Articles

Potency of Garlic Extract Against Koi Herpesvirus (KHV) in Common Carp Nuryati, Sri; Puspitaningtyas, D.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.178 KB)

Abstract

Prevention of koi herpesvirus (KHV) infection using chemicals or medicines was ineffective way.  In this study garlic extract was used to prevent KHV infection.  Virus suspension of 0.1 ml and garlic extract of 0.1 ml in different dosage, i.e., 100, 200 and 300 ppt, was injected into common carp body.  Hemoglobin concentration, red and white blood cell numbers, and leukocyte number were counted.  The results of study showed that administration of 300 ppt of garlic extract could produce higher survival rate (67.5%), good blood parameters and clinical symptoms compared to other treatments. Keywords: garlic, KHV, common carp   ABSTRAK Upaya penanggulangan wabah Koi Herpesvirus (KHV) menggunakan bahan-bahan kimia atau obat-obatan adalah tidak efektif. Pada penelitian ini dilakukan pemberian ekstrak bawang putih untuk menanggulangi infeksi KHV.  Suspensi virus sebanyak 0,1 ml ditambahkan dengan 0,1 ml ekstrak bawang putih dengan berbagai konsentrasi, yaitu 100, 200 dan 300 ppt, disuntikkan ke dalam tubuh ikan mas.  Kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan sel darah putih jenis dan jumlah leukosit diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bawang putih sebanyak 300 ppt menghasilkan kelangsungan hidup (67,5%) yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan begitu pula dengan gambaran darah serta gejala klinisnya.   Kata kunci: bawang putih, KHV, ikan mas
The use of Cattapa Leaves Terminalia cattapa as Preventive and Curative Methods in Patin Catfish Pangasionodon hypophthalmus Infected With Aeromonas hydrophila Wahjuningrum, D.; Ashry, N.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.375 KB)

Abstract

Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila induced serious epidemics of ulcerative disease in freshwater fish including patin catfish Pangasionodon hypophthalmus. In vitro study for antibacterial test of cattapa leaves Terminalia cattapa (TC) were done previous to the in vivo test. The in vitro susceptibility test was performed at the dosages of 30, 60 and 90 g/l TC. At the in vivo test, fish were injected intramusculary with TC at the dosages of 60 g/l for the prevention and 120 g/l for curative efficacy. Results from blood picture, clinical sign and mortaliyt showed that TC were better and more effective as preventive than curative for MAS in patin catfish. Keywords :  Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, patin catfish   ABSTRAK Penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila sering menyebabkan wabah penyakit tukak pada ikan-ikan air tawar termasuk pada ikan patin Pangasionodon hypophthalmus. Uji antibakteri secara in vitro dari daun ketapang Terminalia cattapa (TC) dilakukan sebelum uji in vivo. Pada uji in vitro dilakukan pengujian aktivitas antibakteri TC terhadap A. Hydrophila pada dosis TC 30, 60 dan 90 g/l. Pada uji in vivo, ikan diinfeksi secara intramuskular dengan TC, untuk pencegahan dengan dosis 60 g/l TC dan pengobatan pada dosis 120 g/l TC. Hasil yang diperoleh dari gambaran darah, gejala klinis dan kematian ikan patin menunjukkan bahwa TC lebih baik dan sangat efektif untuk pencegahan daripada pengobatan untuk penyakit MAS pada ikan patin. Kata kunci: Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, ikan patin
The Used of Paci-Paci Leaves Extract Leucas sp. to Prevent Mycotic Disease Nuryati, Sri; Suparman, M.A.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.282 KB)

