Tandiyo Pradekso
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 158 Documents
Articles

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA Nugraheningtyas, Asri; Sunarto, Sunarto; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.532 KB)

Abstract

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang1HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRONREMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGANPERILAKU HEDONIS PADA REMAJAAsri (2013)Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas DiponegoroABSTRAKSIDitinjau dari sisi psikologis, perilaku hedonis sangat membahayakan remaja, remajaakan mengambil simplifikasi kehidupannya menjadi parameter perkembangan kehidupannya dimasa mendatang, sehingga nafsu kemewahan dan kemegahan membudaya dalam dirinya,akibatnya apabila semua bentuk kemewahan dan kemegahan tersebut tidak dapat dipenuhiakan membuat remaja frustrasi dan kecewa yang berkepanjangan. Dari beberapa faktor yangdianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahuihubungan antara intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang sarat dengan sajiankemewahan dan kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group denganperilaku hedonis.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma positistik dengan tradisi sosiopsikologis,sehingga tipe penelitiannya kuantitatif. Teori yang digunakan ialah hirarki of effectdan teori belajar sosial Bandura, diharapkan mampu menjawab tujuan penelitian. Obyekpenelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Semarang, yang kesehariannya sarat denganindikasi perilaku hedonis, yang kepadanya diberikan kuesioner. Sampel diambil menggunakanproportional random sampling yaitu 77 siswa, dengan rumus statistik korelasi rank Kendall.Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menontontayangan sinetron remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggiintensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka semakin rendah perilaku hedonis dariremaja tersebut; 2) Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group denganperilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi interaksi sosial peer group, maka akan semakinrendah perilaku hedonis pada remaja tersebut.LATAR BELAKANGKecenderungan masyarakat untuk hidup mewah, berfoya -foya, bersuka ria, dan bergayahidup secara berlebih-lebihan, begitu terlihat di lingkungan masyarakat kita sehari-hari.Kecenderungan tersebut sering diistilahkan sebagai budaya hedonisme, yang mempunyai artisuatu budaya yang mengutamakan aspek keseronokan diri, misalnya, freesex, minum-minumankeras, berjudi, berhura-hura, berhibur di club-club malam, dan sebagainya. Berbagai bentukperwujudan dari budaya hedonisme tersebut begitu mempesonakan dan menggiurkan bagibanyak orang, dan dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat yang merasadirinya sebagai masyarakat modern (Ayuningtias, 2013:2).Perilaku hedonistik pada remaja tersebut seperti; membawa mobil saat ke sekolah,menggunakan handphone bermerk dan mahal (Black Berry) dan secara proporsional kuranglayak buat remaja, dandanan yang terkesan kurang sopan dan seronok ala artis, main ke mallmall,dinner di McDonald, dan perilaku hura-hura tanpa makna lainnya yang sudah sepertimembudaya pada remaja akhir-akhir ini.Menurut Titi Said, sinteron yang diklaim sebagai sinteron remaja tersebut, banyakmenyajikan perilaku remaja yang mengajari anak-anak dan remaja untuk berpenampilan seksi,berorientasi hedonistic dan berpola hidup senang, serba mudah dan serba mewah. Adegansinetron pun seringkali ditiru dalam perilaku mereka sehari-hari, atau jika tidak ditiru, minimalakan mengkontaminasi pikiran polos anak-anak, karena sebenarnya orientasi yang relevan bagiremaja adalah nilai-nilai budaya kerja keras dan menghargai karya. Apalagi, sekitar 60 juta anakIndonesia menonton acara seperti itu di televisi selama berjam-jam hampir sepanjang hari.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang2Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka, tetapi yangtidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkannya. Memang karakter setiapremaja berbeda, tapi pada kenyataannya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam.Misalnya sinetron yang mempertontonkan siswa SMA yang pergi ke sekolah dengan mobilmewah, banyak ditiru para pelajar saat ini dengan membawa mobil ke sekolah. Begitu jugadengan cara berpakaian para pelajar perempuan dalam sinetron, mulai ditiru para remaja saatini. Fenomena lain yang meniru sinetron adalah westernisasi (aksi kebarat-baratan) sepertibahasa, kuliner dan pakaian yang saat ini jadi trend di kalangan remaja. Hal ini bisa disaksikandi mall-mall, bagaimana anak-anak remaja berdandan bagaikan artis sinetron. Bahkan sebagaiakibat kegemaran remaja mengunjungi mall-mall di pusat perbelanjaan harus sampai membolossekolah, sehingga tidak jarang remaja yang masih siswa SMA/SMK terjaring razia disiplin yangdilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Fenomena semacam ini dirasakan sangat getir bagisemua pihak, khususnya; orangtua, pendidik, ulama, tokoh agama dan masyarakat dan pihakpemerintah sendiri.Ketatnya pergaulan remaja dalam ikatan teman sebaya yang cenderung represif, semakinmengindikasikan bahwa tayangan sinetron hedonis tersebut memang merupakan parameterpergaulan remaja pada umumnya, sehingga bilamana ada salah seorang remaja yang tidakmampu mengadopsi nilai-nilai hedonis tersebut, sudah barang tentu akan diisolasi olehkelompok teman sebayanya (peer group). Menonton sinteron remaja yang hedonis, bagi siswadiibaratkan sebagai tolok ukur tentang perkembangan sikap dan perilaku metropolis yang layakuntuk diadopsi sebagai salah satu bagian dari dirinya, sehingga agar tidak ketinggalan jaman,maka perlu dan wajib untuk ditonton, dan akibatnya terpaan menonton tayangan sinetronsemacam itu menjadi tinggi dan sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Tolok ukur yangdiperolehnya dari hasil melihat tayangan sinetron kemudian dijadikan bahan masukan dandiskusi di lingkungan teman sebaya, sebagai sebuah wacana yang layak atau tidak untuk ditiru.Dengan dominasi pergaulan teman sebaya yang cenderung homogen yang disertai denganintensitas menonton tayangan sinetron yang tinggi, diduga akan mewarnai perilaku hedonisremaja.Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita. Pola hidup sepertiini sering dijumpai di kalangan remaja dan mahasiswa, di mana orientasinya diarahkankenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan.Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itumerupakan sifat dasar manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunyadengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhanpokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkansecara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuahkonsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidupdan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gayahidup. Penelitian ini akan mengkaji hubungan intensitas menonton tayangan sinteron remajadan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada remaja.PERUMUSAN MASALAHDari beberapa faktor yang dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka faktortingginya intensitas menonton sinetron remaja yang sarat dengan sajian kemewahan dankemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group yang berkecenderungan untukmelakukan soliditas dan homogenitas perilaku sebagai perwujudan solidaritas sosial, dianggapsebagai prediktor. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah “Apakah intensitasmenonton tayangan sinetron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group berhubungandengan perilaku hedonis pada remaja?”.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangansinteron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.KERANGKA TEORIParadigma PenelitianParadigma penelitian yang dipakai adalah positivistik dengan ttradisi sosiopsikologis.State of The Art (Penelitian Terdahulu)No Nama Judul Variabel Hasil1 Yuyun (2002) Pengaruh IntensitasKomunikasi Keluarga danKonformitas peer groupterhadap Persepsi Remajamengenai InformasiErotikaVariabel bebas:1. Intensitas Komunikasikeluarga2. konformitas peer groupVariabel terikat:1. Persepsi remajamengenai informasierotika1. Intensitas komunikasi keluargaberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika2. Konformitas peer groupberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika3. Intensitas komunikasi keluargadan konformitas peer groupberpengaruh terhadap persepsiremaja mengenai informasi erotika2 Yudha (2009) Hubungan IntensitasMenonton TayanganPornografi di Internet danInteraksi dengan PeerGroup terhadap PerilakuImitasi Remaja dalamPacaranVariabel bebas:1. Intensitas MenontonTayangan Pornografi diInternet (X1)2. Interaksi dengan PeerGroup (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran (Y)1. Terdapat hubungan antaraIntensitas Menonton TayanganPornografi di Internet denganPerilaku Imitasi Remaja dalamPacaran2. Terdapat hubungan antaraInteraksi dengan peer groupdengan Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran3 Anggarizaldy,(2007)Hubungan IntensitasMendengarkan ProgramAcara Skuldesak di RadioTRAX FM danPenggunaan Bahasa GaulOleh Penyiar SkuldesakRadio TRAX FM denganPerilaku Imitasi BahasaGaul Pada RemajaVariabel bebas:1. IntensitasMendengarkanProgram Skuldesak(X1)2. Penggunaan BahasaGaul oleh PenyiarSkuldesak (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi BahasaGaul pada Remaja (Y)1. Terdapat hubungan positif antaraintensitas mendengarkan ProgramSkuldesak dengan Perilaku ImitasiBahasa Gaul pada Remaja2. Terdapat hubungan positif antarapenggunaan bahasa gaul olehpenyiar Skuldesak denganPerilaku Imitasi Bahasa Gaul padaRemajaHubungan antara Intensitas Menonton Sinetron Remaja dengan Perilaku Hedonis padaRemajaIntensitas menonton media televisi tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisikcukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbukaterhadap pesan-pesan media tersebut. Intensitas menonton media televisi merupakan kegiatanmendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa atapun mempunyai pengalaman danperhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok(Shore, 2005:26).Menurut pendapat Rosengren, penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yangdigunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang4antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secarakeseluruhan. Intensitas adalah banyaknya informasi yang diperoleh melalui media, yangmeliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis media yang digunakan(Rakhmat, 2004:66). Dengan demikian intensitas menonton sinetron remaja adalah banyaknyainformasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di televisi, yang meliputi;frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Rogers (1996:192) mengatakan bahwa dampak sosial dari teknologi komunikasi baruadalah sesuatu yang diharapkan, tidak langsung dan memenuhi, sering bersamaan denganterjadinya dampak yang tidak diharapkan tidak langsung dan tidak memenuhi keinginan).Televisi memiliki efek secara hirarkis terhadap pemirsanya yaitu:1. Kognitif. Kemampuan pemirsa menyerap atau memahami acara yang ditayangkan televisiyang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Remaja akan menyerap dan memahamiinformasi serta pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai hedonis dari televisi, misalnyatentang bagaimana orang-orang berperilaku mewah, serba mudah dan serba instan, yangmana hal-hal tersebut akan menjadi semacam pengetahuan bagi siswa remaja.2. Afektif. Pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi. Dalam hal iniremaja akan meniru simbol, properties, gaya rambut, cara bergaul dan sebagainya, daribintang idola mereka di televisi.3. Overt behavior (perilaku). Proses tertanamnya nilai-nilai budaya hedonis dalam hal iniyang berkaitan dengan nilai-nilai hedonistik dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmat,2004:57).Hubungan antara Interaksi Sosial Peer Group dengan Perilaku Hedonis pada RemajaProses terjadinya imitasi dalam interaksi sosial, sebagaimana dikatakan oleh Banduradalam Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) bahwa orang belajar dari yang lain,melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial ini banyak berbicara mengenaiperhatian, identifikasi, dan imitasi. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam halinteraksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruhlingkungan (Rakhmat, 2004:74)Teori belajar sosial dari Bandura juga menyatakan bahwa individu akan meniru perilakuorang lain jika situasinya sama dengan ketika peristiwa yang ditirunya diperkuat di masa lalu.Sebagai contoh, ketika seorang anak muda meniru perilaku orangtuanya atau saudara tuanya,imitasi ini sering diperkuat dengan senyuman, pujian, atau bentuk-bentuk persetujuan lain.Demikian juga, ketika anak-anak menirukan perilaku teman-temannya, bintang olah raga, atauselebritis, peniruan ini akan diperkuat dengan persetujuan teman sebayanya.Dalam penelitian ini model yang dimaksudkan dalam teori belajar sosial adalah di manasiswa akan belajar mengenai nilai-nilai sosial yang berkembang dari lingkungan temansebayanya, di mana jika lingkungan teman sebayanya menganut nilai hedonis, maka individulain yang terlibat dalam interaksi dalam peer group mencoba untuk melakukan perhatian,identifikasi dan imitasi, sehingga bilamana nilai hedonis tersebut sesuai dengan keinginannya,besar kemungkinan siswa akan belajar tentang nilai-nilai dan perilaku hedonis. Namun jikainteraksi dengan lingkungan teman sebayanya menganut nilai-nilai religius, maka besarkemungkinan individu akan memiliki nilai dan perilaku yang religius pula. Dalam hal ini,individu, khususnya siswa remaja yang masih berada dalam tahap transisi akan senantiasamencari jati dirinya sehingga menemukan apa yang dicarinya dari lingkungan sosial di manasiswa atau remaja tersebut menaruh respek. Dalam tinjauan literatur, lingkungan sosial primeryang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja antara lain; orangtua, lingkungan sekolahdan lingkungan teman sebaya (peer group). Semakin tinggi individu berinteraksi dengan peergroup, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesesuaian perilakunya dengan nilai-nilai peergroup.Dari teori belajar sosial Bandura di atas maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sosialyang primer dari individu akan mengajarkan pada para remaja untuk bersikap dan berperilakusebagaimana yang diyakini dan dipercayai oleh lingkungan sosial tersebut, di mana lingkunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang5sosial tersebut berasal dari teman sebaya dan media televisi. Dalam perspektif teori belajarsosial, remaja yang berada dalam transisi mengalami suatu fase yang dinamakan pencarian jatidiri, sehingga lingkungan sosial di mana remaja bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak mendapatkansuatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan sosial di mana siswabertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi mental siswa kepada norma dannilai sosial yang menyimpang.Penyimpangan tersebut akan semakin kentara bilamana remaja bergaul dalam lingkunganpeer group yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jatidiri yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya. Nilai-nilai hedonis, seperti; caraberpakaian, assesories, properties, sarana dan prasarana, gaya hidup dan hobby yang dibawaoleh kelompok peer groupnya, secara perlahan akan diadopsi sebagai salah satu bagian darinilainya, dan di sini barangkali remaja berani mengatakan inilah proses pencarian jati dirinya,yaitu sebagaimana yang dilakukan sikap dan perilaku anggota peer group lainnya.Gambar 1Kerangka Pemikiran TeoritisHIPOTESIS1. Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron remaja ditelevisi dengan perilaku hedonis pada remaja2. Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.DEFINISI OPERASIONAL1. Intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1), indikator:a. Frekuensi menonton tayangan sinetron remaja di televisib. Atensi, tingkat perhatian individu dalam menonton sinetron remaja di televisic. Durasi, lama waktu yang dihabiskan individu untuk menonton sinetron remaja ditelevisi.2. Interaksi dengan peer group (X2), akan diukur dengan indikator:a. Frekuensi, seberapa sering individu berinteraksi dengan peer group.b. Durasi, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan individu setiap kali berinteraksi denganpeer groupc. Keteraturan, yaitu kontinuitas individu dalam berinteraksi dengan peer group-nya.d. Keterbukaan, yaitu kesediaan untuk membuka diri tentang informasi yang tersembunyimengenai diri sendiri terhadap anggota lain dalam peer groupe. Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi anggota lain di dalampeer group.f. Dukungan, yaitu sikap mendung yang terdiri dari sikap deskriptif, bersikap spontandan bersikap provisional dengan berpikiran terbuka serta bersedia mendengarpandangan yang berlawanan dengan anggota lain dalam peer group3. Perilaku hedonis pada remaja (Y), dengan indikator:a. Sikap (afektif), diukur dengan:1) Kecenderungan terhadap kemewahan2) Kecenderungan untuk berfoya-foya3) Kecenderungan terhadap kemudahanb. Perilaku (overt behavior), diukur dengan:Intensitas Menonton TayanganSinetron (X1)Perilaku Hedonis padaRemaja (Y)Interaksi dengan Peer Group(X2)Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang61) Tingkat menghindari kesukaran2) Tingkat pemuasan hasrat3) Tingkat pemenuhan keinginan4) Tingkat pemuasan hawa nafsuMETODE PENELITIANTipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksplanatori (pengujian hipotesis).Populasi dan Sampel1. PopulasiPopulasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang,sebanyak 334 siswa2. Sample sizeDengan rumus Yamane diketahui sample size sebesar 77 responden.Alat dan Teknik Pengumpulan DataSebagai alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ialah kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi jawabannya dengan bantuan teknik wawancara.Teknik Analisis DataTeknik analisis data akan berupa:1. Analisis deskriptifDalam analisis kualitatif atau deskriptif adalah penyajian deskripsi temuan penelitiansecara naratif dengan bantuan tabel frekuensi (tabel univariat) dan tabel silang (tabelmultivariat).2. Analisis inferensialAnalisis kuantitatif atau inferensial akan digunakan untuk pengujian hipotesispenelitian. Dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi rank Kendall.HASIL PENELITIAN1. Temuan Deskriptif (kualitatif)a. Sebagian besar responden tergolong memiliki intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi menengah ke bawah. Fenomena seperti ini memberikan arahanbahwa secara umum tayangan sinetron remaja di televisi kurang diminati olehkalangan remaja. Hal ini dikarenakan sinetron dimaksud memiliki jam tayang yangbersamaan dengan aktivitas responden yang lain, seperti; saat bersantai bersamakeluarga, bersama teman, jalan-jalan ke tempat hiburan, mall, juga belajar dan lainsebagainya.b. Tingkat interaksi sosial dalam peer group pada responden tergolong menengah ke atas.Tingginya tingkat interaksi sosial tersebut disebabkan adanya perasaan kebersamaan,baik dalam perkembangan psikologis, sosial, edukatif maupun ekonomi, sehinggamenjadi daya perekat sosial di antara mereka. Fenomena ini memberikan arahan bahwawalaupun secara fisik, intensitas pertemuan dan komunikasi berlangsung tinggi, namundalam aspek afektif dan behavior, bentuk ikatan sosial antara anggota kelompok dalampeer group tergolong masih kurang, yang dikarenakan adanya keterbatasansosiopsikologis pada masing-masing anggota akibat adanya kepentingan dankebutuhan yang bersifat individual dan sosial, seperti masih adanya kebutuhan untukberinteraksi dengan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar lingkungan peergroup.c. Temuan memperlihatkan sebagian besar responden tergolong memiliki perilakuhedonis tingkat menengah ke atas. Adanya kecenderungan semacam ini dikarenakanpada responden ditemukan tentang tingginya sikap menghindari kesulitan, tingginyakecenderungan untuk mencari kemudahan, adanya kecenderungan pada individu untukJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang7menggunakan bantuan orang lain apabila mengalami kesulitan. Pilihan-pilihan sikapresponden tersebut merupakan karakteristik perilaku hedonis, di mana perilakuindividu yang memiliki kecenderungan untuk bermegah-megah, kehidupan mewahdengan mengesampingkan kerja keras, tekun dan giat dalam meraihnya.2. Temuan Inferensial (Kuantitatif)a. Berdasarkan uji hipotesis penelitian di atas, menunjukkan bahwa hipotesis penelitianditerima. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yang diperoleh pada koefisienkorelasi Kendall antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1)dengan perilaku hedonis remaja (Y) sebesar -0,1331 dan setelah ditransformasikan kedalam rumus Z menghasilkan nilai Z sebesar -1,713. Hasil konsultasi memperlihatkanbahwa nilai Z-hitung -1,713 > nilai Z-tabel5% -1,64, sehingga Ho ditolak dan Haditerima pada taraf kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, hipotesis yangmenyatakan terdapat hubungan antara intensitas menonton tayangan sinetron remajatelevisi dengan perilaku hedonis remaja dapat diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwaketika individu mempunyai intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisitinggi, maka berpotensi menurunkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.Begitu juga sebaliknya, ketika intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisirendah, maka akan berpotensi menaikkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.b. Dari perhitungan manual ditemukan koefisien  sebesar -0,2608 yang menghasilkannilai Z sebesar -3,356. Sedangkan nilai Z-tabel (lihat lampiran-7) pada tarafsignifikansi 5% (Zt5%) sebesar |-1,64|, sehingga hasil konfirmasi antara kedua nilai Ztersebut memperlihatkan nilai Z-hitung |-3,356| > Zt5% |-1,64|, sehingga hipotesispenelitian (Ha) diterima pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian antara interaksipeer group dengan perilaku hedonis remaja terdapat hubungan yang sangat signinikan.Variabel intensitas sosial peer group secara statistik berhubungan negatif denganperilaku hedonis siswa SMA di Semarang. Semakin tinggi interaksi sosial peer group,semakin rendah perilaku hedonis pada siswa. Hasil perhitungan statistik ini bersesuaiandengan temuan berdasarkan analisis tabel silang. Fenomena semacam ini memilikimakna bahwa interaksi sosial peer group dengan dengan segala dinamika sosialekonomi dan budaya, justru berpotensi menurunkan sikap dan perilaku hedonis siswaremaja yang bersangkutan.3. Diskusia. Implikasi TeoritikDari hasil hubungan variabel intensitas menonton sinetron remaja di televisiberhubungan negatif dengan perilaku hedonis remaja, memberikan arahan ketikaremaja mempunyai intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, secaraotomatis dapat dikatakan bahwa waktunya untuk merealisasikan (manifestasi) perilakuhedonis menjadi berkurang, karena adanya aktivitas lain pada waktu yang bersamaandengan spasial yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Rakhmat yangmengatakan bahwa intensitas menonton adalah banyaknya informasi yang diperolehmelalui media, yang meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenismedia yang digunakan (Rakhmat, 2004:66). Intensitas menonton sinetron remajaadalah banyaknya informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja ditelevisi, yang meliputi; frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Terbuktinya hipotesis penelitian ini, mengasumsikan ketika ada remajamengalami intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, maka otomatisremaja yang bersangkutan alam memiliki perilaku hedonis yang tinggi pula, namundemikian hasil dari penelitian ini tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya, dimana semakin tinggi intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka akansemakin rendah perilaku hedonis pada remaja. Peneliti melakukan kemungkinankemungkinanyang terjadi ketika hasil penelitian ini menyatakan bahwa intensitasmenonton tayangan sinetron di televisi berhubungan negatif dengan perilaku hedonisJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang8remaja. Peneliti menarik kembali teori yang digunakan untuk menjelaskan hubunganantara keduanya, yaitu hirarki efek media, di mana pertemuan media dengan khalayakakan berlangsung dalam tiga tingkatan (level) intensitas, yaitu; kognitif, sikap dan overbehavior. Dalam ketiga level (tingkatan) ini terdapat salah satu faktor yangmempengaruhi perilaku hedonis tersebut terjadi. Menurut hirarki efek dan teori belajarsosial (yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara interaksi peer groupdengan perilaku hedonis remaja) bahwa kita belajar tidak hanya dari pengalamanlangsung tetapi dari peneladanan atau peniruan, dibuktikan dalam hubungan keduavariabel ini. Televisi bukan salah satu faktor penentu lingkungan yang kuat dalammunculnya perilaku hedonis. Remaja tidak hanya melakukan peniruan dari televisisaja, walaupun dalam penelitian ini menyatakan bahwa televisi berkorelasi negatifdengan perilaku hedonis remaja. Faktor lingkungan lain seperti keluarga juga menjadipenentu dalam proses perilaku hedonis.Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dimaknai bahwahubungan yang timbul akibat adanya tayangan sinetron di televisi dengan perilakuhedonis remaja dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Mereka dapat terpengaruhke arah yang positif atau ke arah yang negatif tergantung pada pribadi masing-masingdari remaja tersebut. Sinetron di televisi berpengaruh terhadap remaja karenakemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kacamenjadi lebih nyata dari realitasnya, sehingga mereka ingin mencoba apa yang merekalihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai remaja gaul di lingkungannya.Implikasi teoritik yang bisa diajukan adalah karena hubungan menonton sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis negatif, maka memunculkan pemikiranbahwa pertemuan antara anak dengan media massa (khususnya saat menonton remajadi televisi), diduga tidak lebih hanya dimanfaatkan untuk mengetahui trend dan gayahidup populer di kalangan remaja perkotaan, yang sekaligus dianggap sebagai aktivitaskatarsis atas rutinitas anak (siswa) terhadap tingkat kepadatan proses belajar belajar disekolah. Hal ini sejalan dengan ditandai semakin banyaknya aktivitas ekstra kurikulerdan pelajaran tambahan yang seringkali membuat anak (remaja) menjadi bosan(boring).b. Implikasi praktisImplikasi praktis dari hasil penelitian adalah terlepas dari besar kecilnyapengaruh yang disebabkan oleh tayangan sinetron remaja di televisi yang saratmengumbar sikap dan perilaku hedonis, maka optimalisasi peranan keluarga dalammembentengi anak remajanya mutlak semakin ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukansalah satunya adalah melalui pendampingan yang selalu disertai dengan diskusi antaraorangtua dengan anak remaja, terkait dampak perilaku hedonis bagi pencapaian masadepan anak remaja yang bersangkutan. Dalam hal ini maka intensitas komunikasiantara anak remaja dengan orangtua bukan saja optimal pada saat melakukanpendampingan, akan tetapi bisa juga dilakukan melalui media-media lainnya, seperti;saat makan bersama, saat berwisata, bersantai dan forum komunikasi interpersonallainnya, yang sudah barang tentu diikuti adanya peningkatan perhatian orangtuaterhadap kebutuhan dan kepentingan studi anaknya.c. Implikasi SosialDengan terbuktinya hipotesis penelitian, implikasi sosial yang bisa diambiladalah tayangan sinetron remaja di televisi memang memiliki potensi destruktif(merusak) bilamana khalayak mengalami terpaan yang sangat tinggi, dalam artipertemuan antara dengan tayangan dimaksud berlangsung dalam intensitas yang sangattinggi. Namun bilamana pertemuan tersebut hanya berlangsung dalam durasi yangrelatif singkat (pendek), apalagi selama menonton diselingi dengan seringnyamelakukan pergantian channel televisi, potensi merusak dari tayangan sinetron remajadi televisi dinilai masih sangat lemah. Namun demikian, sinyalemen dari Titi Said,tetap relevan untuk dicermati, khususnya bagi pendidik, orangtua, pemerhati sosial,Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang9tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk senantiasa mewaspadai bahaya dari isitayangan sinetron remaja di televisi tersebut, yang dalam hal ini lebih intensif dalammemberikan pembinaan, pengertian dan pemahaman kepada putra-putrinya untuk tidakterlalu mempercayai kebenaran tayangan sinetron dimaksud, berikut content-contentdestruktif yang terkandung.Bandura dalam Rakhmat (2004) juga menjelaskan bahwa perilaku, lingkungandan individu itu sendiri saling berinteraksi satu dengan yang lain. Hal ini berartiperilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilakujuga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhiindividu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:15). Bilamana berbicara peer group ituadalah panutan, maka ini menyangkut hubungan antara perilaku peer group dengananggotanya, peer group dijadikan model bagi anggotanya, apalagi anggota dalamkelompok umumnya para remaja.PENUTUP1. Kesimpulana. Terdapat hubungan negatif antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja.b. Terdapat hubungan negatif antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilakuhedonis pada remaja.2. Sarana. Saran AkademisDalam rangka mengurangi atau bahkan mengeliminasi perilaku hedonis pada remaja,seharusnya intitusi televisi swasta tetap menyelenggarakan atau menayangkan acarasinetron remaja di saat prime time, agar supaya perhatian remaja untuk menontonyatetap rendah.b. Saran SosialLingkungan sosial primer siswa merupakan pengaruh utama, maka upayapembentukan sikap dan perilaku remaja dalam berbagai aspekdan isu, sebaiknya disosialisasikan melalui kelompok peer group, karena akanmendapatkan perhatian dan respon yang positif.c. Saran PraktisLingkungan sosial di mana remaja itu bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidakmendapatkan suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungansosial di mana siswa bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhimental siswa kepada norma dan nilai sosial yang menyimpang. Penyimpangantersebut akan semakin terlihat bilamana remaja bergaul dalam lingkungan peer groupyang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati diriJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang10yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya.DAFTAR PUSTAKAAmalia, Lia. (2009). Mitos Cantik di Media. STAIN Press. Ponorogo.Azwar, Saefuddin. (2008). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius.Yogyakarta.Hujbers, Theo. (1992). Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Kanisius. Yogyakarta.Liliweri, Alo. (2001). Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Bandung.Littlejohn, Stephen W. (2004). Theories of Human Communication. Fairfield Graphics.California.Marwan. (2008). Dampak Siaran Televisi terhadap Kenakalan Remaja. Yayasan Kanisius.Yogyakarta.Mc Quail, Denis. (1997). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya. Bandung.Shore, Larry. (2005). Mass Media For Development A Rexamination of Acces, Exposure andImpact, Communication The Rural Third World. Preagur. New York.Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta.Surbakti, EB. (2008). Sudah Siapkah Menikah?. Elek Media Komputindo. Jakarta.Tubbs, Stewart L & Moss, Sylvia, (1996). Human Communication. Remaja Rosdakarya.Bandung.Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Andi Offset. Yogyakarta.Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.Muhyidi, Muhammad. (2004) Remaja Puber di Tengah Arus Hedonis. Mujahid Press. Bandung.Jurnal dan Artikel IlmiahAyuningtias, Prasdianingrum. (2013). Pesan Hedonisme dalam Film Layar Lebar “Realita Cinta& Rock N’Roll” eJournal lmu Komunikasi, 2013, 1 (2): 14-27 ISSN 0000-0000,ejournal.ilkom.fisip-unmul.org.Liandra, Dwi Tasya. (2013). Pengaruh Televisi Publik dan Swasta terhadap Perilaku Remaja.Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-FakultasEkologi Manusia Institut Pertanian Bogor.Oetomo, R. Koesmaryanto. (2013). Pengaruh Tayangan Sinetron Remaja di Televisi terhadapAnak. Artikel Ilmiah. Departemen Sains Komunikasi dan PengembanganMasyarakat-Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Evaluasi Proses Penyampaian KIE Pencegahan HIV/AIDS Yang Dilakukan ASA PKBI Jawa Tengah Bagi Remaja Di Kota Semarang Salawati, Trixie; Widjanarko, Bagoes; Pradekso, Tandiyo
JURNAL PROMOSI KESEHATAN INDONESIA Volume 1, No. 2, Agustus 2006
Publisher : Magister Promosi Kesehatan Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.36 KB)

Abstract

Background : The ASA IPPA Central Java has been conducting a series of IEC activities of HIV prevention programmes for young people regularly. These activities are conducted by ASA volunteers by providing a lecture to middle and high school students. Unfortunately, these activities have never been evaluated in terms of the methods, the materials and theoutputs of the lecture. This study observes the IEC process of HIV prevention for young people conducted by ASA volunteers.Method : An observation technique using check lists has been used to observe the process of the IEC activities which were conducted by the ASA volunteers. The performance of the communicators, the curriculum provided, the responses of the target group and the media used, were observed directly during the IEC activities. Focus group discussions with students and indepth interviews with coordinators of IEC activities in each school, were also conducted to obtain more detail information. Two middle schools and three high schools which selected purposively have been participated in this study.Results : The study shows that the performance of the communicators during the IEC activities were relatively good, particularly in terms of language, skills of communication technique and relationship with the audiences. Although not all questions asked by the audiences, havebeen answered by the communicators, particularly unrelated topics to HIV/AIDS and drugs, using new terminology during a lecture has made many students interested to listen and provided some good responses. In terms of the IEC materials, the middle schools were more focused on drugs, whereas the high schools were more concerned in HIV/AIDS prevention. Each lecture provides an additional programmes such as HIV/AIDS film and drug user cases in VCD format. This study suggests that the skills of communicators and the materials of the IEC, should be improved regularly in order to increase the fit between the IEC activities and the audience needs. The usage of audio visual aids during the IEC process should be optimized to make it easier for the audiences to understand the materials being provided. The output assessments should also be conducted in order to obtain direct feed back from the audiences.Keywords: IEC process, HIV/AIDS, Students.
Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter Ardani, Banun Diyah; Pradekso, Tandiyo; widagdo, Muhammad Bayu
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMemahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBanun Diyah ArdaniUniversitas Diponegoro Semarang2Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMEMAHAMI PENGALAMAN FOLLOWER DALAM MENERIMA PESAN TWEET BERBAYAR YANG DISAMPAIKAN OLEH BUZZER DI MEDIA SOSIAL TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstraksiTweet berbayar merupakan sebuah fenomena yang muncul seiring dengan perkembangan media sosial Twitter. Twitter memiliki kerumunan massa dimana dilihat sebagai peluang bagi sebuah perusahaan produk untuk berpromosi di Twitter. Memanfaatkan Buzzer yang telah memiliki banyak follower, perusahaan produk menyewa jasa Buzzer untuk menyampaikan pesan promosi dengan menggunakan bahasa dan gaya berbicara khas Buzzer. Follower dapat mengidentifikasi pesan tweet berbayar walaupun dikemas bukan seperti pesan promosi yang bersifat hard-selling.Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman follower dari Buzzer dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi para brand company untuk mmilih Buzzer dan format komuniasi yang tepat agar kampanye produk yang dilakukan berhasil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan menggunakan model komunikasi Maletzke sebagai rujukan kerangka berpikir.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi follower masuk di media sosial Twitter adalah untuk mendapatan informasi dan hiburan. Follower cenderung follow Buzzer dengan interest yang sama. Dalam menerima pesan tweet berbayar, follower melihat beberapa aspek yang melekat pada diri Buzzer sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh follower. aspek tersebut diantaranya adalah Image yang dilihat dari avatar dan bio, Reputasi yang dilihat dari karakter personal dan kompetensi profesional, Jaringan Pertemanan, Jaringan Buzzer, dan Interest. Follower melihat aspek tersebut sebagai kesatuan yang dimiliki oleh Buzzer dalam menyampaikan tweet berbayar. Dalam menyampaikan pesan tweet berbayar, Buzzer dituntut untuk menulis tweet yang padat, jelas, menarik. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan yang disampaikan oleh Buzzer sehingga apabila terdapat tweet yang tida patut maka follower langsung menegur.Kata Kunci: Buzzer, tweet berbayar, Twitter, Follower3Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterUNDERSTANDING FOLLOWER EXPERIENCE WHEN RECEIVING PAID TWEET WHICH IS DELIVERED BY BUZZER IN SOCIAL MEDIA TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstractPaid tweet is the rising phenomenon while the social media Twitter is rising up. Twitter has a mass crowd which is viewed by product company as an opportunity to promote the product in Twitter. Using Buzzer who has may followers, product company contract Buzzer to deliver promotion message using their own language and character. Follower can identify paid tweet although Buzzer deliver the message unlike hard-selling promotion message.This research was aimed to understand follower experience when receiving paid tweet from Buzzer so that brand company could use is as recommendation in order to choose Buzzer and how to communicate with follower to success product campaign. The type of research is descriptive-qualitative with phenomenological approach. The collection of data uses in-depth interview technique. Research is using Maletzke Communication Model as reference to frame the mind.The result showed that the follower motivation while entering Twitter is to get information and entertainment. Follower tend to follow Buzzer who has same interest. While receiving paid tweet, follower observe some aspects from Buzzer. The aspects are Image which is viewed by follower from avatar and bio, Reputation which is viewed from personal character and professional competence, Friend Network, Buzzer Network, and Interest. Follower observe those aspects as the whole package from Buzzer when deliver paid tweet. Buzzer has to deliver clearly interesting paid tweet less than 140 character. Follower watch the message which delivered by Buzzer so if there is inappropriate message, Follower will warn Buzzer.Key words: Buzzer, paid tweet, Twitter, Follower4Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterDAFTAR ISICover Dalam 1Abstrak Versi Bahasa Indonesia 2Abstrak Versi Bahasa Inggris 3Daftar Isi 4BAB IPENDAHULUAN 51.1 Latar Belakang 51.2 Permasalahan 71.3 Tujuan Penelitian 81.4 Signifikansi Penelitian 8BAB II 9KERANGKA TEORITIS 9BAB III 11 METODE PENELITIAN3.1 Metode Penelitian 113.2 Paradigma Penelitian 113.3 Sifat Penelitian 113.4 Informan dan Lokasi Penelitian 123.5 Metode Pengumpulan Data 123.6 Metode Analisis Data 12BAB IV 14HASIL PENELITIANBAB V 17PENUTUPDAFTAR PUSTAKA 185Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang PenelitianTwitter merupakan situs jejaring sosial yang telah mengalami pertambahan fungsi, tidak hanya sebagai situs jejaring biasa, tetapi juga merupakan media komunikasi pemasaran online. Bahkan, karakteristik yang dimiliki Twitter memungkinkan terjadinya pola komunikasi Online Word of Mouth atau oleh sebagian kalangan dikenal sebagai buzzing. Banyak perusahaan yang ingin produknya menjadi topik pembicaraan di Twitter. Mereka berusaha mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan perilaku mengkonsumsi media dari konsumen.Dalam komunikasi buzzing individu yang melakukan aktivitas buzzing disebut dengan Buzzer. Buzzer dalam arti yang umum dijelaskan sebagai alat atau suatu benda yang menghasilkan suara yang bisisng sehingga menarik perhatian. Dalam dunia Twitter pengertian Buzzer tidak persis seperti penjelasan tersebut. Buzzer di Twitter adalah seseorang yang memiliki akun di media sosial Twitter yang memiliki pengaruh besar, pengikut (follower) fanatik, kicauan (tweet) sering dikucaukan ulang (retweet) oleh follower, memiliki jumlah follower yang banyak dan mampu berinteraksi dengan mereka. (“Tertarik Menjadi Buzzer di Twitter”, oleh Rahadian P. Paramita, ditulis pada 4 Februari 2012, dalam http://salingsilang.com/baca/tertarik-menjadi-Buzzer-di-Twitter).Twitter tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi antar penggunanya untuk memberi tahu aktivitas yang sedang mereka kerjakan, namun juga para pengguna mulai menggunakannya untuk aktivitas promosi (Majalah Digital Business, volume 02/2009 halaman 46). Brand Company menggunakan Twitter untuk aktivitas promosi. Melalui Buzzer, brand company menyampaikan tweet yang berkaitan dengan pesan promosi produk. Tweet dari Buzzer memiliki kecendurungan untuk disebarluaskan kembali oleh follower melalui fitur Reply dan Retweet sehingga pesan tweet berbayar memiliki potensi viral marketing sehingga banyak orang yang mengetahui dan membaca tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer.6Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter1.2 Permasalahan PenelitianFenomena tweet berbayar merupakan fenomena yang unik karena tidak terjadi di media sosial lain. Twitter memiliki media usage yang berbeda dengan media sosial lain dimana Twitter merupakan media sosial yang bersifat cepat, praktis, dan selalu up-to-date sehingga memunginkan pengguna untuk mendapatkan informasi terbaru. Selain itu, Twitter adalah media personal dimana Buzzer tidak hanya bisa menyampaikan tweet yang bersifat pribadi namun juga tweet tentang suatu produk yang dikemas secara personal dan sesuai dengan karakter dan gaya berbicara. Berangkat dari keunikan (uniqueness) fenomena tweet berbayar di media sosial Twitter, penelitian ini cukup signifikan untuk diteliti yakni memahami bagaimana pengalaman yang dialami oleh follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter untuk digunakan sebagai rekomendasi bagi brand company dalam memilih Buzzer dalam program kampanye produk sehingga tujuan komunikasi brand company terhadap follower tepat sasaran.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman follower (komunikan) dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi brand company dalam memilih dan menempatkan posisi Buzzer dalam kampanye produk agar tujuan komunikasi tepat sasaran.1.4 Signifikansi PenelitianPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam mengadopsi pemikiran teoritis Model Komunikasi Maletzke dalam konteks komunikasi buzzing di media sosial Twitter dimana akan dilihat sebagai Bangunan Teoritik baru dalam proses komunikasi buzzing sehingga dapat menjadi referensi bagi Brand company dan Advertising/Digital Agency dalam memahami pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar.BAB IIKERANGKA TEORI2.1 Model Komunikasi MaletzkeDalam penelitian yang bertujuan memahami pemaknaan follower terhadap tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter akan menggunakan model komunikasi Maletzke dimana pengalaman seseorang dalam memahami tweet berbayar tentu berbeda-beda. Terdapat banyak model komunikasi yang ada menjelaskan fenomena proses komunikasi. Model komunikasi Maletzke ini7Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitterdikemukakan oleh seorang peneliti dari Jerman, Maletzke (1963) yang menyampaikan perspektif dengan menggunakan skema “Schema des Feldes der Massenkommunikation”. Secara metodologis, model komunikasi ini merupakan proses yang kompleks dalam area sosial-psikologis dimana memiliki multi-eksplanasi. Maletzke membuat model berdasarkan elemen tradisional dasar yakni yang meliputi komunikator, pesan, medium, dan komunikan. Diantara medium dan komunikan terdapat dua komponen yakni tekanan (pressure/constraint) dari medium dan citra komunikan (receiver’s image) terhadap medium (McQuails dan Windahl, 1993: 46). Gambar 1.6 Model Komunikasi MaletzkeSumber: McQuails dan Windahl, 1993: 52Dari gambar diatas, Maletzke memperlihatkan secara menyeluruh mengenai komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan sosiologis dengan kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional dimana kita menemukan tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R (Response). Dalam masing-masing bagian tersebut terdapat hal-hal yang mempengaruhi (McQuails dan Windahl, 1993: 52).8Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IIIMETODOLOGI3.1 Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan secara mendetail mengenai objek sehingga mendapatkan gambaran mengenai proses bagaimana follower selaku komunikan dalam model komunikasi Maletzke komunikasi memiliki image atau penilaian teorrsendiri terhadap Buzzer selaku komunikator3.2 Paradigma PenelitianPenelitian menggunakan paradigma interpretif menggunakan fenomenologi. Paradigma interpretif digunakan pada penelitian ini karena bertujuan untuk melihat fenomena dan menggali pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter.3.3 Sifat PenelitianPenelitian yang dilakukan ini bersifat interpretif. Penelitian interpretif mencoba menafsirkan isi pesan yang muncul dalam wawancara sehingga dapat mengungkap pola tentang gejala secara rinci dan pada sejumlah informasi. Data-data yang dikumpulkan bukan berupa penyajian angka melainkan kata sebagai sebuah penggambaran. Sehingga, sajian berupa kutiapan dan data-data untuk memberikan gambaran tentang laporan penelitian. Secara harfiah, metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian.3.4 Informan dan Lokasi PenelitianPenelitian dilakukan dengan beberapa informan dari latar belakang yang berbeda. Informan yang diambil peneliti adalah follower Buzzer yang memiliki akun Twitter serta secara aktif berpartisipasi dalam Twitter minimal selama satu tahun terakhir, dengan jumlah follower minimal 200, dan rata-rata jumlah tweet perhari minimal 10 tweet.3.5 Metode Pengumpulan Dataa. Data Primer dalam penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan pengguna Twitter yang merupakan follower dari Buzzer.b. Data sekunder riset ini adalah jurnal, artikel, internet, makalah, tulisan di blog, dan data pengguna internet.9Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter3.6 Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen (dalam Kuswarno, 2009: 70) yakni membuat deskripsi lengkap peristiwa atau fenomena yang dialami langsung oleh narasumber, menelaah setiap pernyataan verbal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, mengelompokkan setiap unit makna ke dalam tema-tema tertentu kemudian membuat deskripsi tekstural dan deskripsi structural, menggabungkan deskripsi tekstural dan struktural untukk menentukan makna dan esensi dari fenomena, membuat penjelasan menyeluruh dari setiap makna dan esensi fenomena yang didapat.BAB IVPEMBAHASAN HASIL PENELITIANBerdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa Brand Company menggunakan jasa Buzzer untuk menyampaikan tweet berbayar yang berisi pesan promosi produk perusahaan tersebut. Buzzer tidak hanya berasal dari kalangan selebritis atau orang terkenal namun juga orang biasa yang memiliki banyak follower. Follower tidak hanya melihat Buzzer melalui apa yang disampaikan namun juga beberapa faktor yang melekat pada diri Buzzer sehingga follower percaya terhadap apa yang disampaikan oleh Buzzer. Buzzer memiliki image, reputasi, jaringan pertemanan, jaringan buzzer, dan interest. Follower menilai bahwa Buzzer membangun image dengan baik melalui avatar dan Bio. Dengan menampilkan diri dengan menarik melalui avatar dan Bio membuat impresi Follower terhadap Buzzer baik. Reputasi merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana follower memahami Buzzer. Reputasi ini dibentuk oleh atribut personal yang terdiri dari karakter personal (sifat Buzzer dan karakter Buzzer) dan kompetensi professional (pekerjaan, keahlian dan prestasi). Karakter personal Buzzer dalam Twitter dipengaruhi oleh sifat diri dan lingkungan sosial dimana Buzzer berinteraksi. Sifat Buzzer seringkali dapat ditangkap oleh follower karena terlihat dalam menyampaikan pesan. Follower cenderung follow Buzzer yang memiliki interest di bidang yang sama. Alasan follower follow Buzzer adalah seringkali Buzzer tidak hanya menyampaikan tweet berbayar namun juga tweet yang berkaitan dengan keahlian dan pekerjaannya. Follower merasakan manfaat ketika Buzzer menyampaikan informasi yang bisa memperkaya pengetahuannya. Seringkali follower memberikan feedback yakni me-RT tweet Buzzer atau reply tweet Buzzer yang berisi informasi tambahan10Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitteratau pandapat dirinya mengenai topic tertentu. Prestasi Buzzer merupakan suatu penguat bagi follower bahwa ternyata telah follow orang yang tepat. Seperti layaknya follower Buzzer juga berinteraksi dengan jaringan pertemanannya. Follower terpaksa sering mengikuti percakapan Buzzer dan teman-temannya karena sering munculo di Twitter.Buzzer tidak bekerja sendiri dalam menyampaikan tweet berbayar, terdapat Buzzer lain yang menyampaikan tweet berbayar mengenai produk yang sama. Hal tersebut diidentifikasi follower dari penggunaan hashtag yang sama dalam tweet berbayar. Buzzer saling bekerjasama untuk meramaikan tweet berbayar di Twitter. Hal tersebut berhasil membuat follower penasaran dan lalu merasa ingin tahu terhadap apa diperbincangkan sehingga membuat follower kepo dan mencari informasi terkait.Dalam proses komunikasi dimana Buzzer menyampaikan tweet berbayar, Buzzer mengalami tekanan dari sisi pesan dan medium. Dari segi pesan Buzzer dituntut untuk membuat tweet berbayar yang menarik agar mencuri perhatian follower. Tidak hanya itu bahasa maupun penggunaan kata yang disampaikan Buzzer dalam tweet berbayar tidak lagi bisa seenaknya seperti menyampaikan tweet pribadi. Dari segi medium, Twitter memiliki karakteristik yang khas yang bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan. Twitter hanya memiliki 140 karakter sehingga tekanan dari medium muncul ketika Buzzer harus menyampaikan pesan yang singat, jelas, padat sehingga tidak menimbulkan twit-longer. Twit-longer merupakan hal yang dihindari oleh Buzzer dimana follower akan malas membaca pesan yang terpotong dan harus membuka sebuah tautan link. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer, apabila berisi konten yang tidak etis maka follower langsung memberikan feedback (RT/Reply).Adanya fenomena tweet berbayar membuat brand company untuk menyusun strategi komunikasi melalui Buzzer. Penerimaan pesan yang dilakukan oleh follower akan menjadi aspek pertimbangan brand company dalam menyusun pesan dan memiliki Buzzer sehingga kampanye produk yang dilakukan berhasil.11Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB VPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka Model Komunikasi Maletzke masih relevan untuk diadopsi sehingga bisa menjelaskan bagaimana memahami follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer. Model Komunikasi Maletzke merupakan model komunikasi lama yang masih mampu relevan dengan era sekarang dimana asumsinya adalah orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan akan informasi. Social media Twitter justru malah semakin mempermudah siapapun untuk menyampaikan pesan promosi.DAFTAR PUSTAKABoone, L.E., & Kurtz. D.L. (1999). Contemporary Marketing. Florida:Harcourt Brace and CompanyDenzin, Norman K. & Yvonne S. Lincoln. (2005). The Sage Handbook of QualitativeHawkins, Delbert. (2007). Consumer Behavior: Building Marketing Strategy. New York: McGraw-HillKartajaya, Hermawan. (1996). Marketing Plus 3: Serial Marketing Populer. Jakarta: Sinar harapanKartajaya, Hermawan. (2002). Marketing in Venus. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaKotler, Philip. (2000). Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. New Jersey: Prentice HallKotler, Philip. (1971). Marketing Decision Making, A Model, Building Approach . New York: Richart and Winston, IncLincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. (1989). Naturalistic Inquiry: 1stMc Quails, Daniel and Sven Windahl. (1993). Communication Models. New York: Longman Publishing
PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCER Zulkifli, Mahendra; Pradekso, Tandiyo; widagdo, Muchammad Bayu
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.419 KB)

Abstract

NAMA : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JUDUL : PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISISPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCERABSTRAKSIAcara yang bertajuk tentang musik hampir ada di semua stasiun televisi, namunprogram musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produk jurnalistik dan hanyamenayangkan aliran musik mainstrem. Aliran musik non mainstream jarang diangkatkarena dianggap tidak mampu mendongkrak rating, oleh karean itualiran musik nonmainstream menjadi altenatif produk jusnalistik yang menarik dan segar untukdiangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepada kebutuhan pasar.Program talk show tentang musik metal dibuat untuk mengangkat komunitas musikmetal dibuat dengan memadukan antara informasi dan entertainment atau lebihdikenal dengan edutaiment.Secara umum ada empat tahap dalam pembuatan talkshow yaitu pra produksi dimulaidari mencari ide produksi sampai mempersiapkan director treatment, dan melakukanpersiapan dan latihan yang bersifat teknis bersama dengan kerabat kerja, pada tahapproduksi tugas yg di lakukan antara lain mengarahkan acara dan memastikan seluruhgambar dapat digunakan, dan diakhiri dengan mengevaluasi hasil kerja sertamemastikan layak siar.Adapun kendala yang dihadapi selama proses produksi adalah adanya pergantiannarasumber karena salah satu narasumber berhalangan hadir, adanya perubahanjadwal pelaksanaan produksi, karena keterbatasan waktu liputan maka VT diambildari file yang sudah ada sebelumnya. Untuk anggaran justru terdapat penghematanuntuk sewa pick up, fee narasumber, fee presenter, namun ada penambahan anggaranuntuk biaya editing.Setelah kita mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorang produser, disebutkanbahwa seorang produser mempunyai andil yang sangat besar dalam terbentuknya suatu teamproduksi, selain itu seorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja team produksidemi lancarnya program acara yang telah direncanakan. Yang tidak kalah pentinya bahwaseorang produser adalah orang yang mendanai atau membiayai pada program acara yangdirencanakanKata Kunci: talk show, musik metal, produserABSTRACTThere is a lot tv program who use musik as it theme, but the musik program that iscurrently emerging is not a product of journalism and only broadcast mainstremmusik. Non-mainstream musik genre rarely broadcasted because they are not able toboost ratings, that is why non mainstream musik become an attractive alternativejusnalistik products which is interisting and fresh to be appointed, because the themeis taken is not glued to the needs of the market.Talk show programs about metal musik is made to lift the metal musik communitycreated with combination of information and entertainment, better known byedutainment.Generally there is three stage on talkshow production that is pre-production startedfrom ideas inquiry until preparing director treatment dan doing preparation andrehearsal which is technically with production crew, at production stage task that hasto be done are directing program and ensure every picture can be used and endedwith evaluate and ensure the program can be broadcastedThe obstacles encountered during the production process is a change of speaker asone speaker was unable to attend, a change in schedule of production, due to thelimited time of coverage, the VT derived from pre-existing file. For budget there is asaving that come from pick up rental, speaker fees, presenter fees, but no additionalbudget for the cost of editing.After reviewing duties and responsibilities of the role of a producer, it is stated that aproducer has contributed greatly to the establishment of a production team, other thanthat a producer must also carefully control production team work for programs thathave been planned. it Is no less important that a producer is a person who fund orfinance the programs plannedKeyword : talk show, metal musik, producerPRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOWMETAL SEBAGAI PRODUCERKarya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunNama : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGSaat ini dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari televisi.Dengan televisi kita bisa mendapatkan banyak informasi baik politik, sosial, budaya,agama dan ekonomi. Dari sekian banyak media komunikasi massa seperti surat kabar,majalah, radio, televisi dan internet ternyata televisilah yang paling diminati banyakkhalayak. Karena kelebihan televisi yang mampu menampilkan informasi secaramenarik melalui audio visual memudahkan khalayak untuk menerima informasisecara cepat dan mudah.Televisi sangat berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya dalambidang pendidikan, pada waktu tertentu sesuai dengan masing-masing jadwal televisiswasta ataupun negeri, ditampilkan acara yang bertemakan pendidikan, seperti kuiscerdas cermat, debat ataupun seminar yang mendukung edukasi. Kemudian dalambidang ekonomi, kita bisa mendapatkan informasi tentang nilai kurs dollar dansebagainya. Sedangkan dalam bidang jurnalistik sendiri yang terus menyiarkan beritasesuai dengan perkembangan dunia. Apalagi dalam dunia entertainment yangsekarang mendominasi bisnis pertelevisian, begitu mudah untuk mengkomunikasikanapa saja yang dilakukan oleh para selebritis melalui acara infotainment.Musik adalah salah satu konten acara yang digemari oleh semua kalangan.Seiring dengan berkembangnya industri pertelevisian di tanah air, mulai bermunculanacara-acara yang bertajuk tentang musik hampir di semua televisi baik lokal maupunnasional seperti Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI), Spektakuler (Indosiar). Namunacara-acara musik tersebut dikemas sebatas dalam bentuk entertainment saja denganmenampilkan band, penyanyi dan juga video klip sehingga terkesan monoton dantidak variatif. Musik yang ditampilkanpun sebagian besar musik mainstream sepertipop, apalagi dengan adanya demam K-pop yang berasal dari Negara Korea membuatmusik-musik popular semakin sering ditayangkan.Bisa dibilang program musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produkjurnalistik namun hanya sebagai pemuas kebutuhan masyarakat akan musik, karenadidalamnya tidak ada kegiatan menyiapkan berita, menulis, maupun mengedit sesuatuyang berupa catatan atau laporan sebuah kejadian. Seharusnya acara musik di televisidapat dikemas lebih menarik dengan memadukan unsur informasi, edukasi danhiburan yang sesuai dengan fungsi televisi itu sendiri .Pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa keingintahuan yang cukup besarterhadap semua hal, tidak terkecuali terhadap aliran musik non mainstream yang saatini kurang diangkat oleh media, karena dianggap hanya disukai oleh segelintir orangdan kurang menguntungkan.Aliran musik non mainstream dapat menjadi altenatif produk jusnalistik yangmenarik dan segar untuk diangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepadakebutuhan pasar dan memiliki tempat tersendiri dihati audiensnya khususnya bagipenggemar musik non mainstream. Mengingat selama ini musik-musik nonmainstream jarang diangkat pada produk-produk jurnalistik baik lokal maupunnasional, karena stasiun televisi maupun radio lebih fokus pada acara yang sesuaidengan kemauan pasar demi meraih rating tinggi atau sponsor dalam jumlah yangbesar.Musik metal diangkat sebagai tema acara karena selain memiliki penggemarfanatik juga mempunyai berbagai hal menarik yang belum diketahui oleh banyak,seperti: Musik metal yang rumit Tekhnik bermusik yang tinggi Aksi panggung yang eksploratif Jarangnya plagiarisme Lirik musik metal kebanyakan fiksional Musik metal mempunyai banyak sub-genre(http://www.jelajahunik.us/2012/06/6-hal-menarik-tentang-aliran-death.html)Seperti jenis musik ekstrim lainnya, keberadaan musik metal juga seringmemunculkan opini negatif dari masyarakat karena gaya hidup yang keras dan bebas,namun mereka tetap bisa bertahan dengan idealismenya hingga sekarang terutamadalam bermusik. Oleh karena itu musik metal menjadi layak dan menarik untukdiangkat sebagai tema program acara Musikaholic.1.2 TUJUANTujuan program talkshow dengan tema musik metal ini adalah inginmengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasi kepadapemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Munculnya berbagai acara talkshow yang saat ini banyak digemari olehmasyarakat dan memiliki rating dan share yang cukup tinggi seperti Bukan EmpatMata (Trans 7), Hitam Putih (Trans 7), Kick Andy (Metro TV), Radio Show (TVOne) dan masih sedikit acara talkshow yang mengangkat musik sebagai tema utamaacara terutama musik non mainstream, melatar belakangi dibuatnya acara talkshowyang bertemakan musik metal.Acara ini memadukan antara informasi dan entertainment atau lebih dikenaldengan edutaiment. Secara konseptual program ini berisi informasi yang berguna danbermakna dibalut dalam konsep hiburan yang santai sehingga informasi lebih bisaditerima oleh pemirsa serta pemirsa tidak akan merasa jenuh. Kearifan lokal sebagaiunsur dari budaya nasional menjadi menarik untuk dipelajari jika dikemas dalamprogram yang menarik pula sehingga pemirsa memperoleh manfaat secara tidaklangsung dari program yang mereka lihat, dalam hal ini adalah masyarakat akan lebihmengetahui kehidupan komunitas musik metal di Kota Semarang pada khususnya,dengan informansi yang berimbang dari beberapa narasumber yang berkompeten,baik dari aspek positif dan aspek negatifnya. Hal ini sesuai dengan definisi dariprogram talkshow itu sendiri.Pesan yang ingin disampaikan program ini adalah agar audiens dapatmenikmati acara musik yang lebih variatif dengan memperhatikan fungsi jurnalistikdi dalamnya tanpa perlu memperlebar jurang perbedaan karena genre musik.1.3 SIGNIFIKANSI1.3.1 Akademis : Secara akademis, pembuatan acara Talk Show inidapat digunakan sebagai sarana untukmengaplikasikan ilmu yang sudah di dapat selamaperkuliahan. Khususnya di bidang pemrogramanpenyiaran dan produksi studio. Talkshow ini menjadisalah satu kontribusi jurnalistik dalam bentuk audiovisual.1.3.2 Praktis : Sebagai rujukan bagi pekerja media televisi dalammengemas sebuah acara yang mengangkat sesuatubersifat lokal pada televisi lokal.1.3.3 Sosial : Membuka wawasan masyarakat mengenai musik danbudaya metal. Diharapkan setelah adanya acara inimasyarakat lebih memahami musik metal dan budayametal secara historis.1.4 KONSEP ACARAMetal adalah suatu aliran musik yang mulai berkembang di dunia pada awaltahun 1970 an. Genre ini muncul dari aliran musik rock yang dikembangkan padabeberapa unsurnya. Mulai dari tempo musik yang lebih cepat, komposisi musik yanglebih keras, serta lirik-lirik yang semakin berani. Musik jenis ini lantas berkembangpesat dan terbagi dalam beberapa sub genre musik diantaranya Heavy Metal, DeathMetal, Black Metal, Trash Metal dan Grindcore.Istilah musik metal dicetuskan pertama kali oleh band Hard Rock tahun 1960an, Steppenwolf. Salah satu lagu mereka yang berjudul " Born To Be Wild", terdapatlirik yang berbunyi "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin with thewind and the feelin that Im under." Namun istilah tersebut masih belum diterapkansecara tepat pada komposisi musik dan lagunya, hingga kemudian band rock asalInggris, yakni Black Sabbath, merilis album yang juga berjudul "Black Sabbath" ditahun 1970 an. Album inilah yang dianggap banyak pengamat sebagai album metalpertama di dunia.