Articles

Found 24 Documents
Search

Biochemical Genetic Analysis Of Three Population Of Marble Grouper, Epinephelus polypekhadion Permana, Gusti Ngurah; Haryanti, Haryanti; Moria, Sari Budi; Giri, Nyoman Adiasmara; Sugama, Ketut
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Genetic variations of marble groupers, Epinephelus polypekhadion were evaluated to know genetic performance of fish to support fish seed production. Fifty fish samples from three locations i.e. West Nusa Tenggara, South Sulawesi and East Java were collected for analysis. Genetic analysis has been examined through allozyme electrophoresis by using 11 enzymes (ADH, GPI, SDH, IDH, LDH, ME, PGM, 6PGD, MPI, SP, EST). The result showed that 16 loci were detected, and three of them were polymorphism enzymes namely Isocitric dehydrogenase (IDH*), Glucose Phosphate Isomerase (GPI-1*) and Esterase (EST-2*). One locus (EST-2) was polymorphic in the East Java and West Nusa Tenggara populations and three loci (EST-2, GPI-1 and IDH) were polymorphic in the South Sulawesi population. The heterozygosity ranged from 0.007 to 0.034. Rogers genetic distance between population pairs were ranged from 0.005 to 0.012 (average = 0.009). Differences between genetic populations were significant (P<0.05). East Java and West Nusa Tenggara populations have same gene pool.
Polimorfisme Enzim Glucose-6-Phosphate Isomerase pada Tiga Populasi Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) Permana, Gusti Ngurah; Hutapea, Jhon H.; Moria, Sari Budi; Haryanti, Haryanti
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Samples of yellowfin tuna (Thunnus albacares) were taken from three locations Bali, North Sulawesi and North Maluku. The glucose-6-phosphate isomerase (GPI) was analyzed from liver using allozyme electrophoresis method. Polymorphism of GPI enzyme was observed and four alleles (A, B ,C, D) were found in Bali population, three alleles (A,B,C) were found in North Maluku and North Sulawesi populations. Heterozygosity values, from Bali, North Maluku and North Sulawesi were 0.419; 0.417; 0.143 respectively. Genetic distance between North Sulawesi and North Maluku were 0.029, and with Bali population was 0.353. These results indicated that North Maluku and North Sulawesi population were not separate by geographic barrier, therefore genetic distance of both populations was closed. However, those populations were genetically separated to the Bali population might be due to major hydrological barrier.
ASPECTS OF LEOPARD CORAL GROUPER (Plectropomus leopardus) REPRODUCTION IN INDONESIA Andamari, Retno; Sembiring, Sari Budi Moria; Permana, Gusti Ngurah
Indonesian Aquaculture Journal Vol 2, No 1 (2007): (June 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.853 KB)

Abstract

Leopard coral grouper, Plectropomus leopardus is one of the most economically important finfish fish in Indonesia and the demand for the grouper is rapidly increasing in Asia and the Pacific. Grouper exports from Bali were 1,613 mt in 2001, 2,082 mt in 2002 and 2,861 mt in 2003. Understanding the reproductive biology of fishes is an important component in developing mariculture and in the management of capture fisheries. This study reports on the reproductive biology of 86 coral groupers collected from various locations in Indonesia. The length and weight of these fish were recorded and related to gonad development. There was a strong relationship between length and weight; weight being proportional to the length raised to the power (b value) 3.2. As the value of b was greater than 3, this suggests that growth is allometric. Histological analysis 73% of the fish were immature, 19% were in transition from females to males, only 4% were male, and only 2 fish (2%) had mature gonads: these were female. The sex of 2 fish could not be determined. From these data it can be seen that the leopard coralgrouper has asynchronous gonad development. The two fish that were mature contained 343,980 and 429,259 oocytes and three distinct sizes of oocytes could be found. This suggests that the grouper is a multiple spawner. If fish are required for brood stock, this study has shown that only those with a length greater than 35 cm in standard length should be taken from the wild.
GENETIC IDENTIFICATION FOR TUNA AND RAINBOW RUNNER CAPTURE IN NORTH BALI WATERS Permana, Gusti Ngurah; Hutapea, Jhon Harianto; Haryanti, Haryanti; Sembiring, Sari Budi Moria; Nakazawa, Akio
Indonesian Aquaculture Journal Vol 1, No 1 (2006): (June 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.62 KB)

