FETRINA OKTAVIA
Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, PT Riset Perkebunan Nusantara Jln. Palembang – Pangkalan Balai

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Genetic Relationship of Wickham and IRRDB 1981 Rubber Population Based on RAPD Markers Analysis

HAYATI Journal of Biosciences Vol 18, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.132 KB)

Abstract

Rubber hand pollination in Indonesian Rubber Research Institute program currently uses Wickham population which genetic analysis showed that genetic diversity of this population is narrow. The development of breeding activity has made the genetic base narrower by inbreeding. In order to solve this problem can use a new genetic resource that is the rubber germplasm IRRDB 1981 population. The genetic relationship between these populations is important to choose parents to avoid closely related genotypes in hand pollination. Therefore RAPD analysis was carried out using four selected primers i.e. OPH-03, OPH-05, OPH-18 and OPN-06. The result showed that Wickham and IRRDB 1981 population were separated into two different big groups with genetic similarity value of 0.64, and those big groups were separated further into many small sub groups with some genetic similarity level. The genetic similarity matrix showed that Wickham and IRRDB 1981 population has a range of genetic similarity 0.37– 0.98. The highest genetic similarity was found between RRIM 600 and PN 621, while the lowest was between BPM 1 and RRIC 100. Value in this matrix showed the genetic diversity between each clone. Based on this result, rubber genotypes of Wickham population could be crossed with genotypes of IRRDB 1981 population by choosing genotypes that have low genetic similarity.

RESISTENSI PLASMA NUTFAH IRRDB 1981 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN Corynespora

Widyariset Vol 17, No 2 (2014): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.484 KB)

Abstract

Leaf fall disease caused by Corynespora casiicola can damage the rubber resulting in considerable economic losses. The opportunities to get rubber plant genetic resources that are resistant to leaf fall disease Corynespora casiicola have been made   by testing the resistance of some germplasm IRRDB 1981. Testing the resistances of some germplasm is to produce genetic resources that are resistant to leaf fall diseases and used as parents in the crossing. Testing was done by using immersion leaves method in a solution of toxin C. casiicola. Resistance testing of 28 genotypes germplasm IRRDB 1981 showed various resistance responses. The results indicated that there were five genotypes that had moderate resistant which were PN 323, PN 333, PN 448, PN 494, and PN 593, and one genotype PN 235 showed highly resistant. The six genotypes needed to be tested in the field to determine their interaction with the environment and then used as cross parents to obtain resistant parentage to C. casiicola leaf fall disease.

KARAKTERISASI SIDIK JARI DNA ISOLAT Corynespora cassiicola YANG BERASAL DARI BERBAGAI SENTRA PERKEBUNAN KARET INDONESIA

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.037 KB)

Abstract

Salah satu tahapan penting untuk mendapatkan klon unggul yang tahan terhadap Penyakit Gugur Daun Corynespora (PGDC) adalah uji ketahanan klon-klon karet terhadap serangan jamur Corynespora cassiicola. Untuk mendapatkan hasil yang tepat, diperlukan informasi genetik dari isolat C. cassiicola yang digunakan. Analisis sidik jari DNA dari tujuh isolat C. cassiicola sudah dilakukan dengan menggunakan teknik RAPD. Isolat C. cassiicola diisolasi dari klon karet GT 1 di tujuh sentra perkebunan Karet di Indonesia yaitu Bengkulu (CBK), Lampung (CLP), Kalimantan Barat (CKB), Jawa Tengah (CJT), Sumatera Selatan (CSS), Jambi (CJB) dan Sumatera Utara (CSU). Hasil analisis RAPD menggunakan 15 primer menunjukkan bahwa keragaman genetik tujuh isolat C. cassiicola cukup tinggi (89,3%). Nilai kesamaan genetik antara isolat bervariasi, dimana kesamaan genetik tertinggi ditemukan antar isolat Sumatera Selatan dengan Jambi yaitu (68,49%) dan kesamaan terendah antara isolat Lampung dengan Sumatera Selatan (51,09%). Analisis UPGMA menunjukkan isolat terbagi ke dalam empat kelompok. Dari 15 primer yang digunakan, 10 primer yaitu OPN-04, OPN-05, OPN-11, OPN-12, OPN-19, OPN-20, OPH-04, OPH-09. OPH-12 dan OPH-16 mampu menghasilkan pola spesifik pada masing-masing isolat, sehingga dapat digunakan sebagai metode identifikasi alternatif.  Diterima : 19 September 2011; Disetujui : 15 Oktober 2011How to Cite : Oktavia, F., Munir, M., Suryaningtyas, H., & Kuswanhadi. (2011). Karakterisasi sidik jari DNA isolat Corynespora cassiicola yang berasal dari berbagai sentra perkebunan karet Indonesia. Jurnal Penelitian Karet, 29(2), 118-129. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/244

