Mufti Petala Patria
Laboratorium Biologi Kelautan, Departemen Biologi FMIPA-UI Universitas Indonesia, Depok 16424

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH PERBEDAAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP KELIMPAHAN ZOOXANTHELLA PADA KARANG BERCABANG (MARGA: Acropora) DI PERAIRAN PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU Fachrurrozie, Achmad -; Patria, Mufti Petala; Widiarti, Riani -
Jurnal Akuatika Vol 3, No 2 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.52 KB)

Abstract

Keberhasilan proses transplantasi karang sangat tergantung pada kelimpahan zooxanthella. Semakin padat jumlah zooxanthella dalam karang, maka akan semakin tinggi efisiensi pertumbuhan karang dalam suatu perairan. Cahaya sangat mempengaruhi kelimpahan zooxanthella pada karang, dimana semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin besar pula kelimpahan zooxanthella. Penelitian mengenai perbedaan intensitas cahaya terhadap kelimpahan zooxanthella pada karang bercabang di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu telah dilakukan pada bulan April 2012. Penelitian dilakukan dengan cara menutup ujung cabang koloni karang dengan plastik terang (intensitas cahaya 58 μE/m2s), plastik setengah gelap (intensitas cahaya 26 μE/m2s), dan plastik gelap (intensitas cahaya 0 μE/m2s) selama 4 hari. Zooxanthella dalam fragmen karang dikeluarkan dengan cara dipanaskan, dan kelimpahannya dihitung di bawah mikroskop. Data hasil penelitian ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Regresi Linier dan uji ANAVA satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan zooxanthella mengalami penurunan dibandingkan kontrol (1.302.425 sel/cm2) yaitu pada perlakuan 1, perlakuan 2, dan perlakuan 3 dengan jumlah masing-masing 1.201.644 sel/cm2, 933.944 sel/cm2, dan 507.458 sel/cm2. Hasil analisis statistik juga menunjukkan korelasi positif antara kelimpahan zooxanthella dengan kenaikan intensitas cahaya. Kata kunci : kelimpahan zooxanthella, perbedaan intensitas cahaya, dan pulau pari
THE ROLE OF MACROBENTHIC COMMUNITIES AS AN INDICATOR FOR THE FERTILITY OF MANGROVE POND: CASE STUDY AT BLANAKAN, SUBANG, WEST JAVA Haryadi, Joni; Hadiyanto, Hadiyanto; Patria, Mufti Petala
Indonesian Aquaculture Journal Vol 9, No 2 (2014): (December 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.37 KB)

Abstract

Macrobenthic in mangrove ecosystems plays an important role as removal particles from the water column to the sediments. Ecology indexes of macrobenthic communities were used in this study as an indicator for the fertility of mangrove pond ecosystems. The study was carried out at mangrove pond in Blanakan, West Java. Data was collected from four sampling sites: opened pond (TB), sylvofishery pond (TS), sedimented pond (TT), and conservation pond (TP). Some ecological indexes such as Margalef’s Index (R), Shannon-Wiener Index (H’), Pielou Evenness Index (E), and Simpson Dominance Index (D) were used to analyze macrobenthic communities. The results showed that infaunal macrobenthic communities were stable at TP with R: 1.91±0.42, H’: 1.59±0.30, E: 0.74±0.14, and D: 0.29±0.12. They were unstable at TB with R: 1.63±0.80, H’: 1.36±0.32, E: 0.74±0.06, and D: 0.35±0.07. The macrobenthic communities can be used as indicator for the fertility of mangrove pond in Blanakan, West Java.
SEBARAN DAN HUBUNGAN PARAMETER REPRODUKSI IKAN TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares) DENGAN SUHU DAN KLOROFIL-a DI LAUT BANDA Wagiyo, Karsono; Suman, Ali; Patria, Mufti Petala
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.95 KB)

