Binar Panunggal
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 50 Documents
Articles

PERBEDAAN JUMLAH ASUPAN ENERGI, LEMAK, SERAT DAN NATRIUM BERDASARKAN KATEGORI SCREEN-TIME VIEWING PADA ANAK OBESITAS USIA 9-12 TAHUN Asshidiqie, Haidar; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 2, No 3 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.914 KB)

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan prevalensi obesitas pada anak dapat terjadi karena aktifitas fisik yang rendah serta asupan makan yang tidak seimbang. Kebiasaan menonton televisi, bermain laptop, handphone ataupun game console yang lazim disebut screen-time viewing, dikaitkan dengan kenaikan prevalensi obesitas anak saat ini.  Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan jumlah asupan makanan (energi, lemak, serat dan natrium) berdasarkan kategori screen-time viewing pada anak obesitas usia 9-12 tahun. *)Penulis PenanggungjawabMetode: Sebanyak 80 anak berusia 9-12 tahun berpartisipasi dalam penelitian cross-sectional dengan menyetujui informed consent yang telah disediakan. Penentuan status obesitas ditentukan berdasarkan standar deviasi (SD) indeks massa tubuh terhadap umur. Data asupan energi, lemak, serat dan natrium diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuisioner screen-time viewing tiap hari dengan ketentuan kategori Low Screen-time Viewing (LSTV < 21 jam/minggu) dan High Screen-time Viewing (HSTV ≥ 21 jam/minggu). Hasil: Terdapat perbedaan jumlah asupan energi dan lemak berdasarkan kategori screen-time viewing pada anak obesitas usia 9-12 tahun. Jumlah asupan energi kategori screen-time viewing LSTV dan HSTV secara berturut-turut adalah 288,42±74,29 kkal dan 358,70±88,03 kkal, sedangkan jumlah asupan lemak untuk kategori LSTV dan HSTV masing-masing 10,29±4,73gr dan 15,08±10,79gr. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara jumlah asupan serat dan natrium berdasarkan kelompok LSTV dan  HSTV pada anak obesitas usia 9-12 tahun.Simpulan: Jumlah asupan energi dan lemak kelompok LSTV lebih rendah dibandingkan jumlah asupan energi dan lemak kelompok pada anak obesitas usia 9-12 tahun.
ASUPAN ENERGI, LEMAK, SERAT, DAN PERSEPSI IBU TENTANG OBESITAS PADA ANAK OBESITAS DAN NON-OBESITAS Subiakti, Dita Adi; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Asupan makanan menjadi faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak. Persepsi ibu tentang obesitas akan mempengaruhi pola makan anak. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan asupan makanan (energi, lemak, dan serat), serta persepsi ibu tentang obesitas berdasarkan status obesitas anak.Metode: Sebanyak 92 anak berusia 9-12 tahun ikut serta dalam penelitian ini. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penentuan status obesitas anak menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh berdasarkan Umur (IMT/U), yaitu obes bila IMT/U >2SD, dan non-obes bila IMT/U <2SD. Data asupan makanan diperoleh melalui wawancara menggunakan formulir recall 24 jam, sedangkan data persepsi ibu diperoleh melalui wawancara mendalam. Data kuantitatif persepsi ibu diperoleh menggunakan kuesioner persepsi ibu tentang obesitas, untuk selanjutnya data di skoring dan dibagi menjadi 3 kategori, yakni baik, sedang, dan kurang.Hasil: Rerata asupan energi, lemak, dan serat pada anak obes secara berturut-turut sebesar 1609,85±135,91 kkal, 61,10±9,1 gram, dan 6,12±1,61 gram, sedangkan rerata asupan energi, lemak, dan serat pada anak non-obes secara berturut-turut adalah 1297,5±69,6 kkal, 44,50±5,46 gram, dan 7,21±1,55 gram. Analisis menunjukkan pada kelompok anak obes, jumlah ibu yang memiliki persepsi baik, sedang, dan kurang berturut-turut yaitu 1 (2,18%), 25 (27,17%), dan 19 (20,65%). Pada kelompok non-obes, jumlah ibu yang memiliki persepsi baik, sedang, dan kurang berturut-turut yaitu 15 (16,30%), 31 (33,70%), dan 0 (0%).Simpulan: Terdapat perbedaan asupan energi, lemak, dan serat pada anak obesitas dan non-obesitas (p<0,05). Terdapat perbedaan persepsi ibu tentang obesitas pada anak obes dan non-obes (p<0,05).
PENGARUH PEMBERIAN ANGKAK (Red Yeast Rice) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN TRIGLISERIDA PADA WANITA PENDERITA HIPERLIPIDEMIA Balgis, Balgis; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.381 KB)

