Teguh Prakoso
Program Studi Sarjana, Departemen Teknik Elektro, Universitas Diponegoro Semarang Jl. Prof. Sudharto, SH, kampus UNDIP Tembalang, Semarang 50275, Indonesia

Published : 38 Documents
Articles

Found 38 Documents
Search

IMPEDANCE MATHING IMPROVEMENT OF HALF-CUT BROADBAND PRINTED MONOPOLE ANTENNA WITH MICROSTRIP FEEDING Prakoso, Teguh; Facta, Mochammad; Ngah, Razali; Rahman, Tharek A.
International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) Vol 3, No 5: October 2013
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.557 KB)

Abstract

The requirement of wireless access networks and user equipments to support coexistence of many communication standards and frequency bands poses challenge on antenna to be broadband and small. The application of half-cut technique to broadband printed monopole with microstrip feeding worsens the resulted antenna?s impedance. To improve the half-cut antenna impedance mathing, two methods were investigated in this paper: (1) monopole and ground extension, (2) the application of microstrip line transformer and ground extension. The first approach only produces limited improvement, whereas method #2 can enhance the return loss significantly. The application of the second approach potentially produces antenna pair that has low mutual coupling, good return loss, and small size. Considering its radiation pattern, the antenna is suitable for diversity and MIMO. Its application in broadband microwave-photonic access point need special arrangement due to radiation null at 5 GHz band at right side.DOI:http://dx.doi.org/10.11591/ijece.v3i5.3376
PERENCANAAN JARINGAN LTE FDD 1800 MHZ DI KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN ATOLL Fauzi, Muhamad Ridwan; Setiyono, Sukiswo; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 4, NO. 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.208 KB)

Abstract

Abstrak LTE merupakan teknologi evolusi dari GSM yang dikembangkan oleh 3GPP dan disebut sebagai salah satu teknologi pra-generasi keempat (4G). Implementasi LTE di Indonesia sendiri masih belum menyuluruh dan baru diterapkan di beberapa kota besar saja, namun frekuensi untuk menggelar LTE sudah disediakan, salah satunya pada frekuensi 1800 MHz. Sebelum menggelar teknologi LTE perlu dilakukan perencanaan jaringan untuk mengetahui jumlah eNodeB yang dibutuhkan. Pada Tugas Akhir ini dilakukan perencanaan jaringan LTE FDD 1800 MHz menggunakan perangkat lunak Atoll. Perencanaan yang dilakukan menggunakan metode perencanaan cakupan dengan studi kasus di Kota Semarang. Untuk mendukung hal tersebut ditentukan model propagasi yang sesuai untuk perencanaan ini, yaitu model COST-231 Hata. Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa jumlah eNodeB yang dibutuhkan dalam perencanaan adalah sebanyak 152 site dan 453 sel agar area Kota Semarang tercakupi oleh RS dan SINR minimal sekurang-kurangnya 95%. Hasil lain didapatkan bahwa jumlah pelanggan yang dapat mengakses jaringan hingga ke daerah indoor didapatkan sebanyak 98,7% untuk bandwidth 5 MHz, 97,1% untuk 10 MHz, 95,9% untuk 15 MHz, dan 94,8% untuk 20 MHz. Pada bandwidth 20 MHz kapasitas sel dan throughput sel yang dihasilkan adalah yang paling besar dengan beban sel sebesar 50,53% untuk downlink dan 18,84% untuk uplink, dan throughput sel yang dihasilkan sebesar 34.633 kbps untuk downlink dan 9.591 kbps untuk uplink. Kata kunci: LTE, perencanaan cakupan,  Atoll  Abstract LTE is technology evolution of GSM that developed by 3GPP as one the 4G technology. LTE technology in Indonesia is not implemented entirely and just implemented in some big cities, however the frequencies for implementing this technology is available, one of them is 1800 MHz. It is necessary for network planning before deploying LTE to know the number of eNodeB. This final project discusses about LTE FDD network planning for 1800 MHz using software Atoll. This planning uses coverage planning method with case study in Semarang City. The propagation models that suitable to support this planning is COST-231 Hata model. The result of this simulation shows that the number of eNodeB that required in this planning is 152 site and 453 cell to result minimum RS and SINR coverage at least 95% of Semarang City area. The other result is that the number of user that connected to the network including indoor user is 98,7% for bandwidth 5 MHz, 97,1% for 10 MHz, 95,9% for 15 MHz, and 94,8% for 20 MHz. Bandwidth 20 MHz has the largest capacity cell and highest throughput cell with 50,53% cell load for downlink and 18,84% for uplink, and the throughput cell is 34.633 kbps for downlink dan 9.591 kbps for uplink. Keywords:  LTE, coverage planning, Atoll
IMPLEMENTASI ALGORITMA CHAOTIC DISKRET 128 BIT UNTUK KRIPTOGRAFI SINYAL SUARA BERBASIS FPGA SPARTAN-3 DAN BAHASA PEMROGRAMAN VHDL pandapotan, natanael; Riyadi, Munawar Agus; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 4, NO. 3, SEPTEMBER 2015
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.019 KB)

