Bambang Prastowo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

UJI KINERJA KOMPOR BERTEKANAN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK NABATI ASAL TANAMAN PERKEBUNAN Prastowo, Bambang; -, Srimulato; Hastono, Abi Dwi; Kratzeisen, Martin
Jurnal Teknotan Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompor bertekanan (Protos-1) belum diuji pengoperasiannya menggunakan minyak nabati di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kinerja kompor dan mengevaluasi jenis bahan bakar nabati yang sesuai. Metode deskriptif analisis digunakan dengan mengacu pada penggunaan tiga jenis minyak nabati tanaman perkebunan, yaitu kelapa, kelapa sawit dan jarak pagar. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah residu pembakaran spesifik dalam vaporator kompor dengan bahan bakar minyak jarak pagar, minyak kelapa dan minyak kelapa sawit berturut-turut adalah 0,73 - 0,88; 0,13 - 0,23 dan 0,32 - 0,52 g/kg. Persentase residu carbon Conradson pada minyak kelapa secara umum lebih rendah daripada minyak jarak pagar dan minyak sawit, yaitu berturut-turut  0,17 - 0,21; 0,22 - 0,32 dan 0,22 - 0,31 g/kg. Kandungan residu carbon dan pospor dalam minyak berkaitan dengan residu dalam vaporator. Daya yang dihasilkan dari kompor dengan minyak jarak pagar dan minyak kelapa sawit tidak berbeda, yaitu rata-rata 2,765 dan 2,725 kW, namun berbeda pada minyak kelapa, yaitu sekitar 2,98 kW. Konsumsi bahan bakar masing-masing adalah 0,281 - 0,315 kg/jam (minyak kelapa), 0,266 - 0,287 kg/jam (minyak jarak pagar) dan 0,270 - 0,275 kg/jam (minyak kelapa sawit). Kebisingan kompor terukur 70,2 dB dan masih berada di bawah ambang standar maksimum yang diijinkan yaitu 90 dB. Secara umum kinerja kompor pada penggunaan ketiga bahan bakar nabati tersebut adalah sama baiknya. Kata kunci : Bahan bakar nabati, Minyak kelapa, Minyak kelapa sawit, Minyak jarak pagar, Kompor bertekanan
MODEL PERCEPATAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN RAWA LEBAK BERBASIS INOVASI Effendi, Dedi Soleh; Abidin, Zainal; Prastowo, Bambang
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.671 KB)

Abstract

Pembangunan pertanian menghadapi tantangan yang semakin kompleks terkait dengan perubahan iklim, keterbatasan dan degradasi sumber daya alam, serta isu perdagangan global. Ketersediaan lahan subur makin berkurang akibat alih fungsi lahan, di sisi lain permintaan komoditas pangan terutama beras makin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pen-duduk. Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi pangan ke depan diarahkan pada lahan suboptimal termasuk lahan rawa lebak. Pengembangan lahan rawa lebak untuk pertanian memer-lukan teknologi pengelolaan lahan dan air serta teknologi budi daya yang sesuai untuk memperoleh hasil yang optimal, selain kondisi sosial ekonomi masyarakat, kelembagan, dan prasarana yang memadai. Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan teknologi spesifik lokasi yang layak dikembangkan di lahan rawa dengan sasaran akhir konservasi dan peningkatan produksi komoditas pertanian. Pengembangan lahan rawa lebak dila-kukan melalui empat subsistem, yaitu subsistem pengembangan lahan, budi daya, mekanisasi dan pascapanen, serta kelemba-gaan. Inovasi pertanian bisa dijadikan landasan bagi pengem-bangan model-model percepatan pembangunan pertanian di lahan rawa lebak. Peran aktif institusi terkait diperlukan sejak awal untuk mempermudah perencanaan dan pelaksanaannya.
PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KOPI BERBASIS INOVASI DI LAHAN KERING MASAM Hafif, Bariot; Prastowo, Bambang; Prawiradiputra, Bambang Risdiono
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 7, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.214 KB)

