Articles

Found 34 Documents
Search

Lingkar Pinggang, Kadar Glukosa Darah, Trigliserida dan Tekanan Darah pada Etnis Minang di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat Jalal, Fasli; Liputo, Nur Indrawaty; Susanti, Novia; Oenzil, Fadil
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2008:MMI Volume 43 Issue 3 Year 2008
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.575 KB)

Abstract

Waist circumference, plasma glucose, serum triglyceride and blood pressure amongst the Minangkabau in Padang Pariaman, West SumateraBackground: The abnormality of waist circumference together with serum triglyceride blood sugar and blood pressure are associated with metabolic syndrome. The increasing incidence of metabolic syndrome is in line with the increasing of central obesity. This study was done to investigate the incidence of metabolic syndrome and the relationship between waist circumference with other components of metabolic syndrome which are serum triglyceride, HDL-cholesterol, plasma glucose and blood pressure.Methods: The study was done amongst the Minangkabau in Padang Pariaman. Design of the study was cross sectional study. The study subjects were 92 chosen by multistage random sampling. Characteristic of the samples and food consumption were collected by interviewing. Waist circumference was measured using method that is recommended by WHO (1995). Blood samples were taken to measure lipid profile and plasma glucose. Blood pressure was measured using sphygmomanometer.Results: The result of the study showed 22.8% of the subjects had metabolic syndrome with high intake of energy, carbohydrateand cholesterol, and low intake of fiber and omega 3. Eighty seven percent and 12.5% of women and men had high waist circumference. A positive association were found between waist circumference and serum triglyceride, blood glucose and blood pressure, however no correlation was found with HDL-cholesterol.Conclusions: Waist circumference is an important indicator for metabolic syndrome. Keywords: Metabolic syndrome, waist circumference, triglyceride, blood sugar and blood pressureABSTRAK Latar Belakang: Lingkar pinggang yang berlebihan adalah salah satu komponen dalam Sindroma Metabolik (SM) bersama dengan tingginya kadar serum trigliserida, glukosa darah, dan tekanan darah. Peningkatan kejadian SM sejalan dengan peningkatan obesitas sentral. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran kejadian SM dan hubungan lingkar pinggang dengan komponen SM lainnya, yaitu kadar trigliserida, HDL-kolesterol, glukosa darah, dan tekanan darah.Metode: Penelitian dilakukan pada masyarakat Minang di Padang Pariaman dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan multistage random sampling dengan jumlah sampel 92 orang. Pengumpulan data karakteristik dan konsumsi dilakukan dengan wawancara, pengukuran lingkar pinggang dilakukan dengan cara yang direkomendasikan WHO tahun 1995, juga dilakukan pengambilan sampel darah guna pengukuran profil lipid dan glukosa plasma, sedangkan pengukuran tekanan darah sistolik-diastolik menggunakan sphygmomanometer.Hasil: Hasil penelitian menemukan 22,8% responden ternyata menderita SM, dengan asupan energi tinggi, karbohidrat tinggi, serat rendah, kolesterol tinggi dan asupan omega 3 rendah. Delapan puluh tujuh persen responden wanita dan 12,5% pria memiliki lingkar pinggang besar dari normal. Ditemukan korelasi positif antara lingkar pinggang dengan kadar trigliserida, kadar glukosa plasma dan tekanan darah, namun tidak terhadap kadar HDL-kolesterol.Simpulan: Lingkar pinggang merupakan satu indikator penting penanda Sindroma Metabolik.
Polyadenylphospate Ribose Polymerase (PARP) Activity Between Type 2 Diabetes Mellitus Patients Yerizel, Eti; Manaf, Asman; Yanwirasti, Yanwirasti; Oenzil, Fadil
