cover
1.887
P-Index
Dwi Prasetyo
Department of Pediatrics, Medical Faculty of Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung
Articles
15
Documents
Clinical Aspects Disparities of Resistant and Non Resistant Nephrotic Syndrome in Children

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 60 No. 12 December 2010
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Histopathologically diagnosed nephrotic syndrome (NS) consists of minimal and nonminimal lesions. Minimal lesion nephrotic syndrome (MLNS) is usually called as sensitive steroid nephrotic syndrome (SSNS), and nonminimal lesion nephrotic syndrome (NMLNS) is the same as steroid resistant nephrotic syndrome (SRNS). Histopathologic feature is a gold standard in diagnosing NS, but it is not possible for every patient due to its invasive nature. This study aimed to elucidate the association between several clinical and laboratory manifestations such as nonalbumin protein, cholesterol, hypertension, haematuria, and the response towards SRNS and SSNS. An analytic study was carried on to find out the response of steroid therapy. The sample consisted of two groups with 38 subjects each, collected from the Outpatient and Inpatient setting of the Department of Child Health Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, since January 2008 up to September 2009, all of whom were diagnosed with SSNS or SRNS according to the medical records data. Further analysis was done using X2. Logistic regression analysis was done simultaneously to find out the association of several variables, and odds ratio was used to calculate the strength between the variables. There was no difference in nonalbumin protein (p=0.139) and hypertension (p=0.247) of all subjects from both groups. The cholesterol rate was lower in SRNS group compared to those in SSNS group (p<0.05). Both groups showed difference in the incidence of haematuria (p=0.054). Multivariate analysis found out the association between sex, cholesterol rate and nonalbumin protein response towards steroid therapy in NS.Keywords: cholesterol, SRNS, SSNS, nonalbumin protein

Pengembangan Sistem Informasi Geografis Tindak Kejahatan Multilevel Berbasis Web

Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer Vol 6, No 1 (2008): Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer
Publisher : Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.787 KB)

Abstract

Dewasa ini penggunaan teknologi informasi di segala bidang berkembang pesat, karena sangat membantu pengguna untuk mengolah data dan memperoleh informasi dengan cepat, tepat dan akurat.  Sistem informasi geografis adalah salah satu penggunaan teknologi informasi untuk mengolah peta dalam bentuk digital, sehingga memudah peta tersebut dimanipulasi dan diolah datanya.Tindak kejahatan banyak terjadi di berbagai tempat dengan waktu kejadian yang berbeda, menyebabkan sulitnya menentukan daerah mana yang memiliki tingkat kerawanan tindak kejahatan. Informasi tentang banyaknya tindak kejahatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan penegak hukum dalam hal ini jajaran kepolisian.  Bagi semua pihak seperti masyarakat luas, informasi ini sangat berguna untuk tindakan antisipasi, khususnya bagi kepolisian membantu dalam mengambil keputusan apakah suatu daerah memerlukan pengawasan ekstra atau tidak, selain itu informasi tersebut dibutuhkan untuk mengetahui intensitas tindak kejahatan.Penelitian ini mencoba mengembangkan suatu sistem informasi yang mampu menampilkan peta secara multilevel serta memetakan jumlah tindak kejahatan yang terjadi di dalam peta dalam bentuk yang beragam. Pengelompokan pada masing-masing daerah diambil berdasarkan ciri-ciri tertentu sehingga output yang dihasilkan diharapkan akan memudahkan pengguna dalam membedakan tingkat kerawanan antara daerah satu dan lainnya dan juga menampilkan grafik dan perhitungan jumlah tindak kejahatan yang terjadi. Visualisasi peta dan grafik pada sistem ini diharapkan akan membantu masyarakat dan memudahkan Kepolisian Resort Kota Bogor dalam menganalisis tingkat kerawanan di tingkat kota, kecamatan maupun  di level yang lebih kecil yaitu kelurahan sehingga sistem ini bisa mengolah data kriminalitas secara cepat, tepat dan akurat.

