Articles

Found 26 Documents
Search

Penampilan Reproduksi Sapi Bali pada Peternakan Intensif di Instalasi Pembibitan Pulukan Siswanto, Mahmud; Patmawati, Ni Wayan; Trinayani, Ni Nyoman; Wandia, I Nengah; Puja, I Ketut
Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan Vol. 1 No. 1 2013
Publisher : Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

This studi was conducted to investigate the reproductive performances  of Bali cattle under intensive management in breeding instalation Pulukan Bali from  2008  to  2010.  Totaling 298 2 - 6.5 year old heifers were use to represents the benchmark reproductive performances of Bali cattle. Data collected were age at first heat (AFH), age at first calving (AFC), calving interval (CI), and services per conception (SPC). The overall means for  AFH, AFC,and  CI  were  718.57 ± 12.65; 1104.51 ±  23.82, and 350.46 ± 27.98 days  respectively,  and SPC was 1.65 ± 0.87.
Hubungan Frekuensi dan Waktu Kawin dengan Jumlah Anak Sekelahiran pada Anjing Golden Retriever yang Dipelihara Di Kota Denpasar Oktaviami, Tessa Yuli; Indira Laksmi, Desak Nyoman Dewi; Puja, I Ketut
Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan Vol. 1 No. 1 2013
Publisher : Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

This retrospective study was conducted to know the relation between time and frequency of mating on litter size of Golden Retriver  in Denpasar Region. Mating incident records of 19 Golden Retrievers from 8 kennels were compiled to be analyzed. These data can be use as a reference in effort to maximize the amount of  Golden Retriever clans. The result showed that the three times of mating on the 10th , 12th and 14th day after onset of proestrus produced the most litter size 10 ± 2.82. However, mating twice on wice on 9th and 11th after onset of proestrus produced a litter size of 8.50 ± 0.70. The statistic analysis depicted that there was no significant relationship between mating frequencies and mating time on litter size.
Seleksi Awal Pejantan Sapi Bali Berbasis Uji Performans Patmawati, Ni Wayan; Trinayani, Ni Nyoman; Siswanto, Mahmud; Wandia, I Nengah; Puja, I Ketut
Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan Vol. 1 No. 1 2013
Publisher : Jurnal Ilmu dan Kesehatan Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Performance test is a preliminary selection to choose Bali cattle stud based on qualitative and quantitative characteristics, including measurement, weighing and observation. Performance test is  applied  on rapid growth of bull  (about 1 year of age) by comparing individual performance with the performance of the group average. The number of bulls that were subjected  the  Performance test  in 2011  was 61  bulls.  Based on Performance test, the best three of the performances  namely the score of 113.30, 109.46,and 104.2  were s selected to be potential stud candidates for next Zuriat test (progeny test).
PERCENTAGE OF VIABLE SPERMATOZOA COLLECTED FROM THE EPIDIDYMES OF DEATH LOCAL DOG Sulabda, I Nyoman; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The purpose of this study to determine the effectof post mortem time on percentage of lifeepididymessperm from postmortem dog caudae epididymides. A total of 9 dog were usedand divided into three group. T0 was control group, T1, 3 hours postmortem and T2, 6hours postmortem. This way, samples were obtained at different times postmortem. Spermwere extracted from the caudae epididymes by means of cuts.The result showed that the percentage of life sperm were 67,16 ± 5.67(T0), 46.33 ± 5.60(T1) and 24.00 ± 4.35 respectively. We could appreciate that percentage of life wasaffected by postmortem time. There was significant decrease life sperm recovered fromepididymes postmortem (P<0.01). In conclusion, epididymes sperm from dog undergodecrease of percentage of life, but it could stay acceptable within many hours postmortem.We intepreted these data to indicate that it may still be possible to obtain viablespermatozoa many hours later.
PENGARUH SUBSTITUSI AIR KELAPA MUDA DENGAN PENGENCER SITRAT KUNING TELUR TERHADAP MOTILITAS DAN PERSENTASE HIDUP SPERMATOZOA ANJING Sulabda, I Nyoman; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of tender coconut water substitutionon egg yolk citrate diluent with different doses on local breeds dog sperm motility and livespermatozoa. Semen was manually collected. Progressive motility and percentage of livespermatozoa were evaluated under a microscope utilizing a drop of semen between awarmed glass slide and coverslip, both at a temperature of 38 0C. The percentage of motileand live spermatozoa were examined by counting 100 spermatozoa using the classificationof Christiansen (1984). Sperm viability was assessed by eosinnegrosin staining. The result showed that coconut water substitution has significant effect on the motility and livespermatozoa. Combination between the levels of coconut water in the egg yolk citratediluent could be applied as an alternative diligent instead of egg yolk diligent for dogsemen up to 75%.
