Articles

Found 22 Documents
Search

PENINGKATAN KECERAHAN WARNA UDANG RED CHERRY (Neocaridina heteropoda) JANTAN MELALUI PEMBERIAN ASTAXANTHIN DAN CANTHAXANTHIN DALAM PAKAN

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.007 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan dosis penambahan suplemen warna astaxanthin dan canthaxanthin pada pakan buatan yang dapat meningkatkan kecerahan warna udang red cherry (Neocaridina heteropoda) jantan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa astaxanthin dan canthaxanthin, pakan dengan 100 mg/kg astaxanthin, pakan dengan 100 mg/kg canthaxanthin, dan pakan dengan 50 mg/kg astaxanthin dan 50 mg/kg canthaxanthin. Parameter yang diamati meliputi tingkat perubahan warna, kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kualitas air. Data kelangsungan hidup dan pertumbuhan dianalisis dengan ANOVA uji F dengan tingkat kepercayaan 95%. Data perubahan warna dianalisis dengan menggunakan analisis Kruskal-Wallis. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan astaxanthin dan canthaxanthin dalam pakan buatan dapat meningkatkan kecerahan warna udang red cherry jantan. Penambahan 100 mg/kg canthaxanthin dalam pakan buatan menghasilkan peningkatan kecerahan warna dengan nilai yang lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil ANOVA uji F, tidak ada perbedaan signifikan antar perlakuan dalam kelangsungan hidup dan pertumbuhan.

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BUNGA MARIGOLD DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP KUALITAS WARNA, KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS KOKI (Carassius auratus)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan yang dapat meningkatkan kualitas warna, kelangsungan hidup dan pertumbuhan pada benih ikan mas koki (Carassius auratus) varietas oranda. Metode  penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah A (0% tepung bunga marigold), B (0,5% tepung bunga marigold), C (1,0% tepung bunga marigold), D (1,5% tepung bunga marigold) dan E (2,0% tepung bunga marigold). Analisis yang digunakan yaitu Anova uji F dengan taraf 5% dan dilanjutkan uji jarak berganda Duncan dengan kepercayaan 95%. Parameter yang diamati adalah pengamatan kualitas warna, kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan tepung bunga marigold ke dalam pakan buatan, maka semakin tinggi  nilai chroma pada tubuh ikan mas koki. Penambahan tepung bunga marigold sebesar 1,5% dari total pakan buatan memberikan peningkatan kualitas warna benih ikan mas koki terbaik yaitu sebesar 127,53% dengan kandungan chroma akhir sebesar 54,54 dan warna yang dihasilkan kuning pekat (oranye). Penambahan tepung bunga marigold tidak memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan mas koki. 

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG REBON PADA PAKAN BUATAN TERHADAP NILAI CHROMA IKAN MAS KOKI (Carassius auratus)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.525 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penambahan tepung udang rebon dalam pakan buatan yang tepat sehingga akan meningkatkan warna pada ikan mas koki (Carassius auratus). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2012 sampai dengan 20 Juli 2012 di Balai Pengembangan dan Penelitian Budidaya Ikan Hias (BP2BIH), Depok, Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah pemberian tepung udang rebon sebanyak 0, 5, 10, 15, 20 %. Parameter yang diamati adalah nilai chroma sebagai data utama sedangkan pertambahan bobot dan kelangsungan hidup sebagai data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung udang rebon memberikan pengaruh terhadap peningkatan warna dan pertumbuhan ikan mas koki, tetapi tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup. Penambahan tepung udang rebon 10 % dari total pakan buatan memberikan peningkatan kualitas warna benih ikan mas koki terbaik dengan nilai rata-rata chroma sebesar 25,97.

