Articles

Found 28 Documents
Search

PENGARUH PERLAKUAN HCl PADA KRISTALINITAS DAN KEMAMPUAN ADSORPSI ZEOLIT ALAM TERHADAP ION Ca2+

JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 17 Issue 2 Year 2009
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4266.39 KB)

Abstract

ABSTRACT--It has been done a research to determine  the  influence of hydrochloric acid treatnent to the crystalinity and adsorption capability of natural zeolite to Ca2+ ion.  Activation  process was conducted by refluxing  of  zeolite  with  KMnOa  0.5 M  and HCI  (1:1)  for  4  hours with  temperature of  80"C.  The  various concentration  of HCI  soltrtions  used were 4 M  (AZl),  6 M  (AZZ),8  M  (AZ3)  and l0  M  (AZA). Crstalinity of zeolite  was  identified  by  X-Ray  Diftaction  CXRD) while  the amount of  adsorbed Ca2*  ion was measured  by Atomic  Absorption  Spectroscopy  (AAS).  The activated zeolite was applied  to  adsorb calcium metal  ion  using shaker for  5, 15, 60, 90 dan 120 minutes. The results showed  that the increasing of HCI  concentration for  zeoliteactivation  caused  the  decreasing of  crystallinity  of  NZ,  AZl,  AZ2,  AZ3  wrd AZ1  nunely  100%;  101.10%; 9l.9lo/o;  84.93o/o  and 77  .45o/o  respectively. The adsorption percentage.  of Ca2*  ion  from  conc,entration  originally698 ppm (within  60 minutes)  for NZ,  AZl,  AZ2,  AZ3  and AZ,4 was successively  10.75 Vo;  20.91o/o;  l:4.610/o;19.63% and 24.07o/o.  The results indicated that the decreasing  of  crystallinity  of  zeolite caused  the  increasing of zeolite adsorption ability  to Ca2*  ion.Keywords : zeolite, crystallinity,  adsorption,  ,  Ca2*  ion

Natural Zeolite Modification using Dithizone and Its Application as Adsorbent of Cu(II)

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 2 (2018): Volume 21 Issue 2 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Activation of zeolites with dithizone by reflux method was carried out at 50°C for 6 hours and the results were analyzed using FTIR and GSA. Furthermore, the modified zeolite dithizone was used to adsorb Cu2+ metal ions on variations of adsorption time of 5, 10, 15, 30 and 60 min, variation of adsorption pH 2, 3, 4, 5 and 6 as well as variations in concentrations of 250, 500, 1000, 1500 and 2000 ppm. The results showed that there was a vibrational shift and a new peak emerged on the FTIR zeolite activation spectrum and modified zeolite indicating that the dithizone was present in the zeolite. GSA analysis results show that the surface area of activated zeolite is greater than natural zeolite ie 4,205 m2/g and 5,459 m2/g respectively, whereas dithizone-zeolite had a much smaller surface area of 0.925 m2/g. The selectivity of adsorption of activated zeolite to Cu(II) was greater than of dithizone-zeolite. The optimum adsorption contact time was 10 min for dithizone-zeolite and 30 min for activated zeolite. The optimum adsorption pH was at pH 5 for both adsorbents, as well as the optimum adsorption concentration at 250 ppm for both adsorbents.

Zeolit Alam Sebagai Material Coating: Uji Karakteristik Pupuk Coating dan Noncoating

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 8, No 3 (2005): Volume 8 Issue 3 Year 2005
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

It has been intensively researched to find out the differences of coating and noncoating fertilizer characteristic. Adsorption of water evaporate, pH resistance and influence of material contact area were examined. A distinction between two material structures was analyzed with infrared spectrophotometer. The result showed that at optimum time (70 hours) increase of noncoating fertilizer weight because of water evaporate was 0,9771 gram bigger than coating fertilizer (0,8730 gram). Coating fertilizer was more resistant to pH than noncoating fertilizer. Coating fertilizer dissolved smaller than noncoating fertilizer about 0,02 gram. At the same optimum time, material, which has larger contact area, had the increase of weight bigger than material, which has smaller contact area. The IR spectra of coating fertilizer showed a peak of absorption at 532,3 cm-1 because of vibration T-O which encounter oxygen that has not been found at noncoating fertilizer spectra.Keyword: zeolite, characteristic, fertilizer, coating

Modifikasi Zeolit Alam Menggunakan TiO2 sebagai Fotokatalis Zat Pewarna Indigo Carmine

