Dwi Prasetyo
Department of Pediatrics, Medical Faculty of Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung
Articles
30
Documents
Clinical Aspects Disparities of Resistant and Non Resistant Nephrotic Syndrome in Children

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 60 No. 12 December 2010
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Histopathologically diagnosed nephrotic syndrome (NS) consists of minimal and nonminimal lesions. Minimal lesion nephrotic syndrome (MLNS) is usually called as sensitive steroid nephrotic syndrome (SSNS), and nonminimal lesion nephrotic syndrome (NMLNS) is the same as steroid resistant nephrotic syndrome (SRNS). Histopathologic feature is a gold standard in diagnosing NS, but it is not possible for every patient due to its invasive nature. This study aimed to elucidate the association between several clinical and laboratory manifestations such as nonalbumin protein, cholesterol, hypertension, haematuria, and the response towards SRNS and SSNS. An analytic study was carried on to find out the response of steroid therapy. The sample consisted of two groups with 38 subjects each, collected from the Outpatient and Inpatient setting of the Department of Child Health Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, since January 2008 up to September 2009, all of whom were diagnosed with SSNS or SRNS according to the medical records data. Further analysis was done using X2. Logistic regression analysis was done simultaneously to find out the association of several variables, and odds ratio was used to calculate the strength between the variables. There was no difference in nonalbumin protein (p=0.139) and hypertension (p=0.247) of all subjects from both groups. The cholesterol rate was lower in SRNS group compared to those in SSNS group (p<0.05). Both groups showed difference in the incidence of haematuria (p=0.054). Multivariate analysis found out the association between sex, cholesterol rate and nonalbumin protein response towards steroid therapy in NS.Keywords: cholesterol, SRNS, SSNS, nonalbumin protein

Pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel Berbasis Web

Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer Vol 6, No 1 (2008): Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer
Publisher : Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.787 KB)

Abstract

Dewasa ini penggunaan teknologi informasi di segala bidang berkembang pesat, karena sangat membantu pengguna untuk mengolah data dan memperoleh informasi dengan cepat, tepat dan akurat.  Sistem informasi geografis adalah salah satu penggunaan teknologi informasi untuk mengolah peta dalam bentuk digital, sehingga memudah peta tersebut dimanipulasi dan diolah datanya.Tindak kejahatan banyak terjadi di berbagai tempat dengan waktu kejadian yang berbeda, menyebabkan sulitnya menentukan daerah mana yang memiliki tingkat kerawanan tindak kejahatan. Informasi tentang banyaknya tindak kejahatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan penegak hukum dalam hal ini jajaran kepolisian.  Bagi semua pihak seperti masyarakat luas, informasi ini sangat berguna untuk tindakan antisipasi, khususnya bagi kepolisian membantu dalam mengambil keputusan apakah suatu daerah memerlukan pengawasan ekstra atau tidak, selain itu informasi tersebut dibutuhkan untuk mengetahui intensitas tindak kejahatan.Penelitian ini mencoba mengembangkan suatu sistem informasi yang mampu menampilkan peta secara multilevel serta memetakan jumlah tindak kejahatan yang terjadi di dalam peta dalam bentuk yang beragam. Pengelompokan pada masing-masing daerah diambil berdasarkan ciri-ciri tertentu sehingga output yang dihasilkan diharapkan akan memudahkan pengguna dalam membedakan tingkat kerawanan antara daerah satu dan lainnya dan juga menampilkan grafik dan perhitungan jumlah tindak kejahatan yang terjadi. Visualisasi peta dan grafik pada sistem ini diharapkan akan membantu masyarakat dan memudahkan Kepolisian Resort Kota Bogor dalam menganalisis tingkat kerawanan di tingkat kota, kecamatan maupun  di level yang lebih kecil yaitu kelurahan sehingga sistem ini bisa mengolah data kriminalitas secara cepat, tepat dan akurat.

