Sinta Paramita
Universitas Tarumanagara Jl. S. Parman No.1 Gedung Utama Lantai 11, Jakarta Barat, Telp. 021-56960586

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

STUDI BUDAYA NONMATERIAL WARGA JATON Azeharie, Suzy; Paramita, Sinta; Sari, Wulan Purnama
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 6 (2019): Januari 2019
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.143 KB)

Abstract

Jaton village is situated in the heart of where the majority of the population is Christian. For hundreds of years the residents of Jaton Village lived side by side in harmony with the majority of Minahasa tribes who had different religions. A long historical factor makes Jaton Village unique because residents of Jaton Village are direct descendants of Kyai Modjo, a religious teacher from Prince Diponogoro, who was banished by Dutch colonialists along with 63 of his followers to the Tondano area in 1828. Amid the increasing number of violence committed by one religious group in another religion, this research is aim to see a form of nonmaterial culture in Jaton society. This research will answer the question of what form of non-material cultures includes values, norms and regulations for the people of Jaton Village, and how are the values, norms and beliefs passed on to the next generation. The method used is qualitative with case study approach through observation and in-depth interview. The results showed that the Jaton community still holds an ancestral culture originating from Java. In addition, the norms created are mixed up, so there is no norm that limits behavior or action. However, the most obvious thing to hold firmly is the norm of Islamic teachings which is their belief.
Komunikasi Media Dan Budaya Melahirkan Spectacle Society Paramita, Sinta
Jurnal Komunikasi Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstracThe development of communication and information technology spur anyone to access and share Information. Issues of privacy and public interest starts getting eroded and indistinct batasaan between privacy and the public. However, it became interesting for the general public. This article will talk about how the birth of the information communication technology lovers society Spectacle Society. AbstrakPerkembangan teknologi komunikasi dan informasi memacu siapapun untuk mengakses dan melakukan sharing Information. Masalah privasi dan kepentingan publik mulai semakin terkikis dan tidak jelas batasaan antara privasi dan publik. Namun demikian, hal tersebut justru menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat luas. Tulisan ini akan berbicara tentang bagaimana teknologi komunikasi informasi menggiring lahirnya masyarakat penikmat Spectacle Society.  
Televisi dan Berita Konflik di TV One Paramita, Sinta
Jurnal Pekommas Vol 16, No 2 (2013): Agustus
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.971 KB)

