Rachmat Prijadi
Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT

Published : 33 Documents
Articles

Found 33 Documents
Search

REAKTUALISASI RAGAM ART DECO DALAM ARSITEKTUR KONTEMPORER Gunawan, D. Enjelina K.; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1753.228 KB)

Abstract

AbstrakArsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia,berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain : seni,teknik,ruang/tata ruang, geografis,sejarah. Oleh karna itu beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur,tergantung dari segi mana memandangnya. Dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termaksud didalamnya bentuk dan ragam hias. Perkembangan arsitektur dunia sejalan dengan perkembangan budaya berbagai bangsa semakin kompleks, rumit dan cepat karna adanya percampuran, saling pengaruh dan perubahanperubahan. Oleh karna itu semakin sulit menentukan batasan social-budaya. Dalam hal ini arsitektur art deco menjadi batasan secara filosofis,sejarah, dan asalnya. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa arsitektur berkembang dari masa kemasa dalam kurun waktu sejak manusia pertama hingga sekarang,diseluruh muka bumi luas tak terbatas. Pada kehidupan saat ini yang bersifat lebih modern dan teknologi,dunia arsitektur pun melahirkan bentuk desain yang semakin modern yang dikenal dengan sebutan arsitektur kontemporer. Arsitektur kontemporer menonjolkan bentuk unik, diluar kebiasaan, atraktif, dan sangat komplek. Sehingga dalam penulisan ini diberi batasan bagaimana mereaktualisasikan ragam art deco dalam arsitektur modern.Kata kunci : art deco, reaktualisasi, modern
GALERI SEPEDA MOTOR BEKAS DI MANADO (TRANSFORMASI SEBAGAI STRATEGI DESAIN ARSITEKTUR) Tumimomor, Inggrid; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 2, No 2 (2013): Edisi Khusus TA. Volume 2 No. 2 Juli 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4230.048 KB)

Abstract

ABSTRAK Di Sulawesi utara khusus kota Manado memiliki penduduk yang sangat besar diantaranya yang beraktifitas di luar, dengan demikian banyak masyarakat yang menginginkan efisiensi waktu. Kota Manado dengan kepadatan penduduk  mengakibatkan kemacetan di setiap ruas jalan, maka dengan mengendarai sepeda motor masyarakat dapat menghindari kemacetan dan dapat  menghemat waktu serta tenaga. Dengan demikian banyak masyarakat yang lebih memilih kendaraan bermotor dibandingkan mobil. Belum tersedia suatu tempat penjualan motor bekas yang berkualitas baik yang dapat menjangkau semua kalangan baik kalangan atas maupun kalangan bawah, maka munculah gagasan menghadirkan “Galeri Sepeda Motor Bekas di Manado” dengan harapan dapat memudahkan masyarakat dan membantu masyarakat yang ingin memiliki kendaraan bermotor tapi tidak mempunyai biaya yang banyak, dimana tempat ini menyediakan semua jenis motor yang diinginkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan sepeda motor baru dan di tempat ini tersedia fasilitas fasilitas yang berhubungan dengan kendaraan bermotor seperti tempat memodifikasi motor dan penjualan spare part juga assesoris motor, Galeri Sepeda Motor Bekas ini juga merupakan salah satu wadah yang dihadirkan guna membantu masyarakat dari semua kalangan yang ingin memiliki kendaraan bermotor terlebih khusus kalangan bawah. Perencanaan Galeri Sepeda motor Bekas ini mengambil tema Transformasi Sebagai Strategi Desain Arsitektur maka akan dipakai sebagai acuan dan strategi perancangan, dan diharapkan mampu mengadirkan suatu rancangan bangunan yang tidak monoton melainkan menghadirkan perubahan perubahan pada perancangan ini, dan bisa memunculkan konsep konsep perancangan yang baru lewat strategi desain yang ada, dan Sebagai wadah perniagaan, Galeri Sepeda Motor Bekas ini memiliki nilai ekonomi dengan ada kegiatan pameran dan promosi yang bertujuan untuk mencari keuntungan ekonomi.   Kata Kunci: Galeri, Sepeda Motor Bekas, Transformasi.
GRAHA EKSPOSISI BUDAYA ISLAMI DI MANADO (Arsitektur Regionalisme Islam) Basalamah, Faldy; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.119 KB)