Abstract

Latar Belakang : Hiperlipidemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Angkak mengandung Monakolin K, yaitu metabolit sekunder yang dapat menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase sehingga menghambat sintesis kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian angkak (Red Yeast Rice) terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada wanita penderita hiperlipidemia.  Metode : Jenis penelitian adalah true experiment dengan rancangan control group pre test – post test. Subjek adalah 38 wanita hiperlipidemia dengan kadar kolesterol total ≥200 mg/dl dan atau kadar trigliserida ≥150mg/dl, kelompok perlakuan mendapat 4.8 g/hari angkak dan kelompok kontrol mendapat plasebo. Intervensi dilakukan selama 14 hari. Metode CHOD-PAP digunakan untuk menganalisis kadar kolesterol total dan metode GPO-PAP digunakan untuk menganalisis kadar trigliserida, darah diambil setelah subyek berpuasa selama 10 jam. Uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk. Analisis statistik menggunakan uji dependent t-test, Wilcoxon, independent t-test dan Mann Whitney.Hasil : Rerata kadar kolesterol total dan trigliserida sebelum intervensi kelompok perlakuan berturut-turut yaitu 227,52 mg/dl dan 166,57 mg/dl. Rerata kadar kolesterol total dan trigliserida setelah intervensi kelompok perlakuan berturut-turut yaitu 234.31 mg/dl dan 123.36 mg/dl. Konsumsi angkak dengan dosis 4.8 g/hari tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol total (p=0.370) dan trigliserida (p=0.099). Tidak ada perbedaan kadar kolesterol total (p=0.442) dan trigliserida (p=0.447) antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kesimpulan : Konsumsi angkak tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol total dan trigliserida pada wanita penderita hiperlipidemia. Tidak terdapat perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida antara kelompok kontrol dan perlakuan.
HUBUNGAN ASUPAN SERAT, NATRIUM DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS DENGAN HIPERTENSI PADA ANAK SEKOLAH DASAR Sari, Dewi Mulad; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.055 KB)

Abstract

Latar belakang : Obesitas berkaitan dengan sindrom metabolik salah satunya hipertensi. Obesitas dengan hipertensi tidak hanya terjadi pada dewasa tetapi juga masa anak dan remaja, salah satunya anak Sekolah Dasar (SD). Faktor yang dapat mempengaruhi kejadian obesitas dengan hipertensi antara lain asupan serat, asupan natrium, dan aktivitas fisik.Tujuan : Mengetahui hubungan asupan serat, natrium, dan aktivitas fisik terhadap kejadian obesitas dengan hipertensi pada anak SD.Metode : Desain penelitian case control study dengan matching usia dan jenis kelamin dari 3 SD di kota Semarang. Subjek penelitian terdiri dari 33 kelompok kasus (obesitas dengan hipertensi) dan 33 kelompok kontrol (tidak obesitas tidak hipertensi). Kriteria obesitas menggunakan indikator IMT/U dan tekanan darah menggunakan indikator persentil. Asupan serat dan natrium dihitung dengan food frequency questionaire (FFQ) semi kuantitatif dan aktivitas fisik menggunakan kuesioner aktivitas fisik. Analisa data menggunakan uji Chi Square.Hasil : Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara asupan serat (p=0,46), natrium (p=0,28), dan aktivitas fisik (p=0,33) terhadap kejadian obesitas dengan hipertensi. Asupan serat (OR=0,69; 95%CI=0,26-1,83) dan aktivitas fisik (OR=0,61; 95%CI=0,23-1,62) bukan merupakan faktor risiko kejadian obesitas dengan hipertensi. Asupan natrium (OR=2,22; 95%CI=0,51-9,76) merupakan faktor risiko terjadi obesitas dengan hipertensi, tetapi hasil inkonklusif.Kesimpulan : Asupan serat, natrium, dan aktivitas fisik tidak berhubungan terhadap kejadian obesitas dengan hipertensi. Asupan natrium yang tinggi meningkatkan risiko 2,22 kali kejadian obesitas dengan hipertensi pada anak SD.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PERILAKU PEMBERIAN MAKANAN ANAK USIA 12-24 BULAN Rakhmawati, Nuris Zuraida; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.677 KB)

