Bambang Priadi
Institut Teknologi Bandung

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PROFIL UNSUR TANAH JARANG GRANITOID KLABAT DI PULAU BANGKA DENGAN ANALISIS AKTIVASI NEUTRON

Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 1 (2014): Mei 2014
Publisher : PTBGN-BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis Aktivasi Neutron (AAN) merupakan teknik analisis geokimia maju dengan kelebihan nondestruktif, multi unsur. AAN yang diaplikasikan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada granitoid Klabat yang tersebar sebagai penyusun geologi Pulau Bangka. Sejumlah 27 sampel dianalisis bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur tanah jarang, selanjutnya diharapkan dapat diaplikasikan dalam petrotektonik Granit Klabat. Unsur tanah jarang yang dianalisis adalah La, Ce, Nd, Sm, Eu, Gd, Tb, Yb dan Lu. Seluruh sampel di iradiasi di Pusat Reaktor Serba Guna “Siwabessy”, BATAN-Serpong, kemudian dicacah dengan detektor High Purity Germanium (HPGe) untuk analisis kualitatif dan kuantitatif menyesuaikan waktu paruh dan unsur yang akan diketahui. Analisis kuantitatifnya dengan metode perbandingan menggunakan Standar Reference Material (SRM) no 2710a dan 2711a yang dipublikasikan oleh National Institute of Standard & Technology (NIST). Hasil yang diperoleh adalah pola diagram laba-laba yang telah dinormalisasi chondrite dengan karakter pengkayaan La-Sm sebagai unsur tanah jarang bersifat ringan dan sedikit penurunan Eu-Lu yang termasuk unsur tanah jarang berat, identik untuk batuan pluton yang terbentuk pada tektonik busur kerak benua.

Profil Unsur Tanah Jarang Granitoid Klabat di Pulau Bangka dengan Analisis Aktivasi Neutron

EKSPLORIUM Vol 35, No 1 (2014): Mei 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.264 KB)

Abstract

Analisis Aktivasi Neutron (AAN) merupakan teknik analisis geokimia maju dengan kelebihan nondestruktif, multi unsur. AAN yang diaplikasikan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada granitoid Klabat yang tersebar sebagai penyusun geologi Pulau Bangka. Sejumlah 27 sampel dianalisis bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur tanah jarang, selanjutnya diharapkan dapat diaplikasikan dalam  petrotektonik Granit Klabat. Unsur tanah jarang yang dianalisis adalah La, Ce, Nd, Sm, Eu, Gd, Tb, Yb dan Lu. Seluruh sampel di iradiasi di Pusat Reaktor Serba Guna “Siwabessy”, BATAN-Serpong, kemudian dicacah dengan detektor High Purity Germanium (HPGe) untuk analisis kualitatif dan kuantitatif menyesuaikan waktu paruh dan unsur yang akan diketahui. Analisis kuantitatifnya dengan metode perbandingan menggunakan Standar Reference Material (SRM) no 2710a dan 2711a yang dipublikasikan oleh National Institute of Standard & Technology (NIST). Hasil yang diperoleh adalah pola diagram laba-laba yang telah dinormalisasi chondrite dengan karakter pengkayaan La-Sm sebagai unsur tanah jarang bersifat ringan dan sedikit penurunan Eu-Lu yang termasuk unsur tanah jarang berat, identik untuk batuan pluton yang terbentuk pada tektonik busur kerak benua. Neutron Activation Analysis (NAA) is a powerful geochemical analysis with advantages which are nondestructive and involves multi-elements. NAA technique applied for qualitative and quantitative analyses on Klabat granitic rocks that distributes and compose the geology of Bangka Island. There are 27 samples analyzed which aims to determine the content of rare earth elements, which will be applied in petrotectonic of Klabat granitoid. Rare Earth Elements (REE) which analyzed, namely La, Ce, Nd, Sm, E, Gd, Tb, Yb, and Lu. All of the samples irradiated in the Centre of Multipurpose Reactor "Siwabessy", BATAN - Serpong and subsequently counted with High Purity Germanium detector (HPGe) considering half-life and elements contents that will be concerned both qualitative and quantitative analysis. The comparative quantitative analysis method conducted using Standard Reference Material (SRM) 2710a and 2711a that published by the National Institute of Standards & Technology  (NIST). The result are the pattern of spider diagram with the chondrite normalized and showing the enrichment of La-Sm as light REE (LREE)  and Eu-Lu slight decreasing as heavy REE (HREE), as identify of plutonic rocks thar formed in the continental arc.