Abstract

ABSTRAK Dewasa ini penduduk dunia makin padat yang juga berarti makin bertambah pula penduduk Islam di muka bumi termasuk di Indonesia yang sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia. Makin bertambah penduduk Muslim di Indonesia, bertambah pula penduduk Muslim yang ada di Sulawesi Utara khususnya di kota Manado. Penduduk muslim kota Manado merupakan campuran dari beberapa etnik kelompok yang berasal dari dalam maupun luar kota Manado sendiri yang juga membawa budaya mereka masing-masing. Adalah Islam sebagai agama pemersatu dari berbagai etnis dan etnik Muslim yang ada di Sulawesi Utara ini,dimana kebudayaan islam membuat kesatuan tentang aturan yang kemudian dipalikasikan ke dalam budaya mereka masing – masing. Berdasarkan hal tersebut diatas, ide untuk merancang  Graha Eksposisi Budaya Islami Di Manadodiangkat sebagai judul dalam tugas akhir. Graha Eksposisi Budaya Islami Di Manado disini merupakan tempat yang dapat menfasilitasi serta mengakomodasi segala kebudayaan serta kesenian Islami yang ada. Dengan adanya objek ini, kekayaan budaya Islami dapat ditampilkan, dipelajari, serta di identifikasikan untuk pengembangan dan pelestarian. Graha Eksposisi Budaya Islami Di Manado ini pula dapat menjadi tempat tujuan wisata untuk pengenalan budaya Islam. Berangkat dari keterkaitan antara budaya dan agama Islam maka dalam proses perancangan maka tema yang diambil dalam perencanaan ini Regionalime Arsitektur Islam yang dalam perencanaan ini diambil Regional Arsitektur Bolaang Mongondow yang kemudian digabung dengan prinsip – prinsip yang diperoleh dari ajaran agama Islam. Konsep ini berkaitan dengan bentuk serta fungsi objek yang harus sesuai dengan ajaran Islam serta berkaitan dengan arsitektur Bolaang Mongondow. Kota Manado yang mengadopsi kehidupan yang modern membutuhkan Graha Eksposisi Budaya Islami Di Manado untuk dapat mengingat, mempelajari dan menumbuh kembangkan ajaran kebudayaan-kebudayaan yang Islami dari masa lalu. Kata kunci : Islam, Kebudayaan, Arsitektur Bolaang Mongondow
KARAKTERISTIK ARSITEKTUR MENARA MASJID SEBAGAI SIMBOL ISLAM DARI MASA KE MASA Sutrisno, Anjar F.; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.305 KB)

Abstract

Menara Masjid merupakan bangunan yang tinggi menjulang keatas yang merupakan simbol dari peradaban Islam yakni sebagai penanda kehadiran dan keberadaan Islam di suatu tempat. Sebagai bagian dari simbol peradaban, menara dibangun oleh umat Islam karena memiliki fungsi yang amat penting, yakni sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Secara umum terdapat lima bentuk dan gaya menara masjid yaitu menara klasik, menara variasi, menara segi empat, menara spiral, dan menara silinder. Sedangkan tipe ciri – ciri menara yang ada di Indonesia antara lain, Menara dengan gaya menarakulkul Bali, Menara yang mendapat pengaruh Portugis, Menara yang mendapat pengaruh Belanda dengan bentuk seperti mercusuar, Menara yang mendapat pengaruh gaya Hadramaut (Arab), dan Menara yang mendapat pengaruh India.Kata Kunci : Menara, Masjid, bentuk.
PENGARUH PERMUKAAN JALUR PEDESTRIAN TERHADAP KEPUASAN & KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI PUSAT KOTA MANADO Prijadi, Rachmat; Sangkertadi, .; Tarore, Raymond D. Ch.
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2493.696 KB)