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Modifikasi zeolit alam menggunakan TiO2 sebagai fotokatalis zat pewarna indigo carmine telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk memodifikasi permukaan zeolit alam dengan TiO2 dan menggunakannya sebagai fotokatalis, menentukan pH optimum untuk degradasi senyawa pewarna indigo carmine, dan mengetahui pengaruh waktu degradasi indigo carmine. Zeolit alam diaktifasi dan kemudian dibuat menjadi zeolit-H. Zeolit-H kemudian direaksikan dengan TiCl4 dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 450°C sehingga terbentuk zeolit-TiO2. Zeolit-TiO2 ini selanjutnya digunakan untuk mendegradasi indigo carmine dengan variasi waktu dan pH larutan. Hasil XRD menunjukkan bahwa terbentuk TiO2 pada zeolit yang ditunjukkan dengan nilai 2θ 17,42°; 24,99°; dan 29,96°. Hasil FTIR menunjukkan adanya bilangan gelombang pada 316,3 cm-1 yang mengindikasikan adanya TiO2 pada permukaan zeolit. Hasil degradasi indigo carmine menunjukkan bahwa semakin lama waktu degradasi semakin banyak indigo carmine yang terdegradasi oleh zeolit-TiO2 dan semakin asam pH indigo carmine semakin besar degradasinya.

Dealuminasi Zeolit Alam Menggunakan Asam (HCl dan H2SO4) untuk Katalis pada Proses Sintesis Biodiesel

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan dealuminasi zeolit alam menggunakan asam (HCl dan H2SO4) untuk katalis pada proses sintesis biodiesel. Zeolit dianalisis dengan AAS dan FTIR serta uji aktivitas katalis pada sintesis biodiesel dengan metode GC-MS. Didapatkan bahwa H2SO4 lebih efektif mendealuminasi zeolite dibandingkan dengan HCl. Hasil spektrogram FTIR menunjukkan bahwa proses dealuminasi asam mengakibatkan perubahan bilangan gelombang dan rasio Si/Al yang cukup signifikan, di mana pada rasio Si/Al zeolit meningkat dari 4,57 menjadi 5,41 pada zeolit alam dealuminasi HCl dan menjadi 6,42 pada zeolit alam dealuminasi H2SO4. Zeolit terdealuminasi mampu bekerja sebagai katalis dalam sintesis biodiesel di mana katalis zeolit dealuminasi H2SO4 menghasilkan metil ester dengan senyawa dominan asam 9-oktadekenoat dengan persentase luas area sebesar 63,21% lebih banyak dibandingkan pada katalis zeolit dealuminasi HCl dan zeolite belum didealuminasi.

Pengaruh Penambahan Surfaktan pada Sintesis Zeolit Y Menggunakan Tetraethyl Orthosilicate (TEOS) sebagai Sumber Silika

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 2 (2011): Volume 14 Issue 2 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zeolit alam mempunyai ukuran pori yang beragam antara 3 Å hingga 8 Å, sehingga tidak efektif untuk mengadsorpsi senyawa yang berukuran besar. Zeolit sintetik (zeolit Y) dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari zeolit alam. Zeolit Y dapat disintesis dengan Tetraethyl orthosilicate (TEOS) sebagai sumber silika dan surfaktan sebagai pencetak pori. Surfaktan dapat mengarahkan struktur zeolit menjadi pori yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan memperoleh zeolit Y sintetik dan mengkaji pengaruh surfaktan Cetyltrimethylammonium Bromide (CTAB) dan Trimethylammonium Chloride (TMACl) terhadap kristanilitas dan ukuran pori zeolit Y. Sintesis zeolit Y dilakukan dengan mencampurkan natrium aluminat, surfaktan dan TEOS. Perbandingan mol natrium aluminat:TEOS adalah 1:1 sedangkan konsentrasi surfaktan 1 M. Struktur dan kristalinitas zeolit Y dianalisis menggunakan FTIR (Fourier Transform Infra Red) dan XRD (X-Ray Diffraction). Sedangkan morfologi pori zeolit Y dianalisis menggunakan adsorpsi gas N2 dengan persamaan BET. Hasil karakterisasi XRD dan FTIR menunjukkan sampel MC (tanpa penambahan surfaktan) merupakan zeolit Y, sedangkan sampel MA (penambahan surfaktan CTAB) dan MB (penambahan surfaktan TMACl) merupakan campuran zeolit HS dan NAS. Sampel MC memiliki kristalinitas tertinggi sedangkan sampel MB paling rendah. Radius pori rata-rata sampel MA, MB dan MC berturut-turut adalah 13,770 Å; 14,029 Å dan 12,962 Å. Sehingga disimpulkan bawah penambahan surfaktan tidak berpengaruh signifikan terhadap ukuran pori.

