Articles

Found 3 Documents
Search

Bimbingan Karir Terintegrasi dalam Mata Pelajaran Fisika/Sains Budiyuwono, Heriyanto; Soenarto, Soenarto; PH, Slamet
Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) Prosiding SNFA (Seminar Nasional Fisika dan Aplikasinya) 2017
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.14 KB)

Abstract

Abstract: This study aimed to: (1) help students determine the choice of majors/areas of expertise, (2) improve career guidance services in schools, and (3) produce a pattern of effective career guidance to help students determine school.This study was research by project using Kurt Lewin model. The guidance was held by considering the students' academic and non-academic abilities and the supports of the families, schools and the occupations in order that the students were able to choose schools that fitted their conditions and job opportunities. The study was conducted at SMP Negeri 4 Ponjong. The techniques of collecting the data included: questionnaires, interviews, observation, and documentation. The data were analyzed using Spradley's qualitative data analysis.The conclusions of this study are that: (1) career guidance in SMP requires the involvement of all stakeholders in order to be effective, (2) the existing cooperation is based on the principle of mutual benefit, and (3) the students are able to determine what kind of school they want to enter by considering the employment opportunities and economic conditions. Abstrak: Studi ini bertujuan untuk: (1) membantu siswa menentukan pilihan jurusan/ bidang keahlian, (2) meningkatkan pelayanan bimbingan karir di sekolah, dan (3) menghasilkan pola bimbingan karir yang efektif untuk membantu siswa menentukan sekolah lanjutan. Studi ini merupakan penelitian tindakan yang mempergunakan model penelitian Kurt Lewin. Bimbingan dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan akademis dan nonakademis siswa, daya dukung keluarga, sekolah dan dunia kerja guna mengarahkan siswa pada pilihan sekolah yang sesuai dengan kondisi siswa, dan peluang dunia kerja. Studi dilakukan di SMP Negeri 4 Ponjong. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam studi ini meliputi: kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif menggunakan model Spradley. Kesimpulan dari studi ini adalah (1) bimbingan karir di SMP memerlukan keterlibatan semua stakeholder agar dapat berjalan dengan efektif, (2) kerjasama yang terjalin berdasarkan prinsip saling menguntungkan, dan (3) siswa mampu membuat pilihan sekolah lanjutan dengan mempertimbangkan peluang kerja dan kondisi ekonomi.
KONSTRIBUSI KEBIJAKAN PENINGKATAN JUMLAH SISWA SMK TERHADAP PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA PH, Slamet
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN EDISI OKTOBER 2016, TH. XXXV, NO. 3
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.649 KB)

Abstract

Abstrak: Untuk mendukung pembangunan ekonomi, Kementerian Pendidikan Nasional membuat kebijakan yang signifikan tentang proporsi jumlah siswa SMA dan SMK dari 57,85%:42,15% pada tahun 2007 dan menjadi 30%:70% pada tahun 2014. Kebijakan tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran. Kebijakan tersebut hanya didasarkan atas asumsi dan bukan data. Tujuan penelitian ini untuk: (1) menemukan proporsi jumlah siswa SMA dibanding siswa SMK tahun 2007 dan tahun 2014; (2) menemukan besarnya dukungan perbanyakan jumlah siswa SMK terhadap pertumbuhan ekonomi; (3) menemukan kontribusi ekspansi jumlah siswa SMK terhadap pengurangan pengangguran; (4) menyusun konsep proporsi jumlah siswa SMA dan SMK yang selaras dengan kebutuhan pembangunan ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan bahwa: (1) proporsi jumlah siswa SMA:SMK pada tahun 2014 adalah 51%:49%; (2) peningkatan jumlah siswa SMK tidak mendukung pertumbuhan ekonomi; (3) peningkatan jumlah siswa SMK menyebabkan tingkat pengangguran lulusan SMK makin tinggi; dan (4) idealnya, proporsi jumlah siswa SMA dan SMK didasarkan atas kebutuhan tenaga kerja. Kata kunci: proporsi, konstribusi, pertumbuhan ekonomi, dan pengagguran THE CONTRIBUTION OF POLICY OF INCREASING THE NUMBER OF VOCATIONAL STUDENTS TO ECONOMIC DEVELOPMENT IN INDONESIA Abstract: To support economic development, The National Education Ministry made significant policy regarding the ratio of general secondary school students to vocational secondary school students from 57.85%:42.15% in 2007 to 30%:70% by 2014, supposedly. It is expected that the policy can support economic growth dan reduce unemployment. This policy change was decided based on assumption only and not based on accurate labor information. The objectives of this study were to find out: (1) proportion of general and vocational school students in 2007 and 2014; (2) the support to economic development from increasing the number of vocational secondary school students in 2007 and 2014; (3) to find out the contribution of increasing the number of vocational school students to unemployment reduction; and (4) the concept of link & match between vocational school and the world of work in terms of quantity.The research method used to achieve the objectives of research was descriptive quantitative. The research found that: (1) the ratio of general and vocational secondary school students was 51%:49% in 2014; (2) increasing the number of vocational school students did not support economic growth; (3) increasing the number of vocational school students increased unemployment of vocational school graduates; and (4) ideally, proportion of general and vocational students must be based on the needs of labor. Keywords: proportion, contribution, economic growth, and unemployment
POLITIK PENDIDIKAN INDONESIA DALAM ABAD KE-21 PH, Slamet
Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN OKTOBER 2014, TH. XXXIII, NO. 3
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.889 KB)

