Satyanta Parman
Jurusan Geografi, FIS Unnes

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI MELALUI CITRA PENGINDERAAN JAUH DI PANTAI UTARA SEMARANG DEMAK Parman, Satyanta
Jurnal Geografi Vol 7, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garis pantai utara Semarang Demak selalu mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Perubahan yang serius ini perlu untuk dilakukan pemantauan terus menerus. Permasalahan yang dihadapi di daerah pantai utara adalah bagaimana mengetahui perubahan garis pantai, proses yang terjadi dan mengapa terjadi perubahan garis pantai. Metode penelitian yang digunakann adalah interpretasi citra satelit Landsat tahun 1998 dan citra Allos tahun 2006, dan pengujian lapangan. Dengan menumpang susunkan (overlay) ke dua citra satelit melalui sistem informasi geografis merupakan cara cepat untuk mengetahui perubahan yang terjadi di pantai utara Semarang Demak. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan survei tersebut didapatkan ketelitian sebesar 93% dan dikatakan valid dari 28 titik pengamatan yang berupa garis pantai maupun penggunaan lahannya. Garis pantai yang terjadi antara tahun 1999 sampai tahun 2006 lebih banyak mengalami proses abrasi jika dibandingkann dengan akresi. Abrasi yang terjadi sebesar 771,424 ha, sedangkan akresi yang sebesar 177,931 ha. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik suatu simpulan yaitu citra stelit Landsat dan Allos dapat digunakan untuk mengetahui perubahan garis garis pantai utara Semarang Demak dengan tingkat kebenaran 93 %, perubahan garis pantai yang terjadi berupa abrasi sebesar 771,424 ha dan akresi sebesar 177,931 ha, perubahan garis pantai abrasi terjadi akibat adanya arus laut dan ombak laut yang terus menerus menghantam bibir pantai serta adanya pantai yang relatif datar. Sedangkan akresi pada pantai disebabkan oleh penumpukan sedimen yang berasal dari dari daratan dan terendapkan di pantai terutama melalui muara sungai. Saran dari penelitian adalah untuk mempercepat mengetahui perubahan garis pantai sebaiknya dengan menggunakan citra penginderaan jauh, agar masyarakat ikut menjaga dengan mencegah adanya abrasi pantai. Cara yang dapat dilakukan dengan melalui penghijauan kawasan pantai, misalnya dengan penanaman mangrove ditepi pantai. Kata kunci : Garis Pantai, Penguinderaan Jauh ,SIG
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE MATA PELAJARAN IPS MATERI POKOK GEJALA ATMOSFER DAN HIDROSFER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 BATANG Fitria, Putri Nur; Sriyono, Sriyono; Parman, Satyanta
Edu Geography Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Edu Geography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang berfungsi mendidik, mengajar, memperbaiki tingkah laku siswa serta berperan besar dalam pengembangan aspek dalam diri siswa. Tujuan pendidikan nasional belum sepenuhnya dapat tercapai, banyak masalah yang timbul dalam pembelajaran pada pendidikan formal diantaranya prestasi yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: 1).Mengetahui pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Picture and Picture terhadap materi pokok atmosfer dan hidrosfer kelas VII di SMP Negeri 2 Batang. 2).Mengetahui efektivitas penggunaan model pembelajaran Picture and Picture terhadap hasil belajar materi pokok atmosfer dan hidrosfer kelas VII di SMP Negeri 2 Batang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi, observasi, tes, dan kuisioner. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase dan uji perbedaan dua rata-rata uji t (t-test). Berdasarkan hasilpenelitian pelaksanaan pembelajaran Picture and Picturemenunjukkan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, dengan adanya perbedaan persentase aktivitas siswa kelas eksperimen 32,43% lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol yaitu 29,73%. Selanjutnya efektivitas hasilbelajar yang semakin meningkat antara penggunaan model pembelajaran Picture and Picture dengan konvensional. Dibuktikan dari perbedaan nilai rerata post test kelas eksperimen yaitu 83,31 lebih tinggi dibandingkan nilai rerata post test kelas kontrol yaitu 79,00taraf signifikan yang digunakan 5% dan dk (70) menunjukkan thitung 2,68 > ttabel 1,67 yang artinya hipotesis alternatif “diterima”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Picture and Picture berlangsung lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran konvensional, dan ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara model pembelajaran Picture and Picture dengan pembelajaran konvensional. Schools is formal education institutions functioning of educating, teaching, improve student behavior and play a major role in the development aspect in students.National education goals can not be fully achieved, many of the problems that arise in learning in formal education such achievement is still low. This research aims to: 1).Knowing learning implementation using model Picture and Picture of the subject matter of the atmosphere and hydrosphere class VII in SMP Negeri 2 Batang. 