(http://seputarinfomusik.blogspot.com/2012/04/sejarah-musik-metal-dunia.html)Musik metal berakar pada jenis musik underground yang sering didefinisikansebagai musik non mainstream, dimana perkembangannya bukan lewat mediapopuler tapi lebih sering menggunakan jalan "bawah tanah". Karya-karya merekajuga dipentaskan melalui konser-konser yang sifatnya tertutup. Gaya musiknya yangekstrim serta lirik yang berani menjadikan musik jenis ini hanya digemari olehkalangan tertentu.Program ini akan menarik audiens karena program ini termasuk programlimited edition dimana tidak semua media eletronik mau untuk mengangkat musiknon mainstream sebagai tema suatu program, sehingga audiens diharapkan dapatmemanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangankomunitas metal yang ada di Kota Semarang pada khususnya.Keberadaan televisi lokal mungkin bisa menjadi alternatif untuk memberiwadah bagi kreatifitas para musisi metal. Mengingat televisi lokal tidak mutlakberorientasi pada keuntungan, tapi lebih menonjolkan unsur kearifan dan budayalokal. Dengan mengadakan talkshow tentang komunitas SBS pada khususnya danmusik metal pada umumnya, diharapkan bisa memberikan dampak positif bagiperkembangan musik metal di Semarang dan sekitarnya.Untuk mengangkat musik dan komunitas metal di Jawa Tengah khususnya diSemarang. Kami akan bekerjasama dengan salah stasiun televisi lokal di Semarangdalam proses produksi dan penayangan acara talkshow kami. Karena televisi lokalmemiliki kedekatan (proximity) dan target audience yang sesuai dengan acara kami.Televisi lokal Semarang yang akan kami ajak untuk bekerja sama adalah PROTV, dengan berbagai pertimbangan antara lain televisi ini belum pernah membuatacara talkshow yang membahas musik metal ataupun komunitas metal. Sebagai salahsatu televisi lokal yang ada di Semarang, keberadaan PRO TV telah diakui olehmasyarakat Semarang dalam menyajikan tayangan yang berlandaskan pada nilai-nilaikebudayaan Jawa Tengah namun dikemas dengan tampilan dan sajian yang lebihmodern dan segar. Hal ini menjadi salah satu point tersendiri bagi PRO TV untukbisa betahan di dunia pertelevisian di Semarang, yang notabene juga telah banyakmemiliki televisi lokal yang sejenis.Sebagai televisi berjaringan yang tergabung dalam satu wadah MediaNusantara Citra, PRO TV memiliki akses ke televisi lain, seperti RCTI, MNCTV, danGlobal TV. Selain menjangkau lebih banyak khalayak, hal ini juga dapatmemudahkan penyebaran informasi berita. Di Semarang sendiri, PRO TV dapatmembuktikan eksistensinya sebagai salah satu televisi lokal yang memang bertahandi Semarang. Sebagai saluran televisi pilihan masyarakat Semarang menghadirkanberaneka ragam program yang memberikan informasi lengkap bagi warga Semarangdisertai berbagai program Feature dan Entertainment yang bersifat edukatif, sampaiberagam program Talkshow dengan isu-isu terkini dari fenomena yang terjadi disekitar kita.Dalam bidang pendidikan, PRO TV juga menunjukkan kepedulian yang besar.Hal ini dibuktikan dengan crew PRO TV yang sebagian besar adalah kaum muda ataufresh graduate yang masih memiliki ide dan kreativitas yang segar sehingga bisamemberikan tayangan yang original dan menarik.Keunggulan yang dimiliki PRO TV adalah kedekatan dengan pemirsa yangdijalin melalui muatan lokal yang tinggi, dimana budaya dan kedekatan (proximity)membuat PRO TV mampu memberi porsi yang lebih bagi hal-hal yang disukai danyang ingin diketahui oleh masyarakat setempat. Namun, bila dibandingkan dengantelevisi lokal lain yang berada di Kota Semarang, PRO TV memiliki jangkauan yanglebih luas, dengan program-program acara yang lebih variatif didukung pula dengankualitas produksi dan sumber daya manusia yang lebih unggul.Selain itu PRO TV memiliki program acara Musikaholic yang sesuai dengankonsep acara kami. Acara ini berdurasi tiga puluh menit yang terbagi dalam 4 segmendalam setiap episodenya berisi liputan event konser musik yang telah berlangsung diKota Semarang, lengkap dengan informasi konser yang akan dilangsungkan di kotatersebut. Ditambah dengan ulasan musik dan video klip band lokal, dan jugadilengkapi dengan profil band yang telah diliput dan beragam video klip lagu top dariband mancanegara.Pada awalnya acara ini ditayangkan pada hari minggu pukul 18.30 WIB. Akantetapi pada awal Agustus 2012 karena adanya kebijakan manajemen dari pusatmengingat PRO TV memiliki dua slot siaran yaitu lokal dan nasional maka secaraotomatis manajeman harus memilah program yang mungkin disiarkan siang hari ataumalam hari dan untuk acara Musikaholic pihak manajemen memandang sebagai acarayang sifatnya fleksibel artinya bisa ditayangkan malam hari atau siang hari makaacara ini akan pindah tayang pada hari kamis pukul 22.30. Oleh karena itu kami inginmencoba konsep Talkshow edisi spesial metal pada program acara Musikaholic.Selain agar lebih variatif dan tidak membosankan juga bertujuan untuk menyesuaikandengan perubahan jam tayang.1.5 KONSEP PRODUKSI1.5.1 Produksi Talkshowa. Lokasi di studio indoor yang terletak di lantai 3 kantor PRO TV.Studio berukuran 10 x 12 m dengan daya lighting lampu flourescent 4bank sebesar 200 watt dilengkapi dengan standar peredam suara untukproduksi acara televisi.b. Tinggi lighting dengan lantai 3 meter, jarak lighting denan kamera 1,5meter.c. Produksi akan menggunakan 3 kamera, yakni 2 kamera dengan merkJVC GY-DV550, serta 1 kamera dengan merk JVC KY-F560. Khususuntuk presenter, kamera akan dilengkapi dengan teleprompter denganLCD 15’ dengan software EZ PrompterXPd. Untuk perlengkapan audio, presenter dan narasumber masing-masingakan menggunakan clip on dengan merk SONY ECM 77Be. Pergerakan dan variasi angel kamera akan di mix menggunakanswitcher 8 channel.f. Seluruh kamera akan diposisikan kurang lebih 4 meter dari obyekbidikan. Kamera 1 dan 2 akan bergerak dinamis mengikuti alur dialog,kamera 3 akan berfungsi sebagai kamera master dan cenderung statis.g. Properti acara akan menggunakan satu set meja kursi dengandilengkapi karpet berukuran 3 x 4m, background set yang terbuat darikayu dan didesain khusus untuk acara talkshow.h. Talkshow akan dipandu dengan presenter wanita yang mempunyaikarakter muda dan ceria. Presenter akan mengenakan setelan baju alakomunitas musik metal.i. Narasumber berjumlah 3 orang, yakni Bambang Iss (Pengamat Musikdan Musisi Senior Semarang), Rudy Murdock (Vokalis band "RadicalCorps"), Imam Putre (Ketua SBS (Scattered Brains Society) dangitaris band Putre Faction).PEMBAHASANProgram acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ditayangkan pada19 mei 2013 pukul 22.30 WIB setelah program acara Kriminal Sepekan dan sebelumprogram acara Impact Musik Grace & favor di stasiun PRO TV. Program iniberdurasi 30 menit yang terbagi menjadi 4 segmen yaitu segmen pembukaan,pembahasan tema segmen pertama dan pembahasan tema segmen kedua, sertadiakhiri dengan pembahasan tema pada segmen ke tiga dan closing pada segmen ke4. Setiap segmen diakhiri dengan commercial break yaitu iklan Hotel GrasiaSemarang, iklan program acara Lestari Budaya, iklan program acara GebyarCampursari, iklan program acara Dibalik Kasus dan iklan program acara Jateng HariIni untuk segmen pertama, iklan program acara Cerita Muda, iklan program acaraBintang Atmo, iklan program acara Rono Rene, iklan program acara Prime Topicuntuk segmen kedua, dan untuk segmen ke tiga iklan program acara Gitaran Sore-Sore, iklan program acara Mungkin Magic, iklan program acara Jejak Jelajah Wisata.Program ini menghadirkan 3 narasumber yaitu Bambang Iss sebagai tokoh musiksekaligus pengamat musik senior di Semarang, Imam Putre selaku ketua ScatteredBarins Society (SBS), dan Kancil sebagai pengganti Rudy Murdock yangberhalangan hadir, dengan Aliska sebagai host.Tujuan program acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ini adalahingin mengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasikepada pemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Program talkshow ini diawali dengan penjelasan sejarah musik metal olehhost dimana host menjelaskan bahwa musik metal mulai masuk ke Kota Semarangpada akhir sekitar tahun 80 an, dengan berbagai sub genrenya seperti Heavy Metal,Trash Metal, ataupun Death Metal. Sebagai generasi pertama musik metal di KotaSemarang adalah Brutalator dan Syndrome, sampai akhirnya dibentuklah komunitasmusik metal dengan nama Scattered Barins Society (SBS) yang resmi berdiri padatanggal 25 April 1996 dengan basis di Semarang.Bambang Iss menyatakan bahwa istilah metal adalah perkembangan dariistilah Rock, pada tahun 60 an sampai 70 an muncul beberapa band yang mengusungaliran musik rock yang akhirnya disebut dengan istilah metal. Kancil menambahkanbahwa musik metal, rock dan trash mulai merambah Semarang pada tahun 90 an.Mulai masuk pembahasan tentang Scattered Barins Society (SBS), Kancilmenjelaskan bahwa Scattered Barins Society (SBS) muncul pada tahun 1995 – 1996an ketika aliran musik ekstrim mulai masuk ke Indonesia, setelah konser Spultura.Komunitas Scattered Barins Society (SBS) mulai terbentuk dari ajakan-ajakan untukngumpul yang dilakukan melalui selebaran, berawal dari ngobrol dan sharing yangdilakukan setiap jumat malam maka muncullah ide untuk untuk membentukkomunitas Scattered Brains Society (SBS). Kegiatan yang dilakukan Scattered BarinsSociety (SBS) meliputi gathering, live musik, dan workshop. Hal ini menunjukkanbahwa mereka jauh dari anggapan masyarakat bahwa komunitas metal lebihcenderung kearah negative seperti narkoba, kekerasan, dan lain-lain.Untuk keanggotaan Scattered Barins Society (SBS) Imam sebagai ketuamenyatakan tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota, hanya saja calon anggotaminimal mengerti apa yang disebut dengan ektrim metal. Beberapa anggota yangmemiliki band pernah merilis album baik indie maupun label seperti Morbiddustdengan label Jakarta, Syndrome dengan label Proton, Radical dengan label Bandung,The Killer of Gods, dan lain sebagainya.Sebagai penutup acara Imam menjelaskan tentang project selanjutnya dariScattered Barins Society (SBS) yaitu event bertema charity yang rencana akandilaksanakan pada tanggal 8 Juli yang hasilnya akan digunakan untuk membiayaianggota Scattered Barins Society (SBS) yang akan berangkat ke Eropa sebagai dutaseni.Acara ini diproduksi di dalam ruangan studio, setting studio menyesuaikandengan tema acara yang diangkat yaitu musik metal. Dengan menggunakan beberapaposter yang mempertegas unsur musik metal sebagai background, selain itumenggunakan properti lainnya seperti sofa untuk narasumber yang berwarna hitam,untuk tempat duduk host sendiri menggunakan kotak kayu agar memunculkan kesanbebas dan santai. Disamping itu terdapat sepasang gitar yang difungsikan sebagaipemanis dengan tujuan untuk menutupi ruang-ruang kosong yang menggangguestetika dan memperkuat kesan bahwa acara membahas mengenai musik.Untuk host dan narasumber dari awal disarankan menggunakan kaos berwarnahitam agar menimbulkan kesan yang “garang” karena hal tersebut bisa menjadi nilaiplus terkait dengan tema acara yaitu musik metal.Dalam pembuatan acara ini menggunakan 4 kamera yang bertujuanmemperkaya variasi gambar dan mendapatkan hasil yang maksimal, mengingat acaraini mengahdirkan tiga narasumber. Untuk mendapatkan gambar yang jernih tentunyadidukung dengan lightning lampu flourescent 4 bank sebesar 200 watt dilengkapidengan standar peredam suara untuk produksi acara televisi yang di posisikanmenyorot area panggung agar pada saat pengambilan gambar tidak terdapat bayanganyang menggangu agar gambar yang dihasilkan memuaskan. Penataan lampu sengajadibuat agak temaram atau remang namun tetap sesuai kaidah-kaidah penyiaran.Nuansa temaram dimaksudkan untuk mencerminkan musik metal yang merupakanmusik minoritas, tidak umum dan unik.PENUTUPPra Produksi Konsep acara yang ditawarkan menarik dan sesuai dengan fungsi PROTV sebagai televisi lokal, karena tema yang diangkat tidak terpakupada tren yang berkembang saat ini dan tidak semua media eletronikmau untuk mengangkat musik non mainstream khususnya musik metalsebagai tema suatu program. Apalagi dengan image PRO TV sebagaitelevisi lokal yang berkonsentrasi pada budaya lokal maka tema yangmengangkat komunitas metal asli kota semarang akan mempertegasimgae Pro TV sebagai televisi lokal yang mengutamakan konten dankearifan lokal. Hal ini sesuai dengan Visi PRO TV untuk membangundan menyuarakan kepentingan masyarakat Jawa Tengah dengan siarantelevisi yang profesional, menguntungkan, berkualitas, bertanggungjawab, beretika, berkeadilan yang berlandaskan keimanan danketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam proses produksi acara ini melibatkan banyak orang,denganberbagai pertimbangan seluruh kru produksi diambil dari pihak PROTV yang tentunya professional dibidangnya dan sudah terbiasabekerjasama dalam suatu tim sehingga lebih mudah dalam prosespedekatan dan pengintegrasian. Hal ini terbukti lebih efektif daripadamembentuk tim baru yang terdiri dari orang luar, karena belum tentuorang-orang tersebut memiliki pengalaman yang memadai dan dapatbekerjasama dalam tim Dengan perencanan yang matang dan negosiasi yang baik denganpihak televisi, sangat menetukan keberhasilan dalam memproduksisuatu acara Dari bugetingpun dapat kita lihat keberhasilan dalam memproduksiacara ini. terjadi penghematan biaya produksi dimana biaya yangdikeluarkan lebih kecil dari anggaran yang telah direncanakan.Produksi .Isi dari tayangan Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal yangtelah diproduksi sesuai dengan tujuan awal dibuatnya acara ini.Dimana acara ini ingin mengangkat komunitas musik metal disemarang dan ingin memberikan informasi kepada pemirsa mengenaiperkembangan musik metal di semarang. Hal ini dapat kita lihat darihasil dialog dengan ketiga narasumber selama acara ini berlangsung.Para narasumber menjelaskan awal mula musik metal masuk kesemarang hingga dapat berkembang sampai sekarang, selain itumereka juga membahas bagaimana peran komunitas metal disemarang dengan berbagai kegiatanya dalam menghidupi danmempertahankan eksistensi musik metal di semarang. Setelah mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorangproduser, disebutkan bahwa sebagai produser mempunyai andil yangsangat besar dalam terbentuknya suatu team produksi, selain ituseorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja teamproduksi demi lancarnya program acara yang telah direncanakan.Yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang produser adalah orangyang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan biaya program acarayang direncanakan.Pasca ProduksiDengan telah ditayangkanya acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metaldi PRO TV pada 19 Mei 2013 pukul 22.30 dan tanggapan positif baik dari pihak PROTV maupun pemirsa, secara khusus merupakan representasi capaian keberhasilanseorang produser dalam menjalankan tugas dan kesuksesan acara ini secara umum.DAFTAR PUSTAKABukuBurton, Graeme. Membincangkan Televisi (Sebuah pengantar Kepada Studi televisi).Yogyakarta. Jalasutra. 2007Arifirii, Eva. Broadcasting to be broadcaster. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin. Dasar-Dasar Penyiaran (Sejarah,Organisasi, Operasional, dan Regilasi).Jakarta. Kencana. 2011Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan OborIndonesia.Subroto, Darwanto Sastro. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta. Duta WacanaUniversity Press. 1994Team AnneAhira.com. Mengenal Dasar Jurnalistik Adalah Penting. Dikutip dariWahyudi.J.B. Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi.Jakarta: PT Pusaka Utama Grafiti.1996Wibowo, Fred. Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta Rasindo. 1997InternetPujilaksono, Setiyo . Mengenal Lebih Jauh Tentang Televisi. Dikutip dariAsiaaudiovisualra09setiyopujilaksono’s BlogDwi Lestari, Kristina. Dasar-Dasar Jurnalistik. Dikutip darihttp://pelitaku.sabda.org/dasar_dasar_jurnalistik(Diakses tanggal 7 April2012)http://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/2009/07/06/mengenallebih-jauh-tentang-televisi/ (Diakses tanggal 8 April 2012)http://www.anneahira.com/jurnalistik-adalah.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.indoreggae.com/artikel4.html (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.seputarinfomusik.blogspot.com/sejarah-musik-metal-dunia.html (diaksestanggal 7 April 2012) oleh Beje “Sejarah Musik Metal Dunia”Team AnneAhira.com. Dasar Sebuah Produk Jurnalistik. Dikutip dariwww.anneahira.com/produk-jurnalistik.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)
Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non Komparatif Merek Market Leader Adryanto, Krisna; Pradekso, Tandiyo; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.107 KB)

Abstract

Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 2Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non KomparatifMerek Market LeaderKrisna Adriyanto, Tandiyo Pradekso1, dan Djoko Setyabudi2ABSTRACTField Experimental Research, 2 (Ad Formats) X 2 (The Difference between Men andWomen in Information-Proccessing Strategies) Randomized-Blocked Factorial Designwas conducted involving 120 participants (60 men and 60 women), who were assignedinto 4 (four) treatment groups. Stimulus used in this research are non-comparative andindirect comparative ads which used by the brand "Adem Sari" in the period mid-2012to mid-2013. The stimulus was combined with the Opera Van Java July 24, 2013Edition and involved several ads from other product categories. Furthermore, the dataanalysis techniques used as hypothesis testing tools are Two-Ways ANOVA, Mann-Whitney U Test, Two-Ways Friedman ANOVA By Rank and Structural EquationModelling with an alternative method of Partial Least Square (PLS).These studies suggest that indirect comparative ad formats result in unfavorableattitudes toward the ad and brand. In addition, the ability of this type of advertising toencourage favorable cognitive responses toward ads and encouraging purchaseintention, also did not differ significantly with non-comparative ad format. Cognitiveresponse toward ads on both types of ad formats (indirect comparative and noncomparative)is significantly affect consumer attitudes toward the ad and brand. In thenon-comparative advertising, attitudes toward ad have a significant effect on attitudestoward the brand, but this does not occur in indirect comparative advertising. In thiscases, consumer attitudes toward the ad and brand proved as a significant predictor ofconsumer purchase intention when indirect comparative advertising is used, but thisdoes not apply when non-comparative advertising is used. The differences between Mendan Women in Information-Proccessing Strategies and their interaction with the adformat, also did not significantly influence the effectiveness of both types of ad formats.Another interesting finding in this research, is the Men have more favorable attitudetowards the brand when exposed to indirect comparative advertising. While Womenwill have more favorable attitude towards the brand than Men when exposed to noncomparativeadvertising.Keywords : Ad Format, The Differences between Men and Woman in Information-Proccessing Strategies, Cognitive Response toward the Ad, Attitude toward the Ad,Attitude toward the Brand, Purchase Intention, Partial Least Square (PLS).1,2Corresponding authorJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 3PENDAHULUANPersaingan bisnis kategori produk minuman pereda panas dalam jenis serbuk yangsemakin ketat menuntut pemasar merek “Adem Sari”, sebagai market leader,menggunakan periklanan komparatif tidak langsung untuk membuat komparasi denganmerek “Segar Dingin Madu”. Adu klaim “Mencegah” versus “Menyembuhkan”mewarnai strategi periklanan yang digunakan merek “Adem Sari” untuk menyerangkompetitornya tersebut.Belch dan Belch (2009:197) mengungkapkan bahwa menampilkan produkpesaing/kompetitor dalam iklan merek market leader akan memberikan manfaat yangsedikit. Disamping itu, rekomendasi yang diberikan untuk memperoleh efektivitasmaksimal dari iklan komparatif adalah sebaiknya format iklan ini digunakan oleh merekbaru/merek berpangsa pasar rendah, dan bila merek berpangsa pasar besar inginmelakukan perbandingan dengan merek berpangsa pangsa pasar besar lainnya, makalebih baik menggunakan iklan komparatif tidak langsung. Dengan demikian, dapatdisimpulkan bahwa praktik penggunaan iklan komparatif tidak langsung oleh merek“Adem Sari”, tidak sesuai dengan rekomendasi yang diberikan untuk memperolehefektivitas maksimal dari penggunaan iklan tersebut.Hasil riset Women Insight Centre (WIC) pada Februari 2011 di 6 (enam) kotabesar di Indonesia, menunjukkan bahwa Wanita sering lebih banyak menghabiskanwaktu dan melakukan proses yang lebih komperhensif dibandingkan dengan Pria, padatahap keputusan awal proses pembelian. Wanita ingin membandingkan dan membelimerek yang lain untuk digunakan dalam situasi yang sama. Dengan demikian, Wanitamembutuhkan jaminan kesesuaian antara janji-janji pemasar, terutama yang muncul dariiklan dan/atau sumber lainnya, yang memunculkan harapan dan realitas yangditerimanya. Tentunya, perbedaan Pria dan Wanita dalam memproses informasi akanmemberikan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula pada sebuah iklan, merek danpembeliannya. Di mana, diiindikasikan bahwa, terlepas dari format iklan yangdigunakan, Wanita akan terlibat lebih besar untuk mengevaluasi iklan dan merek, biladibandingkan dengan Pria, bila merujuk pada perbedaan cara memproses informasi,diantara Pria dan Wanita tersebut. Namun, terkait dengan efektivitas periklanankomparatif, Chang (2007:21) menemukan hal yang menarik, yaitu (1) Pria memilikiketerlibatan yang lebih besar dalam mengevaluasi-merek, dibandingkan dengan Wanita,ketika diekspose iklan komparatif. (2) Sebaliknya bagi Wanita, perhatian yang diperolehdari daya tarik komparatif mendorong kesimpulan mengenai maksud manipulatif dariiklan. Dengan demikian, pada Pria, keterlibatan dalam evaluasi-merek yang semakinbesar dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkan evaluasi iklan dan merek lebihmenguntungkan dan minat beli yang lebih besar. Sedangkan untuk Wanita, persepsiyang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yang dibawa oleh daya tarik komparatif,mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek, serta mengurangi niat pembelian.Kesimpulannya, format iklan komparatif tidak langsung yang digunakan olehmerek market leader, diindikasikan akan memberikan manfaat yang tidak berbedasecara signifikan dari penggunaan format iklan non-komparatif. Selanjutnya, perbedaandiantara Pria dan Wanita, dalam memproses informasi yang dibawa oleh daya tarikkomparatif, juga menimbulkan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula. Maka,perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, merupakan konseppenting yang perlu diperhatikan guna meramalkan efektivitas format iklan komparatifdan efektivitas format iklan non komparatif, yang digunakan oleh merek market leader.Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, adalah :1. Apakah format iklan komparatif tidak langsung merek market leader lebih efektifbila dibandingkan dengan format iklan non komparatif merek market leader?Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 42. Apakah perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, secarasignifikan mempengaruhi efektivitas format iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader dan efektivitas format iklan non komparatif merek market leader?TINJAUAN PUSTAKAModel Komunikasi (Communication Model) dalam Model Mikro Respon Konsumen(Micromodel of Consumer Response) menunjukkan bahwa konsumen/pembeli/khalayakmelalui beberapa tahapan, yaitu tahapan Kognitif (Eksposur, Penerimaan dan ResponKognitif), tahapan Afektif (Sikap dan Intensi) dan tahapan Behavioral (Perilaku). Modelini menyatakan bahwa tahap Kognitif, tahap Afektif dan tahap Behavioral dilalui secaraberurutan oleh konsumen/pembeli/khalayak (Kotler et al., 2009:532-533).Model Respon Kognitif (Cognitive-Response Approach Model) adalah salahsatu metode paling populer untuk memeriksa respon kognitif konsumen terhadap iklan.Dalam Model Respon Kognitif, pemikiran-pemikiran khalayak diarahkan kepadasetidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : (1) Pemikiran terhadap Produk/Pesan, (2) Pemikiranterhadap Sumber Komunikasi, dan (3) Pemikiran terhadap Eksekusi Iklan (Belch danBelch, 2009:165-167).Merujuk pada Model Komunikasi dan Model Respon Kognitif tersebut, setelahrespon kognitif khalayak terhadap iklan terbentuk, maka selanjutnya respon kognitiftersebut mempengaruhi pembentukan sikap konsumen, yang dalam hal objek sikapberupa iklan adalah diarahkan kepada 2 (dua) jenis sikap, yaitu : (1) Sikap terhadapIklan, dan (2) Sikap Terhadap Merek.H1 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Iklan (SI), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a)dan format iklan non komparatif digunakan (b).H2 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Merek (SM), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan(a) dan format iklan non komparatif digunakan (b).Fill (2009:148) mengungkapkan bahwa dalam Teori Psikologi Klasik, sikap dianggapterdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : (1) Komponen Afektif, (2) Komponen Kognitif,dan (3) Komponen Konatif. Azwar (2011:28) menyatakan bahwa ketiga komponentersebut akan saling selaras dan konsisten satu sama lain dikarenakan apabiladihadapkan dengan suatu objek sikap yang sama, maka ketiga komponen tersebut harusmempolakan arah sikap yang seragam. Kemudian, ketika ketiga komponen tersebuttidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi mekanisme perubahan sikapsedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali.Hubungan diantara Sikap terhadap Iklan dan Sikap terhadap Merek, yangkeduanya merupakan Komponen Afektif Sikap, hingga kini masih menjadi perdebatan.Argumen MacKenzei, Lutz dan Belch, yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum,2008:22) mendukung pernyataan bahwa perasaan dan sikap terhadap merek yangdiiklankan secara positif dipengaruhi oleh sikap terhadap merek. Beberapa buktiditunjukkan oleh MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis, 2008:142) bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan akan mempengaruhi sikapkonsumen terhadap merek. Namun, meskipun demikian, temuan Droge, yang dikutipoleh Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22) menunjukkan bahwa sikap terhadap iklanmempengaruhi sikap terhadap merek untuk iklan non komparatif, tetapi tidak untukiklan komparatif.H3 : Ada pengaruh signifikan Sikap Terhadap Iklan (SI) atas Sikap terhadap Merek(SM) ketika format iklan non komparatif digunakan (a), namun hal ini tidak terjadiketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (b).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 5Minat/intensi pembelian, yang merupakan tahapan konatif sikap, seringdigunakan sebagai parameter pengukuran untuk meramalkan efektivitas periklanan. Halini disebabkan karena semua iklan tidak, seharusnya tidak dan tidak bisa di desain untukmenghasilkan pembelian secara langsung (immediate purchase) kepada siapa saja yangdiekspose iklan tersebut. Dengan kata lain, pembelian (purchase) sebagai tahapanbehavioral dari respon konsumen terhadap iklam, adalah efek jangka panjang. Asumsiini dilandasi sebuah pernyataan bahwa konsumen tidak dapat berubah dari individuyang tidak tertarik menjadi individu yang berminat pada sebuah merek atu produk yangdiiklankan secara instan. Dengan demikian, untuk meramalkan pembelian di masamendatang oleh konsumen, maka digunakan konstruk minat/intensi pembelian(purchase intention), yang ada pada komponen konatif sikap, dan merupakan ukuranyang ada pada tahapan hierarkis tertinggi yang dekat dengan pembelian aktual. Makadari itu, dapat disimpulkan bahwa minat/intensi pembelian merupakan ukuran tertinggiuntuk meramalkan efektivitas periklanan, di mana efek ini dapat segera diketahuidengan segera pasca khalayak diekspose oleh iklan.MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis (2008:142) menunjukkan bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan, selain akan mempengaruhisikap konsumen terhadap merek, juga akan mempengaruhi perilaku terhadap merek.Disamping itu, temuan Droge yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:23) jugamenunjukkan bahwa ada hubungan yang lebih kuat diantara sikap terhadap merekdengan minat beli ketika iklan komparatif digunakan dibandingkan dengan ketikamenggunakan iklan non-komparatif.H4 : Ada pengaruh Ada pengaruh signifikan Sikap terhadap Iklan (RI) atas Minat beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).H5 : Ada pengaruh signifikan Respon Sikap terhadap Merek (SM) atas Sikap Minat Beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).Grewal et al., (Manzur et al., 2012:277) dalam meta-analisisnya untukmemeriksa efektivitas iklan komparatif di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa iklankomparatif dibandingkan dengan iklan non-komparatif, lebih efektif dalammeningkatkan perhatian, pemrosesan pesan, kesadaran merek, sikap menguntungkanterhadap merek dan meningkatkan minat beli konsumen. Disisi lain, iklan komparatifmenghasilkan kredibilitas sumber yang rendah dan sikap kurang menguntungkanterhadap iklan.Selanjutnya, di Spanyol oleh Del Barrio-Garcia dan Luque-Martinez dan diKorea oleh Lyi, juga menemukan hasil serupa di mana iklan komparatif memilikikredibilitas sumber yang rendah. Di Chile, tidak ditemukan adanya perbedaan yangsignifikan antara sikap terhadap merek dan minat beli, yang dihasilkan oleh iklankomparatif dan iklan non-komparatif. Disamping itu, sikap terhadap iklan terhadapiklan komparatif yang ditemukan di Chile juga secara parsial mirip dengan yangditemukan di Inggris (UK) dan India oleh Donthu, yaitu direspon secara kurangmenguntungkan, bila dibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dihasilkan olehiklan non komparatif (Manzur et al., 2012:278-288).H6 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel ResponKhalayak terhadap Iklan (RK).H7 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel Sikapterhadap Iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 6H8 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkan Sikapterhadap Merek (SM).H9 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkanMinat/Intensi Pembelian (MB.Selanjutnya, dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi untukmemproses informasi, menurut Meyers-Levy, Maheswaran dan Sternthal, bahwa priacenderung dilihat sebagai pemroses selektif dan sedangkan wanita dilihat sebagaipemroses yang komprehensif. Kemudian, Meyers-Levy dan Sternthal menambahkanbahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria. SedangkanDuff dan Hampson menyatakan bahwa wanita membuat lebih sedikit kesalahandibandingkan dengan pria saat melakukan tugas yang menuntut kinerja ingatan. Di sisilain, sebagaimana dikemukakan oleh Chang, pria lebih banyak terlibat dalamketerlibatan untuk mengevaluasi merek, dibandingkan dengan wanita. Klinteberg,Levander dan Schalling menemukan bahwa wanita lebih menyukai strategi pemecahanmasalah reflektif-sekuensial, dan sedangkan pria lebih menyukai strategi pemecahanmasalah impulsif-global. Dalam studi lain oleh Chung dan Monroe, pria dibandingkanwanita lebih menyukai untuk mengadopsi strategi konfirmasi-hipotesis. Lebih lanjut,dalam konteks berbelanja, Laroche et al., mendemonstrasikan bahwa wanita akanterlibat dalam pencarian informasi yang komprehensif dan intensif, sedangkan priahanya terlibat dalam pencarian informasi yang selektif. Menurut Cleveland et al., wanitajuga menunjukkan penggunaan informasi makro dan mikro lebih besar dibandingkandengan pria ketika berbelanja di toko (Chang, 2007:21-22).H10 : Ada perbedaan signifikan diantara Pria dan Wanita, yang disebabkan olehperbedaan keduanya dalam strategi pemrosesan informasi, baik pada Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (a), Sikap terhadap Iklan (b), Sikap terhadap Merek (c), danMinat/Intensi Pembelian (d), terlepas dari format iklan yang digunakan.Sebagaimana diungkapkan oleh Thompson dan Hamilton, bahwa kecocokanantara format iklan dengan gaya pemrosesan informasi konsumen akan meningkatkanefektivitas periklanan. Begitupun sebaliknya, ketidakcocokan format iklan dengan gayapemrosesan informasi konsumen akan menurunkan efektivitas periklanan. Relatifterhadap iklan non-komparatif, iklan komparatif lebih efektif ketika konsumenmenggunakan pemrosesan secara analitis. Sedangkan iklan non-komparatif akan lebihefektif dibandingkan iklan komparatif ketika konsumen menggunakan pemrosesansecara imajinatif. MacInnis dan Price, mendeskripsikan gaya pemrosesan informasisebagai cara di mana informasi direpresentasikan dalam jalannya ingatan. MenurutOliver, Robertson dan Mitchell, pemrosesan secara imajinatif dan analitis secarakualitatif berbeda dalam gaya elaborasi, di mana MacInnis dan Price menambahkan halini terjadi dalam kontinum elaborasi rendah menuju elaborasi tinggi (Thompson danHamilton, 2006:530-531). Dalam kaitannya dengan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi, sebagaimana dikemukakan oleh Meyers-Levy danSternthal, bahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria(Chang, 2007:21), maka penulis menyimpulkan bahwa iklan komparatif mungkin lebihefektif bagi pria sebagai pemroses selektif dan pemilik ambang elaborasi yang lebihbesar, di mana disisi lain iklan komparatif juga lebih efektif ketika diproses secaraanalitis, yang pada akhirnya menyebabkan elaborasi tinggi pula. Sedangkan iklan nonkomparatifmungkin lebih efektif bagi wanita sebagai pemroses komprehensif, yangmengintegrasikan informasi secara mendetail, di mana disisi lain iklan non-komparatifjuga lebih efektif ketika diproses secara imajinatif, atau secara holistik menurutJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 7MacInnis dan Price, berdasarkan penggunaan konstruksi atas detail produk sebagaiskenario alternatif, dan sumber daya untuk memproses informasi pada merek laindikurangiH11 : Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) secara signifikan dipengaruhiinteraksi antara perbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi.Merujuk pada temuan Chang (2007:21), bahwa keterlibatan dalam evaluasimerekoleh Pria, yang semakin besar, dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkanevaluasi iklan dan merek lebih menguntungkan dan minat beli yang lebih besar.Sedangkan untuk Wanita, persepsi yang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yangdibawa oleh daya tarik komparatif, mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek,serta mengurangi niat pembelian. Hal ini senada dengan temuan Campbell, di manataktik periklanan yang bertujuan mendapatakan perhatian, mendorong konsumenmenyimpulkan bahwa pengiklan mencoba memanipulasi pemirsa iklan.H12 : Sikap terhadap Iklan (SI) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H13 : Sikap terhadap Merek (SM) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H14 : Minat/Intensi Pembelian (MB) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.METODE PENELITIANDefinisi Konseptual1. Format iklan merek market leader didefinisikan sebagai bentuk penyajian dayatarik pesan iklan yang digunakan sebagai strategi periklanan oleh pemasar, yangdiakui sebagai pemimpin pasar dari kategori produk tertentu, di mana pangsa pasaryang dimiliki merupakan yang terbesar (40%) dalam pangsa pasar relevan(Setiyaningrum, 2008:18; Tjiptono, 2002:303).2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasididefinisikan sebagai perbedaan cara Pria dan Wanita mengolah informasi, yaituPria secara selektif dan Wanita secara komprehensif (Chang, 2007:21).3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan didefinisikan sebagai pemikiranpemikiranyang muncul pada tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dankemudian pemikiran-pemikiran ini akhirnya mempengaruhi penerimaan seseorangterhadap stimulus iklan yang menerpanya (Blackwell, Engel dan Miniard, 1995:30).4. Sikap terhadap iklan didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikap terhadapformat iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).5. Sikap terhadap merek didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikapterhadap merek sponsor iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).6. Minat/Intensi pembelian didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan denganrencana konsumen untuk membeli produk tertentu yang dibutuhkan pada periodetertentu (Durianto dan Liana, 2004:44).Definisi Operasional1. Format iklan merek market leader memiliki variasi nilai iklan non-komparatifmarket leader dan iklan komparatif tidak langsung merek market leader. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara menempatkan subjek penelitiansebagai unit analisis secara random pada kelompok-kelompok eksperimen untukJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 8diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatif merek market leader atau iklankomparatif tidak langsung merek market leader.2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasi memilikivariasi nilai pria sebagai pemroses informasi yang selektif dan wanita sebagaipemroses informasi yang komprehensif. Serta variabel ini dioperasionalisasikandengan cara menempatkan subjek penelitian sebagai unit analisis secara randomdan dilakukan konstansi (blocking) berdasarkan jenis kelamin pada kelompokkelompokeksperimen untuk diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatifmerek market leader atau iklan komparatif tidak langsung merek merek marketleader.3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan memiliki variasi nilai respon kognitifyang kurang menguntungkan dan respon kognitif yang menguntungkan. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara mengkalkulasi jumlah pemikiranpemikiranyang muncul berdasarkan dimensi-dimensi, seperti pemikiran terhadapproduk/pesan iklan, pemikiran terhadap sumber, dan pemikiran terhadap eksekusiiklan, yang kemudian sejumlah pemikiran-pemikiran tersebut dikategorikan sebagaipemikiran-pemikiran yang bertentangan dan pemikiran-pemikiran yangmendukung. Apabila pemikiran-pemikiran yang bertentangan lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang kurang menguntungkan (unfavorable),dan sebaliknya ketika pemikiran-pemikiran yang mendukung lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang menguntungkan (favorable).4. Sikap terhadap iklan memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap iklan yangmuncul berdasarkan indikator keinformatifan iklan, perasaan atau emosi yangmuncul sebagai pengalaman diterpa iklan dan kemenarikan iklan, yang kemudiansejumlah respon afeksi yang muncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurangmenguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang negatif dansikap menguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang positifterhadap iklan.5. Sikap terhadap merek memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap merekyang muncul berdasarkan indikator persepsi terhadap kualitas merek dan persepsiterhadap kemampuan merek untuk memenuhi kebutuhan produk yang relevandengan kondisi konsumen saat ini, yang kemudian sejumlah respon afeksi yangmuncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurang menguntungkan bila lebihbanyak memunculkan respon afektif yang negatif dan sikap menguntungkan bilalebih banyak memunculkan respon afektif yang positif terhadap merek yangsponsor iklan.6. Minat/intensi pembelian memiliki variasi nilai minat beli yang rendah dan minatbeli yang tinggi terhadap merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon konatif yang ditujukanpada merek sponsor iklan, dilihat berdasarkan indikator-indikator seperti minattransaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif, yangkemudian dikategorikan sebagai minat beli yang rendah ketika respon konatif iturendah dan minat beli yang tinggi ketika respon konatif itu tinggi terhadap mereksponsor iklan.Desain Penelitian, Stimulus, Unit Analisis dan Teknik Analisis DataPenelitian Eksperimen Lapangan, 2 (Format Iklan) X 2 (Perbedaan Pria dan Wanitadalam Strategi Pemrosesan Informasi) Randomized-Blocked Factorial Design dilakukanJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 9dengan melibatkan 120 partisipan (60 Pria dan 60 Wanita), yang ditugaskan kedalam 4kelompok perlakuan. Stimulus yang digunakan adalah iklan komparatif dan iklan nonkomparatif yang digunakan oleh merek “Adem Sari” pada periode pertengahan tahun2012 hingga pertengahan tahun 2013. Stimulus tersebut dikembangkan denganmemadunya dalam program acara Opera Van Java Edisi 24 Juli 2013 dan melibatkanbeberapa iklan kategori produk lain. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakansebagai alat pengujian hipotesis antara lain Uji Two-Ways ANOVA, Uji Mann-WhitneyU, Uji Friedman Two-Ways ANOVA By Rank dan Model Persamaan Struktural BerbasisVarian (Komponen) dengan metode alternatif Partial Least Square (PLS).HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan komparatif tidak langsungmerek market leader, maka diambil keputusan untuk menerima H1a ( = 0,5836 dan tstatistic= 5,3782 > t-table = 1,96), menerima H2a ( = 0,7723 dan t-statistic = 10,8722> t-table = 1,96), menerima H3b ( = 0,1165 dan t-statistic = 1,2717 < t-table = 1,96),menerima H4a ( = 0,3482 dan t-statistic = 2,2615 > t-table = 1,96) dan menerima H5a( = 0,4214 dan t-statistic = 2,5429 > t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Sedangkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan non komparatif merekmarket leader adalah menerima H1b ( = 0,5463 dan t-statistic = 7,0203 > t-table =1,96), menerima H2b ( = 0,2071 dan t-statistic = 2,1117 > t-table = 1,96), menerimaH3a ( = 0,5804 dan t-statistic = 4,9954 > t-table = 1,96), menolak H4b ( = 0,1470dan t-statistic = 0,7073 < t-table = 1,96) dan menolak H5b ( = 0,3919 dan t-statistic =1,8586 < t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas, penulis menyimpulkan bahwasama dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, format iklannon komparatif merek market leader pun mampu menghasilkan respon kognitifkhalayak terhadap iklan (RK) yang mampu secara signifikan mempengaruhipembentukan sikap khalayak terhadap iklan (SI) dan sikap khalayak terhadap merek(SM). Berbeda dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader,sikap khalayak terhadap iklan (SI) yang dibentuk oleh format iklan non komparatifmerek market leader secara signifikan mempengaruhi pembentukan sikap khalayakterhadap merek (SM). Temuan ini juga sama dengan temuan Droge yang dikutipGrewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22), bahwa sikap terhadap iklan yang dibentukformat iklan non komparatif dapat ditransfer pada sikap terhadap merek, namun tidakuntuk iklan komparatif. Dengan demikian, penulis dapat mengasumsikan bahwa ketikakhalayak menyukai sebuah iklan yang dibuat dari format iklan non komparatif merekmarket leader, maka khalayak tersebut juga akan menyukai merek sponsor iklan, danhal ini tidak berlaku untuk iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, tidak seperti pada sikap terhadap iklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM)yang dibentuk oleh format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, dimana keduanya merupakan prediktor yang signifikan untuk meramalkan minat/intensipembelian (MB) khalayak terhadap produk atau merek sponsor iklan, sikap terhadapiklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM) yang dihasilkan oleh format iklan nonkomparatif merek market leader bukan merupakan prediktor yang signifikan untukmeramalkan minat/intensi pembelian(MB) khalayak atas produk atau merek sponsoriklan. Penulis menduga ada variabel-variabel lain diluar dari model yang diajukan, yangjuga mempengaruhi minat/intensi pembelian (MB) khalayak terhadap produk ataumerek sponsor format iklan non komparatif merek market leader. Dengan demikian,penulis berasumsi bahwa ketika sikap khalayak yang menguntungkan terhadap iklan(SI) dan merek (SM) terbentuk pada format iklan non komparatif merek market leader,tidak menjamin bahwa khalayak memiliki minat/intensi pembelian (MB) yang besarpula terhadap produk atau merek sponsor iklan.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page10Pada tahap respon kognitif, secara deskriptif iklan komparatif tidak langsungmerek market leader direspon secara kurang favorable dibandingkan iklan nonkomparatif merek market leader. Hal ini terlihat dari rerata respon kognitif iklankomparatif tidak langsung merek market leader sebesar 4,5500 dan sedangkan reratarespon kognitif iklan non komparatif merek market leader sebesar 4,9833. Namun,secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji onetail(Nilai Sig. 0,304/2 = 0,152 > 0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidakdapat menolak H0 dan menolak H6. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwatidak ada perbedaan respon kognitif yang signifikan ketika kedua jenis format iklandigunakan.Diantara pria dan wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan secaradeskriptif wanita lebih memiliki respon kognitif yang favorable dibandingkan denganpria. Hal ini dibuktikan dengan rerata respon kognitif wanita sebesar 4,9500 dan lebihdari respon kognitif pria yang hanya sebesar 4,5833. Namun, secara statistik perbedaanini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji two-tail (Nilai Sig. 0,384 >0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidak dapat menolak H0 dan menolakH10a. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa respon kognitif pria denganrespon kognitif wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan, adalah tidak berbedasecara signifikan.Kemudian, pengaruh interaksi antara format iklan dengan perbedaan pria danwanita dalam strategi pemrosesan informasi atas respon kognitif khalayak terhadapiklan (RK) adalah tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan nilai Sig. 0,428 > 0,05. Dengantaraf signifikansi 0,05 maka penulis memutuskan untuk menolak H11, dan menerimaH0. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi antara format iklandan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas responkognitif khalayak terhadap iklan (RK).Pada tahap sikap terhadap iklan (SI), secara deskriptif sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader tampak lebih favorabledibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan komparatif tidaklangsung merek market leader. Hal ini tampak pada mean rank sikap terhadap iklan nonkomparatif merek market leader sebesar 67,16 dan lebih besar dibandingkan denganmean rank sikap terhadap iklan komparatif tidak langsung merek market leader yanghanya sebesar 53,84. Maka, dengan Nilai Sig. 0,026/2 = 0,013 < 0,05 (One-Tail) penulismemutuskan untuk menolak H0 dan menerima H7 taraf signifikansi sebesar 0,05.Kesimpulan yang diperoleh adalah sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan nonkomparatif merek market leader lebih menguntungkan secara signifikan dibandingkandengan sikap terhadap iklan yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader.Terlepas dari jenis format iklan yang digunakan, sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh pria dan wanita secara deskriptif tidak jauh berbeda. Hal ini tampak padamean rank sikap terhadap iklan pria sebesar 60,51 dan mean rank sikap terhadap iklanwanita sebesar 60,49. Senada dengan hal tersebut, secara statistik perbedaan tersebutjuga tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05. Nilai Sig. 0,998 > 0,05 (Two-Tail).Maka, dengan demikian penulis memutuskan untuk tidak dapat menolak H0 danmenolak H10b. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa diantara pria dan wanita tidakada perbedaan yang signifikan dalam sikap terhadap iklan, terlepas dari jenis formatiklan yang digunakan.Merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA By Rank,bahwa nilai Sig. 0,758 > 0,05 (Two-Tail). Maka penulis memutuskan untuk tidak dapatmenolak H0 dan menolak H12. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada pengaruh signifikan interaksi antara format iklan dan perbedaan Pria dan Wanitadalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page11Pada tahap sikap terhadap merek (SM), diketahui secara deskriptif sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market laeder lebihmenguntungkan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan mean ranksikap terhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader adalahsebesar 65,62 dan ini lebih besar dibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merekyang dibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader yang hanyasebesar 55,38. Secara statistik, perbedaan ini signifikan pada taraf signifikansi 0,05dengan Nilai Sig. 0,079/2 = 0,0395 < 0,05 (One-Tail). Dengan demikian, penulismemutuskan untuk menolak H8. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader lebihmenguntungkan secara signifikan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yangdibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, diantara pria dan wanita terlepas dari jenis format iklan yangdigunakan, secara deskriptif menunjukkan bahwa wanita membentuk sikap terhadapmerek secara lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Hal ini dibuktikandengan mean rank sikap terhadap merek wanita sebesar 63,82 dan ini lebih besardibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merek pria yang hanya sebesar 57,18.Namun, secara statistik perbedaan ini dianggap tidak signifikan pada taraf signifikansisebesar 0,05. Nilai Sig. 0,225 > 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusanuntuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H10c. Dengan demikian, penulismenyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan atas sikap terhadap merekyang dibentuk oleh pria dan wanita terlepas dari jenis iklan yang digunakan.Selanjutnya, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadapmerek (SM) maka perlu melihat hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank. Diketahui nilai Sig. 0,000 < 0,05 (Two-Tail) dan Chi-Square = 37,484 (df =3),maka diputuskan untuk dilakukan pengujian lanjut untuk mengetahui perbedaan antarkelompok-kelompok eksperimen. Hal ini didasari asumsi bahwa jika nilai hitung Fradalah signifikan, hal ini berarti ada paling sedikit ada satu kondisi yang berbeda darikondisi lainnya. Kemudian setelah dilakukan uji lanjutan, penulis mengetahui bahwapria akan membentuk sikap terhadap merek yang lebih menguntungkan ketikadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader dibandingkan jikadiekspose iklan non komparatif merek market leader. Selain itu, ketika diekpose iklannon komparatif merek market leader, wanita cenderung membentuk sikap terhadapmerek yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Terakhir, ketika wanitadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader akan membentuk sikapterhadap merek yang lebih menguntungkan dibandingkan pria ketika diekspose iklannon komparatif merek market leader. Perbedaan ketiga pasang kelompok eksperimentersebut secara statistik diterima secara signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail). Namun, hasil pengujian tersebut hanya sebagian mendukung H13, maka penulismengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H13 pada tarafsignifikansi 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidak adapengaruh signifikan interaksi format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap merek (SM).Pada tahap minat/intensi pembelian (MB), iklan komparatif tidak langsungmerek market leader menghasilkan minat/intensi pembelian yang tidak jauh berbedadengan iklan non komparatif merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan meanrank minat/intensi pembelian yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader sebesar 59,92 dan mean rank minat/intensi pembelian yang dibentukiklan non komparatif merek market leader sebesar 61,08. Secara statistik pun demikian,pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail) penulis memutuskan untuk menerima H9 (NilaiJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page12Sig. 0,845/2 = 0,4225 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada perbedaan yang signifikan minat/intensi pembelian yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader dengan minat/intensi pembelian yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader.Jika dilihat dari perbedaan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi, secara deskriptif wanita menunjukkan minat/intensi pembelianyang lebih besar dibandingkan pria, terlepas dari jenis format iklan yang digunakan. Halini dibuktikan dengan mean rank minat/intensi pembelian wanita sebesar 66,25 dan inilebih besar dibandingkan dengan mean rank minat/intensi pembelian pria sebesar 54,75.Namun, secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolakH10d (Nilai Sig. 0,054 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwadiantara pria dan wanita, terlepas dari jenis iklan yang digunakan, akan membentukminat/intensi pembelian yang tidak berbeda secara signifikan.Terakhir, merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB). Nilai Sig. 0,841 > 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis tidakdapat menolak H0 dan menolak H14 pada taraf signifikansi sebesar 0,05. Maka dari itu,penulis menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB).Hasil pengujian hipotesis perbandingan efektivitas format iklan komparatif tidaklangsung merek market leader dengan format iklan non komparatif merek marketleader, menunjukkan bahwa format iklan komparatif tidak langsung merek marketleader direspon secara kurang menguntungkan pada variabel Sikap terhadap Iklan (SI)dan Sikap terhadap Merek (SM), bila dibandingkan dengan format iklan non komparatifmerek market leader. Temuan ini mirip dengan temuan Wright, Levine, Murphy danAmundsen (Rogers dan Williams, 1989:24), di mana iklan komparatif lemahmembentuk formasi sikap terhadap merek yang positif. Disamping itu, Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (RK) dan Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan olehkedua format iklan juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Tidakadanya perbedaan yang signifikan atas Respon Khalayak terhadap Iklan (RK) yangdihasilkan kedua format iklan, adalah mendukung pernyataan bahwa perbandingansecara tidak langsung mampu mengurangi hambatan ketidaksetujuan pemakai merekyang diperbandingkan dan mengurangi pengaruh yang merugikan dari penggunaanformat iklan komparatif. Sedangkan temuan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikanatas Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan kedua format iklan, mirip dengantemuan sebelumnya oleh Belch, Golden dan Swinyard (Rogers dan Williams, 1989:24)dan Manzur et al., (2012:288).Bila dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi, baik terlepas dari format iklan yang digunakan, maupun interaksinya denganformat iklan, menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, temuan menarik padapenelitian ini menunjukkan bahwa Pria memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan komparatif tidak langsungbila dibandingkan ketika diekspose format iklan non komparatif. Sedangkan Wanita,bila dibandingkan dengan Pria, justru memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan non komparatif.REKOMENDASIBerikut ini adalah sejumlah rekomendasi yang diberikan atas penggunaan format iklankomparatif dan format iklan non komparatif oleh pemasar merek market leader,Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page13sehingga dapat diperoleh efektivitas yang maksimal sesuai dengan tujuan yang telahditetapkan oleh pemasar, yaitu :1. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat ketika merek market leader melakukaninovasi terhadap produknya, dan menggunakan iklan komparatif tidak langsunguntuk merangsang percobaan pembelian.2. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan nonkomparatif, bila budget untuk beriklan jauh lebih besar dibandingkan alatkomunikasi pemasaran lainnya.3. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan non komparatifjika bertujuan untuk membuat diferensiasi merek. Format iklan non komparatifakan lebih efektif ketika disertai insentif kepada audiens untuk mempelajari fiturfiturproduk secara rinci, dengan cara meningkatkan relevansi produk denganaudiensnya.4. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Pria daniklan non komparatif bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Wanita. Dengandemikian, bila pemasar lebih berfokus pada salah satu segmen pasar tertentu, makaiklan komparatif tidak langsung memberikan manfaat lebih menguntungkan padaPria, dan iklan non komparatif memberikan manfaat yang lebih menguntungkanpada Wanita.KETERBATASAN PENELITIAN1. Validitas eksternal dari penelitian eksperimen lapangan yang dijalankan olehpenulis adalah lemah. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bisa digunakanuntuk generalisasi fenomena-fenomena serupa. Namun, validitas eksternalpenelitian ini akan dipenuhi ketika dilakukan replikasi terhadap penelitianeksperimen ini oleh penelitian-penelitian mendatang, baik dengan mereplikasisecara keseluruhan atau mereplikasi sebagian dari penelitian eksperimen lapanganyang dijalankan oleh penulis ini.2. Konsekuensi atas penggunaan Metode Partial Least Square (PLS) adalah penelitimenurunkan tujuannya dari pengujian teori menjadi memprediksi hubungan linierantar variabel dengan segala keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Namunmeskipun demikian, model persamaan struktural yang diajukan dalam penelitian inidapat digunakan untuk pengembangan teori, karena memiliki nilai relevansiprediktif yang baik, yaitu Q2 = 9184 (Model SEM-PLS Format Iklan KomparatifTidak Langsung Merek Market Leader), dan Q2 = 0,7446 (Model SEM-PLSFormat Iklan Non Komparatif Merek Market Leader).REFERENSIAmerican Psychological Association.(2011). Definitions of Terms: Sex, Gender, GenderIdentity, Sexual Orientation. Dalamhttp://www.apa.org/pi/lgbt/resources/sexuality-definitions.pdf/. Diunduh padatanggal 10 Juli 2013 pukul 16.04 WIBAnonim. (2012). Interview with Mr. Bambang Soendoro of Enesis Group. Dalamhttp://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/directory/enesis_group/interview.php/. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 10.53 WIBAnonim. (2013). Products: Adem Sari. Dalamhttp://www.enesis.com/product/detail/en/13/. Diunduh pada tanggal 2 Juli 2013pukul 12.07 WIB.Aruman, Akhmad Edi. (2011). Ini Dia Karakter Perempuan Konsumen Indonesia.Women Insight Centre (WIC). Dalam http://edhyaruman.blogspot.com/2011/10/ini-dia-karakter-perempuan-konsumen.html.Diunduh pada tanggal 27 September 2013 pukul 19.04 WIB.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page14Azwar, Saiffudin. (2011). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka PelajarBelch, George E. dan Michael A. Belch. (2009). Advertising and Promotions : AnIntegrated Marketing Communications Perspectives. 8th Editions. New York,USA : McGraw-Hill CompaniesCangara, Hafied. (2006). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo PersadaChang, Chingching. (2007). The Relative Effectiveness of Comparative andNoncomparative Advertising: Evidence for Gender Differences in Information-Processing Strategies. Journal of Advertising, Vol. 36 No. 1 (Spring): 21-35Chow, Cheris W. C., dan Chung-Leuk Luk. (2006). Effect of Comparative Advertisingin High and Low-Cognitive Elaboration Conditions. Journal of Advertising, Vol.35 No. 2 (Summer): 55-57Dewan Periklanan Indonesia. (2007). Etika Pariwara Indonesia. Jakarta : DewanPeriklanan IndonesiaDPI-PPPI Pusat. (2013). Kasus / Pelanggaran. Dalam http://www.p3ipusat.com/rambu-rambu/kasus. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 12.35WIB.Durianto, Darmadi., dan C. Liana. (2004). Analisis Efetifitas Iklan Televisi SoftenerSoft & Fresh di Jakarta dan Sekitarnya dengan Mengunakan Consumer DecisionModel. Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11 (1): 35-55Engel, James F., Roger D. Blackwell., dan Paul W. Miniard. (1995). PerilakuKonsumen. Jilid 2. Jakarta : Binarupa AksaraFill, Chris. (2009). Marketing Communication: Interactivity, Communities, andContent. 5th Edition. England : Prentice-Hall, Pearson EducationGhozali, Imam. (2006). Statistik Non-Parametrik: Teori & Aplikasi dengan ProgramSPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2008). Desain Penelitian Eksperimental: Teori, Konsep dan AnalisisData dengan SPSS 16.0. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2011). Structural Equation Modelling: Metode Alternatif denganPartial Least Square (PLS). Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroHasan, M. Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Jakarta : Ghalia IndonesiaHoyer, Wayne D., dan Deborah J. MacInnis. (2008). Consumer Behavior. 5th Edition.Mason, OH USA: South-Western Cengage LearningFerdinand, Augusty. (2002). Metode Penelitian Manajemen. Semarang : BadanPenerbit Universitas DiponegoroFirst Postion Monitoring. (2012). B4-Adem Sari-2Pria&Org2-Warung-Tengok(30).mpg. Dalam http://www.youtube.com/watch?v=w_oq4YMOb24/. Diunduhpada tanggal 30 Mei 2013 pukul 11.45 WIB.Isnawijayani. (2011). Metode Eksperimen dalam Penelitian Ilmu Komunikasi. JurnalDinamika, Vol. 4, No. 7 (Juni): 1-8Jogiyanto HM., (2011). Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modeling BerbasisVarian Dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta : UPP STIM YKPNKerlinger, Fred N. (1990). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah MadaUniversity PressKotler, Philip., Kevin Lane Keller., Swee Hoon Ang., Siew Meng Leong., dan ChinTiong Tan. (2009). Marketing Management: An Asian Perspectives. 5thEditions. Singapore : Prentice-Hall, Pearson Education South AsiaKotler, Philip., dan Kevin Lane Keller. (2011). Marketing Management. 14th Edition.Upple Saddle River, New Jersey USA: Prentice-Hall, Pearson EducationJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page15Manzur, Enrique., Rodrigo Uribe., Pedro Hidalgo., Sergio Olavarieta dan Pablo Farias.(2012). Comparative Advertising Effectiveness in Latin America: Eveidencefrom Chile. International Marketing Review, Vol. 29 No. 3: 227-298Marliani, Rosleny. (2013). Psikologi Eksperimen. Bandung : Pustaka SetiaMindra Jaya, I Gede Nyoman., dan I Made Sumertajaya. (2008). Pemodelan PersamaanStruktural Dengan Partial Least Square. Proceeding. Seminar NasionalMatematika dan Pendidikan Matematika, Hal. 118-132Mustafa, Zaenal EQ. (2009). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Edisi Pertama.Yogyakarta : Graha IlmuNisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistik Modern Untuk Ilmu Sosial.Jakarta : Salemba HumanikaPalupi, Dyah Hasto., dan Teguh Sri Pambudi. (2006). Advertising That Sells Dwi Sapta:Strategi Sukses Membawa Merek Anda Menjadi Pemimpin Pasar. Jakarta :Gramedia Pustaka UtamaPierro, Antonio., Mauro Giacomantonio., Gennaro Pica., Lucia Mannetti., Ariw W.Kruglanski., dan Tory Higgins. (2012). When Comparative Ads are MoreEffective: Fit with Audience’s Regulatory Mode. Journal of EconomicPsychology, page 1-14Pillai, Kishore Gopalakrishna., dan Ronald E. Goldsmith. (2008). How Brand AttributeTypicality and Consumer Commitment Moderate the Influence of ComparativeAdvertising. Journal of Business Research, Vol. 61: 933-941Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif :Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rajagrafindo PersadaRakhmat, Jalaluddin. (2007). Metode Peneltian Komunikasi: Dilengkapi ContohAnalisis Statistik. Bandung : Remaja RosdakaryaRogers, John C. dan Terrell G. Williams. (1989) Comparative AdvertisingEffectiveness: Practitioner’s Perceptions Versus Academic Research Findings.Journal of Advertising Research (October-November): 22-36Sarwono, Jonathan. (2012). Metode Riset Skripsi Pendekatan Kuantitatif: MenggunakanProsedur SPSS. Jakarta : Elex Media KomputindoSeniati, Liche., Aries Yulianto., dan Bernadette N. Setiadi. (2008). PsikologiEksperimen. Jakarta : IndeksSetiyaningrum, Ari. (2008). Menilai Efektivitas Iklan Komparatif. Jurnal MajalahUsahawan, No. 05 TH XXXVII: 16-26Severin, Werner J., dan James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah,Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Edisi ke-5. Jakarta : KencanaPrenada MediaSmith, Robert E., Jiemiao Chen., dan Xiaojing Yang. (2008). The Impact of AdvertisingCreativity on The Hierarchy of Effects. Journal of Advertising, Vol. 37, 4(Winter): 47-61Soscia, Isabella., Simona Girolamo., dan Bruno Busacca. (2010). The Effect ofComparative Advertising on Consumer Perceptions: Similarity orDifferentiation?. Journal of Business Psychology, Vol. 25: 109-118Sukamto, Imam. (2013). Acara TV Ini Paling Digemari Penonton Indonesia .(2013).Dalam http://www.tempo.co/read/news/2013/03/06/090465467/Acara-TV-Ini-Paling-Digemari-Penonton-Indonesia. Diunduh pada tanggal 01 Mei 2013 Pkl.13.17 WIB.Sumarwan, Ujang., Ahmad Jauzi., Asep Mulyana., Bagio Nugroho Karno., PontiKurniawan Mawardi., dan Wahyu Nugroho. (2011). Riset Pemasaran danKonsumen, Seri : 1. Bogor: IPB PressJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page16Suprapto, Hadi dan Arie Dwi Budiawati. (2013). 2012, Belanja Iklan Media Rp 87Triliun. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/395530-2012--belanjaiklan-media-rp87-triliun. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 20.48 WIBThompson, Debora Viana., dan Rebecca W. Hamilton. (2006). The Effect ofInformation Processing Mode on Consumer’s Response to ComparativeAdvertising. Journal of Consumer Research, Vol. 32:530-540Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit AndiVeriveli. (2012). Iklan Adem Sari – Laboratorium. Dalamhttp://www.youtube.com/watch?v=6K1mZRxMYlg. Diunduh pada tanggal 2Juli 2013 pukul 11.15 WIBWhite Nye, Carolyn., Martin S. Roth., dan Terence A. Shimp. (2008). ComparativeAdvertising in Markets Where Brands and Comparative Advertising are Novel.Journal of International Business Studies, Vol. 39: 851-863Widyatama, Rendra. (2011). Teknik Menulis Naskah Iklan: Agar Tepat Sasaran.Yogyakarta: Cakrawala
PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN Tasuki, Martia Mutiara; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurist Surayya
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.347 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonalds Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonalds berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonalds Indonesia. As a new product, McDonalds breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonalds doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald s. By using the brand McDonalds McDonalds breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category Yes or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonalds Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id
PRODUKSI PROGRAM ACARA MUSICAHOLIC EDISI SPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PROGRAM DIRECTOR Ardiyanto, Triangga; Pradekso, Tandiyo; widagdo, Muchammad Bayu
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.639 KB)

Abstract

PRODUKSI PROGRAM ACARA MUSICAHOLIC EDISI SPESIAL TALKSHOW METAL SEBAGAI PROGRAM DIRECTORKarya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunNama : Triangga ArdiyantoNIM : D2C007079JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIAcara yang bertajuk tentang musik hampir ada di semua stasiun televisi, namunprogram musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produk jurnalistik dan hanyamenayangkan aliran musik mainstrem. Aliran musik non mainstream jarangdiangkat karena dianggap tidak mampu mendongkrak rating, oleh karean itualiranmusic non mainstream menjadi altenatif produk jusnalistik yang menarik dansegar untuk diangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepada kebutuhanpasar.Program talk show tentang musik metal dibuat untuk mengangkat komunitasmusik metal dibuat dengan memadukan antara informasi dan entertainment ataulebih dikenal dengan edutaiment.Secara umum ada empat tahap dalam pembuatan talkshow yaitu pra produksidimulai dari mencari ide produksi sampai mempersiapkan director treatment, danmelakukan persiapan dan latihan yang bersifat teknis bersama dengan kerabatkerja, pada tahap produksi tugas yg di lakukan antara lain mengarahkan acara danmemastikan seluruh gambar dapat digunakan, dan diakhiri dengan mengevaluasihasil kerja serta memastikan layak siar.Adapun kendala yang dihadapi selama proses produksi adalah adanya pergantiannarasumber karena salah satu narasumber berhalangan hadir, adanya perubahanjadwal pelaksanaan produksi, karena keterbatasan waktu liputan maka VT diambildari file yang sudah ada sebelumnya. Untuk anggaran justru terdapatpenghematan untuk sewa pick up, fee narasumber, fee presenter, namun adapenambahan anggaran untuk biaya editing.Setelah kita mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorang programdirector, disebutkan bahwa seorang program director mempunyai andil yangsangat besar dalam terlaksananya sebuah produksi , selain itu seorang programdirector juga harus mengontrol proses produksi dan memperhatikan secara detailkelengkapan produksi demi lancarnya program acara yang telah direncanakan.Kata Kunci: talk show, musik metal, program directorABSTRACTThere is a lot tv program who use music as it theme, but the music program that iscurrently emerging is not a product of journalism and only broadcast mainstremmusic. Non-mainstream music genre rarely broadcasted because they are not ableto boost ratings, that is why non mainstream music become an attractivealternative jusnalistik products which is interisting and fresh to be appointed,because the theme is taken is not glued to the needs of the market.Talk show programs about metal music is made to lift the metal music communitycreated with combination of information and entertainment, better known byedutainment.Generally there is three stage on talkshow production that is pre-productionstarted from ideas inquiry until preparing director treatment dan doing preparationand rehearsal which is technically with production crew, at production stage taskthat has to be done are directing program and ensure every picture can be usedand ended with evaluate and ensure the program can be broadcastedThe obstacles encountered during the production process is a change of speaker asone speaker was unable to attend, a change in schedule of production, due to thelimited time of coverage, the VT derived from pre-existing file. For budget thereis a saving that come from pick up rental, speaker fees, presenter fees, but noadditional budget for the cost of editing.After reviewing duties and responsibilities of the role of a program director, it isstated that a program director has contributed greatly to the establishment of aproduction , other than that a program director must also carefully controlproduction procces and watch every detail of production complementary for theprogram that has ben plannedKeyword : talk show, metal music, program directorBAB IPENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGDewasa ini dalam keseharian kita tidak bisa terlepas dari televisi. Melaluitelevisi kita bisa mendapatkan bberbagai informasi baik politik, sosial, budaya,agama dan ekonomi. Dari sekian banyak media komunikasi massa seperti suratkabar, majalah, radio, televisi dan internet ternyata televisilah yang palingdiminati banyak khalayak. Karena kelebihan-kelebihannya yang dapat menyajikaninformasi dengan menarik melalui audio visual memudahkan khalayak untukmenerima informasi secara cepat dan mudah.Televisi sangat berperan dalam berbagai aspek kehidupan diantaranyadalam bidang pendidikan, pada waktu tertentu sesuai dengan masing-masingjadwal televisi swasta ataupun negeri ditampilkan acara yang bertemakan edukasidiantaranya berbagai kuis berbasis pengetahuan/cerdas cermat, debat, workshopataupun seminar yang mendukung pendidikan. Kemudian dalam bidang ekonomiinformasi dikemas dalam beragam siaran berita dan acara-acara talk show yangmembahas issue perekonomian dalam maupun luar negeri misalnya, membahastentang nilai kurs dollar, ketahanan pangan, eksport-import dan lain sebagainya.Sedangkan dalam bidang entertainment kini terus menyajikan berita up to datesesuai dengan perkembangan dunia dan sekarang entertainment mendominasibisnis pertelevisian global. Begitu mudah untuk mengkomunikasikan apa sajayang dilakukan oleh para selebritis melalui acara infotainment.Musik adalah salah satu konten acara yang digemari oleh semua kalangan.Seiring dengan berkembangnya industri pertelevisian di tanah air, mulaibermunculan acara-acara yang bertemakan musik hampir di setiap pertelevisianIndonesia baik lokal maupun nasional seperti Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI),Spektakuler (Indosiar), dan lain sebagainya.Bisa dibilang program musik yang sedang marak saat ini bukanlah sebuahproduk jurnalistik namun hanya sebagai budaya popular pemuas kebutuhanmasyarakat akan musik, karena didalamnya tidak ada kegiatan menyiapkan berita,menulis, maupun mengedit sesuatu yang berupa catatan atau laporan sebuahkejadian. Seharusnya acara musik di televisi dapat dikemas lebih menarik denganmemadukan unsur informasi, edukasi dan hiburan yang sesuai dengan fungsitelevisi itu sendiri .Pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa keingintahuan yang cukupbesar terhadap semua hal, tidak terkecuali terhadap aliran musik non mainstreamyang saat ini kurang diangkat oleh media, karena dianggap hanya disukai olehsegelintir orang dan kurang menguntungkan dalam hal komersil.Aliran musik non mainstream dapat menjadi altenatif produk jusnalistikyang menarik dan segar untuk diangkat, karena tema yang diambil tidak terpakukepada kebutuhan pasar dan memiliki tempat tersendiri dihati audiens nyakhususnya bagi penggemar musik non mainstream.Musik metal diangkat sebagai tema acara karena selain memilikipenggemar fanatik juga mempunyai berbagai hal menarik yang belum diketahuioleh banyak, seperti: Musik metal yang rumit Teknik bermusik yang tinggi Aksi panggung yang eksploratif Jarangnya plagiarisme Lirik musik metal kebanyakan fiksional Musik metal mempunyai banyak sub-genre(http://www.jelajahunik.us/2012/06/6-hal-menarik-tentang-aliran-death.html)Seperti jenis musik ekstrim lainnya, keberadaan musik metal juga seringmemunculkan opini negatif dari masyarakat karena gaya hidup yang keras danbebas, namun mereka tetap bisa bertahan dengan idealismenya hingga sekarangterutama dalam bermusik. Oleh karena itu musik metal menjadi layak danmenarik untuk diangkat sebagai tema program acara Musicaholic.1.2. TUJUANTujuan program talk show dengan tema musik metal ini adalahmengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasikepada pemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Acara ini memadukan antara informasi dan hiburan atau lebih dikenaldengan edutaiment. Secara konseptual program ini berisi informasi yang bergunadan bermakna dibalut dalam konsep hiburan yang santai sehingga informasi lebihbisa diterima oleh khalayak serta dikemas dalam talk show interaktif agar lebihmenarik. Pesan yang ingin disampaikan program ini adalah agar audience dapatmenikmati acara musik yang lebih variatif dengan memperhatikan fungsijurnalistik di dalamnya tanpa perlu memperlebar jurang perbedaan karena genremusik.1.3. SIGNIFIKANSI1.3.1 Akademis : Secara akademis, pembuatan acara Talk Show inidapat digunakan sebagai sarana untukmengaplikasikan ilmu yang mahasiswa dapatkanselama perkuliahan. Khususnya di bidangpemrograman penyiaran dan produksi studio. Talkshow ini menjadi salah satu kontribusi jurnalistikdalam bentuk audio visual.1.3.2 Praktis : Sebagai rujukan bagi jurnalis media televisi dalammengemas sebuah acara yang mengangkat suatu temaacara pada televisi lokal.1.3.3 Sosial : Memberikan pengetahuan dan wawasan kepadakhalayak mengenai musik dan budaya metal.1.4. KONSEP ACARAProgram ini diharapkan akan menarik audiens karena program initermasuk program limited edition dimana tidak semua media eletronikmengangkat musik non mainstream sebagai tema suatu program acara khususnyaacara musik, sehingga audiens diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan iniuntuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangan komunitas metal yang ada diKota Semarang pada khususnya.Untuk mengangkat musik dan komunitas metal di Jawa Tengah khususnyadi Semarang, mahasiswa akan bekerjasama dengan salah stasiun televisi lokal diSemarang dalam proses produksi dan penayangan acara talk show yang akanmahasiswa. Karena televisi lokal memiliki kedekatan (proximity) dan targetaudience yang sesuai dengan acara talk show yang akan diselenggarakan.Televisi lokal Semarang yang akan mahasiswa ajak untuk bekerja samaadalah PRO TV, dengan berbagai pertimbangan antara lain televisi ini belumpernah membuat acara talk show yang membahas musik metal ataupun komunitasmetal.Acara ini berdurasi tiga puluh menit berisi liputan event konser musikyang telah berlangsung di Kota Semarang disajikan lengkap dengan informasikonser yang akan dilangsungkan di kota tersebut. Ditambah dengan ulasan musikdan video klip group group band lokal, dan juga dilengkapi dengan profil groupgroup band yang telah diliput dan beragam video klip lagu top dari group bandmancanegara.1.5. KONSEP PRODUKSIKonsep produksi dibagi menjadi dua bagian yaitu, produksi liputan danproduksi talk show.1.5.1 Produksi Talk showa. Lokasi di studio indoor yang terletak di lantai 3 kantor PRO TV.Studio berukuran 10 x 12 m dengan daya lighting lampuflourescent 4 bank sebesar 200 watt dilengkapi dengan standarperedam suara untuk produksi acara televisi.b. Tinggi lighting dengan lantai adalan 3 meter, dan jarak lightingdengan kamera adalah 1,5 meter.c. Produksi akan menggunakan 3 kamera, yaitu 2 kamera denganmerk JVC GY-DV550, serta 1 kamera dengan merk JVC KYF560,kamera akan dilengkapi dengan teleprompter dengan LCD15’ dengan software EZ PrompterXPd. Untuk perlengkapan audio, presenter dan narasumber masingmasingakan menggunakan Clip On dengan merk SONY ECM77B.e. Pergerakan dan variasi angel kamera akan di mix menggunakanswitcher 8 channel.f. Seluruh kamera akan diposisikan kurang lebih 4 meter dari obyekbidikan. Kamera 1 dan 2 akan bergerak dinamis mengikuti alurdialog, kamera 3 akan berfungsi sebagai kamera Master dancenderung statis.g. Properti acara akan menggunakan satu set meja kursi dengandilengkapi karpet berukuran 3 x 4m, background set yang terbuatdari kayu dan didesain khusus untuk acara talk show.h. Talk show akan dipandu dengan presenter wanita yang mempunyaikarakter muda dan ceria. Presenter akan mengenakan setelan bajuala komunitas musik metal. Presenter wanita dipilih karenamayoritas pemirsa acara musicaholic adalah laki-laki.i. Narasumber berjumlah 3 orang, yakni Bambang Iss (PengamatMusik dan Musisi Senior Semarang), Rudy Murdock (Vokalisgroup band "Radical Corps"), Imam Putre (Ketua SBS (ScatteredBrains Society) dan gitaris group band Putre Faction).1.5.2 Floor Plan1.6 ProduksiBerikut adalah rincian kegiatan yang akan dilakukan pada tahapproduksi:a. Loading property. Proses loading dilakukan dengan cara mengangkutbarang dari lokasi persewaan alat ke studio dan kemudian dilanjutkandengan pengecekan ksiapan serta kelengkapan properti.Pelaksana: Trianggab. Setting studio, yaitu tata ruang studio dan penempatan perlengkapan dibuatdengan semenarik mungkin juga memiliki hubungan dengan tema yangdiambil.Pelaksana: Mahendra dan Trianggac. Briefing awal pada Crew dan narasumber. Hal ini bertujuan untukkelancaran pada saat produksi berjalan, selain itu juga demi membentukkesiapan narasumber agar dapat mengerti apa yang harus dilakukan padasaat produksi berlangsung.Pelaksana: Mahendra dan Trianggad. Gladi bersih, tujuan dari kegiatan ini guna untuk melihat kesiapan darinarasumber dan kru pada saat produksi juga memastikan semua peralatanberfungsi dengan baik agar tidak terjadi kesalahan pada saat produksiberlangsung. Pelaksana: Mahendra dan Trianggae. Shoting talk show.Pelaksana: mahendra dan Trianggaf. Evaluasi on the spot pasca pelaksanaan produksi talk show.Pelaksana: Mahendra dan Triangga1.7 Pasca ProduksiYang akan dilakukan pada tahapan ini meliputi:a. Pemindahan material video dari kamera ke komputer (capturing).Pelaksana: Triangga Ardianto dan Arif Hidayatb. Pengecekan fakta (fast checking) dan pencemaran nama baik (libel check)dari naskah yang telah ditulis, serta gambar yang telah diambil. Proses inimerupakan upaya evaluasi terhadap kemungkinan adanya kesalahan,antara lain terkait kelengkapan penyebutan nama narasumber danpenyebutan nama tempat. Seleksi gambar juga akan dilakukan untukkepentingan editing gambar.Pelaksana: Mahendra, Triangga Ardianto dan Arif Hidayatc. Editing gambar, yakni proses menggabungkan gambar sesuai dengannaskah. Penggabungan gambar akan disesuaikan dengan naskah dan SSGyang sudah di susun sebelumnya.Pelaksana: Triangga Ardianto dan Arif Hidayatd. Evaluasi hasil akhir.Pelaksana: Mahendra Zulkifli, Triangga Ardianto dan Suryo Putroe. Penayangan hasil dari produksi talk show di stasiun televisi yang sudahdipilih yaitu PRO TV Semarang.PENUTUPKarya Bidang dalam bentuk Program acara Musikaholic edisi spesial talkshow metal berdurasi 30 menit ini telah sukses ditayangkan di PRO TV Semarangpada tanggal 19 mei 2013 pukul 22.30. Pihak PRO TV sejak awal sangat antusiasdengan konsep acara yang mahasiswa tawarkan. Konsep acara yang ditawarkanini memadukan antara informasi dan entertainment, sehingga informasi lebih bisaditerima oleh pemirsa serta pemirsa tidak akan merasa jenuh.KesimpulanSebagai Program Director telah menjalani kewajiban yang seharusnyadilakukan sesuai dengan bidangnya, hal tersebut dapat dilihat dengan mampunyaProgram Director memimpin para kerabat kerja selama produksi berlangsungserta mengatasi dan melewati kendala-kendala yang muncul ditengah-tengahkegiatan produksi. Program acara Musicaholic edisi spesial Talk show Metal telahsukses ditayangkan dan sesuai dengan tujuan awal acara ini dibuat, dimana acaraini ingin mengangkat komunitas musik metal di Kota Semarang dan dapatmemberikan informasi kepada pemirsa mengenai perkembangan musik metal diKota Semarang. Sesuai dengan fungsinya seorang Program Director yang dapatmenuntun dan memimpin kegiatan produksi, selain itu juga yang terpenting bagiseorang Program Director yaitu memiliki tanggungjawab besar atas hasilkaryanya untuk membuat suatu tayangan layak ditonton dan dinikmati olehmasyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya tanggapan dari orang-orangyang menyaksikan acara Musicaholic Edisi Spesial Talk show Metal.Daftar PustakaBukuBurton, Graeme. Membincangkan Televisi (Sebuah pengantar Kepada Studitelevisi). Yogyakarta. Jalasutra. 2007Arifirii, Eva. Broadcasting to be broadcaster. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin. Dasar-Dasar Penyiaran (Sejarah,Organisasi, Operasional, dan Regilasi).Jakarta. Kencana. 2011Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan OborIndonesia.Subroto, Darwanto Sastro. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta. Duta WacanaUniversity Press. 1994Team AnneAhira.com. Mengenal Dasar Jurnalistik Adalah Penting. Dikutip dariWahyudi.J.B. Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi.Jakarta: PT Pusaka Utama Grafiti.1996Wibowo, Fred. Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta Rasindo. 1997InternetPujilaksono, Setiyo . Mengenal Lebih Jauh Tentang Televisi. Dikutip dariAsiaaudiovisualra09setiyopujilaksono’s BlogDwi Lestari, Kristina. Dasar-Dasar Jurnalistik. Dikutip darihttp://pelitaku.sabda.org/dasar_dasar_jurnalistik(Diakses tanggal 7 April2012)http://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/2009/07/06/mengenallebih-jauh-tentang-televisi/ (Diakses tanggal 8 April 2012)http://www.anneahira.com/jurnalistik-adalah.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.indoreggae.com/artikel4.html (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.seputarinfomusik.blogspot.com/sejarah-musik-metal-dunia.html(diakses tanggal 7 April 2012) oleh Beje “Sejarah Musik Metal Dunia”Team AnneAhira.com. Dasar Sebuah Produk Jurnalistik. Dikutip dariwww.anneahira.com/produk-jurnalistik.htm (Diakses tanggal 7 April2012)
PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD"S KEPUTUSAN PEMBELIAN Tasuki, Martia Mutiara; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurist Surayya
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.347 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Martia Mutiara TasukiNIM : D2C 005 183JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENGARUH TERPAAN KOMUNIKASI PEMASARAN MENU BREAKFAST MCDONALD’S DAN CITRA PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIANABSTRAKMenu breakfast merupakan inovasi varian menu terbaru dari McDonalds Indonesia. Sebagai produk baru, menu breakfast McDonalds berusaha untuk memperoleh tempat dibenak masyarakat maka McDonald’s melakukan komunikasi pemasaran melalui berbagai media diantaranya melalui iklan, brosur, kupon berhadiah dan media display di setiap gerai McDonald’s. Dengan menggunakan merek McDonald’s menu breakfast McDonald’s telah menempatkan posisinya di benak konsumen. Kemudian keputusan pembelian pun dibuat.Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Dengan mengacu pada teori advertising exposure process dan teori perilaku konsumen. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode accidental sampling yaitu sebanyak 50 orang responden. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dengan kuesioner. Teknik pengolahan data menggunakan regresi logistik.Berdasarkan hasil perhitungan, variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s ( X1 ) masuk dalam kategori rendah dengan persentase sebesar 58%, variabel citra produk (X2) masuk dalam kategori baik dengan persentase sebanyak 70%, dan variabel keputusan pembelian (Y) masuk dalam kategori “ya” atau tinggi dengan persentase sebesar 66%. Adapun hasil pengujian hipotesa menunjukkan bahwa variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s (X1) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel citra produk (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap vaeriabel keputusan pembelian (Y) dengan nilai signifikansi 0,012 dan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346.Kata kunci : Terpaan Komunikasi Pemasaran, Citra Produk, Keputusan Pembelian.THE EFFECTS OF MCDONALD’S BREAKFAST MENU MARKETING COMMUNICATIONS EXPOSURE AND PRODUCT IMAGE TOWARDS THE PURCHASED DECISIONABSTRACTBreakfast menu is the latest variant of the innovation of McDonalds Indonesia. As a new product, McDonalds breakfast menu is trying to obtain a community then dibenak McDonalds doing marketing communications through a variety of media including advertising, brochures, through the lottery and the display in every media outlet McDonald s. By using the brand McDonalds McDonalds breakfast menu has put his position in the minds of consumers. Then any buying decision is made. The purpose of this research is to know the influence of exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications and product imagery to the purchasing decision. With reference to the theory of advertising exposure process and theory of consumer behavior. This research type is eksplanatori. Sampling is performed using the method of accidental sampling that is as much as 50 people responden. While the data collection technique using observations with the questionnaire. Data processing techniques using logistic regression. Based on the results of the calculation, variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) belongs to the category of low percentage of 58, with variable image products (x 2) belongs to the category either by percentage as much as 70, the purchase decision and variable (Y) belongs to the category Yes or high with a percentage amounting to 66. As for the hypothesis test results indicating that the variable exposure to McDonalds breakfast menu of marketing communications (X 1) has no significant influence on the buying decision variable (Y). While the image of the products variable (x 2) have a significant influence on the buying decision vaeriabel (Y) with the value of the significance and value of 0.012 Exp (B) from X 2 of 1,346.Keywords: exposure to marketing communications, Product Image, purchase decisions.BAB IPENDAHULUAN Latar BelakangMcDonalds Indonesia mengadopsi menu breakfast untuk menjawab rasa bosan pelanggan dengan menu-menu yang sudah ada selama ini. Hal ini juga untuk memenuhi keinginan pelanggan agar menu McDonald’s yang terdapat di luar Indonesia kini dapat dinikmati pula di Indonesia. Menu sarapan ini disajikan sejak pukul 05.00 pagi hingga pukul 11.00 siang. Harga yang ditawarkan cukup beragam sekitar Rp 20.000,- hingga Rp 30.000,- per paket. (http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan Menu Baru/htm).Untuk itu McDonald’s melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan bidang pemasaran atau juga bisa disebut dengan promosi. Berbagai hal dilakukan mulai dari iklan, brosur, banner, kupon berhadiah, dan lain sebagainya. Semua ini dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat bahwa McDonalds memiliki varian produk baru yaitu menu breakfast atau menu sarapan pagi. Tidak hanya mengenai produk, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai waktu yang ditetapkan untuk menjumpai menu breakfast.Berdasarkan data sales selama bulan April, Mei, dan Juni pencapaian penjualan menu breakfast baru menunjukkan angka 11% dari 18% yang ditargetkan. Pencapaian penjualan tidak bergerak jauh dari angka 11%. Perumusan MasalahSelama tiga bulan setelah diluncurkan persentase pembelian tidak beranjak jauh dari level 11%. Dari target sebesar 18%, angka 11% tentunya berada pada tingkatan yang rendah. Berdasarkan data talk to customer LSM (local store marketing) McDonald’s Ciputra Semarang, yang diambil melalui pendapat pelanggan (customer feedback), sebagian besar konsumen belum mengetahui keberadaan produk breakfast, menu yang terdapat di dalamnya dan promo yang sedang berlangsung. Data yang diperoleh selama tiga bulan terakhr yaitu Juni, Juli, dan Agustus 2011 menunjukkan dari 300 orang konsumen per bulan yang dimintai pendapatnya, hanya sebesar 35% konsumen yang mengetahui mengenai menu breakfast dan promosi menu breakfast yang sedang berlangsung.Namun, permasalahan di atas seperti jumlah konsumen dan pencapaian hasil penjualan bukanlah merupakan fokus dalam penelitian ini. Batasan dari penelitian ini adalah data hasil penjualan dan jumlah konsumen atau transaksi yang terjadi, digunakan sebagai tolok ukur dari sikap konsumen berupa perilaku atau tidakan pembelian. Keputusan pembelian dalam penelitian ini merupakan efek dari komunikasi yang dilakukan oleh McDonald’s Ciputra semarang kepada masyarakat. Fokus permasalahan terdapat pada efek komunikasi yang dilakukan. Efek yang dirasakan masih kurang atau masih rendah dari yang diharapkan, hal ini dapat dilihat dari datasales volume dan persentase pencapaian hasil penjualan menu breakfast yang dicapai oleh McDonald’s Ciputra Semarang. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui pengaruh terpaan kegiatan komunikasi pemasaran mengenai menu breakfast di McDonald’s dan citra produk terhadap keputusan pembelian.BAB IIHASIL PENELITIAN Kerangka Teori1. Pengaruh Terpaan Komunikasi Pemasaran Terhadap Keputusan PembelianTeori yang digunakan dalam penelitian ini yang menghubungkan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran terhadap keputusan pembelian adalah teori Advertising Exposure Process. Di dalam teori ini dikatakan bahwa apabila konsumen terkena terpaan iklan maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudian akan menggerakan konsumen untuk membeli produk. Berdasarkan teori advertising exposure process tahapan pembentukan keputusan pembelian ialah pertama, terpaan iklan dapat menciptakan terjadinya brand awareness dalam benak konsumen, lalu konsumen juga akan mengetahui keuntungan dan sifat dari brand tersebut. Kedua, terpaan iklan juga dapat menciptakan citra dari brand tersebut. Ketiga, terpaan iklan dapat mengasosiasikan sesuatu dengan merek (brand association) dan keempat terpaan iklan dapat juga menciptakan kesan bahwa brand disukai oleh lingkungan sekitar kita. Semua efek ini mengakibatkan perubahan sikap tertentu yang berakhir pada terciptanya keputusan pembelian. Terpaan terhadap informasi sangat penting untuk proses interpretasi konsumen,2. Pengaruh Citra Produk terhadap keputusan pembelianTeori yang digunakan dalam penelitiaan ini yang mengaitkan antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian adalah teori yang diungkapkan oleh Schiffman and Kanuk yaitu teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi). Perilaku konsumen menurut Winardi (dalam Sumartono, 2002:97) Menurut Assael (Sutisna, 2002 : 6), salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen adalah konsumen individual. Artinya pilihan untuk membeli suatu produk dengan merek tertentu dipengaruhi oleh hal-hal yang ada pada diri konsumen. Hipotesis1. Hipotesis mayorHipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s dan citra produk di benak masyarakat terhadap keputusan pembelian .2. Hipotesis MinorTerdapat pengaruh terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast di McDonald’s terhadap keputusan pembelian dan terdapat pengaruh citra produk terhadap keputusan pembelian. Populasi dan SampelPopulasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang mengetahui mengenai Mc Donald’s atau mereka yang pernah membeli produk yang dipasarkan oleh McDonald’s dan memiliki rentang usia antara 17-50 tahun. Sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik non probability sampling dengan cara purposive accidental sampling. MetodologiAlat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dengan metode survey dan teknik analisis kuantitatif. Temuan penelitian1. Berdasarkan hasil pengolahaan kuesioner, ditemukan bahwa frekuensi variabel terpaan komunikasi pemasaran berada dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran yang dilakukan McDonald’s masih kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diperoleh jawaban responden mengenai komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tergolong dalam kategori rendah.2. Melihat dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa variabel citra produk berada dalam kategori baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa responden menilai menu breakfast McDonald’s baik dari segi bahan, kualitas, manfaat, dan harga produk. Oleh karena itu citra yang muncul dalam benak konsumen adalah baik.3. Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan, responden yang memutuskan untuk membeli produk menu breakfast McDonald’s adalah sebanyak 33 responden atau 66%. Hakl tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden dapat menerima keberadaan produk dan mau membeli produk menu breakfast McDonald’s.4. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi logistic melalui SPSS. Sebelum teknik ini digunakana maka perlu dilakukan Goodness of fit untuk mengetahui apakah model ini dapat digunakan dalam penelitian ini. Pada pengolahan data dengan model Hosmer and Lemeshow test diperoleh nilai Sig = 0,394 > 0,05 yang berarti bahwa hipotesis H0 diterima sehingga dapat dipastikan bahwa terdapat minimal satu variabel independen yang berpengaruh dan model regresi logistik tersebut layak dipakai.5. Hasil uji hipotesis mayor : Berdasarkan pada Tabel Hosmer and Lemeshow dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Adapun pengaruhnya yaitu sebesar 25,9 %. Hal tersebut dapat diartikan bahwa secara bersama-sama terpaan komunikasi pemasaran dan citra produk berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebesar 25,9 %.6. Pada tabel Variables in the Equetion, dapat dilihat nilai Sig X1 = 0,085 > 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 diterima atau dengan kata lain variabel X1 tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. dengan demikian dapat dikatakan variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian.7. Pada tabel Variables in the Equation, nilai Signifikansi X2 = 0,012 < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hipotesis H0 ditolak atau dengan kata lain variabel X2 berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Y. Kemudian, dengan melihat nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 memiliki arti bahwa jika citra produk terus dipertahankan atau ditingkatkan maka masyarakat yang memutuskan untuk melakukan pembelian adalah 1,346 kali lebih banyak dari yang tidak melakukan pembelian. Dengan kata lain, kenaikan nilai variabel X2 berpengaruh terhadap variabel Y. Semakin besar nilai variabel X2 maka semakin besar nilai variabel Y. dapat pula disimpulkan semakin baik citra produk dibenak masyarakat maka semakin banyak masyarakat yang memilih untuk membeli produk menu breakfast McDonald. Begitu sebaliknya jika citra produk semakin buruk maka masyarakat yang memilih membeli produk menu breakfast McDonald’s semakin sedikit.8. Hasil analisis penulis adalah melihat data mengenai terpaan komunikasi pemasaran dimana terlihat terpaan komunikasi pemasaran dalam posisi yang rendah, maka dapat dikatakan bahwa teori advertising exposure process tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terpaan kominikasi pemasaran tidak mempengaruhi secara signifikan keputusan masyarakat untuk membeli produk menu breakfast Mc.Donald’s. Hal ini menunjukkan bahwa yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk tidak hanya terpaan komunikasi pemasaran. Ada unsur lain sebagai penggeraknya. Seperti yang tertuang dalam teori lingkungan informasi pembeli. Teori ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat memutuskan membeli sesuatu atau memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang menerpanya. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambilan keputusan terhadap produk, diantaranya adalah :a. Pengalaman pribadi pembelib. Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluargac. Berita media massa yang laind. Kredibilitas konsumene. Perusahaan saingannyaf. Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakatg. Lingkungan informasi yang beragam tentang produkh. Kegiatan personal selling, promotion, sales dan sejenisnyai. Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non massa.Berdasarkan teori tersebut, keputusan pembelian dipengaruhi oleh banyak faktor dari mulai diri si pembeli sendiri hingga lingkungan dimana si pembeli berada. Maka ketika terpaan komunikasi rendah, dalam penelitian menunjukkan bahwa pembeli atau masyarakat yang memilih untuk membeli produk jumlahnya justru diatas 50% dari jumlah responden. Namun, bagi McDonald’s hal ini tentunya menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan volume penjualan. Sebagai perusahaan tentunya McDonald’s menargetkan tingkat volume penjualan yang lebih tinggi lagi. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi McDonald’s dan teori yang telah disebutkan dapat menjadi acuan dalam menentukan kebijakan.9. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara variabel citra produk dan variabel keputusan pembelian berjalan dengan berbanding lurus yaitu ketika citra produk meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat pula. Penelitian ini sesuai dengan teori yang diungkapkan sebelumnya yaitu, teori perilaku konsumen. Teori ini adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia (waktu, uang, usaha dan energi).BAB IIIPENUTUP Kesimpulan1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel x dan y yaitu terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonalds dan citra produk terhadap keputusan pembelian. Pengaruhnya sebesar 25,9%.2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara variabel terpaan komunikasi pemasaran menu breakfast McDonald’s dengan keputusan pembelian.3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel citra produk dengan keputusan pembelian dengan nilai Exp(B) dari X2 sebesar 1,346 Keterbatasan PenelitianKeterbatasan dalam penelitian ini adalah jumlah sampel dan teknik pengambilan sampel yang belum dapat mewakili populasi secara pasti, hal ini dikarenakan populasi dalam penelitian ini tidak terhingga jumlahnya sehingga membuat peneliti kesulitan untuk menentukan secara tepat jumlah sampel yang dibutuhkan dan penggunaan teknik sampel yang digunakan. SaranBerdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut1. McDonald’s menggunakan komunikasi pemasaran untuk membentuk dan menjaga citra produk di benak masyarakat. Citra positif yang ada sangat perlu untuk dijaga. Untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang memberikan citra positif terhadap produk maka perlu dilakukan komunikasi pemasaran yang lebih intens lagi agar masyarakat semakin diterpa oleh informasi-informasi yang terkait dengan produk, kemudian memberi penilaian positif hingga akhirnya membeli produk. Hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan media baik elektronik dan cetak yang tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan kesesuaian segmentasi media dengan segmentasi produk. Pastikan media yang digunakan memiliki jangkauan yang luas dan mudah diakses oleh masyarakat. Media lain yang digunakan adalah brosur dan kupon berhadiah, tingkatkan penyebaran brosur dan kupon berhadiah dengan pemerataan distribusi dan penyebaran yang lebih intens. Hal ini dapat dilakukan dengan mengerahkan karyawan untuk menyebarkan brosur dan kupon berhadiah di area mall, memastikan ketersediaan brosur dan kupon berhadiah di store McDonald’s dan tenant-tenant yang bekerjasama dengan McDonald’s serta mengerahkan karyawan delivery service untuk melakukan penyebaran langsung kepada masyarakat seperti di perumahan, sekolah, kantor, maupun traffic light. Penggunaan media display dalam store juga perlu diperhatikan, menggunakan tampilan yang menarik dan informasi mengenai produk dengan singkat dan jelas akan membantu masyarakat untuk mengingat display tersebut.2. Mempertahankan kualitas produk untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam mengkonsumsi produk juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan yang berkualitas dan tidak mengurangi takaran bahan yang diperlukan, senantiasa menjaga kebersihan baik bahan, alat, maupun karyawan, dan menjaga keamanan produk dengan tidak menggunakan zat-zat berbahaya. Menjaga kualitas produk berarti mewujudkan apa yang menjadi citra positif produk dalam benak masyarakat.DAFTAR PUSTAKAFill, Chris. 1995. Marketing Communication Frame Works. London: Prentice HallFraenkel, J. dan Wallen, N. 1993. How To Design and Evaluate Research in Education. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Inc.Jefkins, Frank. 1995. Periklanan edisi 3. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 1997. Dasar-dasar Pemasaran Principles ofMarketing edisi ketujuh jilid 3. Jakarta: Prenhelindo.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Littlejohn, Stephen W, 2005, Theories of Human Communication, eighth edition,Thomson Learning Inc., Wadsworth, Belmont, USA.Mowen, John C dan Minor, Michael. 2002. Perilaku Konsumen edisi kelima jilid1. Jakarta: Erlangga.Mulyodiharjo, Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan. Bandung: Alfabeta.Rakhmat, Jalaluddin. 1992. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaludin. 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (ed).1989. Metodologi Survey. Jakarta:LP3ESSoemirat, Soleh dan Elvinaro, Ardianto. 2008. Dasar-dasar Public Relation.Bandung: Remaja Rosdakarya.Sutisna, 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran.Bandung:PT. Remaja RosdakaryaSwasta, Bayu. 1993. Manajemen Penjualan. Yogyakarta: Universitas Gajamada.Tjiptono, Fandy, dkk. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Andi Offset.Yamin, Sofyan dan Kurniawan, Heri. 2009. SPSS complete, Teknik AnalisisStatistik Terlengkap Dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.Millah, S. McD Indonesia Luncurkan Menu Baru. 2011.(http://medantalk.com/may/19/2011//McD Indonesia Luncurkan MenuBaru/htm). Diakses tanggal 12 September 2011 pukul 11.01 WIB.Harian Medan Bisnis. 2011. McDonald’s Tambah 4-5 Gerai Mandiri Baru di2011. (http//harianmedanbisnis.com//McDonalds Tambah 4-5 GeraiMandiri Baru di 2011). Diakses tanggal 9 September 2012 pukul 12.48WIB.Republika. 2011. Sarapan Pagi di Mcd.(http//republika-online.com//sarapan-pagidi-mcd//4-7-2011). Diakses tanggal 11 September 2011 pukul 07.28 WIB.Depari, Fidelia. 2011. KFC Luncurkan Menu Breakfast. (http//food.ghiboo.com/).Diakses 11 September 2011 pukul 12.00 WIB.McDonald’s. 2010. Our Company Inclision and Diversity.(http://www.aboutmcdonalds.com/mcd). Diakses 9 september 2011 pukul10.38 WIBPrayogo, Oginawa. 2011. Tepis Kabar Produk Jualannya Tidak Sehat. McdIndonesia Luncurkan Menu Baru. (http://industri.kontan.co.id/news/).Diakses tanggal 11 September pukul 07. 30 WIB.www.mcdonalds.co.id
