Ety Parwati
The National Institute of Aeronatic and Space (LAPAN)

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED MATTER DAN KLOROFIL-A MENGGUNAKAN CITRA TERRA MODIS LEVEL 1B RESOLUSI 250 METER DAN 500 METER (Studi Kasus Daerah Pesisir Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Tahun 2012)

Jurnal Geodesi Undip Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TSM (Total Suspended Matter) adalah material tersuspensi berupa zat organik maupun anorganik yang memiliki diameter >1mm yang  berada di permukaan air, sedangkan Klorofil-A adalah kelompok pigmen fotosintesis yang menyerap cahaya biru, dan merah, serta merefleksikan cahaya hijau. Keduanya dengan jumlah yang besar dapat menutupi permukaan air dan membuat air menjadi hangat dan mengurangi kemampuan air untuk memenuhi kebutuhan oksigen untuk kehidupan biota laut dengan kata lain dapat menganggu ekosistem perairan. Dalam pengamatan kualitas air, perlu adanya pengamatan tentang TSM dan Klorofil-A untuk waktu dan tempat yang spesifik, serta berkelanjutan. Data pengideraan jauh dapat menganalisa beberapa parameter dalam cara spasial dan temporal. Akan tetapi masalahnya adalah sulit untuk menemukan algoritma yang sesuai untuk setiap daerah. Dikarenakan setiap daerah memiliki karakteristik yang belum tentu sama. Dengan menggunakan data time series akan lebih baik dalam memonitoring kondisi kualitas air. MODIS adalah  satelit yang memiliki time series harian, jadi sangat bagus untuk pengamatan daerah perairan. Data yang digunakan dalam pengamatan ini adalah Terra-MODIS level 1B resolusi 250 meter dan 500 meter bulan januari sampai september dan di validasi dengan data in situ bulan Agustus 2012. Beberapa model persamaan digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis sebaran konsentrasi TSM dan Klorofil-A. Hasil pengolahan data didapatkan transformasi kromatisiti kanal merah pada MODIS dapat digunakan untuk analisa sebaran koefisien TSM dengan nilai koefisien korelasi (R2) sebesar 0,484 sedangkan rasio antara kanal NIR dengan Kanal biru dapat digunakan untuk analisa sebaran konsentrasi Klorofil-A dengan koefisien korelasi sebesar (R2) 0,924.

Dinamika Perubahan Mangrove Menjadi Tambak dan Total Suspended Solid (TSS) di Sepanjang Muara Berau

Jurnal Biologi Edukasi Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Biologi Edukasi
Publisher : Jurnal Biologi Edukasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.719 KB)

Abstract

The mangrove conversion become fish pond, bareland or others has an impact in water quality. One of water quality parameter is Total Suspended Solid (TSS), increasing TSS means the rising in pollution.  Landsat remote sensing data with multi channels used in studying the dynamic of mangrove – fishpond change and TSS along the Berau waters. Several regions with its variation are used in that dynamic studying.  The TSS algorithm for Berau waters is TSS (mg/l) = 3.3238 * exp (34.099*Red Band) , Red band=the atmospheric reflectance band 2 validated with field data. The result study is the conversion of mangrove become fish pond has the strong indication in the rising TSS .

PENGEMBANGAN MODEL EKSTRAKSI SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN DATA SATELIT LANDSAT 8 STUDI KASUS: TELUK LAMPUNG (DEVELOPMENT MODEL OF SEA SURFACE TEMPERATURE EXTRACTION USING LANDSAT- 8 SATELLITE DATA, CASE STUDY: LAMPUNG BAY)

Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 12 No. 2 Desember 2015
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.585 KB)