Abstract

Injury of fish caused by handling of fry transportation and harvesting could impact mycosis. Effort on controlling by using chemotherapeutic could impact on pollution of environtment and even  carcinogenic effect. One of alternative substances  can be used in both preventing and controlling safely is paci-paci, Leucas sp. This method based on phytopharmacy.  The aim of this research is to test the prevention of paci-paci leaves extract to mycotic disease .  This research used five treatments: possitive control; the doses of paci-paci  extract were 0 gr/l (negative control); 0.5 gr/l; 1 gr/l and 1.5 gr/l by using the gurami, Osphronemus gouramy Lac. That was measuring 7-9 cm. The method that was used is the short-term submersion (short baths) for 24 hours.  Paci-paci extract can reduced the fungal infection and hindered the growth of Saprolegnia sp. colonies.  Descriptively, the paci-paci extract (the treatment of the extract 0.5 gr/l; 1 gr/l; 1.5 gr/l) could prevent the Saprolegnia sp. infection with the successive prevalence 33.3 %; 22.2 %; 0 %. Keyword: Osphronemus gouramy, paci-paci, Leucas sp. and mycosis   ABSTRAK Luka-luka pada tubuh ikan baik yang disebabkan penanganan pada saat pengangkutan maupun panen benih berpeluang menimbulkan penyakit mikotik yang disebabkan oleh cendawan. Upaya pengendalian menggunakan obat-obatan kimia berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan bahkan ada yang bersifat karsinogenik. Salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan dengan aman dalam upaya pencegahan dan pengendalian tersebut adalah paci-paci, Leucas sp. yang merupakan metode berbasis fitofarmaka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ekstrak daun paci-paci pada pencegahan penyakit mikotik. Penelitian ini menggunakan lima perlakuan yaitu kontrol positif; dosis ekstrak 0 gr/l (kontrol negatif); 0,5 gr/l; 1 gr/l dan 1,5 gr/l dengan menggunakan ikan gurame, Osphronemus gouramy Lac. yang berukuran 7-9 cm. Metode yang digunakan yaitu perendaman jangka pendek (short baths) selama 24 jam. Dengan metode tersebut ternyata ekstrak paci-paci dapat mengurangi timbulnya infeksi dan menghambat pertumbuhan koloni cendawan Saprolegnia sp. Ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya nilai prevalensi dan diameter koloni jika dibandingkan dengan kontrol positif. Secara deskriptif, ekstrak paci-paci (perlakuan ekstrak 0,5 gr/l; 1 gr/l; 1,5 g/l) dapat  mencegah  serangan   Saprolegnia sp. dengan prevalensi berturut-turut 33,3 %; 22,2 %; 0 %. Kata kunci: Gurame, Osphronemus gouramy, Paci-paci, Leucas sp. dan mikotik
The Effectiveness of Onion Extract Allium sativum to Prevent Koi Herpesvirus (KHV) Infection on Common Carp Cyprinus carpio Nuryati, Sri; Giri, P.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.988 KB)

Abstract

Common carp is one of consumption fish that has delicious meat, high pritein level, and easy in farming. The serious problem in common carp farming is koi herpesvirus infection.  Onion extract potency to improve immune system was estimated to prevent disease infection.  The testing of the garlic extract through food could be used as efforts to increase endurance of common carp fish Cyprinus carpio to koi herpesvirus infection that was considered from blood parameter. Fish that was used was measuring 9-11 cm with the treatment of food containing  30, 50, and 70 gr/100 ml onion extract. Fish was acclimated for seven days  in 60×30×30 cm3 aquarium before used. Garlic extract diet in food gave increasing of fish immune system that was infected by koi herpesvirus. The increased of leucocytes of blood fish with onion extract diet was faster than possitive control. The dose of B treatment (50 gr/100 ml) was the best dose gave short incubation periode comparing other treatment. Survival rate (SR) of this B treatment was highest, i.e. 91.7%, while survival rate of negative control was 50%. Key word: common carp, Cyprinus carpio, onion, Allium sativum, koi herpesvirus   ABSTRAK Salah satu jenis ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari oleh masyarakat adalah ikan mas Cyprinus carpio karena rasa dagingnya gurih, memiliki kadar protein tinggi dan cukup mudah dalam pemeliharaannya. Permasalahan yang muncul  saat ini adalah wabah Koi Herpes Virus (KHV). Potensi ekstrak bawang putih sebagai anti mikroba spektrum luas, diduga dapat mengobati dan mencegah penyakit ikan. Pengujian bawang putih secara in vivo melalui pakan dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio terhadap infeksi penyakit KHV yang ditinjau dari gambaran darahnya. Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas berukuran 9-11 cm dengan perlakuan pakan yang mengandung bawang putih sebanyak 30, 50, dan 70 gr/100 ml. Sebelum dilakukan penelitian ikan diadaptasikan selama 7 hari pada akuarium berukuran 60×30×30 cm3. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak bawang putih efektif untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi oleh Koi Herpes Virus (KHV). Pengamatan gambaran darah ikan yang terinfeksi KHV setelah pemberian ekstrak bawang putih selama 30 hari dapat meningkatkan jumlah leukosit lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif. Peningkatan jumlah limfosit dalam darah mampu meningkatkan pertahanan tubuh. Peningkatan jumlah leukosit ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah limfosit dan penurunan jumlah monosit. Perlakuan B (50 gr/100 ml) merupakan dosis yang paling baik karena masa inkubasi KHV terlewati lebih cepat dibanding perlakuan lain yang ditandai dengan penurunan jumlah leukositnya. Hal ini didukung oleh gejala klinis yang ringan dibandingkan kontrol positif dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi sebesar 91,7%. Sedangkan pada kontrol negatif kelangsungan hidupnya sebesar 50%. Kata kunci: ikan mas, Cyprinus carpio, bawang putih, Allium sativum, KHV dan Herpes
Hematology of common carp following DNA vaccination and koi herpesvirus challenge test Nuryati, Sri; Maswan, N.A.; Alimuddin, .; Sukenda, .; Sumantadinata, K.; Pasaribu, F.H.; Soejoedono, R.D.; Santika, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.781 KB)

