Ulfa Nurullita
Kesehatan Masyarakat Unimus

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

MANIPULASI WAKTU TINGGAL DAN TEBAL MEDIA FILTER TEMPURUNG KELAPA TERHADAP PENURUNAN BOD (BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND) DAN TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) AIR LIMBAH RUMAH TANGGA Nurullita, Ulfa; -, Mifbakhuddin
PROSIDING SEMINAR NASIONAL Vol 2, No 1 (2010): Kesehatan Masyarakat, Olahraga, Gizi, dan Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Latar belakang: Air limbah rumah tangga yang belum terolah di wilayah Kelurahan Srondol Kulon Kecamatan Banyumanik Semarang pada pemeriksaan pendahuluan mempunyai nilai BOD 700,3 mg/l dan TSS 311 mg/l. Nilai ini menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. KEP-51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi, telah melebihi ambang batas yang diperbolehkan yaitu BOD maksimal 50-150 mg/l, TSS maksimal 200 mg/l. Kualitas air limbah mempunyai BOD dan TSS melebihi batas, akan berisiko menimbulkan dampak buruk kualitas lingkungan. Trickling filter merupakan salah satu pengolahan limbah cair secara biologis dengan memanfaatkan teknologi biofilm. Bahan yang digunakan sebagai media trickling filter harus kuat, keras, tahan tekanan, tahan lama, tidak mudah berubah dan tidak mudah menyumbat pada media trickling filter. Bahan yang biasa digunakan adalah batuan. Pada penelitian ini akan dicoba digunakan media filter berupa tempurung kelapa yang mempunyai sifat sesuai syarat media filter. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperiment semu dengan rancangan non randomized pretest-postest control group design. Sampel air limbah diambil dari saluran air limbah rumah tangga di Kelurahan Srondol Kulon Kecamatan Banyumanik Koa Semarang. Hasil: sebelum perlakuan (kontrol), BOD tertinggi 196,5 mg/l, terendah 121,6 mg/l. TSS tertinggi 222,4 mg/l, terendah 209,4 mg/l. suhu tertinggi 27,5ºC, terendah 27 ºC. pH semua sama yaitu 7. Setelah perlakuan rata-rata BOD tertinggi 112,68 mg/l, terendah 61,58 mg/l, rata-rata TSS tertinggi 129,8 mg/l, terendah 79,35 mg/l, suhu dan pH tidak mengalami perubahan. Prosentase penurunan BOD tertinggi 63,22%, terendah 39,94 %), prosentase penurunan TSS tertinggi 64,32 mg/l, terendah 41,32 %. Uji t untuk sampel berpasangan pada semua perlakuan didapatkan nilai p semua kurang dari 0,05, artinya ada perbedaan yang signifikan nilai BOD maupun TSS antara sebelum dan sesudah pengolahan. Untuk penurunan BOD pada berbagai lama waktu tinggal dan ketebalan media filter didapatkan nilai p=0,000 sedangkan pada TSS nilai p= 0,000 sehingga ada interaksi antara faktor lama waktu tinggal dan  ketebalan media filter pada penurunan BOD maupun TSS. Simpulan: ada perbedaan yang signifikan nilai BOD maupun TSS antara sebelum dan sesudah pengolahan, ada interaksi antara faktor lama waktu tinggal dan  ketebalan media filter pada penurunan BOD maupun TSS.
PERAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DAN SIKAP KERJA TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT KELELAHAN SISWA SD NEGERI SOMPOK IV SEMARANG Nurullita, Ulfa; Meikawati, Wulandari
PROSIDING SEMINAR NASIONAL Vol 1, No 1 (2008): CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Pen
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Latar belakang: Tingkat keberhasilan siswa dipengaruhi oleh banyak faktor,  salah satunya adalah tingkat kelelahan. Seseorang yang mengalami kelelahan akan menurun kemampuannya untuk berkonsentrasi sehingga kemampuan menangkap pelajaran juga akan menurun. Faktor yang menyebabkan kelelahan yaitu beban kerja,beban tambahan akibat lingkungan, intensitas dan lama kerja fisik dan mental, keadaan monoton, keadaan psikologis, status gizi, penyakit dan sikap kerja. Metode: Jenis penelitian adalah eksperiment semu dengan rancangan one group pre and post test design. Jumlah sampel 153 siswa (kelas 4-6 program reguler dan akselerasi). Intensitas cahaya diukur dengan luxmeter, intensitas suara dengan soundlevelmeter, suhu/tekanan panas dan kelembaban dengan Questemp 10, ventilasi dengan meteran, beban kerja dengan menghitung denyut nadi, antropometri dengan meteran, kecepatan waktu reaksi diukur sebelum dan sesudah belajar dengan alat Rection Timer 77. Hasil: intensitas kerja/lama waktu belajar ada 2 macam yaitu 5 jam 15 menit dan 2 jam 55 menit. 51 siswa (33,3%) tidak merasakan keluhan kelelahan, terbesar kedua adalah keluhan pegal di tangan yaitu 42 siswa (27,5%). Intensitas cahaya minimum adalah 90,56 lux, maksimum 712,5 lux, ada 4 lokai yang di bawah standar. Untuk waktu kerja 5,5 jam intensitas suaraminimum 79,843 dBA, maksimum 93,768 dBA, ada 4 lokasi yang melebihi NAB. Tekanan panas minimum 32°C , maksimum 39°C, semua lokasi melebihi NAB. Untuk waktu kerja 3 jam intensitas suara minimum 78,64 dBA, maksimum 93,33 dBA, ada 1 lokasi yang melebihi NAB, tekanan panas minimum 31°C , maksimum 38°C, ada 3 lokasiyang melebihi NAB. Kelembaban minimal 38%, maksimal 57%, ada 1 lokasi yang sesuai persyaratan. Semua lokasi belum memenuhi syarat luas ventilasi. Beban kerja sebelum belajar terbesar katagori ringan 122 siswa (79,7%), sesudah belajar terbesar katagori sedang (111 anak=72,6%). Sikap kerja/ukuran antropometri 126 siswa (82,4%) tidaksesuai dengan ukuran alat kerja (meja dan kursi belajar). Sebelum belajar 98 siswa (64,1%) sudah mengalami tingkat kelelahan ringan, sesudah bekerja 129 siswa (84,3%) termasuk katagori ringan. Hasil uji t, nilai p= 0,000, berarti ada perbedaan secara signifikan antara tingkat kelelahan sebelum belajar dan sesudah belajar. Uji RankSpearman terhadap perubahan tingkat kelelahan didapatkan nilai p=0,234 (intensitas pencahayaan), p=0,534 (intensitas suara), p=0,714 (suhu), p=0,058 (kelembaban), p=0,134 (sikap kerja). Simpulan: ada perbedaan tingkat kelelahan antara sebelum dan sesudah bekerja, tidak ada hubungan yang signifikan antara intensitas pencahayaan, intensitas suara, suhu, kelembaban, dan sikap kerja dengan perubahan tingkat kelelahan siswa.
HUBUNGAN KONSUMSI KALSIUM DALAM MAKANAN DAN MINUMAN DENGAN KEPARAHAN KARIES GIGI PADA MURID KELAS IV DAN V SDN MLATI KIDUL 1 DAN 2 KUDUS Meikawati, Wulandari; -, Sayono; Nurullita, Ulfa
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2004: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan  masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif  dikarenakan latar belakangnya yang berdimensi luas. Kekurangan kalsium  akan menghanbat proses kalsifikasi gigi dan memperlambat kematangan  gigi. Kualitas gigi mempengaruhi keluatan gigi sehingga dapat memudahkan terjadinya karies gigi bila kualitas jelek. Kalsium merupakan mineral terbanyak dalam tubuh. Unsur kalsium hanya dapat diperoleh dari makanan  dan kekurangan unsur kalsium dalam cadangan  tubuh dapat menimbulkan  karies gigi/kerusakan  gigi.Jenis panelitian adalah explanatory research dengan metode survei dan  pendekatan cross sectional. Jumlah responden seluruhnya adalah  100  siswa yang terdiri dari kelas IV dan V. Variabel yang diteliti meliputi Konsumsi kalsium selama 3 x 24 jam, frekuensi makan makanan kalsium  tinggi, frekuensi makan maknanan kariogenik frekuensi menggosok gigi dan keparahan karies  gigi.Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecukupan kalsium sangat kurang  dimana seluruh siswa tergolong  defisil (97 % tingkat  berat, 1% sedang  dan 2% ringan), sebagian  besar  (40%) tingkat  keparahan karies gigi  siswa tergolong rendah, Hasil uji  Rank Spearman menunjukkan tidak  ada hubungan antara konsumsi kalsium dalam makanan dan minuman  dengan tingkat keparahan karies gigi (p=0,185>0,05), tidak ada  hubungon antara frekuensi makan makanan berkalsium tinggi dengan tingkat keparahan karies gigi (p=0,527>0,05), tidak ada hubunganantara frekuensi  makan makanan kariogenik dengan tingkat keparahan karies  gigi (p:0,932>0,05)  dan tidak ada hubungan antara frekuensi menggosok gigi dengan tingkat keparahan karies gigi (p:49  5> 0,05)
LAMA WAKTU PENGOMPOSAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERDASARKAN JENIS MIKRO ORGANISME LOKAL (MOL) DAN TEKNIK PENGOMPOSAN Nurullita, Ulfa; Budiyono, -
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pada penelitian ini akan dicoba pemanfaatan mol untuk proses pengomposan. Jenis penelitianadalah pra eksperimental dengan tujuan mengetahui adanya perbedaan lama waktupengomposan sampah rumah tangga dengan penambahan berbagai jenis mol dan teknikpengomposan. Jenis mol yang digunakan berasal dari bahan sederhana yang banyak ditemui ditingkat rumah tangga, meliputi mol campuran (berisi kotoran sapi, dedak, mollase, EM4, danair), mol tape nanas, mol nasi basi, dan mol sludge. Teknik pengomposan yang dipilih adalahteknik keranjang takakura dan teknik drum berputar. Kualitas kompos yang dideskripsikanberupa bau, warna, dan bentuk fisik kompos. Lama pengomposan diperhitungkan berdasarkanwaktu yang diperlukan untuk penyusutan berat kompos menurun sampai dengan 60% dari beratawal. Untuk tiap jenis perlakuan berat sampah yang diujikan 1,5 kg. Hasil penelitianmenunjukkan suhu kompos sesuai untuk proses dekomposisi yaitu berkisar 30-38°C, pH sesuaiuntuk dekomposisi yaitu 7, bau kompos hanya ada 3 yang sesuai bau tanah yaitu mol campurandengan teknik keranjang takakura dan drum berputar serta mol tape nanas dengan teknikkeranjang takakura. Warna kompos semua sesuai warna tanah kecuali pada kelompok kontroldengan teknik keranjang takakura. Lama waktu pengomposan minimal 8 hari, maksimal 31hari, rata-rata 12,25 hari, dengan standar deviasi, 6,49. Uji anova dua arah disimpulkan adaperbedaan lama waktu pengomposan berdasarkan jenis mol (p value=0,000), ada perbedaanlama waktu pengomposan berdasarkan teknik pengomposan (p value=0,000), dan ada interaksiantara jenis mol dan teknik pengomposan (0,000).
PENGARUH LAMA KONTAK KARBON AKTIF SEBAGAI MEDIA FILTER TERHADAP PERSENTASE PENURUNAN KESADAHAN CaCO3 AIR SUMUR ARTETIS Nurullita, Ulfa; Astuti, Rahayu; Arifin, Mohammad Zaenal
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 6, No 1 (2010): Public Health
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Latar Belakang: Air sumur artetis banyak yang yang bersifat sadah, salah satu cara untuk menurunkan adalah filtrasi dengan karbon aktif. Penelitian ini akan menganalisis penurunan kesadahan CaCO3 dengan karbon aktif dengan waktu kontak 10 menit, 20 menit,30menit dan 40 menit. Tujuan: Mengetahui pengaruh lama kontak karbon aktif dalam menurunkan kesadahan CaCO3 air sumur artetis. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan Randomized pretes-postes control group design. Sebagai variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama kontak air sadah dengan karbon aktif yaitu selama 10 menit, 20 menit, 30 menit dan 40 menit, variabel terikat adalah penurunan kesadahan air sumur artetis, dan variabel pengganggu adalah pH dan suhu. Uji Normalitas data menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan data berdistribusi normal, sehingga uji yang digunakan adalah Uji One Way Anova. Hasil: penurunan kesadahan CaCO3 tertinggi 475,6 mg / l pada lama kontak 40menit (91%), terendah 206,0 mg / l pada waktu kontak 10 menit (45%). Hasil uji Anova didapatkan nilai p = 0,000 artinya ada pengaruh lama kontak karbon aktif dalam menurunkan kesadahan CaCO3 air sumur artetis.Kesimpulan: Penurunan kesadahan tertinggi terjadi pada lama kontak 40 menit yaitu rata-rata sebesar 91%.Kata kunci:Kesadahan, Lama kontak dengan karbon aktif, Penurunan kesadahan.
PENGARUH BEBAN KERJA DAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK TERHADAP TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI PEKERJA BAGIAN ARC FURNACE DAN ROLLING MILL PT INTI GENERAL YAJA STEEL SEMARANG Nurullita, Ulfa
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4, No 2 (2007): Public Health
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: The optimal work efficiency can be achieved if there is a beneficial balance of workload, added workload causecl by work environment, and work capacity. One of the factors of added workload caused by work environment is physical factor, such as air temperature, lighting, dampness, air rapidity, noise, mechanical vibration, radiation and air pressure. Metal foundry industry is closely related to dominant physicalenvironment factor, such as heat pressure, noise, and lighting. Those factors affect on ones physical performance especially workers blood pressure and pulse. Objective of this research is to analyze lhe effect ofworkload and physical environment factor on workersblood pressure, pulse, as well as fatigue level in Arc Furnace ancl Rolling Mill department, PT Inti General Yaja Steel Semarang. Method used in this research is thequasi experiment with one group pre and post test design. Research samples are 47 people who are selected by inclusion criteria. Heat pressure and noise are measured in the middle of first ffice hours at l0 a.m. approximately, while blood pressure and pulse are measurecl before and after working in the first ffice hours or at break hours. Result of this research shows that blood pressure in average before working is(systole:119,7 mmHg, diastole:84 mmHg), higher than afterworking (systole:107,2 mmHg, diastole:78,9 mmHg). The average of pulse before working is (8 1,5 times/minute), lower than after working (87,5times/minute). It can be concluded that there is difference of blood pressure before working and after working (systole; p- Wilcoxon Sign Ranks = 0,001, tliatole; p- ll/ilcoxon Sign Ranl<s,:0,003). There is dffirence of pulse before working and after working (p-paired t test: 0,001). Workers blood pressure is degrading, while their pulse is rising, this is due to the fact that workers have already dealt with workload, heat pressttre and noise in work environment.Keywords: blood pressure, pulse, physical environment
PERBEDAAN KECEPATAN WAKTU REAKSI RANGSANG CAHAYA SEBELUM DAN SESUDAH TERPAPAR FAKTOR LINGKUNGAN FISIK PADA PEKERJA INDUSTRI PENGECORAN LOGAM PT. INGENYST SEMARANG Nurullita, Ulfa
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4, No 2 (2007): Public Health
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Work activity is usually done in an environment or situation which leads to addecl burflen of workers physically and spiritually. Physical factor of added burden as the effect of dominant work environtruentin metal faundry industry is heat pressure, noise, and lighting. Workload and environment factor affect on workers convenience and health problem, so that it can increase workload itself, accelerate fatigue andsubjective complaint, as well as decrease work productivity. One of the fatigue measurements is by calculating reaction time toward some stimulus. Method: Location chosen is department of melting ancl making of concrei iron and curved iron which have the same workload. The amount of samples is 47 workers with age inclusion criteria of 40 years old maximally, male, I workhours each day, more than a week of work perioi, hating no hearth and kidney problem, diabetes mellitus, hypertension, hypotension, anemia, ancl asthma, having no lijuor habit and sport. This Qpe of research is the quasi experiment with one group pre antl post test tlesign. Reaition time rapidity is measured before ancl after working with Rection Timer 77, heat pressure is measured with Questemp 10, whereas noise is measured with sound level meter. Result of the research shows that the average of reaction time before working is 253,2 ml second, it is lower if compared to the average of reaction time after working, that is, 290,7 ml second. ln conclusion, there is difference of light stimulating reaction time for workers in deportment of melting and making of concrete iron and curyed iron between before antl after working (p:0,00 1). Reaction time rapidity is increasing after workers deal with work environment either hear pressure, lighting, or noise.Keyword: reaction time rapidiqt, physical factors, metal faundry industry
ANALISIS ASPEK FAKTOR LINGKUNGAN FISIK PADA INDUSTRI TAHU DI KELURAHAN JOMBLANG KECAMATAN CANDI SARI KOTA SEMARANG Nurullita, Ulfa
