Articles

Found 28 Documents
Search

Antiinflammatory Effect of Several Umbelliferae Species PRAMONO, SUWIJIYO
HAYATI Journal of Biosciences Vol 12, No 1 (2005): March 2005
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.482 KB) | DOI: 10.4308/hjb.12.1.7

Abstract

A screening for antiinflammatory effects was performed on several Indonesian Umbelliferae plants based on the contents of saponins and flavonoids. They were compared with Bupleurum falcatum L. as an introduced antiinflammatory plant. Roots and grains of each plant were collected, dried, and extracted with ethanol. The ethanolic extracts were then analyzed for their saponin and flavonoid contents by gravimetric and UV-vis spectrophotometric method. Antiinflammatory activity test was conducted on carragenin induced rat paw oedema. The results showed that the highest contents of saponin and flavonoid were found in the grains of Apium graveolens L. and showed antiinflammatory effect that was equivalent to that of the root of B. falcatum.
OPTIMASI FORMULA TABLET HISAP EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS (Alpinia galanga (L.) Stuntz) DENGAN KOMBINASI BAHAN PEMANIS MANITOL DAN SUKROSA MENGGUNAKAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN Aufiya, Duhita; Pramono, Suwijiyo; Mufrod, Mufrod
Majalah Obat Tradisional Vol 17, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/tradmedj.8009

Abstract

Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Stuntz) memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya sebagai tonikum. Lengkuas sebagai tonikum masih digunakan secara tradisional, sehingga dosis tidak tetap dan tidak praktis, maka perlu dilakukan formulasi. Tablet hisap dipilih untuk formulasi lengkuas karena praktis dan nyaman. Rasa merupakan parameter yang penting untuk tablet hisap. Oleh karena itu digunakan campuran antara manitol dan sukrosa. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi formula tablet hisap menggunakan campuran manitol dan sukrosa dengan metode Simplex Lattice Design.  Ekstrak rimpang lengkuas diperoleh dengan maserasi menggunakan etanol 70%. Tablet hisap dibuat dalam tiga formula yaitu Formula A (100%:0%), Formula B (50%:50%), dan Formula C (0%:100%) dengan metode SLD secara granulasi basah. Massa granul diayak melalui pengayak no. 10 dan dikeringkan dalam oven suhu 60°C, kemudian granul kering dicampur homogen dengan Mg stearat-talk, selanjutnya diuji sifat fisik meliputi kecepatan alir dan kompaktibilitas. Granul dikempa menjadi tablet dan diuji sifat fisik, meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu larut, serta tanggap rasa. Data yang diperoleh digunakan untuk membuat profil sifat fisik granul dan rasa dari tablet. Formula optimum dipilih berdasarkan respon total tertinggi. Kemudian dibuat tablet berdasarkan formula optimum dan diuji sifat fisik granul dan tablet. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan secara teoritik dan statistik menggunakan T-test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa formula optimum tablet hisap ekstrak rimpang lengkuas adalah formula dengan perbandingan 25% manitol : 75% sukrosa. Kecepatan alir dan kompaktibilitas granul formula optimum berbeda bermakna antara verifikasi dengan perhitungan SLD, sedangkan waktu larut dan tanggap rasa tablet berbeda tidak bermakna. Komposisi sukrosa yang dominan dapat menaikkan respon kompaktibilitas granul, waktu larut, dan tanggap rasa tablet hisap, menurunkan respon kecepatan alir granul.
KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH Kartikasari, Dian; Nurkhasanah, Nurkhasanah; Pramono, Suwijiyo
e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang Prosiding Seminar Nasional "Perkembangan Terbaru Pemanfaatan Herbal Sebagai Agen Preventif Pada Ter
Publisher : e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Khasiat obat tradisional didasarkan pada senyawa kimia yang terkandung dalam suatu bahan obat. Bahan baku obat dari hasil pertanian atau kumpulan tumbuhan liar tidak dapat dijamin kandungan kimianya selalu konstan, karena adanya variasi bibit, tempat tubuh, iklim, maupun kondisi bahan bakunya (umur dan cara panen). Kandungan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi tentang komposisinya baik jenis maupun kadarnya. Oleh karena itu penetapan karakterisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan guna menjamin mutu suatu produk obat tradisional. Karakterisasi dilakukan terhadap simplisia dan ekstrak etanol 50% daun Stevia rebaudiana (Bertoni). Karakterisasi simplisia meliputi organoleptis, susut pengeringan, kadar sari larut air, serta kadar sari larut etanol. Cara penetapannya dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan Farmakope Herbal Indonesia (2008). Karakterisasi ekstrak etanol meliputi karakteristik non spesifik yakni kadar air, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam. Hasil karakterisasi diperoleh nilai rentang dari tiap jenis parameter simplisia maupun ekstrak etanol daun Stevia rebaudiana yang diperoleh dari daerah Bogor, Malang, dan Tawangmangu. Kata kunci: Daun Stevia Rebaudiana (Bertoni), Karakterisasi simplisia, Karakterisasi ekstrak etanol 50%
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK TERPURIFIKASI HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees) DAN HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP TRANSLOKASI PROTEIN GLUT-4 PADA TIKUS DIABETES MELLITUS TIPE 2 RESISTEN INSULIN Nugroho, Agung Endro; Lindawati, Novena Yety; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss2pp62-69