Abstract

Gondol Research Institute for Mariculture identification of tuna and rainbow runner was an objective in this current study. Samples of five species were collected from territorial water of North Bali. The method used in this study was allozyme electrophoresis. The results showed that buffer of CAPM-6 (citric acid aminoprophylmorpholine) resulted in a sharp and clear banding pattern. The species could be differentiated in six diagnostic isozyme patterns Idh* (isocitrate dehydrogenase), 6Pgd* (6 phosphogluconate dehydrogenase), Gpi* (glucose phosphate isomerase), Mdh* (malate dehydrogenase), Est* (esterase), and Sp* (sarcoplasmic protein). All species were in Hardy-weinberg equilibrium. Heterozygosities of species were ranged from 0.00 to 0.099. Yellowfin tuna has the highest heterozigosity compared with the other species. Clustering samples according to pairs revealed that genetic distance of Bullet tuna (A. rochei) and Eastern little tuna (E. affinis) had small value (0.001). By contrast, the largest value was observed between yellowfin tuna, T. albacares and rainbow runner, E. bipunnulata (0.007). This value indicated that Bullet tuna (A. rochei) and Eastern little tuna (E. affinis) closed relation, while among yellowfin tuna, skipjack tuna, and rainbow runner, were separated phylogenically.
KAJIAN BIOREPRODUKSI DAN KOMPOSISI PROKSIMAT DAGING IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA Hutapea, Jhon Harianto; Andamari, Retno; Giri, I Nyoman Adiasmara; Permana, Gusti Ngurah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1562.994 KB)

Abstract

KAJIAN BIOREPRODUKSI DAN KOMPOSISI PROKSIMAT DAGING IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA
PEMELIHARAAN INDUK IKAN TUNA SIRIP KUNING, Thunnus albacares DALAM BAK TERKONTROL Hutapea, Jhon Harianto; Permana, Gusti Ngurah; Setiadi, Ananto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1430.663 KB)

Abstract

Intensifikasi penangkapan ikan tuna baik yang langsung dipasarkan maupun dibesarkan dalam usaha budidaya, berpengaruh negatif terhadap kelestarian populasi ikan ini di alam. Dengan demikian upaya perbenihan secara buatan perlu dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap populasi alam. Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol telah merintis perbenihan ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) sejak tahun 2003 bekerjasama dengan Overseas Fishery Cooperation Foundation (OFCF) Jepang. Induk ikan tuna telah berhasil dibesarkan dan dipijahkan dalam bak beton bervolume 1.500 m3 secara terkontrol, dengan sistem pergantian air semi tertutup. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sekitar 2,5% biomassa per hari. Pemijahan pertama terjadi pada bulan Oktober tahun 2004, ukuran induk diperkirakan lebih dari 9,138 kg atau panjang cagak lebih dari 82 cm dengan perkiraan umur sekitar 2 tahun. Puncak pemijahan terjadi pada tahun 2005 dan 2006 dengan frekuensi pemijahan masing-masing lebih dari 100 kali. Pemeliharaan induk ikan tuna dengan kepadatan 0,66 kg/m3 belum dapat dikatakan sebagai kepadatan maksimum dan peningkatan kematian cenderung akibat ruang gerak yang semakin sempit seiring dengan pertumbuhan induk. Namun demikian kendala yang ditemukan dalam pemeliharaan induk adalah kematian akibat menabrak dinding bak sedangkan kendala dalam pemeliharaan larva adalah serangan endoparasit pada telur
STIMULASI PERTUMBUHAN JUVENIL ABALON, Haliotis squamata DENGAN PEMBERIAN HORMON REKOMBINAN IKAN rElGH Khotimah, Fitriyah Husnul; Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Susanto, Bambang; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.158 KB)