MIX USE BUILDING ‘JAVA MARINA BEACH WALK SEMARANG’

IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang merupakan ibu kota Propinsi Jawa Tengah , dalam perkembangan dewasa ini kota ini menjadi salah satu destinasi pariwisata di Jawa Tengah . Lokasi yang sangat berada di antara pusat ekonomi Indonesia yaitu Kota Jakarta dan Kota Surabaya , Kota Semarang menjadi persinggahan yang cukup populer di jalur darat penghubung kedua kota tersebut . Selain di topang dari jalur darat , pembukaan jalur udara langsung dari Kota Semarang menuju negara-negara tetangga menjadikan Semarang di banjiri turis mancanegara , tak kurang 3442 orang pada tahun 2012 mengunjungi Kota Semarang . Pertumbuhan jumlah turis di kota ini berdampak dengan berkembangnya bisnis di dunia pariwisata di Kota Semarang . Dari berbagai macam bisnis tersebut , salah satunya adalah bisnis penginapan . Bisnis dunia pariwisata sangat bergantung dengan pasaran yang akan di bidik . Perkembangan yang semakin pesat menjadikan kompetitor –kompetitor yang ada bersaing di kelas konsumen yang telah ada . Kelas konsumen yang semakin beragam dan berbagai tujuan menjadikan kelas bisnis penginapan semakin majemuk. Dari beberapa yang sedang populer di kalangan masyarakat adalah konsep penginapan bugdet yang digolongkan dalam peraturan pemerintah dapat diartikan berkelas bintang tiga (3) setara . Penginapan bugdet memiliki banyak kompetitor , selain kelas yang di tentukan adalah lokasi . Lokasi sangat menentukan suatu penginapan akan di kembangkan . Lokasi juga padat dimanfaatkan sebagai daya dukung atau ciri yang berbeda agar dapat bersaing dengan kompetitor lainnya .Lokasi yang cocok untuk khasus ini adalah Pantai Marina Semarang .

PENGARUH BERBAGAI INTENSITAS CAHAYA TERHADAP TINGKAH LAKU DAN KEPADATAN BRACHYONUS SP.

ZOO INDONESIA No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3525.283 KB)

Abstract

Abstrak

ONTOGENY OF THE BALASHARK Balantiocheilos melanopterus BLEEKER, 1851 (CYPRINIDAE)

Indonesian Aquaculture Journal Vol 2, No 1 (2007): (June 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.475 KB)

Abstract

The Balashark is a highly praised ornamental species that has been overfished to the point that it has become endangered in most of its distribution area, especially in Indonesian waters. Captive propagation has reduced the threats upon wild populations of balashark. Nevertheless, knowledge on the biology of this species is still scarce, in particular as regards to its ontogeny. This information is crucial for the identification of larvae and small juveniles in the wild, as well as for improving its culture. Balashark eggs average 1.2-1.3 mm in diameter and hatch after 13 hours (26-28°C), giving birth to 4.5-mm embryos, with a yolk sac of circa 1.1 mm3. At the end of the endogenous feeding period (day 4 after hatching [AH]), larvae attain 6.3 mm TL. The mouth opens on day 2 AH (5.8 mm total length, TL). At the time of first feeding (day 4 or 5 AH, 6.3 mm TL), their mouth and gape already average 0.5 mm and 0.27 mm, respectively, and they grow up to 10.2 and 6.3% TL, respectively, on day 8 AH. The swim bladder starts forming as early as day 2 AH and is filled by day 3 AH (5.9 mm TL), but the separation between the anterior and posterior chambers does not take place before 9.5 mm TL (day 9 or 10 AH). The fin development sequence is typical of cyprinids, and follows a caudal-to-cranial pattern (i.e.; caudal, dorsal and anal, pelvic then pectorals), except for the anlagen of pectoral fins, which are present in 1-day old fish (5.3 mm TL). Based on the vanishing of the abdominal and caudal fin fold, and on the lengths of the fins relative to fish size, the transition between the larval and juvenile stage occurs at circa 17 mm TL (corresponding standard length: 13.7 mm). At this stage, the scale cover is not developed yet, but juveniles already exhibit the typical pigmentation pattern of adults on their dorsal, anal, pelvic and caudal fins, while pigmentation on the pelvic fins is still in its very early stages.

