Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Jurnal Hortikultura

Penggunaan Jenis Entris, Posisi Sambungan, dan Posisi Penyisipan Entris pada Batang Bawah terhadap Keberhasilan Penyambungan dan Pemacuan Pertumbuhan Bibit Manggis Anwarudinsyah, Jawal Muhammad; Poerwanto, Roedhy; Sutrisno, Nono; Purnama, T; Fatria, D
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bibit manggis yang dihasilkan melalui teknik sambung pucuk berbuah lebih cepat dengan habitus tanamanrendah, sehingga akan mudah dikelola. Populasi tanaman persatuan luas lebih banyak karena jarak tanam yang rapat.Namun, pertumbuhan bibit yang dihasilkan dengan teknik tersebut sangat lambat dengan arah pertumbuhan yangmenyamping, sehingga bentuk kanopinya tidak menarik. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh jenis entris, posisisambungan, dan posisi penyisipan entris pada batang bawah terhadap keberhasilan sambung pucuk dan pemacuanpertumbuhan bibit manggis. Penelitian dilaksanakan di Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah TropikaSolok mulai bulan Juli 2003 sampai dengan Maret 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompokfaktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah jenis entris yang terdiri atas entris tengah dan samping. Faktorkedua ialah posisi sambungan, yaitu penyambungan pada bagian batang bawah yang masih sukulen dan pada bagianyang sudah berkayu. Faktor ketiga ialah penyisipan entris, yaitu entris disisipkan pada bagian yang lebar dan bagianyang sempit dari batang bawah. Setiap unit perlakuan terdiri atas lima tanaman. Peubah yang diamati meliputikeberhasilan penyambungan, frekuensi pecah tunas, jumlah daun, tinggi tanaman, diamater batang, jumlah cabanglateral, dan persentase bibit sambung yang tumbuh menyamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tunas tengahdan samping dapat digunakan sebagai entris dengan tingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibitsambung yang relatif sama (79-80%). Posisi penyambungan yang terbaik adalah pada ruas batang bawah yang berkayu.Penyisipan entris pada bagian yang lebar atau bagian sempit dari ruas batang bawah tidak banyak memengaruhitingkat keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan bibit sambung manggis.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, R. Poerwanto, N. Sutrisno, T. Purnama, and D. Fatria. 2010. TheEffect of Scion Type, Grafting Position, and Scion Insertion Position on the success of Rootstock Grafting andthe Growth of Grafted Mangosteen. The objective of this study was to determine the best scion type, grafting, andscion insertion position on rootstock on grafted mangosteen. This study was conducted at the Nursery of IndonesianTropical Fruit Research Institute Solok from July 2003 to March 2005 by using a factorial randomized block designwith three replications. The first factor was the scion types (autotroph and plagiotroph), the second factor was thegrafting position (in suculent and wooden tissues), and the third one was the scion insertion position on rootstock i.e.scion was inserted on the wide and narrow parts of rootstock. The observed variable were grafting successfulness,the frequency of flush, leaf number, plant height, stem diameter, and the number of lateral branch. The results of theexperiment indicated that autotroph and plagiotroph scions can be used for mangosteen grafting. Best position forgrafting was wooden part of rootstock. Inserting scion on the wide and narrow parts of rootstock did not affect thegrafting growth successfulness.
Korelasi Konsentrasi Hara Nitrogen Daun dengan Sifat Kimia Tanah dan Produksi Manggis Liferdi, Lukman; Poerwanto, Roedhy
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara  dan rekomendasi pupuk pada tanaman manggis. Namun demikian, standar teknik pengambilan contoh daun harus ditentukan secara akurat. Umur daun merupakan faktor utama dalam menentukan status hara tanaman buah. Daun yang tepat dijadikan contoh yaitu pada saat konsentrasi hara mempunyai korelasi terbaik dengan pertumbuhan dan hasil. Daun yang mempunyai korelasi terbaik tersebut digunakan dalam uji kalibrasi. Konsentrasi hara mineral pada daun diamati pada tiga sentra perkebunan manggis, yaitu Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Dua puluh pohon manggis dewasa yang relatif seragam dari masing-masing kebun diambil daunnya setiap bulan dan dianalisis untuk mengetahui konsentrasi hara N-nya. Contoh daun diambil mulai daun berumur 2 bulan setelah trubus dan seterusnya secara periodik hingga umur 10 bulan. Pengamatan produksi meliputi jumlah bunga yang mekar, jumlah bunga yang rontok, serta jumlah dan bobot  buah per pohon. Kualitas buah dilihat dari konsentrasi N, P, dan K dari masing-masing bagian buah dan padatan terlarut total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara nitrogen pada daun berkurang dengan bertambahnya umur. Konsentrasi N daun manggis asal Purwakarta lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor serta berkorelasi positif dengan hara N tanah dan hasil. Korelasi konsentrasi N dari beberapa umur daun dengan hasil yang paling baik yaitu daun umur 5 bulan dengan koefisien korelasi di atas 0,7. Oleh karena itu, umur daun yang tepat sebagai alat diagnosis hara N untuk tanaman manggis yaitu 5 bulan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.Leaf analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a fertilizer recommendation tool for mangosteen tree. Therefore, the sampling technique of standard leaf has to be established. Leave age was the main important factor to estimate fruits plant nutrient status. The best leaf sampling was the one which has the best correlation between leaf nutrients concentration with growth and yield as well. This leaf will be used in the calibration test. Leaf nutrient concentration was investigated in three mangosteen production areas i.e. Bogor, Tasikmalaya, and Purwakarta. To analyze N concentration of  twenty uniform and representative mangosteen trees, leaves were taken monthly. The results showed that concentration of N on the leaves decreased  following the increase of leaf age. Mangosteen leaves from Purwakarta contained more N than those from Tasikmalaya and Bogor. Fifth months leaf age was the best one to be used as a leaf sample to diagnose N nutritional status which coefficient correlation more than 0.7, because it had the best correlation among concentration of N in leaf with soil nitrogen nutrient and production.  This research results were used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen.
Perlakuan Air Panas dan Pengaturan Suhu Simpan untuk Mempertahankan Kualitas Buah Mangga (Mangifera indica L.) cv. Gedong Ilmi, Nadhirah Karimatul; Poerwanto, Roedhy; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.818 KB)