Scoring System for Helicobacter pylori Infection in Children with Recurrent Abdominal Pain

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 8 August 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Helicobacter pylori (H. pylori) infection is estimated to strike half the world’s population. However, the diagnostic tool for H. pylori infection remains expensive and scarce. Thus, a simple diagnostic method is required in places with limited resources. This study aims to assess the diagnostic values of scoring system for H. pylori infection in children presenting with recurrent abdominal pain (RAP). Methods: This is a diagnostic study with a cross sectional design on 196 children aged 6-18 years who presented with RAP. This study was conducted in Bandung, January-November 2009. The scoring system was developed based on a questionnaire on complaints related to H. pylori infection. As the gold standard, a non-invasive examination with high accuracy was used, a serological kit BioM pylori (Mataram local antigen).The diagnostic values were assessed by the area under the receiver operating characteristic (ROC) curve. Result: The prevalence of H. pylori infection in children presenting with RAP is 54.6% (95% CI: 47.6 - 61.6%). After performing bivariate and multivariate analyses, 11 questions were used on the final questionnaire. Based on the ROC curve, a cut-off point of score > 30 was obtained, with a  88.5% sensitivity and 88.2% specificity. Conclusion: The scoring system can be used to predict H.pylori infection in children aged 6-18 years who presented with RAP. Key words: Helicobacter pylori, recurrent abdominal pain, scoring system, children

Perbedaan Manifestasi Klinis dan Laboratorium Kolestasis Intrahepatal dengan Ekstrahepatal pada Bayi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikterus fisiologis sering didapatkan pada bayi dan kebanyakan gejalanya ringan. Gejala ikterik biasanya akan menghilang dalam 2 minggu setelah lahir. Pada ikterus yang terkonjugasi terjadi defek produksi intrahepatal, transpor transmembran dari empedu, yaitu kolestasis intrahepatal (IH) atau obstruksi kolestasis ekstrahepatal (EH) yang mengakibatkan hambatan empedu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan manifestasi klinis dan laboratorium kolestasis IH dengan EH pada bayi. Studi potong lintang dilakukan pada 72 bayi dengan kolestasis yang datang ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, periode Januari 2014–Desember 2015. Analisis data dilakukan dengan uji Pearson Chi-kuadrat dan Mann-Whitney. Subjek terdiri atas 43 (60%) laki-laki dan 29 (40%) perempuan, kolestasis IH sebanyak 61 orang (85%), dan EH sebanyak 11 (15%). Pada penelitian ini didapatkan perbedaan bermakna manifestasi klinis asites antara kolestasis IH dan EH (p=0,047), sedangkan venektasi, hepatomegali, dan splenomegali tidak didapatkan perbedaan bermakna. Pada pemeriksaan warna feses tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,936), demikian juga hasil laboratorium bilirubin total, bilirubin direk, glutamat oksaloasetat transaminase, glutamat piruvat transaminase, alkali fosfatase, dan gama glutamil transferase serum tidak berbeda bermakna. Simpulan, didapatkan perbedaan manifestasi klinis asites, sedangkan manifestasi klinis yang lain dan hasil laboratorium tidak didapatkan perbedaan antara kolestasis IH dan EH. [MKB. 2016;48(1)45–50]Kata kunci: Kolestasis ekstrahepatal, kolestasis intrahepatal, laboratorium, manifestasi klinisDifferences of Clinical Manifestation and Laboratory Findings in Intra-Hepatic and Extra-Hepatic Cholestasis in InfantsAbstractPhysiological jaundice found in infants and most symptoms are often mild. Jaundice symptoms usually disappear within 2 weeks after birth. In conjugated jaundice defects in intra-hepatic production, transmembran transport from bile, i.e. cholestasis intra hepatic (IH), or extra-hepatic (EH) obstruction/cholestasis occur, resulting in bile barriers. This study was conducted to look at the differences in the clinical and laboratory manifestations of IH and EH cholestasis in infants. A cross-sectional study was performed on 72 infants with cholestasis who came to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, during the period of January 2014–December 2015. Data analysis was performed with Pearson Chi-square test and Mann-Whitney. Subjects consisted of 43 (60%) infant boys and 29 (40%) infant girls, IH cholestasis were 61 (85%) and EH cholestasis were 11 (15.3%). Significant differences in the clinical manifestations of acites with IH and EH cholestasis were found (p=0.047), whereas insignificant differences in venectation, hepatomegaly and splenomegaly were observed. On examination of stool color, no significant difference was found (p=0.936). The same was true for laboratory results of total bilirubin, direct bilirubin, serum glutamic oxaloacetic transaminase, glutamic pyruvic transaminase, alkaline phosphatase and gamma glutamyl transferase. In conclusion, we found differences in clinical manifestation of acites, while for other clinical manifestations and laboratory results no differences were found between IH and EH cholestasis. [MKB. 2016;48(1)45–50]Key words: Clinical manifestation, extra-hepatic cholestasis, intra-hepatic colestasis, laboratory