Abstract

Masalah yang paling utama dalam budidaya abalon tropis adalah pertumbuhan yang lambat. Penggunaan rElGH (recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone) untuk menstimulasi pertumbuhan beberapa spesies ikan sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji akselerasi pertumbuhan juvenil abalon tropis, Haliotis squamata setelah diberi perlakuan perendaman hormon rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus pada frekuensi yang berbeda. Ada empat perlakuan frekuensi perendaman rElGH yaitu 4, 9, 16 kali, dan tanpa perendaman (kontrol). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Perendaman dilakukan selama tiga jam, dengan interval waktu empat hari. Kepadatan abalon tropis 100 ekor/L air laut yang mengandung 30 mg rElGH. Wadah untuk perendaman berupa beaker glass yang dilengkapi dengan aerasi. Penelitian dilakukan selama tujuh bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abalon tropis yang direndam rElGH dengan frekuensi empat kali menghasilkan pertumbuhan bobot tubuh dan panjang cangkang tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P&lt;0,05). Sintasan abalon tropis yang diberi perlakuan perendaman hormon rElGH lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol.The most crucial problem in tropical abalone aquaculture is the slow growth of the species. Studies investigating the use of rElGH (recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone) for promoting growth have been performed in various species. This research aimed to examine the growth acceleration of tropical abalone, Haliotis squamata juvenile after being treated in different immersion frequencies of recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH). There were four treatments of rElGH immersion frequency: 4, 9, 16 times and without rElGH immersion (control). Each treatment was performed in triplicates. Immersion was performed for 3 hours, at 4-day intervals and a density of 100 tropical abalones in 1 L seawater containing 30 mg rElGH. Immersion was conducted in a beaker glass supplied with oxygen. The results indicated that rElGH immersion for total of 4 times showed significantly higher (P&lt;0.05) body weight and shell length of tropical abalone compared to other treatments. The Survival of tropical abalone treated with rElGH was also significantly higher than control.
PEMELIHARAAN LARVA ABALON Haliotis squamata DENGAN PEMBERIAN JENIS PAKAN BERBEDA DALAM BENTUK TEPUNG Khotimah, Fitriyah Husnul; Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Susanto, Bambang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.108 KB)

Abstract

Masalah utama yang umum terjadi pada produksi benih abalon adalah kematian yang tinggi (&gt; 90%) setelah abalon menempel pada plate pemeliharaan. Penggunaan pakan dalam bentuk tepung untuk mengganti diatom sebagai pakan postlarva beberapa spesies ikan, udang, dan abalon sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pakan dalam bentuk tepung yang sesuai dan efektif untuk mendukung sintasan dan pertumbuhan larva abalon Haliotis squamata. Percobaan terdiri atas lima perlakuan pakan pada pemeliharaan larva abalon yaitu tepung Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., Gracilaria sp., dan diatom (kontrol). Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Pakan berupa tepung yang digunakan pada masing-masing perlakuan, terlebih dahulu dicampur merata dengan larutan tepung agar (7,5 mg/mL dalam air laut; suhu 40°C) dengan konsentrasi tepung 40 mg/mL larutan agar. Pemberian pakan dilakukan setiap tiga hari dengan cara menyemprotkan larutan pakan pada permukaan plate pemeliharaan larva. Penelitian dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan larva abalon yang diberi pakan tepung Spirulina sp. paling tinggi dan berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan yang diberi diatom, tepung Chaetoceros sp., dan Ulva sp., yaitu masing-masing 81,49%; 79,25%; 76,57%; dan 76,46%; tetapi tidak berbeda nyata dengan yang diberi pakan tepung Gracilaria sp. 81,37% (P&gt;0,05). Laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon tertinggi diperoleh pada larva yang diberi pakan tepung Gracilaria sp. (203,81 ± 1,23 µm/hari) dan Spirulina sp. (205,59 ± 1,71 µm/hari). Nilai laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon yang paling rendah dijumpai pada larva yang diberi pakan tepung Ulva sp. (146,07 ± 1,73 µm/hari).The most common problem in abalone seed production is the high mortality occurrence (&gt; 90%) after postlarvae settlement to the rearing plates. The use of microparticle diets to replace the natural feed of postlarval has been performed on various species of fish, shrimp, and abalone. This research aims to determine the most effective and suitable powder-based feed to support the survival and growth of abalone Haliotis squamata larvae. The experiments consisted of five feed treatments, i.e., Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., and Gracilaria sp. Flour, and diatoms (as control). Each treatment had four replicates. The powder-based feed used in each treatment was firstly mixed with a solution of agar powder (7.5 mg/mL sea water, 40°C) with a concentration of 40 mg of flour/mL of agar solution. Feeding was done every three days by spraying the feed solution onto the surface of the larval rearing plate. The study was conducted for 30 days. The results showed that survival rate of abalone larvae fed with Spirulina sp. flour was the highest and significantly different (P&lt;0.05) compared with those given diatoms, Chaetoceros sp. and Ulva sp. flours, which were 81.49%, 79.25%, 76.57%, and 76.46%, respectively, and not significantly different from those fed with Gracilaria sp. 81.37% (P&gt;0.05). The highest daily growth rate of the shell length of abalone larvae was achieved by larvae fed with Gracilaria sp. (203.81 ± 1.23 ¼m/day) and Spirulina sp. flours (205.47 ± 1.71 µm/day). The lowest daily growth rate of shell length was found on abalone larvae fed with Ulva sp. flour (146.07 ± 1.73 µm/day).
APLIKASI BFT-HETEROTROPIK SISTEM DALAM PRODUKSI BENIH IKAN BANDENG (Chanos chanos) Permana, Gusti Ngurah; Haryanti, Haryanti; Wardana, Ida Komang; Muzaki, Ahmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.237 KB)

