Articles

Found 32 Documents
Search

Seni dalam Perspektif Keilmuan: Berbagai Cara Kerja dan Pengetahuan Seni Piliang, Yasraf Amir
MELINTAS Vol 27, No 1 (2011)
Publisher : MELINTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.62 KB)

Abstract

The advanced nature of art owes to the fact that it involves the complexity of ´human´ in its process, with all the capacities: emotions, feelings, soul, mind, imagination, will, attitudes, perceptions, values ​​and meanings. Science and technology, by contrast, does not deal directly with these human dimensions. While at the beginning of this article ´science´ and ´art´ are seen as two completely different disciplines, in today development, particularly in the development of ‘post-modern science,’ the boundaries between them appear to be dissolving. The methods of science now even ´fuse´ with the ‘methods’ of art. Among the discoveries of science there have been used the ´paradigm of the art´ or the ´artistic courses of action´. In contrast, the patterns in art itself now also rely on scientific and technological discoveries, such as imaging technology (imagology) or virtual reality. What is developing in the discourse of searching ´knowledge´ in all areas is the so-called ´artistic paradigm´. ´Artistic paradigm´ is a model of searching for knowledge (truth, wisdom, beauty), by allowing the mind to move dynamically in the disorder, the black box, and chaos, but then to find a dynamic equilibrium in the so-called the ´edge of chaos´.
Creativity as the Conceptual and Pragmatic Framing of Mind Piliang, Yasraf Amir
MELINTAS Vol 27, No 2 (2011)
Publisher : MELINTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.62 KB)

