Dwi Pudjonarko
Department of Neurology, Faculty of Medicine, Diponegoro University

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

Nyeri Yang Diprovokasi Electric Foot Shock, Daya Bunuh Makrofag dan Penggunaan Imunomodulator BCG pada Mencit Balb/C Pudjonarko, Dwi; Jenie, M. Naharuddin; Dharmana, Edi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2008:MMI Volume 43 Issue 3 Year 2008
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.672 KB)

Abstract

Provocated pain by electric foot shock, macrophage killing ability and the use of BCG as immunomodulator in Balb/C miceBackground: Pain affects immune system through Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) and Symphatetic-adrenal-medullary (SAM) axis. Immunostimulator BCG increase immune system via type I response. The aim of this study is to prove that the decrease of immune response due to pain can be improved by introducing BCG vaccine assessed by macrophage activity.Methods: The study adapts Laboratory Experimental and Post-Test Only Control Group Design. Samples were 24 female Balb/C mice average weight 21.88(SD=1.75) grams and divided into four groups. The control group (C) received no other additional treatment. The BCG group (B) received intra-peritoneal injection of 0.1 ml BCG at day 1st and 11th. The EFS (E) received Electric foot shock 1-3 mA at day 12th to 21st and the BCG+ EFS group (BE) received BCG and EFS as mentioned before. All groups wereintravenously injected with 104 live L. monocytogenes at day 21st and sacrificed at day 26th by chloroform anaesthesia. Then, Macrophages Nitrit Oxyde (NO) concentration and liver bacterial count were measured. Data were analyzed by One Way ANOVA, Post Hoc Test Bonferroni and Pearson’s product moment supported by computer software SPSS 13.0 (significant if p<0.05).Results: There were significant differences in the macrophages NO production and the liver bacterial count (p<0.05) among the groups. The highest number of bacterial count and the lowest number of NO production was found in the E group. In contrast, there were significant differences on the number of bacterial count and NO production between BE group and E group (p>0.05).Conclusions: Pain provocation causes low NO concentration in macrophages and the introduction of BCG could improve the condition.Keywords: Pain, macrophages, NO, bacterial count ABSTRAKLatar belakang: Nyeri dapat mempengaruhi imunitas tubuh melalui aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dan Symphateticadrenal- medullary (SAM) dengan menurunkan produksi sitokin tipe 1. Penggunaan imunostimulator BCG terbukti dapat meningkatkan respon imunitas seluler melalui respon tipe I. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penurunan imunitas seluler yang diakibatkan nyeri dapat diperbaiki dengan pemberian vaksin BCG dengan melihat aktivitas makrofag.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan pendekatan The Post Test – Only Control Group Design yang menggunakan 24 ekor mencit betina strain Balb/C, umur 6-8 minggu. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapatkan makanan standar. Pada Kelompok Kontrol (K), mencit tidak mendapatkan perlakuan, sedangkan kelompok BCG (B) divaksinasi secara intra peritoneal dengan 0,1cc BCG pada hari ke-1 dan ke-11. Kelompok Nyeri (N), mendapat sensasi nyerimenggunakan Electric Foot Shock mulai hari ke-12 sampai 21 dan kelompok Nyeri + BCG (NB) mendapat kombinasi perlakuan N+B. Pada hari ke-21, semua mencit disuntik 104 Listeria monocytogenes hidup secara intravena. Dilakukan terminasi mencit pada hari ke-26 untuk dilakukan pemeriksaan konsentrasi produksi NO makrofag serta hitung kuman organ hepar. Dilakukan uji beda dengan Oneway ANOVA dan korelasi Pearson’s product moment dengan menggunakan software SPSS 13.0.Hasil: Didapatkan adanya perbedaan yang bermakna pada produksi NO makrofag dan hasil hitung kuman organ hepar antar kelompok perlakuan (p<0,05). Pada kelompok Nyeri (N) didapatkan produksi NO makrofag terendah dan jumlah hitung kuman tertinggi. Pada kelompok Nyeri yang mendapat BCG (NB) didapatkan hasil yang berlawanan dan perbedaannya bermakna dalam variabel yang diteliti dibandingkan dengan kelompok Nyeri yang tidak mendapat BCG (N) (p<0,05).Simpulan: Provokasi nyeri menyebabkan rendahnya konsentrasi NO makrofag dan penggunaan BCG dapat memperbaiki keadaan tersebut.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI Dan DIABETES MELLITUS TERHADAP KELUARAN MOTORIK STROKE NON HEMORAGIK Kurniawan, Caesar; Pudjonarko, Dwi
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai hubungan faktor risiko mayor hipertensi dan diabetes mellitus dengan terjadinya stroke, akan tetapi masih sedikit penelitian yang menghubungkan dengan keluaran motorik penderita Hipertensi, diabetes mellitus dengan keluaran yang dinilai dengan Indeks Barthel.Tujuan: Membuktikan adanya hubungan faktor risiko hipertensi dan diabetes mellitus dengan keluaran motorik penderita stroke non hemoragik.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian obsevarsional dengan desain cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 29 responden adalah pasien Stroke Non Hemoragik yang didapat dari bangsal saraf RSUP dr. Kariadi Semarang. Subyek yang memenuhi faktor risiko hipertensi dan diabetes mellitus dimasukkan dalam pendataan untuk diwawancarai dan diperiksa indeks barthel.Hasil: Hubungan antar variabel dianalisa dengan uji bivariat (x2) dan multivariat ( regresi logistik ). Hubungan dinyatakan bermakna bila p < 0,05. Jenis kelamin dan umur tidak berkorelasi dengan indeks barthel (p > 0,05). Demikian juga Hipertensi, DM, Dislipidemia dan Perokok tidak berhubungan dengan Indeks Barthel (p > 0,05). Dilakukannya Uji Regresi Logistik mendapatkan hasil konstanta atau tidak signifikan karena p > 0,05. Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik tidak menunjukkan adanya korelasi Jenis kelamin, usia, hipertensi, diabetus melitus, dislipidemia, kebiasaan merokok terhadap pemeriksaan indeks barthel.Simpulan: Jenis kelamin, usia, hipertensi, diabetus melitus, dislipidemi, kebiasaan merokok tidak memiliki hubungan dengan keluaran pasien stroke non hemoragik yang dinilai menggunakan indeks barthel.
Correlation of Folic Intake and Internal Carotid Artery Intima-Media Thickness Changes In Post Ischemic Stroke Patients Tugasworo, Dodik; Pudjonarko, Dwi; Latifah, Latifah
International Journal of Science and Engineering Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.464 KB) | DOI: 10.12777/ijse.8.2.159-166