Abstract

Teluk Lampung merupakan daerah yang banyak memiliki keramba ikan kerapu, yang mana kualitas dan kuantitas airnya menjadi perhatian utama. Kualitas air ditentukan oleh faktor biologi, kimia, dan fisika. Salah satu parameter fisik adalah temperatur/suhu air. Banyak metode penentuan Suhu Permukaan Laut (SPL) menggunakan data satelit resolusi spasial menengah yang diturunkan dari satu band infra merah. Originality dari penelitian ini menggunakan fungsi yang diperoleh dari hasil korelasi antara temperatur pengamatan dengan temperatur kecerahan dari dua band infra merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan pemodelan algoritma baru guna mengestimasi SPL menggunakan band 10 dan band 11 dari data satelit Landsat-8. Algoritma model ekstraksi SPL diperoleh melalui 3 tahapan, yaitu: Pertama melakukan koreksi geometrik dan mengkonversi nilai digital number ke nilai radiansi. Kedua adalah menghitung nilai temperatur kecerahan serta mengamati inteval temperaturnya. Kemudian mengkorelasikan temperatur pengukuran dengan temperatur kecerahan dari band 10 dan band 11, maka diperoleh persamaan polinomial orde 3 dalam 2 dimensi. Ketiga mengkorelasikan temperatur pengamatan in situ dengan temperatur kecerahan dari band 10 dan band 11 secara bersamaan (dalam 3 dimensi). maka diperoleh persamaan fungsi korelasi polinomial orde 3 dalam 3 dimensi. Fungsi untuk estimasi SPL adalah: T(X10,X11).= ?anXn10+bnXn11, yang mana koefisien/konstanta dari setiap orde ditentukan dari perkalian antara hasil perbandingan interval temperatur kecerahan (band 10 dan band 11) dengan konstanta setiap orde dari persamaan polinomial dalam 2 dimensi. Berdasarkan perbandingan antara temperatur hasil perhitungan dengan temperatur pengamatan, model estimasi SPL ini mempunyai kesalahan (RMSE) sebesar 21,15 % atau mempunyai ketelitian/akurasi sebesar 78,85 %.Kata-kunci: Algoritma, Landsat-8, Ekstraksi, Radiansi, Kecerahan temperatur, Polinomial, Suhu permukaan laut, Teluk Betung

METODE DUAL KANAL UNTUK ESTIMASI KEDALAMAN DI PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN DATA SPOT 6 STUDI KASUS : TELUK LAMPUNG (DUAL BAND METHOD FOR BATHYMETRY ESTIMATION IN SHALLOW WATERS DEPTH USING SPOT 6 DATA CASE STUDY: LAMPUNG BAY)

Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 1 Juni 2017
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.554 KB)