THE UTILIZATION OF THE KINDS OF LIVE FOOD ON CLOWN LOACH FISH JUVENILES (Chromobotia macracanthus Bleeker)

Indonesian Aquaculture Journal Vol 6, No 1 (2011): (June 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.778 KB)

Abstract

Domestication and mass production technology of clown loaches fish have been developed by the Research Institute for Ornamental Fish Culture, Depok and the Institute de Recherche pour le Developpement (IRD). In the process, some constraints has been found and one of them was the cost of production and sustainable supply of Artemia as the only one of live food which used for clown loaches post-larvae until 2-3 months old juvenile. To solve this constraints, the use of other live feed as a substitute or replacement of Artemia should be applied, caused by it research of the utilization of the kinds of live food on clown loach juvenile need to be done. This research aims to determine the kinds of live food which be recommended for the substitution of Artemia on clown loaches fish juvenile (Chromobotia macracanthus Bleeker). Research carried out using 1 month old clown loach juveniles designed into the Complete Randomized Design in two factors namely are class of fish size S (35-50 mg), M (55-70 mg), L (75-90 mg) and the kinds of live food in the form of Artemia as a control, Moina, mini maggot, blood worms (Chironomus), and silk worms (Tubifex). Three levels treatment by class of fish size factor and five levels treatment by the kinds of live food factor produce 15 kinds of interactions with duplications. The research was conducted at recirculation system for 8 weeks to 3 months old juveniles. Observations were carried and measuring the growth parameters including weight, total length of fish, as well as survival rate parameters based on the number of fish that live at the end of the research. The support is done by measuring the water quality of pH, DO, temperature, ammonia, conductivity, and nitrites, proximate analysis of feed also performed. The two of research step analyzed by ANOVA (Analysis of Variance) and continued by Tukey test.

PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS BOTIA (Chromobotia macracanthus) MELALUI PENDEKATAN PADAT TEBAR DAN KETINGGIAN AIR MEDIA PEMELIHARAAN

Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.069 KB)

Abstract

Ikan botia (Chromobotia macracanthus) merupakan ikan hias asli dari perairan Sumatera dan Kalimantan yang memiliki potensi besar sebagai komoditas ekspor karena bentuk yang unik dan mempunyai warna yang indah. Permasalahan utama sampai saat ini adalah masih rendahnya sintasan larva hingga benih pada tahap pendederan (umur dua bulan). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respons tingkat padat tebar larva (5, 10, dan 15 ekor/L) pada dua tingkat ketinggian air media pemeliharaan (16 dan 32 cm) dengan empat ulangan. Wadah pemeliharaan berupa akuarium ukuran 80 cm x 40 cm x 40 cm dengan sistem resirkulasi. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan berupa nauplii Artemia di bulan pertama, sedangkan di bulan kedua diberi pakan nauplii Artemia dan bloodworm (cacing darah/larva Chironomus sp.) beku, serta diberikan secara sekenyangnya (ad satiation). Parameter yang diamati meliputi sintasan, pertumbuhan (pertambahan panjang total dan bobot mutlak), dan data kualitas air. Data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS versi 17.0. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa padat tebar dan ketinggian air media pemeliharaan larva hingga benih sampai umur 2 bulan berpengaruh nyata terhadap sintasan, akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan panjang total dan bobot mutlak. Perlakuan dengan padat tebar 15 ekor/L dan ketinggian air media pemeliharaan 16 cm dapat direkomendasikan untuk pemeliharaan larva hingga benih sampai ukuran 0,5 cm.

PEMANFAATAN MAGGOT SEBAGAI PENGGANTI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN UNTUK BENIH IKAN BALASHARK (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker)

Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.347 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sumber protein tepung ikan dengan tepung maggot telah diteliti terhadap ikan hias balashark. Sebanyak 1.500 ekor benih ikan balashark dengan bobot awal rata-rata 2,26 ± 0,08 g dan panjang 5,18 ± 0,06 cm ditebar dalam 15 unit bak tembok berukuran 1,2 m x 0,7 m x 0,5 m, sistem resirkulasi dan dilengkapi aerasi dengan padat penebaran 100 ekor/bak dan dipelihara selama 60 hari. Pakan buatan dengan perbedaan substitusi maggot terhadap tepung ikan sebagai pengganti protein diberikan sebagai perlakuan yaitu (a) 0%; (b) 10%; (c) 20%; (d) 30%; dan (e) 40% maggot substitusi. Perlakuan substitusi maggot nyata mempengaruhi (P<0,05) pertambahan bobot, panjang total, pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan rasio efisiensi protein. Substitusi maggot hingga level 16,47% memberikan respons terbaik terhadap penampilan tumbuh benih ikan balashark.The objective of this research was to study the effect of maggot meal as an alternative protein source to partially substitute fish meal in artificial feed for balashark fry. This research was conducted at the Research Institute for Ornamental Fish in Depok, West Java. Fifteen concrete tanks each of 1.2 m x 0.7 m x 0.5 m, provided with aerated recirculation water system, were used as culture tanks. Balashark fry averaging 2.26±0.08 g in body weight and 5.18±0.06 cm in body length were stocked into the tanks at a density of 100 fries per tank. The dietary treatments tested were five different levels of maggot meal, namely: (a) 0% substitution; (b) 10% substitution; (c) 20% substitution; 30% substitution, and e) 40% substitution. Feeding of the fries lasted for 60 days. Results of the research showed that, based on body weight gain, total body length, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, and lipid retention, the effect of maggot meal to substitute for fish meal was significant (P<0.05). The best growth performance of the balashark fries was achieved by the feed containing maggot meal substitution for fish meal of 16.47%.

PEMIJAHAN ALAMI ARWANA SILVER (Osteoglossum bicirrhosum) DALAM BAK TERKONTROL

Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.396 KB)

Abstract

Ikan arwana silver (Osteoglossum bicirrhosum) adalah ikan hias introduksi berasal dari Brazil yang sudah menjadi ikan hias potensial. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui teknik pemijahan secara alami ikan arwana silver dalam bak terkontrol. Induk arwana jantan dan betina yang sudah diberi penanda (tagging) sebanyak 12 ekor diadaptasikan dalam bak beton (3 m x 2 m x 1 m) yang diletakkan di dalam ruangan yang dilengkapi dengan instalasi aerasi. Pakan diberikan berupa percil (50 g) dan ikan selar (360 g) dua hari sekali. Setelah 10 bulan ikan arwana mencapai panjang berkisar 59-64 cm dan bobot berkisar 1.208,5-1.849,5 g. Semua ikan arwana (11 ekor) dipindah ke luar ruangan, dipelihara dalam bak beton (5 m x 2 m x 1.2 m) dengan media air yang diputar menggunakan pompa dan bak pemeliharaan ditutup dengan jala. Pakan diberikan sama seperti saat adaptasi. Pengamatan keberhasilan pemijahan ikan dilakukan setiap saat dengan mengetahui ada tidaknya telur yang dierami dalam mulut arwana jantan. Pengeluaran larva dari dalam mulut induk jantan dilakukan setelah telur dierami selama 1-1,5 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 8 bulan pemeliharaan di luar ruangan, arwana silver jantan terlihat mengerami telur dalam mulutnya pertama kali dan menghasilkan larva sebanyak 17 ekor, kemudian berturut-turut menghasilkan larva setiap bulan pada bulan ke-22, 23, dan 24 berkisar 25-107 ekor/induk/bulan. Silver arowana (Osteoglossum bicirrhosum) is an ornamental fish introduced from Brazil and has been popular among fish collectors. The objective of this research was to determine the optimal spawning technique of silver arowana in controlled tank. Tagged male and female of arowana broodstock were adapted in 3 m x 2 m x 1 m indoor concrete tank with stocking density of 12 individual/tank. Lift frogs (50 g) and raw fish (360 g) were given as feed once per two days. After ten months of rearing, the total length of silver arowana broodstock varied from 59 to 64 cm and body weight ranged from 1,208.5 to 1,849.5 g. Eleven individuals of silver arowana broodstocks were stocked in 5 m x 2 m x 1.2 m out door concrete tank in which the water media was recirculated using water pump and rearing tank were covered with net. The feeds given were the same as during the adaptation process. Observation of breeding was done regularly by observing whether the eggs were already in the male broodstock mouth or not. The process to collect the larvae out of the male broodstock mouth was done after the eggs were incubated in its mouth for about 1.0-1.5 month. Result showed that after 8 months of rearing in outdoor tank, male silver arowanas were seen carrying eggs in their mouth for the first time and produce 17 larvae. On average, as many as 25-107 larvae were obtained per broodstock starting from 22nd, 23nd, and 24nd of rearing period.