IDENTIFIKASI KETAHANAN PLASMA NUTFAH KARET IRRDB 1981 TERPILIH TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA BERDASARKAN AKTIVITAS TOKSIN CASSICOLIN

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.892 KB)

Abstract

Salah satu penyakit pada tanaman karet adalah penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) yang disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Patogen tersebut dapat menyerang semua tahap pertumbuhan tanaman karet yang menyebabkan terjadinya penurunan hasil lateks yang cukup signifikan dan bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman. Penggunaan klon-klon tahan sebagai bahan tanam merupakan cara yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah terjadinya serangan PGDC. Karena itu identifikasi klon-klon resisten merupakan strategi utama dalam manajemen PGDC. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan 50 genotipe terpilih plasma nutfah IRRDB 1981 (PN’81) terhadap PGDC. Enam klon karet yang berasal dari populasi Wickham digunakan sebagai pembanding (BPM 24, BPM 1, GT 1, RRIC 600, PB 260 dan RRIM 600). Empat isolat C. cassiicola (CC-01, CC-20, CC-22, dan CC-23) diinokulasikan masing-masing pada daun muda tahap pertumbuhan B2C, dan intensitas kelayuan daun dihitung berdasarkan estimasi kehilangan air akibat aktifitas patogenisitas toksin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 genotipe tergolong sangat tahan, 13 genotipe tergolong tahan, 23 genotipe tergolong rentan dan 8 genotipe tergolong sangat rentan. Genotipe PN 451, PN 494 dan PN 604 menunjukkan tingkat ketahanan yang lebih baik terhadap PGDC dibandingkan dengan populasi Wickham sehingga ketiga genotipe tersebut berpotensi digunakan sebagai sumber gen ketahanan dalam program pemuliaan tanaman karet. Diterima : 13 Maret 2016 / Direvisi : 29 Juli 2016 / Disetujui : 2 Agustus 2016 How to Cite : Oktavia, F., Sudarsono, S., Kuswanhadi, K., Dinarty, D., & Widodo, W. (2016). Identifikasi ketahanan plasma nutfah karet IRRDB 1981 terpilih terhadap penyakit gugur daun Corynespora berdasarkan aktivitas toksin Cassicolin. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 35-48. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/225

RESISTENSI TANAMAN KARET KLON IRR SERI 300 TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.368 KB)

Abstract

Penyakit gugur daun Corynespora yang disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola (C. cassiicola) merupakan salah satu penyakit daun penting yang dapat menyebabkan penurunan produksi lateks pada perkebunan karet. Salah satu tahapan penting untuk melepaskan klon karet baru adalah mengidentifikasi karakter sekunder seperti resistensi terhadap penyakit. Pengujian resistensi klon karet IRR seri 300 dilakukan di laboratorium dan rumah kaca dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dua faktor yaitu faktor jenis (genotipe) klon (26 jenis klon) dan isolat C. cassiicola (3 isolat). Selain itu, pengamatan serangan penyakit secara langsung juga dilakukan pada tanaman belum menghasilkan di lapangan. Hasil pengujian menunjukkan semua isolat C. cassiicola berpengaruh nyata terhadap resistensi 26 klon IRR seri 300 baik di laboratorium maupun di rumah kaca. Hasil pengamatan pada tiga kegiatan menunjukkan bahwa 13 klon karet yaitu IRR 301, IRR 302, IRR 303, IRR 304, IRR 305, IRR 307, IRR 308, IRR 309, IRR 312, IRR 315, IRR 316, IRR 318, dan IRR 323 memiliki tingkat resistensi tinggi terhadap penyakit gugur daun Corynespora.

