Articles

Found 10 Documents
Search

Diversitas Ikan pada Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat Hernowo, Rusman; Djumanto, Djumanto; Probosunu, Namastra
Biota Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengkaji keragaman ikan-ikan karang dan mengetahui penutupan terumbu karang di perairan Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat. Penelitian dilaksanakan dari akhir bulan April sampai awal bulan Mei 2012 di perairan Pulau Menjangan. Jumlah stasiun pengamatan ditetapkan sebanyak 8 lokasi berdasarkan perbedaan habitat. Pengukuran kondisi lingkungan dan pengambilan sampel dilakukan dengan penyelaman pada kedalaman 3 dan 10 m. Jumlah dan jenis ikan yang berada pada jangkauan 2,5 m dari transek sepanjang 50 m disensus dengan metode Underwater Visual Census. Jenis ikan karang diidentifikasi secara langsung insitu. Jenis dan luas penutupan karang dicatat dengan metode Line Intercept Transect. Pencatatan jenis terumbu karang yang dilewati transek didasarkan pada bentuk pertumbuhan (lifeform), sedangkan luas penutupan terumbu karang menggunakan Lifeform Report. Data yang diperoleh dianalisis secarakuantitatif berdasarkan indeks biologis. Hasil dari penelitian diperoleh nilai indeks keanekaragaman ikan (H’) berkisar antara 0,8499–2,1360, keseragaman (E) antara 0,36–0,73 dan indeks dominansi (C) berkisar antara 0,163–0,647. Cacah individu ikan sebanyak 5753 ekor dari 62 genus yang berasal dari 32 suku, sedangkan kemelimpahan ikan (D) berkisar antara 0,756–2,680 ekor/m2. Jumlah individu dan suku ikan mayor dominan pada semua lokasi. Tutupan terumbu karang berada pada kisaran 0,66–67,34% yang dikategorikan pada kondisi sedang hingga baik.Kata kunci: keragaman, ikan, terumbu karang, Pulau Menjangan, Bali
Kondisi Terumbu Karang di Kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta Seto, Drajad Sarwo; -, Djumanto; Probosunu, Namastra
Journal of Biota Biota Volume 19 Nomor 1 Tahun 2014
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe objective of this research was to determine the condition of coral reefs, namely the percentage of coral covered, species distribution, community structure of coral, and the environmental conditions surround the core zone, protection zone, tourism zone, and residential zone in Kepulauan Seribu Marine National Park DKI Jakarta. The research was conducted from 8 to 16 May, 2013. The data was collected from four zones and each zone was set up into two stations as a point observation, at the depth of 79 meters. The percentage of coral coverring was calculated by line intercept transect method, coral genera was counted and identified using the belt transect method. Coral data was analyzed qualitatively based on ecological index. The results showed that the coral covering was range from 7.25 to 68.93% as categorized from bad to good condition. The number of coral was found approximately of 5.523 colonies that consisted of 45 genera and 16 families. The most abundance of coral was Porites and Montipora with percentage of 19.7% and 16.69%, respectively. Coral diversity index was ranged from 1.61 to 3.07 as indicated of low to high. Uniformity index was ranged from 0.44 to 0.68, which was the community in stressful to labile situation. Dominance index (D) was ranged from 0.06 to 0.32 showing that coral dominance was absence.Keywords: Coral reef, cover, diversity, Kepulauan SeribuAbstrakPenelitian ini bertujuan mengetahui kondisi terumbu karang yang meliputi persentase tutupan, sebaran, struktur komunitas dan kondisi lingkungan di zona inti, perlindungan, pemanfaatan wisata, dan pemukiman di kawasan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2013. Pengambilan data berada pada empat zona pengelolaan dan setiap zona ditetapkan sebanyak dua stasiun pengamatan pada kedalaman 79 meter. Persentase tutupan karang dihitung dengan metode Line Intercept Transect, genera karang dihitung dan diidentifikasi menggunakan metode Belt Transect. Data jenis karang yang diperoleh dianalisis kualitatif berdasarkan indeks ekologis. Hasil penelitian diperoleh persentase tutupan karang berada pada kisaran 7,2568,93% yang dikategorikan kondisinya buruk hingga baik. Jumlah karang dari seluruh stasiun penelitian sebanyak 5.523 koloni yang terdiri dari 45 genera dan 16 famili. Genus karang yang paling sering dijumpai adalah Porites dan Montipora dengan persentase kelimpahannya masing-masing 19,7% dan 16,69%. Nilai indeks keanekaragaman (H’) karang berkisar antara 1,613,07 yang tergolong rendah hingga tinggi. Indeks keseragaman berkisar 0,440,68 yang berarti komunitas dalam keadaan tertekan hingga labil. Nilai indeks dominansi (D) berkisar 0,060,32 yang menunjukkan dominansi karang tertentu tergolong rendah.Kata kunci: Tutupan, terumbu karang, keragaman, Kepulauan Seribu
Inventarisasi Ikan Hias Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta: Sebuah Kajian Awal Sidharta, Boy Rahardjo; Probosunu, Namastra ; Suwarman, Suwarman
Journal of Biota BIOTA Volume 16 Nomor 1 Tahun 2011
Publisher : Journal of Biota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian “Inventarisasi Ikan Hias di Pantai Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)” ini diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat dan tepat tentang keberadaan ikan hias di kawasan ini. Kawasan kajian berdasar survei kawasan/lingkungan menetapkan delapan (8) pantai di Kabupaten Gunungkidul sebagai lokasi kajian. Dari delapan pantai tersebut didapat sebanyak 67 jenis ikan hias. Temuan ini seyogianya segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang dalam bentuk penetapan rencana strategis (renstra) yang terkait dengan sumber daya ikan hias, meliputi antara lain: rencana konservasi, pemintakatan (zonasi), pengelolaan, pengembangan, dan pemanfaatan secara berkelanjutan.