Abstract

The thickness of the carotid artery intima media / intima-media thickness (IMT) is one of atherosclerosis markers. Atherosclerosis is one of the causes of ischemic stroke. Some studies suggest that low folate intake is predicted to affect the atherosclerotic process, but this remains controversial. Our objective is to analyze the relationship between folate intake with changes in the internal carotid artery IMT after ischemic stroke patients.The study is one group pretest posttest design with 72 post ischemic stroke subjects from neurology polyclinic of Kariadi Hospital, from June to December 2013. Folate intake was measured by Food Frequency Questionnaire and the internal carotid artery IMT by duplex ultrasonography. Measurements were taken at two periods with 6 months interval. Other factors that affect atherosclerosis consisting of age, obesity, hypertension, dyslipidemia, diabetes mellitus. The analysis in this study using Spearman correlation, chi-square and logistic regression. Resultwas significant if the p value were <0.05.There were 44 male subjects (61.1%) and 28 female subjects (38.9%). The mean age was 61.6 (SD = 7.99) years. The mean intake of folate was 178.10 (SD = 38.875) mg / day. Median serum folic acid level 8.43 (4.96 to 55.01) NML / L. The mean change in ICA IMT was 0.10 (SD = 0.156) mm. Folate intake was not correlated with serum levels of folic acid. Serum folic acid levels are not correlated with changes in the internal carotid artery IMT. There was correlation between the risk factors of age, BMI, hypertension, diabetes and dyslipidemia with changes in the internal carotid artery IMT.
The role of fluoxetine on macrophage function in chronic pain (Experimental study in Balb/c mice) Pudjonarko, Dwi; Dharmana, Edi; Hartanto, OS
International Journal of Science and Engineering Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.319 KB) | DOI: 10.12777/ijse.9.1.27-33