Abstract

Depth data can be used to produce seabed profile, oceanography, biology, and sea level rise. Remote sensing technology can be used to estimate the depth of shallow marine waters characterized by the ability of light to penetrate water bodies. One image that can estimate the depth is SPOT 6 which has three visible canals and one NIR channel with 6 meter spatial resolution. This study used SPOT 6 image on March 22, 2015. The image was first being  dark pixel atmospheric corrected by making 30 polygons. The originality of this method was to build a correlation between the dark pixel value of red and green channels with the depth of the field measurement results, made on June 3 to 9, 2015. The algorithm  derived experimentally consisted of: thresholding which served to separate the land by the sea and the correlation function. The correlation function was obtained: first correlating the observation value with each band, then calculating the difference of minimum pixel darkness value and minimum for red and green channel was 0.056 and 0.0692. The model was then constructed by using the comparison proportions, so that the linear equations were obtained in two channels: Z (X1, X2) = 406.26 X1 + 327.21 X2 - 28.48. Depth estimation results were for a 5-meter scale, the most efficient estimation with the smallest error relative mean occured in shallow water depth from 20 to 25 meters, while the result of   10 meters scale from 20 to 30 meters and the estimated depth hadsimilar patterns or could be said close to reality. This method was able to detect sea depths up to 25 meters and had a small RMS error of 0.653246 meters. Thus the two-channel method coukd offer a fast, flexible, efficient, and economical solution to map topography of the ocean floor.AbstrakData kedalaman dapat digunakan untuk menghasilkan profil dasar laut, oseanografi, biologi, dan kenaikan muka air laut. Teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengestimasi kedalaman perairan laut dangkal yang ditandai dengan kemampuan cahaya untuk menembus badan air. Salah satu citra yang mampu mengestimasi kedalaman tersebut adalah SPOT 6 yang memiliki tiga kanal visible dan satu kanal NIR dengan resolusi spasial 6 meter. Pada penelitian ini, Citra SPOT-6 yang digunakan adalah 22 Maret 2015. Citra terlebih dahulu dilakukan koreksi atmosferik dark pixel dengan membuat 30 poligon. Originalitas dari metode ini adalah membangun suatu korelasi antara nilai dark pixel kanal merah dan hijau dengan nilai kedalaman hasil pengukuran lapangan yang dilakukan pada 3 sampai dengan 9 Juni 2015. Algoritma diturunkan secara eksperimen yang terdiri dari thresholding yang berfungsi untuk memisahkan daratan dengan lautan dan fungsi korelasi. Fungsi korelasi diperoleh pertama-tama mengkorelasikan nilai pengamatan dengan masing-masing band, kemudian menghitung selisih nilai dark pixel maksimum dan minimum untuk kanal merah dan hijau yaitu 0,056 dan 0,0692. Selanjutnya, dibangun model dengan menggunakan dalil perbandingan sehingga diperoleh persamaan linier dalam dua kanal yaitu: Z(X1,X2) = 406,26 X1 + 327,21 X2 – 28,48. Hasil estimasi kedalaman, untuk skala 5 meter, estimasi yang paling efisien dengan Mean relatif error terkecil terjadi pada kedalaman perairan dangkal dari 20 sampai dengan 25 meter, sedangkan untuk skala 10 meter dari 20 sampai dengan 30 meter dan juga hasil estimasi kedalaman yang diperoleh mempunyai pola kemiripan atau dapat dikatakan mendekati kenyataan. Metode ini mampu mendeteksi kedalaman laut hingga 25 meter dan mempunyai RMS error yang kecil yaitu 0,653246 meter. Dengan demikian, metode dua kanal ini dapat menawarkan solusi cepat, fleksibel, efisien, dan ekonomis untuk memetakan topografi dasar laut.

ALGORITMA DUA DIMENSI UNTUK ESTIMASI MUATAN PADATAN TERSUSPENSI MENGGUNAKAN DATA SATELIT LANDSAT-8, STUDI KASUS: TELUK LAMPUNG

Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 13 No. 2 Desember 2016
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1401.834 KB)

Abstract

Remote sensing technique is a powerful tool for monitoring the coastal zone. Optical sensors can be used to measure water quality parameters Total Suspended Matter (MPT). In order to be able to extract information MPT, the satellite data need to be validated with in situ measurements that make the relationship between the reflectance band with concentration MPT measurement results. In this model, do the correlation between the measurement results with the reflectance values band 3 and band 4. then obtained a linear equation, then calculated using the argument of a ratio of 60:75 to each of the correlation coefficient, the obtained linear equation two Dimension T (X3, X4) = 2313.77 X3 + 4741.11 X4 + 314.95. Based on the concentration MPT of dated June 3, 2015 was lower than in the west to the east. this is because the east is already contaminated with the plant, effluent solids by humans, while the west for still many floating net fish, and mangrove. Based on the results of measurement and calculation results , is still far from perfect (accuracy 60%), one factor is the value thresholding, when determining the boundary between: clouds, sea, and land. Generally indicates that the model is still in need for repair. Abstrak Penginderaan jauh adalah alat yang ampuh untuk memantau zona pesisir. Sensor optik dapat digunakan untuk mengukur parameter kualitas air Total Suspended Solid/Muatan Padatan Tersuspensi (MPT). Agar supaya dapat mengekstraksi informasi MPT, maka, data satelit perlu divalidasi dengan pengukuran in situ yaitu membuat hubungan antara reflektansi band dengan konsentrasi MPT hasil pengukuran. Pada model ini, dilakukan korelasi antara hasil pengukuran dengan nilai reflektansi band3 dan band4, maka diperoleh persamaan linier, kemudian dihitung dengan menggunakan dalil perbandingan 60 : 75, untuk masing-masing koefisien korelasinya, maka diperoleh persamaan linier dua dimensi T(X3,X4) = 2313.77 X3 + 4741,11 X4 + 314.95.  Berdasarkan konsentrasi MPT  pada 3 Juni 2015 di sebelah baratlebih rendah dibandingkan sebelah timur. Hal ini dikarenakan sebelah timur sudah terkontaminasi dengan pabrik, buangan benda padat oleh manusia, sedangkan sebelah barat karena masih banyak keramba jaring apung ikan dan mangrove. Berdasarkan hasilnya antara pengukuran dan hasil perhitungan, masih jauh dari sempuna (ketelitiannya 60 %), salah satu faktornya adalah dalam menentukan nilai thresholding, pada saat  menentukan batas antara: awan, laut dan darat. Secara umum menunjukkan bahwa model yang masih membutuhkan perbaikan.

