Siswanto PHM
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

FUNGSI DAN PERAN KATA BERPREFIKS MENG- DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA

SASINDO Vol 1, No 1 Januari (2013): SASINDO
Publisher : SASINDO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembahasan prefiks meng- yang dilakukan oleh Alisjahbana (1948), Mess (1957),Wojowasito ( 1978), Ramlan (1981), Kridalaksana (1987, 1990) mempersoalkan pembentukan kata,karakteristik, dan kategori kata. Pembahasan yang dilakukan baru menyangkut konsep dan kriteriapenggolongan kata. Pembahasan kata berprefiks meng- sebagai unsur pusat di dalam relasiparadigmatik belum maksimal.Dengan demikian, masalah yang menyangkut fungsi dan peran kataberprefiks meng- dalam bahasa Indonesia penting untuk diteliti. Dengan penelitian tentang fungsidan peran kata berprefiks meng- diharapkan menjadi lebih mendalam.Pendekatan yang digunakandalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Untuk membuktikan adanya prefiks mengpembentukverba yang berfungsi dan berperan dalam penataan kalimat, digunakan juga pendekatanword and paradigm (WP) dengan memanfaatkan teori struktural.Data penelitian ini mencakupi datatulisan dan data lisan yang berasal dari pemakaian bahasa Indonesia pada kurun waktu 2000 sampai dengan 2011. Data tulis dikumpulkan dengan teknik dasar penyadapan dan teknik lanjutanpencatatan, sedang data lisan dijaring melalui teknik konfirmasi dan teknik wawancara. Dalampenelitian ini akan dilakukan kajian pada setiap bentuk berprefiks meng- pembentuk verba akandikaitkan fungsi, makna gramatikal, dan perannya. Dengan cara kerja ini akan diketahui adanyakata berprefiks meng- yang memiliki fungsi, makna, dan peran yang berbeda-beda.Ketransitifanprefiks meng- + (-kan) bermakna: a) melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar,berfungsi P, berperan perbuatan aktif, serta berobjek, b)) ketransitifan prefiks meng- + -kanbermakna melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar (benefaktif)), berfungsi P,berperan perbuatan aktif, serta berobjek (dan berpelengkap); 2) ketaktransitifan prefiks mengbermakna:a) menjadi, b) menyerupai, c) makan/minum, d)) menuju, e) mencari/mengumpulkan,dan berfungsi P, dan berperan keadaan, serta nomor 2.a) sampai dengan 2.i)) tidak memiliki sasaran(objek).Kata Kunci: Prefiks meng-, Fungsi, Peran

FUNGSI DAN PERAN KATA BERPREFIKS MENG- DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA

SASINDO Vol 1, No 1 Januari (2013): SASINDO
Publisher : SASINDO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembahasan prefiks meng- yang dilakukan oleh Alisjahbana (1948), Mess (1957),Wojowasito ( 1978), Ramlan (1981), Kridalaksana (1987, 1990) mempersoalkan pembentukan kata,karakteristik, dan kategori kata. Pembahasan yang dilakukan baru menyangkut konsep dan kriteriapenggolongan kata. Pembahasan kata berprefiks meng- sebagai unsur pusat di dalam relasiparadigmatik belum maksimal.Dengan demikian, masalah yang menyangkut fungsi dan peran kataberprefiks meng- dalam bahasa Indonesia penting untuk diteliti. Dengan penelitian tentang fungsidan peran kata berprefiks meng- diharapkan menjadi lebih mendalam.Pendekatan yang digunakandalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Untuk membuktikan adanya prefiks mengpembentukverba yang berfungsi dan berperan dalam penataan kalimat, digunakan juga pendekatanword and paradigm (WP) dengan memanfaatkan teori struktural.Data penelitian ini mencakupi datatulisan dan data lisan yang berasal dari pemakaian bahasa Indonesia pada kurun waktu 2000 sampai dengan 2011. Data tulis dikumpulkan dengan teknik dasar penyadapan dan teknik lanjutanpencatatan, sedang data lisan dijaring melalui teknik konfirmasi dan teknik wawancara. Dalampenelitian ini akan dilakukan kajian pada setiap bentuk berprefiks meng- pembentuk verba akandikaitkan fungsi, makna gramatikal, dan perannya. Dengan cara kerja ini akan diketahui adanyakata berprefiks meng- yang memiliki fungsi, makna, dan peran yang berbeda-beda.Ketransitifanprefiks meng- + (-kan) bermakna: a) melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar,berfungsi P, berperan perbuatan aktif, serta berobjek, b)) ketransitifan prefiks meng- + -kanbermakna melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar (benefaktif)), berfungsi P,berperan perbuatan aktif, serta berobjek (dan berpelengkap); 2) ketaktransitifan prefiks mengbermakna:a) menjadi, b) menyerupai, c) makan/minum, d)) menuju, e) mencari/mengumpulkan,dan berfungsi P, dan berperan keadaan, serta nomor 2.a) sampai dengan 2.i)) tidak memiliki sasaran(objek).Kata Kunci: Prefiks meng-, Fungsi, Peran

PELATIHAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU BAHASA INDONESIA SE-KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK

E-DIMAS Vol 5, No 02 September (2014): e-dimas
Publisher : E-DIMAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDari hasil pengamatan secara umum, guru masih kurang memahami konsep dasar kurikulum 2013. Hal itu disebabkan guru masih mengacu pada konsep pembelajaran lama yaitu menyampaikan materi secara instan tanpa melibatkan kreativitas siswa. Padahal konsep dasar kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang berorientasi pada hasil atau produk yang dihasilkan secara mandiri oleh siswa. Selain itu, kurikulum 2013 mengunakan pendekatan ilmiah, namun sebagian besar guru masih belum menguasai penggunaan tekonologi, seperti pemakaian komputer dan LCD yang secara umum digunakan dalam kurikulum 2013 ini. Kemudian, masih terbatasnya diklat, pelatihan, dan sosialisasi yang memadai dan berkompeten, serta kurangnya pendampingan oleh ahli mengenai pelaksanaan kurikulum ini, menjadikan kondisi tersebut semakin membutuhkan perhatian lebih. Belum lagi jika sejumlah pelatihan yang memang telah diikuti tidak memberikan pencerahan, tetapi justru membuat pada guru tersebut semakin bingung mengenai konsep dasar kurikulum 2013 yang seharusnya sudah mulai dijalankannya dengan baik. Kenyataan menunjukan bahwa pemahaman dan penguasaan guru terhadap kurikulum 2013 masih kurang, khususnya guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Sayung kabupaten Demak. Perlu adanya pelatihan untuk memahamkan penerapan kurikulum 2013. Dengan demikian, diharapkan guru tersebut dapat diaplikasikan dalam sistem pembelajaran di sekolah yang bersangkutan. Dalam pelaksanaannya, program ini memperoleh perhatian yang baik, di antaranya yang tampak pada keseriusan dalam mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Selain itu, guru pun tampak berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab sebagai tanggapan positif dari materi yang telah disampaikan. Setelah proses pendampingan, guru memperoleh pemahaman yang lebih baik sehingga diharapkan guru dapat mengaplikasikan konsep kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di kelas.Kata kunci: kurikulum 2013, pelatihan

PENYULUHAN PEMEROLEHAN BAHASA ANAK BAGI WARGA BANGETAYU KULON GENUK SEMARANG GUNA MENDUKUNG KOTA LAYAK ANAK

E-DIMAS Vol 6, No 01 MARET (2015): E-DIMAS
Publisher : E-DIMAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Bahasa adalah karakter. Bahasa yang santun mencerminkan pribadi yang santun. Pun sebaliknya. Pembiasan bahasa yang baik juga sangat mempengaruhi karakter seorang manusia. Dengan kata lain pemerolehan bahasa adalah proses bagaimana seseorang dapat berbahasa atau proses anak-anak pada umumnya memperoleh bahasa pertama. Pemerolehan bahasa pada anak usia dua sampai tiga tahun terjadi secara alamiah. Pemeroleh bahasa biasanya secara natural artinya pemerolehan bahasa yang terjadi secara alamiah tanpa disadari bahwa seorang anak tengah memperoleh bahasa, tetapi hanya sadar akan kenyataan bahwa ia tengah menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Dalam penyuluhan ini, solusi yang ditawarkan adalah memberi penyuluhan dengan strategi kronologis. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan dalam kegiatan IbM ini adalah penyuluhan dan pendampingan. Materi yang diberikan meliputi: konsep berbahasa     Indonesia yang Baik dan Benar, Kesantunan Berbahasa, Komunikasi Efektif, Keterampilan Berbicara. Tahap pertama ini, tim pengabdian memberikan materi dasar dan pendampingan yang mengarah pada pemahaman mitra untuk mengajarkan anak berkomunikasi berbahasa Indonesia yang baik dan santun. Setelah penyampaian materi tersebut dilakukan, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan praktik. Hasil dari kegiatan ini: (1) warga terampil berbahasa Indonesia yang baik dan benar; (2) warga terampil menciptakan lingkungan bahasa yang ramah anak; (3) anak-anak memperoleh hak berbahasa yang baik dan santun.   Kata kunci: pemerolehan bahasa anak, warga Bangetayu Kulon  

FUNGSI DAN PERAN KATA BERPREFIKS MENG- DALAM KALIMAT BAHASA INDONESIA

SASINDO Vol 1, No 1 Januari (2013): SASINDO
Publisher : SASINDO

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.045 KB)

Abstract

Pembahasan prefiks meng- yang dilakukan oleh Alisjahbana (1948), Mess (1957),Wojowasito ( 1978), Ramlan (1981), Kridalaksana (1987, 1990) mempersoalkan pembentukan kata,karakteristik, dan kategori kata. Pembahasan yang dilakukan baru menyangkut konsep dan kriteriapenggolongan kata. Pembahasan kata berprefiks meng- sebagai unsur pusat di dalam relasiparadigmatik belum maksimal.Dengan demikian, masalah yang menyangkut fungsi dan peran kataberprefiks meng- dalam bahasa Indonesia penting untuk diteliti. Dengan penelitian tentang fungsidan peran kata berprefiks meng- diharapkan menjadi lebih mendalam.Pendekatan yang digunakandalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Untuk membuktikan adanya prefiks mengpembentukverba yang berfungsi dan berperan dalam penataan kalimat, digunakan juga pendekatanword and paradigm (WP) dengan memanfaatkan teori struktural.Data penelitian ini mencakupi datatulisan dan data lisan yang berasal dari pemakaian bahasa Indonesia pada kurun waktu 2000 sampai dengan 2011. Data tulis dikumpulkan dengan teknik dasar penyadapan dan teknik lanjutanpencatatan, sedang data lisan dijaring melalui teknik konfirmasi dan teknik wawancara. Dalampenelitian ini akan dilakukan kajian pada setiap bentuk berprefiks meng- pembentuk verba akandikaitkan fungsi, makna gramatikal, dan perannya. Dengan cara kerja ini akan diketahui adanyakata berprefiks meng- yang memiliki fungsi, makna, dan peran yang berbeda-beda.Ketransitifanprefiks meng- + (-kan) bermakna: a) melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar,berfungsi P, berperan perbuatan aktif, serta berobjek, b)) ketransitifan prefiks meng- + -kanbermakna melakukan aktivitas kegiatan yang dinyatakan oleh kata dasar (benefaktif)), berfungsi P,berperan perbuatan aktif, serta berobjek (dan berpelengkap); 2) ketaktransitifan prefiks mengbermakna:a) menjadi, b) menyerupai, c) makan/minum, d)) menuju, e) mencari/mengumpulkan,dan berfungsi P, dan berperan keadaan, serta nomor 2.a) sampai dengan 2.i)) tidak memiliki sasaran(objek).Kata Kunci: Prefiks meng-, Fungsi, Peran

PELATIHAN KURIKULUM 2013 BAGI GURU BAHASA INDONESIA SE-KECAMATAN SAYUNG KABUPATEN DEMAK

E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2014): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.31 KB)