Abstract

Latar Belakang: Pemberian makanan pada anak dapat mempengaruhi status gizi sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak normal. Kurangnya asupan makanan bergizi pada anak dapat membuat anak mengalami status gizi buruk. Pengetahuan dan sikap ibu diperlukan agar dapat memberikan makanan yang tepat untuk anak. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap perilaku pemberian makanan anak usia 12-24 bulan.Metode: Desain penelitian cross sectional dengan jumlah subjek 65 ibu di wilayah Puskesmas Pegandan. Data yang diteliti meliputi pengetahuan dan sikap ibu dengan menggunakan kuesioner, serta perilaku yang diketahui dengan pengamatan, wawancara dan recall 5x24 jam. Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui perilaku ibu dalam memberikan makan pada anak. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu  dengan perilaku pemberian makan anak dan hubungan sikap ibu dengan perilaku pemberian makan anak.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 86.15% ibu mempunyai pengetahuan baik, 76.92% ibu mempunyai sikap kurang dan 73.95% ibu mempunyai perilaku kurang. Analisis data menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam pemberian makanan untuk anak (p=0,003) dan ada hubungan antara sikap dan perilaku ibu dalam pemberian makanan untuk anak (p=0,04).  Simpulan: Terdapat hubungan pengetahuan dan sikap ibu terhadap perilaku pemberian makan anak usia 12-24 bulan.
POLA MAKAN, STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA DAN PRESTASI BELAJAR PADA ANAK STUNTING USIA 9-12 TAHUN DI KEMIJEN SEMARANG TIMUR Saniarto, Febrian; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.88 KB)

Abstract

Latar belakang: Stunting pada anak usia sekolah dasar (9-12 tahun) terjadi karena malnutrisi kronis. Malnutrisi kronis juga berakibat pada terlambatnya perkembangan otak. Hal ini berakibat pada rendahnya kemampuan kognitif dan rendahnya prestasi belajar. Namun ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar anak. Pola makan dan status sosial ekonomi keluarga adalah faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar pada anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pola makan dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar anak stunting usia 9-12 tahun di Kemijen Semarang Timur.Metode: Sebanyak 85 anak stunting usia 9-12 tahun berpartisipasi dalam penelitian cross sectional ini. Subjek dan responden (orang tua subjek) diwawancarai untuk mendapatkan data karakteristik subjek, pola makan, dan status sosial ekonomi keluarga yang meliputi pendidikan, pekerjaan orang tua, dan pendapatan yang dilihat dari pengeluaran perkapita. Canada’s Food Guide to Healthy Eating (CFGHE) digunakan untuk mengkategorikan pola makan anak. Sementara data prestasi belajar diperoleh dari nilai raport mata pelajaran IPA, Matematika dan Bahasa Indonesia. Hasil: Sebanyak 52,9% subjek memiliki prestasi belajar kurang. Hampir setengah dari subjek memiliki pola makan yang buruk (40%) dan lebih dari setengah memiliki pola makan sedang (58,8%). Sebagian besar orang tua subjek berpendidikan rendah (ibu 74,1% dan ayah 61,2%). Sebanyak 61,2% keluarga mempunyai pengeluaran perkapita yang rendah. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pola makan dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar anak stunting usia 9-12 tahun. Kesimpulan: Pola makan dan status sosial ekonomi keluarga tidak berhubungan dengan prestasi belajar anak stunting usia 9-12 tahun di Kemijen Semarang Timur.
PERBEDAAN CITRA TUBUH BERDASARKAN STATUS GIZI REMAJA PUTRA Ramadhani, Ira Dewi; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.075 KB)