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 12 December 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Type 2 diabetes mellitus is a degenerative disease which caused health problem inIndonesia and the world. In type 2 diabetes, it has been hypothesized that there its activation ofPolyadenylphosphate Ribose Polymerase (PARP) resulting in inhibition of Gliseraldehyde Phospate Dehydrogenase (GAPDH), endothelial dysfunction later it with cause endotheleal dysfunctions wich is the taste mechanisme of type 2 DM complications. This study aimed to assess difference in PARP activity mean between diabetes mellitus group and control group.Methods: This is an observational study using cross sectional method. Seventy subjects areenrolled according to inclusion and exclusion criteria, and divided into two groups using blocked randomization HbA1c level is tested by hemoglobin variant testing technique system. ELISA is used to examine the activity of PARP. Later, the data will be analyzed using t-test in SPSS.Results: The mean activity of PARP in the type 2 diabetes group was 457±81.34 units/mL, meanwhile in the non-DM group 214±75.54 units /mL, with p<0.05.Conclusions: There are significant mean differences of PARP activity between type 2 diabetesgroup and control group. J Indon Med Assoc. 2012;62:467-70.Keywords: type 2 diabetes mellitus, PARP activity, HbA1C
Hubungan Umur dan Lamanya Hemodialisis dengan Status Gizi pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisis di RS. Dr. M. Djamil Padang Syaiful, Hannie Qalbina; Oenzil, Fadil; Afriant, Rudy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.587 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit Ginjal Kronik (PGK) masih merupakan masalah kesehatan dunia karena prevalensinya yang meningkat, “ireversible” dan progresif. Malnutrisi lebih banyak ditemukan pada PGK. Sebanyak 40% malnutrisi ditemukan pada penderita pada awal hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan umur dan lamanya hemodialisis dengan status gizi pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Ini adalah suatu penelitian Cross Sectional Study yang dilakukan pada bulan Oktober 2013 di Unit Hemodialisis RS Dr. M. Djamil Padang. Telah Diteliti sebanyak 59 orang penderita PGK. Penilaian gizi diukur dengan Lingkaran Lengan Atas (LILA) dan Tebal Lipat Kulit (Skin Fold). Data dianalisa dengan program SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa umur penderita berkisar 22-75 tahun dengan rata-rata 52,39 ±10,39 tahun dan terbanyak umur 50-59 tahun yaitu sebesar 50,86%. Lamanya menjalani hemodialisis berkisar 1-97 bulan dengan rata-rata 24,54 ± 24,69 bulan. Malnutrisi pada penderita PGK berdasarkan LILA dan Skin Fold, didapatkan berturut-turut 33 orang (55,93%) dan32 orang (54,24%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara gambaran gizi dengan umur dan lamanya menjalani hemodialisis (p>0,05, r<1). Kesimpulan dari studi ini adalah malnutrisi pada PGK yang menjalani hemodialisis berkisar antara 54,24% – 55,93%. Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan umur dan lamanya menjalani hemodialisisKata kunci: PGK, malnutrisi, umurAbstractChronic Kidney Disease (CKD) is still a global health problem due to its increasing prevalence Its irreversible and progressive state. Malnutrition is more common in CKD patients. A total of 40% malnutrition case is found in patients at the beginning of their hemodialysis. The objective of this study was to observe the relationships of age and duration of hemodialysis with regard to nutritional status in chronic kidney disease patient on hemodialysis. This was a cross sectional study conducted in October 2013 at Hemodialysis Unit of Dr. M. Djamil General Hospital, Padang. A total of 59 patients with CKD were analyzed. Nutritional assessment was measured by Upper Arm Circles (UAC) and Skin Fold’s thickness (Skin Fold). Data were analyzed using SPSS. Results: Ages of patients were ranged from 22-75 years with an average of 52.39 ± 10.39 years, and most patients were aged 50-59 years that was equal to 50.86%. The long of hemodialysis was ranged 1-97 months with an average of 24.54 ± 24.69 months. Malnutrition in patients with CKD based on UAC and Skin Fold were obtained successively in 33 people (55.93%) and 32 people (54.24%). There was no significant association between nutritional figure with age and duration of hemodialysis (p>0.05, r<1). Conclusion from ths study is malnutrition in CKD patients that undergo hemodialysis is ranged from 54.24% to 55.93%. There is no relationship between nutritional status with age and duration of undergoing hemodialysis.Keyword: CKD, Malnutrition, age
Hubungan Status Gizi dengan Status Sosial Ekonomi Keluarga Murid Sekolah Dasar di Daerah Pusat dan Pinggiran Kota Padang Lisbet Rimelfhi Sebataraja, Sebataraja, Lisbet Rimelfhi; Oenzil, Fadil; ., Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.147 KB)