Abstract

Salah satu kendala utama dalam pembenihan ikan bandeng adalah menurunnya kualitas benih dan ketersediaan rotifer. Teknologi bioflok yang melibatkan bakteri, mikroalga, dan bahan organik dalam air merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh Bio-Floc Technology (BFT) pada produksi benih ikan bandeng. Penelitian ini menggunakan bak beton volume 4 m3. Aplikasi bakteri heterotrop sebagai penyusun flok menggunakan tiga variasi perlakuan, yaitu: (A) bioflok + rotifer 100% (100 ind./mL), (B) bioflok dan pengurangan rotifer 25% (75 ind./mL), (C) bioflok dan pengurangan 50% rotifer (50 ind./mL), dan sebagai kontrol (K) adalah tanpa pemberian bioflok atau pemeliharaan larva dengan 100% rotifer (100 ind./mL). Perlakuan tersebut diulang sebanyak tiga kali, data dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa bioflok merupakan kombinasi/campuran dari bakteri, mikroalga, detritus, dan protozoa. Bakteri pembentuk bioflok banyak didominasi oleh Bacillus. Hasil pengamatan terhadap sintasan ikan bandeng menunjukkan bahwa perlakuan bioflok + rotifer 100% memberikan sintasan tertinggi yaitu 26% berbeda nyata (P&lt;0,05), pengurangan rotifer 25% dengan sintasan 25%, sedangkan pada pengurangan 50% feeding rate dengan sintasan20% dan kontrol (tanpa bioflok) 15,03%. Hal yang sama terjadi pada pertumbuhan benih bandeng yang menunjukkan bahwa pembentukan bioflok memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Kualitas benih tertinggi yang ditunjukkan dari analisis rasio RNA : DNA diperoleh pada perlakuan bioflok + rotifer 100% (1,33); pengurangan rotifer 25% (1,08); pengurangan rotifer 50% (0,91)% dan nilai yang paling rendah adalah kontrol (0,42). Kualitas air media pemeliharaan relatif stabil terutama pH dan DO, sedangkan amonia antar perlakuan tidak berbeda nyata (P&gt;0,05). Populasi Vibrio dapat ditekan hingga mencapai 102 cfu/mL. Nampaknya, bioflok ini dapat menjadi makanan dengan nutrisi tinggi bagi ikan bandeng.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN VARIASI GENETIK ABALON Haliotis squamata Reeve (1846) HASIL SELEKSI F-1 Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Khotimah, Fitri Husnul; Sembiring, Sari Budi Moria; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.657 KB)

Abstract

Produksi benih abalon Haliotis squamata skala massal di hatcheri telah berhasil dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Bali. Permasalahan utama dalam budidaya abalon adalah pertumbuhan yang lambat. Keadaan tersebut diduga karena pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaan pertumbuhan dan variasi genetik abalon tumbuh cepat hasil seleksi individu. Hasil penelitian ini diketahui bahwa pembentukan populasi F-1 mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dengan F-1 kontrol. Peningkatan bobot yang dicapai 22,15 g atau 17,93% lebih baik dibandingkan F-1 kontrol. Keragaman genetik F-1 terseleksi yang ditunjukkan dari nilai heterozigositas adalah (Ho. 0,023) terjadi penurunan 21,7% jika dibandingkan F-0. Hal ini dapat terjadi karena hilangnya beberapa allele dalam proses seleksi. Terdapat hubungan antara jumlah heterozigot pada lokus tertentu dengan pertumbuhan abalon. Hasil ini diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan produksi benih yang mempunyai performa fenotipe dan genotipe unggul sehingga dapat mendukung kegiatan budidaya abalon yang berkelanjutan.