Scoring System for Helicobacter pylori Infection in Children with Recurrent Abdominal Pain

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 8 August 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Helicobacter pylori (H. pylori) infection is estimated to strike half the world’s population. However, the diagnostic tool for H. pylori infection remains expensive and scarce. Thus, a simple diagnostic method is required in places with limited resources. This study aims to assess the diagnostic values of scoring system for H. pylori infection in children presenting with recurrent abdominal pain (RAP). Methods: This is a diagnostic study with a cross sectional design on 196 children aged 6-18 years who presented with RAP. This study was conducted in Bandung, January-November 2009. The scoring system was developed based on a questionnaire on complaints related to H. pylori infection. As the gold standard, a non-invasive examination with high accuracy was used, a serological kit BioM pylori (Mataram local antigen).The diagnostic values were assessed by the area under the receiver operating characteristic (ROC) curve. Result: The prevalence of H. pylori infection in children presenting with RAP is 54.6% (95% CI: 47.6 - 61.6%). After performing bivariate and multivariate analyses, 11 questions were used on the final questionnaire. Based on the ROC curve, a cut-off point of score > 30 was obtained, with a  88.5% sensitivity and 88.2% specificity. Conclusion: The scoring system can be used to predict H.pylori infection in children aged 6-18 years who presented with RAP. Key words: Helicobacter pylori, recurrent abdominal pain, scoring system, children

Surveillance of Rotavirus Diarrhea in Hasan Sadikin Hospital Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.607 KB)

Abstract

AbstractThe diarrhea morbidity in Indonesia has increased, however, all the reports had not been done carefully, so that accurate surveillance are essential for improving quality of morbidity data. To determine the prevalence and clinical manifestations of rotavirus diarrhea and to characterize the circulating rotavirus strains, children below 5 years oldwho were admitted to Hasan Sadikin Hospital, Bandung because of diarrhea, from January 2006 through March 2007 were enrolled in a surveillance study and had stool specimens tested for the presence of rotavirus using enzyme immunoassay (EIA). The strains of rotavirus were determined using reverse transcriptase-polymerase chain reaction(RT-PCR). Rotavirus were detected in 47.8% analyzed samples (87/184), G and P-genotype of rotavirus were G[1] (37.5%) and P[6] (53.5%). Most subjects were males (56%), 6–11 months of age (35%). Most common clinical manifestations besides diarrhea were dehydration (72.7%) and vomiting (50%). Subjects with positive rotavirusmore common had dehydration (72% vs 28%) and vomiting (61% vs 39%). In conclusion, vomiting and dehydration are the prominent clinical manifestations of diarrhea with positive rotavirus infection. G1 and P6 are the most common genotype of rotavirus. [MKB. 2010;42(4):155–60].Key words: Clinical manifestations, diarrhea, genotype, prevalence, rotavirusSurveilans Diare Rotavirus di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungAbstrakMorbiditas diare di Indonesia meningkat, tetapi semua laporan belum dilakukan secara cermat, sehingga surveilans yang akurat penting untuk memperbaiki kualitas data. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan prevalensi dan manifestasi klinis diare rotavirus serta karakteristik strain rotavirus, anak usia di bawah 5 tahun yang dirawat karena diare di RS Hasan Sadikin, Bandung, dari Januari 2006 sampai Maret 2007, diikutsertakan dalam suatu penelitian surveilans dan spesimen fesesnya diperiksa untuk mendeteksi adanya rotavirus dengan menggunakan enzyme immunoassay (EIA). Strain rotavirus diperiksa dengan reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR). Rotavirus terdeteksi pada 47,8% sampel analisis (87/184), genotipe-G dan P adalah G[1] (37,5%) dan P[6] (53,5%) dari strain. Kebanyakan subjek adalah laki-laki (56%) usia 6–11 bulan (35%). Manifestasi klinis terbanyak adalahdehidrasi (72,7%) dan muntah (50%). Subjek dengan rotavirus positif lebih sering mengalami dehidrasi (72% vs 28%) dan muntah (61% vs 39%). Simpulan, muntah dan dehidrasi adalah manifestasi klinis terbanyak pada diare dengan infeksi rotavirus. Genotipe G1 dan P6 merupakan genotipe rotavirus yang paling sering ditemukan. [MKB.2010;42(4):155–60].Kata kunci: Diare, genotipe, manifestasi klinis, prevalensi, rotavirus