Abstract

Sumbangan usaha tani kopi terhadap kegiatan ekonomi penduduk tidak terbatas pada produksi kopi semata, tetapi juga lapangan pekerjaan di sektor perdagangan dan jasa. Kopi umumnya dibudidayakan dalam skala kecil. Namun, lahan untuk usaha komoditas perkebunan umumnya berupa lahan kering masam sehingga produktivitas tanaman rendah. Hal ini karena lahan kering masam mengandung Al tinggi yang dapat meracuni tanaman dan mengganggu penyerapan hara, miskin hara terutama N, P, K, Ca, dan Mg, miskin bahan organik, dan miskin mikroba tanah sehingga kurang subur. Oleh karena itu, penggunaan lahan kering masam untuk usaha pertanian perlu didukung teknologi pengelolaan sumber daya lahan seperti benih unggul toleran tanah masam, pemupukan berimbang, serta konservasi tanah dan air untuk lahan berlereng. Inovasi teknologi untuk komoditas perkebunan di lahan kering masam sudah tersedia. Agar teknologi tersebut dapat diterapkan di lapangan telah disusun suatu model yang terdiri atas empat kegiatan, yaitu (1) konservasi, yaitu pengembangan agribisnis kopi dalam perspektif konservasi lahan dan agroforestri, (2) perbaikan teknik budi daya melalui peremajaan dengan klon-klon unggul yang didukung kebun entres, (3) penanganan pascapanen untuk meningkatkan kualitas biji kopi, dan (4) penguatan kelembagaan petani melalui peningkatan dinamika kelembagaan petani yang berorientasi usaha tani kopi berbasis konservasi.
GASIFIKASI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN UPDRAFT GASIFIER Purwantana, Bambang; Prastowo, Bambang; Abineno, Jemseng Carles
Jurnal Teknotan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah tandan kosong kelapa sawit sebanyak 6 juta ton/tahun dengan kandungan energi dalam bentuk gas sebesar 17.08 MJ/kg tandan perlu dimanfaatkan. Namun belum terungkap sejauh mana energi tersebut dapat dipanen secara efektif dengan alat gasifikasi yang ada. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja gasifikasi tandan kosong kelapa sawit menggunakan updraft gasifier. Metode deskriptif analisis dilakukan pada beberapa variasi ukuran potongan bahan, pemadatan umpan, dan laju aliran udara input, dimana kinerja gasifikasi ditentukan berdasarkan parameter laju gasifikasi, efisiensi, suhu proses, suhu nyala api pembakaran syngas, dan prosentase residu yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifier tipe updraft cukup efektif untuk proses gasifikasi tandan kosong kelapa sawit dengan efisiensi proses 60–80 %, laju proses 2,75 – 3,50 kg/jam, dan menghasilkan syngas dengan suhu bakar 320 - 570 ºC. Kinerja gasifikasi terbaik dicapai pada debit udara input 300 - 400 lpm, ukuran potongan bahan < 4 cm, dan tekanan pada bahan 0,05-0,06 kg/cm2. Pada perlakuan tersebut dicapai laju proses sebesar 3-3,5 kg/jam, efektivitas proses 14 menit/kg, efisiensi proses 80 %, suhu nyala api syngas 540 °C. Kata kunci: gasifikasi, TKKS, ukuran, tekanan, kinerja
Potensi Sektor Pertanian Sebagai Penghasil dan Pengguna Energi Terbarukan PRASTOWO, BAMBANG
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.838 KB)