Sintesis dan Karakterisasi porous carbon dari Sukrosa dengan Menggunakan Asam Sulfat dan Asam Nitrat

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 2 (2011): Volume 14 Issue 2 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porous carbon merupakan suatu material serbaguna karena mempunyai luas permukaan yang besar dan porositas yang tinggi. porous carbon dapat dibuat dari berbagai zat yang memiliki susunan senyawa hidrokarbon seperti karbohidrat, batang kayu atau zat yang mengandung senyawa hidrokarbon lainnya dengan pemanasan temperatur tinggi serta proses aktivasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh porous carbon dari sukrosa serta menentukan karakteristik produk yang diperoleh. Produk sintesis dianalisis menggunakan spektrofotometer FTIR, X-Ray diffraction dan surface area analyzer. porous carbon yang diperoleh dari penggunaan asam nitrat meningkat luas permukaan dan volume pori berturut-turut sebesar 24%dan 25% relatif terhadap porous carbon yang dibuat dengan menggunakan asam sulfat. Adanya perlakuan kalsinasi, porous carbon yang dibuat dengan asam sulfat juga meningkatkan luas permukaan dan volume pori berturut-turut sebesar 97% dan 98%. porous carbon yang diperoleh dapat digunakan sebagai adsorben minyak goreng sisa pakai. porous carbon yang dibuat menggunakan asam nitrat mempunyai daya pemucatan terhadap minyak sisa pakai yang lebih tinggi daripada porous carbon yang lain.

Pengaruh Perlakuan Asam dan Kalium Permanganat terhadap Karakter Zeolit Tasik

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 8, No 1 (2005): Volume 8 Issue 1 Year 2005
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.523 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perlakuan asam dan kalium permanganatterhadap karakter zeolit alam Tasik. Perlakuan pertama menggunakan KMnO4 dan H2SO4, zeolit denganperlakuan ini disebut Z-22. Perlakuan kedua menggunakan KMnO4, H2SO4 dan HCl selanjutnya disebut Z-33.Sebagai pembanding, dilakukan pencucian dengan akuabides terhadap zeolit alam Tasik selanjutnya disebut Z-11. Karakter yang diuji meliputi perubahan nilai kapasitas tukar kation (KTK), rasio Si/Al, keasaman, hilang padapemijaran dan kristalinitas. Hasil penelitian menunjukkan nilai KTK, rasio Si/Al, keasaman, hilang padapemijaran dan kristalinitas Z-22 meningkat terhadap Z-11. Pada Z-33, hanya nilai hilang pada pemijaran yangmenunjukkan peningkatan sedangkan karakter uji yang lain relatif menurun.

Sintesis Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya Untuk Adsorpsi Asap Cair

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis arang aktif menggunakan bahan dasar tempurung kelapa telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mensintesis arang aktif dari tempurung kelapa, menggunakan arang aktif untuk mengadsorpsi asap cair serta menentukan kondisi adsorpsi optimum berdasarkan warna, bau dan kuantitas senyawa fenolat dan asam. Aktivasi arang tempurung kelapa dilakukan menggunakan asam phospat dan natrium klorida dengan waktu perendaman 24 jam. Karakterisasi gugus fungsi dilakukan menggunakan FTIR. Adsorpsi asap cair dilakukan dengan waktu kontak 7, 30 dan 60 menit. Analisis senyawa penyusun asap cair dilakukan menggunakan GC-MS. Kadar total fenol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Follin Ciocalteau, sedangkan analisis kadar total asam menggunakan metode titrimetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif mampu mengadsorpsi warna, bau dan menurunkan jumlah senyawa fenolat dan asam. Dan hasil terbaik untuk adsorpsi asap cair diperoleh dari arang aktif 3F (arang aktif yang diaktivasi oleh H3PO4 dengan adsorpsi selama 60 menit). Asap cair setelah adsorpsi berwarna jernih dan mempunyai bau yang tidak menyengat. Analisis gugus fungsi menunjukkan adanya gugus hidroksil dan karboksil. Analisis GC-MS menunjukkan kehilangan sejumlah senyawa pada asap cair setelah diadsorpsi. Senyawa-senyawa yang hilang umumnya didominasi oleh senyawa fenolat dan asam. Penurunan tertinggi terhadap senyawa fenolat sebesar 76,6% dan penurunan tertinggi terhadap asam sebesar 58,2%.

Pengaruh Variasi Waktu Hidrotermal terhadap Sintesis dan Karakterisasi Nanokristal Zeolit A dari Abu Sekam Padi

Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 20, No 2 (2017): Volume 20 Issue 2 Year 2017
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekam padi merupakan salah satu produk samping dari penggilingan padi. Silika amorf hasil ektraksi dari sekam padi dapat di manfaatkan untuk pembuatan zeolit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nanokristal zeolit A dari abu sekam padi dan menentukan karakter dari produk nanokristal zeolit A hasil sintesis. Hasil dari penelitian ini adalah diperoleh zeolit berupa serbuk putih menggunakan metode hidrotermal dengan variasi waktu hidrotermal selama 1, 2, dan 3 hari. Analisis menggunakan XRD menunjukkan bahwa ketiga zeolit hasil sintesis merupakan zeolit A dengan ukuran bulir kristal semakin menurun dengan bertambahnya waktu hidrotermal di mana masing- masing ukurannya adalah 34,321; 34,21; dan 34,144nm dan puncak utama berada pada 2theta 21°, 23°, 27°, 29° dan 34°. Analisis morfologi permukaan zeolit sintesis menunjukkan ketiga zeolit sintesis memiliki morfologi permukaan berupa kubus.