Abstract

Latar Belakang : Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh dijumpai pada remaja putra yang dapat menyebabkan perilaku pengontrolan berat badan yang tidak tepat maupun kebiasaan makan yang buruk sehingga membahayakan perkembangan fisik dan kognitif. Selain itu, kecenderungan pandangan mengenai ketidakpuasan tubuh berdasarkan status gizi remaja putra masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan citra tubuh berdasarkan status gizi remaja putra.Metode : Penelitian menggunakan desain cross sectional. Subjek adalah 84 siswa di SMAN 1 Semarang. Pemilihan subjek menggunakan metode simple random sampling. Data citra tubuh diperoleh melalui kuesioner citra tubuh. Data status gizi diperoleh melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan yang ditentukan menggunakan indikator IMT/U berdasarkan standar pertumbuhan WHO 2007. Hasil perhitungan skor citra tubuh dikategorikan menjadi empat yaitu puas (<80), ketidakpuasan ringan (80-110), ketidakpuasan sedang (111-140), dan ketidakpuasan berat (>140).Hasil : Rerata skor citra tubuh subjek berdasarkan status gizi yaitu underweight (67,60), normal (83,44), overweight ( 93,33), dan obesitas (115,50). Terdapat  48,8% subjek yang puas terhadap bentuk tubuh,  32,14% subjek dengan ketidakpuasan ringan,  11,90% subjek dengan ketidakpuasan sedang dan 7,14% subjek dengan ketidakpuasan berat. Terdapat perbedaaan citra tubuh berdasarkan status gizi remaja putra (p=0,000).  Kesimpulan : Terdapat perbedaan citra tubuh berdasarkan status gizi remaja putra. Status gizi subjek linear dengan rerata skor citra tubuh, hal ini menunjukkan bahwa subjek dengan status gizi overweight dan obesitas semakin menunjukkan ketidakpuasan terhadap tubuh.
PENGARUH FORTIFIKASI FESO4 DAN ZNCL2 TERHADAP KANDUNGAN BESI, ZINC DAN KETENGIKAN YOGURT SUSU KAMBING SINBIOTIK Wong, Andri Widarta; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.075 KB)

Abstract

Latar Belakang   : Fortifikasi pada produk susu merupakan pendekatan untuk mengatasi kurangnya asupan besi dan zinc. Susu kambing mampu meningkatkan jumlah divalent metal transporter 1 (DMT1) yang merupakan transporter besi dan zinc. Aroma tidak sedap susu kambing dapat dikurangi menggunakan proses fermentasi oleh bakteri asam laktat. Penambahan inulin dapat memunculkan efek sinbiotik pada yogurt dan meningkatkan absorbsi besi serta zinc. Fortifikasi mineral diketahui mempengaruhi ketengikan produk.Tujuan   : Menganalisis pengaruh fortifikasi FeSO4 dan ZnCl2 pada yogurt susu kambing sinbiotik terhadap kandungan besi, zinc, serta  ketengikan pada hari ke-0 dan ke-7 penyimpanan.Metode : Penelitian menggunakan 3 kelompok perlakuan: N0 (kontrol), N1 (fortifikasi dengan FeSO4 sebanyak 55mg/liter), N2 (fortifikasi dengan FeSO4  55 mg/l dan ZnCl2 15.6 mg/l). Pengukuran kandungan besi dan zinc dilakukan menggunakan metoda atomic absorption spectrophotometry (AAS). Ketengikan diukur menggunakan pemeriksaan nilai thiobarbituric acid (TBA).*)Penulis Penanggungjawab Hasil      : Terdapat peningkatan kandungan besi pada kelompok N1 dan N2 dibandingkan dengan kelompok N0 (N1 = 3.28 mg/100ml, N2 = 3.81 mg/100ml). Kandungan zinc pada kelompok N2 meningkat sementara kelompok N1 menurun dibandingkan dengan kelompok N0 (N1 = 0.90 mg/100ml, N2 = 1.00 mg/ml). Ketengikan hari ke-0 penyimpanan kelompok N1 dan N2 lebih tinggi dibanding kelompok N0 (N1 = 0.016, N2 = 0.016). Terdapat perbedaan ketengikan pada hari ke-7 penyimpanan antara N1dan N2 dengan N0 (N1 = 0.029, N2 = 0.033). Peningkatan ketengikan terjadi pada semua kelompok (N0 = 0.007, N1 = 0.013, N2 = 0.017).Simpulan : Fortifikasi FeSO4 dan ZnCl2 berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan besi, zinc, dan peningkatan ketengikan hari ke-0 dan ke-7 penyimpanan.
HUBUNGAN LINGKAR PERGELANGAN TANGAN DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA REMAJA PUTRI USIA 15-18 TAHUN DI SMA NEGERI 6 SEMARANG Arifin, Riani; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.555 KB)