Komunitas Krustasea di Kawasan Mangrove Desa Jangkaran Kabupaten Kulon Progo Amalia, Sholihat; Djumanto, Djumanto; Probosunu, Namastra
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kemelimpahan krustasea di kawasan mangrove Desa Jangkaran Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo. Sampling dilakukan setiap dua minggu sekali dari bulan Oktober 2016 sampai Februari 2017 pada enam stasiun yang ditetapkan berdasarkan karakter ekologis. Pengambilan sampel Krustasea dilakukan menggunakan jala tebar, pintur dan hand picking di sepanjang sungai dengan luasan tiap stasiun pengambilan sekitar 10 m2. Sampel krustasea yang tertangkap dibersihkan, disimpan dalam cool box yang diberi es dan dibawa kelaboratorium untuk diidentifikasi dan dikelompokkan sesuai dengan jenisnya, kemudian diukur panjang karapas dan berat individu. Pengamatan lingkungan perairan dilakukan dengan mengukur suhu, kecerahan,  kedalaman perairan, kecepatan arus, pH, salinitas, oksigen terlarut, dan jenis substrat. Hasil pengamatan didapatkan 1 ordo, 7 famili, dan 26 spesies. Famili krustasea yang ditemukan yaitu Coenobitidae, Diogenidae, Grapsidae, Ocypodidae, Palaemonoidae, Penaeidae, dan Portunidae. Jenis Krustasea paling banyak ditemukan adalah udang putih (Penaeus merguiensis) sebanyak 25,06 %, kelomang (Clibanarius sp.) sebanyak 10,85%, dan Uca annulipes sebanyak 10,59%. Jenis krustasea yang paling sedikit ditemukan adalah Varuna Yui sebanyak 0,13% dan Ocypode sp. sebanyak 0,26%. Nilai kemelimpahan 25,4 ind/m2, indeks keanekaragaman 2,60, indeks kemerataan 0,87 dan indeks dominansi 0,18.
PEMANFAATAN Azolla sp. UNTUK PENURUNAN KANDUNGAN COD DALAM LIMBAH LAUNDRY Mentari, Ammelia; Probosunu, Namastra; Adharini, Ratih Ida
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Azolla sp.dalam memperbaiki kualitas air limbah laundry utamanya parameter kandungan COD. Penelitian dilakukan menggunakan 6 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan dan disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan terdiri dari P0 (0 gram), P1 (50 gram), P2 (100 gram), P3 (150 gram), dan P4 (200 gram) yang diletakan dalam bak berisi 30 liter air limbah laundry dengan pengenceran 50%. Parameter kualitas air yang diamati yaitu COD, pH, suhu air, dan biomassa setiap 7 hari selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa Azolla sp. memiliki kemampuan untuk memperbaiki kualitas air limbah laundry terutama menurunkan COD. Limbah laundry setelah diperlakukan dengan Azolla sp. selama 21 hari nilai COD turun dari 133,43 mg/L menjadi 41,52 mg/L. Kepadatan dan waktu efektif Azolla sp. dalam memperbaiki kualitas air limbah laundry yaitu pada perlakuan 150 gram selama 7 hari karena memerlukan waktu yang lebih singkat sehingga lebih efisien.
IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PADA KUDA LAUT (Hippocampus kuda) DI BALAI BUDIDAYA LAUT, LAMPUNG Adiputra, Yudha Trinoegraha; Triyanto, Triyanto; Probosunu, Namastra
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sea horse (Hippocampus kuda) is one of the ornamental marine organisms and raw material of traditional medicine. Since 1993, Seafarming Development Centre, Lampung has pioneered a research and  culture  of sea horse in Indonesia. The serious problem in the culture of sea horse is pathogenic bacteria caused death of juveniles and broodstocks. The objective of this study was to identify pathogenic bacteria isolated from  sea horse in Seafarming Development Centre. Koch Postulate test was carried out, and then the pathogenic bacteria were identifed by morphological and biochemical tests. Results showed that from a total of 6 bacterial strains isolated from diseased sea horse, 3 strains were pathogenic bacteria to sea horse. These 3 pathogenic bacteria caused identical disease signs with the initial disease signs when the bacteria were isolated.  Morphological and biochemical tests suggested that  the pathogenic bacteria could be identified to be Vibrio fluvialis, V. alginolyticus and V. hollisae. 
INDEK BIOTIK FAMILI SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS AIR SUNGAI GAJAHWONG YOGYAKARTA Djumanto, Djumanto; Probosunu, Namastra; Ifriansyah, Rudy
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to determine water quality level of Gajahwong River, Yogyakarta with the present of macroinvertebrate as biologycal indicators. The sampling was conducted in the Gajahwong River fl ow from Pakem subdistrict in Sleman regency to Pleret subdistrict in Bantul regency. There were six sampling stations, and sampling was conducted once a week for two months from mid October to December 2011. Samples of macroinvertebrate were collected by poking substrate in front of surber net mouth so that macroinverterbrate were drifted into surber and trapped in pocket net. Samples were preserved in 5% formaldehide solution then identifi catifi ed and anlyzed in the laboratory.The species number of macroinvertebrate were analyzed as biotic index, such as diversity index, evenness index, dominance index and biotic family index (BFI). Environment parameter measured include physical and chemical properties. The physical parameter collectednamely subtrate type, river depth and stream width, fl ow velocity, temperature and total suspended solid (TSS). The chemical parameter collected namely dissolved oxygen, free CO2, alcalinity,organic matter and pH. The results showed that fl ow rate was varied 0.51-0.80 m/det decrease to downstream direction.The water depth was ranging from 19.9 to 49.8 cm tend to increase downstream direction. Total suspended solid (TSS) was ranging from 8.5 to 14.2 mg/l and tend to be higher in the central city of Yogyakarta. Dissolved oxygen concentration was 6.0-7.2 mg/l while CO2 was 0.7-1.9 mg/l. Organic matter was 22.8-25.1 mg/l and pH was in the range of neutral. The density of macroinvertebrate was 88 individual/m2, the taxa number in each station was 7-12 species, diversity index was 1.48-2.09, evenness index 0.76-0.85 and dominance index was 0.10-0.27, and there was not found dominance organism among the stations samplings. The highest density was Limnaea tranculata and Potamopyrgus jenkinsi. Index biotic family ranging from 5.95 to 6.64 showing the water environment was poor and there has been pollution caused by garbage disposal of communities surround the river also waste disposal from resident along the watershed.
BUDIDAYA TERPADU LELE DUMBO DENGAN TANAMAN ECENG GONDOK (Eichornia crassipes), KANGKUNG AIR (Ipomea aquatica) DAN KAPU-KAPU (Pistia stratiotes) Triyatmo, Bambang; Probosunu, Namastra
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Catfish (Clarias gariepinus) was cultured with an aquatic plant, water hyacinth/eceng gondok  (Eichornia crassipes), kangkung air (Ipomea aquatica) or kapu-kapu (Pistia stratiotes) in concrete ponds, for 3 months. Catfish cultured without aquatic plant was used as a control. The experiment was carried out to evaluate the survival rate as well as the growth of fish and aquatic plants.The survival rates of catfish cultured with I. aquatica, E. crassipes, and P. stratiotes were 76, 87, and 98%, respectively. In addition the survival rate of catfish cultured without any aquatic plant was 93%. The weight gain of catfish was 14,1-16,2 kg per pond. Whereas, the total weight gains of aquatic plant were 37,0,  27,7 and 7,7 kg per pond for E. crassipes, P. stratiotes, and I. aquatica,. Respectively. Dissolved oxygen, and the concentrations of NH3, NH4+ and PO43- in water with aquatic plants were higher than that of in water without aquatic plant. However, the concentration of CO2 was higher in water with aquatic plant.