Abstract

Chronic pain raises stress conditions such as depression that can lower the cellular immunity. Fluoxetine is an antidepressant  used as an adjuvant in pain management but no one has been linked it with the body immune system. The objectives of this research were to proof the benefits of fluoxetine in  preventing degradation of macrophage function in chronic pain by measuring the macrophage phagocytic index , macrophage NO levels and the liver bacterial count in BALB/c mice infected with Listeria Monocytogenes.A Post Test - Only Control Group Design was conducted using 28 male mice strain BALB /c, age 8-10 weeks. The control group (C), mice got the same standard feed as the other groups. Chronic pain group (P), mice were injected with 20μL intraplantar CFA on day-1. Pain + fluoxetine early group (PFE) were treated with P + fluoxetine 5 mg / kg ip day-1, the 4th, the 7th and the 10th, while the Pain + fluoxetine late group (PFL) were treated with P + fluoxetine 5 mg / kg ip on day 7th and 10th. All mice were injected with 104 live Listeria monocytogenes iv on day 8th. Termination was performed on day 13th. Differences within groups  were analyzed using  One-way ANOVA and Kruskall Wallis, whereas the correlation of variables were analyzed using  Pearsons product moment. The experimental results showed that The macrophage phagocytic index and NO macrophage level (pg/mL) in PFE group(2,24±1,013; 0,24±0,239) was higher than than P group (1,68±0,920; 0,21±0,263) and there was no different in the macrophage phagocytic index of PFE group compared to C group (p=0,583; p=0,805). In PFL group (4,32±1,459; 0,54±0,294) the macrophage phagocytic index as well as NO macrophage level (pg/mL) was higher than P group (1,68±0,920; 0,21±0,263) with p=0,002; p=0,017. P group Bacterial count (log cfu/gram) (2,30±0,849) was significantly higher than C group(1,15±0,223) (p=0,007), while PFE group bacterial count (1,96±0,653) and PFL group bacterial count (1,84±0,403) compared to C (1,15± 0,223) was not significantly different (p=0,093; p=0,220). Correlation found between macrophage phagocytic index and macrophage NO (r=0,515, p=0,005).Macrophage phagocytic index and macrophage NO showed no correlation with bacterial count (r=-0,051, p=0,798; r=-0,071, p=0,719).It can be concluded that fluoxetine significantly incerases macrophage phagocytosis index and macrophages NO level in mice with chronic pain,  on the other hand fluoxetine decreases liver bacterial count . There is a positive correlation between macrophage phagocytosis index and macrophages NO level, while no correlation observed  among two variables with mice liver bacterial count in chronic pain.
HUBUNGAN JUMLAH LEUKOSIT SAAT MASUK DENGAN KELUARAN PASIEN STROKE NON HEMORAGIK Poonatajaya, Yoshua Kevin; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 4 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background Infarct lession in brain activated hematopoietic process in bone marrow. Leukocyte count on acute phase was suspected to have a correlation with ischemic stroke outcome.Aim To find the correlation between leukocyte count on admission and patient ischemic stroke outcome on discharge.Methods This analytic observational study used cross sectional design. Twenty-one patients of ischemic stroke matching with inclusion and exclusion criteria were included consecutively following discharge order. NIHSS score was evaluated on discharge day, whereas leukocyte count was taken from medical record. Statistics test was using Pearson Correlation test and logistic regression.Results The mean of leukocyte count on admission was 9,37 x103 /μl (SD=0,668). The mean of NIHSS score was 4,43 (SD=0,893). Pearson correlation test found a weak positive correlation between leukocyte count on admission and NIHSS score on discharge (p = 0,036; r = 0,460). Logistic regression found that there was no significant difference on clinical outcome between patient who had leukocyte count more than 8,6 x103 /μl and patient who had leukocyte count less than 8,6 x103 /μl (p = 0,060).Conclusion There was a weak positive correlation between leukocyte count on admission and patient outcome on discharge
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI Dan DIABETES MELLITUS TERHADAP KELUARAN MOTORIK STROKE NON HEMORAGIK Kurniawan, Caesar; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 4, No 1 (2015): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Background: Several studies have been conducted on the relationship of the major risk factors of hypertension and diabetes mellitus with the occurrence of stroke, but still a little research that connects people with motor output Hypertension, diabetes mellitus, with output that is assessed by the Barthel Index.Objective: To prove the existence of the relationship of risk factors of hypertension and diabetes mellitus with a motor output of non-hemorrhagic stroke patients.Methods: This study is a cross-sectional design obsevarsional. The research subjects were 29 respondents are non Haemorrhagic Stroke patients were obtained from the nervous hospital ward dr. Kariadi Semarang. Subjects who meet the risk factors of hypertension and diabetes mellitus included in the data collection to be interviewed and examined Barthel index.Results: The relationship between variables was analyzed by bivariate test (x2) and multivariate (logistic regression). Relationship declared significant if p <0.05. Gender and age did not correlate with the Barthel index (p> 0.05). Likewise, hypertension, diabetes, Dyslipidemia and Smoker is not associated with the Barthel Index (p> 0.05). Logistic Regression Test does get constant results or not significant because p> 0.05. Results of multivariate logistic regression analysis showed no correlation Gender, age, hypertension, diabetus mellitus, dyslipidemia, smoking habits of the Barthel index examination.Conclusion: Gender, age, hypertension, diabetus mellitus, dislipidemi, smoking does not have a relationship with the output of non-hemorrhagic stroke patients were assessed using the Barthel index.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FUNGSI KOGNITIF PENDERITA STROKE NON HEMORAGIK Pramudita, Arina; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.856 KB)