Abstract

Abstrak Penggunaan layanan komunikasi suara terus berkembang baik pada saluran analog (telepon) maupun saluran digital (Selular dan VoIP). Saluran tersebut digunakan untuk pertukaran informasi yang bersifat sensitif dan rahasia seperti pada bidang militer, pemerintahan, bahkan transaksi keuangan. Kriptografi dibutuhkan sebagai sistem pengaman informasi untuk mengacak pesan suara yang dikirimkan. Pada penelitian  membahas algoritma kriptografi Chaotic 128 bit dengan mode Cipher Feedback. Algoritma kriptografi ini diimplementasikan pada FPGA karena dinilai memiliki kecepatan proses tinggi dan waktu tunda rendah yang dibutuhkan untuk komunikasi suara. Perancangan sistem kriptografi ini ditanamkan pada dua buah FPGA yang masing-masing berfungsi sebagai pengirim sekaligus proses enkripsi dan yang lain sebagai penerima sekaligus proses dekripsi. Pengujian dan analisa dilakukan pada empat kondisi yaitu: enkripsi off - dekripsi off, enkripsi on - dekripsi on, enkripsi on - dekripsi off, enkripsi off - dekripsi on. Hasil pengujian menunjukkan sistem bekerja dengan baik dan berhasil melakukan proses enkripsi. Sistem juga dapat  mengembalikan informasi asli dengan proses dekripsi. Didapat nilai rata-rata parameter MSE, waktu tunda, dan THD-N untuk kondisi off-off masing-masing adalah 0,3513 V2, 202 µs, dan 17,52 %. Sedangkan untuk kondisi on-on didapatkan nilai rata-rata MSE 0,3794 V2, waktu tunda 202 µs, dan THD-N 20,45%.Kata kunci : Komunikasi Suara, Kriptografi, Chaotic, FPGA  Abstract The use of voice communications services continues to grow both in analogue channels (telephone) also digital channels (Mobile and VoIP). The channel is used to exchange sensitive and confidential information such as in the military, government,  even financial transactions. Cryptography is needed as a information safety system to scramble sent voice messages. This study discusses 128 bit Chaotic cryptographic algorithm with Cipher Feedback mode. The Cryptographic algorithm was implemented on FPGA because it is considered to have a high processing speed and low delay required for voice communication. The design of the cryptographic system was implanted on two FPGA, each of which serves as  transmitter once  encryption process and the other as receiver once decryption process. Testing and analysis were performed on four conditions, namely: the encryption off - decryption off, the encryption on - decryption on, the encryption on - decryption off, encryption off - decryption on. The test results show system work well and successfully perform the encryption process. It could restore the original information with the decryption process. Average values of MSE, delay, and THD-N parameters to the condition off-off obtained are 0.3513 V2, 202 μs, and 17.52% respectively. As for the conditions of on-on the average values obtained are MSE 0.3794 V2, delay 202 μs, and THD-N 20.45%. Keyword: Voice communications, Cryptography, Chaotic, FPGA
ANALISIS JARINGAN FTTH (FIBER TO THE HOME) BERTEKNOLOGI GPON (GIGABIT PASSIVE OPTICAL NETWORK) Dermawan, Brilian; Santoso, Imam; Prakoso, Teguh
TRANSMISI Vol 18, No 1 Januari (2016): TRANSMISI
Publisher : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik – Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.856 KB) | DOI: 10.12777/transmisi.18.1.30-37