Pengembangan Model Blended Learning Mata Kuliah Interaksi Manusia & Komputer Menggunakan Metode System Development Life Cycle (SDLC) di Universitas Nusa Cendana

Jurnal Teknodika 2015: PROSIDING WORKSHOP NASIONAL PENDIDIKAN "PENGEMBANGAN ICT DALAM PEMBELAJARAN"
Publisher : Jurnal Teknodika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.187 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kondisi geografis yang dibatasi oleh lautan/samudera luas dan gunung.  Keadaan tersebut menyebabkan kondisi pulau yang satu dengan yang lain berjauhan.  Hal ini tentunya mempengaruhi kondisi dan interaksi sosial, ekonomi, teknologi, dan yang terkait dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu tingkat kemajuan pendidikan di satu daerah/pulau dengan daerah/pulau lainnya berbeda-beda. Tingkat kemajuan pendidikan ini tentunya dipengaruhi oleh bagaimana sistem pembelajaran yang diterapkan di tempat itu.Untuk mengatasi hambatan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemerataan kesempatan belajar dalam  kondisi geografis,budaya, sosial ekonomi, yang berbeda maka dibuatkan salah satu solusi yaitu Blended Learning dengan memanfaatkan perangkat yang terkoneksi dengan internet. Universitas Nusa Cendana adalah satu-satunya universitas negeri yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT dengan kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau kecil dan besar, cukup baik untuk diterapkan sistem pembelajaran Blended Learning, karena selain hal tersebut di atas keterbatas transportasi bagi peserta didik dan pendidik juga menjadi kendala dalam pembelajaran konvensional.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah SDLC (System Development Life Cycle).  Optimisme suksesnya pelaksanaan sistem Blended Learning ini sangat tinggi karena fasilitas dan atmosfir dari berbagai pihak sangat mendukung ditambah dengan kebutuhan akan menjadi kebutuhan prioritas bagi semua orang dalam hal ini peserta didik. Kata Kunci : Blended Learning, e-learning, metode SDLC (System Development Life Cycle)

Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Produksi Toksin Clostridium difficile pada Pasien Demam Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Gejala Diare

Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clostridium difficile merupakan flora normal dalam saluran pencernaan manusia, tetapidalam keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit, yaitu menjadi patogen bila adakesempatan untuk bermultiplikasi dan membentuk toksin. Misalnya pemberian obatanti jasad renik dapat menekan sementara unsur-unsur flora usus yang peka terhadapobat tersebut. Sebaliknya kuman yang resisten tetap hidup, bahkan akan berkembangterus sehingga terjadi pertumbuhan yang berlebih. Di Indonesia Clostridium difficilebelum begitu dikenal sebagai penyebab kolitis akibat pemakaian antibiotik. Kemungkinankarena kurangnya kewaspadaan dalam klinik, tidak tersedianya fasilitas laboratoriumyang khusus untuk biakan anaerob atau kegagalan dalam melakukan biakan anaerob.Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah kultur Clostridium difficile yang positifpada pemeriksaan hari pertama (maksimum mendapat 3 hari pengobatan antibiotik),peningkatan populasi Clostridium difficile dalam tinja pasien demam tifoid danpneumonia yang mendapatkan pengobatan antibiotik 8 hari, adanya toksinClostridium difficile dalam tinja anak penderita demam tifoid dan pneumonia yangmendapat pengobatan antibiotik 8 hari dan mengevaluasi hubungannya dengan gejaladiare. Penelitian ini dilakukan terhadap 38 pasien demam tifoid dan 12 pasien pneumoniayang mendapat antibiotik minimal 8 hari dan dirawat di Sub Bagian Infeksi danPulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-Unpad/Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Hasan Sadikin, Bandung. Sebagai kontrol dilakukan pemeriksaan tinja pada 20 anaksehat. Pemeriksaan bakteriologik dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, FakultasKedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.Dari 50 pasien yang diteliti didapatkan 24 (48,0%) laki-laki dan 26 (52,0%)perempuan. Kelompok umur 1-4, 5-9, dan > 10 tahun berturut-turut didapatkan 26(52,0%), 13 (26,0%) dan 11 (22,0%). Antibiotik kloramfenikol diberikan pada 38(76,0%) anak, sedangkan ampisilin pada 12 (24,0%) anak. Hasil kultur Clostridiumdifficile pertama positif sebanyak 30 (60,0%) dan negatif 20 (40,0%) pasien. Ternyatapada kelompok anak sehat ditemukan 8 anak dengan kultur Clostridium difficile positif(40,0%) dan 12 anak dengan kultur negatif (60,0%). Dari hasil perhitungan statistiktidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah rata-rata koloni Clostridium difficileper gram tinja pada kelompok anak sehat dan pasien infeksi yang diambil pada haripertama perawatan yang sebelumnya telah mendapat maksimum 3 hari antibiotik.Didapatkan peningkatan jumlah koloni Clostridium difficile secara bermakna pada anakpasien demam tifoid dan pneumonia setelah diberi antibiotik 8 hari. Walaupun toksinClostridium difficile terdeteksi pada 24,0% pasien, tetapi yang disertai gejala diare hanyapada 2 penderita. Juga didapatkan perbedaan bermakna rata-rata jumlah koloniClostridium difficile per gram tinja antara pasien dengan toksin positif dan negatif.Pada semua anak yang didapatkan toksin Clostridium difficile ternyata mempunyaijumlah koloni Clostridium difficile melebihi 103 koloni per gram tinja.