Abstract

AbstrakManado sebagai kota wisata dan kota jasa perdagangan, memerlukan fasilitas pedestrian yang nyaman agar menyenangkan bagi wisatawan maupun warganya. Fakta menunjukkan bahwa di bagian pusat kota Manado, pedestrian nampak belum nyaman dipakai oleh para pejalan kaki karena beberapa hal. Diantaranya adalah penggunaan material pelapis pedestrian yang kurang tepat seperti kondisinya yang terlalu licin, mudah rusak, tampilannya kurang menarik serta penyelesaian konstruksi yang beresiko mengganggu kelancaran gerak pengguna, atau mengganggu kenyamanan bagi pejalan kaki.Tulisan ini fokus pada hasil penelitian mengenai dua hal, pertama adalah pengungkapan kondisi fisik jalur pedestrian ditinjau terhadap resiko gangguan kenyamanan gerak bagi pejalan kaki, pada “siang hari”. Kedua untuk mendapatkan respon dari pengguna tentang “tingkat kepuasan” dari pejalan kaki terhadap kualitas material pelapis pedestrian. Lokasi kajian meliputi bagian pusat kota dan juga merupakan area wisata belanja. Metode yang di gunakan adalah campuran cara kualitatif dan kuantitatif. Temuan studi ini meliputi dua hal, yakni pengungkapan adanya 4 skala tingkat kepuasan pejalan kaki, dan pengungkapan bahwa di area studi, respon pengguna menunjukkan skala antara “kurang puas/kurang nyaman” dan “agak puas/ agak nyaman”. Hanya sedikit yang merasa puas dan juga sangat sedikit yang menyatakan tidak puas.Diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi pengembangan teori bagi perancangan pedestrian dan masukan bagi pembangunan arsitektur kota Manado.Kata kunci :  pedestrian, trotoir, pusat kota, tekstur, warna, tingkat kepuasan gerak
TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN SEMAYANG DI BALIKPAPAN Kontemporerisasi Budaya Dayak secara Arsitektural Hutagalung, Gabriel P.; Van Rate, Johannes; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 November 2015 Buku I
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.945 KB)

Abstract

Aktifitas perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain merupakan salah satu indikasi dari perkembangan ekonomi suatu daerah. Inilah yang terjadi di Kota Balikpapan yang memiliki pertumbuhan pendatang dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kelahirannya. Kondisi ini bisa menjadi sebuah keuntungan bagi Balikpapan, terutama jika dibarengi dengan infrastruktur transportasi yang memadai. Pelabuhan Semayang di Balikpapan contohnya, merupakan infrastruktur kebanggaan karena peranannya sebagai pintu gerbang dari provinsi Kalimantan Timur. Salah satu fasilitas tersibuk di Pelabuhan Semayang adalah terminal penumpangnya. Menurut survey tahun 2014, terminal ini tak lagi mampu memenuhi standar pelayanan dan besaran ruang sudah tidak mampu menampung banyaknya penumpang. Tak hanya itu, sistem sirkulasi penumpang tidak berjalan dengan baik menyebabkan kemacetan dan ketidakaturan dalam bangunan. Melihat kondisi tersebut, penulis merasa perlu untuk mendesain kembali terminal penumpang Pelabuhan Semayang, mengingat kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi yang lebih layak. Tema yang dipakai untuk proses perancangan diambil dari keterkaitan antara objek bangunan dengan lokasi objek,yakni Kontemporerisasi Budaya Dayak secara Arsitektural. Tema ini mengangkat/menampilkan nilai-nilai budaya lokal, yaitu Dayak dan Kontemporerisasi yang diartikan sebagai suatu pembaharuan, kekinian atau tidak kaku. Penerapan tema ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas transportasi laut, dapat melestarikan kebudayaan local, dan mempromosikan nilai-nilai budaya Dayak. Objek rancangan dibuat dengan mengupayakan keseimbangan dari segi visual dan dari segi fungsi agar dapat menunjang tuntutan aktifitas dan kebutuhan dari masyarakat kini yang modern dan aktif. Kata Kunci : Dayak, Kontemporerisasi, Pelabuhan,Terminal
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA DIMANADO “NEWFACE” OF CORRECTIONAL INSTITUTION ‘PENERAPAN SUPERIMPOSISI OLEH BERNARD TSCHUMI’ Tambengie, Rendy G.; Tinangon, Alvin J.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 November 2015 Buku I
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.827 KB)