Abstract

Herba sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees) dan herba pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan tanaman obat unggulan yang sedang dikembangkan sebagai obat tradisional salah satunya sebagai antidiabetes. Penelitian bertujuan untuk melihat efek kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan herba pegagan terhadap translokasi protein GLUT-4 pada tikus diabetes mellitus tipe 2 resisten dibandingkan dengan penggunaan dari masing-masing ekstrak. Dalam penelitian digunakan 8 kelompok perlakuan dimana 3 kelompok diberi kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dengan herba pegagan:  kelompok I (912,1: 300); kelompok II (651,5 : 500); kelompok III (390,9 : 700) dalam mg/kg BB;  kelompok IV (ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 1303 mg/kg BB); kelompok V (ekstrak terpurifikasi herba   pegagan  1000 mg/kg BB),   kelompok   VI   (kontrol   positif  metformin 45mg/kg BB),   kelompok  VII (kontrol negatif CMC-Na 0,5%), dan kelompok VIII (kontrol normal). Parameter yang diukur data semi kuantitatif translokasi protein GLUT 4 pada sel otot paha (soleus muscle) dengan metode Immunohistochemistry. Hewan uji diabetes mellitus tipe 2 resisten insulin dibuat dengan pembebanan fruktosa (1,8 g/kg BB) dan pakan kaya lemak (campuran pakan pelet 95% dan 5% kuning telur bebek serta lemak babi 5 mL/ 200 g BB) selama 70 hari. Penetapan kondisi resisten insulin hewan uji digunakan 3 parameter meliputi kadar glukosa darah, uji kadar lemak (trigliserida, LDL, kolesterol dan HDL), dan uji daya hipoglikemik glibenklamid yang dibandingkan dengan kontrol normal. Hasil uji resisten insulin dengan analisis statistik Independent Sample-t Test menunjukkan ada perbedaan bermakna (p<0,05) antara tikus normal dengan tikus diit lemak-fruktosa pada hari ke-50 dan ke-70. Hal ini mengindikasikan tikus diit lemak-fruktosa terindikasi DM tipe 2 resisten insulin. Pengaruh kelompok I (kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dengan herba pegagan (912,1 : 300 mg/kg BB) terhadap translokasi protein GLUT-4 lebih baik jika dibandingkan dengan pengaruh dari masing-masing ekstrak dengan signifikan p<0,05 dengan analisis oneway ANOVA.
PENGARUH MINYAK ATSIRI DAN EKSTRAK ETANOLIK BEBAS MINYAK ATSIRI DARI RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale Rosc. klon merah) TERHADAP EFEK APRODISIAKA PADA TIKUS JANTAN Pramono, Suwijiyo; Nurlaila, Nurlaila; Anandita, Dipta Wana
Majalah Obat Tradisional Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ17iss1pp8-14