Abstract

Laut Banda diketahui mempunyai kondisi lingkungan yangmendukung sebagai daerah pemijahan ikan tuna madidihang (Thunnus albacares). Sebaran parameter reproduksi dan hubungannya dengan lingkungan perlu diketahui sebagai dasar pengelolaan sumberdaya yang lestari. Penelitian dilakukan tahun 2011-2012 dengan basis pendataan di Bandaneira. Pengamatan parameter reproduksi dilakukan terhadap ikan sampel melalui observasi dan enumerasi. Suhu dan klorofil-a diperoleh = dari analisis citra satelit. Penelitian mendapatkan persentase gonad matang (100 %) dan indeks kematangan gonad tertinggi (3,75) serta nisbah kelamin seimbang, secara temporal ditemukan pada bulan antara September-Desember, secara spasial ditemukan di Perairan Gunung Api dan Selatan Kepulauan Lease. Tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad meningkat terjadi pada saat suhu mulai menghangat dan klorofil-a mulai menurun. Tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad menurun terjadi pada saat awal penurunan suhu dan awal kenaikan klorofil-a.Besides known as the Banda Sea region yellowfin tuna migration (Thunnus albacares) is also a spawning area. Distribution of Reproduction parameter and their relationship with environmental parameter should be known as the basis for sustainable resource management. The reproduction parameter obtaianed by observation and enumeration. Temperature and chlorophyll-a obtained by satellite image analysis. Research gets a high percentage of the gonads mature (100%) and gonad maturity index (3,75) and a balanced sex ratio, temporally be found in the September-December, spatially found in the waters of Pulau Gunung Api and Lease Islands. The maturity level of gonads and gonadal maturation index increases occurred when the temperatures begin to warm and chlorophyll-a start to decline. The maturity level of gonads and gonadal maturation index decreases occurred at the beginning of the early drop in temperature and increase in chlorophyll-a.
VARIASI UKURAN DAN JENIS MANGSA DARI IKAN MADIDIHANG MUDA (IMMATURE) DAN DEWASA (MATURE) Mardlijah, Siti; Patria, Mufti Petala
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.079 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara mangsa dan pemangsa (ikan madidihang) di perairan Marisa. Pengambilan contoh dilakukan di Marisa, Provinsi Gorontalo, pada perusahaan fillet ikan tuna. Pengamatan isi lambung dilakukan secara visual. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pertambahan ukuran mangsa dengan ukuran ikan pemangsa (madidihang), tapi terdapat hubungan antara jenis mangsa dengan ukuran ikan pemangsa. Ikan madidihang yang berukuran besar (matang gonad) memakan tuna kecil (Auxis rochei) dan ikan pelagis kecil (Brama dussumieri dan Selar crumenopthalmus), sedangkan ikan madidihang yang belum matang gonad banyak memakan Canthigaster spp., Monacanthidae, dan Balistidae. Kanibalisme tidak terjadi di perairan Teluk Tomini. The objective of this research was to study on the relationship between predator and prey for yellowfin tuna in Tomini Bay. Sampling site were located at Marisa, Gorontalo Province in 2007. Prey composition of yellowfin tuna was visually determined. The results showed that there was no relationship between the size of yellowfin tuna and their preys, however, there was indication that different size of yellowfin tuna feed on different item of foods. Adults yellowfin tuna feed little tuna (Auxis rochei) and small pelagic fish Brama dussumieri and Selar cromenopthalmus), while immature yellowfin tuna feed mostly Canthigaster spp., Monacanthidae and Balistidae.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN MADIDIHANG (Thunnus albacares Bonnatere 1788) DI TELUK TOMINI Mardlijah, Siti; Patria, Mufti Petala
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 4, No 1 (2012): (April 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2927.564 KB)

Abstract

Penelitian biologi reproduksi bertujuan untuk mengetahui perkembangan gonad dan panjang pertama kali matang gonad ikan madidihang yang tertangkap di perairan Teluk Tomini. Jumlah sampel telur sebanyak 74 contoh dan sampel testes sebanyak 90 contoh dikumpulkan melalui tempat pendaratan ikan di Marisa, Gorontalo pada tahun 2007. Tingkat kematangan gonad diamati secara visual dan pembuatan preparat histologis serta analisis Gonado Somatic Index (GSI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemijahan ikan madidihang diperkirakan terjadi pada bulan Desember dan panjang pertama kali matang gonad pada ukuran 94 cm FL. Nisbah kelamin ikan madidihang jantan dan betina adalah seimbang. The objective of research on reproductive biology of yellowfin tuna is to study  gonad development and its length at first maturity.Gonad development were determined through the examination of 74 yellowfin ovaries samples and 90 testes samples collected from Marisa, Gorontalo in 2007.  Gonad maturity stages were identified histologically. Sexual maturity stages was identified through visual analyzed, preparation on histology and Gonado Somatic Index (GSI). The result showed that spawning season of yellowfin tuna in Tomini Bay occured in December.Meanwhile length at first maturity at 94,8 cm FL. The ratio of males and females of yellowfin tuna is well-balanced.
PERAN SIPUT TEREBRALIA (Gastropoda: Potamididae) DALAM MENGURAI DAUN MANGROVE RHIZOPORA DI PULAU PANJANG, SERANG-BANTEN Putri, Selvianti Asmara; Patria, Mufti Petala
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 1, No 2 (2018): JKPT Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai peran siput Terebralia dalam mengurai daun mangrove telah dilakukan pada bulan November hingga Desember 2013 di Pulau Panjang, Banten. Dalam penelitian ini, aktivitas penguraian daun dilakukan pada mangrove yang didominasi oleh Rhizopora sp. Lokasi penelitian terletak di bagian intertidal yang merupakan bagian mangrove yang terkena pasang surut air laut. Penelitian yang dilakukan hanya menggunakan Terebralia dewasa yaitu, Terebralia palustris > 5 cmdan Terebralia sulcata > 3 cm. Rata-rata persentase penguraian daun oleh T. palustris adalah sebesar 3,48% ± 0,18 /hari untuk R. apiculata dan 8,28% ± 0,13/hari untuk R. stylosa, sedangkanT. sulcata mengurai daun rata-rata sebesar 4,07% ± 0,12/hari untuk R. apiculata dan 4,93 % ± 0,15 /hari untuk R. stylosa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi (P= 0,985; P= 0,875) antara panjang dan berat T.palustris  dengan persentase penguraiannya. Begitu pula dengan T.sulcata, tidak ditemukan korelasi antara berat dengan laju penguraiannya. Sebaliknya, terdapat korelasi antara panjang dengan persentase penguraiannya (P = 0,016).