IMBANGAN PUCUK TEBU DAN AMPAS TEBU YANG DIFERMENTASI MENGGUNAKAN Phanerochaete chrysosporium PENGARUHNYA TERHADAP PRODUK FERMENTASI RUMEN

Jurnal Ilmiah Peternakan Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah Peternakan
Publisher : Jurnal Ilmiah Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.782 KB)

Abstract

Penelitian berjudul imbangan pucuk tebu dan ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium pengaruhnya terhadap produk fermentasi rumen telah dilaksanakan pada Desember 2012 sampai Maret 2013. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah cairan rumen sapi potong dan pakan terdiri atas konsentrat dan campuran pucuk tebu dan ampas tebu dengan imbangan 60:40. Campuran pucuk tebu dan ampas tebu difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium 10g/kg campuran pucuk tebu dan ampas tebu. Konsentrat tersusun dari14% jagung giling, 40% dedak, 5% onggok, 20% bungkil kelapa, 20% pollard, dan 1% urea. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan yaitu P1: Pucuk tebu 0% dan ampas tebu 100% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P2: Pucuk tebu 25% dan ampas tebu 75% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P3: Pucuk tebu 50% dan ampas tebu 50% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P4: Pucuk tebu 75% dan ampas tebu 25% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P5: Pucuk tebu 100% dan ampas tebu 0% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa imbangan pucuk dan ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium berpengaruh secara linier terhadap konsentrasi VFA (P<0,01) dengan persamaan Y = -13x + 165 r2 = 0,75, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH3 dan sintesis protein mikroba (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian adalah semakin tinggi taraf ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium 10 g/kg konsentrasi VFA semakin meningkat namun tidak memberikan makna terhadap konsentrasi NH3 dan sintesis protein mikroba, meskipun cenderung meningkat selaras dengan meningkatnya taraf ampas tebu serta penggunaan pucuk tebu dapat diganti sepenuhnya oleh ampas tebu.   Kata Kunci : Phanerochaete chrysosporium, Fermentasi, Konsentrasi VFA Total, NH3 serta Sintesis Protein Mikroba Rumen. A research entitled the ratio of cane top-bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, it’s effect on rumen fermented product was conducted from December until March 2013. The materials used in this research were rumen fluid of beef cattle had been slaughtered and consisted of concentrate and the mixture ofcane top and bagasse in 60:40 ratio scale. The mixture was fermented with Phanerochaete chrysosporiumin 10 g/kg of cane top and bagasse mixture. The concentrate consist of 14% ground corn, 40% ricebran, 5% tapioca-by product, 20% coconut meal, 20% pollard and 1% urea. This research was conducted experimentally using Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replicates. The treatments in this method were P1 = 0% cane top and 100% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P2 = 25% cane top and 75% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P3 = 50% cane top and 50% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P4 = 75% cane top and 25% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P5 = 100% cane top and 0% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium. Data were analyzed using analysis of variance and continued by orthogonal polinomial test. The results showed that the fermented cane top and bagasse resulted in a linear highly significant effect on VFA concentration, Y = -13.76× + 165 r2 = 0.75, but showed no significant effect on NH3 and microbial protein synthesis. The conclusions of the research is the higher the level of bagasse using Phanerochaete chrysosporium10 g/kg of cane top and bagasse mixture, the higher total VFA concentration but not give meaning to the NH3 concentration and microbial protein synthesis, although it tended to increase in line with increasing levels of bagasse and cane tops usage can be replaced entirely by bagasse.   Keywords : Phanerochaete chrysosporium, Fermentation, Total VFA Concentration, NH3 and rumen microbial protein synthesis.