Embriogenesis somatik langsung dan regenerasi planlet kopi arabika (Coffea arabica) dari berbagai eksplan Direct somatic embryogenesis and regeneration of arabica coffee plantlets (Coffea arabica) from different explants

E-Journal Menara Perkebunan Vol 71, No 2: Desember 2003
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SummaryTissue culture technique for arabica coffeefaces some problems, mainly in plantletsregeneration from cultured explants. Theobjectives of this experiment were to examine theeffect 2,4-D and 2-ip combinations on somaticembryogenesis and regeneration of arabicacoffee from several different explants. Basalmedium used in this experiment was MS mediumwith ½ concentration of macro and micro salts.Experiment to induce primary somatic embryos(SE) was arranged in factorial randomizedcomplete design with 10 repeats. The first factorwas the type of explants, leaf, epicotyl, hipocotyland root explants. The second factor was plantgrowth regulator i.e. combination of 1  M 2,4-Dwith 5, 10, 15, 20  M and combination of 5  M2,4-D with 5, 10, 15 and 20  M 2-ip. To multiplySE, secondary SE was induced from primary SEon medium containing combination of 0.6  MIAA and 13.3; 17.8 and 22.2  M BAP.Cotyledonary SE were germinated on mediacontaining GA 3 (0, 5, 10 and 15  M), and thenregenerated on medium free of growth regulator.Plantlets with 4-5 leaf pairs were transfered intothe soil medium for acclimatization. The resultsshow that primary SE can be induced from allexplants with the highest frequency on mediumcontaining 1  M 2,4-D and 15  M 2-ip.Induction of primary SE, in leaf explant wasmore effective than other explants. Mediumcontaining 0.6  M IAA and 22.2  M BAP gavethe highest percentage of SE multiplication i.e.52.6% with average SE number of 6.25. Plantletsregeneration can be conducted by culturing SEon maturation medium free of growth regulatorfor one month followed by germinating onmedium containing GA 3 , and then culturing onmedium free of growth regulator again. Thehighest percentage of germinated embryos wasobtained after three weeks and six weekscultured in the medium containing 5  M GA 3 , i.e49% and 90.15 respectively. From total plantletsobtained, 75% of them were normal. Sixtypercents of the young plants grew well in thegreenhouse.RingkasanTeknik kultur jaringan tanaman kopi arabikamasih menghadapi beberapa kendala terutamapada tingkat regenerasi planlet dari eksplan yangdikulturkan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh kombinasi 2,4-D dan 2-ipterhadap embriogenesis somatik dan regenerasikopi arabika dari berbagai eksplan. Media dasaryang digunakan adalah medium MS ½konsentrasi garam makro dan mikro. Percobaaninduksi embrio somatik (ES) primer disusunmenurut rancangan acak lengkap faktorial dengan10 ulangan. Faktor pertama adalah jenis eksplan,erdiri atas daun, epikotil, hipokotil dan akar invitro. Faktor kedua adalah zat pengatur tumbuh,yaitu kombinasi 1 M 2,4-D dengan 5, 10, 15dan 20M 2-ip, serta kombinasi 5 M 2,4-Ddengan 5, 10, 15 dan 20 M 2-ip. Untuk mem-perbanyak jumlah ES yang didapatkan, dilakukaninduksi ES sekunder dari ES primer pada mediumyang mengandung kombinasi 0,6 M IAA dan13,3; 17,8 dan 22,2 M BAP. ES fase kotiledonkemudian dikecambahkan pada medium yangmengandung GA 3 (0, 5, 10 dan 15 M) danselanjutnya diregenerasikan pada medium tanpazat pengatur tumbuh. Planlet yang mempunyai4-5 pasang daun dipindahkan ke medium tanahuntuk aklimatisasi. Hasil yang diperolehmenunjukkan bahwa ES primer dapat diinduksipada semua eksplan yang digunakan denganfrekuensi tertinggi pada medium yang me-ngandung 1 M 2,4-D dan 15 M 2-ip. InduksiES primer pada eksplan daun lebih efektifdibandingkan eksplan lainnya. Untuk per-banyakan ES, medium yang mengandung IAA0,6 M dan BAP 22,2 M memberikanpersentase tertinggi pembentukan ES sekunderyaitu 52,6% dengan rata-rata jumlah ES 6,25.Regenerasi planlet dapat dilakukan denganmengkulturkan ES pada medium maturasi tanpazat pengatur tumbuh selama satu bulan, kemudiandikecambahkan dalam medium yang mengan-dung GA 3 , dan selanjutnya dipindah ke mediumtanpa zat pengatur tumbuh kembali.Perkecambahan ES tertinggi diperoleh padamedium dengan penambahan GA 3 5 M yaitu40,9% setelah tiga minggu dan 90,1% setelahenam minggu. Dari total planlet diperoleh 75%planlet normal. Hasil aklimatisasi menunjukkanbahwa 60% bibit mampu bertahan di rumah kaca.