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui konstruksi berita konflik Mesuji dan konflik Lampung Selatan yang disiarkan oleh TV One. Metode yang digunakan adalah mengadopsi pemikiran Dahinden dan Entman dalam menjelaskan framing.  Framing Dahinden mengacu kepada kerangka dasar untuk melihat posisi dan pandangan khusus terhadap media dan teks berita.  Sedangkan framing  Entman menjelaskan bahwa dalam membuat kerangka framing yaitu dengan cara dipilih dan memberi diperlakukan tertentu terhadap aspek dari sebuah insiden yang akan diteliti dalam teks berita. Temuan penelitian menunjukkan bahwa wartawan tidak kritis dalam melihat fenomena konflik Mesuji dan Lampung Selatan. Rendahnya kualitas berita akan berpengaruh kepada pemahaman khalayak atas kedua konflik tersebut.
Intercultural Communication to Preserve Harmony Between Religious Group in Jaton Village Minahasa (Komunikasi Lintas Budaya dalam Menjaga Kerukunan antara Umat Beragama di Kampung Jaton Minahasa) Paramita, Sinta; Sari, Wulan Purnama
Jurnal Pekommas Vol 1, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a multicultural country. This condition makes Indonesia become highly vulnerable to conflicts between ethnic or inter-religious. To avoid conflicts, as a country Indonesia required tolerance to maintain inter-religious harmony in Indonesia. Minahasa, especially Jaton Village is one of the areasin Indonesia, which can maintain its sense of tolerance and harmony. Jaton village is a village full of history and the majority of its citizens are Muslims, but the villagers were able to mingle and interact with the Christian’s citizens. The theories used in this research are the concept of intercultural communication and intercultural conflict by Samovar et all and Littlejohn & Domenici. This research is also used the concept of social interaction by Gillinand Gillin. This research was conducted using qualitative case study methods, with the aim to find out the intercultural communication between the residents in Jaton village, and as the result the harmony can be maintained. Based on this research, researcher find that acculturation is happens between Muslims citizens and Christian citizens as majority. This acculturation indicates that the interaction formed between the two religious groups is an associative interaction patterns, so there is no conflict as it is in other areas.Indonesia merupakan negara yang multikultural. Hal ini menjadikan Indonesia sangat rentan terkena konflik antaretnis atau antaragama. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan toleransi untuk menjaga kerukunan antara umat beragama. Salah satu daerah yang dapat memelihara toleransi dan kerukunan tersebut adalah Minahasa atau lebih tepatnya di Kampung Jaton yang merupakan kampung yang penuh sejarah dan mayoritas warganya beragama Islam, tetapi penduduk desa tersebut mampu berbaur dan berinteraksi dengan baik pada warga Minahasa lainnya yang beragama Kristen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep komunikasi lintas budaya dan konflik antar budaya oleh Samovar dan Littlejohn & Domenici. Kemudian juga digunakan konsep interaksi sosial dari Gillin dan Gillin. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus, dan dengan tujuan untuk mencari komunikasi lintas budaya seperti apa yang terjadi antara penduduk di Kampung Jaton dengan warga mayoritas yang berbeda agama sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi akulturasi antara warga yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Akulturasi ini menandakan bahwa interaksi yang terbentuk antara kedua kelompok agama merupakan pola interaksi asosiatif, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terdapat pada daerah lain.
PR Crisis Melalui Media Sosial Carlina, Gladys; Paramita, Sinta
Jurnal Komunikasi Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this research is communication, new media, PR and PR Crisis. Fourth of this background has a close relationship, starting from communication, human in everyday life would require communication to receive and convey information, human can not be released from human life. The advancement of the times and the development of technology, causing people to communicate easily and the development of this era caused a new challenge for the PR and PR Crisis of a company, they should be able to maintain a positive image of the company in the minds of people. In this study using descriptive qualitative methodology, it contains many writings and drawings compared to the numbers. The purpose of this research is to know the strategy used by Pizza Hut in dealing with the issue of expired food. Penelitin results, social media is very positive impact on Pizza Hut in the recovery of food issues expired. The strategy used by the Pizza Hut Crisis PR is to utilize social media. Visible from the issue of expired food that disappeared in public and Pizza Hut restaurant until now crowded visited.Latar belakang dari penelitian ini yaitu komunikasi, media baru, PR dan PR Krisis. Keempat dari latar belakang ini mempunyai hubungan yang erat, dimulai dari komunikasi, manusia di dalam kehidupan sehari-hari tentunya memerlukan komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi, manusia tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Majunya perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, menyebabkan manusia melakukan komunikasi dengan mudah dan perkembangan zaman ini menyebabkan adanya tantangan baru bagi para PR dan PR Krisis sebuah perusahaan, mereka harus bisa mempertahankan citra positif perusahaan di benak masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deksriptif, memuat banyak tulisan dan gambar dibandingkan angka-angka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui strategi yang digunakan oleh Pizza Hut dalam menangani isu makanan kedaluwarsa. Hasil penelitin,media sosial sangat membawa dampak positif bagi Pizza Hut dalam pemulihan isu makanan kedaluwarsa. Strategi yang digunakan oleh PR Krisis Pizza Hut adalah dengan memanfaatkan media sosial. Terrlihat dari isu makanan kedaluwarsa yang menghilang di public dan restoran Pizza Hut sampai saat ini ramai dikunjungi. 
Analisis Self Disclosure Penari Waacking Dalam Komunitas Waacking Dance (Studi Kasus Acara Battle Dance Grand Finals All Asia Waacking Festival 2018 di Bali) Natanael, Gabriel Joshua; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.766 KB)

Abstract

Pada era modern saat ini, tarian sangat berkembang dan dikenal dalam ruang lingkup masyarakat di Indonesia sebagai cara untuk menunjukan emosi, berinteraksi sosial, olahraga, dan mengekspresikan ide-ide atau bercerita mengenai apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah Waacking, tarian yang terbentuk di klub homoseksual yang terletak di kota Los Angeles dimana mereka berkumpul bersama dan menyembunyikan identitas asli mereka dari publik. Melalui ini mereka menemukan jati diri mereka dan dapat melakukan pengungkapan diri untuk melarikan diri dari asumsi dan prejudis masyarakat mengenai kaum homoseksual. Penelitian ini bertujuan mengetahui, memahami, dan memberikan gambaran bagaimana pengungkapan diri para penari waacking dalam komunitas tarian waacking. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi, dan teori penetrasi sosial yang berfokus kepada pengungkapan diri. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengungkapan diri relatif penting dilakukan oleh penari waacking untuk mendapatkan, rasa saling berbagi satu sama lainnya, pengertian antara sesama penari waacking dan juga kenyamanan. Tarian waacking tidak hanya menjadi sebuah tarian, tapi juga menjadi bentuk pengungkapan diri bagi para pelakunya.
Makna Simbolik dalam Konteks Komunikasi Antar Budaya (Kajian Fenomenologi Terhadap Seni Bela Diri Taekwondo) Nelly, Rachel; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.948 KB)