Abstract

Serat optik  merupakan media transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dan teknologinya disebut JARLOKAF (Jaringan Lokal Akses Fiber). Salah satu perkembangan JARLOKAF yaitu FTTH (Fiber To The Home). Pembangunan jaringan FTTH menggunakan teknologi GPON. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan analisis jaringan FFTH berteknologi GPON dengan parameter daya transmisi di Optical Line Terminal, daya receiver, redaman kabel serat optik, konektor, passive splitter, dan sambungan. Hal tersebut dilakukan dengan metode link power budget. Setelah itu dilakukan pengembangan jaringan FTTH dengan merancang jalur distribusi sebanyak tiga opsi dan menganalisis menggunakan metode link power budget  dan rise time budget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Meranti dengan 40 pelanggan terakhir memiliki Pr sensitivitas rata-rata uplink (downlink), yakni -23,8 dBm (-23,6 dBm) sehingga margin daya yang didapatkan adalah 4,1 dBm untuk uplink dan 4,3 dBm untuk downlink. Sedangkan pada perencanaan pengembangan jaringan Meranti didapatkan bahwa opsi kedua menjadi opsi yang terbaik dengan jarak total 5,422 km memiliki Pr sensitivitas terbesar, yakni -25,8 dBm untuk uplink dan -25,2 dBm untuk downlink sehingga margin daya yang didapatkan adalah 2,2 dBm untuk uplink dan 2,8 untuk downlink dan rise time total sebesar 0,258 ns untuk uplink dan 0,283 ns untuk downlink.
Sub-Threshold Performance Comparison of Junctionless FET and SOI-Based MOSFET Riyadi, Munawar A; Sukawati, Irawan Dharma; Prakoso, Teguh; Darjat, Darjat
Proceeding of the Electrical Engineering Computer Science and Informatics Vol 2: EECSI 2015
Publisher : IAES Indonesia Section

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/eecsi.2.564

Abstract

The importance of dimension scaling in recent electronic devices has been forcing manufacturers to innovate on the structure as well as the conducting mechanism. The junctionless FETs (JLFETs) have shown the potential to further scaling process, by diminishing the requirement of junction for source and drain, in contrast to silicon on insulator (SOI) FETs. This paper focuses on comparing the subthreshold performance of junctionless FET and SOI MOSFET FET using TCAD tools. The result shows that in terms of subthreshold slope, JLFET approaches near ideal value of 60 mV/decade, which is superior than the SOI FET for similar doping rate. On the other hand, the threshold value shows different tendencies between those types of device.
A Broadband MIMO Antenna for Access Network Prakoso, Teguh; M. Noor, N. Shazwani; E.H. Hadyan, E.H. Hadyan; M.A. Riyadi, M.A. Riyadi; Ngah, Razali
Proceeding of the Electrical Engineering Computer Science and Informatics Vol 2: EECSI 2015
Publisher : IAES Indonesia Section

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/eecsi.2.608

Abstract

This paper presents a compact and broadband MIMO antenna intended for wireless access network at 1.7 – 6.0 GHz. Impedance degradation introduced by half-cut technique is solved by inserting microstrip-line transformer.
PERANCANGAN ANTENA BOWTIE SEBAGAI PENERIMA SIARAN TELEVISI DIGITAL PADA RENTANG FREKUENSI UHF (ULTRA HIGH FRQUENCY) Hadyan, Enggar Hindami; Santoso, Imam; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 4, NO. 4, DESEMBER 2015
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.333 KB)

