Emilya Nurjani
Faculty of Geography Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

CARBON DEPOSITON COMPONENT OF FORESTRY VEGETATION BIOMASSIN PLIPIRVILLAGE, DISTRICT PURWOREJO, CENTRAL JAVA PROVINCE

Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan besar dalam menjaga kestabilan ekosistem.Vegetasi di hutan bisa menjadi pencegah terlepasnya karbon ke atmosfer melalui proses fotosintesis di manavegetasi menyerap CO2, memecahnya, dan menyimpannya dalam bentuk biomassa. Hal inilah yang menjadikankawasan hutan penting untuk dikaji kemampuannya dalam menyimpan biomassa dan karbon. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui jumlah biomassa dan karbon yang tersimpan pada komponen vegetasi hutan rakyatdi Desa Plipir dengan lahan seluas 87,23 hektar sekaligus mengevaluasi fungsi ekologis hutan tersebut dalamhal penyerapan biomassa dan karbon. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahanpertimbangan perumusan kebijakan yang tepat dalam hal perencanaan pengelolaan lahan yang berwawasanlingkungan di DesaPlipir.Hasil penelitian yakni total biomassa hutan rakyat Desa Plipir yakni 2.737,39 ton dan cadangan karbonsebesar 2.804,3 ton dengan kantung karbon terbesar yakni pepohonan dan yang terkecil yakni tanaman bawah.Faktor yang dapat mempengaruhi besar atau kecilnya simpanan karbon suatu kawasan hutan rakyat yaknikomposisi vegetasi, stratifikasi hutan (berkaitan dengan distribusi umur pepohonan), dan kerapatan vegetasi,kondisi fisik lingkungan seperti iklim, kemiringan lereng, bentuk lahan, jenis tanah, dan batuannya. Kondisihutan rakyat Desa Plipir saat ini masih tergolong baik jika dilihat dari fungsi ekologisnya sebagai penyimpanbiomassa dan karbon, namun kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian untuk kemudian dipertahankan denganbaik di masa yang akan datang.Kata kunci :hutan, biomassa, karbon.

ANALISIS KUALITAS UDARA STASIUN GLOBAL ATMOSPHERE WATCH (GAW) BUKIT KOTOTABANG KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT

Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stasiun Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang di Kabupaten Agam,Sumatera Barat merupakan satu – satunya stasiun pengamat atmosfer global yangada di Indonesia sehingga mewakili kondisi atmosfer di Indonesia secara globaldan di dunia yang letaknya persis di garis ekuator. Tujuan penelitian ini adalahmengetahui kondisi kualitas udara di daerah penelitian dengan menggunakanIndeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan mengetahui indikasi terjadinyapemanasan global di daerah penelitian.Metode penelitian ini menggunakan metode statistik untuk mengetahuirerata dan tren dari masing-masing parameter, metode deskriptif untuk analisisISPU, metode deskriptif untuk mengetahui indikasi terjadinya pemanasan global.Parameter udara yang digunakan untuk penelitian ISPU antara lain CO, SO2,NO2, partikulat PM10, dan O3, sedangkan untuk parameter kimia udara yangdigunakan untuk analisis pemanasan global ialah CO2 dan CH4.Kata kunci : Global Atmosphere Watch, ISPU, pemanasan global

KONTRIBUSI CURAH HUJAN TERPENGARUH SIKLON TROPIS TERHADAP CURAH HUJAN BULANAN, MUSIMAN, DAN TAHUNAN DI INDONESIA BAGIAN SELATAN TAHUN 1979-1998

Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 3, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan siklon tropis yang mempengaruhicurah hujan bulanan, musiman, dan tahunan di Indonesia bagian selatan dan(2) menganalisis kontribusinya secara spasial. Penelitian ini menggunakan 27 stasiunhujan sepanjang tahun 1979-1998 dengan 88,9% siklon tropis terjadi padabulan Desember hingga April, sehingga penelitian hanya dilakukan pada periodeini. Analisis spasial dilakukan terhadap hasil interpolasi IDW kontribusi hujan terpengaruhsiklon tropis, dan analisis grafis dilakukan terhadap grafik kontribusi persiklon tropis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siklon tropis mengalamipenurunan pada tahun 1986-1991, dan peningkatan hingga tahun 1998. Variabilitascurah hujan di daerah penelitian lebih dipengaruhi oleh kejadian nonsiklontropis karena kontribusi hujan terpengaruh siklon tropis yang rendah.Distribusi spasial kontribusi mengikuti distribusi depresi tekanan udarayang berpusat di perairan Nusa Tenggara.509Kontribusi hujan terpengaruh siklon tropis mengalami penurunan seiringdengan peningkatan jarak dengan depresi tekanan udara.Kata kunci: siklon tropis, variabilitas hujan, kontribusi hujan terpengaruh siklontropis

