Articles

Found 13 Documents
Search

EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN AMPISILIN DANSEFOTAKSIM PADA PASIEN ANAK DEMAM TIFOID Nurmainah, Nurmainah; Syabriyantini, Siti; Susanti, Ressi
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 13, No 2: JUNI 2017
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/mkmi.v13i2.1984

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit endemik yang angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pengobatan demam tifoid dapat dilakukan dengan cara pemberian terapi antibiotik, yaitu ampisilin dan sefotaksim. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan efektivitas biaya penggunaan sefotaksim dan ampisilin pada pasien anak demam tifoid di RST TK II Kartika Husada Kubu Raya Tahun 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian secara potong lintang (cross sectional) yangbersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan basis data rekam medik pasien demam tifoid yang dirawat inap di RST TK II Kartika Husada Kubu Raya periode Januari sampai dengan Desember 2015. Data efektivitas dan biaya pengobatan demam tifoid dianalisis secara ACER dan ICER. Dari hasil analisis data diperoleh nilai ACER pada penggunaan sefotaksim sebesar Rp.1.571.014,474 per efektivitas, sedangkan pada penggunaan ampisilin sebesar Rp.2.629.026,316 per efektivitas. Nilai ICER diperoleh sebesar Rp.513.002,632 perefektivitas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sefotaksim lebih cost effective dibandingkan ampisilin.
KEPATUHAN PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI SEBAGAI PREDIKTOR LAJU KEJADIAN DAN BIAYA RAWAT INAP Nurmainah, Nurmainah; Fudholi, Achmad; Dwiprahasto, Iwan
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.899 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.288

Abstract

Persistensi penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan. Mengingat luaran utama dari terapi hipertensi adalah menurunkan atau mencegah terjadinya kejadian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, stroke yang berujung pada risiko kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak klinis berupa laju kejadian dan biaya rawat inap pada kelompok pasien hipertensi yang persisten dan tidak persisten menggunakan obat antihipertensi berdasarkan klaim resep pengobatan PT Askes (Persero). Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kohort retrospektif dengan menggunakan basis data pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini sebanyak 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat antihipertensi pertama kali (tanggal indeks pengobatan 1 Juli 2007 – 31 Desember 2008). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini, antara lain uji khi kuadrat, analisis kesintasan Kaplan-Meier, dan cox proportion hazard test. Setelah dilakukan pengamatan berkisar 3 sampai 4,5 tahun bahwa laju kejadian rawat inap pada pasien yang persisten menggunakan antihipertensi lebih lambat dan bermakna secara statistik daripada pasien hipertensi yang tidak persisten menggunakan antihipertensi (HR= 0,12; IK 95%= 0,006-0,23). Rata-rata biaya untuk mengatasi luaran klinis berupa rawat inap pada kelompok pasien yang persisten menggunakan antihipertensi (Rp. 2.758.109,28) lebih rendah daripada kelompok pasien hipertensi yang tidak persisten menggunakan antihipertensi dan dirawat inap (Rp. 4.125.412,00). Kesimpulan dari penelitian ini adalah peningkatan persistensi penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi dapat menekan laju kejadian dan biaya rawat inap. Kata kunci: persistensi, hipertensi, kejadian rawat inap, biaya
The Risk of Atherosclerotic Cardiovascular Disease among Hyperlipidaemia Patients and Appropriateness of Statin Therapy Iskandar, Maharani F.; Nurmainah, Nurmainah; Susanti, Ressi
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 3, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.963 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v3i1.16452

Abstract

Patients with hyperlipidaemia is at increased risk of developing atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD). The use of appropriate statin therapy is important to obtain optimal health outcomes. However, there was limited information regarding the risk of ASCVD among Indonesian hyperlipidaemia population and the appropriateness of statin therapy given to these patients. This study aimed to assess the ASCVD risks among the patients and evaluate the use of statin therapy at hospitalized hyperlidaemia patients. This cross sectional study used medical records as data source. This study was conducted at one hospital in Pontianak, Indonesia during Januari-June 2017. We included 50 subjects. The 10-year risk of ASCVD was assessed using ASCVD pooled cohort risk assessment equation (PCRAE). The results showed that 66% of the included subjects had a relatively high risk of developing ASCVD. Subjects with high risk of ASCVD received inappropriate statin therapy. High intensity statin should be given to these patients. In conclusion, large proportion of the subjects were at high risk of developing ASCVD. Nevertheless, inappropriate statin therapy were given to these patients. Improvement in medication practice should be done to prevent complication and increase quality of health outcomes.Keywords: ASCVD, dyslipidemia, statin
Profil Mean Arterial Pressure dan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Krisis dengan Kombinasi Amlodipin Angelina, Ria; Nurmainah, Nurmainah; Robiyanto, Robiyanto
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.582 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.3.172

Abstract

Berdasarkan pedoman pengobatan hipertensi krisis, pengobatan hipertensi emergensi menggunakan antihipertensi parenteral sedangkan hipertensi urgensi menggunakan antihipertensi oral. Tujuannya agar tercapai penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) di bawah 25% dan tekanan darah sistolik/diastolik (TDS/TDD) di bawah atau sama dengan 160/100 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penurunan MAP dan TDS/TDD setelah 24 jam pemberian amlodipin oral dengan berbagai kombinasi pada pasien hipertensi krisis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan potong lintang (cross-sectional) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien hipertensi krisis rawat inap di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak periode Januari 2016–Desember 2017. Sampel yang diperoleh sebanyak 38 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi emergensi yang menggunakan amlodipin secara oral dengan kombinasi antihipertensi lainnya memiliki nilai MAP setelah 24 jam sebesar 24% dan beberapa pasien hipertensi emergensi menunjukkan pencapaian MAP-nya sebesar 32%. Namun demikian, penurunan TDS/TDD setelah 24 jam mencapai di bawah atau sama dengan 160/100 mmHg. Penggunaan amlodipin oral dengan berbagai kombinasi terapi antihipertensi lainnya pada pasien hipertensi urgensi menunjukkan pencapaian MAP berkisar 20–23%. Sementara itu, TDS/TDD setelah 24 jam mencapai sekitar dan di bawah 160/100 mmHg. Penggunaan amlodipin secara oral dengan kombinasi antihipertensi lainnya pada pasien hipertensi emergensi belum mampu menunjukkan penurunan MAP sesuai yang diinginkan. Di sisi lain, penanganan hipertensi urgensi dengan menggunakan amlodipin oral dengan berbagai kombinasi terapi antihipertensi lainnya menunjukkan pencapaian penurunan MAP sesuai dengan pedoman pengobatan hipertensi krisis.Kata kunci: Amlodipin, hipertensi krisis, mean arterial pressure, tekanan darah Mean Arterial Pressure and Blood Pressure Profile in Hypertensive Crises Patients with Amlodipine Therapy CombinationAbstractBased on treatment guidelines of crisis hypertension, emergency hypertensive treatment uses parenteral antihypertensive whereas urgency hypertensive uses oral antihypertensive. The goal is to achieve a drop in Mean Arterial Pressure (MAP) below 25% and systolic/diastolic blood pressure (SBP/DBP) below or equal to 160/100 mmHg. This study aimed to describe the decrease in MAP and SBP/DBP after 24 hours of oral amlodipine administration with various combinations in patients with crisis hypertension. This research was an observational research with cross-sectional design which was descriptive. Data collection was done retrospectively based on medical record data of hypertensive crisis patients that hospitalized at RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak City from January 2016 until December 2017. The samples obtained were 38 patients. Results from the study showed that emergency hypertension patients who used oral amlodipine with other antihypertensive combinations had 24-hour MAP values of 24% and some emergency hypertension patients showed a MAP attainment of 32% with decreased SBP/DBP after 24 hours reached under 160/100 mmHg. The use of oral amlodipine amlodipine with other antihypertensive combinations in urgency hypertensive patients showed an achievement of 20–23% reduction in MAP with decreased SBP/DBP after 24 hours under 160/100 mmHg. The use of oral amlodipine with other antihypertensive combinations in emergency hypertensive patients did not show a desirable reduction in MAP. Treatment of urgency hypertensive by using oral amlodipine with various combinations of other antihypertensive therapies showed a decrease in MAP according to crisis hypertension treatment guidelines.Keywords: Amlodipine, blood pressure, hypertensive crises, mean arterial pressure
KEPATUHAN PENGGUNAAN ANTIHIPERTENSI SEBAGAI PREDIKTOR LAJU KEJADIAN DAN BIAYA RAWAT INAP Nurmainah, Nurmainah; Fudholi, Achmad; Dwiprahasto, Iwan
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.288