Abstract

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila membuka pemikiran- pemikiran baru mengenai fungsi pemidanaan yang tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Beberapa fenomena yang menjadi kendala bagi sistem pembinaan dan pembimbingan di lembaga pemasyarakatan sampai saat ini belum mendapat titik penyelesaian, sehingga penilaian masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan tidak ada bedanya dengan penjara membuat mantan narapidana sulit diterima oleh masyarakat. Pendekatan perancangan yang dilakukan meliputi 3 aspek utama. Pendekatan Tipologi Objek : membahas pengertian, pemahaman, prospek, fisibilitas, dan program dasar fungsional Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA. Pendekatan Tapak dan Lingkungan : Membahas kriteria pemilihan lokasi dan tapak di kota manado. Pendekatan Tematik : Membahas tema perancangan yang tepat sebagai solusi dari permasahalan yang ada. Proses perancangan dalam  memecahkan permasalahan yang ada, mengarah pada model proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel, meliputi Fase I (Tahap Pengembangan Pengetahuan Komprehensif) dan Fase II (Siklus Image-Present-Test). Tema yang diambil adalah “Penerapan Superimposisi Oleh Bernard Tschumi”, yang dalam penerapannya menggabungkan dan menumpuk sistem layer titik, garis, dan bidang yang masing-masing independen atau berdiri sendiri (autonomous). Sehingga dari hasil rancangan dapat memecahkan masalah desain yang ada pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA, yaitu pola penataan ruang, program ruang, konfigurasi alur gerak, dan estetika bangunan. Hasil perancangan memberikan persepsi dan “wajah baru” pada lembaga pemasyarakatan sebagai lembaga yang memiliki peran  dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilitas dan resosialisasi pelanggar hukum, dan penanggulangan kejahatan (suppression of crime).   Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Superimposisi.
Redesain Gedung Pingkan Matindas di Manado “Pluralistik Dalam Arsitektur Post Modern” Runtu, Andri R.; Waani, Judy O.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 November 2015 Buku I
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.446 KB)

Abstract

Perkembangan peradaban dunia terus melaju untuk setiap waktunya. Adapun hal ini berimbas pada tersajinya beragam alternatif hiburan bagi kalangan masyarakat, tidak terkecuali masyarakat Kota Manado dimana kecenderungan perilaku masyarakatnya lebih menyukai hiburan yang konsumtif. Berbagai macam latar belakang dari masyarakat penghuni Kota Manado ini menandakan ada beragam pula tingkah laku, pola hidup, kesenian, serta kebiasaan-kebiasaan lainnya. Dan salah satu dari ragam latar belakang yang layak diangkat sebagai hiburan yang konsumtif serta edukatif adalah kesenian. Tanggapan atas kebutuhan ini memunculkan gagasan untuk menyediakan tempat yang dapat menampilkan serta membantu proses pelestarian dan perkembangan berbagai kesenian yang ada di Kota Manado. Melihat kurang maksimalnya fungsi yang berjalan pada salah satu gedung kesenian di Manado, dalam hal ini Gedung Kesenian Pingkan Matindas, maka diperlukan penyegaran kembali, dalam bentuk redesain. Redesain Gedung Pingkan Matindas di Manado kali ini dilakukan dengan pendekatan tema Pluralistik Dalam Arsitektur Pos Modern. Pendekatan dengan tema ini diharapkan dapat membantu menata dengan teratur keragaman kesenian yang ada di Kota Manado. Untuk menghadirkan objek desain, maka perancangannya akan melewati tahapan-tahapan analisa hingga transformasi yang melibatkan banyak aspek perancangan. Tujuannya adalah menghadirkan Gedung Kesenian Pingkan Matindas yang baru yang dapat menjalankan fungsi utamanya dengan lebih maksimal lagi dari sebelumnya, sekaligus sebagain pilihan hiburan yang edukatif bagi masyarakat Kota Manado. Kata kunci: Redesain, Gedung Kesenian,Pluralistik danArsitekturPos Modern
REST AREA TRANS SULAWESI ANTAR PROVINSI ARSITEKTUR BIOMIMICRY Tandjung, Adrian A.; Prijadi, Rachmat; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 November 2015 Buku I
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.726 KB)