Abstract

Abstrak: Arah politik pendidikan Indonesia masih mosaik dan kurang meng-Indonesia, yang ditunjukkan oleh kebijakan, perencanaan, dan penganggaran yang kurang berpijak pada bumi nusantara. Idealnya, arah politik pendidikan Indonesia harus meng-Indonesia yaitu pembangunan pendidikan yang berpijak pada Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, karakteristik, kekayaan, dan ragam kebutuhan Indonesia yaitu kebutuhan peserta didik, keluarga, masyarakat, dan berbagai sektor pembangunan dan sub-sub sektornya, selain harus mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal seraya memenuhi kebutuhan nasional dan tuntutan global. Indonesia tidak perlu kuatir terpelanting dalam era kesejagatan, asal tingkat kesiapan untuk menghadapinya memadai. Strategi politik pendidikan yang harus ditempuh untuk menghadapi abad ke-21 adalah menyeleksi nilai-nilai yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk diajarkan kepada peserta didik dan secara aktif memberikan kontribusi terhadap pembangunan pendidikan dunia. Kata Kunci: arah politik pendidikan Indonesia, pendidikan yang meng-Indonesia, strategi politik pendidikan IndonesiaINDONESIAN EDUCATION POLITICS IN THE TWENTY FIRST CENTURY Abstract: The direction of Indonesian education politics is still mosaic and lacks of Indonesian based education, showed by policies, plans, and budgets which are not based on real needs of the country. Ideally, the direction of Indonesian education politics must be based on Pancasila, Constitution 1945, United Indonesia, Diversity in Unity, characteristics, resources/capitals, and diversified needs of Indonesia i.e. student, family, community, and development sectors and their subs sectors, and at the same time accommodating local wisdoms, complying national requirements and fulfilling national needs and actively contributing to the world education development. It is not necessary for Indonesia to worry about global challenges as long as Indonesia is well prepared to confront them. The chosen education political strategy to confront the twenty first century is by selecting values relevant to the needs of Indonesia and actively contributing the world education development. Keywords: direction of Indonesian education politics, Indonesia based education, political strategy of Indonesian education PENDAHULUAN Kehidupan yang diciptakan oleh-Nya selalu berpasang-pasangan. Kalau ada sebab (tujuan yang akan dicapai), pasti ada akibat (upaya-upaya yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan). Kehidupan adalah perubahan dan siapa yang tidak mau berubah akan punah. Perubahan akan terus berlangsung, dengan atau tanpa kita. Untuk mengikuti perubahan, manusia harus selalu berjuang, memperbaiki diri melalui belajar, belajar ulang, dan bahkan melupakan pembelajaran masa lalu yang tidak lagi selaras dengan tuntutan zaman. Pendidikan nasional dapat dikategorikan sebagai kehidupan karena memiliki 324 sifat untuk berubah, baik dalam tuj