Articles

Found 20 Documents
Search

Nilai Penting Agroforestri, Hutan Rakyat dan Lahan Pertanian dalam Konservasi Keanekaragaman Jenis Burung di Paliyan, Gunung Kidul, Yogyakarta

Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4878.907 KB)

Abstract

Agroforestry is recognized as a land use management that capable to integrate the need of local peoples and the concern of biodiversity conservation. However, some contradictory results of studies made the importance of agroforestry on conservation of biodiversity questionable. To understand the role of agro­forestry in biodiversity conservation, bird community assemblages of three land use types namely private forests, agroforestry and annual crops were compared. Single belt point count with a radius of 50 m was used to survey birds. In general species diversity in the study area was at a moderate level. Statistically, bird communities between sites did not differ significantly in term of their abundance, species composition, and diversity. It was because patch context plays more important role than patch content. However, it was found that in all community parameter agroforestry area has higher values than those of crops. Consistent with the previous studies, insectivorous birds were the most sensitive to land use changes. The conservation value of Paliyan area was relatively low, because most of species were abundant, and no species inhabit endangered status according to IUCN criteria. Implication of this research was that Paliyan area need a large-compact habitat to conserve high bird diversity.Keywords : bird, conservation, value, landscape, Paliyan.

Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia

Jurnal Primatologi Indonesia Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Studi Satwa Primata LPPM-IPB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.756 KB)

Abstract

Abstrak. Survei ini adalah penilaian yang pertama terhadap populasi dan distribusi surili jawa (Presbytis fredericae) di Gunung Slamet, Jawa Tengah, Indonesia. Survei telah dilakukan selama 150 hari di hutan pegunungan dan menyusuri jalur-jalur yang ada sepanjang 125,38 km. Survey ini telah mencatat 233 individu dari 54 kelompok monyet surili. Metode garis transek telah diterapkan dalam survey ini dan estimasi kerapatan surili jawa adalah 5,6 – 8,16 individu/km2, yang menempati  198.68 km2 potensial habitat. Estimasi populasi surili jawa di Gunung Slamet kurang lebih 1172 – 1621 individu. Perburuan, penebangan liar, pengumpulan kayu bakar, perburuan tanaman hias adalah ancaman yang menyebabkan degradasi habitat surili jawa di hampir semua lereng gunung. Ini adalah sub-populasi terbesar yang tersisa di jawa tengah, jadi perlindungan terhadap Gunung Slamet adalah sangat penting untuk menyelamatkan populasi monyet dan habitatnya, sebagaimana kita ketahui bahwa  distribusi sub-species Presbytis di jawa tengah tidak terdapat di dalam kawasan konservasi. Peningkatan status perlindungan hutan, penegakan hukum, program kesadaran konservasi, pemberdayaan komunitas harus didukung dan diteruskan di Gunung Slamet.Abstract. This survey is the first assessment of the population and distribution of the Javan surili  (Presbytis fredericae) on Mt.Slamet, Central Java, Indonesia. The survey was carried out for a total of 150 days in the mountainous forest, while walking 125.38 km along existing trails. There were 233 individuals recorded, belonging to 54 groups of monkeys. The line transect method was applied during the survey and it was estimated that there were 5.6 up to 8.16 individuals/km2  density of Javan surili, occuping 198.68 km2, indicating a possible potential habitat. The population of the Javan surili on Mt.Slamet was estimated at approximately 1172 – 1621 individuals. Hunting, illegal logging, fuel wood collection, ornamental forest plants gathering were threats which were the cause of massive degradation of the Javan surili habitat across the facing slope. With its largest sub-population remaining in Central Java,  protecting the Mt. Slamet is urgently needed to save this monkey population and its habitat, as it is known that there is no conservation area in the range distribution of Presbytis subspecies in Central Java.  Increasing the forest protection status, law enforcement, conservation awareness programs, and community based empowerment should be supported and continued in Mt. Slamet.Key words: rekrekan, surili, Mt.Slamet, population,  distribution, endangered

Perilaku dan Jelajah Harian Orangutan Sumatera (Pongo abelli Lesson, 1827) Rehabilitan di Kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar

Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanisme adaptasi dari Orangutan Sumatera yang direintroduksi merupakan informasi yang sangat penting bagi kesuksesan program rehabilitasi. Tujuan utama penelitian ini untuk mengeksplorasi perilaku dan jelajah harian dari Orangutan Sumatera rehabilitan di stasiun reintroduksi Orangutan Sumatera kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar. Metode yang digunakan adalah Instantaneous sampling. Data perilaku dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan ethogram yang mengadopsi dari Standar Pengambilan Data Orangutan. Perilaku harian yang dilakukan Orangutan Sumatera rehabilitan meliputi tiga perilaku utama yaitu istirahat (47,32 %), makan (37 %), bergerak (14,75 %), sosial (0,52 %) dan bersarang (0,41 %). Sebagian besar perilaku Orangutan rehabilitan tidak menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan masa reintroduksi. Rata-rata daya jelajah hariannya dari semua individu Orangutan yang diamati berkisar antara 0,7 sampai 26,2 ha. Interaksi dengan manusia pada masa sebelumnya, khususnya pada periode perkembangan Orangutan, dapat mempengaruhi perilaku Orangutan dan mungkin dapat mempengaruhi kesuksesan dalam beradaptasi dengan kondisi di alam.Katakunci: perilaku, Orangutan, daya jelajah harian, cagar alam Jantho Daily Behavior and Range of Rehabilitated Orangutan in the Hutan Pinus Jantho Nature Reserve, Aceh BesarAbstractAdaptation mechanism of reintroduced Sumatran Orangutan is crucial information for successful rehabilitation program. The main objective of this research was to investigate daily behaviors and range ofeight rehabilitated Orangutans in the reintroduction station of Nature Reserve Pine Forest Jantho, Aceh Besar. Data collection was conducted through instantaneous sampling to explore daily behavior and range. The daily activities data were grouped based on ethogram by adopting the standard of Orangutan‘s data collection. The result showed that the proportion of daily behavior of Orangutan Sumatera are 47.32 % resting, 37 % feeding, 14.75 % moving, 0.52 % social interaction and 0.41% nesting activities. There was no different behavior between sex classes and duration of rehabilitation. The average daily range of all focal individuals is 0.7-26.2 ha. Previous interaction with humans, especially during early developmental period, may affect in behaviour of rehabilitated Orangutan Sumatera and probably also influence the adaptation success in the wild.

Perilaku dan Jelajah Harian Orangutan Sumatera (Pongo abelli Lesson, 1827) Rehabilitan di Kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar

Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.976 KB)

Abstract

Adaptation mechanism of reintroduced Sumatran Orangutan is crucial information for successful rehabilitation program. The main objective of this research was to investigate daily behaviors and range ofeight rehabilitated Orangutans in the reintroduction station of Nature Reserve Pine Forest Jantho, Aceh Besar. Data collection was conducted through instantaneous sampling to explore daily behavior and range. The daily activities data were grouped based on ethogram by adopting the standard of Orangutan‘s data collection. The result showed that the proportion of daily behavior of Orangutan Sumatera are 47.32 % resting, 37 % feeding, 14.75 % moving, 0.52 % social interaction and 0.41% nesting activities. There was no different behavior between sex classes and duration of rehabilitation. The average daily range of all focal individuals is 0.7-26.2 ha. Previous interaction with humans, especially during early developmental period, may affect in behaviour of rehabilitated Orangutan Sumatera and probably also influence the adaptation success in the wild.Keywords: reintroduction, primates, protected areas, wildlife conservation.Intisari Mekanisme adaptasi dari Orangutan Sumatera yang direintroduksi merupakan informasi yang sangat penting bagi kesuksesan program rehabilitasi. Tujuan utama penelitian ini untuk mengeksplorasi perilaku dan jelajah harian dari Orangutan Sumatera rehabilitan di stasiun reintroduksi Orangutan Sumatera kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar. Metode yang digunakan adalah Instantaneous sampling. Data perilaku dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan ethogram yang mengadopsi dari Standar Pengambilan Data Orangutan. Perilaku harian yang dilakukan Orangutan Sumatera rehabilitan meliputi tiga perilaku utama yaitu istirahat (47,32 %), makan (37 %), bergerak (14,75 %), sosial (0,52 %) dan bersarang (0,41 %). Sebagian besar perilaku Orangutan rehabilitan tidak menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan masa reintroduksi. Rata-rata daya jelajah hariannya dari semua individu Orangutan yang diamati berkisar antara 0,7 sampai 26,2 ha. Interaksi dengan manusia pada masa sebelumnya, khususnya pada periode perkembangan Orangutan, dapat mempengaruhi perilaku Orangutan dan mungkin dapat mempengaruhi kesuksesan dalam beradaptasi dengan kondisi di alam.Katakunci: perilaku, Orangutan, daya jelajah harian, cagar alam Jantho