Abstract

AbstrakStatus gizi anak secara tidak langsung berkaitan dengan faktor sosial ekonomi keluarga. Jika status sosial ekonomi rendah maka kebutuhan makanan keluarga akan kurang terpenuhi sehingga anak akan memiliki status gizi kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dan status sosial ekonomi keluarga murid SD di pusat dan pinggiran kota Padang. Suatu penelitian analitik secara cross sectional telah dilakukan terhadap 220 orang murid di SDN 08 Alang Lawas sebagai perwakilan SD di pusat kota Padang dan SDN 36 Koto Panjang sebagai perwakilan SD di pinggiran kota Padang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner, pengukuran tinggi, dan berat badan anak. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan status gizi murid SD di pusat kota dengan tingkat sosial ekonomi baik sebesar 84,2% status gizi baik dan 6% status gizi kurang, sedangkan keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah didapatkan 15,7% status gizi baik dan 0% status gizi kurang. Pada daerah pinggiran kota dengan status ekonomi baik didapatkan 15,8% status gizi baik dan 64,7% status gizi kurang, sedangkan pada keluarga dengan status ekonomi rendah didapatkan 84,3% status gizi baik dan 100% status gizi kurang. Dari uji Chi-Square didapatkan nilai pearson Chi-Square (x2) = 71.004 lebih besar dari nilai x2 tabel = 7,815 dan nilai probabilitas (p) = 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas yang bermakna yaitu p &lt; 0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan status sosial ekonomi keluarga murid SD di pusat dan pinggiran kota Padang. Status gizi anak juga berhubungan dengan tingkat ekonomi keluarga, tingkat pendidikan ayah dan ibu serta jumlah anak dalam keluarga.Kata kunci: Status Gizi, Status Sosial Ekonomi, Pusat Kota, Pinggiran KotaAbstractNutritional status of children is indirectly related to socioeconomic factors. If the low socioeconomic status family meals needs will not fulfilled so that the child will have malnutrition status. The purpose of this study was to determine the relationship of nutritional status and family socioeconomic status elementary students in the center and suburbs of Padang. An analytic study is cross-sectional was conducted on 220 students at SDN 08 Alang Lawas as representatives elementary in the city center of Padang and SDN 36 Koto Panjang as a representative elementary school on the in the suburbs of Padang. Data collection was conducted through questionnaires and measurements of height and weight of children. Data analysis was done using Chi-Square test statistics. The results were obtained nutritional status in the city center with good socioeconomic level of 84.2% obtained a good nutritional status and 6% malnutrition, while families with lower socioeconomic levels obtained 15.7% of good nutritional status and 0% malnutrition. In the suburban areas with good economic status of 15.8% obtained a good nutritional status and 64.7% malnutrition status, while in families with low socioeconomic status obtained 84.3% a good nutritional status and 100% malnutrition. Of the Chi-Square test obtained value Pearson Chi-Square (x2) = 71 004 is greater than the table value x2 = 7.815 and the probability value (p) = 0.000 is smaller than the value that is meaningful probability p &lt; 0.05 means that there is a significant relationship between the nutritional status of the familys socioeconomic status elementary students in the center and suburbs the city of Padang. Nutritional status associated with Economic level of families, father and mothers education level and number of children in families.Keywords:Nutritional Status, Socioeconomic Status, The City Center, Suburbs
Hubungan Berbagai Faktor Risiko Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Yuliani, Fadma; Oenzil, Fadil; Iryani, Detty
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.196 KB)