Abstract

Penanganan pascapanen yang  kurang tepat mengakibatkan kualitas buah mangga rendah dan kehilangan hasil. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian perlakuan pascapanen berupa perlakuan panas dan suhu penyimpanan pada buah mangga Gedong. Tujuan penelitian adalah menentukan perlakuan yang dapat mempertahankan kualitas pascapanen buah mangga Gedong. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan pola split plot terdiri atas dua faktor yaitu suhu pencucian (60±1°C, 53±1 °C, suhu air normal) dan suhu penyimpanan (suhu 18,1±1°C, 16,1±1°C, suhu ruang). Pencucian dengan suhu 53±1°C dapat digunakan untuk membersihkan buah. Perlakuan yang dapat menghambat perubahan susut bobot, kekerasan buah, kandungan asam (asam tertitrasi total), dan padatan terlarut total adalah penyimpanan pada suhu rendah (16,1±1°C dan 18,1±1°C). Perlakuan yang memberikan penampilan yang baik, dapat menekan perkembangan penyakit antraknos, dan menghambat perubahan warna buah adalah kombinasi perlakuan suhu pencucian 53±1°C  dengan suhu simpan 16,1±1°C.
Precooling dan Konsentrasi Etilen dalam Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Kulit Buah Jeruk Siam Arzam, Taruna Shafa; Hidayati, I; Poerwanto, Roedhy; Purwanto, Y A
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.429 KB)