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4, No 2 (2008): Public Health
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Tofu industrial was one of kind the informal industrial. In the works of process, the workers will get the work load and additional load was causes &om work areas. One of tofu industrial was in KelurahanJomblang, it controll just go from public health facility wich didnt do routine, it is just observed from disease aspect of generally case appear, was Dermatitis, it didnt reached controlling of by work health and safety up till now. Methode: The total of samples are 42 people. The kind of research was deskriptif. The factors were onserved are lighting intensity (with luxmeter), sound intensity (with sound level meter), heat skess (withquestemp), smell (with sense of smell), ventilation (with meter), complaint about the comfortable production room and sickness complaint from employee (with questioner). Result: lighting intensity range 78,6 lux (2 locations more over minimum), sound intensity range 95,7 dBA (all of industries more over limit value), heat stress range 42,4"C(all ol industries over limit value), humadity range 43,8Yo (all of them under the limit value), the broad ventilation range 29,4o/o from the floorspace (3 locations which do not fulfill condition), the complaint about less complexion intensity are 8 people (19W, about sound intensity (noise) are 39 people (92,9yo), about heat stress are 38 people (90,5yo), the majority of disease complaint about 17 people (40,5o/o) was kutu air.
PENGARUH PENGGUNAAN CAHAYA BUATAN TERUS MENERUS TERHADAP PERILAKU Aedes aegypti MENGHISAP DARAH Waluyo, Bejo; Sayono, -; Nurullita, Ulfa
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 7, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACT Background . Aedes aegypti mosquito sipping the blood in the morning at 08.00 – 10.00 AM and in the evening at 15.00 – 17.00 PM ; not at night. However, with lighting continuously at noon and night have not known the influencing of Aedes aegypti mosquito behavior sipping the blood. Objective . The aim of the research is to know the influencing of lighting continuously to Aedes aegypti mosquito sipping the blood behavior. Methods . This quasy experiment use post test only with control group design. Subject of this research is 3 days old female Aedes aegypti mosquito with 25 mosquitos sample each treatment. Treatments that apply to this experiment was by giving artificial lighting continuously as independent variable whereas the dependent variable was Aedes aegypti mosquito behavior sipping the blood. This experiment was done in 3 x 3 metre room with marmot as the mosquito baiting and the first monitoring start at 19.00 PM, furthermore monitoring was done every 3 hours with observing the numer of mosquito that sipping the blood. The acquiring data was editing, tabulating, processing dan cleaning, then it was statistical analized with Kolmogorov Smirnov test and Kruskal-Wallis test. Results . The highest quantity of Aedes aegypti mosquito that sipping the blood was at space with artificial lighting by 40 Watt intensity, with the average quantity was 11,22 and on the other side the lowest quantity was at space without artificial lighting (as control), with the average quantity was 9,42. The result of Kruskal-Wallis test show p value = 0,554 (>0,05). That means, there is no influence of artificial lighting continuously. Conclusion . There is no significant difference of Aedes aegypti mosquito sipping the blood behavior due to using artificial lighting continuously. Keywords . Aedes aegypti mosquito, Lighting continuously, Sipping the blood behavior. ABSTRAK Latar Belakang : Nyamuk Aedes aegypti menghisap darah pada pagi hari pukul 08.00 – 10.00 dan sore hari pukul 15.00 – 17.00; tidak pada malam hari. Namun dengan pencahayaan terus menerus siang dan malam belum diketahui pengaruhnya terhadap perilaku nyamuk Aedes aegypti mengisap darah. Tujuan : Mengetahui pengaruh pencahayaan buatan terus menerus terhadap perilaku nyamuk Aedes aegypti menghisap darah. Metode : Penelitian eksperimen kuasi dengan rancangan post test only with control group design. Subyek penelitian adalah nyamuk Aedes aegypti betina hasil tetasan berumur 3 hari dengan besaran sampel adalah 25 ekor pada setiap perlakuan. Perlakuan yang diterapkan pada penelitian ini dengan memberikan cahaya buatan secara terus menerus sebagai variable bebas, sedangkan variable terikatnya adalah perilaku Aedes aegypti menghisap darah. Penelitian dilakukan di dalam ruangan 3 x 3 meter dengan binatang marmot sebagai umpan nyamuk dan pengamatan pertama di mulai pada jam 19.00, selanjutnya pengamatan dilakukan setiap 3 jam dengan mengamati jumlah nyamuk yang menghisap darah. Data yang diperoleh dilakukan editing, tabulating, processing dan cleaning kemudian data dianalilis secara deskriptif dan analitik dengan uji statistik Kolmogorov Smirnov dan uji Kruskal-Wallis. Hasil : Jumlah nyamuk Aedes aegypti yang menghisap darah terbanyak pada ruang yang menggunakan cahaya buatan dengan intensitas 40 watt dengan rata-rata 11,22 dan yang terendah pada ruangan tanpa diberikan cahaya buatan (kontrol) dengan rata-rata 9,42. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai p=0,554 (> 0,05), artinya tidak ada perbedaan yang signifikan perilaku Aedes aegypti menghisap darah karena pengaruh pencahayaan buatan terus-menerus. Kesimpulan : Tidak ada perbedaan yang signifikan perilaku Aedes aegypti menghisap darah karena pengaruh pencahayaan buatan terus-menerus (p=0,554). Kata kunci : Nyamuk Aedes aegypti, Pencahayaan terus menerus, Perilaku menghisap darah
HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN DENGAN SANITASI LAPAS TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT HERPES DI LAPAS WANITA KELAS II A SEMARANG Wirawan, Agus; Nurullita, Ulfa; Astuti, Rahayu
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 7, No 1 (2011): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA
Publisher : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACT Background. Year 2009, 80% from 176 inmate in women prisons Semarang had a history of herpes simplex disease. Based on these issues it is necessary to research on the effects of personal hygiene and sanitation on the incidence of herpes simplex Correctional Institution in prisons IIA class women Semarang Objective. To identify the relationship between personal hygiene and sanitation of prisons with the incidence of herpes simplex on the citizens in women prisons IIA class Semarang. Methods. Type of research is explanatory research method used to test independent variables (personal hygiene and sanitation of prisons) and dependent variable (incidence of herpes simplex infection). with a sample of 51 persons. The method used is through a questionnaire and interview survey using a cross sectional approach. Results. Chi square test the relationship between personal hygiene with the incidence of herpes simplex p value (0.506) is greater than the value of α (0.05) good categories as many as 49 people (96.1%). While the statistical analysis using Chi square test for the relationship between sanitation with the occurrence of herpes simplex p value (0.221) is greater than the value of α (0.05), minimum score category 2, the maximum score of 3, an average of 2.59 with standard deviation of 0.49. Conclusion. There was no significant relationship between personal hygiene and sanitation with the incidence of herpes simplex disease. Keyword. Personal hygiene and sanitation of prisons, with herpes simplex infection. ABSTRAK Latar Belakang. Tahun 2009, 80% dari 176 warga binaan di Lapas wanita Semarang mempunyai riwayat menderita penyakit herpes simplek. Berdasarkan masalah tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh higiene perorangan dan sanitasi Lapas terhadap kejadian herpes simplek di Lapas wanita kelas IIA Semarang Tujuan. Mengetahui hubungan higiene perorangan dan sanitasi Lapas dengan kejadian herpes simplek pada warga binaan di Lapas wanita kelas IIA Semarang Metode. Jenis penelitian explanatory research yaitu Metode yang digunakan untuk menguji variabel bebas ( higiene personal dan sanitasi Lapas) dengan variabel terikat ( kejadian infeksi herpes simplek). dengan sampel sejumlah 51 orang. Metode yang digunakan adalah metode survey melalui kuesioner dan wawancara menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil. Uji Chi square hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian penyakit herpes simplek didapatkan nilai p (0,506) lebih besar dari nilai α (0,05) katergori baik sebanyak 49 orang (96,1%). Sedangkan hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk hubungan antara sanitasi dengan kejadian penyakit herpes simplek didapatkan nilai p (0,221) lebih besar dari nilai α (0,05),kategori skor minimum 2, skor maksimum 3, rata-rata 2,59 dengan standar deviasi 0,49. Kesimpulan. Tidak ada hubungan yang signifikan antara higiene perseorangan dan sanitasi dengan kejadian penyakit herpes simplek Kata Kunci., higiene perseorangan dan sanitasi Lapas, dengan Infeksi herpes simplek