Abstract

AbstrakPenyebab mortalitas dan morbiditas utama pada pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2 adalah penyakit jantung koroner (PJK) dimana penderitanya dua sampai empat kali lebih berisiko terkena penyakit jantung dari pada non DM. Mekanisme terjadinya PJK pada DM tipe 2 dikaitkan dengan adanya aterosklerosis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan berbagai faktor risiko terhadap kejadian PJK pada penderita DM tipe 2. Penelitian dilaksanakan di RSUP. Dr. M. Djamil Padang dan RS. Khusus Jantung Sumbar pada bulan Maret-Agustus 2013. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional comparative. Jumlah sampel 176 orang yang terdiri dari 88 orang penderita DM dengan PJK dan 88 orang DM tanpa PJK. Pengolahan data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan sistem komputerisasi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2 adalah jenis kelamin (p=0,000), lama menderita DM (p=0,043), hipertensi (p=0,007), dislipidemia (p=0,000), obesitas (p=0,023), dan merokok (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna (p&lt;0,0001) antara jenis kelamin, dislipidemia, dan merokok dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2 dan terdapat hubungan yang bermakna (p&lt;0,05) antara lama menderita DM, hipertensi, obesitas dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2.Kata kunci: DM tipe 2, PJK, faktor risikoAbstractThe main causes of mortality and morbidity in type 2 diabetes mellitus (DM) patients is coronary heart disease (CHD) which adults who suffer from DM are two to four times have the risk of heart disease than people without DM. The mechanism of CHD in DM is associated with the presence of atherosclerosis that influenced by various factors. This research has aims to determine the relationship of risk factors for CHD incident in patients with DM. The study was conducted in the Dr. M. Djamil Padang and Cardiac Hospital of West Sumatra from March to August 2013. This research is an analytic study with comparative cross-sectional design. There are 176 DM patient samples that consist of 88 CHD patients and 88 patients without CHD. The data processing used chi-square test by computerized system. The result showed that risk factors that were related with CHD incident in DM patients are gender (p=0,000), long-suffering diabetes (p=0,043), hypertension (p=0,007), dyslipidemia (p=0,000), obesity (p=0,023), and smoking habit (p=0,000). Conclusion: There are marked significant (p&lt;0,0001) relationship between gender, dyslipidemia, and smoking habit with CHD incident in DM patients and significant relationship (p&lt;0,05) between long-suffering diabetes, hypertension, and obesity with CHD incident in DM patients.Keywords: type 2 diabetes mellitus, CHD, risk factor
Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Nitrit Oksid pada Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Purwadianti, Nidia; Oenzil, Fadil; Sulastri, Delmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.697 KB)