Abstract

Persistensi penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan. Mengingat luaran utama dari terapi hipertensi adalah menurunkan atau mencegah terjadinya kejadian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, stroke yang berujung pada risiko kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak klinis berupa laju kejadian dan biaya rawat inap pada kelompok pasien hipertensi yang persisten dan tidak persisten menggunakan obat antihipertensi berdasarkan klaim resep pengobatan PT Askes (Persero). Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kohort retrospektif dengan menggunakan basis data pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes (Persero) di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini sebanyak 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat antihipertensi pertama kali (tanggal indeks pengobatan 1 Juli 2007 – 31 Desember 2008). Analisis data yang digunakan pada penelitian ini, antara lain uji khi kuadrat, analisis kesintasan Kaplan-Meier, dan cox proportion hazard test. Setelah dilakukan pengamatan berkisar 3 sampai 4,5 tahun bahwa laju kejadian rawat inap pada pasien yang persisten menggunakan antihipertensi lebih lambat dan bermakna secara statistik daripada pasien hipertensi yang tidak persisten menggunakan antihipertensi (HR= 0,12; IK 95%= 0,006-0,23). Rata-rata biaya untuk mengatasi luaran klinis berupa rawat inap pada kelompok pasien yang persisten menggunakan antihipertensi (Rp. 2.758.109,28) lebih rendah daripada kelompok pasien hipertensi yang tidak persisten menggunakan antihipertensi dan dirawat inap (Rp. 4.125.412,00). Kesimpulan dari penelitian ini adalah peningkatan persistensi penggunaan antihipertensi pada pasien hipertensi dapat menekan laju kejadian dan biaya rawat inap. Kata kunci: persistensi, hipertensi, kejadian rawat inap, biaya
Prescription Pattern and Costs of Angiotensin II Receptor Blockers in Hypertensive Outpatients Nurmainah, Nurmainah; Anisyah, Nur
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 3, No 3
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.191 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v3i3.19864

Abstract

Angiotensin II receptor blockers (ARBs) have been widely prescribed for primary hypertension. Nevertheless, the cost of ARBs are relatively expensive. The objective of this study was to describe prescribing pattern and the cost of ARBs in hypertensive outpatients. This study used descriptive observational method based on cross-sectional study. Data source was hypertensive outpatients medical records and prescriptions at Pemangkat General Hospital, West Kalimantan, Indonesia, during 2014-2015. The most frequently prescribed anti-hypertensive medication in 1,506 patients were ARBs. There was an increasing trend in the use of ARBs during 2014-2015 (31-38%). The most frequently prescribed ARBs were 8 mg and 18 mg of candesartan, and 80 mg of valsartan. ACE inhibitors were the least prescribed anti-hypertensive drugs (4-8%). The largest portion of anti-hypertensive drugs expenditure was spent on ARBs, both in 2014 and 2015, respectively accounted for IDR 50,493,876.00 (67%) and IDR 58,903,112.00 (79% ). In conclusion, the prescribing of ARBs increased during study period and it represented the largest contributor on total expenditures of anti-hypertensive drugs.Keywords: Angiotensin II receptor blockers, cost, hypertensive patients
Gambaran Biaya dan Lama Rawat Inap Pada Pasien Diare Akut Anak Yang Menggunakan Kombinasi Suplemen Zink-Probiotik Nurmainah, Nurmainah; Susanti, Ressi; Nansy, Esy
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 13 No 2 (2016): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.082 KB)

Abstract

Diare merupakan penyakit endemis yang memiliki potensi kejadian luar biasa (KLB) yang dapat berujung pada kematian. Pengobatan diare secara cepat dan tepat perlu dilakukan terutama pada pasien anak-anak. Pemberian suplemen zink maupun probiotik secara tunggal diketahui dapat mempercepat penyembuhan diare pada anak-anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan biaya dan lama rawat inap pada pasien diare akut anak yang menggunakan kombinasi zink-probiotik selama dirawat inap di rumah sakit.           Metode penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitiannya adalah potong lintang (cross sectional) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan basis data pasien anak yang dirawat inap karena diare akut di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadri Kota Pontianak selama September 2014-Juni 2015.           Hasil dari penelitian ini adalah semua pasien diare akut yang dirawat inap menggunakan kombinasi suplemen zink-probiotik (100%). Rata-rata lama rawat inap pada pasien diare akut dengan dehidrasi ringan selama 2,42 hari sedangkan rata-rata lama rawat inap pada pasien diare akut dengan dehidrasi ringan yang disertai infeksi selama 4,26 hari. Sementara itu, rata-rata biaya rawat inap pada pasien diare akut dehidrasi ringan sebesar Rp. 560.248,48±198.127,01 sedangkan rata-rata biaya rawat inap pada pasien diare akut dehidrasi ringan yang disertai infeksi sebesar Rp.930.542,10±346.312,35. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian kombinasi suplemen zink dan probiotik sebagai terapi diare akut memberikan lama rawat inap yang singkat. Hal ini berdampak pada rendahnya rata-rata biaya rawat inap pada pasien pediatri dengan diare akut.
Profil Penggunaan Antidiabetik pada Pasien Diabetes Melitus Gestasional di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pontianak Kota Anisya, Kharina; Robiyanto, Robiyanto; Nurmainah, Nurmainah
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.01 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.1.72

Abstract

Pada masa kehamilan, terjadi perubahan-perubahan fisiologis yang berpengaruh terhadap metabolisme karbohidrat sehingga mengakibatkan kehamilan tersebut bersifat diabetogenik. Berbagai faktor dapat mengganggu keseimbangan metabolisme karbohidrat dengan meningkatnya usia kehamilan sehingga terjadi gangguan toleransi glukosa. Keadaan ini dikenal dengan diabetes melitus gestasional (DMG). DMG termasuk jenis penyakit diabetes melitus (DM) yang terjadi pada saat kehamilan. DMG, jika tidak ditangani dengan tepat, dapat berisiko menjadi DM tipe 2 di masa mendatang. Untuk itu, pengobatan DMG perlu dilakukan dengan pendekatan nonfarmakologi dan farmakologi untuk mencegah terjadinya DM tipe 2 dalam jangka waktu yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan antidiabetik pada pasien diabetes melitus gestasional di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pontianak Kota. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan rancangan penelitian potong lintang yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien DMG rawat jalan di Puskesmas Wilayah Kecamatan Pontianak Kota periode Januari 2016–September 2017. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 32 pasien. Dari hasil penelitian, diperoleh obat yang dominan digunakan untuk mengatasi DMG pada wanita hamil adalah metformin (78,13%) yang merupakan golongan biguanida, dan sisanya menggunakan gliburid (21,88%) yang merupakan golongan sulfonilurea. Simpulan dari penelitian ini adalah golongan biguanida banyak digunakan untuk mengatasi DMG pada wanita hamil trimester kedua dan ketiga.Kata kunci: Diabetes melitus gestasional, gliburid, metformin Antidiabetic Use Profile on Gestasional Diabetes Mellitus Patients at Community Health Center in Region of Center PontianakAbstractDuring pregnancy, there are physiological changes affecting on carbohydrate metabolism which cause a diabetogenic pregnancy. Various factors can disrupt the balance of carbohydrate metabolism with increasing gestational age, resulting in impaired glucose tolerance. This condition is known as gestational diabetes mellitus (GDM). GDM is a type of diabetes mellitus (DM) that occurs during pregnancy. GDM, if not handled properly, can be at risk of becoming type 2 DM in the future. Therefore, GDM treatment needs to be done with non-pharmacology and pharmacology approach to prevent the occurrence of DM type 2 in the long term. The objective of this research was to describe the use of oral antidiabetics on gestational diabetes mellitus patients at community health center in Region of Center Pontianak. This research employed observational method with descriptive cross-sectional study design. The data collection was done from medical record of gestasional diabetes mellitus outpatients at community health center in Region of Center Pontianak in the period of January 2016–September 2017. A total of 32 patients fulfilled the inclusion criteria. The results showed that drugs dominantly taken as GDM treatment during pregnancy was metformin (78.13%) which is biguanide group, while the rest was glyburide (21.88%) which is sulfonylurea group. The conclusion of this research is biguanide group was mostly used to treat GDM for pregnancy during the second trimester and third trimester.Keywords: Gestational diabetes mellitus, glyburide, metformin
Profil Mean Arterial Pressure dan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi Krisis dengan Kombinasi Amlodipin Angelina, Ria; Nurmainah, Nurmainah; Robiyanto, Robiyanto
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.582 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.3.172