Abstract

RINGKASANPerkembangan kebutuhan energi dunia yang dinamis di tengah semakin terbatasnya cadangan energi fosil serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, menyebabkan perhatian terhadap energi terbarukan semakin meningkat, terutama pada sumber-sumber energi terbarukan di sektor pertanian seperti komoditi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Secara lebih sempit lagi, diungkapkan komoditas-komoditas utamanya,  yaitu padi, jagung, ubikayu, kelapa, kelapa sawit, tebu, jarak pagar, sagu serta ternak besar (sapi/kotoran  sapi). Potensi bioenergi asal residu biomassa tanaman dari sektor  pertanian (tanpa  industri  kayu  kehutanan, jagung) adalah sekitar 441,1 juta GJ. Pada kondisi sama pada tahun 2000 diperhitungan sekitar 430 juta GJ, atau  sekitar 470 juta  GJ jika residu industri kayu dimasukkan.  Jika  diperhitungkan  tersedianya  bio-energi dari hasil pokok komoditas pertanian (nira, gula, minyaknya dll), maka diperkirakan Indonesia dapat menyediakan bioenergi secara potensial sejumlah 360,99 juta GJ, sehingga jumlah totalnya sekitar 802,09 juta GJ. Sebagai perbandingan,  nilai tersebut kira-kira setara dengan pengoperasian terus menerus lebih dari 25 ribu unit pembangkit listrik tenaga energi terbarukan skala menengah ukuran 10 MW yang saat ini sedang dikampanyekan. Sektor pertanian selain sebagai penghasil energi terbarukan sekaligus merupakan pengguna potensial. Perhitungan keseimbangan antara produksi dan penggunaan energi terbarukan di sektor pertanian,  perlu dikaji secara terus menerus, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang energi dan pertanian. Evaluasi ini akan  bermanfaat  untuk  menilai efisiensi kegiatan agribisnis di Indonesia dari segi peningkatan produktivitas pertanian nasional dan pelestarian lingkungan melalui energi terbarukan.Kata kunci: Pertanian, potensi, energi terbarukan, bio-energi. ABSTRACTPotency of Agrriculture Sector as the Producer and the User of Renewble EnergyDevelopment of a dynamic world energy consumption within the limitation of fossil energy reserve as well as the  awareness  on  the  environmental  conservation evoke the increase of interest on a renewable energy, especially   a   renewable   energy   resources   from agriculture sector such as food crops, horticulture, estate commodities and animal husbandry. To be more specific,  the  main  commodities  are  paddy,  maize, cassava, coconut, palm oil, sugarcane, Jatropha curcas, sago, and large livestock (Cow/Cow  waste). The potency of bio-energy derived from plant biomass residue of agriculture sector (without wood industry, maize) is around 441.1 GJ.  At the same condition, in 2000, it is estimated roughly 430 million GJ or just about 470 million GJ if the residue of wood industry is included.  Estimated that if the availability of bio-energy derived from the main production of agriculture commodity is calculated, so that Indonesia could  provide  bio-energy  potentially  amounted  to 360.99 million GJ, therefore, the total amount would be around 802.09 million GJ. In contrast, the value is approximately equal to the continuous operating of more than 25 thousand units of electric power of renewable energy power for middle scale of 10 MW which is now being campaign. Agriculture sector is not only plays the role as the producer of a renewable energy, but also forms as a potential user. Alongside technology development of energy and agriculture sectors, the equivalent estimation between the production and the usage of renewable energy in agricultural sector need to be studied continuously. This evaluation is useful to analyze the efficiency of agribusiness activities in Indonesia based on the improvement of national agriculture productivity and environmental conservation through renewable energy.Key words: Agriculture, potency, renewable energy, bioenergy
Penerapan Model Kelambatan Waktu dalam Penelitian dan Perencanaan Pertanian Prastowo, Bambang
Agritech Vol 4, No 2,3, & 4 (1984)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1447.291 KB)