Abstract

AbstrakObesitas merupakan masalah kesehatan yang kompleks dengan penyebab multifaktorial. Obesitas berkaitan erat dengan peningkatan risiko sejumlah komplikasi seperti hipertensi. Salah satu mekanisme yang menghubungkan obesitas dengan hipertensi adalah disfungsi endotel sebagai akibat penurunan kadar nitrit oksid (NO). Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator untuk menentukan obesitas. .Tujuan penelitian ini ialah menentukan hubungan IMT dengan kadar nitrit oksid pada masyarakat etnik Minangkabau. Desain penelitian adalah studi potong lintang dengan populasi masyarakat etnik Minangkabau usia 30 – 65 tahun di 4 kecamatan terpilih di Kota Padang. Jumlah subjek sebanyak 130 orang. Data responden merupakan data sekunder yang dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan uji beda rerata dengan metode independent sample t-test. Hasil penelitian pada kelompok obesitas diperoleh p-value = 0,982 dengan r = -0,003. Pada kelompok tidak obesitas didapatkan p-value = 0,924 dan r = -0,013. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kadar NO. Kadar nitrit oksid rerata pada responden obesitas adalah 28,37±17,45 μmol/L dan tidak obesitas adalah 23,91±11,55 μmol/L dengan p-value=0,084. Terdapat perbedaan rerata kadar NO kelompok obesitas dan tidak obesitas pada masyarakat etnik Minangkabau di Kota Padang namun tidak bermakna secara statistik. Diharapkan penelitian lebih lanjut dengan mempertimbangkan faktor lain yang mempengaruhi kadar NO selain IMT.Kata kunci: indeks massa tubuh, kadar nitrit oksid, obesitas AbstractObesity is a complex health problem with multifactorial causes. Obesity is strongly related to risk increase of many complications such as hypertension. One of the mechanisms that links obesity and hypertension is endhotelial disfunction due to nitric oxide (NO) level decrease. Body Mass Index (BMI) measurement is one of the indicators to determine obesity. The objective of this study was to determine correlation between BMI and NO level in Minangkabau ethnic group. The research design was cross sectional study, the population was Minangkabau ethnic group in the age group of 30-65 years old from 4 selected districts in Padang. The total subjects were 130. The secondary data were analyzed by using Pearson correlation and mean difference test by using independent sample test method. The results obtained in obese groupare p-value=0.982 and r= -0.003. In non-obese group p-value = 0.924 and r = -0.013.Those findings suggest that there is no significant correlation between BMI and NO level. Mean NO level of obese group was 28.37±17.45 μmol/L and 23.91±11.55 μmol/L for non-obese group, p-value=0.084. It indicates that there is no significant correlation between obesity and NO level on Minangkabau ethnic group in Padang. It is suggested that other researchers conduct further research by considering other factors influencing NO level besides BMI.Keywords: body mass index, nitric oxide, obesity
Insidens Riwayat Hipertensi dan Diabetes Melitus pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di RS. Dr. M. Djamil Padang Yulsam, Putri Yuriandini; Oenzil, Fadil; Efrida, Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.145 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit non-infeksi yang menjadi sorotan dunia. Hal ini terkait dengan adanya perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan zaman. WHO pada tahun 2008 memperkirakan 17,3 juta jiwa meninggal akibat penyakit kardiovaskular, 7,3 juta jiwa diakibatkan oleh PJK dan 6,2 juta akibat strok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran insidens riwayat hipertensi dan diabetes melitus pada pasien PJK di RS. Dr. M. Djamil Padang. Ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Bagian Rekam Medik RS. Dr. M. Djamil Padang yang berlangsung dari Februari 2012 sampai Maret 2013. Populasi penelitian sebanyak 184 rekam medik, tetapi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 124 sampel Pengolahan data dilakukan secara manual dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi pasien PJK berdasarkan usia yaitu kelompok usia 51-56 tahun sebesar 30,64% dan sebagian besar adalah laki-laki (75%). Prevalensi riwayat hipertensi pada pasien PJK didapatkan sebesar 46,77%, sedangkan riwayat diabetes melitus sebesar 10,48%.Kata kunci: penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus AbstractCoronary heart disease (CHD) is one of the non-infectious disease that become the world spotlight. It is associated with a change in lifestyle paralel to the era development. WHO in 2008 estimated that 17,3 million people died from cardiovascular disease, 7,3 million attributable to CHD, and 6,2 million died due to stroke. The objective of this study was to describe the incident history of hypertension and diabetes mellitus in patient with CHD in Dr. M. Djamil Hospital Padang. This was a descriptive study with cross sectional design which carried out in Medical Record of Dr. M. Djamil Hospital Padang from February 2012 until March 2013. The population in this study were 184 medical record, but the samples had the inclusion and exclusion criteria were 124 medical record. All data were processed and analysed by manually and then the data shown by frequency distribution table. The result showed the highest distribution of CHD patient based on age is in the age group of 51-56 years, and majority were male (75%). The prevalence of hipertension history in CHD patient is 46.77% while a history of diabetes mellitus is 10,48%.Keyword: coronary heart disease, hypertension, diabetes mellitus.
Hubungan Obesitas dengan Hormon Testosteron pada Mahasiswa STIKes Indonesia Padang ,, Ibrahim; Oenzil, Fadil; Amir, Arni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.627 KB)