Transformasi kopi robusta (Coffea canephora) dengan gen kitinase melalui Agrobagterium tumefaciens LBA4404 Transformation of robusta coffee (Coffea canephora) with chitinase gene mediated by Agrobacterium tumefaciens LBA4404

E-Journal Menara Perkebunan Vol 71, No 2: Desember 2003
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SummaryGenetic engineering of robusta coffee forresistance to pathogenic fungi is considered to beone of the potential approaches to overcome theproblem at robusta coffee plantation caused bypathogenic fungi. This research was aimed tointroduce chitinase (CHI) gene into embryogeniccalli of robusta coffee and regenerate theplantlets. Embryogenic calli were co-cultivatedwith Agrobacterium tumefaciens LBA4404harboring pCAMBIA1301 which containschitinase gene under 35S promoter. In thisresearch four concentrations (0, 50, 100 and150 mg/L) of acetosyringone (AC) were used inthe co-cultivation medium. Selection fortransformed calli was conducted by graduallyincreasing the concentration of hygromicin from5 to 25 mg/L. Somatic embryo (SE) was inducedfrom callus on the medium containing acombination of BAP 5 mg/L and IAA (0, 0.25 or0.50 mg/L). Integration CHI in plant genome wasexamined by GUS assay and PCR. The resultrevealed that among the four AC concentrationstested, 100 mg/L gave the highest percentage ofcalli growing on the selection medium (42.5%).BAP concentration of 5 mg/L alone was the mosteffective for inducing of SE from transformedcalli with the highest percentage of 43.1% andaverage number SE of 8.8 ± 3. The strongestGUS expression on the calli at 3 days aftertransformation and the calli grown on selectionmedium containing 150 mg/L AC, which were56.5% and 40% respectivelly. PCR analysisshowed that 7 out of 12 plantlets tested,contained CHI gene. From this research 28transgenic plantlets of robusta coffee wereobtainedRingkasanRekayasa genetika untuk merakit tanamankopi robusta tahan jamur pathogen dipandangmerupakan salah satu pendekatan alternatif yangpotensial untuk mengatasi masalah padaperkebunan kopi robusta akibat serangan jamurpatogen. Penelitian ini bertujuan untuk meng-introduksikan gen kitinase (CHI) ke dalam kalusembriogenik kopi robusta dan regenerasinyamenjadi planlet, sebagai upaya untuk merakittanaman kopi robusta tahan serangan jamur.Kalus embriogenik diko-kultivasi denganAgrobacterium tumefaciens LBA4404 pembawapCAMBIA1301 yang mengandung gen kitinasedi bawah kontrol promotor 35S. Pada percobaanini, empat konsentrasi asetosiringon (AS) (0, 50,100 dan 150 mg/L) digunakan dalam medium ko-kultivasi. Seleksi kalus hasil transformasidilakukan dengan peningkatan konsentrasi higro-misin secara bertahap dari 5 mg/L sampai25 mg/L. ES diinduksi dari kalus pada mediumyang mengandung BAP 5 mg/L dan IAA (0; 0,25dan 0,50 mg/L). Integrasi gen CHI ke dalamgenom tanaman dianalisis melalui uji GUS danPCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa darikeempat konsentrasi AS yang diuji, AS 100 mg/Lternyata menghasilkan persentase tertinggi kalusyang tumbuh pada medium seleksi (42,5%).Konsentrasi BAP 5 mg/L tanpa penambahan IAAefektif menginduksi ES dari kalus hasiltransformasi dengan persentase tertinggi 43,1%dan rata-rata jumlah ES 8,8±3. Ekspresi GUStertinggi dideteksi pada kalus tiga hari setelahtransformasi dan kalus yang tumbuh di mediumseleksi yang mengandung AS 150 mg/L,masing-masing 56,5% dan 40,0 %. Analisis PCRmenunjukkan bahwa 7 planlet dari 12 planletyang diuji, membawa gen CHI. Dari penelitianini dihasilkan 28 planlet kopi robusta transgenik.