Abstract

Antena bowtie adalah salah satu jenis dari antena dipole biconical karena antena bowtie merupakan bentuk lempeng dari antena biconical. Antena bowtie ini memiliki beberapa keunggulan antara lain berbentuk sederhana, berpita lebar dan mudah untuk dibuat. Antena bowtie memiliki lebar pita antara 17-40%. Untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tersebut, perlu memperhatikan beberapa parameter antena seperti pola radiasi, voltage standing wave ratio (VSWR), lebar pita dan |S11|. Frekuensi, gain serta cakupan antena juga merupakan parameter yang penting untuk antena bowtie. Namun hal yang paling berpengaruh bagi kinerja antena bowtie adalah bentuk, ukuran antena dan strukturnya. Pada penelitian ini dilakukan perancangan antena bowtie dengan frekuensi resonansi pada frekuensi UHF 600 MHz. Antena bowtie yang difabrikasi memiliki ketebalan 0,3 mm, ukuran sisi elemen terpanjang sebesar 50 cm dengan besar sudut 120o. Jarak antara elemen sebesar 2 cm dan jarak antara elemen antena dengan reflektor adalah 12,5 cm. Antena hasil fabrikasi tersebut kemudian diuji di laboratorium untuk mendapatkan nilai VSWR dan besar daya penerimaannya serta antena juga diujikan sebagai penerima siaran televisi digital di Kota Semarang. Dari hasil pengujian didapatkan nilai VSWR antena sebesar 1,02 lebih baik dari antena pembanding PF Indoor HD14 dengan nilai VSWR 1,28. Lebar pita dari hasil pengujian sudah memenuhi teori besar lebar pita antena bowtie yaitu sebesar 24,8%. Hasil pengujian sebagai penerima siaran televisi digital untuk lima kanal, antena bowtie memiliki kinerja yang lebih baik dari antena pembanding PF Indoor HD14 dengan rerata nilai kekuatan sinyal sebesar 71% dan rerata nilai kualitas sinyal 77,4% dibandingkan dengan rerata nilai kekuatan dan kualitas sinyal PF Indoor HD sebesar 64,2% dan 70,4%. 
PERANCANGAN PROTOTYPE ANTENA MIKROSTRIP PATCH ARRAY FREKUENSI 2,76 GHz UNTUK APLIKASI ANTENA RADAR MARITIM Wardhana, Akbar Satria; Christyono, Yuli; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 5, NO. 1, MARET 2016
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.322 KB)

Abstract

Radar merupakan perangkat yang digunakan untuk melakukan pengawasan jarak jauh dengan cara memancarkan gelombang elektromagnetik. Antena radar digunakan untuk memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik. Antena memiliki berbagai macam jenis, salah satunya antena mikrostrip. Antena mikrostrip memiliki pola radiasi yang terarah sehingga cocok untuk sistem antena radar. Antena yang dirancang pada tugas akhir ini adalah antena mikrostrip dengan frekuensi resonansi 2,76 GHz, lebar pita 60 MHz, dan gain lebih dari sama dengan 10 dBi untuk 1 sampel antena. Pada perancangan antena menggunakan substrat Epoxy FR4 dengan konstanta dielektrik 4,3 dan ketebalan 1,575 mm. Untuk proses simulasi antena digunakan perangkat lunak  CST Studio Suite 2014. Dari 4 antena sampel yang sudah diuji, sampel  A beresonansi pada frekuensi 2,768 GHz dengan lebar pita 61 MHz, sampel B pada frekuensi 2,760 GHz dengan lebar pita 64 MHz, sampel C pada frekuensi 2,750 GHz dengan lebar pita 62 MHz, dan sampel D pada frekuensi 2,750 GHz dengan lebar pita 63 MHz. Semua sampel antena memiliki VSWR kurang dari 1,8. Antena sampel A memiliki gain 7,17 dBi, sampel B memiliki gain 7,34 dBi, sampel C memiliki gain 5,9 dBi, dan sampel D memiliki gain 5,65 dBi. Semua sampel antena menghasilkan pola radiasi directional dan polarisasi elips.
PERANCANGAN DAN ANALISIS ANTENA V-VERTICAL GROUNDPLANE UNTUK KOMUNIKASI RADIO TRANSCEIVER PADA PITA VHF DAN UHF Rochim, Tanzila Azizi; Christyono, Yuli; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 4, NO. 4, DESEMBER 2015
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.115 KB)