Abstract

Abstrak Obesitas menjadi epidemik seluruh dunia dan dua pertiga penduduk negara berkembang menderita obesitas. Pada pria obesitas terdapat lebih banyak sel lemak melepaskan enzim aromatase yang mengkatalisis testosteron menjadi estradiol. Bertambahnya berat badan akan mempercepat penurunan hormon testosteron. Tujuan penelitian iniadalah menentukan hubungan obesitas dengan hormon testosteron. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional.  Total sampling berjumlah 32 orang. Penelitian ini dilaksanakan dari  Oktober 2013 sampai Januari 2015 di STIKes Indonesia dan Laboratorium Biokimia FK Unand. Analisa data diolah secara komputerisasi dengan uji statistik korelasi dan regresi linier sederhana dengan derajat penolakan 5”%”, p=0,05. Hasil penelitian menunjukan hubungan yang lemah dan berpola negatif lemah artinya semakin meningkat berat badan maka semakin rendah hormon testosteron. Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan hormon testosteron. Penelitian ini memberikan informasi dan pengetahuan tentang terjadinya infertilitas akibatterganggunya hormon testosteron pada pria yang menderita obesitas.Kata kunci: obesitas, testosteron, adiponektin, enzim aromatase Abstract Obesity is becoming a worldwide epidemic and two-thirds of people developing countries suffer obesity. Obese men have fat cells that release the enzyme aromatase which catalyse testosterone to estradiol. Weight gain, the faster decline in testosterone. The objective of this study was to determine the relationship of obesity to testosterone. The design of this study was observational, cross-sectional approach to sampling amounted 32 people. The research was conducted from October 2013 January 2015 in STIKes Indonesia and Biochemistry Laboratory Faculty of Medicine, University of Andalas. Data analysis was processed by a computerized with statistical tests correlation and simple linear regression and the degree of rejection of 5”%”. p=0.05. Obesity research results with testosterone showed weak correlation and weak negative patterned means increasing weight, the lower hormone testosterone. The conclusion of this study is no significant association between obesity and hormone testosterone.This research can provide information and knowledge about the occurrence of infertility due disruption of testosterone levels men who suffer from obesity.Keywords: obesity, testosterone, adiponecty, enzym aromatase
Gambaran Kadar Gula Darah pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang Memiliki Berat Badan Berlebih dan Obesitas Auliya, Putri; Oenzil, Fadil; Dia Rofinda, Zelly Dia
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.617 KB)

Abstract

AbstrakObesitas dan berat badan berlebih merupakan faktor predisposisi terhadap resistensi insulin yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah sehingga terjadi diabetes mellitus tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar gula darah pada dewasa muda yang diwakili oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang memiliki berat badan berlebih dan obesitas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Sampel penelitian diambil dari total populasi yakni sebanyak 25 orang yang  diperiksa kadar gula darah puasa, TTGO, IMT dan aktivitas fisik. Hasil penelitian ini menggambarkan telah terjadi peningkatan kadar gula darah puasa yakni GDPT sebanyak 32% dan diabetes sebanyak 28%. Pada gula darah TTGO terjadi peningkatan sebanyak 16% yakni TGT. Peningkatan kadar gula darah ini sangat berhubungan dengan aktivitas fisik, yakni 16% responden dengan aktivitas fisik ringan didapatkan interpretasi diabetes pada gula darah puasa sedangkan aktivitas berat hanya 8% dan sedang 4%. Begitu pula dengan kadar gula TTGO yakni sebanyak 8% mengalami TGT pada responden dengan aktivitas fisik ringan. Kesimpulannya sebagian besar sampel yang memiliki berat badan berlebih dan obesitas mengalami peningkatan kadar gula darah pada interpretasi TGT, GDPT dan Diabetes.Kata kunci: kadar gula darah, obesitas, berat badan berlebih, TTGO, TGT, diabetes AbstractObesity and overweight is a predisposing factor insulin resistance which causes an increase in blood sugar levels in type 2 diabetes mellitus. The objective of this study was to reveal the blood sugar levels of medical students in andalas university whom are overweight and obese. This  was a descriptive study with a cross sectional design. This study was conducted in Medicine Faculty of Andalas University Padang. Samples from this study is the total sampling population of 25 people. The variables were fasting blood sugar, glucose tolerance, BMI and Physical Activity. This study illustrate  the increasing in fasting blood sugar level as prediabetes  32% and diabetes  28%. In the oral glucose tolerance, TGT was identified to cause an of blood sugar increased by 16%. Increased blood sugar levels was highly associated with physical activity, which is 16% of respondents with mild physical activity displayed an interpretation of diabetes from the fasting blood sugar, in strenuous activities 8% and moderate activity 4%. Similarly, the glucose tolerance as much as 8% had IGT in respondents with mild physical activity. The conclution of this study is the subjects with overweight and obesity have elevated level of blood sugar in interpretation of IGT, IFG, and diabetes.Keywords: blood glucose levels, obesity, overweight, IGT, IFG, diabetes
Hubungan Kadar Ft4 Dengan Kejadian Tirotoksikosis berdasarkan Penilaian Indeks New Castle Padawanita Dewasa di Daerah Ekses Yodium Rusda, Harsa; Oenzil, Fadil; Alioes, Yustini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.792 KB)