Abstract

Korea Selatan memiliki beragam bentuk kebudayaan dari bahasa sampai dengan kesenian. Salah satu kebudayaan dari Korea Selatan yang terkenal dan diminati dunia adalah seni bela diri Taekwondo. Di dalam seni bela diri Taekwondo terdapat berbagai simbol yang memiliki makna didalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna yang terdapat pada simbol-simbol dalam seni bela diri Taekwondo khususnya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi antar budaya dan teori makna simbolik. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan penelitian kualitatif bersifat deskriptif, dengan penjaringan data fenomenologi. Teknik analisis data secara kualitataif yang digunakan di penelitian ini adalah dengan melakukan observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil wawancara penulis mendapatkan data mengenai prosesi yang dilakukan pada saat akan latihan Taekwondo, terdapat tiga prosesi dari pembukaan, latihan intensif, dan penutup. Kemudian penulis juga mendapatkan simbol-simbol yang terdapat pada seni bela diri Taekwondo yaitu kata-kata terucap berupa teriakan, hitungan, panggilan, dan penggunaan bahasa Korea, objek berupa seragam latihan, sabuk, dan pelindung, gerak tubuh berupa gerakan membungkukkan badan, berdiam diri dan gerakan teknik, tempat latihan, dan peristiwa ujian kenaikan tingkat. Dapat disimpulkan terdapat makna yang terkandung dari simbol-simbol tersebut yakni  pembentukan diri yang dipengaruhi oleh nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai agama bagi setiap orang yang terlibat langsung di dalam suatu fenomena budaya berupa seni bela diri Taekwondo.
Makna Idola Dalam Pandangan Penggemar (Studi Komparasi Interaksi Parasosial Fanboy dan Fangirl ARMY Terhadap BTS) Mihardja, Jeanette; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.039 KB)

Abstract

Didukung dengan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, budaya popular bisa dengan mudah diakses, terutama K-Pop. BTS merupakan salah satu artis K-Pop paling sukses dan memiliki banyak penggemar di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kehadiran idola seperti BTS secara tidak langsung membuat penggemar membentuk interaksi paarasosial. Interaksi parasosial adalah hubungan kelekatan yang terjalin dengan tokoh yang muncul di media. Penelitian ini membahas perbedaan interaksi parasosial antara penggemar perempuan dan laki-laki terhadap BTS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Subjek penelitian berjumlah enam orang ARMY, tiga orang perempuan (fangirl) dan tiga orang laki-laki (fanboy). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggemar perempuan menyukai BTS secara emosional (sahabat, saudara dan hubungan romantis), sedangkan penggemar laki-laki menyukai BTS secara rasional (idola, panutan dan kualitas musik). Penggemar perempuan lebih aktif dalam aktivitas komunitas, di sisi lain penggemar laki-laki tidak tertarik untuk menjadi anggota komunitas dan mendukung BTS dengan batasan-batasan tertentu.
Kredibilitas Komunikator Dalam Menyampaikan Pesan (Analisis Opini Generasi Milenial Pada Kepala Penerangan Kodam Jaya) Silvia, Silvia; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.842 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kredibilitas komunikator dengan menggunakan analisis opini publik generasi milenial pada Kepala Penerangan Kodam Jaya atau Kapendam Jaya. Penelitian ini menggunakan konsep yang terdiri retorika, opini publik, teori generasi Strauss dan Howe dan kredibilitas komunikator (sumber, ekstrinsik dan intrinsic). Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method atau metode campuran dengan pendekatan sekuensial eksplaratori. Campuran antara data awal kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara Kapendam Jaya/Jayakarta kuantitatif diperoleh penulis dari survei mengenai kredibilitas Kapendam Jaya/Jayakarta dalam menyampaikan pesan atau informasi pada generasi milenial (mahasiswa Universitas Tarumangara, Universitas Paramadina, dan Universitas Kristen Indonesia). Temuan menarik dari penelitian ini adalah, menunjukan penampilan berupa komunikasi non verbal seperti seragam merupakan hal yang paling dingat oleh responden mahasiswa yang datang menghadiri event atau seminar, dengan Kapendam Jaya sebagai pembicaranya. 
Eksploitasi Loyalitas Penggemar Dalam Pembelian Album K-Pop Veronica, Maria; Paramita, Sinta
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.231 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang eksploitasi yang dilakukan oleh agensi-agensi idola di Korea Selatan terhadap loyalitas penggemar K-Pop dalam hal pembelian album. Hal ini berlaku bagi penggemar musik K-Pop yang mengalami kemajuan teknologi yang dapat mempermudah penyebaran budaya populer sehingga menimbulkan perilaku konsumtif akan hal-hal yang berhubungan dengan idolanya. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi massa, media massa, media baru, budaya populer, loyalitas penggemar dan eksploitasi dalam konteks budaya popular. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Eksploitasi loyalitas penggemar dilakukan oleh agensi-agensi di Korea Selatan dengan cara mengeluarkan dan menjual album dengan beragam versi sehingga menarik minat beli penggemar. Penggemar ini sendiri menyadari bahwa dirinya telah tereksploitasi tetapi keputusan mereka dalam membeli dan mengoleksi album dalam jumlah banyak dikarenakan adanya konsep diri yang timbul karena munculnya identitas sebagai seorang penggemar. Mereka juga mempunyai rasa kepuasaan diri sendiri ketika sudah membeli album dan sebagai bentuk untuk menghargai karya-karya dari idolanya.