Abstract

Di era globalisasi ini, penggunaan teknologi nirkabel semakin berkembang pesat. Salah satu penerapan teknologi nirkabel yang cukup banyak penggunanya adalah komunikasi radio transceiver. Pada penilitian ini, disimulasikan dan diwujudakn antena V-Vertical Groundplane yang dapat digunakan pada pita VHF dan UHF atau istilah lainnnya dualband. Antena V-Vertical Groundplane dirancang seperti dua antena Groundplane yang beresonansi pada pita VHF dan UHF yang dikombinasikan menjadi satu antena dengan tujuan dapat beroperasi pada dua pita (VHF/UHF). Bahan yang digunakan untuk membuat antena ini adalah kawat alumunium berdiameter 6 mm. Pengujian dilakukan pada antena V-Vertical Groundplane untuk mengetahui parameter-parameter seperti frekuensi resonansi, VSWR, bandwidth, gain dan pola radiasi untuk dibandingkan dengan simulasi pada proses selanjutnya. Setelah dibandingkan dengan hasil simulasi, parameter hasil pengukuran juga dibandingkan dengan parameter antena radio lain. Pengujian implemetasi dilakukan langsung dengan menggunakan dua buah radio transceiver. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh frekuensi resonansi untuk antena V-Vertical Groundplane sebesar 142 MHz dan VSWR dengan nilai 1:1,05 pada pita VHF, sementara pada pita UHF diperoleh frekuensi resonansi sebesar 440 MHz dan VSWR dengan nilai 1:1,36 . Pola radiasi yang diperoleh antena V-Vertical Groundplane menunjukkan pola omnidirectional. Pengujian kualitatif dengan mengimplementasikan antena V-Vertical Groundplane pada radio transceiver, menunjukkan bahwa antena V-Vertical Groundplane dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan jarak sejauh 390 meter untuk pita VHF dan 930 meter untuk pita UHF.
PERANCANGAN ANTENA DUAL CIRCULAR LOOP SEBAGAI PENERIMA SIARAN TELEVISI DIGITAL PADA RENTANG FREKUENSI UHF (ULTRA HIGH FREQUENCY) Satrio, Hanardi; Santoso, Imam; Prakoso, Teguh
TRANSIENT TRANSIENT, VOL. 4, NO. 4, DESEMBER 2015
Publisher : TRANSIENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.335 KB)

Abstract

Antena dual circular loop merupakan pengembangan dari antena loop lingkaran dengan tambahan beberapa elemen. Antena loop memiliki beberapa keunggulan yaitu berbentuk sederhana, mudah untuk dibuat, berpita lebar, gain yang relatif tinggi, memiliki polarisasi dan Front-to-Back Ratio (FBR) yang rendah. Parameter penting antena yang perlu diperhatikan seperti Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), frekuensi resonansi, frekuensi operasi, return loss, lebar pita, gain dan pola radiasi. Pada penelitian ini dilakukan perancangan antena dual circular loop dengan frekuensi resonansi 620,8 MHz. Fabrikasi antena berjari-jari 7,5 cm menggunakan aluminium pejal dengan ketebalan 10 mm. Berdasarkan optimasi pada CST Studio Suite 2011, pemilihan celah feed point 2 cm, panjang feed point 5 cm, ukuran reflektor 15 cm x 30 cm, dan jarak antena dengan reflektor 27 cm. Hasil pengujian antena dual circular loop didapatkan nilai VSWR sebesar 1,02 lebih baik dari antena pembanding PF Indoor HD 14 yang menghasilkan nilai VSWR 1,28. Pengolahan data uji didapatkan frekuensi resonansi 530 MHz dan 610 MHz, frekuensi operasi 480 MHz – 710 MHz, lebar pita 230 MHz, gain 7,05 dB, dan pola radiasi directional. Hasil pengujian sebagai penerima siaran televisi digital, kinerja antena dual circular loop lebih baik daripada antena pembanding PF Indoor HD 14 dan PF200 Indoor.