Abstract

AbstrakTirotoksikosis merupakan manifestasi klinis yang terjadi akibat peningkatan kadar hormon tiroid dalam darah. Kelebihan yodium merupakan salah satu penyebab terjadinya tirotoksikosis. Ini ditandai dengan hasil pemeriksaan kadar Ekskresi Yodium Urin (EYU) > 199 μg/L. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar FT4 dengan kejadian tirotoksikosis berdasarkan penilaian indeks New Castle pada wanita dewasa di daerah ekses yodium. Metode: Penelitian dilakukan dengan menganalisis data yang dikumpulkan secara Cross Sectional Study terhadap 37 wanita dewasa menggunakan metoda total sampling di Nagari Koto Salak, Kecamatan Koto Salak Kabupaten Dharmasraya yang merupakan daerah ekses yodium (median EYU 323,5 μg/L). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan penilaian Indeks New Castle dan pengambilan darah untuk dilakukan pemeriksaan kadar FT4 dalam serum. Hasil: Analisis univariat didapatkan jumlah penduduk wanita dewasa dengan kadar FT4 meningkat sebanyak 14 persen dan nilai rata-rata 1,71 ng/dl. Penilaian indeks New Castle dalam kategori doubtful 16 persen dan tidak ditemukan penduduk yang termasuk dalam kategori toxic. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-square, didapatkan p value=1. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar FT4 dalam serum dengan kejadian tirotoksikosis pada wanita dewasa di derah ekses yodium. Saran: Perlu dilakukan penyuluhan mengenai asupan yodium kepada masyarakat dan diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap pemberian kapsul yodium serta melakukan kontrol kadar EYU secara teratur dan berkala.Kata kunci: FT4, tirotoksikosis, indeks New Castle, wanita, ekses yodium, tiroidAbstractThyrotoxicosis is a clinical manifestation that occurs due to elevated levels of thyroid hormones in the blood. Iodine excess is one of the causes of thyrotoxicosis. This is indicated by the results of urine iodine excretion levels (EYU) > 199 μg/L. Objective: This study aimed to determine the association FT4 levels with thyrotoxicosis incidence based on New Castle index assessment of adult women in iodine excess area.Method: The study was conducted data analysis which collected with Cross Sectional Study against 37 adult females by using total sampling methods in Koto Salak, Dharmasraya regency which is the iodine excess area (median EYU 323,5 μg/L). Data were collected by using interview New Castle Index assessments and blood sampling for examination FT4 levels in blood serum.Result: Univariate analysis of adult women population is 14 percent in increase category of FT4 levels and 1,71 ng/dl of the average value. New Castle index assessment 16 percent in doubtful category and none included in the toxic category. Based on Chi-Square statistics test, showed p value=1.Conclution: There was no significant association between FT4 levels in blood serum with thyrotoxicosis incidence of adult women in iodine excess area.Suggestion: Therefore, it should be informed to the community about iodine intake and this research is hoped can be input for the government policy towards iodine suplementation and control EYU levels regularly and periodically.Keywords: FT4, thyrotoxicosis, New Castle index, women, iodine excess, thyroid