2).Knowing effectiveness of using learning model Picture and Picture the learning outcomes of the subject matter of the atmosphere and hydrosphere class VII in SMP Negeri 2 Batang. The method used documentation, observation, test, and questionnaires. Technical data analysis using descriptive analysis and test of different of two percentage average (t-test). Based on the results of the implementation of learning research Picture and Picture shows more effective than conventional learning, with the differences in the percentage of student activity experimental class 32.43% better than the control class that is 29.73%.Furthermore, the effectiveness of increasing learning outcomes between the use of learning model Picture and Picture by conventional. Evidenced from the average value of post test differences in the experimental class is higher than the 83.31 average value of post test control class that is 79.00 significance level used 5% and dk (70) showed 2.68 t count> t table 1.67 that alternative hypothesis means "accepted". It can be concluded that the implementation of learning using learning model Picture and Picture lasted more effective than using conventional learning, and there are significant differences in learning outcomes between the learning model Picture and Picture with conventional learning.
TANGGAP DIRI MASYARAKAT PESISIR DALAM MENGHADAPI BENCANA EROSI PANTAI (Studi Kasus Masyarakat Desa Bedono Kabupaten Demak) Sanjoto, Tjaturahono Budi; Sunarko, Sunarko; Parman, Satyanta
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 13, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v13i1.7993

Abstract

Coastal erosion is a natural process that occurs in the Village District Bedono Sayung Demak regency. Thispaper aims to examine the efforts of local communities toward coastal erosion. The method used field surveyinstruments to guide in-depth-interviewing, direct observation, and documentation. Sources of informationderived from community residents, community leaders, and government officials. Based on the researchresults known that communities efforts toward abrasion in the area were done by planting mangroves,elevating the house floor, making the stage home, while government support in the form of mangroveseedlings, repairing trails, making the walls of surge protectors, as well as providing new land for relocationof the residents.
TANGGAP DIRI MASYARAKAT PESISIR DALAM MENGHADAPI BENCANA EROSI PANTAI (Studi Kasus Masyarakat Desa Bedono Kabupaten Demak) Sanjoto, Tjaturahono Budi; Sunarko, Sunarko; Parman, Satyanta
Jurnal Geografi Vol 13, No 1 (2016): January 2016
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coastal erosion is a natural process that occurs in the Village District Bedono Sayung Demak regency. Thispaper aims to examine the efforts of local communities toward coastal erosion. The method used field surveyinstruments to guide in-depth-interviewing, direct observation, and documentation. Sources of informationderived from community residents, community leaders, and government officials. Based on the researchresults known that communities efforts toward abrasion in the area were done by planting mangroves,elevating the house floor, making the stage home, while government support in the form of mangroveseedlings, repairing trails, making the walls of surge protectors, as well as providing new land for relocationof the residents.
DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI MELALUI CITRA PENGINDERAAN JAUH DI PANTAI UTARA SEMARANG DEMAK Parman, Satyanta
Jurnal Geografi Vol 11, No 1 (2014): January 2014
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to assess the coastline changes in north coast ofSemarang-Demak. The research method was used satellite image interpretationof Landsat Image in 1998 and Allos Image in 2006, and field cross-checking. Byoverlaying the two satellite images through a geographic information system todetermine the changes that can occured on the north coast of Semarang-Demak.Based on research results showed that the accuracy obtained by 93% and couldbe valid from 28 observation points that form the shoreline and land use.Shoreline that occurred between 1999 and 2006 experienced more abrasionprocess if compared with accretion. The Advice of this study was to acceleratedetermination of the shoreline changes preferably used remote sensing images, inorder to involved community in preventing any abrasion. The methods could bedone through greening coastal areas, for example by mangroves planting on thebeach.