Abstract

The study was aimed to determine the effectiveness of DNA vaccine doses on hematological aspect which represent immune response and its influence on common carp survival rate. DNA vaccines encoding the viral glycoprotein of  koi herpesvirus (KHV) have been proved to highly protect the fish under laboratory condition.  A dose of 12.5 µg/100 µl vaccine had resulted in a survival rate of 96.67 % during 30 days after challenge test with a lethal dose of KHV. Fish vaccinated using lower doses, i.e. 2.5 and 7.5 µg/100µl showed 100% mortality after 15 and 19 days challenge test respectively, whereas non vaccinated fish as a control showed 100% mortality after 17 days challenge test.  Total leucocytes of the vaccinated fish were higher than control until 42 days post vaccination, but declined afterward.  Phagocytic index of the vaccinated fish using 12.5 µg/100 µl was declined after 49 days post vaccination or 7 days post challenge test. Key words: DNA vaccine, Koi herpesvirus (KHV), leucocyte, phagocytic index, Cyprinus carpio   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh vaksinasi menggunakan vaksin DNA dengan dosis berbeda terhadap gambaran darah ikan sebagai respresentasi tanggap kebal ikan mas serta pengaruhnya terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Vaksin DNA penyandi glikoprotein koi herpesvirus (KHV) dapat memberikan proteksi yang tinggi pada percobaan skala laboratorium.  Vaksinasi dengan dosis 12,5 µg/100µl dapat mempertahankan kelangsungan hidup sebesar 96,67% selama satu bulan setelah uji tantang dengan virus KHV menggunakan dosis letal.  Ikan yang divaksin dengan dosis yang lebih rendah yaitu 2,5 dan 7,5 µg/100µl mengalami kematian total berturut-turut setelah 15 dan  19 hari uji tantang, sedangkan ikan kontrol yang tidak divaksin mengalami kematian total setelah 17 hari uji tantang.  Jumlah leukosit total ikan yang divaksinasi lebih tinggi dibanding dengan kontrol sampai hari ke-42, setelah itu mengalami penurunan.  Indeks fagositosis ikan yang divaksin dengan dosis 12,5 µg/100µl mengalami penurunan setelah hari ke-49 atau 7 hari setelah uji tantang. Kata kunci: Vaksin DNA, Koi herpesvirus (KHV), leukosit, indeks fagositosis, Cyprinus carpio
Effect of Bee Resin on Blood Profiles of Infected Carassius auratus by Aeromonas hydrophila Nuryati, Sri; Kuswardani, Y.; Hadiroseyani, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.61 KB)