Behavior of Bali Starling at Bali Barat National Park and Nusa Penida Island (PERILAKU JALAK BALI DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT DAN PULAU NUSA PENIDA)

Jurnal Veteriner Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) sejak tahun 1966 dimasukan oleh International Union forConservation of Nature (IUCN) Red List of Threatened Species dan Convention on International Trade inEndangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Jalak Bali dikelompokan sebagai satwa terancampunah dengan kategori kritis (Critically Endangered) dan di Indonesia telah dilindungi sejak tahun 1970.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat danPulau Nusa Penida untuk konservasi burung tersebut. Metode yang digunakan adalah scan samplingdengan instataneous sampling. Perilaku Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat terdiri dari terbang17%, makan buah 3%, makan serangga 1%, menelisik bulu 15%, menegakkan jambul 6%, bobbing 7%,berkicau 40%, minum 0,5%, dan berjalan 10%. Sementara di Nusa Penida pada musim hujan terdiriterbang 13%, makan buah 19%, makan serangga 4%, menelisik bulu 7%, menegakkan jambul 7%, bobbing8%, berkicau 11%, minum 1%, 1% mandi, berjalan 16% , bersarang 2%, mengeram 9% dan mengasuh anak3%, dan di Nusa Penida pada musim kemarau terdiri terbang 11%, makan buah 9%, makan serangga21%, menelisik bulu 7%, menegakkan jambul 6%, bobbing 7%, berkicau 9%, minum 2%, mandi 1%, berjalan18% , dan bersarang 8%. Jalak Bali berkembang biak di Nusa Penida pada musim hujan dan musimkemarau, tetapi di Taman Nasional Bali Barat pada musim hujan.

PEMODELAN SISTEM PENGUSAHAAN WISATA ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, JAWA BARAT

Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan sumber daya alam taman nasional yang terbatas untuk wisata alam dan jasa lingkungan memerlukan perencanaan yang cermat sehingga tujuan konservasi dan tujuan sosial ekonomi dapat tercapai. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk membangun model pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang dapat memenuhi tujuan ekologi dan tujuan sosial-ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Sistem Dinamik dengan perangkat lunak STELLA 9.02.  Berdasarkan kajian sebelumnya pengusahaan wisata alam merupakan program pemanfaatan pilihan masyarakat dengan prioritas tertinggi.  Hasil simulasi sesuai kondisi saat ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada perubahan pada variabel kunci pada sepuluh tahun yang akan datang maka terjadi peningkatan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan luas tutupan hutan hanya sampai sebesar 46,63 % dari luas TNGC. Pada simulasi dengan skenario pengembangan terjadi peningkatan secara signifikan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan  tutupan hutan mencapai 68,64 % dari luas TNGC. Model pengusahaan wisata alam ini sangat dipengaruhi oleh peran stakeholders dalam pengelolaan promosi wisata alam, kegiatan restorasi,  pengamanan TNGC untuk menekan gangguan hutan, peningkatan kualitas objek-objek wisata alam, dan sarana jalan akses menuju objek wisata alam, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia taman nasional, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengusahaan wisata alam.  

ZONASI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI BERDASARKAN SENSITIVITAS KAWASAN DAN AKTIVITAS MASYARAKAT

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1223.794 KB)

Abstract

Kawasan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 424/Kpts-II/Menhut/2004 tanggal 19 Oktober 2004. Penetapannya menimbulkan konflik di antara tujuankonservasi hutan dan biodiversitas dan tujuan kesejahteraan masyarakat, karena dinilai tidak disertai olehpenataan batas dan rencana pengelolaan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang zonasi TNGC secara spasial berdasarkan sensitivitas kawasan dan aktivitas masyarakatMetode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan tumpangsusun peta berdasarkanperingkat.Sensitivitas kawasan didasarkan pada analisis kondisi biologi dan fisik kawasan, meliputi analisisdaerah bahaya erosi, daerah tangkapan air, dan daerah perlindungan satwa. Aktivitas masyarakat didasarkanpada jenis dan penyebaran aktivitas masyarakat dalam kawasan TNGC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 36,13% kawasan TNGC diperuntukkan untuk zona inti, 9,36% untuk  zona rimba, 47,89% untuk zonarehabilitasi, 2,09% untuk zona pemanfaatan wisata alam, 4,32% untuk zona pemanfaatan air, 0,11% untuk zona religi, budaya dan sejarah, dan 0,097% kawasan TNGC dimana terdapat fasilitas jalan, saranatelekomunikasi dan listrik yang sudah lama ada sebelum kawasan menjadi taman nasional diperuntukkan sebagai zona khusus 

