Budhi Agung Prasetyo
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

SEBARAN SPASIAL CUMI-CUMI (Loligo Spp.) DENGAN VARIABEL SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a DATA SATELIT MODIS AQUA DI SELAT KARIMATA HINGGA LAUT JAWA Prasetyo, Budhi Agung; Hartoko, Agus; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.907 KB)

Abstract

Dengan mengetahui area dimana ikan bisa tertangkap dalam jumlah yang besar, kegiatan penangkapan menjadi lebih efektif. Tujuan penelitian adalah mengetahui sebaran spasial cumi-cumi per-musim pada tahun 2011 hingga 2012, mengetahui sebaran spasial parameter oseanografi  dan mengetahui korelasi antara parameter oseanografi dengan sebaran spasial cumi-cumi. Data yang digunakan adalah data suhu permukaan laut dan klorofil-a dari satelit MODIS Aqua dan data sekunder lapangan yaitu data hasil tangkapan cumi-cumi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan cumi-cumi pada tahun 2011 - 2012 lebih banyak tertangkap pada musim peralihan II hingga musim barat (September-Desember) dengan nilai rata-rata hasil tangkapan setiap tahun sebesar 88 Ton dan 189 Ton. Sebaran penangkapan cumi-cumi banyak terjadi di bagian barat Laut Jawa hingga Selat Karimata. Sebaran suhu permukaan laut pada tahun 2011 musim barat lebih tinggi (24,8 - 32,1oC) dibandingkan musim timur  (24,2 - 29,4oC), dan pada tahun 2012 juga musim barat lebih tinggi (20,3 - 33,4oC) dibandingkan musim timur (24,8 - 30,1oC). Sebaran Klorofil-a  tahun 2011 musim timur lebih tinggi (0,282 - 0,459 mg/L) dibandingkan musim barat (0,304 - 0,452 mg/L), dan pada tahun 2012 juga menunjukkan sebaran klorofil-a musim timur lebih tinggi (0,352 - 0,464 mg/L) dibandingkan musim barat (0,273 - 0,458 mg/L). Analisa regresi tunggal menunjukkan nilai koefisien regresi dari distribusi klorofil-a setiap tahun (r = 0,521 - 0,446) masih memiliki hubungan dengan hasil tangkapan cumi-cumi daripada suhu permukaan laut (r = 0.221 - 0,358).  Analisa regresi ganda menunjukkan nilai (r) antara sebaran suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a pada musim timur sebesar r = 0,253 dan pada musim barat sebesar r = 0,416 menunjukkan bahwa musim barat memiliki hubungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan musim timur. Hubungan tersebut karena cumi-cumi yang hidup di perairan sekitar Laut Jawa dan sekitarnya tersebar karena pengaruh arus balik musiman dari angin muson yang terjadi di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Sebaran oseanografi hanya berpengaruh langsung terhadap beberapa spesies cumi-cumi.
IN-SITU MEASUREMENT OF DIFFUSE ATTENUATION COEFFICIENT AND ITS RELATIONSHIP WITH WATER CONSTITUENT AND DEPTH ESTIMATION OF SHALLOW WATERS BY REMOTE SENSING TECHNIQUE Prasetyo, Budhi Agung; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri; Asriningrum, Wikanti
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.318 KB)

Abstract

Diffuse attenuation coefficient, Kd(λ), has an empirical relationship with water depth, thus potentially to be used to estimate the depth of the water based on the light penetration in the water column. The aim of this research is to assess the relationship of diffuse attenuation coefficient with the water constituent and its relationship to estimate the depth of shallow waters of Air Island, Panggang Island and Karang Lebar lagoons and to compare the result of depth estimation from Kd model and derived from Landsat 8 imagery. The measurement of Kd(λ) was carried out using hyperspectral spectroradiometer TriOS-RAMSES with range 320 – 950 nm. The relationship between measurement Kd(λ) on study site with the water constituent was the occurrence of absorption by chlorophyll-a concentration at the blue and green spectral wavelength. Depth estimation using band ratio from Kd(λ) occurred at 442,96 nm and 654,59 nm, which had better relationship with the depth from in-situ measurement compared to the estimation based on Landsat 8 band ratio. Depth estimated based on Kd(λ) ratio and in-situ measurement are not significantly different statistically. Depth estimated based on Kd(λ) ratio and in-situ measurement are not significantly different statistically. However, depth estimation based on Kd(λ) ratio was inconsistent due to the bottom albedo reflection because the Kd(λ) measurement was carried out in shallow waters. Estimation of water depth based on Kd(λ) ratio had better results compared to the Landsat 8 band ratio.