Abstract

Bee resin is an organic matter that can be used as immunostimulant to induce cells and tissues regeneration for fast injury recovery. In order to determine the effect of bee resin on blood profile of goldfish, Carassius auratus that had been infected by Aeromonas hydrophila, the numbers of hemoglobin, hetmaocrite, erythrocyte and leukocyte, and leukocyte differentiation were observed.   Fishes were divided into four groups: negative control, positive control, preventive and curative groups. Fishes of negative control were injected intramuscularly by phosphate buffer saline 0.1 ml/fish.  Control positive fishes were injected by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila.  Preventive groups were injected by bee resin of 1.5 µl/ml and then injected by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila at the eight days after resin injection.  Curative groups were injected first by 0.1 ml/each of 105 CFU/ml (LD50) A. hydrophila before injection with 3 µl/ml resin.  The results of this study showed that erythrocyte number, hemoglobin and hematocrite of goldfish injected by bee resin as prevention were higher compared with positive control groups.  In the curative groups, hematocryte and erythrocyte numbers was comparable with that of positive control groups.  Injection of bee resin intramuscularly for 7 days increased leukocyte number and netrophyle percentage, while other parameters in other treatments were not increased. Keywords: Resin, goldfish, Carassius auratus, Aeromonas hydrophila,  blood profile   ABSTRAK Resin lebah merupakan salah satu bahan organik yang dapat digunakan sebagai imunostimulan serta dapat merangsang pembentukan sel dan jaringan yang mendukung proses penyembuhan luka dengan cepat. Untuk mengetahui pengaruh resin lebah terhadap gambaran darah ikan koki Carassius auratus yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila, dilakukan pengamatan kadar hemoglobin dan hematokrit, jumlah eritrosit dan leukosit serta diferensial leukositnya.  Ikan dibagi ke dalam 4 kelompok; kontrol negatif, kontrol positif, preventif and kuratif. Kontrol negatif disuntik secara intramuskular dengan larutan fosfat buffer salin.  Kontrol positif disuntik dengan by 0.1 ml  105 CFU/ml (LD50) bakteri A. hydrophila.   Kelompok pencegahan disuntik dengan resin lebah sebanyak 1.5 µl/ml dan kemudian disuntik dengan 0.1 ml bakteri A. hydrophila 105 CFU/ml (LD50) pada hari kedelapan setelah injeksi resin.   Kelompok pengobatan disuntik terlebih dahulu dengan 0.1 ml bakteri bakteri A. hydrophila 105 CFU/ml (LD50) sebelum disuntik dengan 3 µl/ml resin.    Hasil pengamatan terhadap jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit ikan mas koki dengan pemberian resin lebah sebagai pencegahan menunjukkan nilai rata - rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol positif. Pada perlakuan pengobatan, kadar hematokrit relatif lebih tinggi daripada kontrol positif dan cenderung mendekati kontrol negatif, sedang kadar hemoglobin dan jumlah eritrosit memiliki nilai yang mendekati kontrol positif. Pemberian resin lebah dengan injeksi secara intramuskular selama 7 hari meningkatkan jumlah sel darah putih dan persentase netrofil, sedangkan pada parameter yang lain (jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, prosentase monosit dan trombosit) pada masing - masing perlakuan umumnya tidak mengalami peningkatan. Kata kunci: Resin, ikan koki, Carassius auratus, Aeromonas hydrophila, gambaran darah
Inventarisation of Parasite in ”Dumbo” Catfish Clarias sp. from Bogor Region Hadiroseyani, Y.; Hariyadi, P.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.086 KB)