KAJIAN PERUBAHAN KUALITAS AIR SUNGAI BUNTUNG AKIBAT PEMBUANGAN LIMBAH PETERNAKAN BABI DI DESA BANYURADEN GAMPING SLEMAN Probosunu, Namastra; Lelana, Iwan Y.B.; Sudarmadji, Sudarmadji
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 5, No 1 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buntung Stream is one of the tributaries of Bedog Stream. The Bedog Stream and its tributaries in Bayem, subdistrict of Kasihan to their upstream are categorized as river of B group. The activity of pig raising which have been carried out by some people in BanyuradenGampingSleman which throw away the wastes in this area likely to have effect on physical, chemical, and biological water qualities, especially coliform bacteria.The objectives of this research were to know the changes on the water quality of Buntung Stream due to pig raising waste disposal in BanyuradenGampingSleman and to give alternative solution to the problem. Observation were conducted on the physico-chemical and also biological water qualities of the stream at four stations: Station I (±800 m upstream of the waste disposal point), Station II (at the waste disposal point), Station III (±500 m downstream of the waste disposal point), and Station IV (±900 m downstream of the waste disposal point, before the encountering of Buntung and Bedog Stream). The samples were collected at the station between 09.00-12.00 a.m repeated 10 times during June-July 2001.Based on the data analyses, it could be drawn some conclusions as follows: the pig raising wastes disposal into Buntung Stream increased water discharge and quantities of coliform group and coliform feces. The waste disposal increased total dissolved solids, ammonia, and phosphate contents but decreased dissolved oxygen and pH of the water, and did not affect the water velocity, temperature, and nitrate content. In addition, BOD5 dissolved     oxygen, and the density of coliform bacteria in Buntung Stream after receiving the pig raising wastes disposal were beyond the B group of the water quality standard in the Special Province of Yogyakarta, whereas the content of total dissolved solids, pH, ammonia, and nitrate were still within the range of the water quality standard.
SEBARAN LOKASI PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI PULAU SANGALAKI KEPULAUAN DERAWAN KABUPATEN BERAU Ibrahim, Andi; Djumanto, Djumanto; Probosunu, Namastra
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Populasi penyu hijau (Chelonia mydas) yang bertelur di kawasan konservasi kepulauan Derawan semakin menurun disebabkan oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah peneluran tiap induk penyu hijau dan korelasinya terhadap naungan, lebar pantai berpasir dan fase bulan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 24 Januari–31 Maret 2015 berlokasi di Pulau Sangalaki. Pengamatan induk bertelur dilakukan dengan menyusur pantai tiap malam untuk menemukan induk yang sedang bertelur. Pada induk yang sudah bertelur, maka sarangnya diberi tanda di lokasi tempat bertelur. Pada hari berikutnya dilakukan penggalian sarang, pengambilan telur, dan pengukuran kondisi lingkungan tempat peneluran. Data yang dikumpulkan adalah jumlah telur tiap sarang dan kondisi lingkungan tempat peneluran. Kondisi lingkungan yang diukur meliputi kedalaman sarang, suhu substrat, jarak sarang terhadap naungan dan garis pantai saat surut terendah. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap jumlah telur dan parameter lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan rerata jumlah telur tiap sarang sebanyak 97 butir dengan kisaran 45–127 butir, ukuran panjang karapas 96 cm dengan kisaran 86-107 cm, rerata kedalaman sarang 73 cm dengan kisaran 56-87 cm. Penyu yang bertelur semakin banyak akan menggali sarang semakin dalam, namun tidak ada korelasi antara panjang karapas dengan jumlah telur. Jumlah rerata induk penyu hijau yang bertelur di Pulau Sangalaki adalah 486 ekor/bulan dengan kisaran 168–1085 ekor/bulan. Musim barat dan timur mempengaruhi frekuensi peneluran. Frekuensi peneluran terjadi sepanjang tahun dan frekuensi peneluran paling tinggi terjadi pada bulan Agustus yang bertepatan dengan puncak musim Timur. Frekuensi peneluran pada musim Timur empat kali lebih banyak daripada saat musim Barat. Frekuensi pendaratan penyu hijau tidak dipengaruhi oleh fase bulan. Berdasarkan lokasi penyu hijau bertelur, pantai yang banyak dipilih untuk lokasi bertelur terdapat di sebelah barat laut, timur laut dan selatan Pulau Sangalaki. Sarang penyu hijau lebih banyak ditemukan pada daerah naungan vegetasi (64%) daripada daerah pasir terbuka (36%).