KARAKTERISTIK UNSUR JEJAK DALAM DISKRIMINASI MAGMATISME GRANITOID PULAU BANGKA

Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 36, No 1 (2015): Vol 35, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geologi Pulau Bangka disusun oleh variasi granit sebagai Granitoid Klabat yang tersebar di berbagai lokasi. Unsur jejak dapat diaplikasikan dalam diskriminasi magmatisme dalam pembentukan granitoid tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik granitoid yang tersebar di Pulau Bangka berdasarkan geokimia unsur jejak untuk diaplikasikan dalam mempelajari magmatisme, sumber dan situasi tektoniknya. Metode analisis geokimia yang diaplikasikan dengan menggunakan Analisis Aktivasi Neutron (AAN) dan portable X-Ray Fluorescence (pXRF) untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada 27 sampel dari Granitoid Klabat di Pulau Bangka. Hasil penelitian ini menyimpulkan Granitoid Bangka Utara (Belinyu) dan Bangka Tengah sebagai percampuran kerak-mantel dengan afinitas Calc-Alkaline, karakteristik Tipe I sedangkan Granitoid Bangka Selatan dan Barat asal kerak dengan afinitas High-K Calc-Alkaline sebagai Tipe S. Diharapkan diskrimasi magmatisme granitoid bermanfaat dalam memberikan panduan eksplorasi bahan galian nuklir di Pulau Bangka.Kata kunci: Pulau Bangka, granitoid, unsur jejak, magmatisme, Tipe I dan S

Karakteristik Unsur Jejak Dalam Diskriminasi Magmatisme Granitoid Pulau Bangka

EKSPLORIUM Vol 36, No 1 (2015): Mei 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.762 KB)

Abstract

Geologi Pulau Bangka disusun oleh variasi granit sebagai Granitoid Klabat yang tersebar di berbagai lokasi. Unsur jejak dapat diaplikasikan dalam diskriminasi magmatisme dalam pembentukan granitoid tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik granitoid yang tersebar di Pulau Bangka berdasarkan geokimia unsur jejak untuk diaplikasikan dalam mempelajari magmatisme, sumber dan situasi tektoniknya.Metode analisis geokimia yang diaplikasikan dengan menggunakan Analisis Aktivasi Neutron (AAN) dan portableX-Ray Fluorescence (pXRF) untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada 27 sampel  dari Granitoid Klabat di Pulau Bangka.Hasil penelitian ini menyimpulkan Granitoid Bangka Utara (Belinyu) dan Bangka Tengah sebagai  percampuran kerak-mantel dengan afinitas Calc-Alkaline, karakteristik Tipe I sedangkan Granitoid Bangka Selatan dan Barat asal kerak dengan afinitas High-KCalc-Alkaline sebagai Tipe S. Diharapkan diskrimasi magmatisme granitoid bermanfaat dalam memberikan panduan eksplorasi bahan galian nuklir di Pulau Bangka. Geology of Bangka Island consists by variation of granite as Klabat Granitoid scattered in various locations. Trace elements can be applied in magmatism discrimination of granitoid.The purpose of this study was to determine the characteristics Bangka Island granitoid based on trace element geochemistry to be applied in the study of magmatism, source and tectonic situation. Geochemical analyses method used are the Neutron Activation Analysis (NAA) and portableX-Ray Fluorescence (pXRF) for qualitative and quantitative analyses on 27 samples of Klabat granitoid on Bangka Island. This study concluded granitoid East Bangka (Belinyu) and Central Bangka as crust-mantle mixing with affinityCalc-Alkaline, characteristic of I Type while South and West Bangka granitoid crust origin with affinity high K Calc-Alkaline as S Type. Expectedmagmatismdiscrimination ofgranitoidhelpfulin providingradioactive mineral explorationguidein BangkaIsland.

Geochemical Signatures of Potassic to Sodic Adang Volcanics, Western Sulawesi: Implications for Their Tectonic Setting and Origin

Indonesian Journal on Geoscience Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11221.374 KB)

Abstract

DOI:10.17014/ijog.3.3.195-214The Adang Volcanics represent a series of (ultra) potassic to sodic lavas and tuffaceous rocks of predominantly trachytic composition, which forms the part of a sequence of Late Cenozoic high-K volcanic and associated intrusive rocks occurring extensively throughout Western Sulawesi. The tectonic setting and origin of these high-K rocks have been the subject of considerable debates. The Adang Volcanics have mafic to mafitic-intermediate characteristics (SiO2: 46 - 56 wt%) and a wide range of high alkaline contents (K2O: 0.80 - 9.08 %; Na2O: 0.90 - 7.21 %) with the Total Alkali of 6.67 - 12.60 %. Al2O3 values are relatively low (10.63 - 13.21 %) and TiO2 values relatively high (1.27 - 1.91 %). Zr and REE concentrations are also relatively high (Zr: 1154 - 2340 ppm; Total REE (TREY = TRE): 899.20 - 1256.50 ppm; TRExOy: 1079.76 - 1507.97 ppm), with an average Zr/TRE ratio of ~ 1.39. The major rock forming minerals are leucite/pseudoleucite, diopside/aegirine, and high temperature phlogopite. Geochemical plots (major oxides and trace elements) using various diagrams suggest the Adang Volcanics formed in a postsubduction, within-plate continental extension/initial rift tectonic setting. It is further suggested magma was generated by minor (< 0.1 %) partial melting of depleted MORB mantle material (garnet-lherzolite) with the silicate melt having undergone strong metasomatism. Melt enrichment is reflected in the alkaline nature of the rocks and geochemical signatures such as Nb/Zr > 0.0627 and (Hf/Sm)PM > 1.23. A comparison with the Vulsini ultrapotassic volcanics from the Roman Province in Italy shows both similarities (spidergram pattern indicating affinity with Group III ultrapotassics volcanics) and differences (nature of mantle metasomatism).