Perilaku Bermasalah pada AnjingKintamani Fajar, I Wayan Nico; Sukada, I Made; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Anjing Kintamani adalah sebutan sekelompok anjing yang habitat aslinya di daerahKintamani. Penampilan dan karaketristik yang menarik menyebabkan anjing Kintamanisangat populer sebagai hewan kesayangan dan sekarang sedang diajukan ke FederationCynologique Internationale untuk penetapan sebagai anjing ras. Tujuan penelitian iniadalah mengevaluasi perilaku bermasalah pada anjing Kintamani. Penelitian ini dilakukandari bulan April sampai Mei 2011. Beberapa aspek yang berkaitan dengan masalah perilakudikumpulkan dengan menggunakan quesioner. Sebanyak 46 ekor anjing dari 75 anjing yangdigunakan sebagai sampel menunjukkan perilaku bermasalah (61.3%) dan 29 anjing tidakmenunjukkan perilaku bermasalah (38.7%). Di antara anjing yang digunakan sebagaisampel rata-rata umur anjing adalah 1- 2tahun dan hampir semua anjing belum disterilkan(92%). Juga didapat bahwa pemilik anjing memelihara anjingnya di halaman rumah (36%).Anjing berturut turt menunjukkan suara berlebihan (36%), perilaku merusak (17%), responberlebihan (6,7%), perilaku tidak pantas (34%) dan perilaku agresive (10,7%). Hasilpenelitian ini mendukung pendapat bahwa anjing kintamani tidak mempunyai perilakubermasalah, sehingga diharapkan sifat anjing Kintamani ini tetap dapat dipertahankan danuntuk dijadikan standar perilaku pada anjing kintamani
Ekologi dan Demografi Anjing di Kecamatan Denpasar Timur Cintya Dalem, TJOKORDA ISTRI AGUNG; KARDENA, I MADE; PUJA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekologi dan demografi anjing di kecamatan Denpasar Timur. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing yang meliputi: populasi, jenis kelamin, umur dan sterilisasi, status vaksinasi dan kasus gigitan dan profil pemilik anjing. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode WHO Expanded Programme on Immunization (EPI) cluster survey yang dimodifikasi di Kota Denpasar. Penentuan area sampling kecamatan dan kelurahan dilakukan secara purposive, yaitu masing-masing di kecamatan Denpasar Timur di Kelurahan Kesiman dan Kelurahan Sumerta. Sedangkan untuk wilayah banjar, dilakukan secara acak dengan memilih 2 wilayah banjar pada masing-masing kelurahan yang disampling.Dari penelitian ini diperoleh data hasil per April 2011 sebagai berikut: rasio manusia dengan anjing yang dipelihara adalah 8,7 : 1. Rasio jenis kelamin anjing yang dipelihara antara jantan dan betina adalah 2,2 : 1. Penduduk lebih banyak memelihara anjing yang berumur di atas 3 bulan. Cakupan vaksinasi anti rabies pada anjing adalah sebesar 82% dan jumlah akhir kasus gigitan anjing dari tahun 2010 yakni sebanyak 17 kasus gigitan.
Polimorfisme Lokus Mikrosatelit RM185 Sapi Bali di Nusa Penida MUHAMMAD, ZAKIATUN; PUJA, I KETUT; WANDIA, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Polimorfisme pada suatu populasi sering kali digunakan sebagai salah satu indeks keragaman genetik. Sifat polimorfik ini ditentukan dengan mengidentifikasi jumlah alel pada suatu populasi. Dengan adanya identifikasi jumlah alel maka akan dapat ditentukan frekuensi alel dan nilai heterozigositas suatu populasi. Sampel berupa darah sapi dari populasi sapi bali (Bos Sondaicus) di Nusa Penida. Sebanyak 21 sampel darah sapi bali digunakan sebagai sumber DNA. Pengekstraksian sampel darah menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit produk QIAGEN. Amplifikasi lokus mikrosatelit DRB3 menggunakan dengan teknik PCR dengan suhu annealing 580C. Produk PCR yang merupakan suatu alel dipisahkan melalui elektroforesis pada gel acrilamid 7% dan dimuculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian polimorfisme lokus mikrosatelit RM185 pada 21 ekor sapi bali di Nusa Penida teridentifikasi 7 alel yaitu 76 pb, 84 pb, 86 pb, 90 pb, 98 pb, 100 pb, dan 104 pb. Genotip pada setiap individu bersifat heterozigot. Alel 86 pb merupakan frekuensi alel tertinggi dengan nilai frekuensi 0,31. Sedangkan nilai frekuensi alel terendah adalah alel 76 pb dengan nilai frekuensi alel 0,02. Keragaman genetika populasi sapi bali di Nusa Penida dengan penanda molekuler lokus mikrosatelit RM185 memiliki nilai heterozigositas ? = 0,804.