SELEKSI HABITAT LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus E. Geoffroy SaintHilaire, 1812) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1396.559 KB)

Abstract

Penurunan populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus  E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) yang disebabkan oleh perburuan dan degradasi habitat membutuhkan penangangan konservasi sesegera mungkin. Upayakonservasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien, jika kebutuhan satwa tersebut diketahui. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat yang disukai lutung jawa di level area jelajah dan tapak mikro. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Merapi. Metode penelitian adalah dengan analisis vegetasi pada tingkat pohon dan tiang di plot yang tersedia, yang disusunsecara sistematis (metode systematic sampling, jarak antar plot 300 m) dengan intensitas sampling 0,45% serta pada plot yang digunakan, yang diidentifikasi dengan metode pencarian dengan sampling.Uji Chi-kuadrat dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya seleksi habitat. Regresi logistik dilakukan untuk memprediksi variabel yang memengaruhi probabilitas kehadiran lutung jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat yang diseleksi lutung jawa di level area jelajah adalah: berada pada ketinggian 1.500-2.000 m dpl, kelerengan lebih dari 45%, LBDS pohon tinggi, pohon pakan melimpah dan jauh dari gangguan manusia. Berdasarkan analisis regresi logistik, probabilitas kehadiran lutung jawa  meningkat dengan semakin meningkatnya LBDS pohon, jumlah pohon pakan, ketinggian dan jarak dari gangguan. Probabilitas kehadiran lutung jawa  semakin menurun jika jumlah pohon semakin banyak dan jauh dari sungai

ZONASI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI BERDASARKAN SENSITIVITAS KAWASAN DAN AKTIVITAS MASYARAKAT

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1223.794 KB)

Abstract

Kawasan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 424/Kpts-II/Menhut/2004 tanggal 19 Oktober 2004. Penetapannya menimbulkan konflik di antara tujuankonservasi hutan dan biodiversitas dan tujuan kesejahteraan masyarakat, karena dinilai tidak disertai olehpenataan batas dan rencana pengelolaan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang zonasi TNGC secara spasial berdasarkan sensitivitas kawasan dan aktivitas masyarakatMetode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan tumpangsusun peta berdasarkanperingkat.Sensitivitas kawasan didasarkan pada analisis kondisi biologi dan fisik kawasan, meliputi analisisdaerah bahaya erosi, daerah tangkapan air, dan daerah perlindungan satwa. Aktivitas masyarakat didasarkanpada jenis dan penyebaran aktivitas masyarakat dalam kawasan TNGC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 36,13% kawasan TNGC diperuntukkan untuk zona inti, 9,36% untuk  zona rimba, 47,89% untuk zonarehabilitasi, 2,09% untuk zona pemanfaatan wisata alam, 4,32% untuk zona pemanfaatan air, 0,11% untuk zona religi, budaya dan sejarah, dan 0,097% kawasan TNGC dimana terdapat fasilitas jalan, saranatelekomunikasi dan listrik yang sudah lama ada sebelum kawasan menjadi taman nasional diperuntukkan sebagai zona khusus 

Roosting selection by red and blue Lory (Eos histrio Muller, 1776) in Karakelang Island North Sulawesi

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Red and blue lory is an endemic parrot species from Talaud Islands, North Sulawesi. The use of existing resources is suspected that occurs of selection including the roosting trees. The research aims to identifying the characteristics of Red and Blue Lory roost tree and determining variables in its selection. We measured 14 variables to identify the characteristics and selection of roost tree. Mann-Whitney test, T-test, Chi-sqare test and Binary Logistic Regression were employed to analyze data. We detected 11 roost trees in study field, there are Gehe (Pometia coriacea Radkl) nine individual, Binsar (Ficus variegata) and Lawean (Sterculia sp) one individual. The Chi-square test identified five variables which related to roost tree selection, i.e; branch-free bole length, canopy diameter, canopy density and the number of trees around the roost tree on diameter 20 - 40 cm and > 41 cm. The Logistic regression analysis detected three variables that gave the most influence on roost tree selection, but branch-free bole length gave the most influence on roost tree selection.