Abstract

Outbreak of parasites can reduce aquaculture productivity or even cause mass mortality of fish. Few quantities of parasite infection may still be tolerated by the host, however high intensity of infection can impair to fish metabolism or even damage of organelle.  Proper treatment can be done when parasite infecting fish is known.  This study was conducted to record parasite infecting "dumbo" catfish Clarias sp. that is reared by farmers in three location at Bogor, i.e. Cimanggu, Cijeruk and Cibinong.  Data included prevalence and intensity of parasite were analyzed descriptively. There were 7 kinds of parasite infecting catfish from Cimanggu, i.e. Trichodina, Myxosporea, Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria, Gyrodactylus, Dactylogyrus and Lytocestus parvulus.  Monogenean was dominant parasite infecting catfish from Cimanggu, i.e. 61% was Dactylogyrus with 83.33% of prevalence and 12.37 of intensity levels.  Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria and Myxosporea were only found from Cimanggu samples.   Catfish from Cijeruk infected by 5 kinds of parasites, i.e. Cryptobia sp., Vorticella, Gyrodactylus, Dactylogyrus and Lytocestus parvulus. Same pattern with Cimanggu, samples from Cijeruk were also dominant infected by monogenean, i.e. 46% was Dactylogyrus with 96.667% of prevalence and 20.694 of intensity levels.  Samples from Cibinong were infected by 6 kinds of parasites, i.e. Vorticella, Trichodina, Gyrodactylus, Dactylogyrus, Lytocestus parvulus and Branchionus.  Branchionus was not parasite, but is as ectocomensal. Parasite dominating in Cibinong samples was Branchionus by 32% with 33.333% of prevalence and 0.555 of intensity levels. Keywords: parasite, "dumbo" catfish, Clarias sp., inventarisation, Bogor   ABSTRAK Parasit yang menginfeksi ikan budidaya dapat mengakibatkan menurunnya produksi bahkan kematian masal. Dalam jumlah sedikit, parasit yang menginfeksi masih dapat ditolerir oleh inang, tetapi dapat menyebabkan gangguan metabolisme bahkan kerusakan organ jika terjadi dalam intensitas yang tinggi. Dengan mengetahui jenis organisme parasit yang menyerang lele, penanggulangannya akan lebih mudah. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi parasit yang terdapat pada ikan lele dumbo Clarias sp. yang dibudidayakan oleh petani di 3 lokasi di Kabupaten Bogor yaitu Cimanggu, Cijeruk dan Cibinong. Data meliputi prevalensi dan intensitas parasit yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Sebanyak 7 jenis parasit yang teridentifikasi menginfeksi ikan lele dari Cimanggu, yaitu Trichodina, Myxosporea, Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria, Gyrodactylus, Dactylogyrus dan Lytocestus parvulus. Monogenea merupakan parasit yang mendominasi lele dari daerah ini. yaitu Dactylogyrus sebesar 61% dengan nilai prevalensi sebesar 83,333% dan intensitas sebesar 12,370. Terdapat Ichthyophthirius multifiliis, Metacercaria dan Myxosporea yang didentifikasi dari ikan sampel yang hanya berasal dari Cimanggu.  Ikan sample dari Cijeruk mengandung sebanyak 5 jenis parasit yaitu Cryptobia sp., Vorticella, Gyrodactylus, Dactylogyrus dan Lytocestus parvulus. Sama halnya dengan Cimanggu, pada daerah Cijeruk juga didominasi oleh jenis monogenea yaitu Dactylogyrus sebesar 46% dengan  nilai prevalensi sebesar  96,667% dan nilai intensitas sebesar 20,694. Sampel dari Cibinong ditemukan sebanyak 6 jenis parasit yaitu Vorticella, Trichodina, Gyrodactylus, Dactylogyrus, Lytocestus parvulus dan Branchionus. Branchionus diduga bukan merupakan parasit tetapi ektokomensal. Dari Cibinong didominasi oleh Branchionus sebesar 32% dengan nilai prevalensi sebesar 33,333% dan nilai intensitas sebesar 0,555. Kata kunci : parasit, lele dimbo, Clarias sp., inventarisasi dan Bogor
Pathogenicity Assay of Vibrio harveyi in Tiger Shrimp Larvae Employing Rifampicin-Resistant as A Molecular Marker Widanarni, .; Meha, D.; Nuryati, Sri; Sukenda, .; Suwanto, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.083 KB)