Abstract

Berdasarkan pedoman pengobatan hipertensi krisis, pengobatan hipertensi emergensi menggunakan antihipertensi parenteral sedangkan hipertensi urgensi menggunakan antihipertensi oral. Tujuannya agar tercapai penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) di bawah 25% dan tekanan darah sistolik/diastolik (TDS/TDD) di bawah atau sama dengan 160/100 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penurunan MAP dan TDS/TDD setelah 24 jam pemberian amlodipin oral dengan berbagai kombinasi pada pasien hipertensi krisis. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan potong lintang (cross-sectional) yang bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien hipertensi krisis rawat inap di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak periode Januari 2016–Desember 2017. Sampel yang diperoleh sebanyak 38 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi emergensi yang menggunakan amlodipin secara oral dengan kombinasi antihipertensi lainnya memiliki nilai MAP setelah 24 jam sebesar 24% dan beberapa pasien hipertensi emergensi menunjukkan pencapaian MAP-nya sebesar 32%. Namun demikian, penurunan TDS/TDD setelah 24 jam mencapai di bawah atau sama dengan 160/100 mmHg. Penggunaan amlodipin oral dengan berbagai kombinasi terapi antihipertensi lainnya pada pasien hipertensi urgensi menunjukkan pencapaian MAP berkisar 20–23%. Sementara itu, TDS/TDD setelah 24 jam mencapai sekitar dan di bawah 160/100 mmHg. Penggunaan amlodipin secara oral dengan kombinasi antihipertensi lainnya pada pasien hipertensi emergensi belum mampu menunjukkan penurunan MAP sesuai yang diinginkan. Di sisi lain, penanganan hipertensi urgensi dengan menggunakan amlodipin oral dengan berbagai kombinasi terapi antihipertensi lainnya menunjukkan pencapaian penurunan MAP sesuai dengan pedoman pengobatan hipertensi krisis.Kata kunci: Amlodipin, hipertensi krisis, mean arterial pressure, tekanan darah Mean Arterial Pressure and Blood Pressure Profile in Hypertensive Crises Patients with Amlodipine Therapy CombinationAbstractBased on treatment guidelines of crisis hypertension, emergency hypertensive treatment uses parenteral antihypertensive whereas urgency hypertensive uses oral antihypertensive. The goal is to achieve a drop in Mean Arterial Pressure (MAP) below 25% and systolic/diastolic blood pressure (SBP/DBP) below or equal to 160/100 mmHg. This study aimed to describe the decrease in MAP and SBP/DBP after 24 hours of oral amlodipine administration with various combinations in patients with crisis hypertension. This research was an observational research with cross-sectional design which was descriptive. Data collection was done retrospectively based on medical record data of hypertensive crisis patients that hospitalized at RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak City from January 2016 until December 2017. The samples obtained were 38 patients. Results from the study showed that emergency hypertension patients who used oral amlodipine with other antihypertensive combinations had 24-hour MAP values of 24% and some emergency hypertension patients showed a MAP attainment of 32% with decreased SBP/DBP after 24 hours reached under 160/100 mmHg. The use of oral amlodipine amlodipine with other antihypertensive combinations in urgency hypertensive patients showed an achievement of 20–23% reduction in MAP with decreased SBP/DBP after 24 hours under 160/100 mmHg. The use of oral amlodipine with other antihypertensive combinations in emergency hypertensive patients did not show a desirable reduction in MAP. Treatment of urgency hypertensive by using oral amlodipine with various combinations of other antihypertensive therapies showed a decrease in MAP according to crisis hypertension treatment guidelines.Keywords: Amlodipine, blood pressure, hypertensive crises, mean arterial pressure
Persistensi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan Nurmainah, Nurmainah; Fudholi, Ahmad; Dwiprahasto, Iwan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8. No. 1 Agustus 2013
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.693 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v8i1.336