ANALISIS SEBARAN GENANGAN PASANG AIR LAUT (ROB) BERDASARKAN HIGH WATER LEVEL DAN DAMPAKNYA PADA PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN SEMARANG UTARA Oktavia, Masnita Indriani; Parman, Satyanta; Setyowati, Dewi Liesnoor
Geo-Image Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN ARAHAN FUNGSI KAWASAN DI KABUPATEN BOYOLALI Wahyu Aji, Betty Triyani; Parman, Satyanta
Geo-Image Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan lahan adalah bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materi maupun spiritual (Arsyad, 1989:207). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui dan memetakan arahan fungsi utama kawasan di Kabupaten Boyolali berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 dan  2) Menganalisis kesesuaian penggunaan lahan di Kabupaten Boyolali berdasarkan arahan fungsi utama kawasan dan menyajikannya dalam bentuk pemetaan. Obyek penelitian ini adalah penggunaan lahan dengan teknik penentuan sampel purposive sampling.  Data yang dibutuhkan untuk penelitian ini yakni data penggunaan lahan,  curah hujan, jenis tanah, dan kemiringan lereng. Teknik analisis data meliputi teknik scoring, overlay, pembuatan peta dengan SIG, dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Boyolali memiliki 4 arahan fungsi utama kawasan yakni kawasan lindung, penyangga, budidaya tanaman tahunan, serta budidaya tanaman  semusim dan permukiman. Kesesuaian penggunaan lahan berdasar arahan fungsi kawasan berkisar 62,84% sedangkan nilai ketidaksesuaian penggunaan lahan berkisar 37,16% dari luas total daerah penelitian.   Land use is a form of intervention (intervention) humans to land in order to meet the needs of both the material and spiritual life (Arsyad, 1989: 207).This research are purposed: 1) to know and mapping the plan of main region function at the Boyolali regency based on the regulation of  agriculture minister number 837/Kpts/Um/11/1980 and 2) to analyze the suitability of landuse at the Boyolali regency based on  main region function  and to present into the mapping. This object of research is land use with the diciding sample technique of purposive sampling. Data that was need for this research include data of the land use, rainfall, soil type, and  slope. The technique of analyzing data such as scoring, overlay, mapping with GIS, and descriptive technique. The result presented that Boyolali regency has four main function areas namely protected zone, buffer zone, cultivation of annual crops zone, cultivation of crops and settlements zone. The suitability of land use based on the plan of region function about 62,84%, while the value of land use incompatibility ranged 37,16% of the total area.
ZONASI TINGKAT KERAWANAN KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI (TNGC) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Nursoleha, Puji; Banowati, Eva; Parman, Satyanta
Geo-Image Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran  hutan merupakan  salah  satu  bentuk  dari  gangguan  terbesar  yang  dapat menciptakan  kerusakan  hutan  di  Indonesia.  Kebakaran  hutan  terjadi  setiap  tahun  dipicu  oleh kondisi  alam,  seperti  adanya  singkapan  batubara,  lahan  gambut  yang  terbakar  dan  kemaraupanjang  akibat  fenomena  El-Nino. Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah  Taman  Nasional  Gunung Ciremai  (TNGC)  dengan  luas  keseluruhan  14.529,10  hektar.Penelitian  ini  bertujuan:  1) mengetahui zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran Lokasi  pada  penelitian  ini  adalah Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas keseluruhan 14.529,10 hektar.hutan di TNGC, 2) mengetahui sebaran  daerah  yang  rawan  kebakaran  hutan, 3)  mengetahui penyebab  kebakaran hutan. Tujuh  Parameter  dalam  penelitian  ini,  yaitu:  sebaran hotspot,  penggunaan  lahan,  curah hujan, topografi, arah lereng, aksesbilitas pemukiman dan aksesbilitas sungai. Pengambilan sampel ini  berdasarkan proporsional  area  sampling. Metode  dalam  penelitian  ini  adalah  metode  analisis tumpang  susun  (overlay),  pengharkatan,  dan deskriptif.  Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa zonasi  tingkat  kerawanan  kebakaran  di  TNGC  terdiri  dari  tiga  kelas  yaitu zona  sangat  rawan seluas  1.217,001  ha  (8,86%),  zona  rawan  seluas  8.378,936  ha  (57,76%),  dan  zona  tidak  rawan seluas  4.842,269  ha   (33,38%). Persebaran  daerah  rawan  kebakaran  hutan  secara  administratif pada  kelas  zona  rawan  terdapat  pada  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  dan Argalingga. Kelas zona sangat rawan terdapat pada Resort Pasawahan dan Bantaragung. Untuk kelas zona tidak rawan terdapat pada Resort Darma, Argamukti, Sangiang, dan Gunung Wangi. Penyebab alami kebakaran hutan yaitu letusan gunung berapi (semburan lahar/lava). Sedangkan faktor kelalaian manusia karena masyarakat sekitar TNGC masih melakukan pembakaran dalam mengolah/membersihkan lahan garapannya Forest fires are one of the biggest forms of interference that can create forest destruction in Indonesian. Forest  fires occur every year triggered by environmental conditions, such  as the coal outcrop, peatlands areburned and drought due  to El-Nino phenomenon. Locations in this  study is the  National  Park of  MountCiremai (TNGC) with the  total  area  of 14529.10 hectares. This  study  aims  to:  1)  determine  the  level  of vulnerability zoning on forest fires in TNGC, 2) determine the distribution area of forest fire, 3) determine the causes  of  the forest  fires.  