p-Index From 2014 - 2019
1.434
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Teknik ITS
Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurusan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Pengaruh Salinitas dan Temperatur Air Laut pada Wet Underwater Welding terhadap Laju Korosi

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.428 KB)

Abstract

Struktur konstruksi badan kapal lambat laut mengalami kerusakan . Apabila kapal mengalami kerusakan pada konisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang diutamakan. Sedangkan faktor korosi pada pengelasan basah bawah air merupakan masalah yang pasti terjadi. Melalu penelitian ini dikaji perbandingan laju korosi sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰ , 35‰ dan suhu 200C, 250C. Dari keempat variasi pengelasan tersebut diberikan variasi ketebalan pelat sebagai pembanding. Penelitian laju korosi dilakukan dengan pengujian terhadap material baja A36 yang dilas menggunakan metode SMAW pada pengelasan basah bawah air pada posisi 1G (datar) dengan elektroda AWS E-6013 yang dilapisi isolasi yang bersifat kedap air. Dari data pengujian laju korosi  diketahui bahwa pengelasan basah bawah air dengan salinitas 35‰ lebih tinggi di bandingkan dengan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰, sedangkan untuk pengujian laju korosi dengan variasi suhu diketahui bahwa dengan suhu 250C cenderung lebih besar, meskipun hasil nya tidak signifikan dibandingkan dengan suhu 200C, dan semakin tebal pelat, laju korosinya juga cenderung lebih tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketebalan yang berkurang pada Salinitas 33‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.2124 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.2139(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.3203 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.3205 (mm/year). Untuk Salinitas 35‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.4521 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.4538(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.5547 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.5550 (mm/year).

Studi Implementasi Six Sigma pada Tahap Fabrikasi dalam Proses Pembangunan Kapal Baru

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1459.038 KB)

Abstract

Proses produksi pada tahap fabrikasi dalam proses pembangunan kapal baru masih memiliki masalah defect pada output proses produksi berupa defect dimension yang menyebabkan rework (pekerjaan tambahan). Tugas akhir ini bertujuan untuk menentukan besarnya sigma proses tahap fabrikasi dari sebuah galangan kapal yang menjadi studi kasus, mengidentifikasi penyebab yang mempengaruhi defect, dan menentukan upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimasi defect menggunakan metode six sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control). Berdasarkan perhitungan menggunakan lembar kerja perhitungan sigma yang dikeluarkan oleh pivotal resources, komponen plate mengalami defect dimension sebesar 0,36% untuk hasil marking dan 0,48% untuk hasil proses cutting menghasilkan nilai sigma 2,2074, komponen bracket mengalami defect dimension sebesar 0,28% untuk hasil marking dan 0,40% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,3429, komponen stiffener mengalami defect dimension sebesar 0,20% untuk hasil marking dan 0,24% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,6771, dan  komponen clip (collar plate) mengalami defect dimension sebesar 0,28% untuk hasil marking dan 0,36% untuk hasil cutting menghasilkan nilai sigma 2,4171. Berdasarkan hasil analisa, nilai sigma tersebut masih jauh dari nilai yang seharusnya dapat dicapai oleh suatu perusahaan (6σ) disebabkan oleh faktor antara lain keterampilan SDM yang belum memadai saat ini, PMS (Planned Maintenance System) yang berjalan tidak sesuai prosedur, dan tidak dilakukannya pendokumentasian/kontrol pada setiap komponen hasil tahap fabrikasi. Dengan menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) yang dikorelasikan dengan berbagai analisa, diperoleh solusi antara lain diperlukannya training/pelatihan untuk meningkatkan skill/kemampuan SDM baru, dijalankannya PMS sesuai prosedur, dan menghidupkan kembali tim QC yang tergabung dalam keorganisasian bengkel fabrikasi. Implementasi six sigma dilakukan secara periodik dengan mengevaluasi hasil rencana perbaikan.