Abstract

.
Mekanisasi Pertanian dalam Perspektif Pengembangan Bahan Bakar Nabati di Indonesia PRASTOWO, BAMBANG; INDRAWANTO, CHANDRA; EEFENDI, DEDI SOLEH
Perspektif Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan  lingkungan  strategis  yang  sangat  serius adalah adanya kenaikan harga dan permintaan pangan dan  energy  yang  semakin  cepat.  Oleh  karena  itu, terjadinya  kelangkaan  bahan  bakar  minyak (BBM) menjadi    kendala    serius    dalam    pengembangan mekanisasi pertanian ke depan. Pemanfaatan bahan bakar  nabati (BBN)  menjadi  salah  satu  alternatif penyelesaiannya. Ditinjau dari bentuknya, bahan bakar nabati  bisa  berbentuk  padat,  gas atau cair.  Seperti halnya BBM, bentuk cair dari BBN adalah  yang paling luas dan paling luwes penggunaannya. Lahan yang sesuai dan tersedia untuk tanaman penghasil BBN juga cukup luas, yaitu sekitar 22,4 juta ha, yang terdiri atas 7,1 juta ha untuk tanaman semusim dan 15,3 juta ha untuk tanaman tahunan. Potensi energi biomasa dari pertanian  di  Indonesia  sekitar 360,99  juta  GJ  yang berasal dari hasil pokoknya (biji,buah dll) dan sekitar 441,1  juta  GJ  dari  residu  biomasanya.  Teknologi mutakhir pemanfaatan biomasa adalah dengan cara mengubah biomasa menjadi cairan atau bahan bakar cair.   Teknologi   proses   semacam   ini   disebut  juga ”second generation biofuel”, atau proses ”biomass to liquid”. Oleh karena hasilnya dalam bentuk cair, maka penggunaannya  akan  lebih  luwes  dan  dapat  lebih mudah dimanfaatkan untuk alat-alat dan mesin-mesin pertanian. Biomasa juga dapat diubah menjadi biogas menggunakan  reaktor  digestasi  anaerob,  di  mana bakteri akan mendigestasi biomasa dan menghasilkan biogas. Biogas dapat dimanfaatkan     untuk pengoperasian  mesin-mesin  pengering  di  pedesaan. Oleh  karena  mekanisasi  pertanian  ke  depan  akan menghadapi kelangkaan energi fosil, maka penelitian dan    pengembangan    mekanisasi    yang    dapat memanfaatkan   bahan   bakar   nabati   dan   biomasa lainnya   hendaknya   mampu   mensinergikan   antar keduanya sehingga mampu dioperasionalisasikan di lapangan.Kata  kunci  :   Mekanisasi   pertanian,   bahan   bakar minyak,  bahan  bakar  nabati,  energi biomasa, energi fosil ABSTRACTPerspective Agriculture Mechanization in Relation to Bio fuel Development in IndonesiaThe price and demand of energy and food has been increase faster.  Potential shortage of fossil fuel became a   serious   problem   in   developing   agriculture mechanization. Therefore, bio fuel is an alternative way to solve the problem.  Bio energy can be produced in solid, gas or liquid form.  However, the liquid form is the most easy to be used.  Indonesia has around 22.4 million ha of land to grow up bio fuel crops. 7.1 million ha for seasonal crops and 15.3 million ha for annual crops.  Potential  of  energy  of  biomass  from agriculture is around 360.99 million GJ.  Biomass can be  converted  to  be  liquid  bio  fuel.    This  namely technology for second generation bio fuel or biomass to liquid process.  Biomass can also be bended to be biogas  by using anaerob digestation reactor.  Biogas can be used to operate drier machine in villages. To overcome fossil fuel scarcity problem in the future, agriculture   mechanization   development   should   be consider  bio  fuel  as  an  alternative  energy  source. Research of agriculture mechanization, then should be directed to the machines that can be operated using bio fuel and other biomas energy.Keywords: Agriculture mechanisation, bio fuel, fossil fuel, biomass energy, fossil energy
Bahan Bakar Nabati Asal Tanaman Perkebunan Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah Untuk Rumah Tangga PRASTOWO, BAMBANG
Perspektif Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.982 KB)