Abstract

As a philosophical concept, creativity is generally understood as a mental capacity of generating something new that has never existed before: ideas, compositions, arrangements, concepts, systems, forms, styles or products. As a mental capacity, it is widely believed that the end product of creativity is ‘new idea’, as an absolute creation of ‘individual genius’. This general claim about ‘newness’ as a genuine product of creativity obscures the fact that an idea can only be generated based on previous ideas, through a mechanism of ‘repetition’. The disavowal of repetition as an integral part of the concept of creativity leads to certain form of framing, namely a ‘conceptual framing’, through which newness as a relevant concept is celebrated in discourse, while the concept of repetition is concealed as irrelevant. This framing distorts the true meaning of creativity. In addition, there is another form of framing, which is more pragmatic, namely an ‘economic framing’, through which  the profit motive of creativity is exposed, whereas social, cultural, educational, and spiritual motives are concealed. Both forms of concealment have fundamentally distorted the true functions, motives and aims of  creativity.
Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi Piliang, Yasraf Amir
Mediator Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model komunikasi posmodern yang dibangun berdasarkan paradigma simulasi (simulation), banalitas (banality), dan kecepatan (speed), telah menimbulkan tantangan yang serius pada konsep ‘komunikasi’ itu sendiri. Komunikasi yang dituntut berlangsung dalam tempo perubahan dan pertukaran yang tinggi—sebagai logika kapitalisme lanjut—telah menyebabkan terperangkapnya komunikasi dan bahasa di dalam mekanisme kecepatan. Logika kecepatan telah memusatkan kesadaran komunikator pada mekanisme medium, sehingga menjauhkan mereka dari makna (meaning) di balik komunikasi itu sendiri. Komunikasi kemudian digiring ke arah ‘pendangkalan bahasa’, banalitas dan simulakrum, yaitu lebih diutamakannya efekefek permukaan dan provokasi bahasa, ketimbang makna, tujuan dan kebenaran. Yang tercipta adalah bentuk ‘komunikasi skizofrenik’, yaitu bentuk komunikasi yang di dalamnya terjadi kegalauan bahasa, tanda, dan kode, yang menuju pada relativitas makna yang radikal. Model komunikasi posmodern, justru menerima kegalauan, ketidakpastian dan relativitas bahasa sebagai sebuah keniscayaan di dalam dunia yang semakin dibentuk oleh kecepatan.
Iklan, Informasi, atau Simulasi?: Konteks Sosial dan Kultural Iklan Piliang, Yasraf Amir
Mediator Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iklan terdiri dari tanda-tanda (signs). Dalan tanda, tercakup penanda (signifier), yakni materi yang diklankan: gambar, foto, atau ilstrasi; dan petanda (signified), yakni konsep atau makna di balik tanda tadi. Di sisi lain, iklan juga mencakup objek (produk yang diiklankan), konteks (gambar-gambar lain di sekitar objek, dan teks (tulisan, keterangan tertulis). Makna yang muncul bisa bersifat eksplisit, bisa pula implisit. Ketika sebuah iklan dikemas sesuai dengan realitas sesungguhnya dari produk yang ditawarkan, iklan tersebut menjadi semacam mirror of reality. Sebaliknya, bila kemasan iklan itu tidak sesuai dengan realitas produk yang sesungguhnya, maka ia menjadi semacam distorted mirror of reality. Distorted mirror of reality melahirkan simulasi dan kekerasan tanda. Dalam hal ini, iklan telah membangun logika baru: logika tanda dan logika citra. Tanda dan citra —bukan nilai utilitas, fungsi, atau substansi dtri produk— mengarahkan orang untuk membeli. Citra itu sendiri merupakan rangkaian ilusi yang disuntikkan pada komoditas. Tanda dimobilisasi ke dalam berbagai bentuk komoditas berdasarkan logika perbedaan; dan, dengan demikian, konsumsi menjadi sebuah sistem tanda. Orang tidak lagi membeli barang atas dasar fungsi atau substansi, melainkan makna simbolik. Dalam iklan, kini citra menjadi instrumen utama strategi penguasaan jiwa konsumen. Kemasan iklan demikian, pada akhirnya, membangun jurang antara citra yang ditampilkan dengan realitas produk sesungguhnya, dan pada gilirannya ia melakukan penipuan terhadap publik. Tentu saja ini harus dicarikan solusinya.
Semiotika Teks: Sebuah Pendekatan Analisis Teks Piliang, Yasraf Amir
Mediator Vol 5, No 2 (2004)
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semiotika mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu, serta mengkaji peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Semiotika teks adalah cabang semiotika, yang secara khusus mengkaji teks dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Analisis teks adalah cabang dari semiotika teks, yang secara khusus mengkaji teks sebagai sebuah ‘produk penggunaan bahasa’ berupa kumpulan atau kombinasi tanda-tanda. Teks didefinisikan sebagai pesan-pesan—baik yang menggunakan tanda verbal maupun visual; dan secara lebih spesifik, ia adalah pesan-pesan tertulis, yaitu produk bahasa dalam bentuk tulisan. Tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. Melalui konvensi sosial, ia menjadi punya makna dan nilai sosial. Menurut Saussure, ‘tanda’ merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang, yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan ‘bentuk’ atau ‘ekspresi’; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan ‘konsep’ atau ‘makna’. Sementara itu, Charles Sander Peirce mengelompokkan tipe tanda ke dalam tiga jenis, yaitu indeks, ikon, dan simbol. Indeks adalah tanda di mana hubungan penanda (signifier) dan petanda (signified) di dalamnya bersifat kausal, seperti hubungan antara asap dan api; ikon adalah tanda di mana hubungan antara penanda dan petandanya bersifat keserupaan (similitude); dan simbol adalah tanda yang hubungan penanda dan petandanya bersifat arbitrer atau konvensional. Analisis teks beroperasi pada dua jenjang: Pertama, analisis tanda secara individual, seperti jenis tanda, mekanisme atau struktur tanda, dan makna tanda secara individual. Kedua, analisis tanda sebagai sebuah kelompok atau kombinasi, yaitu kumpulantanda-tanda yang membentuk apa yang disebut sebagai ‘teks’. Analisis teks, menurut Roland Barthes, akan menghasilkan makna denotatif, yakni makna tanda yang bersifat eksplisit, dan makna konotatif, yaitu makna tanda lapis kedua yang bersifat implisit.
Posmodernisme dan Ekstasi Komunikasi Piliang, Yasraf Amir
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2001 - Volume 2, No 2
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model komunikasi posmodern yang dibangun berdasarkan paradigma simulasi (simulation), banalitas (banality), dan kecepatan (speed), telah menimbulkan tantangan yang serius pada konsep ‘komunikasi’ itu sendiri. Komunikasi yang dituntut berlangsung dalam tempo perubahan dan pertukaran yang tinggi—sebagai logika kapitalisme lanjut—telah menyebabkan terperangkapnya komunikasi dan bahasa di dalam mekanisme kecepatan. Logika kecepatan telah memusatkan kesadaran komunikator pada mekanisme medium, sehingga menjauhkan mereka dari makna (meaning) di balik komunikasi itu sendiri. Komunikasi kemudian digiring ke arah ‘pendangkalan bahasa’, banalitas dan simulakrum, yaitu lebih diutamakannya efekefek permukaan dan provokasi bahasa, ketimbang makna, tujuan dan kebenaran. Yang tercipta adalah bentuk ‘komunikasi skizofrenik’, yaitu bentuk komunikasi yang di dalamnya terjadi kegalauan bahasa, tanda, dan kode, yang menuju pada relativitas makna yang radikal. Model komunikasi posmodern, justru menerima kegalauan, ketidakpastian dan relativitas bahasa sebagai sebuah keniscayaan di dalam dunia yang semakin dibentuk oleh kecepatan.
TINJAUAN PARADOKS NILAI SAKRAL DAN PROFAN PADA PRODUK KEROHANIAN DALAM ANALISA SEMIOTIKA PEMASARAN Liem, Rinda; Piliang, Yasraf Amir
Product Design Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Product Design