Permodelan Risiko Kenaikan Tarif Dasar Listrik Terhadap Biaya Produksi Kapal Baru

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.99 KB)

Abstract

Pada Tugas Akhir dikembangkan model risiko pengaruh kenaikan Tarif Dasar Listrik terhadap biaya produksi kapal baru. Variabel yang terpengaruh kenaikan TDL pada produksi kapal didapatkan dengan identifikasi dan evaluasi pemakaian energi listrik pada fasilitas produksi, pengaruh terhadap tenaga kerja serta pengaruh terhadap biaya material dan komponen  kapal. Material dan komponen tersebut dikelompokan menjadi material lokal manufaktur (Local Manufacture), lokal CKD (Completely Knock-Down), import CBU (Completely Built-Up) dan import trading. Model yang dikembangkan mempunyai variabel yang terpengaruh kenaikan TDL terdiri dari (i) kenaikan biaya listrik dan (ii) kenaikan harga material yang sensitif terhadap kenaikan TDL. Material dan komponen yang sensitif terhadap kenaikan TDL  yaitu material kelompok lokal manufaktur seperti pelat baja dan konsumabel gas serta kelompok lokal CKD (Completely Knock-Down) seperti pendingin ruangan (Air Conditioner Equipment), Main Switch Board (MSB) dan Alarm Monitoring System (AMS).

mata uang asing, material impor, nilai tukar, pembangunan kapal baru

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.459 KB)

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah melakukan analisis pengaruh perubahan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam proses pembangunan kapal baru. Metode yang dilakukan adalah dengan cara mengevaluasi pembelian material kapal yang di impor dari luar negeri dan menganalisa perubahan nilai tukar mata asing yaitu USD (Dollar USA), € (Euro Eropa), dan ¥ (Yen Jepang) terhadap Rupiah (RP). Hasil dari simulasi nilai tukar pembelian tahun 2007 sampai 2010, terdapat selisih nilai maximum dan minimum yaitu sebesar 33% untuk USD terhadap Rupiah, 46% untuk Euro terhadap Rupiah dan untuk JPY terhadap Rupiah sebesar 55%. Dampak perubahan nilai tukar selama tahun 2007 hingga 2010 telah menyebabkan semakin tingginya harga material impor. Untuk pembelian dengan harga USD meningkat 9,11%, harga Euro meningkat 21,10%, dan harga JPY meningkat 30,10%. Dapat disimpulkan dari penelitian ini untuk mengurangi dampak perubahan nilai tukar tersebut diperlukan suatu strategi yang tepat. Yaitu dengan memprediksi perubahan nilai tukar mata uang asing, dimana mata uang asing tersebut melemah terhadap Rupiah, kemudian melakukan perencanaan termin pembayaran material impor agar terhindar dari perubahan nilai tukar yang terus mengalami perubahan setiap waktu.

Penerapan Peraturan IMO MSC.215(82) dan IMO MSC.291(87) PSPC Pada Pembangunan Kapal Tanker Minyak

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.345 KB)

Abstract

IMO MSC.215(82) dan IMO MSC.291(87) adalah peraturan mengenai PSPC (performance standard for protective coating) tangki ballast untuk semua jenis kapal diatas 500 GT dan tangki muat  kapal tanker minyak diatas 5000 DWT. Dalam peraturan tersebut terdapat persyaratan baru yang harus dipenuhi untuk persiapan permukaan dan aplikasi coating pada tangki ballast dan tangki muat. Dari studi ini didapatkan penerapan PSPC tangki ballast dan tangki muat pada pembangunan kapal tanker minyak di galangan kapal yang sesuai dengan peraturan IMO. Biaya produksi yang dibutukan untuk menerapkan peraturan PSPC tangki ballast dan tangki muat pada pembangunan kapal tanker minyak 17,500 DWT PT PAL diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 21.49 %, pada kapal tanker minyak 6,500 DWT  PT DPS diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 31.89 %, dan pada kapal tanker minyak 3500 DWT PT Dumas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 32.21 %. Kenaikan ini akan dapat dikurangi jika proses persiapan permukaan dapat diintegrasikan pada tahap fabrikasi dan sub assembly.