Abstract

Gangguan reproduksi kini banyak dialami terutama pria akibat berbagai faktor. Jahe merah sering digunakan untuk mengatasi gangguan seksual pria. Oleoresin yang terdapat di dalam jahe merah dilaporkan memiliki efek sebagai aprodisiaka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek minyak atsiri dan ekstrak etanolik bebas minyak atsiri sebagai aprodisiaka. Minyak atsiri jahe merah diambil dengan cara destilasi sementara simplisia bebas minyak atsiri diekstraksi dengan etanol 70%. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok yang dipejani suspensi ekstrak etanolik jahe merah (140 mg/kg BB), emulsi minyak atsiri (15 μl/kg BB), kontrol positif suspensi ekstrak pasak bumi (500 mg/kg BB), kontrol positif suspensi serbuk jahe merah (2,5 g/kg BB), dan kontrol negatif suspensi CMC Na 1%. Pemejanan dilakukan secara oral setiap hari selama 32 hari. Parameter yang diamati adalah frekuensi introduction, climbing, dan coitus. Hasil penelitian menunjukkan suspensi minyak atsiri mampu meningkatkan libido meskipun tidak sebesar suspensi ekstrak pasak bumi, sementara suspensi ekstrak etanol jahe merah dan kontrol positif suspensi serbuk jahe merah tidak mampu meningkatkan libido dan aktivitas seksual dibanding kontrol negatif.
OPTIMASI FORMULA TABLET HISAP EKSTRAK RIMPANG LENGKUAS (Alpinia galanga (L.) Stuntz) DENGAN KOMBINASI BAHAN PEMANIS MANITOL DAN SUKROSA MENGGUNAKAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN mufrod, Mufrod; Pramono, Suwijiyo; Aufiya, Duhita
Majalah Obat Tradisional Vol 17, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ17iss3pp%p

Abstract

Lengkuas (Alpinia galanga (L.) Stuntz) memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya sebagai tonikum. Lengkuas sebagai tonikum masih digunakan secara tradisional, sehingga dosis tidak tetap dan tidak praktis, maka perlu dilakukan formulasi. Tablet hisap dipilih untuk formulasi lengkuas karena praktis dan nyaman. Rasa merupakan parameter yang penting untuk tablet hisap. Oleh karena itu digunakan campuran antara manitol dan sukrosa. Penelitian ini bertujuan untuk optimasi formula tablet hisap menggunakan campuran manitol dan sukrosa dengan metode Simplex Lattice Design.  Ekstrak rimpang lengkuas diperoleh dengan maserasi menggunakan etanol 70%. Tablet hisap dibuat dalam tiga formula yaitu Formula A (100%:0%), Formula B (50%:50%), dan Formula C (0%:100%) dengan metode SLD secara granulasi basah. Massa granul diayak melalui pengayak no. 10 dan dikeringkan dalam oven suhu 60°C, kemudian granul kering dicampur homogen dengan Mg stearat-talk, selanjutnya diuji sifat fisik meliputi kecepatan alir dan kompaktibilitas. Granul dikempa menjadi tablet dan diuji sifat fisik, meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu larut, serta tanggap rasa. Data yang diperoleh digunakan untuk membuat profil sifat fisik granul dan rasa dari tablet. Formula optimum dipilih berdasarkan respon total tertinggi. Kemudian dibuat tablet berdasarkan formula optimum dan diuji sifat fisik granul dan tablet. Data yang diperoleh kemudian dibandingkan secara teoritik dan statistik menggunakan T-test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa formula optimum tablet hisap ekstrak rimpang lengkuas adalah formula dengan perbandingan 25% manitol : 75% sukrosa. Kecepatan alir dan kompaktibilitas granul formula optimum berbeda bermakna antara verifikasi dengan perhitungan SLD, sedangkan waktu larut dan tanggap rasa tablet berbeda tidak bermakna. Komposisi sukrosa yang dominan dapat menaikkan respon kompaktibilitas granul, waktu larut, dan tanggap rasa tablet hisap, menurunkan respon kecepatan alir granul.
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) DAN KURKUMINOIDNYA TERHADAP EFEK ANALGETIK PADA MENCIT Wicaksono, Arko Jatmiko; Yuniarti, Nunung; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss1pp%p

