Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Agritech

Bioavailabilitas α-Tokoferol Minuman Emulsi Minyak Sawit dalam Plasma Darah dan Hati Tikus (Rattus norvegicus) Harlen, Winda Christina; Muchtadi, Tien Ruspriatin; Palupi, Nurheni Sri
Agritech Vol 37, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.11683

Abstract

Theoritically, it should contains high amount of α-tocopherol but its bioavailability have not been studied yet. The aim of this research were (1) to review the chemical composition of POED by doing proximate test then calculate α-tocopherol level in the product and (2) to evaluate bioavailability of α-tocopherol based on in vivo study. Bioavailability evaluation was carried out by measuring Relative Tocopherol Accumulation Factor (TAF), meanwhile its chemical composition was measured by proximate test and chromatographic analysis using HPLC. α-tocopherol contents of this products were 192,63 μg/g. Bioavailability study was carried out for 14 days using Rattus norvegicus rats. The prepared food contains 30 mg/kg α-tocopherol were given to vitamin-E-depleted rats. Tocopherol Accumulation Factor (TAF) proposed for the test group is 1/45,61, which indicated that 45,61 μg vitamin E from this product was needed to accumulate 1 μg tocopherol in the liver. Tocopherol relative bioavailability of POED was 82,46%. It showed that POED has good bioavailability.ABSTRAKMinuman emulsi minyak sawit (MEMS) merupakan salah produk berbasis emulsi oil-in-water yang dapat menjadi sumber vitamin E dalam bentuk α-tokoferol. Komposisi dasarnya adalah olein minyak sawit, air, dan pengemulsi. Secara teoritis, produk ini kaya akan α-tokoferol namun bioavailabilitasnya belum diketahui. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis komposisi kimia MEMS melalui uji proksimat dan kadar α-tokoferolnya, dan (2) Mengevaluasi bagaimana bioavailabilitas α-tokoferol secara in vivo. Evaluasi bioavailabilitas dengan memperhitungkan Tocopherol Accumulation Factor (TAF) relatif, sedangkan komposisi kimia didapatkan melalui analisis proksimat dan kromatografi dengan HPLC untuk mengetahui kadar α-tokoferol. Kadar α-tokoferol yang didapatkan sebesar 192,63 μg/g. Pengujian biovailabilitas dilakukan selama 14 hari menggunakan hewan coba berupa tikus Rattus norvegicus. Ransum yang diberikan mengandung 30 mg/kg α-tokoferol. Nilai TAF sebesar 1/45,61, yang berarti bahwa 45,61 μg vitamin E dari MEMS dapat menghasilkan 1 μg tokoferol hati. Bioavailabilitas relatif α-tokoferol pada MEMS terhadap α-tokoferol murni sebesar 82,46%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa MEMS memiliki bioavailabilitas yang baik.Kata kunci: α-tokoferol; bioavailabilitas; minyak sawit; minuman emulsi minyak sawit; Tocopherol Accumulation Factor
Alergenisitas Sistem Glikasi Isolat Protein Kedelai-Fruktooligosakarida Suseno, Rahayu; Palupi, Nurheni Sri; Prangdimurti, Endang
Agritech Vol 36, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.16770

Abstract

Food allergy is an immunological response caused by allergens contained in food. Soybean is one of the eight kinds of food products that can cause allergies. Genetically modified food crops that are most widely produced worldwide is soybean (47 % worldwide). Genetically Modified Organisms (GMO) products is concerned may increase the allergenicity of the  product. The aims of the research were to study the allergenicity of GMO and non-GMO Soy Protein Isolates (SPI) and the glycation effect to allergenicity of SPI. GMO and non-GMO SPI were glycated with fructooligosaccharides (FOS) through the Maillard reaction in liquid systems. Allergenicity was determined qualitatively using immunoblotting and quantitatively using Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The glycation degree of GMO and non-GMO SPI can increase up to 75.03 % and 73.50 % in the liquid system. There were 9 protein allergens in GMO soybean and 8 protein allergens in non-GMO soybean. The glycation reaction could reduce protein allergens in GMO and non-GMO SPI up to 91.69 % and 87.07 %.ABSTRAKAlergi pangan merupakan sebuah respon imunologis yang disebabkan oleh alergen yang terdapat pada pangan. Kacang kedelai merupakan satu dari delapan jenis bahan pangan yang sering menyebabkan alergi. Tanaman pangan hasil rekayasa genetika (GMO) yang banyak diproduksi di dunia adalah kacang kedelai yaitu sekitar 47 %. Produk GMO dikhawatirkan dapat meningkatkan alergenisitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tinggat alergenisitas antara Isolat Protein Kedelai (IPK) GMO dan non-GMO serta pengaruh glikasi terhadap alergenisitas IPK. IPK GMO dan non-GMO diglikasi dengan fruktooligosakarida melalui reaksi Maillard dengan sistem cair. Alergenisitas diukur secara kualitatif menggunakan immunobloting dan secara kuantitatif menggunakan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Peningkatan derajat glikasi IPK GMO dan non-GMO pada sistem cair masing-masing memperlihatkan hasil 75,03 % dan 73,50 %. Terdapat 9 protein alergen pada kacang kedelai GMO dan 8 protein alergen pada kacang kedelai non-GMO. Reaksi glikasi dapat mengurangi alergen pada kacang kedelai GMO dan non-GMO hingga 91,69% dan 87,07%.
Tingkat Kelarutan Peptida Tempe dengan Bobot Molekul Kecil pada Berbagai Jenis Pelarut Rusdah, Rusdah; Suhartono, Maggy Thenawidjaya; Palupi, Nurheni Sri; Ogawa, Masahiro
Agritech Vol 37, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.10697

Abstract

There are various methods exist to extract soluble peptide from soybean and its fermented products. This study was aimed to evaluate the solubility of low molecular weight peptide of tempe from two types of bean (GMO and non-GMO soybean) and two different treatment (boiling and non-boiling). The solvents used were water and organic solvents which commonly used as solvents for soy-fermented product. The result showed that  acetonitrile (A): water (W): trifluoroacetic acid (TF) provided higher solubility of the peptides compared with water (p < 0.05). The addition of trifluoroacetic acid in acetonitrile-water mixture (A1W1) increased the peptide recovery about 1.522 mM (31.7%). The GMO tempe showed the higher content of peptide recovery compared with non-GMO tempe, while boiled tempe also gave higher peptide recovery than non-boiled tempe.ABSTRAKMetode ekstraksi peptida terlarut pada produk kedelai dan fermentasi kedelai sangat bervariasi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa sifat kelarutan peptida dengan berat molekul kecil pada sampel tempe yang diambil dari dua jenis kedelai (GMO dan non-GMO) serta dua jenis perlakuan (perebusan dan tanpa perebusan) yang berbeda. Pelarut yang digunakan meliputi air dan pelarut organik yang umum digunakan dalam ekstraksi peptida kedelai dan produk fermentasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut organik asetonitril: air: asam trifluoroasetat (A1W1TF) memberikan tingkat kelarutan peptida tempe kedelai lebih baik dibanding pelarut air (p < 0,05). Penambahan asam trifluoroasetat pada pelarut campuran asetonitril-air (A1W1) terbukti meningkatkan peptida terlarut hingga 1,522 mM (31,7%). Tempe GMO menunjukkan kelarutan peptida lebih tinggi dibanding non-GMO sedangkan proses perebusan juga diketahui mempunyai tingkat kelarutan yang lebih tinggi dibanding tempe tanpa perebusan.Kata kunci: Asetonitrile; kelarutan; peptida; tempe; asam trifluoroasetat