Abstract

Rifampicin-resistant marker was employed as a reporter to assay pathogenicity of Vibrio harveyi  in shrimp larvae.  V. harveyi M. G3 and G7 that difference not schizotyping as shown by Pulsed-Filed Gel Electrophoresis (PFGE) used in this study. Spontaneous mutation was conducted to generate V. harveyi resistant to rifampicin. Two groups of shrimp post-larvae (PL5) were immersed for 30 min in 106 CFU/ml of mutants and wild type of V. harveyi, respectively; and then placed in a 2 liter shrimp rearing tank for five days. A control group was immersed in sterile seawater. Growth curve analysis and pathogenicity assay of V. harveyi  showed that each of the V. harveyi mutant exhibited almost identical profiles to that of the wild type parental strain and did not show alteration in their pathogenicity. Sample from dead shrimp larvae showed that the dead shrimp larvae were infected by V. harveyi RfR, indicated that rifampicin-resistant marker effective as a reporter to assay pathogenicity of Vibrio harveyi in shrimp larvae. Key words: shrimp larvae, Vibrio harveyi, rifampicin-resistant, molecular marker
Prevention of White Spot Syndrome Virus Infection on Penaeus monodon by Immersion in CEPM Extract of Avicennia sp. and Sonneratia sp. Wahjuningrum, D.; Sholeh, S.H.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.2 KB)

Abstract

The quality and survival rate are still being the problem that hampers the productivity of black tiger shrimp, Penaeus monodon culture.  Impaired quality of larval shrimp and environmental conditions can confer shrimp be infected by diseases, including viruses such as white spot syndrome virus (WSSV).  Prevention of disease infection using chemicals can offer negative impacts on water, pathogen resistance and consumers.  This study was conducted to examine the efficacy of an alternative prevention compound as liquid mangrove extract (CEPM) from Avicennia sp. and Sonneratia sp. By immersion in different dose of CEPM, i.e. 250, 500, 750 and 1000 ppm, the patogenicity of WSSV was found to be different.  Patogenicity of WSSV decreased after treatment by CEPM, hence this could be used to induce shrimp immunity.  Optimum dose of CEPM was 250 ppm, which could increased survival rate of shrimp after challenging by WSSV, up to 98.4% shrimp survived. Keywrods: WSSV, black tiger shrimp, extract, Avicennia sp., Sonneratia sp.   ABSTRAK Kualitas dan kelangsungan hidup merupakan masalah yang masih membatasi produktivitas budidaya udang windu Penaeus monodon. Kondisi udang dan kualitas lingkungan yang kurang baik dapat menyebabkan udang terserang penyakit, termasuk yang disebabkan oleh virus termasuk white spot syndrome virus (WSSV). Upaya pengendaliannya menggunakan bahan kimia secara berlebih dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan perairan, kesehatan konsumen dan menimbulkan resistensi patogen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas bahan alternatif berupa cairan ekstrak pohon mangrove (CEPM) dari jenis Avicennia sp. dan Sonneratia sp. sebagai upaya pencegahan. Dengan perendaman beberapa konsentrasi yang berbeda (250, 500, 750 dan 1000 ppm) penggunaan cairan ekstrak pohon mangrove (CEPM) Avicennia sp. dan Sonneratia sp., memberikan pengaruh yang berbeda terhadap patogenitas WSSV dan udang uji pada setiap perlakuan. Tingkat patogenitas WSSV relatif menurun setelah perlakuan tersebut sehingga dapat digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh udang.  Perlakuan yang optimal yaitu pada dosis 250 ppm, dimana pada perlakuan ini dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang uji yang diuji tantang dengan white spot syndrome virus (WSSV) dengan tingkat kelangsungan hidup 98,4 %. Kata kunci: WSSV, udang windu, ekstrak, Avicennia sp., Sonneratia sp.  
Study on antifungal potency of Terminalia cattapa, Piper betle, Psidium guajava, and Andrographis peniculata on the growth of Aphanomyces in vitro Nuryati, Sri; Rahman, .; Taukhid, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 4, No 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.366 KB)