Transformasi kopi robusta (Coffea canephora) dengan gen kitinase melalui Agrobagterium tumefaciens LBA4404 Transformation of robusta coffee (Coffea canephora) with chitinase gene mediated by Agrobacterium tumefaciens LBA4404

E-Journal Menara Perkebunan Vol 71, No 2: Desember 2003
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.003 KB)

Abstract

SummaryGenetic engineering of robusta coffee forresistance to pathogenic fungi is considered to beone of the potential approaches to overcome theproblem at robusta coffee plantation caused bypathogenic fungi. This research was aimed tointroduce chitinase (CHI) gene into embryogeniccalli of robusta coffee and regenerate theplantlets. Embryogenic calli were co-cultivatedwith Agrobacterium tumefaciens LBA4404harboring pCAMBIA1301 which containschitinase gene under 35S promoter. In thisresearch four concentrations (0, 50, 100 and150 mg/L) of acetosyringone (AC) were used inthe co-cultivation medium. Selection fortransformed calli was conducted by graduallyincreasing the concentration of hygromicin from5 to 25 mg/L. Somatic embryo (SE) was inducedfrom callus on the medium containing acombination of BAP 5 mg/L and IAA (0, 0.25 or0.50 mg/L). Integration CHI in plant genome wasexamined by GUS assay and PCR. The resultrevealed that among the four AC concentrationstested, 100 mg/L gave the highest percentage ofcalli growing on the selection medium (42.5%).BAP concentration of 5 mg/L alone was the mosteffective for inducing of SE from transformedcalli with the highest percentage of 43.1% andaverage number SE of 8.8 ± 3. The strongestGUS expression on the calli at 3 days aftertransformation and the calli grown on selectionmedium containing 150 mg/L AC, which were56.5% and 40% respectivelly. PCR analysisshowed that 7 out of 12 plantlets tested,contained CHI gene. From this research 28transgenic plantlets of robusta coffee wereobtainedRingkasanRekayasa genetika untuk merakit tanamankopi robusta tahan jamur pathogen dipandangmerupakan salah satu pendekatan alternatif yangpotensial untuk mengatasi masalah padaperkebunan kopi robusta akibat serangan jamurpatogen. Penelitian ini bertujuan untuk meng-introduksikan gen kitinase (CHI) ke dalam kalusembriogenik kopi robusta dan regenerasinyamenjadi planlet, sebagai upaya untuk merakittanaman kopi robusta tahan serangan jamur.Kalus embriogenik diko-kultivasi denganAgrobacterium tumefaciens LBA4404 pembawapCAMBIA1301 yang mengandung gen kitinasedi bawah kontrol promotor 35S. Pada percobaanini, empat konsentrasi asetosiringon (AS) (0, 50,100 dan 150 mg/L) digunakan dalam medium ko-kultivasi. Seleksi kalus hasil transformasidilakukan dengan peningkatan konsentrasi higro-misin secara bertahap dari 5 mg/L sampai25 mg/L. ES diinduksi dari kalus pada mediumyang mengandung BAP 5 mg/L dan IAA (0; 0,25dan 0,50 mg/L). Integrasi gen CHI ke dalamgenom tanaman dianalisis melalui uji GUS danPCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa darikeempat konsentrasi AS yang diuji, AS 100 mg/Lternyata menghasilkan persentase tertinggi kalusyang tumbuh pada medium seleksi (42,5%).Konsentrasi BAP 5 mg/L tanpa penambahan IAAefektif menginduksi ES dari kalus hasiltransformasi dengan persentase tertinggi 43,1%dan rata-rata jumlah ES 8,8±3. Ekspresi GUStertinggi dideteksi pada kalus tiga hari setelahtransformasi dan kalus yang tumbuh di mediumseleksi yang mengandung AS 150 mg/L,masing-masing 56,5% dan 40,0 %. Analisis PCRmenunjukkan bahwa 7 planlet dari 12 planletyang diuji, membawa gen CHI. Dari penelitianini dihasilkan 28 planlet kopi robusta transgenik.