Abstract

Jalan Trans Sulawesi merupakan satu-satunya jalur transportasi darat yang menghubungkan Provinsi Sulawesi Utara dengan Provinsi lain yang ada di pulau Sulawesi. Melihat betapa pentingnya jalan Trans Sulawesi ini maka seharusnya telah memiliki fasilitas yang memadai bagi para pengguna jalan.Jarak jauh dan perjalanan yang relatif lama sangat memungkinkan seseorang membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ketempat tujuan masing-masing. Kepadatan kendaraan terkadang membuat pengemudi kelelahan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kecelakaan.Selain karena kepadatan arus kendaraan, kelelahan juga terjadi akibat perjalanan yang cukup jauh, dimana pengendara tidak mempersiapkan kondisi fisik dan kondisi kendaraan untuk perjalanan tersebut. Untuk mengurangi kecelakaan dan menghilangkan lelah setelah menempuh perjalanan tersebut kebijakan yang diambil adalah dengan cara membangun tempat-tempat istirahat sesuai dengan jarak/interval dengan mempertimbangkan ketahanan pengemudi dalam berkendaraan. Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung dan pengguna rest area, maka pendekatan tema perancangan yang dipilih adalah Arsitektur Biomimicry. Dengan penerapan tema ini pada bangunan, diharapkan akan muncul bentuk-bentuk bangunan yang tereksplorasi berdasarkan konsep adaptasi dengan lingkungan sekitar sehingga muncul wujud bangunan benar-benar merupakan hasil penyesuaian diri dengan keadaan sekitar serta memberikan perasaan senang dan nyaman bagi para pengguna rest area. Kata kunci :Trans Sulawesi, Perjalanan, Istirahat, Adaptasi.
FASILITAS REKREASI PANTAI HAMADI DI JAYAPURA ‘IMPLEMENTASI HONAI DALAM RUPA ARSITEKTUR’ Masoara, Ardi; Prijadi, Rachmat; Supardjo, Surjadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No. 1 Mei 2015 Buku III
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.498 KB)

Abstract

Rekreasi dan hiburan telah menjadi unsur penting dalam kehidupan masyarakat modern. Berkembangnya jaman, padatnya aktivitas, dan tuntutan hidup serta tingkat stres membuat kebutuhan masyarakat akan rekreasi dan hiburan semakin meningkat. Dewasa ini, perubahan perilaku dan cara  pandang masyarakat mendorong kegiatan berekreasi tidak lagi sekedar di anggap sebagai pemenuhan kebutuhan semata, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Kota Jayapura merupakan salah satu tujuan tempat berekreasi karena memiliki panorama alam yang indah. Namun demikian sekarang ini, daerah tersebut belum memiliki tempat rekreasi yang cukup representatif. Perancangan “Fasilitas Rekreasi Pantai Hamadi di Jayapura” mengambil tema Implementasi Honai Dalam Rupa Arsitektur dimana perancangan menerapkan kebudayaan Papua dalam hal ini karakter bangunan. Kata kunci : Rekreasi, Honai