Abstract

An effort to prevent aquatic fungi  Aphanomyces sp. infection on fish using natural material can be an economically way, easy to find the materials, easy to apply and safe for environment.  The antifungal potency and efficacy of scalded-leaf extract of Terminalia cattapa, Piper betle, Psidium guajava and Andrographis peniculata on prevention of Aphanomyces sp. growth in vitro in GYA medium.  Scalding was performed in the water at 50°C. Concentration of leaf extracts tested was 0, 10, 20, 40 and 80 g/L.  The results of study showed that Terminalia cattapa in a dosage of 40 g/L had the best prevention activity, followed by Piper betle in the same dosage.  Psidium guajava and Andrographis peniculata had no prevention activity on growth of Aphanomyces sp. Keywords: antifungal, Terminalia cattapa, Piper betle, Psidium guajava, Andrographis peniculata growth, Aohanomyces sp.   ABSTRAK Upaya penanggulangan infeksi cendawan akuatik Aphanomyces sp. pada ikan menggunakan bahan alami dapat menjadi cara yang ekonomis ekonomis, bahan mudah didapat, mudah diterapkan dan aman bagi lingkungan. Potensi antifungi dan efektivitas ekstrak seduh daun ketapang (Terminalia cattapa), sirih (Piper betle), jambu biji (Psidium guajava) dan sambiloto (Andrographis peniculata) terhadap penghambatan pertumbuhan Aphanomyces sp. dilakukan secara in vitro dalam media biakan GYA. Penyeduhan dilakukan menggunakan pelarut air dengan suhu 50°C. Konsentrasi yang diuji adalah 0, 10, 20, 40 dan 80 gr/L untuk masing-masing bahan. Aktivitas penghambatan paling baik terhadap cendawan diperoleh dari ekstrak seduh daun ketapang 40 g/L dan diikuti oleh ekstrak seduh daun sirih dengan konsentrasi yang sama.  Jambu biji dan sambiloto tidak menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan Aphanomyces sp. Kata kunci: antifungi, ketapang, sirih, jambu biji, sambiloto dan Aphanomyces sp.
Co-Authors ', Alimuddin ', Sukenda , Alimuddin , Rahman, , , Rusli, , , Sukenda , Yuliyanti . ALIMUDDIN . Rahman . SUKENDA . Taukhid . WIDANARNI A. Santika A. Suwanto A.A Sujadi, A.A Achmad Suhermanto Ali Affandi, Mas Imam Alimudddin, Alimuddin Alimuddin A, Alimuddin Alimuddin Alimuddin Ambar Mudigdo ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Anita Setyowati Srie Gunarti Anita Setyowati Srie Gunarti Ayi Santika Ayu Dhita Juliadiningtyas, Ayu Dhita Bambang Iswanto Bhisma Murti Chaniago, Sabirin D. Meha D. Puspitaningtyas D. Wahjuningrum Dedi Jusadi Dendi Hidayatullah, Dendi Dian Febriani Dian Hardiantho Dwi Hany Yanti Eko Darma Elma yulius F.B.P. Sari F.H. Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Faridah, Nurly GORO YOSHIZAKI Hardani, Dwi Aris Hartono, Rudik Huria Marnis Imron Imron, Imron Isdradjad Setyobudiandi JULIE EKASARI K. Sumantadinata Komar Sumantadinata Kurdianto, . Kusumah, Andi L.S. Harti M.A. Suparman Maarif, Rizal Mia Setiawati Mira Mawardi Muchtar, Muthahharah MUHAMMAD ZAIRIN JUNIOR Munti Yuhana N. Ashry N.A. Maswan Nababan, Yanti Inneke Nadia Aulia, Nadia Nasrullah, Hasan Ninik Paryati Nurlisa A Butet, Nurlisa A P. Giri P. Hariyadi Prasadi, Oto Pratiwi, Nurina R.D. Soejoedono Rahman, , Ratna Dian Kurniawati, Ratna Dian Retno Damayanti Soejoedono Rika Sylviana Rodiyah Rodiyah S.H. Sholeh Sarjito - Sekar Ayu Chairunnisa Sekar Sulistyaning Hadiwibowo Silvianti, Tira Siti Khodijah Slamet Budi Prayitno Soko Nuswantoro Sri Murtini Sukenda . Sukenda Sukenda Sukenda, , Suprapto, Rommy Suryadi, Ibnu Bangkit Bioshina Trian Rizky Febriansyah Tuti Sumiati, Tuti Y. Hadiroseyani Y. Kuswardani Yani Hadiroseyani Zairin Jr., Muhammad Zakki Zainun