IMBANGAN PUCUK TEBU DAN AMPAS TEBU YANG DIFERMENTASI MENGGUNAKAN Phanerochaete chrysosporium PENGARUHNYA TERHADAP PRODUK FERMENTASI RUMEN

Jurnal Ilmiah Peternakan Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah Peternakan
Publisher : Jurnal Ilmiah Peternakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.782 KB)

Abstract

Penelitian berjudul imbangan pucuk tebu dan ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium pengaruhnya terhadap produk fermentasi rumen telah dilaksanakan pada Desember 2012 sampai Maret 2013. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah cairan rumen sapi potong dan pakan terdiri atas konsentrat dan campuran pucuk tebu dan ampas tebu dengan imbangan 60:40. Campuran pucuk tebu dan ampas tebu difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium 10g/kg campuran pucuk tebu dan ampas tebu. Konsentrat tersusun dari14% jagung giling, 40% dedak, 5% onggok, 20% bungkil kelapa, 20% pollard, dan 1% urea. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan yaitu P1: Pucuk tebu 0% dan ampas tebu 100% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P2: Pucuk tebu 25% dan ampas tebu 75% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P3: Pucuk tebu 50% dan ampas tebu 50% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P4: Pucuk tebu 75% dan ampas tebu 25% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium, P5: Pucuk tebu 100% dan ampas tebu 0% yang difermentasi menggunakan jamur Phanerochaete chrysosporium. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan uji Orthogonal Polinomial. Hasil penelitian menunjukan bahwa imbangan pucuk dan ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium berpengaruh secara linier terhadap konsentrasi VFA (P<0,01) dengan persamaan Y = -13x + 165 r2 = 0,75, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH3 dan sintesis protein mikroba (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian adalah semakin tinggi taraf ampas tebu yang difermentasi menggunakan Phanerochaete chrysosporium 10 g/kg konsentrasi VFA semakin meningkat namun tidak memberikan makna terhadap konsentrasi NH3 dan sintesis protein mikroba, meskipun cenderung meningkat selaras dengan meningkatnya taraf ampas tebu serta penggunaan pucuk tebu dapat diganti sepenuhnya oleh ampas tebu.   Kata Kunci : Phanerochaete chrysosporium, Fermentasi, Konsentrasi VFA Total, NH3 serta Sintesis Protein Mikroba Rumen. A research entitled the ratio of cane top-bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, it’s effect on rumen fermented product was conducted from December until March 2013. The materials used in this research were rumen fluid of beef cattle had been slaughtered and consisted of concentrate and the mixture ofcane top and bagasse in 60:40 ratio scale. The mixture was fermented with Phanerochaete chrysosporiumin 10 g/kg of cane top and bagasse mixture. The concentrate consist of 14% ground corn, 40% ricebran, 5% tapioca-by product, 20% coconut meal, 20% pollard and 1% urea. This research was conducted experimentally using Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replicates. The treatments in this method were P1 = 0% cane top and 100% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P2 = 25% cane top and 75% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P3 = 50% cane top and 50% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P4 = 75% cane top and 25% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium, P5 = 100% cane top and 0% bagasse fermented with Phanerochaete chrysosporium. Data were analyzed using analysis of variance and continued by orthogonal polinomial test. The results showed that the fermented cane top and bagasse resulted in a linear highly significant effect on VFA concentration, Y = -13.76× + 165 r2 = 0.75, but showed no significant effect on NH3 and microbial protein synthesis. The conclusions of the research is the higher the level of bagasse using Phanerochaete chrysosporium10 g/kg of cane top and bagasse mixture, the higher total VFA concentration but not give meaning to the NH3 concentration and microbial protein synthesis, although it tended to increase in line with increasing levels of bagasse and cane tops usage can be replaced entirely by bagasse.   Keywords : Phanerochaete chrysosporium, Fermentation, Total VFA Concentration, NH3 and rumen microbial protein synthesis.

Pengembangan Model Blended Learning Mata Kuliah Interaksi Manusia & Komputer Menggunakan Metode System Development Life Cycle (SDLC) di Universitas Nusa Cendana