Abstract

Persistensi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi sangat diperlukan mengingat hasil utama terapi hipertensi adalah mencegah kejadian penyakit kardiovaskular seperti infark miokard, dan stroke yang berujung pada kematian. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jenis terapi dan jenis obat antihipertensi terhadap persistensi. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif dan menggunakan sumber data sekunder pasien hipertensi rawat jalan peserta asuransi kesehatan PT Askes di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Metode pengukuran persistensi adalah metode the gaps between refill dengan tenggang waktu pengambilan obat selama 30 hari. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat, Kaplan-Meier, dan Cox regression. Jumlah subjek yang ikut dalam penelitian ini adalah 304 pasien hipertensi yang menggunakan obat antihipertensi pertama kali (tanggal indeks diagnosis 1 Juli 2007 hingga 31 Desember 2008). Setelah pengamatan 4,5 tahun, hampir separuh subjek yang mendapat monoterapi (57,6%) dan kombinasi terapi (53,8%) tidak persisten menggunakan obat antihipertensi. Ketidakpersistenan penggunaan obat antihipertensi lebih besar pada kelompok monoterapi daripada kelompok kombinasi, tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan (RR = 0,94; 95% CI = 0,73 - 1,21). Penggunakan diuretik (85,7%) dan kombinasi obat diuretik + ACE inhibitor (84,6%) cenderung tidak persisten dibandingkan subjek yang menggunakan ACE inhibitor (58,4%). Perbedaan ini bermakna secara statistik (RR = 1,47; 95% CI = 1,05 - 2,01 dan RR = 1,45; 95% CI = 1,10 - 1,91). Persistensi dipengaruhi oleh jenis obat antihipertensi yang digunakan, yaitu ACE inhibitor.Persistence of the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients greatly needed. Considering the primary outcome of treatment for hypertension is to reduce or prevent the occurrence of cardiovascular events such as myocardial infarction, stroke resulting in the risk of death. This study aims to determine whether persistence is influenced by the type of treatment or type of antihypertensive drugs. This study was designed with retrospective cohort study using database of prescribing claimed of subjects under health insurance (PT Askes) in Panembahan Senopati hospitals using antihypertensive drugs. Persistency measurement method used is the method of the gaps between refilling. The grace period taking the drug for 30 days. Further data were analyzed using the chi square test, Kaplan-Meier, and Cox regression. This cohort study involving 304 patients using antihypertensive medications first (index diagnosis 1 July 2007 until 31 December 2008). After observation for 4,5 years found almost half of the subjects receive monotherapy (57,6%) or combination therapy (53,8%) are not persistent in the use of antihypertensive medications. Not persistent greater in the monotherapy compare to combination therapy group. However, this difference did not reach significance (RR = 0,94; CI 95% = 0,73 - 1,21). Subject were using a diuretic (85,7%) and ACE inhibitor + diuretic combination (84,6%) tends not to be persistent compare to subject using ACE inhibitors (58,4%). This difference was statistically significant (RR = 1,47; CI 95% = 1,05 - 2,01 and RR = 1,45; CI 95% = 1,10 - 1,91). Overall, persistence is influenced by the type antihypertensive drugs used, the ACE inhibitors.