PENGEMBANGAN METODE PENDUGAAN KEDALAMAN PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN DATA SATELIT SPOT-4 STUDI KASUS: TELUK RATAI, KABUPATEN PESAWARAN (METHODE DEVELOPMENT FOR SHALLOW WATER DEPTH BATHYMETRIC ESTIMATION USING SPOT-4 SATELLITE DATA, A CASE STUDY: RATAI BAY, PESAWARAN DISTRICT)

Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No. 1 Juni 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.22 KB)

Abstract

Pendugaan batimetri perairan dangkal menggunakan data satelit penginderaan jauh semakin umum dilakukan. Namun, ketika metode tersebut diimplementasikan untuk wilayah dengan lingkungan yang berbeda, maka hasilnya menunjukkan adanya penyimpangan. Untuk meminimalkan penyimpangan tersebut, maka dilakukan penggabungan informasi diperoleh dari pengukuran lapangan dengan nilai reflektansi citra satelit SPOT-4. Pada makalah ini diusulkan pengembangan metode pendugaan kedalaman perairan didasarkan pada fungsi korelasi antara nilai kedalaman dari hasil pengukuran langsung menggunakan alat “handheld echo-sounder” dengan penjumlahan resultante nilai reflektansi (band1 dan band3). Algorithma pendugaan batimetri di perairan dangkal di Teluk Ratai terdiri dari metode thresholding dan fungsi korelasi. Nilai threshold (T) untuk kedalaman 0.5 meter ditentukan dari pengamatan grafik fungsi korelasi polynomial ordre lima dan besarnya adalah 0.35

THE RELATIONSHIP BETWEEN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) AND CORAL REEF GROWTH (CASE STUDY OF DERAWAN ISLAND, DELTA BERAU WATERS)

International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.205 KB)

Abstract

Total suspended solid (TSS) is one of the water quality parameters and limiting factor affecting coral reef growth. In this study, we used the algorithm of TSS= 3.3238*e(34.099* Green band) (where green band is reflectance band 2) to extract TSS from Landsat satellite data. The algorithm was validated with field data. Water column correction method developed by Lyzenga was used to map coral reef. The result showed that the coral reef area in Berau waters decreased significantly (about 12,805 ha or around 36 % ) from the year of 1979 to 2002. The most coral reef reduced area was detected around Derawan Island (about 5,685 ha). Further, some areas changed into sand dune. TSS concentration around Delta Berau and Derawan Island increased aproximately twice from 15- 35 mg/l in 1979 to 20-65 mg/l in 2002. The increase of TSS concentration was followed by the decrease of coral reef area.