PENGARUH EL NINO SOUTHERN OSCILLATION (ENSO) TERHADAP CURAH HUJAN MUSIMAN DAN TAHUNAN DI INDONESIA

Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Variabilitas utama iklim musiman dan tahunan di Indonesia dipengaruhi ENSO. ENSO merupakan sebuah interaksi laut atmosfer yang berpusat di wilayah ekuatorial Samudra Pasifik yang menyebabkan anomali iklim global, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian yakni mengetahui pengaruh ENSO terhadap curah hujan musiman dan tahunan. Data yang digunakan yakni curah hujan bulanan dari 60 stasiun hujan di Indonesia dan indeks osilasi selatan tahun 1960-2004. Analisis regresi digunakan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini.Hasil penelitian menunjukkan pengaruh ENSO lebih nyata terhadap curah hujan tahunan dibandingkan pengaruh dari El Nino atau La Nina; pengaruh nyata ENSO dan El Nino dirasakan saat PMK dan AMH. Daerah dengan curah hujan tahunan dipengaruhi nyata oleh ENSO, El Nino dan La Nina yakni 43; 7; 5 daerah. Daerah di Indonesia dengan curah hujan saat PMK dan AMH (tengah tahun) yang dipengaruhi nyata oleh ENSO (31;46 daerah); El Nino (11;14 daerah) dan La Nina (3;3 daerah).Kata kunci : ENSO, sebaran curah hujan, pengaruh, perbedaan

KAJIAN KERENTANAN AIRTANAH BEBAS TERHADAP PENCEMARAN DI KAWASAN PESISIR PARANGTRITIS KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi manusia beserta kegiatannya memiliki potensi untuk mencemari sumberdaya air yang ada di kawasan pesisir. Pemodelan kerentanan airtanah bebas berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat merepresentasikan secara cepat potensi kerentanan airtanah. Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan model kerentanan airtanah bebas sebagai upaya dalam mengetahui potensi pencemaran berdasarkan kondisi fisik lahan yang dibandingkan dengan kadar fosfat sebagai indikator pencemar. Metode penelitian yang digunakan adalah DRASTIC dan evaluasi dari Human Activity Impact (HAI) dengan teknik pembobotan dan penilaian (weighting and rating method). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan airtanah di daerah penelitian terdiri dari 0,23% sangat rendah, 21,05% rendah, 53,03% sedang, 12,42% tinggi dan 13,28% sangat tinggi. Analisis regresi ganda menunjukkan parameter yang paling dominan dalam mempengaruhi kadarfosfat adalah kedalaman muka airtanah, dengan tingkat signifikansi 0,003. Analisis korelasi menunjukkan hasil bahwa indeks kerentanan DRASTIC dan HAI signifikan terhadap kadar fosfat, serta memiliki hubungan tingkat lemah dan sedang (0,340 dan 0,425).Kata kunci : airtanah, kerentanan airtanah, pencemaran, SIG, DRASTIC, HAI

Geographic Information System-Based Spatial Analysis of Agricultural Land Suitability in Yogyakarta

Indonesian Journal of Geography Vol 47, No 2 (2015): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1381.235 KB)

Abstract

Agricultural sector is the main economic activity of the society and also the source of people economy strengthening. The purpose of this study was to determine the priority direction of the development of the agricultural sector, mainly to determine the most appropriate types of commodities for each land unit that serve as local agricultural base. AHP method was integrated with GIS technique to analyze as well as to create land suitability maps for food crops. The results showed that 25.4 percent of lands in Yogyakarta is highly suitable for rice, while only 16 and 2 percent, respectively, is suitable for groundnut and corn. The limiting factors to the land suitability for these three commodities were plant roots condition, nutrients availability, nutrient retention, and soil condition. Suitable lands for rice, groundnut and corn were distributed at Ledok Wonosari, Middle Slope of Merapi, Lower Slope of Merapi and Batur Agung