Risiko Gangguan Perkembangan Neurologis antara Bayi Kurang Bulan Lanjut dan Bayi Cukup Bulan Sesuai Usia Kehamilan

Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan lanjut mempunyai fisiologis, metabolik, dan imunologi imatur, serta merupakan periodetercepat pertumbuhan dan perkembangan otak. Pada awal kehidupan, BKBL rentan mengalami komplikasi dan mempunyairisiko gangguan perkembangan neurologis (GPN).Tujuan. Menentukan risiko GPN antara BKBL dan BCB sesuai usia kehamilan pada usia 3–6 bulan.Metode. Penelitian dilaksanakan periode Oktober–Desember 2014 di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalahbayi BKBL usia 3–6 bulan dengan BCB sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Risiko GPN diperiksa menggunakanBayley infant neurodevelopmental screener (BINS) dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan rasio odds.Hasil. Terdapat 36 BKBL dan 36 BCB, dengan usia rerata 5,58 bulan pada BKBL dan 5,26 pada BCB. Perawakan pendek lebihbanyak pada BKBL dibanding BCB. Sebagian besar subjek pada kedua kelompok tidak mendapatkan ASI eksklusif. Pendidikanterbanyak orangtua adalah SMP dan SMA dengan sebagian besar orangtua bekerja, tetapi mempunyai pendapatan/bulan yangrendah. Risiko GPN pada kelompok BKBL 22 dan BCB 10 bayi (p=0,004) dengan kekuatan hubungan risiko GPN pada BKBL4,086 kali dibanding dengan BCB (RO=4,086; IK95%:1,518–11,000).Kesimpulan. Bayi kurang bulan lanjut sesuai usia kehamilan dan sesuai usia koreksi mempunyai risiko gangguan perkembanganneurologis 4,086 kali lebih besar dibanding dengan bayi cukup bulan.

Korelasi Kadar Ion Kalsium Serum dengan Dimensi, Fungsi Sistol dan Diastol Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor dengan Hemosiderosis

Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kalsium berperan penting dalam kontraksi miokardium. Besi bebas/non-transferrin bound iron (NTBI) padathalassemia mayor (TM) dengan kelebihan besi (hemosiderosis) masuk ke dalam sel jantung menggunakan L-typ e calcium channel(LTCC) sehingga mengganggu transportasi kalsium.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar ion kalsium serum dengan dimensi, fungsi sistol, dan diastol ventrikel kiri pada TM yangsudah mengalami hemosiderosis.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Desember 2014–Januari 2015 melibatkan 67 kasus TMusia 7–14 tahun yangdisertai hemosiderosis. Pemeriksaan kadar ion kalsium serum menggunakan metode ion selective electrode (ISE) dan pemeriksaandimensi serta fungsi jantung menggunakan ekokardiografi 2 dimensi, M-mode, dan Doppler oleh dokter spesialis kardiologi anak.Analisis korelasi dengan uji Spearman dan Pearson.Hasil. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadar ion kalsium serum dan left ventricularposterior wall thickness/LVPWd (r=-0,25; p=0,04). Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadarion kalsium serum dan ejection fraction/EF (r=-0,294; p=0,016) serta fractional shortening/FS (r=-0,252; p=0,039), tetapi tidakdengan fungsi diastol (p>0,05).Kesimpulan. Semakin rendah kadar ion kalsium serum maka semakin tinggi nilai LVWP, EF, dan FS. Kadar ion kalsium serumtidak berkorelasi dengan fungsi diastol.

Efektivitas Terapi Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak dengan Keluhan Sakit Perut Berulang Setelah Satu Tahun Terapi Eradikasi

Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Infeksi Helicobacter pyloripada anak dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti gastritis, ulkus peptikum, dan kanker gaster. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan tersering terinfeksi H. pylori,terutama pada usia sekolah. Pada anak yang telah diberikan terapi eradikasi, respons pengobatan harus dipantau, salah satunya dengan pemeriksaan serologis antibodi IgG. Tujuan.Mengetahui apakah telah terjadi perubahan status serologis IgG H. pylori satu tahun setelah terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang (SPB) pada yang terinfeksi H. pylori. Metode. Penelitian dengan rancangan cross sectionalperiode Juli–September 2011 yang dilakukan pada siswa anak usia 6–18 tahun di beberapa SD, SMP, atau SMA di kota Bandung. Subjek dengan keluhan sakit perut berulang dengan status serologis IgG H. pyloripositif sebelum diberikan terapi dan telah diberikan terapi eradikasi satu tahun yang lalu. Uji ExactFisher digunakan untuk analisis data. Hasil.Tigapuluh empat anak memenuhi kriteria inklusi. Semua anak memperlihatkan perubahan serologis IgG H. pylorimenjadi negatif. Terdapat 4 anak yang masih mengalami gejala SPB, dan 30 anak tidak terdapat gejala SPB setelah terapi eradikasi (Prevalensi 11,8%, IK: 4,7–26,6). Kesimpulan.Status serologis IgG H. pylorisemuanya negatif, setelah satu tahun selesai terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang.

Hubungan Kadar Matriks Metaloproteinase-2 Serum dan Skor Aspartate To Platelet Ratio Index untuk Menilai Fibrosis Hati antara Penyandang Thalassemia yang Mendapat Terapi Kelasi Besi Deferoksamin dan Deferipron

Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi yang dapat menyebabkan terbentuknya peroksidase lipid dan merusak sel hati sehingga terbentuk fibrosis hati. Terapi kelasi besi bertujuan untuk mengurangi kelebihan besi.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati antara penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dengan deferipron.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Juli–Agustus 2013, dilibatkan 42 penyandang thalassemia usia 2,5–14 tahun yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan deferipron. Kadar MMP-2 serum diperiksa dengan metode ELISA dan perhitungan skor APRI dengan Rumus Wai. Perbedaan dan korelasi ditentukan antara varibel dengan uji Mann-Whitney dan Rank Spearmann. Analisis kovariat digunakan untuk menghilangkan faktor perancu.Hasil. Terdapat 44 subjek, 22 mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan 22 deferipron. Kadar MMP-2 serum kelompok deferipron lebih rendah (130ng/mL) dibandingkan deferoksamin (314ng/mL). Skor APRI kelompok deferipron rata-rata lebih tinggi (1,584) dibanding deferoksamin (0,575). Perbedaan skor APRI dan kadar MMP-2 serum kedua kelompok sangat bermakna (p<0,001). Terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI, yaitu semakin tinggi skor APRI maka semakin rendah kadar MMP-2 serum penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferipron dan deferoksamin (r=-0,726, p=<0,001).Kesimpulan. Penurunan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati pada kelompok terapi kelasi besi deferipron lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok deferoksamin serta terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI