Articles

RANCANG BANGUN ALAT UKUR JARAK MEMANFAATKAN MODULASI GELOMBANG BUNYI

Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika Vol 3, No 2/SEPTEMBER (2012): JP2F
Publisher : Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Alat ukur jarak pada dasarnya adalah alat untuk mengetahui berapa jarak atau berapa panjang jarak atau benda.Modulasi gelombang adalah penggabungan dua sinyal gelombang menjadi satu. Penelitian bertujuan untuk membuat gelombang AFG 1 dan 2 yang termodulasi, menentukan receiver dari gelombang bunyi, dan mengetahui hubungan antara jarak dan tegangan dengan gelombang yang termodulasi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Fisika IKIP PGRI Semarang dari bulan Januari sampai Juni 2012 dengan membuat rangkaian receiver dan trasmiter (modulasi AFG 1 dan 2). Analisa dan interpretasi data dilakukan dengan analisis regresi dan ralat pengamatan. Hasil pengujian sensor ultrsonik dengan AFG 1 sebesar 40 KHz dan AFG 2 sebesar165 Hz dengan penguatan 50 kali. Pengjian secara pantulan dengan hasil linieritas tertinggi pada jarak 140 cm adalah Y = -0,0197 X + 3,97143. Karakteristik linieritas alat sebsar 99,92% dengan kesalahan standar estimasi sebesar 2,49%. Kesimpulannya ialah, rancang bangun alat ukur jarak ini dapat mengukur jarak dengan memanfaatkan modulasi gelombang ultrasonik dengan melakukan perbandingan antara tegangan dan jarak dengan hasil linier yang dibatasi pada jarak 140 cm. Kata kunci: alat ukur jarak, modulasi gelombang, sensor ultrasonik, tegangan dan jarak.

Eksistensi Pendidikan Pondok Pesantren Terhadap Perubahan Akhlak Santri

Tarbawiyah Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 10 No 02 (2013): Jurnal Tarbawiyah
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.479 KB)

Abstract

In the first time, the education of Boarding School is the institution that concern in attitude and religion in around of society. Every students in Boarding School have rule from their teacher, because of that every people belive that they can get good serve in that place. The rule in the Boarding School to make a control system in the attitude to every students, so the students that out of the rule can be controled by the teacher and get the treatment that make the students back to the rule and change the bad attitude to be a good attitude.

FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN (Studi di Kecamatan Semarang Timur)

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan kondisi kronis yang menggambarkan terhambatnya pertumbuhan karena malnutrisi jangka panjang, ditunjukkan dengan nilai z-score TB/U kurang dari -2SD. Prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih tinggi terutama pada usia 2-3 tahun. Faktor risko stunting  antara lain panjang badan lahir, asupan, penyakit dan infeksi, genetik, dan status sosial ekonomi keluarga. Stunting terutama pada anak usia diatas 2 tahun sulit diatasi, sehingga penelitian mengenai faktor risiko stunting pada anak usia diatas 2 tahun diperlukan.Metode: Penelitian observasional dengan desain case-control pada balita usia 2-3 tahun di wilayah kecamatan Semarang Timur. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling, 36 subjek pada tiap kelompok. Stunting dikategorikan berdasarkan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U). Data identitas subjek dan responden, panjang badan lahir, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga dan jumlah anggota keluarga diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner. Data tinggi badan anak dan tinggi badan orang tua diukur menggunakan microtoise. Analisis bivariat menggunakan Chi-Square dengan melihat Odds Ratio (OR) dan multivariat dengan regresi logistik ganda.Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko stunting pada balita usia 2-3 tahun adalah status ekonomi keluarga yang rendah (P = 0,032; OR = 4,13), sedangkan panjang badan lahir, tinggi badan orangtua, dan pendidikan orang tua bukan merupakan faktor risiko stunting.Kesimpulan: Status ekonomi keluarga yang rendah merupakan faktor risiko yang bermakna terhadap kejadian stunting pada balita usia 2-3 tahun. Anak dengan status ekonomi keluarga yang rendah lebih berisiko 4,13 kali mengalami stunting.