Frost Hazard Assessment on Agricultural Land to Achieve Resilient Agriculture in Dieng Volcanic Highland, Central Java

Jurnal Ilmu Pertanian Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5055.398 KB)

Abstract

Dieng Volcanic Highland is one of the most intensive potato agricultural land in Indonesia, as well as frost disaster prone area. Frost indicated by appearance of frozen dew on the ground or vegetation surface due to cold temperatures during dry season. Frost causes damage to leaf tissue in potato plants, resulting crop failure and losses of up to tens of millions. Disaster management needs to be assess in order to achieve Disaster Risk Reduction (DRR) on agricultural land. This research aims to identify frost hazard areas based on local physical characteristics, analyze frost impacts on agricultural land, and provide preparedness recommendation to reduce the impact of frost disasters in Dieng Volcanic Highland. Research was conducted in Dieng Village, Wonosobo and Dieng Kulon Village, Banjarnegara. Method to assess hazard level was performed by spatial mapping technology using ArcGIS and comprehensive analysis using frost assessment through combinations of geomorphology, land use, proximity to water bodies and weather aspects. Dieng Volcanic Highland has a 125.59 hectare frost hazard areas, as many as 58.4 hectares of hazard areas are dominated by high level, while 24.84 hectares are moderate level and 42.95 hectares are low level. Cropland dominated by potato commodity has the highest hazard level, frost incident causing agricultural commodities to wither to death so that farmers experience losses. Frost losses in Dieng have a range from 800 thousand rupiah to over 155 million rupiah and only destructive on potato farm. In order to encourage agricultural resilience and reduce the loss of frost disasters, effort of preparedness can be done by passively and actively methods. Passive methods includes site selection, early warning system, shifting commodities, cropland modification, and appropriate calendar planting. Active methods includes frost modification using heaters, blower and sprinkle irrigation, and cropland covering using mulch, plastic or nets.

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): September 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang masih menjadi unggulan di berbagai wilayah di Indonesia, menempatkan sektor ini sebagai aktivitas utama ekonomi masyarakat dan juga sumber penguatan perekonomian rakyat. Penelitian ini mempunyai tujuan jangka panjang yaitu untuk mengembangkan model integrasi antar faktor fisik dan sosial ekonomi dalam menentukan prioritas arahan pengembangan di sektor pertanian, terutama untuk menentukan jenis komoditas yang paling sesuai pada suatu satuan lahan atau wilayah tertentu yang menjadi daerah basis pertanian. Selain itu juga mengukur keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah basis pertanian DIY ditinjau dari sub sektor tanaman pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan di Provinsi DIY yang sangat sesuai untuk tanaman padi sebesar 25,4%, sedangkan untuk tanaman kacang tanah lebih kecil lagi yaitu 16% dan untuk tanaman jagung hanya 2%. Faktor yang membatasi tingkat kesesuaian lahan pada 3 jenis tamanan pangan tersebut adalah kondisi perakaran tanaman, ketersediaan unsur hara, retensi hara dan medan atau lokasi. Lahan yang mampu diusahakan untuk aktivitas pertanian dan sesuai dengan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan adalah di Ledok Wonosari, Lereng Tengah Merapi, Lereng Bawah Merapi dan Batur Agung. ABSTRACT The agricultural sector is a sector of the economy is still seeded in various regions in Indonesia, putting this sector as the main economic activity of society and also the source of strengthening the economy of the people. This research has a long-term goal is to develop a model of integration between the physical and socio-economic factors in determining the priority direction of development in the agricultural sector, especially to determine the most appropriate types of commodities on a unit of land or a particular region of the local agricultural base. It also measures the comparative advantage and competitive advantage DIY agricultural base area in terms of food crops sub-sector. The results showed that the land in the province that is very suitable for rice crop amounted to 25.4%, while for peanut plants smaller is 16% and for the corn crop is only 2%. Factors that limit the suitability of land on three types of plants are food crop rooting conditions, availability of nutrients, nutrient retention and the terrain or location. Capable of cultivated land for agricultural activities and in accordance with the suitability of land for food crops is in Ledok Wonosari, Central Slopes of Merapi, Merapi Slope Down and BaturAgung.