Hubungan Terpaan Pemberitaan Korupsi di Televisi dan Pernyataan Presiden SBY di Televisi dengan Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada Pemerintah PRAMONO, LISTIANTO HINDRA; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.938 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Dewasa ini pers Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengekspresikan kebebasan. Fenomena itu ditandai dengan munculnya media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Keberanian pers dalam mengkritik penguasa juga menjadi ciri baru pers Indonesia. Hal ini juga terlihat akhir-akhir ini ketika pers berani mengungkapkan kasus-kasus korupsi maupun skandal-skandal yang diduga melibatkan beberapa pejabat publik, menteri, anggota dewan sampai ketua partai, baik yang dilakukan sendiri maupun secara “berjamaah”, dari tingkat paling atas sampai ke tingkat paling bawah.Melalui peran media, kini kasus-kasus tersebut dapat diketahui oleh masyarakat luas. Media sekarang berani membongkar kompleksitas kasus korupsi dengan mencoba mengungkap keganjilan-keganjilan yang terjadi melalui liputan, tayangan, dan investigasi sendiri secara mendalam, sehingga pemberitaan yang disajikan terkadang kritis terhadap pemerintah. Dengan gencarnya pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi di televisi yang semakin hari semakin marak, kredibilitas pemerintahan SBY benar-benar diuji. Hal tersebut sebenarnya bisa mengindikasikan seberapa seriuskah pemerintahan SBY jilid II ini dalam memberantas kasus-kasus korupsi. Selain itu, yang menarik dari kebebasan pers yang selama ini dinikmati, adalah tak luputnya sang kepala negara menjadi isu dan pemberitaan yang panas, seperti pernyataan-pernyataan SBY yang dimuat di media. Melalui media, pernyataan-pernyataan SBY ketika menyampaikan pidato di depan umum, terkadang di tanggapi beragam oleh media (dalam hal ini media televisi yang paling gencar).Menurut data yang dikutip dari detiknews.com (27/6/2011), riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada 2011, kepuasan publik atas kinerja Presiden SBY terus merosot. Menurut lembaga survey tersebut salah satu penyebabnya adalah sikap reaktif SBY jika sedang diserang isu di mana SBY menyampaikan kegelisahannya dengan curhat di depan publik. Selama ini, suka atau tidak suka, media televisi sebagai “opinion leader” telah membentuk interpretasi berdasarkan pandangannya bahwa pernyataan-pernyataan SBY tersebut merupakan “cuhat/curahan hati sang presiden”. Media menjustifikasi SBY sebagai “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, dan berbagai sebutan yang dapat melemahkan citra SBY.Namun, di Istana Negara pada Senin (8/10) malam, melalui pidatonya Presiden SBY menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam bersikap. SBY yang kerap dianggap absen ketika terjadi konflik, kali ini hadir di saat kekisruhan antara KPK dan Polri semakin memanas. Pangkal persoalannya adalah ketika pemberitaan kasus korupsi simulator SIM ditubuh POLRI mulai melebar dan menjadi isu panas serta memunculkan istilah “Cicak vs Buaya Jilid II” dalam berbagai pemberitaan hingga menyulut pertikaian antara KPK dan POLRI.Sontak peristiwa tersebut juga diliput berbagai media termasuk televisi, bahkan berbagai stasiun televisi seperti Metro TV, TV One, TVRI menayangkan pidato tersebut secara penuh dan langsung. Pernyataan Presiden SBY tersebut memang ditunggu-tunggu. Banyak kalangan yang meminta agar konflik yang melanda dua institusi penegak hukum tersebut harus segera diakhiri dan presiden menepati janjinya untuk buka suara dalam menyelesaikan konflik ini. Dalam pidatonya tersebut Presiden SBY menyampaikan Lima Keputusan (solusi) Presiden soal konflik Polri dan KPK. Setelah pidato tersebut banyak kalangan dan masyarakat yang mengapresiasi/memuji substansi pidato tersebut, mereka menilai pidato tersebut cukup tegas. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi dan menimbulkan opini publik serta persepsi yang berbeda-beda dari para audiensnya.Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis di mana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun tidak untuk mengetahui efektivitas atau pengaruh dari ketiga variabel di atas. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang pernah terterpa pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi (dalam hal ini tentang pernyataan presiden SBY dalam menengahi konflik KPK-POLRI pada tanggal 8 Oktober 2012), serta yang telah berusia 18 tahun ke atas. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.PEMBAHASANTerdapat beberapa teori yang mendasari dari terbentuknya hipotesis di atas, yaitu:McQuail (1987: 263) menyatakan bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalah kebanyakan efek yang ditimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek; barangkali juga pembentukan cara pandang terhadap gambarandunia dan masyarakat yang berjangka waktu panjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna pelbagai peristiwa. Berita memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentuMenurut teori hierarki efek (Liliweri, 1991:39) secara umum terdapat tiga efek dari komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya; (b) efek afektif, di mana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, mendengarkan radio, atau menonton televisi; (c) efek konatif, akibat pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.Sedangkan terpaan sendiri, menurut pendapat Shore (Kriyantono, 2006: 204-205), lebih dari sekedar mengakses media. terpaan tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbuka terhadap pesan-pesan media massa tersebut. Terpaan merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapat terjadi pada tingkat individu maupun kelompok.Menurut Baldoni (Kaban, 2009:51) keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, sesungguhnya sangat ditentukan oleh kepiawaiannya berkomunikasi, karena melalui komunikasi, pemimpin membangun trust (kepercayaan) kepada rakyat atau pengikutnya. Pernyataan-pernyataan Presiden SBY yang dikutip oleh media tersebut adalah bagian dari naskah/teks pidatonya sebagai kepala negara, di mana pidato sendiri dapat digolongkan sebagai sebuah retorika politik. Heryanto dan Zarkasy dalam bukunya Public Relations Politik (2012:118) mendefinisikan retorika politik sebagai seni berbicara pada khalayak politik dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik.Secara konseptual, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisi sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiKemampuan seseorang untuk menceritakan/menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi tersebut setelah mereka melakukan kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan pemberitaan tentang korupsi di televisi.2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiKhalayak, dalam hal ini masyarakat, menonton televisi kemudian terkena terpaan pernyataan Presiden SBY sehingga mereka mampu untuk menceritakan/menjelaskan kembali pesan-pesan yang terkandung dalam terpaan pernyataan tersebut.3. Tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintahAdalah penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY dalam menerapkan dan menjalankan sejumlah program aksi prioritas yang merupakan rumusan dan penjabaran yang lebih operasional dari Visi dan Misi pemerintah 2009-2014.Dalam penelitian ini, terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mencari tahu varibel terpaan pemberitaan korupsi di televisi, pernyataan Presiden SBY di televisi, dan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisiMerupakan kemampuan khalayak menjelaskan kembali pemberitaan tentang korupsi di televisi. Variabel ini diukur dengan melihat seberapa jauh pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap kasus-kasus korupsi yang diberitakan di televisi.Tolok ukur:a. pemahaman/pengetahuan responden/khalayak terhadap pemberitaan tentang kasus-kasus korupsi :- Korupsi Al Qur’an- Korupsi Sport Centre Hambalang- Korupsi Simulator SIM- Korupsi Suap Bupati Buol- Korupsi Wisma Atlet di Palembangb. siapa pelaku dan siapa saja yang terlibat2. Terpaan pernyataan Presiden SBY di televisiTerpaan pernyataan Presiden SBY di televisi diukur dengan indikator:Pengetahuan responden/khalayak mengenai pemberitaan tentang pernyataan pernyataan SBY. Tolok ukurnya adalah khalayak/masyarakat mengetahui dan bisa menerangkan kembali isi pesan pernyataan Presiden SBY di televisi, pada pernyataan SBY tentang konflik KPK-POLRI.3. Tingkat Kepercayaan Masyarakat pada PemeritahVariabel ini diukur dengan indikator:Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam menerapkan dan menjalankan :a. Program Aksi Perbaikan dan Pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan yang BaikTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pengawasan kinerja dan dampak reformasi, termasuk pemberantasan korupsi dan penerapan disiplin dan hukuman yang tegas bagi pelanggaran sumpah jabatan, aturan, disiplin, dan etika kerja birokrasi. (Misalnya: Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY berani menegur bahkan mencopot pejabat yang melanggar sumpah jabatan /termasuk terlibat korupsi).2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan pemerintahan dengan perumusan standar pelayanan minimum yang diketahui masyarakat beserta pemantauan pelaksanaannya oleh masyarakat (misalnya: perekrutan pegawai/tender sampai pengangkatan pejabat struktural dalam sebuah lembaga/ departemen/pemerintah daerah dilaksanakan secara transparan dan akuntabel sehingga dapat dipantau masyrakat luas).b. Program aksi Penegakan HukumTolok ukurnya:1) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam memperbaiki law enforcement (misal: memperbaiki mutu dan integritas aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan maupun Pengadilan)2) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam meninjau ulang dan memperbaiki peraturan yang menyangkut penegakan hukum termasuk pengaturan hak-hak polisi, peraturan-peraturan pelaporan, dan aturan pelayanan dari aparat penegak hukum. (misal: membuat aturan main/peraturan perundang-undangan yang tegas termasuk terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum penegak hukum serta memberi jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi semua)3) Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintahan SBY Jilid II dalam melakukan pencegahan dan penindakan korupsi secara konsisten dan tanpa tebang pilih.Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitu hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi (X1) dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (X2) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang pernah melihat pemberitaan korupsi di televisi, serta pernah menerima terpaan pernyataan Presiden SBY di televisi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 40 orang, dengan teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling purposif. Sampling purposif adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian.Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (variable X) dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan uji statistik yang menggunakan analisis koefisien korelasi dan konkordansi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil dari penelitian ini, menyatakan bahwa terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik di mana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,805 dan koefisien korelasi sebesar -0,037. Oleh karena sig sebesar 0,805 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak hipotesis alternatif (Ha) dan menerima hipotesis nol (Ho). Pernyataan presiden SBY di televisi ternyata berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hal ini berdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,050 dan koefisien korelasi sebesar -0,294. Oleh karena sig sebesar 0,050 = 0,05 (tidak lebih besar dari 0,05); maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima hipotesis alternatif (Ha) dan menolak hipotesis nol (Ho). Sedangkan apabila ketiganya dikaitkan dengan uji Konkordansi Kendall ternyata hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah,Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasi massa (the individual differences theory of mass communication effect), di mana menurut teori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannya maupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi massa juga berbeda (Liliweri, 1991:106). Bahkan menurut De Fleur (Liliweri, 1991:105) menambahkan bahwa setiap individu memilki kepribadian masing-masing yang akan mempengaruhi juga perilaku mereka dalam menanggapi sesuatu.Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat kecenderungan hubungan negatif antara terpaan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Hasil tersebut cukup beralasan karena meskipun dalam kenyataannya banyak kalangan yang menilai pidato SBY kali ini cukup baik (karena dari poin-poin yang disampaikan SBY yang berpihak pada keinginan publik dan media), namun timing/waktu SBY yang tidak cepat (terkesan terlambat) dalam memberikan pernyataan dalam menengahi konflik KPK-POLRI, membuat persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah menjadi negatif. Seperti yang dingkapkan Priyatno Harsasto, Pengajar Universitas Diponegoro, Semarang dalam tanggapannya mengenai konflik KPK-Polri terkait kasus simulator SIM ini, bahwa menurutnya keterlambatan dalam mengambil keputusan, hanya akan menimbulkan kesan bahwa Presiden kurang berpihak pada upaya pemberantasan korupsi. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambat).Artinya ada penanganan manajemen krisis yang lamban oleh pemerintah. Kekisruhan hukum dan politik dalam kasus KPK-POLRI “jilid II” dengan mempertontonkan dramaturgi sosok penguasa dan penegak hukum yang saling antagonistik di ruang publik melalui media inijustru semakin memberikan banyak pengetahuan masyarakat akan apa yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut. Pemberitan tersebut menjadi isu panas, dan selalu menempati menu pemberitaan utama media dalam waktu yang cukup lama (frekuensi penayangan/pembahasan yang sering). Dengan berlarut-larutnya konflik pada akhirnya justru semakin meneguhkan kesan kekurangseriusan pemerintah dalam menangani kasus korupsi.Hal tersebut sesungguhnya juga tak bisa dilepaskan dari citra/image negatif SBY yang selama ini melekat pada dirinya. Melalui media, SBY memang sering digambarkan sebagai seorang presiden yang “peragu”, “tukang curhat”, “lamban”, “kurang gesit”, “terlalu reaktif”, “mementingkan pencitraan” dan berbagai sebutan minor lainnya. Hal ini sebenarnya menyiratkan bahwa komunikasi politik yang dilakukan SBY melalui pidato/pernyataannya di media mengalami apa yang disebut oleh Liliweri (1991:27) sebagai hambatan prasangka. Menurut Rose (Liliweri, 1991:27) prasangka merupakan suatu sikap dari seseorang yang mencurigai orang lain dengan membanding-bandingkannya dengan diri sendiri atau orang lain yang lain yang mengarah kepada suatu perasaan yang negatif. Kalau saja hal ini terjadi maka setiap pesan yang disampaikan oleh seseorang, ataupun komunikator dalam komunikasi tidak dipercayai karena penerima telah mempunyai sikap apriori terlebih dahulu.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, namun begitu arah hubungan pada variabel terpaaan pernyataan presiden SBY dan tingkat kepercayaan memiliki arah kecenderungan hubungan negatif. Kedua variabel tersebut merupakan faktor yang mendorong rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY kali ini, yaitu dalam menjalankan visi misi seperti yang diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranya mewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Rakhmat (2001:130) menyatakan bahwa ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya, yaitu: menerima, empati dan kejujuran.Masyarakat menilai bahwa pemerintahan SBY tidak memiliki ketiga hal tersebut, melalui gencarnya pemberitaan tentang korupsi menandakan bahwa tidak adanya kejujuran dalam penyelenggaraan pemerintahan, serta keseriusan dalam memberantas praktek-praktek korupsi. Selain itu pidato/pernyataan-pernyataan SBY selama ini (yaitu pernyataan SBY tentang konflikKPK-POLRI) yang merupakan bentuk empati terhadap keinginan masyarakat di mana pernyataan SBY dalam pidato ini sesungguhnya merupakan bentuk komitmen pemerintahan SBY Jilid II ini dalam upaya pemberantasan korupsi, karena poin-poin dalam pidato tersebut sesungguhnya mencerminkan keberpihakan SBY pada keinginan masyarakat, namun ternyata juga tak diterima dengan baik oleh masyarakat.PENUTUP1. Terpaan pemberitaan korupsi di televisi ternyata tidak berhubungan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.2. Terdapat hubungan negatif antara pernyataan Presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata terdapat hubungan negatif antara terpaan pemberitaan korupsi di televisi dan pernyataan presiden SBY di televisi dengan tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah, Jadi artinya bahwa ketika terpaan pemberitaan korupsi di televisi tinggi dan terpaan pernyataan presiden SBY di televisi (dalam hal ini pernyataan Presiden SBY dalam pidatonya tentang konflik KPK-POLRI) tinggi maka tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah cenderung rendah.SARAN1. Media massa dapat berperan penting dalam membongkar korupsi, dalam keadaan seperti ini media diharapkan dapat menjadi fasilitas penyampaian informasi serta menegakkan transparansi. Karena jika kurang adanya transparansi, hal ini akan menyebabkan buruknya kinerja aparat pemerintah dan penyebab maraknya praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu media massa dalam hal ini televisi diharapkan mampu memberikan informasi yang objektif, faktual dan tanpa bertendensi, maka check and rechek, akurasi, keberimbangan dan independensi harus selalu dilakukan semua perusahaan media massa (televisi) di Indonesia dalam sebuah produksi pemberitaan termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus. Selain itu dengan semakin banyak publikasi dan pemberitaan tersebut nantinya diharapkan akan memberikan beban bagi pemerintah untuk membuktikan itikadnya.2. Bagi presiden SBY disarankan untuk perlu memperbaiki citra/kredibilitasnya, yaitu dengan lebih membuktikan keseriusanya pada masyarakat dalam melaksanakan visi misi pemerintahannya yang dulu diusungnya dalam memenangkan Pemilu 2009, di antaranyamewujudkan good governance melalui perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik serta penegakan hukum. Perlu juga dicatat bahwa bebagai strategi komunikasi politik dalam rangka untuk meningkatkan citra akan sia-sia jika tidak disertai dengan kinerja nyata dari pemerintah. Dalam kaitannya dengan kegiatan komunikasi politik terutama berkaitan dengan pidato di depan umum/media, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tindakan retorika tidak hanya cukup berbekal argumen yang meyakinkan belaka melainkan juga harus mampu menampilkan sosok komunikator sebagai komunikator yang kredibel dan terpercaya.3. Pemerintah dalam hal ini presiden SBY harus cepat dalam mengambil keputusan, termasuk dalam memberikan pernyataan melalui pidato dengan tujuan memberikan penjelasan kepada publik sekaligus sebagai instruksi bagi penanganan kasus tersebut. Hal ini didasarkan pada kasus korupsi Simulator SIM yang berujung pada konflik KPK-POLRI serta kaitannya dengan pidato/pernyataan SBY terkait konflik tersebut, ini membuktikan bahwa krisis yang berlarut-larut justru akan menjadi bahan konsumsi/sorotan publik melalui media massa, sehingga akan berpengaruh terhadap kredibilitas pemerintah di mata masyarakat, untuk itu perlu adanya manajemen krisis yang tepat dan cepat dari pemerintah dalam hal ini presiden selaku pimpinan.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha IlmuFahmi, A. Alatas. 1997. Bersama Televisi Merenda Wajah Bangsa. Jakarta: YPKMDHamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta: GranitHeryanto, Gun Gun dan Irwa Zarkasy. 2012. Public Relations Politik. Bogor: Ghalia IndonesiaKartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLiliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra Aditya BaktiLuwarso,Lukas dkk. 2004. Media dan Pemilu 2004. Jakarta: SEAPAMcQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : ErlanggaMuhtadi, Asep Saeful. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca-Orde Baru. Bandung: Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa : Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung : Widya PadjajaranNugroho D, Riant. 2004. Komunikasi Pemerintahan. Jakarta: Elex Media KomputindoNurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : CespurRakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja RosdakaryaSamsuri. 2004. Media dan Transparansi. Jakarta: SEAPASeverin, Werner J. dan James W. Tankard Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSingarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3SSudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKISSuparmo, Ludwig. 2011. Crisis Management dan Public Relations. Jakarta: IndeksSuwardi, Harsono dan Sasa Djuarsa Sandjaja dan Setio Budi (eds). 2002. Politik, Demokrasi dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Galang PressWest, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba HumanikaWinarni. 2003. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM PressWiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoLain-LainKaban, Ramon, “Komunikasi Politik Presiden RI: Dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono (Perspektif Karakteristik Tokoh)”. Observasi, vol. 7, No.2, tahun 2009, hal. 60Kompas, Minggu 24 Januari 2010. Berita Menggeser Sinetron.http://bisnis-jabar.com/index.php/berita/kpk-vs-polri-pidato-sby-banjir-pujian-maupun-sindiranhttp://jambi.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/04/koruptor-makan-uang-negara-rp-122-triliun-satu-semesterhttp://m.antaranews.comberita-fokushttp://mediacenter.kpu.go.id/images/mediacenter/VISI_/VISI_MISI_SBY-Boediono__ FINAL__ke_KPU_25_Mei_2009__A4_.pdfhttp://metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/07/22/132616/Nazaruddin-Muncul-di-Metro-TVhttp://nasional.kompas.com/read/2012/10/06/2020573/Abraham.Berharap.Presiden.Selesaikan.Konflik.KPK-Polrihttp://nasional.kompas.com/read/2009/07/23/18004364/SBY-Boediono.Menang.60.80. Persenhttp://news.detik.com/read/2011/06/27/113024/1669317/10/sby-diminta-stop-curhat-dan-politik-pencitraanhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/065802/2057818/10/sby-pantas-menuai-pujian?nd771108bcjhttp://news.detik.com/read/2012/10/09/060346/2057812/10/icw-pidato-sby-sudah-tegas-pelaksanaannya-harus-dikawal-bersama?nd771108bcjhttp://news.okezone.com/read/2011/06/14/339/468071/pemberantasan-korupsi-di indonesia-peringkat-2-dari-bawahhttp://politik.kompasiana.com /2011/01/25/paradoks-komunikasi-sby/http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/media/5/APLIKASIFILSAFATDALAMILMUKOMUNIKASI.dochttp://www.antaranews.com/berita/1295860097/pakar-media-berlebihan-soal-pernyataan-presidenhttp://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/10/kpk-vs-polri-pidato-sby-dinilai-terlalu-berhati-hati/http://www.indonesiafinancetoday.com/read/13548/Berita-Nazaruddin-Dorong-Pertum buhan-Pemirsa-TV-di-Juli-Agustushttp://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-umum/30399-partai-demokrat-adukan-tv-one-dan-metro -tv-ke-kpihttp://www.metrotvnews.comreadnewsprograms2012061512932121Kegalauan-Yudhoyono-.htmhttp//www.metrotvnews.com/readnews/2012031885449SBY-Ada-Gerakan-Aneh-untukJatuhkan-Pemerintah1http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/10/09/mbluo0-pernyataan-presiden-dinilai-terlambathttp://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/09/12/lrevtp-perkara-korupsi-di-indonesia-mencapai-1018-kasushttp://www.tempo.co/read/news/2009/07/22/078188554/SBY-Pidato-Saya-Dipelintir-dan-Diputarbalikanhttp://www.youtube.com/watch?v=qikfqfktb-8http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62583/2012/10/07/ketua_kpk_berharap_presiden_turun_tangan_dalam_konflik_kpk _dan_ polri.tvOnehttp://video.tvonenews.tv/arsip/view/62639/2012/10/08/pidato_presiden_ri_terkait_kisruh_polri_dan_kpk.tvOne
PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID (Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id) Aji, Widya Andhika; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurist Surayya
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.911 KB)

Abstract