Abstract

Latar Belakang : Stroke dan penyakit kardiovaskuler lainnya masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia dan diperkirakan akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030. Stroke non hemoragik atau stroke iskemik adalah yang terbanyak. Sejumlah faktor risiko stroke sudah diketahui seperti usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dislipidemia, obesitas, kebiasaan merokok, serta pola hidup sedentari. Pengaruh stroke juga sudah diketahui salah satunya mempengaruhi fungsi kognitif. Salah satu pemeriksaan fungsi kognitif bagi penderita stroke adalah MMSE dimana pemeriksaan ini merupakan skrining penilaian psikometri yang paling sering dipakai. MMSE ini sangat mudah dan relatif cepat.Tujuan : Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi kognitif pada penderita stroke non hemoragik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang. Subyek penelitian sebanyak 15 pasien dengan teknik consecutive sampling. Data yang digunakan merupakan data primer yaitu hasil MMSE dan data sekunder yaitu rekam medis dari April 2016 sampai Juni 2016. Uji statistik menggunakan uji Chi-square.Hasil : Terdapat 15 pasien yang terdiri dari 9 wanita dan 6 pria. Tidak didapatkan pengaruh antara faktor usia (p 0,842), jenis kelamin (p 0,792), riwayat keluarga stroke (p 0,519), hipertensi (p 0,080), riwayat penyakit kardiovaskular (p 0,080) , DM (p 0,792), dislipidemia (0,438), obesitas (0,438), kebiasaan merokok (p 0,770), serta pola hidup sedentari (p 0,519).Kesimpulan : Tidak terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi kognitif pada penderita stroke non hemoragik.
KORELASI ANTARA VOLUME PERDARAHAN INTRASEREBRAL DENGAN NILAI INDEKS BARTHEL PADA STROKE HEMORAGIK Sholiha, Ahda Amila; Sukmaningtyas, Hermina; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.1 KB)

Abstract

Latar Belakang : Stroke merupakan 9% penyebab kematian dan merupakan penyebab tertinggi kedua kematian di dunia. Stroke hemoragik intraserebral merupakan jenis kedua terbanyak dari pasien stroke setelah stroke iskemik. Sejumlah faktor risiko stroke telah diketahui. Luaranstroke dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain penurunan GCS, lokasi perdarahan di infratentorial, perluasan intraventrikuler dan adanya peningkatan waktu pembekuan darah. Volume perdarahan disebutkan sebagai faktor paling kuat dibanding faktor lainnya. Penilaian luaran stroke dapat dinilai dalam waktu singkat dengan menggunakan indeks barthel dengan reabilitas yang cukup tinggi yaitu 0,95.Tujuan : Mengetahui korelasi antara volume perdarahan intraserebral dengan nilai indeks barthel pada stroke hemoragik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan belah lintang. Penelitian ini dilaksanakan di RS Dr Kariadi Semarang Subyek penelitian sebanyak 29 pasien dengan teknik purposive sampling. Data yang digunakan merupakan data sekunder yaitu rekam medis dari Januari 2015 sampai Juni 2016. Uji statistik menggunakan uji korelasi Spearman dimana p bermakna bila p<0,05.Hasil : Terdapat 29 pasien yang terdiri dari 12 laki-laki dan 17 perempuan. Tidak didapatkan korelasi antara volume perdarahan terhadap nilai indeks barthel dimana nilai p o,391. Hubungan yang bermakna didapatkan antara obesitas terhadap nilai indeks barthel dengan nilai p sebesar 0,033. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterolemia, obesitas, perdarahan subarakhnoid, dan perluasan intraventrikuler terhadap indeks barthel (p=0,704; 0,669; 1,00; 0,354; 0,362; 1,00; dan 1,00).Kesimpulan : Tidak terdapat korelasi antara volume perdarahan intraserebral dengan nilai indeks barthel pada stroke hemoragik.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FUNGSI KOGNITIF PENDERITA STROKE NON HEMORAGIK Pramudita, Arina; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.856 KB)