Cakupan Vaksinasi Anti Rabies pada Anjing dan Profil Pemilik Anjing Di Daerah Kecamatan Baturiti, Tabanan TARIGAN, IVAN M; SUKADA, I MADE; PUJA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis yang dapat menyerang manusia dan hewan berdarah panas dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang positif rabies. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang bebas rabies, namun semenjak kasus gigitan anjing positif rabies November 2008 di daerah Ungasan, Badung maka Bali dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Dalam hal ini Pemerintah Bali telah melakukan tindakan-tindakan dalam menanggulangi kasus rabies yang semakin menyebar luas di Bali. Akan tetapi, karena semakin luasnya daerah yang tertular rabies menunjukkan bahwa Pemerintah Bali belum maksimal dalam penanganan penyakit ini. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing dan profil pemilik anjing. Data mengenai sosio ekologi anjing meliputi: karakteristik anjing, terutama mengenai cakupan vaksinasi dan faktor resiko pada anjing yang tidak divaksin serta jumlah populasi anjing. Sedangkan data mengenai profil pemilik anjing meliputi: karakteristik keluarga, persepsi tentang penanganan rabies, pengetahuan tentang rabies dan vaksinasi, pengalaman dan pengetahuan tentang gigitan anjing. Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : cakupan vaksinasi di Banjar Pekarangan 79,4% dan Banjar Abianluang diperoleh hasil 67%, rata-rata hasil cakupan vaksinasi kedua Banjar tersebut 73,2%. Masih banyaknya masyarakat tidak memvaksin anjing dikarenakan belum cukup umur 5 orang, tidak dapat ditangani 11 orang, pemilik sibuk ketika waktu vaksin 22 orang dan pemilik acuh terhadap vaksinasi sebanyak 3 orang. Informasi mengenai rabies yang ada di masyarakat, didapat hasil sebanyak 274 orang mengetahui rabies dapat menginfeksi semua hewan mamalia, 251 orang mengetahui rabies dapat terjadi setiap waktu, dan 264 orang mengetahui rabies dapat dipengaruhi oleh faktor anjing. Sumber informasi didaerah tersebut, didapatkan hasil sebanyak 276 orang dari Pemerintah, sebanyak 243 orang mendapatkan informasi dari televisi, dan sebanyak 163 orang dari koran. Keberhasilan dalam pemberantasan rabies tidak akan berhasil jika hanya dengan vaksinasi dan eliminasi saja bila tidak dipadu dengan cara pemeliharaan anjing yang benar, sehingga perlu dilakukannya program pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana cara memelihara anjing yang baik, dengan membatasi pergerakan anjingnya (dengan cara diikat atau dikandangkan) serta perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemberian vaksinasi anti rabies, terutama pada anjing-anjing muda.
PROFIL ANJING KINTAMANI SEBAGAI MODEL PADA PENELITIAN BIOMEDIK Puja, I Ketut
Majalah Kedokteran Udayana Vol 32, No 111 (2001): Majalah Kedokteran Udayana
Publisher : Majalah Kedokteran Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada banyak kelebihan dalam penggunaan anjing Kintamani dalam herbagai p;rcobaan. Kelebihan anjing Kintamani pada penelitian biomedik disebabkan oleh faktor ukuran yang sedang serta perilaku yang tidak agresif. Mudahnya penanganan memungkinkan melakukan pemeriksaan rutin yang berhubungan dengan aktivitas anjing dalam keadaan sadar. Kata kunci : Anjing Kintamani, biomedik, ukuran sedang, perilaku.ABSTRACTThere are well defined advantages of working with the Kintamani dogs. The suitat ility of the Kintamani dogs as an experimental model arises from some factors such as its medium size and even temperament. The dative ease of handling makes it possible to be able to perform many routine studies related to activities of the conscious animal. Key words : Kintamani dogs, biomedical, medium size, temperament.