The  seven  parameters in  this  study, namely:  the  distribution  called hotspots,  landusing,  rainfall,  topography,  slope  area,  accessibility  of  people  and  accessibility  of  the  river  settlements.  The sampling of  the  research is based  on  proportional  sampling  area.  The  method of this study  uses an  overlay analysis, numeric and descriptive method. The results of this study indicates that the flammability level zoning in TNGC consists of three classes which are very prone zones covering an area of around 1.217,001 ha (8,86%), prone  zones  covering  around  8.378,936  ha  (57,76%),  and  a  zone  not  prone  area  around  4.842,269  ha (33,38%). In fact, the distributions of forest fire areas that are based on administrative class are in prone zones on  the  Resort  Mandirancan,  Cilimus,  Jalaksana,  Cigugur,  and  Argalingga.  Thus,  for  the  very  prone  zone classes are located on Resort Pasawahan and Bantaragung. Then, for the inprone zone classes are in the Resort Darma, Argamukti, Sangiang, and Fragrant Mountain. The natural causes of forest fires is volcanic eruption (lava bursts/lava), on the other hand, the human error reason of forest fires because of the unawarness of people that usually burn their field carelessly.
KAJIAN GENANGAN AIR DI OULET EMBUNG PADA MUSIM HUJAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI SEKITAR KAMPUS UNNES SEMARANG Handayani, Handayani; Liesnoor Setyowati, Dewi; Parman, Satyanta
Geo-Image Vol 3 No 2 (2014)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Genangan air di Oulet Embung Kampus UNNES karena outlet Embung tidak dapat menampung run off, penelitian  ini berdasarkan pada permasalahan: (1) Dimana saja terjadi genangan air di Kampus UNNES  pada saat terjadi hujan?, (2)  Bagaimana  pengaruh genangan air  terhadap aktivitas mahasiswa UNNES?, (3) Bagaimana partisipasi masyarakat Kelurahan Sekaran dalam menjaga kebersihan saluran air di sekitar outlet Embung Kampus UNNES?, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :(1) Mengetahui persebaran genangan air disekitar outlet Embung Kampus UNNES Semarang, (2) Mengetahui  pengaruh  genangan  air  hujan  terhadap aktivitas mahasiswa UNNES, (3) Mengetahui partisipasi masyarakat Kelurahan  Sekaran  dalam  menjaga kebersihan saluran air (drainase) di sekitar outlet Embung Kampus UNNES. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa genangan air terjadi di FIS, FE, FH, FMIPA, FBS. Genangan air mengganggu aktifitas mahasiswa UNNES dan sampai saat ini belum ada kerudian berupa korban jiwa. Masyarakat Kelurahan Sekaran perduli terhadap kebersihan saluran air tetapi kurang koordinasi antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Saran yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut.(1) Saluran air yang ada di dalam Kampus UNNES diperbaiki dengan ukuran yang lebih lebar dan lebih dalam disesuaikan kemiringan lereng serta topografi. (2) Adanya pengarahan dari pihak UNNES kepada warga setempat tentang pola pembangunan yang berada di pinggir jalan raya seperti rumah, tempat usaha dan parkir kendaraan  tidak dibangun di atas saluran air.   Stagnant water in Oulet Embung Campus UNNES because Embung outlets can not accommodate run-off, this research is based on the problem: (1) Where only occurs in Campus UNNES puddles when it rains ?, (2) How does the effect of waterlogging on the student activity UNNES ?, (3) How Sekaran Village community participation in maintaining the cleanliness of the water around the outlet channel embung Campus UNNES ?, The purpose of this study was to determine: (1) Determine the distribution of stagnant water around the outlet embung UNNES Campus Semarang, (2) determine the influence rain puddles on UNNES student activities, (3) knowing participation in maintaining the cleanliness of the village have now drains (drainage) around the outlet embung UNNES Campus. Based on the results of this research is that a pool of water occurs at FIS, FE, FH, Science Faculty, FBS. Puddles students UNNES disturbing activities and until now there is no kerudian be casualties. Sekaran Village community concerned with the cleanliness of the water channel but lack of coordination between the students and the local community. Suggestions put forward in this study as follows. (1) water channel in the Campus UNNES repaired with a size wider and deeper adjustable slope and topography. (2) The direction of the UNNES to local residents about the pattern of development that is on the edge of the highway as homes, business premises and vehicle parking is not built on waterways.