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek analgetik dari minyak atsiri rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.), kurkuminoid, dan kombinasi keduanya. Penyarian kurkuminoid dilakukan dengan pelarut etil asetat dan heksan. Minyak atsiri diperoleh dari hasil destilasi air-uap. Uji analgetik dilakukan dengan metode formalin tes (20µL formalin 1%, intraplantar) terhadap mencit jantan galur Swiss (30±5g), umur 2 bulan. Kelompok uji meliputi CMC-Na 0,5 % p.o. (kontrol negatif), indometasin 4 mg/kgBB p.o. dan i.p. (kontrol positif), kurkuminoid 48 mg/kgBB p.o., minyak atsiri 24mg/kgBB p.o, serta kombinasinya p.o. Injeksi formalin dilakukan 1 jam setelah pemejanan sampel. Data licking time diambil pada fase I (menit 0-5) dan fase II (10-30menit) setelah injeksi formalin. Fase I mengindikasikan nyeri yang terjadi pada daerah susunan saraf pusat (SSP) sedangkan fase II pada daerah perifer. Hasil uji terhadap fase I menunjukkan daya analgetik indometasin p.o sebesar (4,96±3,26 %) dan i.p. (4,54±1,65%). Kurkuminoid dan minyak atsiri masing-masing (1,22±0,89%) dan (28,8±8,48%), sedangkan campuran (42,14±5,6%). Kurniawan (2007) melaporkan bahwa besarnya daya analgetik fase I pada morfin 5 mg/kgBB p.o. adalah (69,68±2,17%). Pada fase II minyak atsiri memiliki daya analgetik sebesar (74,63±1,97%), campuran minyak atsiri (24mg/kgBB) dan kurkuminoid (48 mg/kgBB) memiliki daya analgetik sebesar (67,56±0,59%), indometasin i.p. (49,46±1,08%) dan p.o (49,82±0,91%), serta kurkuminoid (44,80±1,46%).
PERBANDINGAN METODE PEMBUATAN EKSTRAK TERPURIFIKASI BEE PROPOLIS DARI LEBAH MADU (Apis mellifera) BERDASARKAN KADAR FLAVONOID TOTAL DIHITUNG SEBAGAI RUTIN Pramono, Suwijiyo; Puspitasari, Agustina Dian
Majalah Obat Tradisional Vol 20, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ20iss2pp81-86

Abstract

Propolis adalah campuran kompleks lilin lebah, gula, dan getah pepohonan kumpulan lebah madu (Apis mellifera). Salah satu kandungan yang memiliki efek farmakologis adalah flavonoidnya. Flavonoid dapat diperoleh dalam kadar dan kemurnian tinggi dengan dibuat ekstrak terpurifikasi. Ekstraksi dilakukan dengan etanol 96%, dilanjutkan purifikasi dengan etanol 30%, kloroform dan etil asetat untuk metode I, serta air panas dan etil asetat untuk metode II. Kandungan flavonoid dideteksi dengan Kromatografi Lapis Tipis, fase diam silika gel 60F 254, fase gerak n-butanol-asam asetat-air (3:1:1 % v/v). Kadar flavonoid total diukur dengan  spektrofotometer UV-Vis berdasarkan metode Zou, dihitung sebagai rutin. Hasil dianalisis dengan paired sample t-test. Rerata kadar flavonoid total dari ekstrak propolis belum terpurifikasi yaitu 1,23 ± 0,37 %b/b. Metode I dan II dapat digunakan untuk mempurifikasi ekstrak etanol 96% propolis, menghasilkan kadar flavonoid total yaitu 9,97 ± 1,57 (8,1 kali) dan 11,78 ± 1,30 %b/b (9,6 kali). Uji paired sample t-test dengan SPSS 16.00 menunjukkan efektivitas purifikasi dengan nilai Sig = 0,048.
AKTIVITAS ANTIDIABETES KOMBINASI EKSTRAK TERPURIFIKASI HERBA SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burn.F.) NESS.) DAN METFORMIN PADA TIKUS DM TIPE 2 RESISTEN INSULIN Syamsul, Eka Siswanto; Nugroho, Agung Endro; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ16iss3pp%p