PERBEDAAN PANJANG BADAN BAYI BARU LAHIR ANTARA IBU HAMIL KEK DAN TIDAK KEK

Journal of Nutrition College Vol 3, No 1 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Status gizi ibu selama masa kehamilan mempunyai peranan penting terhadap panjang badan bayi yang akan dilahirkan. Bayi baru lahir tergolong stunting apabila memiliki panjang badan < 46,1 cm untuk laki – laki dan < 45,4 cm untuk perempuan. Stunting merupakan keadaan tubuh pendek sebagai akibat dari malnutrisi knonik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan panjang badan bayi baru lahir antara ibu hamil KEK dan tidak KEK.Metode : Penelitian observasional dengan pendekatan cohort prospective. Sampel penelitian ini adalah 18 ibu hamil dengan usia kehamilan 36 – 40 minggu untuk tiap kelompok. Sampel diambil dari dua Puskesmas di Semarang Timur yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan pengukuran antropometri. Panjang badan bayi baru lahir diukur menggunakan infantometer, LILA ibu hamil diukur menggunakan pita LILA, tinggi badan orangtua diukur menggunakan microtoise, asupan energi dan protein diperoleh menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), jenis kelamin dan status ekonomi diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil : Terdapat 8,3% bayi lahir stunting pada penelitian ini dengan 5,5% bayi lahir dari ibu KEK dan 2,8% bayi lahir dari ibu tidak KEK. Tidak ada perbedaan panjang badan bayi baru lahir antara ibu hamil KEK dan tidak KEK (p>0,05). Panjang badan bayi baru lahir juga tidak menunjukkan perbedaan antara tiap kategori tinggi badan ibu dan ayah, jenis kelamin bayi, asupan energi dan protein serta status ekonomi keluarga (p>0,05).Kesimpulan :Panjang badan bayi baru lahir menunjukkan tidak ada perbedaan antara ibu hamil KEK dan tidak KEK. Panjang badan bayi baru lahir juga menunjukkan tidak ada perbedaan antara  tiap kategori tinggi badan ibu dan ayah, jenis kelamin bayi, asupan energi dan protein serta status ekonomi keluarga.

FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 12-24 BULAN (Studi di Kecamatan Semarang Timur)

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan gangguan pertumbuhan karena malnutrisi kronis, yang ditunjukkan dengan nilai z-score panjang badan menurut umur (PB/U) kurang dari -2 SD. Anak 12–24 bulan sangat rentan terjadi masalah gizi stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian stunting.Metode : Penelitian observasional dengan desain case-control dan subjek adalah anak usia 12-24 bulan di Kecamatan Semarang Timur. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, 36 subjek untuk tiap kelompok. Derajat stunting dinyatakan dengan z-score ­PB/U. Data identitas subjek dan responden, riwayat ASI eksklusif, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga dan riwayat penyakit infeksi diperoleh melalui kuesioner. Data asupan zat gizi  diperoleh melalui food recall  24 jam selama 2 hari tidak berurutan. Analisis menggunakan metode Chi Square dengan melihat Odds Ratio (OR) dan multivariat dengan regresi logistik ganda.Hasil : Faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 12–24 bulan adalah status ekonomi keluarga rendah (OR= 11.769; p= 0.006; CI 1.401 – 98.853), riwayat ISPA (OR= 4.043; p= 0.023; CI 1.154 – 14.164), dan asupan protein kurang (OR = 11.769; p = 0.006; CI 1.401 – 98.853). Riwayat pemberian ASI eksklusif, pendidikan orang tua, riwayat diare, asupan energi, lemak, karbohidrat, seng dan kalsium bukan merupakan faktor risiko kejadian stunting.Kesimpulan : Status ekonomi rendah, riwayat ISPA, dan asupan protein kurang merupakan faktor risiko yang bermakna pada kejadian stunting anak usia 12-24 bulan.

HUBUNGAN KEJADIAN KARIES GIGI DENGAN KONSUMSI MAKANAN KARIOGENIK DAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR (Studi Pada Anak Kelas III dan IV SDN Kadipaten I dan II Bojonegoro)

Journal of Nutrition College Vol 3, No 3 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang :  Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering dijumpai di masyarakat, dimana diantaranya adalah golongan anak. Mengkonsumsi makanan kariogenik berlebih dapat meningkatkan risiko karies gigi. Anak yang mengalami karies gigi dalam kurun waktu yang lama akan berpengaruh terhadap asupan zat gizi dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian karies gigi dengan konsumsi makanan kariogenik dan status gizi pada anak sekolah dasar Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Besar subjek yang dibutuhkan sebanyak 63 responden. Subjek diambil secara random sampling.  Data yang dikumpulkan meliputi tingkat karies gigi menggunakan indeks DMF-T, asupan makanan kariogenik diperoleh menggunakan Food Frekuensi Question (FFQ) dan kuesioner, dan status gizi dengan cara antropometri. Analisis data menggunakan uji korelasi rank Spearman.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan tingkat karies gigi sedang 23.8% dengan indeks DMF-T rata-rata 4.0 . Frekuensi konsumsi makanan kariogenik sebanyak 73% mengkonsumsi 3-6x sehari. Terdapat 15.8% anak memiliki status gizi sangat kurang. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa: ada hubungan antara kejadian karies gigi dengan konsumsi makanan karieogenik (p=0.009 ; r=0.298) ,ada hubungan antara karies gigi dengan status gizi (p=0.008 ; r=0.303).Simpulan : Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan antara kejadian karies gigi dengan konsumsi makanan karieogenik, dan ada hubungan antara karies gigi dengan status gizi 

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DENGAN KESEGARAN JASMANI DAN STATUS GIZI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI PADANGSARI 02 BANYUMANIK

Journal of Nutrition College Vol 3, No 3 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Masih banyak anak sekolah dasar (SD) yang belum  tahu  manfaat  sarapan dan seringnya mengabaikan sarapan. Sarapan berguna untuk kesegaran jasmani dan status gizi yaitu melalui pemenuhan kebutuhan zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kesegaran jasmani dan status gizi pada anak SD.Metoda : Desain penelitian adalah cross-sectional. Subjek sebanyak 56 anak diperoleh dengan cara random sampling. Data yang dikumpulkan meliputi kebiasaan sarapan diperoleh dengan metode food recall 3x24 jam, kesegaran jasmani diperoleh dengan Harvard Step Test dan status gizi ditentukan berdasarkan pengukuran z-score IMT/U. Data dianalisis menggunakan uji rank spearman dengan melihat kenormalan data. Hasil : Rerata kebiasaan sarapan subyek yaitu sebesar 4,28±1,84 kali/minggu. Rerata sumbangan energi sarapan subyek yaitu sebesar 34,01±9,09 persen. Rerata kesegaran jasmani subyek yaitu sebesar 73,08±8,81 bpm. Rerata z-score IMT/U subyek yaitu sebesar 0,88±1,45. Hasil penelitian menunjukkan  tidak ada hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kesegaran jasmani (p = 0,372, r = 0,045). Tidak ada hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p = 0,080, r = 0,190).Simpulan : Tidak ada hubungan antara kebiasaan sarapan dengan  kesegaran  jasmani dan status gizi. 

EKSISTENSI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TERHADAP PERUBAHAN AKHLAK SANTRI

TARBAWIYAH Vol 10, No 2 (2013): Tarbawiyah -Edisi Juli-Desember 2013
Publisher : TARBAWIYAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the first time, the education of Boarding School is the institution that concern in attitude and religion in around of society. Every students in Boarding School have rule from their teacher, because of that every people belive that they can get good serve in that place. The rule in the Boarding School to make a control system in the attitude to every students, so the students that out of the rule can be controled by the teacher and get the treatment that make the students back to the rule and change the bad attitude to be a good attitude.