1PENGALAMAN KOMUNIKASI PELANGGAN ZALORA.CO.ID(Studi Fenomenologi Pelanggan Zalora.co.id)Oleh:Widya Andhika AjiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Dengan menggunakan sampel pada lima informandan metode wawancara, dapat ditarik kesimpulan: Pelanggan Zalora.co.idmemiliki pengalaman komunikasi berkaitan dengan pesan promotif yang berupamedia iklan, direct marketing, dan sales promotion. Persepsi konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id selama ini adalahbaik mengingat konsumen selalu merasa puas dengan harga dan kualitas produkyang ditawarkan pihak Zalora. Pesan yang ditangkap informan dari iklan yangdilakukan pihak Zalora adalah bahwa konsumen maupun calon konsumendidorong dan diajak untuk berbelanja dan berbelanja lagi Pesan yang ditangkapinforman dari iklan Zalora melalui direct marketing antara lain adalah: sangatefektif dan praktis karena tanpa harus bertatap muka dapat bertransaksi langsungdan mudah, kemudian juga tampilan web yang menarik membuat mereka inginberbelanja. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui sales promotion ini adalahdiskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat” pada Zalora dan merekamenjadi semakin tertarik untuk berbelanja di Zalora.co.id dengan adanya diskonyang besar tersebut.Keywords: pengalaman komunikasi, pesan komunikasi, direct marketing, salespromotion, iklan.2COMMUNICATION EXPERIENCE OF CONSUMERS ZALORA.CO.ID(Phenomenological Approach)ABSTRACTThis research purposed to analyze the consumers’ experience andunderstanding of acceptance communication message when they are shopping atZalora.co.id. Participants are five informan and the data technique used are depthinterview. The conclusion are: Consumers’ Zalora.co.id have communivationexperience related to the message through advertising, direct marketing, and salespromotion. Consumers’ perception related to the marketing communication whenthey are shopping at Zalora.co.id are good because they always satisfied with theproduct and quality product from Zalora. Message that participants can say fromZalora is that consumers always pursue to shop and shop more. The message thatconsumers’ understand from the advertising through direct marketing is that veryeffective and practival because without face to face, they can make transactionand this is easy to do, the website also make them more interested in shoppingmore and more. The message that consumers’ understanding from sales promotionis the big discount make them “tied” with Zalora and they more interesting to butproduct from Zalora.co.id.Keywords: experience, communication, messagem direct marketing, salespromotion, advertising.3PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTrend belanja online menjadi fenomena baru dalam paradigma berbelanjamasyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat lebih senang meluangkan waktu untukberbelanja online daripada berkunjung ke toko secara langsung untuk membelibarang yang mereka inginkan. Arnold Sebastian Egg yang merupakan pendirisitus jual beli tokobagus.com memprediksi bahwa nantinya semua orang akanberbelanja online, saat ini seluruh bisnis mulai mengusung tokonya ke online(BeritaBali.com, 2013). Pernyataan Arnold tersebut didukung dengan surveyyang dilakukan perusahaan e-commerce asal Jepang, Rakuten, bahwa 80%pengguna internet di Indonesia mulai berbelanja online dalam dua tahun terakhir.Sedangkan Survei lain yang dilakukan oleh VeriTrans dan DailySocialpada 584 pelanggan e-commerce di Indonesia mengenai tren belanja onlinemengungkap sebanyak 37% responden menyebutkan produk yang mereka belimelalui internet adalah pakaian (fashion). Di posisi berikutnya adalah pemesananlayanan perjalanan (20%) dan media yang dikonsumsi secara elektronik sepertimusik, video dan game (20%) dan lainnya (18%), elektronik (13%) dan buku(8%) (Rinaldi, 2013: 2).Di ranah online fashion store, Zalora yang muncul padaawal 2012langsung melejit menjadikannya sebagai salah satu dari sembilan e-commercepaling berjaya di Indonesia yang di antaranya adalah Lazada Indonesia, ZaloraIndonesia, Berybenka, PinkEmma, Bilna, Plasa, Reebonz, LivingSocial dan FoodPanda. Setelah sukses di 8 negara di dunia seperti Brazil, India, Australia, Zalorayang terhitung pemain baru di Indonesia siap meramaikan pasar bisnis fashionIndonesia. Mei 2013 menjadi sejarah bagi Zalora yang baru saja merayakanpemesanan ke 1 juta dan mencapai angka penjualan hingga USD 100 juta yangsetara dengan 1 Triliun Rupiah (Azmil, 2013: 2).Penjualan Zalora yang menjanjikan tersebut mengundang banyak investoruntuk berlomba menanamkan modal ke Zalora, salah satunya adalah TengelmannGroup, perusahaan retail Eropa yang sudah berdiri 145 tahun lalu dan memiliki4.000 toko di 15 negara, telah mengucurkan dana sebesar 249 miliar untuk tokoonline tersebut (Sawers, 2013: 1). Performa Zalora di pasar Indonesia dapatdibilang membuahkan hasil yang memuaskan dan menjanjikan untuk terusmengembangkan bisnis mereka di Indonesia. Hal ini didukung oleh pertumbuhankelas menengah di Indonesia yang merupakan pertumbuhan kelas menengahpaling tinggi yaitu mencapai 56,6% di regional Asia Pasifik dengan pengeluarantiap tahunnya mencapai USD 3000. Perilaku konsumen kelas menengah tersebutsangat mobile dan mudah berubah, mereka bisa dengan cepat berganti-gantimerek, dan ini menjadikan para pemasar harus terus bergerak mengikutimobilitas konsumen, harus ada penyempurnaan di produknya, berinovasi yangbaru, kemudian mengubahstrategi harganya, distribusinya, promosinyadikombinasikan sedemikian rupa, pesan-pesannya juga tidak monoton.Pengguna internet diperkirakan akan terus bertambah menjadi 149 jutapengguna serta terdapat indikasi bahwa berbelanja online akan semakin populer diIndonesia, Jepang, dan Thailand pada 2015. Hal tersebut didukung dengan4kemudahan akses internet yang semakin mobile menjadi salah satu pendorongbagi pebisnis Indonesia untuk terus menggeluti dunia ini. (Rahayu, 2012:2).iTeknologi Informasi tidak dipungkiri membawa perubahan yang signifikanterhadap bisnis dan gaya hidup masyarakat sekarang ini dalam mendukungbelanja online mereka. Berdasarkan survey dari Rakuten, orang Indonesia danThailand 50% lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak mereka,dibandingkan orang Taiwan. Bila dibandingkan dengan orang Amerika dan Eropa,orang Indonesia dua kali lebih suka berbelanja dengan perangkat bergerak.Sejalan dengan itu, riset lain dari BuzzCity pada awal 2012 mendapatibahwa 27% pebelanja online dari Indonesia sudah memakai perangkat bergerakmereka untuk berbelanja. survei itu juga mendapati bahwa orang Indonesia tigakali lebih suka merekomendasikan suatu barang kepada teman-temannya dijejaring sosial, ketimbang negara lain. (Rahayu, 2012: 4). Dalam perkembanganpertumbuhan situs web dikenal istilah Web 2.0 yang menunjukkan jenis web yang“hidup” dan diisi oleh penulis secara periodik sehingga menimbulkan fenomenabaru yaitu blog dan social networking services (SNS) atau lebih populer dengansebutan situs jejaring sosial. Dengan melihat kedudukan internet saat ini terjadiperubahan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi media. Jika dulu konsumenhanya menonton televisi, membaca majalah, surat kabar dan sebagainya kinimereka juga menjelajah internet. Online media sudah menjadi point of contactyang tidak dapat diabaikan, sehingga para pemilik brand harus masuk ke dalampoint of contact tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat.Populasi mall online atau e-retailerbaru semakin marak meramaikanMallonline ini sehinggadiperlukan strategi pemasaran untuk mendapatkan danmempertahankan customer mereka. Begitu juga Zalora yang memiliki websiteresmi www.zalora.co.id, portal e-commerce atau mall online ini adalah anakperusahaan asing yang dikenal dengan nama zalando.com. Perusahaan yangmerajai pasar Brazil dan Thailand ini, baru saja mengeluarkan laporan penjualanper akhir Desember 2012 dengan rata-rata pemesanan hariannya adalah 600-700transaksi, rata-rata pembeli mengeluarkan uang kisaran Rp 150-350 ribu.Zalora Indonesia adalah situs web belanja kebutuhan fashion yangmenawarkan produk-produk dari berbagai brand terkemuka, baik lokal maupuninternasional. Zalora Indonesia didirikan pada tahun 2012 dan merupakan salahsatu cabang dari situs belanja online terbesar Eropa Zalando. Kelebihan yangditawarkan oleh Zalora Indonesiayaitu, pelanggan tidak dikenakan biaya untukpengiriman ke seluruh Indonesia dan garansi pengembalian barang jika pelanggantidak puas atas produk yang diterimanya. Grup Zalora International di Asia terdiridari Zalora Indonesia, Zalora Singapura, Zalora Malaysia, Zalora Vietnam, ZaloraTaiwan, Zalora Thailand, Zalora Filipina. Zalando merupakan projek dari RocketInternet, yang merupakan e-commerce terkenal dari Rocket Internet. RocketInternet sendiri menyediakan bantuan teknologi, modal dan jasa lainnya untukmembuat perusahaan-perusahaan Internet yang inovatif. Kantor pusatnya terdapatdi Berlin, Jerman, projek yand dimiliki Rocket Internet antara lain Zalando,TopTarif, eDarling, Groupon (sebelumnya CityDeal), dan lain-lain.Penelitian ini akan difokuskan pada pelanggan Zalora.co.id dengan strategipemasarannya yang telah sukses menggeser positioningbeberapa pemain lama di5toko fashion online. Selain itu marketing communication yang baik melalui iklanonline yang kuat, branded product yang tidak lokal produk serta promosi gencarmenjadi strategi jitu Zalora dimata konsumennya untuk meningkatkanpenjualannya.1.2 Perumusan MasalahPenelitian ini berusaha untuk mengetahui pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id.HASIL2.1. Deskripsi Tekstural Gabungan2.1.1. IklanIklan merupakan media promosi satu arah yang disalurkan kepadakonsumen dengan tujuan membujuk untuk membeli dan bersifat nonpersonal.Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian iniadalah informan pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informan tersebutiklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnya menarikdiperankan oleh model yang dianggap representatif dan eksklusif sertaadanya diskon yang dipromosikan secara gencar.Pesan yang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zaloraadalah bahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajakuntuk berbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkan Zaloradari mulai produk sepatu, baju, aksesoris, maupun produk lainnya.2.1.2. Direct MarketingDirect marketing merupakan bagiandari program komunikasipemasaran dan dilakukan langsung pada customer, misalnya: Twitter,Instagram (sosial media),SEO (google ads, facebook ads), dan mailing list.Berdasarkan pada hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diketahuibahwa direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Jadi semua informan pernah menjumpainya.Direct marketing yang ditemukan antara lain di Twitter , PortalOnline dan SEO, kolom Google Ads, Facebook ads. Paling seringditemukan adalah di Facebook ads dan promo Twitter. Hal ini disebabkankarena jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter saat ini sangat boomingdi dunia maya dan menjadi direct marketing yang sangat efektif dalammerangkul konsumen dan calon konsumen untuk online shopping sepertiZalora.Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpa harusbertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian juga6tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja. Mereka yangpada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjadi tertarik karena iklanterus menerus muncul ketika mereka sedang membuka facebook, google,maupun twitter.2.1.3. Sales PromotionSales promotion merupakan bentuk persuasi langsung melaluipenggunaan berbagai insentif, umumnya berjangka pendek, yang dapatdiatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera ataumeningkatkan jumlah barang yang dibeli konsumen atau pedagang (kupon,undian, diskon, kontes). Sales promotion ditemukan oleh informan pertama,kedua, ketiga, keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemuisales promotion Zalora.co.id.Adapun bentuk dari sales promotion yang mereka temui adalah berupakupon pemberian teman, dari atasannya, dari voucher belanja, denganjumlah yang bervariasi dari Rp 50.000; Rp 100.000 hingga Rp 200.000.Informan yang telah menjadi member kemudian juga diberikan voucherlewat email setiap bulannya. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk “terikat”pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untuk berbelanja diZalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besar tersebut.2.2. Deskripsi Struktural GabunganDalam menyusun deksripsi struktural, peneliti menggunakan langkahberupa interpretasi terhadap penyataan-pernyataan orisinil dari subjekpenelitian tentang pengalaman komunikasi berbelanja di Zalora co.id danpenerimaan komunikasi pemasaran yang diterimanya.Sedangkan ditinjau dari penerimaan komunikasi pemasaran informanpenelitian, dapat dikatakan bahwa pesan yang disampaikan Zalora kepadakonsumennya adalah untuk supaya mereka membeli kembali di Zalora untuksekarang dan kemudian hari atau seterusnya. Maka dapat dikatakan bahwapenerimaan komunikasi pemasaran telah baik dilakukan oleh subjek danpihak Zalora dapat disarankan untuk mempertahankan jenis promosi nyatersebut bahwa lebih sering melakukan bentuk promosi baru melalui saranaatau media baru lainnya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan jumlahkonsumen di masa mendatang.Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yang dilakukanZalora, yaitu e- shopping behavior, e-excitement dan impulsive buying.Dalam tiga tema tersebut, lima orang informan mendeskripsikan perilaku eshoppingbehavior dimana informan menghabiskan sebagian besarwaktunya berinteraksi dengan internet dan meluangkan waktu khusus untukberinteraksi dengan media promosi dari zalora.co.id, baik langsung kewebsitenya maupun lewat akun sosial media sehingga yang bersangkutanmempertimbangkan untuk belanja. Sedangkan tema e-shopping excitementdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga, keempat dan kelima dimana7keempat informan tersebut menyebutkan bahwa website zalora.co.idmemberikan penawaran menarik dan informasi produk yang lengkapsehingga yang bersangkutan berbelanja. Sedangkan tema impulsive buyingdi tunjukkan oleh informan kedua, ketiga dan kelima dimana yangbersangkutan melakukan pembelian berulang disaat yang bersangkutan tidakmembutuhkan produk yang dibeli karena tergiur diskon dan penawaranzalora.co.idPENUTUPPenelitian ini menggambarkan tentang pengalaman komunikasi danpemahaman penerimaan konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id. Wawancara mendalam dilakukan kepada limaresponden yang memenuhi kriteria sebagai subjek penelitian. Ditemukan hal-halyang menarik melalui komunikasi dan pemahaman penerimaan konsumen terkaitpesan komunikasi pemasaran dalam berbelanja di Zalora.co.id. Berdasarkanpenelitian dan analisis temuan penelitian, terdapat beberapa kesimpulan, danimplikasi, baik secara akademis maupun praktis, sebagai berikut:3.1. KesimpulanBerdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan pada bagian sebelumnya,maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:1. Pelanggan Zalora.co.id memiliki pengalaman komunikasi berkaitandengan pesan promosi yang berupa media iklan, direct marketing, dansales promotion.2. Iklan Zalora.co.id yang dijumpai oleh informan penelitian ini adalahinforman pertama dan kelima. Mereka menjumpai iklannya di salurantelevisi MNC TV, dan majalah Gogirl/dresscode. Menurut informantersebut iklannya sangat menarik dan terutama karena gambarnyamenarik diperankan oleh model yang dianggap representatif daneksklusif serta adanya diskon yang dipromosikan secara gencar. Pesanyang ditangkap informan dari iklan yang dilakukan pihak Zalora adalahbahwa konsumen maupun calon konsumen didorong dan diajak untukberbelanja dan berbelanja lagi terus sehingga mereka bisa “menggaet”banyak konsumen untuk membeli berbagai produk yang ditawarkanZalora.3. Direct marketing yang ditemui adalah pada informan pertama, kedua,ketiga , keempat dan kelima. Direct marketing yang ditemukan antaralain di Twitter , Portal Online dan SEO, kolom Google Ads, Facebookads. Paling sering ditemukan adalah di Facebook ads dan promoTwitter. Pesan yang ditangkap informan dari iklan Zalora melalui directmarketing antara lain adalah: sangat efektif dan praktis karena tanpaharus bertatap muka dapat bertransaksi langsung dan mudah, kemudian8juga tampilan web yang menarik membuat mereka ingin berbelanja.Mereka yang pada awalnya tidak tertarik, lama kelamaan menjaditertarik karena iklan terus menerus muncul ketika mereka sedangmembuka facebook, google, maupun twitter.4. Sales promotion ditemukan oleh informan pertama, kedua, ketiga,keempat dan kelima. Jadi semua informan telah menemui salespromotion Zalora.co.id. Pesan yang ditangkap dari iklan melalui salespromotion ini adalah diskon yang besar membuat konsumen untuk“terikat” pada Zalora dan mereka menjadi semakin tertarik untukberbelanja di Zalora.co.id dengan iming-iming diskon yang besartersebut.5. Persepsi konsumen terkait pesan komunikasi pemasaran dalamberbelanja di Zalora.co.id selama ini adalah baik mengingat konsumenselalu merasa puas dengan harga dan kualitas produk yang ditawarkanpihak Zalora. Selain itu mereka memahami adanya proses belanja yangpraktis serta kemudahan dalam pembayaran, serta yang paling menarikmereka adalah diskon dan gratis ongkos pengiriman, sehingga dengandemikian dapat dikatakan bahwa pihak Zalora telah sukses dalammenyampaikan kepada konsumen berbagai keunggulannyadibandingkan dengan pesaingnya.6. Berdasarkan pada pesan yang ditangkap kelima informan diketahuibahwa ternyata muncul beberapa tema yang terkait promosi yangdilakukan Zalora, yaitu mengarah kepada e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying. Jadi dapat dikatakan bahwa karenainforman merupakan heavy internet user yang aktivitasnya sebagianbesar menggunakan internet sehari-harinya maka menimbulkan perilakupembelian konsumen secara e-commerce. Selain itu juga karena fotoyang menarik dan bagus di iklannya, Zalora membuat konsumennyaterkesan atau terkesima untuk membeli dan hal ini mengarah kepada eshoppingexcitement. Jadi karena konsumen merasa terkesan baikdengan iklan yang dilakukan Zalora, maka mereka memutuskan untukmembeli produk dari Zalora. Kemudian ada informan yang melakukanimpulsive buying karena pada awalnya tidak merencanakan untukmembeli produk Zalora tetapi karena tertarik dengan iklan yangdilakukan Zalora misalnya pada foto yang menarik, iklan dengan katakata“menjanjikan” hal ini mendorong mereka untuk membeli produkZalora.3.2. SaranSedangkan saran yang dapat dikemukakan pada penelitian ini antaralain adalah sebagai berikut:1. Sebaiknya pihak Zalora dapat mempertahankan promosi melaluikomunikasi yang selama ini telah berhasil menarik di benakkonsumennya, dengan lebih menitikberatkan bentuk promosiyang menjadi pengalaman komunikasi di penelitian ini, atara lain: Iklan, direct marketing dan sales promotion92. Pada penelitian di masa mendatang diharapkan tema tema yangkeluar dalam penelitian ini seperti e-shopping behavior,excitement. dan impulsive buying bisa menjadi variable perilakuterkait dengan studi marketing komunikasi10Daftar PustakaAllen, C., Kania, D., and Yaeckel, B. (2001). One-to-One Web Marketing: build arelationship marketing strategy one customer at a time. New York:WIleyComputer Publishing.Azmil, F. (2013). 9 E-Commerce Yang Sedang Berjaya di Indonesia. Available onhttp://www.merdeka.com/teknologi/9-e-commerce-yang-sedang-berjayadi-indonesia.html diunduh pada 27 Mei 2013.Baum, Steven K. (1999). The Glossary: Cn-Cz.. Glossary of Oceanography andthe Related Geosciences with References. Texas A&M University.Bogdan, R.C. &Biklen S.K. (1982).Qualitative Research for Education : An.Introduction to Theory and Methode.Boston : Allyn and Bacon, Inc.C’elik, Hakan. (2010). Influence of social norms, perceived playfulness and onlineshopping anxiety on customers’ adoption of online retail shopping Anempirical study in the Turkish context.Childers, T. L., Carr, C.L., Peck, J., and Carson, S. (2001). Hedonic andUtilitarian Motivation for Online Retail Shopping Behavior. School ofManagement, University of Kentucky.Constantinides. (2004). Influencing the online consumer’s behavior: the Webexperience.Danaher, P.J. dan J.R.Rossiter. (2009). Comparing perceptions of marketingcommunication channels. European Journal of MarketingVol. 45 No. 1/2,2011pp. 6-42.Darmiyati, Zuchdi. (1997). Pembentukan Sikap . Yogyakarta: LPKM IKIP.Dawson dan Kim. (2009). External and internal trigger cues of impulse buyingonline, Direct Marketing: An International Journal, Vol. 2. No 3.Delafrooz. (2010). Students’ Online Shopping Behavior: An Empirical Study.Dennis, C. , Bill Merrilees, Chanaka Jayawardhena, Len Tiu Wright. (2008). Econsumerbehaviour. European Journal of MarketingVol. 43 No. 9/10,2009, pp. 1121-11.Dennis et al. (2010). The Influences of Social e-Shopping in Enhancing YoungWomen’s Online Shopping Behaviour.11Fajar, A. (2012). E-commerce Harus Siapkan Banyak Komponen ValueChain,http://swa.co.id/business-strategy/marketing/e-commerce-harussiapkan-banyak-komponen-value-chain diunduh pada 3 Mei 2013.Farag, S. (2005). E-Shopping and its Relationship with In-store Shopping:Empirical Evidence from the Netherlands and the USA.Hirschman dan Holbrook (1982). Channels of distribution), social influencethrough reference groups, perceived risk.Jayawardhena, C. dan L.T. Wright. (2008). An empirical investigation into eshoppingexcitement: antecedents and effects. European Journal ofMarketingVol. 43 No. 9/10, 2009, pp. 1171-1187.Johnson, (1986). Research report: the role of behavioral modelling in computerskills acquisition toward refinement of the model, Information SystemsResearch, Vol. 11 No. 4, pp. 402-17.Kacen dan Lee, (2002). Applying the E-Commerce on Online ConsumerBehavior, Information Systems Research, Volume forthcoming.Kartika, B. (2012). Survei Global Soroti Kebutuhan Konsumen Asia pada ECommercehttp://www.chip.co.id/news/startupspress_release/4439/survei_global_soroti_kebutuhan_konsumen_asia_pada_e-commerce.Kotler, Philip. (1984). Manajemen Pemasaran. Prenhalindo; Jakarta.Koufaris, M. dan W.H. Sosa (2002). Customer Trust Online: Examining the RoleOfthe Experience With the Web Site.Department of Statistics & ComputerInformation SystemsZicklin School of Business, Baruch College.Kuswarno, E. 2005. Metode penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Liao and Cheung. (2000). Internet-based e-shopping and consumer attitudes: anempirical study.Moleong. (2005). Metodologi Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Muhadjir, Noeng. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: RakeSarasin.12Owen, R. dan P. Humphrey. (2008).The structure of online marketingcommunication channels. Journal of Management and Marketing ResearchPark, (2006). Applying the Technology Acceptance Model and Flow Theory toOnline Consumer Behavior, Information Systems Research.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rahayu, E. M. (2012). 4 Tren yang Harus Diperhatikan Pelaku ECommercehttp://tekno.kompas.com/read/2012/03/07/14270272/4 diunduhpada 2 Mei 2013.Rinaldi, D. (2013). Mengapa Brand Besar Harus Masuk E-Commerce?. Availableon http://swa.co.id/technology/mengapa-brand-besar-harus-masuk-ecommercediunduh pada 1 Mei 2013.Ruben dan Stewart.(2006). Communication and Human Behavior. United States:Allyn.Sawers, P. (2013). Tengelmann continues its Rocket Internet interest, this timeinvesting $26m in Asian Zappos clone Zalora available onhttp://thenextweb.com/insider/2013/03/12/tengelmann-continues-itsrocket-internet-interest-this-time-investing-26m-in-asian-zappos-clonezalora/diunduh pada 27 Mei 2013.Scissors, J.Z. dan R. B. Baron, (2010). Advertising, Media Planning. SevenEdition. McGraw Hill.Tuten, A. (2008). Personality determinants of online shopping: Explainingonline purchase intentions using a hierarchical approach.Van Manen, M. (1997). Phenomenological pedagogy and the question ofmeaning.Phenomenology & education discourse (pp. 41-68).Johannesburg,South Africa: Heinemann.Wakefield dan Baker. (1998). Creation of Favorable User Perceptions. MISQuarterly, Volume 23, Number 2.Wenats, A.E. dkk. 2002. Integrated Marketing Communications, KomunikasiPemasaran di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Co-Authors Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi, Aditya Iman Adityo Cahyo Aji Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Agus Naryoso Naryoso Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Aldi Atwinda Jauhar, Aldi Atwinda Aldila Leksana Wati Alif Ibrahim Ananda Erfan Musthafa, Ananda Erfan Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri, Annisya Winarni Aprida Mulya, Resti Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arinda Putri Oktaviani, Arinda Putri Aryatama Wibawa, Michael Asri Nugraheningtyas ASTRID DAMAYANTI Asty Setiandini, Asty Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azizatun Niswah, Hajar Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bella Prawilia Bisma Alief, Bisma Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari, Chintya Dyah Cicilia Sinabariba, Santa Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto, Donik Agus DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum, Dwi Eggie Nurmahabbi, Eggie Eka Ardianto Farisa Dian Utami Febri Ariyadi Febriana Handayani, Febriana Frida Asih Pratiwi Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas Hazly Hasibuan, Afif Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana, Hendrikus Setya Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah, Hilda I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan, Ibrahim Muhammad Imam Muttaqin, Imam Indah Puspawardhani Indra Septia BW, Indra Septia Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Izzatussayidati, Fatma Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy, Jimmy Jody Suryamar Yudha Joyo NS Gono Kembang Soca Paranggani Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari, Kinanati Bunga Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina, Lintang Jati Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti, Luh Rani M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manalu, Rouli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Martia Mutiara Tasuki Melinda Wita Satryani Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi, Mohammad Akbar Rizal Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani N S Ulfa Nadia Dwi Agustina Nanik Sudaryningtyas, Nanik Nidya Aldila Nikolas Prima Ginting, Nikolas Prima Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho, Otto Fauzie Pipin F.P. Lestari, Pipin F.P. Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati, Pranamya Prescilla Roesalya R. Sigit Pandhu Kusumawardana Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Resty Widyanty Reza Rahardian Pratama Rifki Nur Pratiwi Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti, Rizka Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari, Rizqi Ganis Rony Kristanto Setiawan, Rony Kristanto Rosita Kemala Sari Septian Aldo Pradita Septiana Wulandari Suparyo, Septiana Wulandari Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Taufik Indra Ramadhan, Taufik Indra Taufik Reza Ardianto, Taufik Reza Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini, Teresia Kinta Theresia Dita Anggraini Titan Armaya Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vicho Whisnurangga, Vicho Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yuliantika Hapsari, Yuliantika Yunita Indriyaswari Zainul Asngadah Fatmawati Zulfikar Mufti