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Produk merupakan artefak dan agen pembentuk dari sebuah kebudayaan. Dalam budaya konsumerisme, produk bertindak sebagai tanda yang dimanipulasi dalam komunikasi pemasaran. Fenomena sosial Profanisasi dan Sakralisasi yang terjadi didalamnya memperebutkan identitas ideologis antara agama dan konsumerisme melalui eksploitasi relasi paradoks antara tanda sakral dan tanda profan dari produk. Untuk menjabarkan fenomena tersebut penelitian ini menggunakan metoda Semiotika Pemasaran dan Etnografi untuk menganalisa tinjauan produk dan fenomena pasarnya. Berdasarkan analisa dan tinjauan yang dilakukan ditemukan sebuah relasi yang menghubungkan antara desain produk, agama dan konsumerisme dalam konteks sakral dan profan. Relasi tersebut dapat disimpulkan sebagai peluang pasar dalam desain berbasis keimanan.Kata Kunci : – Agama, Desain, Profan, Sakral, Semiotika PemasaranAbstractA product is an artifact that mirroring the culture it expressed and also the changing agent of the same culture. In the case of consumerism, a product perform as a sign that is being manipulated for marketing communication. In Profanisation and Sacralization phenomenon the ideological identity that was formed in religion is now being contended in consumerism through the exploitation of the value of the sacred and the profane in an object. This research will be conducted in using marketing semiotic and ethnography to analyze the problem through the eye of the market. Based on the analysis and the review conducted, this research concludes a relation that links between a product design, religion and consumerism in the context of the phenomenon. This relation can be summed up as a market opportunity in faith-based design.
PENERAPAN METAFORA GERAKAN TARI SAMAN PADA PRODUK LIGHTING Ramadhiyanti, Tri Utami; Piliang, Yasraf Amir
Product Design Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Product Design

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Saman merupakan salah satu tarian Indonesia yang sudah mendunia. Tari Saman memiliki banyak makna yang dapat disampaikan baik dari segi religius maupun sosial. Makna sosialnya mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, serta kesatuan. Gerakannya yang dinamis dapat membuat orang yang menghayatinya ikut bersemangat. Makna sebuah tarian yang tidak selalu tersampaikan dengan baik dan akan dikonstruksikan dalam media baru yang interaktif. Media baru tersebut merupakan sebuah elemen estetis yang diletakkan di tempat publik di mana terjadi banyak interaksi. Proyek ini akan menyatukan antara seni tari dengan desain produk yang interaktif. Diharapkan bahwa produk yang didesain dapat membangkitkan semangat dan kebersamaan di tempat publik sesuai dengan makna Tari Saman yang akan disampaikan
Produk Peredam Stres untuk Aktifitas Kantor bagi Wanita Karir dengan Stimulus Pada Indera Manusia Fatima, Anindi Maulidya; Piliang, Yasraf Amir
Product Design Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Product Design

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, perubahan tatanan masyarakat dan tingginya tingkat ilmu pengetahuan mentransformasikan peran wanita sebagai pencari nafkah. Namun pada praktiknya, terdapat berbagai kendala yang dialami wanita dalam melakukan aktifitas di kantor, seperti terbatasnya ruang gerak dan lamanya waktu kerja. Keterbatasan ini meningkatkan stress yang memupuk dan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan dampak buruk bagi wanita karir. Stres yang dialami wanita karir tersebut dapat diminimalisir melalui beragam metode relaksasi yang dikemas dalam sebuah produk interaktif yang mudah digunakan. Persepsi menenangkan yang diciptakan oleh stimulus pada indera penglihatan, pendengaran, dan peraba didapat berdasarkan kajian psikologi dan tinjauan kepada wanita karir sebagai landasan data faktual dalam pengembangan produk
ALAT EDUKASI MEMOTONG SAYURAN PADA ANAK USIA 6-10 TAHUN Sakiinah, Ummu; Piliang, Yasraf Amir
Product Design Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Product Design

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perangkat memotong sayuran untuk anak sebagai sarana edukasi memasak bagi anak bertujuan mendekatkan interaksi anak dengan bahan makanan melalui kegiatan masak, mengingat kegiatan masak berpengaruh positif terhadap perilaku makan anak. Anak masih memiliki kekurangan dalam skill dan teknik memasak, tapi seharusnya tidak menghalangi anak untuk memasak. Produk edukasi masak untuk anak disesuaikan dengan antropometri tubuh anak, dan juga karakteristik anak serta adanya pemasukan unsur yang menarik bagi anak juga dipertimbangkan. Kekhawatiran orangtua terhadap kemampuan anak dalam memasak dapat dibantu dengan adanya produk yang mengedukasi anak dalam memasak terutama kegiatan memotong untuk dilakukan dalam rangkaian kegiatan memasak bersama orang tua dengan lebih menyenangkan.// //