Abstract

AbstrakDari hasil pengamatan secara umum, guru masih kurang memahami konsep dasar kurikulum 2013. Hal itu disebabkan guru masih mengacu pada konsep pembelajaran lama yaitu menyampaikan materi secara instan tanpa melibatkan kreativitas siswa. Padahal konsep dasar kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang berorientasi pada hasil atau produk yang dihasilkan secara mandiri oleh siswa. Selain itu, kurikulum 2013 mengunakan pendekatan ilmiah, namun sebagian besar guru masih belum menguasai penggunaan tekonologi, seperti pemakaian komputer dan LCD yang secara umum digunakan dalam kurikulum 2013 ini. Kemudian, masih terbatasnya diklat, pelatihan, dan sosialisasi yang memadai dan berkompeten, serta kurangnya pendampingan oleh ahli mengenai pelaksanaan kurikulum ini, menjadikan kondisi tersebut semakin membutuhkan perhatian lebih. Belum lagi jika sejumlah pelatihan yang memang telah diikuti tidak memberikan pencerahan, tetapi justru membuat pada guru tersebut semakin bingung mengenai konsep dasar kurikulum 2013 yang seharusnya sudah mulai dijalankannya dengan baik. Kenyataan menunjukan bahwa pemahaman dan penguasaan guru terhadap kurikulum 2013 masih kurang, khususnya guru bahasa Indonesia di sekolah-sekolah yang ada di kecamatan Sayung kabupaten Demak. Perlu adanya pelatihan untuk memahamkan penerapan kurikulum 2013. Dengan demikian, diharapkan guru tersebut dapat diaplikasikan dalam sistem pembelajaran di sekolah yang bersangkutan. Dalam pelaksanaannya, program ini memperoleh perhatian yang baik, di antaranya yang tampak pada keseriusan dalam mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir. Selain itu, guru pun tampak berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab sebagai tanggapan positif dari materi yang telah disampaikan. Setelah proses pendampingan, guru memperoleh pemahaman yang lebih baik sehingga diharapkan guru dapat mengaplikasikan konsep kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran di kelas.Kata kunci: kurikulum 2013, pelatihan

PENYULUHAN PEMEROLEHAN BAHASA ANAK BAGI WARGA BANGETAYU KULON GENUK SEMARANG GUNA MENDUKUNG KOTA LAYAK ANAK

E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2015): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.532 KB)

Abstract

Abstrak ?é?á Bahasa adalah karakter. Bahasa yang santun mencerminkan pribadi yang santun. Pun sebaliknya. Pembiasan bahasa yang baik juga sangat mempengaruhi karakter seorang manusia. Dengan kata lain pemerolehan bahasa adalah proses bagaimana seseorang dapat berbahasa atau proses anak-anak pada umumnya memperoleh bahasa pertama. Pemerolehan bahasa pada anak usia dua sampai tiga tahun terjadi secara alamiah. Pemeroleh bahasa biasanya secara natural artinya pemerolehan bahasa yang terjadi secara alamiah tanpa disadari bahwa seorang anak tengah memperoleh bahasa, tetapi hanya sadar akan kenyataan bahwa ia tengah menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Dalam penyuluhan ini, solusi yang ditawarkan adalah memberi penyuluhan dengan strategi kronologis. Metode pelaksanaan kegiatan yang digunakan dalam kegiatan IbM ini adalah penyuluhan dan pendampingan. Materi yang diberikan meliputi: konsep berbahasa ?é?á ?é?á Indonesia yang Baik dan Benar, Kesantunan Berbahasa, Komunikasi Efektif, Keterampilan Berbicara. Tahap pertama ini, tim pengabdian memberikan materi dasar dan pendampingan yang mengarah pada pemahaman mitra untuk mengajarkan anak berkomunikasi berbahasa Indonesia yang baik dan santun. Setelah penyampaian materi tersebut dilakukan, peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan praktik. Hasil dari kegiatan ini: (1) warga terampil berbahasa Indonesia yang baik dan benar; (2) warga terampil menciptakan lingkungan bahasa yang ramah anak; (3) anak-anak memperoleh hak berbahasa yang baik dan santun. ?é?á Kata kunci: pemerolehan bahasa anak, warga Bangetayu Kulon ?é?á