APLIKASI LANDSAT DAN SIG UNTUK POTENSI LAHAN TAMBAK DI KABUPATEN BANYUWANGI

Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol 1, No.1 Juni (2004)
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.505 KB)

Abstract

The application of Remote Sensing and Geographic Information System are used to evaluate land potential that is suitable for cultivation of fishpond. The parameter that is used in this research is the existing land use by remote sensing and analysis process, topographic/land slope,kind of land, climate data (such as; rainfall and amount of dry season). The evaluation of land potential gives 4 land suitability levels, they are 1)Suitable level:2)Rather suitable level:3)Less suitable level and:4)Non suitable level. The analysis shows that are three areas in Banyuwangi sub-province that is suitable for fishpond cultivation: they are Muncar, Rogojampi, and Pesanggrahan districts.

STUDI TINGKAT KERAPATAN MANGROVE MENGGUNAKAN INDEKS VEGETASI

Geoid Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.859 KB)

Abstract

Ekosistem mangrove adalah salah satu obyek yang bisa diidentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Letak geografis ekosistem mangrove yang berada pada daerah peralihan darat dan laut memberikan efek perekaman yang khas jika dibandingkan obyek vegetasi darat lainnya. Efek perekaman tersebut sangat erat kaitannya dengan karakteristik spektral ekosistem mangrove, hingga dalam identifikasi memerlukan suatu transformasi tersendiri. Pada umumnya untuk deteksi vegetasi digunakan transformasi indeks vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran dan luasan vegetasi hutan mangrove; dan menentukan tingkat kerapatan atau kesehatan vegetasi mangrove menggunakan indeks vegetasi NDVI dan EVI dari citra Landsat dan SPOT di daerah Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. Ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem penting di kawasan pesisir pantai terus mengalami tekanan di seluruh dunia. Lokasi penelitian Tugas Akhir ini berada di Segara Anakan yang terletak di Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah, tepatnya pada 7˚30’ - 7˚44’ LS dan 109˚03’ – 109˚42’ BT. Indeks vegetasi merupakan suatu algoritma yang diterapkan terhadap citra satelit, untuk menonjolkan aspek kerapatan vegetasi ataupun aspek lain yang berkaitan dengan kerapatan. Metode analisa indeks vegetasi yang digunakan pada penelitian kali adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan EVI (Enhanced Vegetation Index).Luas  tutupan  lahan  yang didapatkan dari citra Landsat 5 TM tahun 2000 sebesar 50,214.87 ha dan citra SPOT-4 tahun 2008 sebesar 29,774.16 ha. Sedangkan luasan mangrove yang pada tahun 2001 sebesar 5722.74 ha sedangkan pada tahun 2008 sebesar 5453.32 ha. Sehingga bisa disimpulkan terjadi pengurangan luasan mangrove sebesar 269.42 ha.

TIME SERIES ANALYSIS OF TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) USING LANDSAT DATA IN BERAU COASTAL AREA, INDONESIA

International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.28 KB)

Abstract

Water quality information is usually used for the first examination of the pollution.  One of the parameters of water quality is Total Suspended Solid (TSS), which describes the amount of matter of particles suspended in the water. TSS information is also used as initial information about waters condition of a region. TSS could be derive from Landsat data with several combinations of spectral channels to evaluate the condition of the observation area for both the waters and the surrounding land. The study aimed to evaluate Berau waters condition in Kalimantan, Indonesia, by utilizing TSS dynamics extracted from Landsat data. Validated TSS extraction algorithm was obtained by choosing the best correlation between  field data and image data. Sixty pairs of points had been used to build validated TSS algorithms for the Berau Coastal area. The algorithm was TSS = 3.3238 * exp (34 099 * Red Band Reflectance). The data used for this study were Landsat 5 TM, Landsat 7 ETM and Landsat 8 data acquisition in 1994, 1996, 1998, 2002, 2004, 2006, 2008 and 2013. For detailed evaluation, 20 regions were created along the watershed up to the coast. The results showed the fluctuation of TSS values in each selected region. TSS value increased if there was a change of any kind of land cover/land used into bareland, ponds, settlements or shrubs. Conversely, TSS value decreased if there was a wide increase of mangrove area or its position was very closed to the ocean.