Jurnal Teknodika 2015: PROSIDING WORKSHOP NASIONAL PENDIDIKAN "PENGEMBANGAN ICT DALAM PEMBELAJARAN"
Publisher : Jurnal Teknodika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.187 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kondisi geografis yang dibatasi oleh lautan/samudera luas dan gunung.  Keadaan tersebut menyebabkan kondisi pulau yang satu dengan yang lain berjauhan.  Hal ini tentunya mempengaruhi kondisi dan interaksi sosial, ekonomi, teknologi, dan yang terkait dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu tingkat kemajuan pendidikan di satu daerah/pulau dengan daerah/pulau lainnya berbeda-beda. Tingkat kemajuan pendidikan ini tentunya dipengaruhi oleh bagaimana sistem pembelajaran yang diterapkan di tempat itu.Untuk mengatasi hambatan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemerataan kesempatan belajar dalam  kondisi geografis,budaya, sosial ekonomi, yang berbeda maka dibuatkan salah satu solusi yaitu Blended Learning dengan memanfaatkan perangkat yang terkoneksi dengan internet. Universitas Nusa Cendana adalah satu-satunya universitas negeri yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT dengan kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau kecil dan besar, cukup baik untuk diterapkan sistem pembelajaran Blended Learning, karena selain hal tersebut di atas keterbatas transportasi bagi peserta didik dan pendidik juga menjadi kendala dalam pembelajaran konvensional.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah SDLC (System Development Life Cycle).  Optimisme suksesnya pelaksanaan sistem Blended Learning ini sangat tinggi karena fasilitas dan atmosfir dari berbagai pihak sangat mendukung ditambah dengan kebutuhan akan menjadi kebutuhan prioritas bagi semua orang dalam hal ini peserta didik. Kata Kunci : Blended Learning, e-learning, metode SDLC (System Development Life Cycle)

Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Produksi Toksin Clostridium difficile pada Pasien Demam Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Gejala Diare

Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clostridium difficile merupakan flora normal dalam saluran pencernaan manusia, tetapidalam keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit, yaitu menjadi patogen bila adakesempatan untuk bermultiplikasi dan membentuk toksin. Misalnya pemberian obatanti jasad renik dapat menekan sementara unsur-unsur flora usus yang peka terhadapobat tersebut. Sebaliknya kuman yang resisten tetap hidup, bahkan akan berkembangterus sehingga terjadi pertumbuhan yang berlebih. Di Indonesia Clostridium difficilebelum begitu dikenal sebagai penyebab kolitis akibat pemakaian antibiotik. Kemungkinankarena kurangnya kewaspadaan dalam klinik, tidak tersedianya fasilitas laboratoriumyang khusus untuk biakan anaerob atau kegagalan dalam melakukan biakan anaerob.Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah kultur Clostridium difficile yang positifpada pemeriksaan hari pertama (maksimum mendapat 3 hari pengobatan antibiotik),peningkatan populasi Clostridium difficile dalam tinja pasien demam tifoid danpneumonia yang mendapatkan pengobatan antibiotik 8 hari, adanya toksinClostridium difficile dalam tinja anak penderita demam tifoid dan pneumonia yangmendapat pengobatan antibiotik 8 hari dan mengevaluasi hubungannya dengan gejaladiare. Penelitian ini dilakukan terhadap 38 pasien demam tifoid dan 12 pasien pneumoniayang mendapat antibiotik minimal 8 hari dan dirawat di Sub Bagian Infeksi danPulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-Unpad/Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Hasan Sadikin, Bandung. Sebagai kontrol dilakukan pemeriksaan tinja pada 20 anaksehat. Pemeriksaan bakteriologik dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, FakultasKedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.Dari 50 pasien yang diteliti didapatkan 24 (48,0%) laki-laki dan 26 (52,0%)perempuan. Kelompok umur 1-4, 5-9, dan > 10 tahun berturut-turut didapatkan 26(52,0%), 13 (26,0%) dan 11 (22,0%). Antibiotik kloramfenikol diberikan pada 38(76,0%) anak, sedangkan ampisilin pada 12 (24,0%) anak. Hasil kultur Clostridiumdifficile pertama positif sebanyak 30 (60,0%) dan negatif 20 (40,0%) pasien. Ternyatapada kelompok anak sehat ditemukan 8 anak dengan kultur Clostridium difficile positif(40,0%) dan 12 anak dengan kultur negatif (60,0%). Dari hasil perhitungan statistiktidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah rata-rata koloni Clostridium difficileper gram tinja pada kelompok anak sehat dan pasien infeksi yang diambil pada haripertama perawatan yang sebelumnya telah mendapat maksimum 3 hari antibiotik.Didapatkan peningkatan jumlah koloni Clostridium difficile secara bermakna pada anakpasien demam tifoid dan pneumonia setelah diberi antibiotik 8 hari. Walaupun toksinClostridium difficile terdeteksi pada 24,0% pasien, tetapi yang disertai gejala diare hanyapada 2 penderita. Juga didapatkan perbedaan bermakna rata-rata jumlah koloniClostridium difficile per gram tinja antara pasien dengan toksin positif dan negatif.Pada semua anak yang didapatkan toksin Clostridium difficile ternyata mempunyaijumlah koloni Clostridium difficile melebihi 103 koloni per gram tinja.