Abstract

Latar Belakang : Stroke dan penyakit kardiovaskuler lainnya masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia dan diperkirakan akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030. Stroke non hemoragik atau stroke iskemik adalah yang terbanyak. Sejumlah faktor risiko stroke sudah diketahui seperti usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dislipidemia, obesitas, kebiasaan merokok, serta pola hidup sedentari. Pengaruh stroke juga sudah diketahui salah satunya mempengaruhi fungsi kognitif. Salah satu pemeriksaan fungsi kognitif bagi penderita stroke adalah MMSE dimana pemeriksaan ini merupakan skrining penilaian psikometri yang paling sering dipakai. MMSE ini sangat mudah dan relatif cepat.Tujuan : Mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi kognitif pada penderita stroke non hemoragik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang. Subyek penelitian sebanyak 15 pasien dengan teknik consecutive sampling. Data yang digunakan merupakan data primer yaitu hasil MMSE dan data sekunder yaitu rekam medis dari April 2016 sampai Juni 2016. Uji statistik menggunakan uji Chi-square.Hasil : Terdapat 15 pasien yang terdiri dari 9 wanita dan 6 pria. Tidak didapatkan pengaruh antara faktor usia (p 0,842), jenis kelamin (p 0,792), riwayat keluarga stroke (p 0,519), hipertensi (p 0,080), riwayat penyakit kardiovaskular (p 0,080) , DM (p 0,792), dislipidemia (0,438), obesitas (0,438), kebiasaan merokok (p 0,770), serta pola hidup sedentari (p 0,519).Kesimpulan : Tidak terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi gangguan fungsi kognitif pada penderita stroke non hemoragik.
PENGARUH RANITIDIN TERHADAP DEGENERASI AKSON AKIBAT NEUROPATI NERVUS OPTIK (STUDI PADA TIKUS WISTAR DENGAN INTOKSIKASI METANOL AKUT) Putri, Ersananda Arlisa; Pudjonarko, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.435 KB)

Abstract

Latar Belakang: Insidensi keracunan alkohol di Indonesia terbilang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh karena penggunaan metanol sebagai bahan campuran pembuatan alkohol oplosan. Diketahui bahwa metabolisme metanol bersifat toksik bagi tubuh manusia. Salah satu implikasinya adalah kerusakan saraf optik yang dapat menyebabkan kebutaan. Penggunaan ranitidin sebagai Antidotum untuk mengurangi efek toksisitas metanol telah dipelajari sebelumnya. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut tentang efek pemberian ranitidin dosis bertingkat terhadap degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ranitidin dosis bertingkat terhadap degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus Wistar dengan intoksikasi metanol akut. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Penelitian ini dibagi menjadi empat kelompok, yaitu terdiri dari: 2 kelompok perlakuan, 1 kelompok kontrol positif, dan 1 kelompok kontrol negatif dengan 6 tikus di masing-masing kelompok. Kelompok perlakuan pertama diberi metanol 14 g / kgbb, dan setelah 30 menit diberikan ranitidin 30mg / kgBB. Kelompok perlakuan kedua diberi metanol 14 g / kgbb, dan setelah 30 menit diberikan ranitidin 60 mg/kgbb . Kelompok kontrol negatif diberi aquades oral saja, sedangkan kontrol positif diberikan metanol per oral 14g / kgBB tanpa pemberian ranitidin. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberikan intoksikasi metanol saja (kelompok kontrol positif) dengan kelompok yang diberikan ranitidin 60 mg/kgBB setalah 30 menit intoksikasi metanol (kelompok perlakuan 2) (p = 0,02), dan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberikan intoksikasi metanol saja (kelompok kontrol positif) dengan kelompok yang diberikan diberikan ranitidin 30 mg/kgBB setelah 30 menit intoksikasi metanol (kelompok perlakuan 1) (p = 0,452). Kesimpulan: Ranitidin dosis 60 mg/kgbb yang diberikan 30 menit setelah intoksikasi metanol akut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kejadian degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut.Kata Kunci: Metanol, Ranitidin, Tikus Wistar, Nervus Optik, Degenerasi Akson