ANALISIS LEVEL OF SERVICE (LOS) DALAM MENGANTISIPASI KEMACETAN LALU LINTAS MENGGUNAKAN SIG DI JALAN UTAMA KECAMATAN KOTA KENDAL Dipahada, Rima; Parman, Satyanta; Putro, Saptono
Geo-Image Vol 3 No 1 (2014)
Publisher : Geo-Image

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat pelayanan (level of  service) suatu ruas jalan adalah perbandingan antara volume lalu lintas dan kapasitas jalan. Pada kecepatan tinggi, volume lalu lintas pasti rendah, sebaliknyapada volume tinggi, kecepatan akan menurun. Analisis tingkat pelayanan jalan atau Level Of Service(LOS)  dalam  penelitian  ini  adalah  Jalan  Soekarno-Hatta,  Jalan  Pemuda,  Jalan  Raya  KendalSemarang, dan Jalan Raya Kendal-Jakarta. Salah satu sistem pemantau peningkatan penggunaantransportasi dan peningkatan jumlah kendaraan yaitu dengan menggunakan Sistem InformasiGeografis  (SIG). SIG  dalam  penelitian  ini  digunakan  sebagai  alat  bantu.  Di Jalur Jalan UtamaKecamatan Kota Kendal terdapat 4 halte, 4 titik lokasi traffict light dan 3 jalur pelayanan angkutan kota.  Tingkat  Pelayanan  Jalan Level  Of  Service (LOS)  di  Jalan  Utama  Kecamatan  Kota  Kendal berdasarkan 4 titik lokasi yang telah dilakukan, tertinggi berada pada jalan Raya Kendal-Semarang dengan nilai 0,981 SMP memasuki kelas E. Tingkat Pelayanan Jalan terendah berada pada jalan Pemuda  dengan  nilai  0,445  SMP  memasuki  kelas  B. Simpulannya  adalah  kemacetan  di  jalan utama Kecamatan Kota Kendal kebanyakan terjadi pada jam-jam sibuk berangkat maupun pulang kerja,  banyaknya  bus  dan  angkutan  kota  yang  berhenti  tidak  pada  tempatnya  menyebabkan terjadinya  kemacetan.  Saran  atau  alternatif  untuk  mengntisipasi  terjadinya  kemacetan  adalah dengan menertibkan bus dan angkutan kota agar tidak berhenti di tepi jalan dan penggunaan jalur alternatif. Service level ( level of service ) of a road is the comparison between traffic volume and road capacity . At high speeds , traffic volume is definitely lower , otherwise at high volume , the speed will decrease . Analysis of the level of service roads or Level of Service ( LOS ) in this study is Soekarno- Hatta Road , Road Building, Road Kendal - Semarang and Jakarta - Kendal Road . One of the monitoring sistem and the increased use of transport is increasing the number of vehicles using the Geographic Information Sistem ( GIS ) . GIS is used in this study as a tool. At the Main Street Line City District Kendal there are 4 stops , 4 points and 3 locations traffict light path of urban transportation services . Road Service Levels Level of Service ( LOS ) in the Main Street District of Kendal Town 4 points based on the location that has been done , the highest being at Kendal -Semarang highway with a value of 0.981 junior enters the class E. Road Service lowest level is at street youth with a value of 0.445 entering junior class B. The conclusion is congestion on the main road Kendal Sub City mostly occurs at peak hours left and came home from work , the number of bus stops and public transportation are not in place causing congestion . Suggestions or alternatives to mengntisipasi is to curb congestion and city transport buses that do not stop at the edge of the road and the use of alternative pathways