Abstract

Degreening pada buah jeruk tropika dataran rendah seringkali gagal menghasilkan buah jeruk berwarna jingga, tetapi kuning. Warna jingga terbentuk dari campuran dua pigmen kulit jeruk, yaitu β-cryptoxanthin (kuning) dan ß-citraurin (kuning kemerahan). ß-citraurin sering kali tidak terbentuk pada buah jeruk tropika dataran rendah karena pembentukannya terjadi apabila buah terpapar suhu rendah saat pertumbuhannya. Precooling buah jeruk tropika dataran rendah diharapkan dapat mendorong pembentukan ß-citraurin karena jeruk yang sudah dipanen masih melakukan metabolisme. Konsentrasi etilen adalah salah satu faktor pembatas keberhasilan degradasi klorofil dalam degreening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh precooling sebelum degreening dan konsentrasi etilen terbaik pada degreening buah jeruk siam. Buah dipetik di kebun jeruk rakyat di Jember dan perlakuan degreening dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan precooling (dengan precooling dan tanpa precooling). Faktor kedua adalah konsentrasi etilen (0, 100, 200, 300 ppm). Perlakuan degreening buah jeruk siam asal Jember yang diawali dengan perlakuan precooling pada suhu 5oC menghasilkan jeruk berwarna jingga, sedangkan yang tanpa precooling menghasilkan warna kuning. Etilen 100 ppm adalah konsentrasi terbaik dalam degradasi klorofil. Perlakuan precooling dan degreening tidak berpengaruh buruk pada kandungan asam dan gula buah jeruk.
Aplikasi Kalsium dan Boron untuk Pengendalian Cemaran Getah Kuning Pada Buah Manggis Purnama, Titin; Poerwanto, Roedhy; Efendi, E
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.046 KB)

Abstract

Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya mutu buah manggis. Keseimbangan ketersediaan hara kalsium (Ca) dan boron (B) dalam tanah diduga berperan penting dalam pengendalian cemaran getah kuning pada buah manggis. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kombinasi dosis kalsium dan boron yang tepat untuk mencegah cemaran getah kuning pada buah manggis. Penelitian dilaksanakan di Purwakarta, Jawa Barat dari Bulan Nopember 2012 sampai Juni 2013. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor yaitu dosis Ca (0,0; 2,5; 5,0; dan 7,5 kg/pohon) dan dosis B (0,00; 0,77; 1,55; dan 2,32 g/pohon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Ca dan B dapat menurunkan persentase dan skor cemaran getah kuning pada aril dan kulit buah. Terjadi interaksi pemberian Ca dan B terhadap skor dan persentase cemaran getah kuning pada aril. Persentase cemaran getah kuning pada aril terendah (2,67%) diperoleh pada kombinasi dosis 5,0 kg Ca/pohon+1,55g B/pohon. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman kombinasi dosis Ca dan B untuk menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis.
Aplikasi Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan Strangulasi untuk Induksi Pembungaan di Luar Musim Pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Darmawan, Muhammad; Poerwanto, Roedhy; Susanto, S
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.548 KB)

Abstract

Paclobutrazol sebagai zat penghambat biosintesis giberelin selama ini telah digunakan secara luas untuk mengatur produksi di luar musim beberapa buah tropika, namun zat ini meninggalkan residu yang panjang. Prohexadion-Ca adalah zat penghambat biosintesis giberelin yang dalam penggunaannya tidak meninggalkan residu, namun belum pernah diuji efektifitasnya dalam mengatur produksi buah di luar musim. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknologi produksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan blok terpisah (split block design). Penelitian berlangsung dari bulan November 2012 sampai Mei 2013. Hasil penelitian menunjukan perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi dapat mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman jeruk keprok. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat mulainya muncul bunga  dibandingkan dengan perlakuan Paclobutrazol dan dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah sama dengan Paclobutrazol. Penggunaan Prohexadion-Ca dapat dijadikan sebagai teknologi untuk memproduksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanaman.
Pengaruh Durasi Pemaparan Etilen dan Suhu Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Jeruk Siam Banyuwangi Ramadhani, Nurfitri; Purwanto, Y A; Poerwanto, Roedhy
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.34 KB)

Abstract

Jeruk siam pada umumnya berwarna hijau. Teknologi degreening yang tepat dapat memperbaiki warna kulit jeruk tropika menjadi jingga secara seragam. Degreening merupakan proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi dan membentuk warna kuning atau jingga (karotenoid) tanpa memengaruhi kualitas internal buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh durasi pemaparan etilen dan suhu degreening untuk memunculkan warna jingga pada jeruk siam Banyuwangi. Etilen 200 ppm diinjeksikan ke dalam box degreening yang berisi jeruk sebanyak 2,8 kg dan dipaparkan pada cooling chamber dengan suhu 15, 20 dan 25oC selama 0, 24, 48, dan 72 jam. Pemaparan etilen dilakukan dengan metode multiple shot. Setelah pemaparan, jeruk kemudian disimpan pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari, yaitu (a) pengamatan non-destruktif dilakukan dengan menggunakan color reader dan metode citrus color chart (CCC) untuk mengetahui perubahan warna dan (b) pengamatan destruktif dilakukan dengan mengukur kandungan klorofil dan karotenoid serta mengukur kekerasan, TPT, TAT, dan vitamin C untuk mengetahui perubahan fisikokimia jeruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi terbaik adalah durasi pemaparan etilen selama 48 jam dengan suhu 20oC yang dapat mengubah warna jeruk menjadi jingga cerah dan tidak memberikan pengaruh negatif terhadap kualitas internal buah.
Korelasi Konsentrasi Hara Nitrogen Daun dengan Sifat Kimia Tanah dan Produksi Manggis Liferdi, Lukman; Poerwanto, Roedhy
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.332 KB)

Abstract

Analisis daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara  dan rekomendasi pupuk pada tanaman manggis. Namun demikian, standar teknik pengambilan contoh daun harus ditentukan secara akurat. Umur daun merupakan faktor utama dalam menentukan status hara tanaman buah. Daun yang tepat dijadikan contoh yaitu pada saat konsentrasi hara mempunyai korelasi terbaik dengan pertumbuhan dan hasil. Daun yang mempunyai korelasi terbaik tersebut digunakan dalam uji kalibrasi. Konsentrasi hara mineral pada daun diamati pada tiga sentra perkebunan manggis, yaitu Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Dua puluh pohon manggis dewasa yang relatif seragam dari masing-masing kebun diambil daunnya setiap bulan dan dianalisis untuk mengetahui konsentrasi hara N-nya. Contoh daun diambil mulai daun berumur 2 bulan setelah trubus dan seterusnya secara periodik hingga umur 10 bulan. Pengamatan produksi meliputi jumlah bunga yang mekar, jumlah bunga yang rontok, serta jumlah dan bobot  buah per pohon. Kualitas buah dilihat dari konsentrasi N, P, dan K dari masing-masing bagian buah dan padatan terlarut total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara nitrogen pada daun berkurang dengan bertambahnya umur. Konsentrasi N daun manggis asal Purwakarta lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor serta berkorelasi positif dengan hara N tanah dan hasil. Korelasi konsentrasi N dari beberapa umur daun dengan hasil yang paling baik yaitu daun umur 5 bulan dengan koefisien korelasi di atas 0,7. Oleh karena itu, umur daun yang tepat sebagai alat diagnosis hara N untuk tanaman manggis yaitu 5 bulan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.Leaf analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a fertilizer recommendation tool for mangosteen tree. Therefore, the sampling technique of standard leaf has to be established. Leave age was the main important factor to estimate fruits plant nutrient status. The best leaf sampling was the one which has the best correlation between leaf nutrients concentration with growth and yield as well. This leaf will be used in the calibration test. Leaf nutrient concentration was investigated in three mangosteen production areas i.e. Bogor, Tasikmalaya, and Purwakarta. To analyze N concentration of  twenty uniform and representative mangosteen trees, leaves were taken monthly. The results showed that concentration of N on the leaves decreased  following the increase of leaf age. Mangosteen leaves from Purwakarta contained more N than those from Tasikmalaya and Bogor. Fifth months leaf age was the best one to be used as a leaf sample to diagnose N nutritional status which coefficient correlation more than 0.7, because it had the best correlation among concentration of N in leaf with soil nitrogen nutrient and production.  This research results were used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen.
Co-Authors ', Sobir , Dorly , Kasutjianingati , Lizawati , Sakhidin , Sobir , Sudarsono , Trikoesoemaningtyas , Widodo , Yudiwanti - Juanasri . SUHARSONO ABDUL MUNIF Abdul Qadir Achmad Surkati AGUS PURWITO Ahmad Ghozi Manshuri Ahmad Ghozi Mansyuri Ahmad S. Abidin Akmal, Ajmir Ali Nurmansyah Anas D Susila Anas D. Susila Anas Dinurrohman Susila ANDRIA AGUSTA Ani Kurniawati Ansyori Ansyori, Ansyori Asmini Budiani Bambang S . Purwoko Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Cenra Intan Hartuti Tuharea CICIK SURIANI D Fatria Darda Efendi Darda Effendi Darmawan Darmawan DEDY DURYADI DEWI SUKMA DIDY SOPANDIE Djoko Santoso DORLY DORLY E Efendi, E Edi Santosa Eko Setiawan Endang Gunawan Fauziyah Harahap Fumio Fukuda H., Nian Rimayanti HAJRIAL ASWIDINNOOR Hanifah Muthmainnah, Hanifah Heni Purnamawati Herry Cahyana Hiroshi Inoue I Hidayati, I I MADE ARTIKA I NYOMAN RAI Iman Rusmana Inanpi Hidayati Sumiasih, Inanpi Hidayati Indah Wulandari Iskandar Lubis Jawal Muhammad Anwarudinsyah JULIARNI JULIARNI Jumawati, Riana Kasutjianingati . Ketty Suketi Kuniyuki Saitoh Kurniadinata, Odit F. Kurniawan, Vandra La Ode Safuan Latifah K. Darusman LATIFAH KOSIM DARUSMAN Lukman Liferdi Maulana, Mohamad Akhbar Maulana, Mohamad Akhbar Memen Surahman Muhammad Arif Nasution Muhammad Darmawan, Muhammad Nadhirah Karimatul Ilmi, Nadhirah Karimatul Naohiro Kubota Nobuo Sugiyama Nono Sutrisno Nur Wahyu Sariningtias, Nur Wahyu Nurfitri Ramadhani, Nurfitri Nurul Khumaida Odit Ferry Kurniadinata, Odit Ferry Rahmat Budiarto Ramdan Hidayat Rd. Selvy Handayani Resa Sri Rahayu, Resa S Susanto SAMANHUDI, . Septirosya, Tiara Slamet Susanto Soaloon Sinaga sobir . SOEKISMAN TJITROSEMITO Sri Astuti Rais Sri Yuliani SRIANI SUJIPRIHATI Suci Rahayu SUDARSONO SUDARSONO SUDIRMAN YAHYA SURYO WIYONO Sutrisno sutrisno T Purnama Tanari, Yulinda Taruna Shafa Arzam, Taruna Shafa Tetty Chaidamsari, Tetty Titin Purnama TRI KOESOEMANINGTYAS Tri Muji Ermayanti Widodo . Widya Sari winarso D widodo Winarso D. Widodo Winarso D.Widodo, Winarso Winarso Dradjad Widodo Winarso Drajad Widodo Y A Purwanto, Y A Yunita, Roza Yunus, Ismadi