sumba District of East Nusa Tenggara. This research used quantitative descriptive approach. Samplings purposive used quadrat methods with 10 plots were established. Important Value Index (IVI) was employed in order to depict wood potency and trees composition of private forest. The research results revealed that standing stock predominantly by mahogany (Swietenia macrophylla King.) with IVI at saplings, poles, and trees level were 188.28; 211.28 and 246.04 respectively. The existing structure stock has similar characteristics to the nature forest, this was indicated by reverse J-shape level of growth distribution curve.   Keywords : wood potency, private forest, mahogany, vegetation analysis.

STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS HUTAN MANGROVE DI GOLO SEPANG – KECAMATAN BOLENG KABUPATEN MANGGARAI BARAT

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine mangrove forest structure and composition in Golo Sepang Village, Manggarai Barat District. Important value index and diversity index value obtained from mangrove vegetation analysis were used as indicators for determining mangrove forest structure and diversity. Transect method with square frame along the line was applied in vegetation analysis. Totally 10 lines and 30 plots were applied for getting types of mangrove, growth parametersvalue (height and diameter) and others related information. This study found that the stucture of mangrove consist of 5 familyes with 10 species, namely: Rhizophoraceae (Ceriops tagal (Perr), Rhizophora apiculata (Bi), R. mucronata Lmk., Bruguiera parviflora (Roxb.), B. sexangula (Lour) dan B. gymnorrizha (L.) Lamk.), Fabaceae (Derris trifoliata Lour), Meliaceae (Xylocarpus granatum Koen), Pteridaceae (Acrosthicum aereum Linn) and Lythraceae (Phempis acidula Forst). R. apiculata (Bi) is the most dominant species founded in 7 of 10 total sites. Two sites, Sotri and Muara Kiri, have the highest important value index (300%) for R. Apiculata species. The highest individual density is found at Sotri site, with value 1.300 tree/hectare, while the lowest density, 100 trees/hectare is found at Muara Kanan site. In diversity of mangrove, all sites were categorized as low with highest diversity index value 1,06.Keywords: Mangrove forest, structure and composition, Golo Sepang

PENILAIAN TINGKAT KERENTANAN SUMBER DAYA AIR TERHADAP VARIABILITAS IKLIM DI DAS AESESA, PULAU FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR

Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2549.824 KB)

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan sumber daya air terhadap variabilitas iklim di DAS Aesesa Provinsi NTT. Penaksiran kerentanan menggunakan konsep IPCC, dimana kerentanan merupakan fungsi dari keterpaparan, sensitivitas dan kapasitas adaptif. Kriteria dan indikator keterpaparan, sensitivitasdan kapasitas adaptif didapatkan dari kajian terdahulu. Kriteria dan indikator kemudian diberikan skor dan bobot sesuai derajat kepentingannya dan disajikan secara spasial serta dilakukan overlay untuk mendapatkan peta kerentanan. Hasil menunjukkan bahwa tren suhu tahunan di hulu DAS dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, sedangkan di bagian hilir mengalami kenaikan. Sementara indikator curah hujan tahunan, di daerah hulu DAS menunjukkan tren kenaikan, sedangkan di daerah tengah dan hilir tren menurun.Terkait dengan kuantitas air, Sungai Aesesa, sungai utama di DAS Aesesa mempunyai debit yang relatif sama selama lima tahun terakhir. Kualitas air di Sungai Aesesa dikategorikan cemar ringan di hulu dan cemar sedang di hilir dalam beberapa tahun terakhir . Peta kerentanan menunjukkan bahwa sekitar 54% wilayah DAS memiliki tingkat kerentanan tinggi, 13% diklasifikasikan ke tingkat kerentanan sedang dan 33% dikategorikan ke tingkat kerentanan rendah. Hasil kajian ini bisa bermanfaat bagi pengelola DAS, atau pemangku kepentingan lainnya untuk menyusun strategi, rencana dan aksi dalam menanggulangi masalah kerentanan sumber daya air.

A Three Decades Assessment of Forest Cover Changes in The Mountainous Tropical Forest of Timor Island, Indonesia

Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Mutis Timau Forest Complex (MTFC), a remained mountainous tropical forest area in Timor Island, located in Indonesia and Timor-Leste border region, tends to decrease gradually. Unfortunately, declined forest area and their rates are not explained by reliable spatial and quantitative information. This study attempts to assess the extent and rate of forest cover changes in the MTFC during the last 30 years. We used Landsat images on three different dates: 1987, 1999, and 2017. Then, we applied a hybrid classification approach that combines the application of Forest Canopy Density model-obtained from four biophysical indices and supervised classification-maximum likelihood classification to generate land cover maps. Finally, we detected forest cover change by comparing land cover map in different years. Results illustrated that the extent and annual rate of deforestation, forest degradation, forest regrowth, and afforestation during 1987–2017 were 2,232 ha (0.36%), 4,820 ha (1.10%), 1,475 ha (0.69%), and 1,252 ha (0.40%), respectively. Such results are important for the MTFC authority to establish appropriate plan and strategies in forest management activities and can be used to support some policies/programs for combating deforestation and forest degradation.

POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN ASLI SETEMPAT DALAM SISTEM AGROFORESTRI: STUDI KASUS DI DESA T’EBA KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA, PROVINSI NTT (The Potential of Native Plants Development in Agroforestry System: A Case Study of T’eba Village, Timor Tengah Utara Regency, Nusa Tenggara Timur)

Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.264 KB)

Abstract

Cendana (Santalum album Linn.), gaharu (Gyrinops veerstegii (gilg.) Domke) dan kayu papi (Exocarpus latifolia R.Br.) merupakan tanaman asli Nusa Tenggara Timur yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Desa T’eba merupakan salah satu desa di Kabupaten TTU yang memiliki sejarah potensi jenis cendana dan kayu papi. Sementara jenis gaharu merupakan jenis introduksi yang menunjukkan pertumbuhan cukup bagus di Desa T’eba. Sayangnya, potensi pengembangan ketiga jenis ini di Desa T’eba belum banyak diungkap dalam bentuk laporan penelitian atau publikasi lainnya. Melalui metode wawancara terstruktur dan survei lapangan,penelitian ini mencoba menganalisa potensi pengembangan tanaman asli tersebut dalam system agroforestri. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum potensi pengembangan untuk ketiga jenis ini dengan pola agroforestri adalah tinggi, terutama dilihat dari aspek kesesuaian lahan dan tingkat penerimaan sosial masyarakat, serta manfaat ekonomi yang akan diperoleh. Hasil ini dapat dimanfaatkan oleh pihak terkait dalam merumuskan rencana atau strategi pengembangan system agroforestry, terutama terkait dengan kebijakan pemilihan jenis tanaman.