Risiko Gangguan Perkembangan Neurologis antara Bayi Kurang Bulan Lanjut dan Bayi Cukup Bulan Sesuai Usia Kehamilan

Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan lanjut mempunyai fisiologis, metabolik, dan imunologi imatur, serta merupakan periodetercepat pertumbuhan dan perkembangan otak. Pada awal kehidupan, BKBL rentan mengalami komplikasi dan mempunyairisiko gangguan perkembangan neurologis (GPN).Tujuan. Menentukan risiko GPN antara BKBL dan BCB sesuai usia kehamilan pada usia 3–6 bulan.Metode. Penelitian dilaksanakan periode Oktober–Desember 2014 di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalahbayi BKBL usia 3–6 bulan dengan BCB sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Risiko GPN diperiksa menggunakanBayley infant neurodevelopmental screener (BINS) dan dianalisis menggunakan uji chi-square dan rasio odds.Hasil. Terdapat 36 BKBL dan 36 BCB, dengan usia rerata 5,58 bulan pada BKBL dan 5,26 pada BCB. Perawakan pendek lebihbanyak pada BKBL dibanding BCB. Sebagian besar subjek pada kedua kelompok tidak mendapatkan ASI eksklusif. Pendidikanterbanyak orangtua adalah SMP dan SMA dengan sebagian besar orangtua bekerja, tetapi mempunyai pendapatan/bulan yangrendah. Risiko GPN pada kelompok BKBL 22 dan BCB 10 bayi (p=0,004) dengan kekuatan hubungan risiko GPN pada BKBL4,086 kali dibanding dengan BCB (RO=4,086; IK95%:1,518–11,000).Kesimpulan. Bayi kurang bulan lanjut sesuai usia kehamilan dan sesuai usia koreksi mempunyai risiko gangguan perkembanganneurologis 4,086 kali lebih besar dibanding dengan bayi cukup bulan.

Korelasi Kadar Ion Kalsium Serum dengan Dimensi, Fungsi Sistol dan Diastol Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor dengan Hemosiderosis

Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kalsium berperan penting dalam kontraksi miokardium. Besi bebas/non-transferrin bound iron (NTBI) padathalassemia mayor (TM) dengan kelebihan besi (hemosiderosis) masuk ke dalam sel jantung menggunakan L-typ e calcium channel(LTCC) sehingga mengganggu transportasi kalsium.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar ion kalsium serum dengan dimensi, fungsi sistol, dan diastol ventrikel kiri pada TM yangsudah mengalami hemosiderosis.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Desember 2014–Januari 2015 melibatkan 67 kasus TMusia 7–14 tahun yangdisertai hemosiderosis. Pemeriksaan kadar ion kalsium serum menggunakan metode ion selective electrode (ISE) dan pemeriksaandimensi serta fungsi jantung menggunakan ekokardiografi 2 dimensi, M-mode, dan Doppler oleh dokter spesialis kardiologi anak.Analisis korelasi dengan uji Spearman dan Pearson.Hasil. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadar ion kalsium serum dan left ventricularposterior wall thickness/LVPWd (r=-0,25; p=0,04). Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadarion kalsium serum dan ejection fraction/EF (r=-0,294; p=0,016) serta fractional shortening/FS (r=-0,252; p=0,039), tetapi tidakdengan fungsi diastol (p>0,05).Kesimpulan. Semakin rendah kadar ion kalsium serum maka semakin tinggi nilai LVWP, EF, dan FS. Kadar ion kalsium serumtidak berkorelasi dengan fungsi diastol.