Mobilitas Uranium pada Endapan Sedimen Sungai Aktif di Daerah Mamuju, Sulawesi Barat

EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.038 KB)

Abstract

ABSTRAKMamuju merupakan daerah yang memiliki nilai laju dosis radiasi (radioaktifitas) tinggi. Daerah penelitian terdiri dari 6 sektor yaitu Sektor Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, dan Taan. Variasi batuan pada daerah penelitian tidak mencerminkan distribusi uranium, sehingga diperlukan metode geokimia untuk mengetahui distribusi uranium pada sistem drainase. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mobilitas dan distribusi uranium pada sistem drainase dengan menggunakan sampel sedimen sungai aktif. Analisis mobilitas uranium menggunakan persen labil yang didapatkan dari perbandingan uranium total dan uranium labil. Nilai uranium total didapatkan dari pengukuran X-Ray fluorescence spectrometry dan nilai uranium labil didapatkan dari pengukuran labile fluorimetry. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 lokasi potensial berdasarkan data radiometri. Hasil analisis menunjukkan Sektor Ahu memiliki nilai anomali uranium labil >113,44 ppm, Sektor Pangasaan dengan nilai anomali uranium labil >168,63 ppm, Sektor Takandeang dengan nilai anomali uranium labil >74,36 ppm, dan Sektor Botteng dengan nilai anomali uranium labil >84,23 ppm. Tipe anomali yang teridentifikasi pada dua sektor, yaitu anomali pada sektor Ahu berhubungan dengan presipitasi hidrolisat uranium terlarut pada endapan sungai dari lava Ahu dan breksi Tapalang, sementara anomali pada Sektor Takandeang berhubungan dengan pengayaan permukaan uranium in situ pada tanah dan batuan lava Takandeang. ABSTRACTMamuju is an area that has a high dose rate (radioactivity) value. The research area consists of 6 sectors namely Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, and Taan Sector. Lithological distribution does not represent the distribution of uranium; therefore geochemical method is needed to observe the distribution of uranium in the drainage system. The aim of this research is to provide an overview of the mobility and distribution of uranium in the drainage system using stream sediment. Uranium mobility analysis uses labile percent obtained from the ratio of total uranium and labile uranium, the total uranium value obtained from the measurement of X-Ray fluorescence spectrometry and the value of labile uranium obtained from measurement of labile fluorimetry. The sample taken from 4 potential areas based on radiometric value Map. The result of analysis shows that Ahu Sector has labile uranium anomaly >113.44 ppm, Pangasaan Sector with labile uranium anomaly >168.63 ppm, Takandeang Sector with uranium labile anomaly values >74.36 ppm, and Botteng Sector with uranium labile anomaly >84.23 ppm. The anomaly types identified from two sectors, namely Ahu Sector anomaly is related to the precipitation of dissolved uranium hydrolysates in stream deposit originating from Ahu lava and Tapalang breccia, while Takandeang Sector anomaly is related to the enrichment of in situ uranium in soil and Takandeang lava.

KARAKTERISTIK ALTERASI DAN MINERALISASI EMAS PADA ZONA OKSIDASI DI DAERAH PANGAPIT, KABUPATEN SAMBAS, PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Buletin Sumber Daya Geologi Vol 14, No 1 (2019): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di Dusun Pangapit, Desa Madak, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Daerah tersebut memiliki tambang emas yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Daerah di sekitar tambang telah mengalami oksidasi intensif yang ditandai oleh kondisi lapangan yang berwarna kemerahan dan banyaknya mineral oksida besi. Penelitian dilakukan guna mengetahui karakter dari alterasi dan mineralisasi di sekitar tambang dengan menggunakan metode analisis petrografi, mineragrafi, spektra dan geokimia. Zona alterasi di daerah penelitian terdiri dari tiga zona, yaitu kaolinit, serisit-ilit dan klorit-epidot-kalsit. Alterasi di daerah penelitian terjadi dalam dua tahap, tahap pertama terjadi setelah Eosen dan sebelum Pliosen, sementara tahap kedua terjadi setelah Pliosen-Pleistosen. Alterasi pertama ter-overprint sebagian oleh alterasi kedua. Mineralisasi emas di daerah penelitian berupa urat dengan arah umum baratlaut-tenggara yang terdiri dari mineral kuarsa, hematit, goetit, pirolusit, pirit, dan kalkopirit. Emas pada mineralisasi primer berasosiasi sedang dengan unsur Pb. Mineralisasi primer terpusat pada daerah tambang rakyat Pangapit di baratlaut Bukit Batubelah dengan hostrock tuf dan batulempung. Mineralisasi primer terjadi bersamaan dengan terjadinya alterasi pertama.