Abstract

Latar Belakang : Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang disebabkan karena pankreas tidak mampu memproduksi insulin atau karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang ada. Untuk mendeteksi dini kejadian diabetes melitus perlu dilakukan kontrol kadar glukosa darah sejak remaja. Lingkar pergelangan merupakan salah satu antropometri yang digunakan sebagai prediktor diabetes melitus. SMA Negeri 6 Semarang merupakan salah satu sekolah yang berada di kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pergelangan tangan dengan kadar glukosa darah pada remaja putri usia 15-18 tahun di SMA Negeri 6 Semarang.Metode : penelitian Observasional dengan desain cross sectional, bertempat di SMA Negeri 6 Semarang dengan jumlah sampel 69 subjek yang dipilih dengan consecutive sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek, lingkar pergelangan tangan dan kadar glukosa darah puasa. Lingkar pergelangan tangan diukur menggunakan midline. Pengambilan sampel darah dilakukan untuk pengukuran kadar glukosa darah puasa. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji korelasi pearson.Hasil : Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 59,4% subjek mempunyai kadar glukosa darah pada range 81-90 mg/dl dan 55,1% lingkar pergelangan tangan subjek termasuk dalam kategori kecil. Lingkar pergelangan tangan tidak berhubungan dengan kadar glukosa darah (r=-0,039 p= 0,749).Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara lingkar pergelangan tangan dengan kadar glukosa darah pada remaja putri usia 15-18 tahun di SMA Negeri 6 Semarang
HUBUNGAN ASUPAN PURIN, VITAMIN C DAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA REMAJA LAKI-LAKI Pursriningsih, Siti Santiaji; Panunggal, Binar
Journal of Nutrition College Vol 4, No 1 (2015): (Januari 2015)
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.175 KB)

Abstract

Latar Belakang : Hiperurisemia merupakan keadaan dimana kadar asam urat dalam darah di atas batas normal. Kadar asam urat dipengaruhi oleh asupan purin, vitamin C dan aktivitas fisik.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui hubungan asupan purin, vitamin C dan aktivitas fisik terhadap kadar asam urat pada remaja laki-laki. Metode : Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Jumlah subjek penelitian adalah 66 remaja laki-laki (usia 16-18 tahun) di SMA Negeri 2 Slawi. Subjek dipilih dengan simple random sampling. Data meliputi karakteristik subjek, asupan purin, vitamin C, aktivitas fisik, dan kadar asam urat. Asupan purin dan vitamin C diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan Food Frequency Semi Quantitative, data aktivitas fisik diperoleh dari kuesioner aktivitas fisik selama 3 hari. Metode enzimatik PAP uricase digunakan untuk menganalisis kadar asam urat. Data dianalisis menggunakan uji Pearson. Hasil : Kadar asam urat sebagian besar subjek (94%) termasuk dalam kategori normal. Sebanyak 94% asupan purin subjek rendah, yaitu < 500 mg per hari, 64% asupan vitamin C subjek tinggi yaitu >60 mg per hari dan 53% subjek aktivitas fisik normal. Terdapat hubungan antara asupan purin, vitamin C dan aktivitas fisik terhadap kadar asam urat (p= 0,000).Simpulan : Terdapat hubungan bermakna antara asupan purin, vitamin C dan aktivitas fisik terhadap kadar asam urat pada remaja laki-laki.