Analisis Teknis dan Ekonomis Pembangunan Industri Manufaktur Baling - Baling Kapal di Indonesia

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.634 KB)

Abstract

Industri manufaktur baling-baling kapal di Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan persaingan industri yang rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis pembangunan industri manufaktur baling-baling kapal di Indonesia. Kondisi manufaktur baling-baling kapal di Indonesia sangat tradisional, baik dari segi peralatan, teknologi produksi maupun materialnya. Proyeksi permintaan baling-baling kapal untuk bangunan baru di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar 351 unit, 2011 sebesar 375 unit, 2012 sebesar 363 unit, dan 2013 sebesar 367 unit. Sedangkan potensi permintaan baling-baling kapal untuk pergantian akibat usia atau kerusakan adalah 424 unit per tahun. Market share diasumsikan 10% sehingga jumlah pergantian baling-baling kapal sebanyak 38 unit per tahun. Secara teknis, investasi manufaktur baling-baling kapal dapat dilakukan di Indonesia karena hanya diperlukan investasi untuk peralatan, lahan, dan bangunan. Kapasitas produksi sebesar 147 unit baling-baling kapal per tahun dengan waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu baling-baling kapal adalah 57 jam. Sedangkan secara ekonomis, dibutuhkan investasi sebesar Rp. 39.411.700.000 dengan break even point terjadi pada tahun ke sembilan. Karena potensi pasar di Indonesia masih besar dan jumlah kompetitor di industri manufaktur baling-baling kapal yang masih sedikit sehingga investasi manufaktur baling-baling kapal di Indonesia sangat layak untuk direalisasikan.

Produksi Kapal Ikan Tradisional dengan Kulit Lambung dan Geladak Kayu Laminasi serta Konstruksi Gading dan Geladak Aluminium

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.751 KB)

Abstract

Penggunaan kayu untuk kebutuhan pembangunan kapal semakin terbatas persediaannya untuk masa mendatang. Sebagai alternatif, digunakan material aluminium untuk konstruksi gading dan balok geladak serta kayu laminasi untuk bagian kulit dan geladak. Berdasarkan analisa teknis, berat untuk kapal ikan 30 GT dengan konstruksi gading dan balok geladak aluminium serta laminasi di kulit dan geladak lebih ringan sekitar 26% dari kapal ikan 30 GT dengan konstruksi kayu konvensional. Namun, biaya pembuatan lambnug kapal ikan 30 GT dengan konstruksi aluminium dan laminasi kulit serta geladak lebih mahal 1,4 kali dibandingkan dengan kapal ikan 30 GT konstruksi kayu. Keuntungan kapal dengan konstruksi aluminium dan laminasi akan memiliki masa pakai atau usia kapal yang lebih panjang dibandingkan dengan kapal kayu tradisional.

Resizing bangunan Atas Kapal Double skin bulk carrier (DSBC) 50.000 DWT untuk Mengurangi Biaya Produksi

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.508 KB)

Abstract

Kapal Double Skin Bulk Carrier (DSBC) 50.000 DWT atau Kapal “Star 50″ dengan panjang 189,840 meter dan lebar 30,50 meter ini merupakan kapal hasil produksi PT PAL Indonesia dengan berbobot mati 50.000 ton dan memiliki 25 crew. Kondisi desain bangunan atas kapal DSBC 50.000 yang ada saat ini perlu ditinjau untuk diperkecil ukurannya sehingga menurunkan biaya produksi. Hal ini dimungkinkan dengan adanya kecenderungan penggunaan sistem otomatik untuk mengurangi jumlah awak kapal. Selain itu beberapa akses ruangan dirasakan terlalu lebar, ukuran beberapa ruangan melebihi ketentuan ILO, dan penataan tata letak ruangan kurang efisien, secara ekonomis sangat tidak menguntungkan, mengingat biaya produksi pembangunan kapal mahal. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengurangi biaya produksi dengan cara me-resize bengunan atas kapal. Metode yang digunakan adalah re-design bangunan atas kapal dengan beberapa pertimbangan-pertimbangan dan berdasarkan pedoman Rule yaitu DNV, ILO serta UU. Pelayaran No.7. Setelah di resizing luas bangunan atas kapal DSBC 50.000 DWT dapat diperkecil menjadi 1455.35 m2 (20.53 %). volume menjadi 4147.762 m3 (20.53 %) , dan berat menjadi 350 ton (36.95 %), kebutuhan flooring sebesar 2.306.64 m2( 15.42 %), ceiling 2306.64 m2 (5.3 %) dan lining sebesar 5089.82 m2 (41.2 %). Kebutuhan AC sebesar 31.75 PK (40.09 %). Secara ekonomis biaya kebutuhan konstruksi berkurang menjadi Rp 7.906.808.682 (33.77 %), biaya flooring berkurang menjadi Rp 634.903.940 (19.42 %), biaya lining berkurang menjadi Rp 4.473.947.385 (40.4 %), biaya ceiling berkurang menjadi Rp 754.272.801 (25.4 %). Total biaya produksi semula yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp. 25.224.139.185. dan setelah dilakukan resizing berkurang menjadi Rp 11.314.916.789, sehingga untuk melakukan produksi bangunan atas selanjutnya memerlukan biaya produksi sebesar Rp 13.909.222.396.