PENGARUH PEMBERIAN SUSU KACANG KORO PEDANG (Canavalia ensiformis) TERHADAP KADAR KOLESTEROL LDL DAN HDL PADA TIKUS DISLIPIDEMIA

Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) telah diketahui kemampuannya menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan kadar kolesterol LDL dan meningkatkan kadar kolesterol HDL karena kandungan zat hipokolesterolemiknya. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian kacang koro pedang yang diolah menjadi susu terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL pada tikus dislipidemia. Metode: Penelitian true experimental dengan randomized control group ini dilakukan pada tikus jantan galur Sprague Dawley. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok dengan 7 ekor tiap kelompok. Tikus diinduksi dislipidemia selama 14 hari, kemudian diberi perlakuan susu kacang koro pedang. Pemberian selama 14 hari melalui sonde dengan kadar konversi kacang koro pedang 0 g (Kontrol), 2,25 g (P1), 4,5 g (P2) dan 9 g (P3). Pemeriksaan kadar LDL dan HDL diperiksa dengan metode kolorimetri enzimatik. Hasil pengukuran diuji dengan paired t-test, wilcoxon, One Way ANOVA dan uji lanjutan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Apabila dibandingkan kelompok K, Kelompok P1 menunjukkan penurunan kadar kolesterol LDL 11,28±5,39 mg/dl (p=0,028) dan peningkatan kadar kolesterol HDL 8,30±1.94 mg/dl (p=0.342). Kelompok P2 mengalami penurunan kadar kolesterol LDL 22.65 ± 1.20 mg/dl (p=0,006) dan peningkatan kadar koelsterol HDL 18.07 ± 1.27 mg/dl (p=0,028) . Kelompok P3 juga mengalami penurunan kadar kolesterol LDL 27,97 ± 2.65 mg/dl (p=0,028)  dan peningkatan kolesterol HDL 24.17 ± 1.01 mg/dl (p=0,002). Simpulan: Pemberian susu kacang koro pedang selama 14 hari dapat menurunkan kadar kolesterol LDL secara bermakna, tetapi tidak dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL secara bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik kadar kolesterol LDL antar kelompok perlakuan namun semakin besar kadar konversi susu kacang koro pedang semakin besar pula penurunan kadar kolesterol LDL.

PENGARUH PENDIDIKAN GIZI MELALUI KOMIK GIZI SEIMBANG TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA SISWA SDN BENDUNGAN DI SEMARANG

Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Program Studi ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Permasalahan gizi yang banyak terjadi pada anak usia sekolah dasar salah satunya disebabkan kurangnya pengetahuan gizi. Pedoman gizi terbaru yang ada di Indonesia yakni Tumpeng Gizi seimbang juga belum dapat tersosialisasi dengan baik. Komik menjadi salah satu media yang sangat digemari anak – anak yang kini telah banyak dimanfaatkan sebagai media pendidikan. Pemberian pendidikan gizi melalui media komik diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang gizi seimbang khususnya bagi anak – anak. Metode : Penelitian ini berjenis quasi experimental dengan pre-post test two group design pada anak SDN Bendungan kota Semarang kelas IV dan V sebanyak 66 anak. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan 1 yang hanya diberikan komik dan kelompok perlakuan 2 yang diberikan komik dan pendampingan seminggu sekali selama satu bulan. Data pengetahuan dan sikap tentang gizi seimbang diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan sikap pada kedua kelompok diuji menggunakan uji paired t-test, Wilcoxon dan Mann Whitney.Hasil : Peningkatan median pengetahuan gizi seimbang pada kelompok perlakuan 1 dari sebelum nya sebesar 56% menjadi 72%,  sedangkan pada kelompok perlakuan 2 rerata pengetahuan sebelum sebesar 61,82 ± 11,09% menjadi 80,85 ± 10,43%. Peningkatan median sikap gizi seimbang pada kelompok perlakuan 1 dari sebelumnya sebesar 64% menjadi 88%, sedangkan peningkatan median sikap pada kelompok perlakuan 2 dari sebelum nya sebesar 60% menjadi 84%. Terdapat perbedaan pada peningkatan pengetahuan gizi antara kelompok perlakuan 1 dan 2 (p<0,05), namun tidak terdapat perbedaan peningkatan sikap gizi antara kelompok perlakuan 1 dan 2 (p>0,05).Kesimpulan : Pendidikan gizi melalui komik gizi seimbang meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang gizi seimbang pada kedua kelompok. Terdapat perbedaan pada peningkatan pengetahuan antara kelompok perlakuan 1 dan 2. Tidak ada perbedaan pada peningkatan sikap antara kelompok 1 dan 2.