Abstract

RINGKASANDi  antara  masalah  yang  berkenaan  dengan  energi nasional antara lain adanya kecenderungan konsumsi energi fosil yang semakin besar, energi mix yang masih timpang,  dan  harga  minyak dunia yang tidak menentu. Ketimpangan energi mix adalah terjadinya penggunaan  salah  satu  jenis  energi  yang  terlalu dominan, yaitu penggunaan minyak bumi sebesar 54,4 %. Ketimpangan energi mix dan penggunaan energi yang  masih  boros  mengakibatkan  beban  nasional semakin berat. Khusus untuk minyak tanah, subsidi pemerintah  khusus  masih  mencapai  sekitar 34,51 triliun rupiah. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya lain, di  antaranya adalah penggunaan bahan bakar nabati (BBN), untuk mengurangi subsidi, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat bawah berupa pengganti minyak tanah. Bahan bakar nabati (BBN) adalah semua bahan bakar yang berasal dari minyak nabati, dan dapat berupa biodiesel, bioetanol, bio-oil (minyak  nabati  murni).  Minyak murni umumnya dapat digunakan untuk pengganti minyak tanah dan sejenisnya, melalui peralatan atau kompor khusus. Penggunaan langsung minyak murni maksudnya adalah penggunaan minyak hasil tanaman (pure plant oil atau crude oil) tanpa perlu proses transesterifikasi yang memerlukan tambahan bahan dan biaya. Jika tujuannya adalah membantu masyarakat kelas rendah pengguna minyak tanah, maka minyak murni menjadi pilihan. Menurut sifatnya, maka minyak murni harus dalam bentuk kabut atau uap agar dapat terbakar secara baik, sehuingga harus mendapat tekanan yang cukup   sebelum   pembakaran,   dan   minyak   dapat terbakar secara baik. Hal ini memerlukan kompor yang memiliki tabung bertekanan cukup (sekitar 2 - 3 bar). Kompor semacam ini sudah banyak digunakan oleh para penjual jajanan atau kaki lima, tetapi biasanya menggunakan minyak tanah, dan masih harus dimodifikasi agar dapat digunakan untuk BBN dalam bentuk minyak murni. Uji coba awal jenis baru kompor bertekanan di Indonesia maupun di beberapa negara lain  terbukti berhasil baik sehingga perlu segera dituntaskan penelitiannya dan diformulasikan, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Fabrikasi kompor tersebut di daerah-daerah dengan menggunakan bahan lokal akan membuka kesempatan kerja serta kesempatan berusaha bagi masyarakat di daerah.  Tanaman  kelapa  dan  jarak  pagar  sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati, potensinya lebih baik dibandingkan jenis tanaman perkebunan lainnya, terutama penggunaan minyak murninya sebagai pengganti minyak tanah dengan memanfaatkan kompor bertekanan yang sesuai.Kata kunci : Bahan bakar nabati, pengganti minyak tanah rumah tangga, kompor bertekanan ABSTRACTEstate Crops Origin Of Biological Fuel As An Alternative Of Kerosene For Household Amongst the problems of national energy, are the trend of increasing fossil energy consumption, unbalance of mix energy, and uncertaint world oil price. Unbalance of mix energy and the wasteful use of energy  consumption,  caused  national  responsibility increased. Especially for kerosene, government subsidy reach to 34.51 trillion rupiahs. To reduce government subsidy and to fulfil necessity of low community at once, therefore, another efforts are needed. Biological fuel  is  all  fuel  that  originated  from  botanical  oil, namely  biodiesel,  bioetanol  or  bio-oil (pure  oil). Generally, pure oil can be used as an alternative of kerosene or others through special equipment (special stove). Direct use of pure oil is the use of crude oil (pure plat oil), without any transesterification proses and additional budget. In order to get proper ignition, pure plant oil must be in the form of mist or vapour. The equipment (stove) with enough pressure (approx. 2-3 bar), therefore is needed. In Indonesia and other countries, the experiment of stove with pressure were successful, and need to be formulated to be used by community.  Stove fabrication in the district (territory areas) by using of local material, will open a job opportunity, as well as the opportunity of community to do a business in the districs. As fuel producing plants, coconut (Cococ nucifera) and Jatropha curcas  are more potential than those of other estate crops.Key words : Biological fuel, kerosene, pure plant oil, stove pressured
Alat Tanam Biji-bijian Tipe Bersambung dalam Alur ATD-2 Buatan Balittan Maros Prastowo, Bambang; Abidin, Bahrun; Firmansyah, Imam Uddin
Agritech Vol 8, No 4 (1988)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2461.414 KB)

Abstract

.
Kesesuaian Hubungan Antara Jenis Pompa, Sumber Air, dan Tanaman yang Dialiri Prabowo, Abi; Prastowo, Bambang; Firmansyah, I.U.; Anasiru, R.H.
Agritech Vol 16, No 2 (1996)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2968.985 KB)

Abstract

The research was conducted at Belawa, Wajo, South Sulawesi during dry season 011994/1995. Furrow irrigation system was used on the research. Axial type pumps were used to lilt water from creek at depths of 2 m, whereas centrifugal type pumps lifted water from the shallow well groundwater at depths of 15 m. Both type of pumps were used to irrigate soybean and maize crops with the total area for each plot of 500 m2. Maize and soybean were irrigated using furrow. Axial pump diameters and engine powers during the research were the following: 4" (6 HP), 6" (8 HP), and 8" (10 HP) respectively; while 2" (4 HP), 3" (5 HP), 4" (10 HP) for centrifugal pump. Objective of the research was to optimize benefit income from pump operations based on type of pump, irrigation type, source of water, land preparation, type of crop (s), irrigation efficiency, and yield. Results of the research shows that optimum performance among the centrifugal pump was achieved by pump diameter of 4" with optimum discharge 11.8 1/s, furrow length of 110 m, and cost of water Rp. 85.555, /season. Centrifugal pump type is suitable for soybean crop irrigation. Optimum benefit for axial type pump was obtained by PS-1 with the discharge of 35 Vs, length of furrow 180, cost of water Rp. 40.650,-/season, and suitable for maize irrigation