Studi Implementasi Reparasi Kapal Berbasis Keandalan untuk Galangan Kapal

Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.223 KB)

Abstract

Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk memperbaiki kondisi keandalan pada perbaikan kapal di galangan kapal saat ini dengan melakukan pendekatan implementasi keandalan. Dengan pendekatan ini peneliti melakukan penyelesaian masalah ketidakandalan dan implementasi keandalan pada reparasi/perbaikan kapal di galangan kapal. Pertama, dilakukan kunjungan ke galangan untuk mencari kondisi keandalan pada proses dan hasil perbaikan kapal. Kegiatan yang dilakukan berupa pengambilan data docking repair list kapal dan diskusi tentang aktifitas perbaikan kapal yang dilakukan di galangan kapal. Kedua, data yang didapat kemudian diolah berdasarkan teori Reliability Analysis dan teknik Root Cause Analysis. Ketiga, hasil dari pengolahan data dianalisa untuk mendapatkan model identifikasi ketidakandalan pada perbaikan kapal. Model ini digunakan sebagai landasan untuk melakukan mitigasi dan implementasi keandalan pada perbaikan kapal. Setelah mitigasi dan implementasi dilakukan, diciptakanlah sebuah bagan alur pengimplementasian beserta target dan strategi implementasi pada perbaikan kapal. Hasil yang didapatkan dari  tugas akhir ini berupa kerangka kerja peningkatan keandalan pada galangan kapal yang berisi identifikasi faktor SDM, Material, Sarana & Prasarana, SOP, Kondisi Lapangan, dan desain

Analisis Teknis dan Ekonomis Pembangunan Kapal Ikan 30GT Konstruksi FRP Menggunakan Metode Laminasi Vacuum Infusion

Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.608 KB)

Abstract

Produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP di Indonesia masih menggunakan metode laminasi hand lay up. Metode hand lay up memiliki kekurangan pada kebutuhan jam orang dan kualitas produksi. Metode vacuum infusion merupakan salah satu metode laminasi fibreglass yang memiliki keunggulan. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk menganalisis secara teknis dan ekonomis produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP menggunakan metode laminasi vacuum infusion. Pertama, produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP diobservasi. Kedua, data produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP dikumpulkan. Ketiga, menganalisis teknis dan ekonomis pembangunan kapal ikan 30GT konstruksi FRP metode laminasi hand lay up dan vacuum infusion yang telah dilakukan. Hasil dari penerapan metode vacuum infusion pada produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP mengalami pengurangan sebesar 7,26%. Kualitas produksi vacuum infusion lebih baik 22,83% dibandingkan hand lay up. Dari hasil analisis ekonomis, biaya produksi kapal ikan 30GT konstruksi FRP metode laminasi vacuum infusion lebih mahal 12,9% dari pada metode laminasi hand lay up. Produktivitas tenaga kerja metode laminasi vacuum infusion lebih tinggi 24,94% dari pada metode laminasi hand lay up. Pembangunan galangan kapal konstruksi FRP metode vacuum infusion membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 14.383.141.000 dan Payback Period (PP) pada tahun ke-10.