Embriogenesis somatik langsung dan regenerasi planlet kopi arabika (Coffea arabica) dari berbagai eksplan Direct somatic embryogenesis and regeneration of arabica coffee plantlets (Coffea arabica) from different explants

E-Journal Menara Perkebunan Vol 71, No 2: Desember 2003
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2082.995 KB)

Abstract

SummaryTissue culture technique for arabica coffeefaces some problems, mainly in plantletsregeneration from cultured explants. Theobjectives of this experiment were to examine theeffect 2,4-D and 2-ip combinations on somaticembryogenesis and regeneration of arabicacoffee from several different explants. Basalmedium used in this experiment was MS mediumwith ½ concentration of macro and micro salts.Experiment to induce primary somatic embryos(SE) was arranged in factorial randomizedcomplete design with 10 repeats. The first factorwas the type of explants, leaf, epicotyl, hipocotyland root explants. The second factor was plantgrowth regulator i.e. combination of 1  M 2,4-Dwith 5, 10, 15, 20  M and combination of 5  M2,4-D with 5, 10, 15 and 20  M 2-ip. To multiplySE, secondary SE was induced from primary SEon medium containing combination of 0.6  MIAA and 13.3; 17.8 and 22.2  M BAP.Cotyledonary SE were germinated on mediacontaining GA 3 (0, 5, 10 and 15  M), and thenregenerated on medium free of growth regulator.Plantlets with 4-5 leaf pairs were transfered intothe soil medium for acclimatization. The resultsshow that primary SE can be induced from allexplants with the highest frequency on mediumcontaining 1  M 2,4-D and 15  M 2-ip.Induction of primary SE, in leaf explant wasmore effective than other explants. Mediumcontaining 0.6  M IAA and 22.2  M BAP gavethe highest percentage of SE multiplication i.e.52.6% with average SE number of 6.25. Plantletsregeneration can be conducted by culturing SEon maturation medium free of growth regulatorfor one month followed by germinating onmedium containing GA 3 , and then culturing onmedium free of growth regulator again. Thehighest percentage of germinated embryos wasobtained after three weeks and six weekscultured in the medium containing 5  M GA 3 , i.e49% and 90.15 respectively. From total plantletsobtained, 75% of them were normal. Sixtypercents of the young plants grew well in thegreenhouse.RingkasanTeknik kultur jaringan tanaman kopi arabikamasih menghadapi beberapa kendala terutamapada tingkat regenerasi planlet dari eksplan yangdikulturkan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh kombinasi 2,4-D dan 2-ipterhadap embriogenesis somatik dan regenerasikopi arabika dari berbagai eksplan. Media dasaryang digunakan adalah medium MS ½konsentrasi garam makro dan mikro. Percobaaninduksi embrio somatik (ES) primer disusunmenurut rancangan acak lengkap faktorial dengan10 ulangan. Faktor pertama adalah jenis eksplan,erdiri atas daun, epikotil, hipokotil dan akar invitro. Faktor kedua adalah zat pengatur tumbuh,yaitu kombinasi 1 M 2,4-D dengan 5, 10, 15dan 20M 2-ip, serta kombinasi 5 M 2,4-Ddengan 5, 10, 15 dan 20 M 2-ip. Untuk mem-perbanyak jumlah ES yang didapatkan, dilakukaninduksi ES sekunder dari ES primer pada mediumyang mengandung kombinasi 0,6 M IAA dan13,3; 17,8 dan 22,2 M BAP. ES fase kotiledonkemudian dikecambahkan pada medium yangmengandung GA 3 (0, 5, 10 dan 15 M) danselanjutnya diregenerasikan pada medium tanpazat pengatur tumbuh. Planlet yang mempunyai4-5 pasang daun dipindahkan ke medium tanahuntuk aklimatisasi. Hasil yang diperolehmenunjukkan bahwa ES primer dapat diinduksipada semua eksplan yang digunakan denganfrekuensi tertinggi pada medium yang me-ngandung 1 M 2,4-D dan 15 M 2-ip. InduksiES primer pada eksplan daun lebih efektifdibandingkan eksplan lainnya. Untuk per-banyakan ES, medium yang mengandung IAA0,6 M dan BAP 22,2 M memberikanpersentase tertinggi pembentukan ES sekunderyaitu 52,6% dengan rata-rata jumlah ES 6,25.Regenerasi planlet dapat dilakukan denganmengkulturkan ES pada medium maturasi tanpazat pengatur tumbuh selama satu bulan, kemudiandikecambahkan dalam medium yang mengan-dung GA 3 , dan selanjutnya dipindah ke mediumtanpa zat pengatur tumbuh kembali.Perkecambahan ES tertinggi diperoleh padamedium dengan penambahan GA 3 5 M yaitu40,9% setelah tiga minggu dan 90,1% setelahenam minggu. Dari total planlet diperoleh 75%planlet normal. Hasil aklimatisasi menunjukkanbahwa 60% bibit mampu bertahan di rumah kaca.