Abstract

Sambiloto (A. paniculata) merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit Diabetes Mellitus (DM). Dalam terapi DM terdapat kemungkinan pemakaian bersama-sama dengan Obat Hipoglikemik Oral (OHO), misalnya: metformin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan metformin terhadap peningkatan efek penurunan kadar glukosa darah pada tikus DM tipe 2 resisten insulin. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode acak lengkap pola searah. Hewan uji yang digunakan dibagi 4 kelompok, kelompok 1:  pemberian metformin 45 mg/kg BB (kontrol positif), kelompok 2: pemberian ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kg BB, kelompok 3: pemberian kombinasi metformin 45 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 1), dan kelompok 4: pemberian metformin 22,5 mg/kg BB dengan ekstrak 434,6 mg/kg BB (kombinasi 2). Hewan uji DM tipe 2 resisten insulin dibuat dengan pemberian fruktosa 1,8 g/kg BB dan makanan kaya lemak selama 50 hari. Penetapan kadar glukosa darah menggunakan reagen kit. Pengamatan ekspresi GLUT-4 pada sel otot menggunakan teknik imunohistokimia. Resistensi insulin pada tikus diuji menggunakan 3 parameter, yaitu: (1) uji kadar glukosa darah preprandial dan postprandial; (2) aktivitas hipoglikemik glibenklamid; dan (3) pengamatan ekspresi protein GLUT-4 pada jaringan otot. Hasil menunjukkan bahwa hewan uji telah resisten insulin. Hasil uji aktivitas antidiabetes menunjukkan bahwa persen daya hipoglikemik kombinasi 1 dan 2 lebih rendah dibandingkan dengan pemberian metformin atau ekstrak terpurifikasi secara tunggal (p<0,05). Dari hasil di atas disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto terpurifikasi dengan metformin tidak meningkatkan potensi antidiabetes dari penggunaan tunggalnya.
PENGARUH PEMBERIAN FRAKSI LARUT AIR EKSTRAK ETANOLIK PISANG KAPAS (Musa paradisiaca L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH SECARA IN VIVO DAN PELACAKAN SENYAWA AKTIFNYA Yuniarti, Nunung; Maulawati, Rina Nur; Pramono, Suwijiyo
Majalah Obat Tradisional Vol 19, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/mot-TradMedJ19iss2pp55-61

Abstract

Buah pisang merupakan salah satu pangan Indonesia yang memiliki berbagai khasiat. Dalam masyarakat, pisang kapas (Musa paradisiaca L.) dikenal sebagai pencahar atau laksan sehingga dapat digunakan untuk pengobatan sembelit. Sebuah penelitian melaporkan bahwa ekstrak kloroformik dan ekstrak etanolik pisang kapas dapat berkhasiat sebagai antidiabetes. Namun, belum dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak kloroformik dan ekstrak etanolik pisang kapas serta uji aktivitasnya sebagai antidiabetes. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas sebagai antidiabetes pada tikus serta pelacakan senyawa aktifnya.  Penelitian ini menggunakan metode uji toleransi glukosa oral yaitu dengan tikus normal yang dibebani glukosa. Waktu pembebanan glukosa adalah 60 menit, baik pada kelompok kontrol (CMC Na) maupun pada kelompok perlakuan. Semua perlakuan diberikan secara peroral dan dosis tunggal. Kadar glukosa darah ditetapkan secara enzimatis dengan reagen GOD-PAP. Kromatografi kertas digunakan untuk pemeriksaan kualitatif senyawa yang terkandung di dalam fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas.  Pemberian fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas dosis 0,25 g/kgBB menurunkan kadar glukosa darah sebesar 22,28 ± 0,76 %. Senyawa yang terdapat dalam fraksi larut air ekstrak etanolik pisang kapas adalah senyawa pereduksi, asam-asam amino, atau reduktor lain, seperti sakarida selain glukosa dan asam-asam tanaman.