ANALISIS PROBABLE MAXIMUM PRECIPITATION (PMP) DAERAH ALIRAN SUNGAI OPAK MENGGUNAKAN GENERALISED SHORT-DURATION METHOD (GSDM)

Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): September 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di DAS Opak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemungkinan Maksimum Pengendapan (PMP) nilai dapat digunakan sebagai masukan pada menentukan nilai Kemungkinan Maksimum Banjir (PMF) di DAS. Bahwa nilai PMF digunakan untuk pencegahan banjir dan perencanaan struktur hidrologi. Penelitian ini dibuat untuk tahu nilai PMP di DAS Opak. Lain untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal dari PMP value.Estimation nilai PMP di DAS Opak dibuat menggunakan Generalized Metode Short-Durasi (GSDM) untuk wilayah DAS hingga 1000 km2 dan durasi pendek. GSDM dianggap faktor medan, penyesuaian untuk kelembaban, dan Penyesuaian untuk elevasi DAS estimasi dari PMP. Dari GSDM bisa tahu spasial distribusi dan temporal PMP value.This nilai hasil studi PMP di DAS Opak adalah 121 mm untuk durasi 3 jam, 68 mm untuk durasi 2 jam, 36 mm untuk durasi 1 jam. Spasial distribusi nilai PMP di DAS Opak sebagai aturan umum memiliki pola yang sama untuk setiap durasi adalah PMP terbesar di pusat elips. Hasil yang didapat, harapan dapat digunakan untuk pertimbangan dalam perencanaan untuk berbagai tujuan. ABSTRACT This study made at the watershed Opak at Daerah Istimewa Yogyakarta. Probable Maximum Precipitation (PMP) value can use as input at determine value of Probable Maximum Flood (PMF) in watershed. That PMF value used for flood prevention and hydrology structure planning. This study made for know PMP value at the watershed Opak. Else for know spatial and temporal distribution of PMP value.Estimation PMP value at the watershed Opak made using Generalized Short-Duration Method (GSDM) for watershed area up to 1000 km2 and short duration. GSDM considered factor of terrain, adjustment for moisture, and Adjustment for watershed elevation on estimation of PMP. From GSDM can know distribution spatial and temporal of PMP value.This study results PMP value at watershed Opak is 121 mm for duration 3 hour, 68 mm for duration 2 hour, 36 mm for duration 1 hour. Distribution spatial of PMP value at watershed Opak as a general rule have same pattern for each duration is PMP greatest at center ellipse. Result gotten, hope can used for consideration in planning for variety of purpose.

Speleoclimate Monitoring to Assess Cave Tourism Capacity in Gelatik Cave, Gunungsewu Geopark, Indonesia

Forum Geografi Vol 32, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1322.686 KB)

Abstract

Increased of the number of visitor at Gelatik Cave is a challenge in terms of cave management. In natural conditions, Caves are vulnerable with environmental changes especially microclimates condition. The change of microclimate inside the cave can destruct cave ornaments.Therefore, it is necessary to calculate the cave carrying capacity with microclimates as the main parameter. This research aims to (1) explore the daily variation of speleoclimate in Gelatik Cave Tourism and (2) analyze the cave tourism capacity in Gelatik Cave. Microclimate parameter that was measured in this research was temperature, relative humidity, and carbon dioxide inside the cave. Measurement of microlimate parameter was carried out automatically for 24 hours during peak season in December 2017 and low season in May 2018. Cave tourism capacity was measured using Lobo method (Lobo, 2015). The results showed that temperature, relative humidity, and carbon dioxide in the Gelatik Cave varry due to tourism activities. The most sensitive parameter is the carbon dioxide concentration inside the cave. The maximum of tourists allowed to visit Gelatik Cave is 76 visitors/ day during holidays and working days. Meanwhile, the maximum time of stay accepted for a particular area inside Gelatik Cave is 17 minutes 10 seconds during weekdays and 12 minutes 53 seconds during the holiday season.