. Nurjanah
Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jln. Lingkar Akademik, Kampus IPB Dramaga-Bogor 16680

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

Shelf Applications in Storage Container for Freshwater Prawn (Cherax quadricarinatus) Transportation without Water Media

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2008): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.951 KB)

Abstract

Lobster air tawar yang dipasarkan dalam keadaan mati, meskipun masih dalam keadaan segar,harganya turun hingga 50 % sehingga diperlukan suatu teknik transportasi khusus agar lobster air tawartetap hidup hingga ke tangan konsumen. Transportasi tanpa media air dapat menjadi pilihan untukdistribusi lobster air tawar dengan waktu yang lebih lama, khususnya untuk tujuan ekspor. Kapasitaspengangkutan dalam transportasi, khususnya ekspor, memiliki peranan penting. Penambahan rak dalamwadah pengemasan diharapkan dapat meningkatkan kepadatan tanpa mempengaruhi mortalitas komoditashidup yang diangkut. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, penelitian tahap pertama bertujuan untukmengetahui kualitas media air akuarium. Tahap kedua bertujuan untuk mengamati aktivitas lobster airtawar dan perubahan suhu media serbuk gergaji selama pengemasan. Tahap ketiga bertujuan untukmempelajari efektivitas penggunaan rak untuk meningkatkan kepadatan lobster air tawar dalamkemasan.Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa analisis rata-rata kualitas air akuarium sudahmemenuhi persyaratan kelayakan kualitas air untuk lobster air tawar. Hasil penelitian tahap keduadiperoleh hasil bahwa lobster air tawar menunjukkan aktivitas pada saat suhu media mencapai 5 °C.Lobster bergerak mundur menaiki serbuk gergaji. Suhu media kemasan akan menurun hingga jam ke-4 dankembali naik hingga akhir penyimpanan pada jam ke-34. Hasil penelitian tahap ketiga menunjukkan bahwarak akrilik terbukti efektif sebagai bahan dasar pembuatan rak dengan kapasitas muat 7-8 ekor/rak dandapat meningkatkan kepadatan hingga 54 %. Penggunaan rak akrilik mampu menghasilkan kelulusanhidup lobster air tawar sebesar 100 % hingga 50 jam penyimpanan. Perlakuan durasi penyimpanan berbedapada penelitian ini tidak mempengaruhi tingkat kelulusan hidup lobster air tawar. Rak akrilik tidakberperan secara langsung dalam usaha untuk mempertahankan dormansi lobster air tawar namun dapatmengurangi pergerakan lobster air tawar dalam media pengemasan.Kata kunci: lobster air tawar, penyimpanan, rak

Penambahan Hidrogen Peroksida (H2O2) dalam Mempertahankan Waktu Hidup Ikan Kerapu Lumpur

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2006): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.143 KB)

Abstract

Penambahan hidrogen peroksida pada media air untuk mempertahankan hidup ikan kerapu lumpur (Epinephelus suillus) telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh hidrogen peroksida terhadap kualitas air media ikan kerapu lumpur. Penelitian ini terdiri atas 2 tahap. Tahap 1 yaitu penggunaan berbagai konsentrasi hidrogen peroksida dengan volume 0,5 ml. Pada penelitian tahap 2 menggunakan konsentrasi hidrogen peroksida terpilih dengan perlakuan volume hidrogen peroksida. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan konsentrasi hidrogen peroksida terpilih adalah 13,6 %. Untuk ikan ukuran 60-80 gram yang mampu mempertahankan ikan hidup lebih lama adalah 1ml selama 953 menit, sedangkan untuk ikan ukuran 100-150 gram yang paling lama hidupnya pada volume 1,5 ml yaitu 3107 menit. Penambahan hidrogen peroksida pada berbagai konsentrasi dan volume tidak menyebabkan perubahan kualitas air secara bermakna, kecuali untuk oksigen terlarut yang semakin meningkat.Kata kunci: hidrogen peroksida, kerapu lumpur, kualitas air

Kemunduran Mutu Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Selama Penyimpanan pada Suhu Ruang

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.721 KB)

Abstract

Penelitian tentang kemunduran mutu ikan nila merah telah dilakukan dengan tujuan untuk menggetahui rigor mortis dan daya simpan ikan nila merah (Oreochromis sp.) segar pada suhu ruang. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah uji organoleptik, TPC, TVB, dan Nilai K. Hasil penelitian menunjukan bahwa tahap pre rigor ikan nila merah berlangsung selama 2 jam setelah ikan dimatikan, rigor mortis berlangsung selama 10 jam setelah ikan mengalami pre rigor (2-12) setelah ikan dimatikan. Sedangkan post rigor terjadi pada jam 12 setelah ikan di matikan.Kata kunci: Nila merah, Nilai K, organoleptik, post rigor, pre rigor, rigor, TPC, dan TVB.

Composition Alteration of Protein and Amino Acid of Ronggeng Shrimp (Harpiosquilla raphidea) Meat by Boiling

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2008): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.663 KB)

Abstract

Udang Ronggeng merupakan salah satu jenis krustase yang cukup diminati untuk dikonsumsi, terutama oleh masyarakat mancanegara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal, klasifikasi, berat dan ukuran udang, rendemen, uji sensori, serta komposisi kimia (proksimat), protein larut garam, protein larut air dan kandungan asam amino udang ronggeng dalam keadaan segar dan setelah perebusan. Protein larut air yang terdapat pada udang ronggeng segar yakni sebesar 8,90 %, sedangkan pada udang ronggeng setelah perebusan yakni sebesar 9,11 Protein larut garam yang terdapat pada udang ronggeng segar yakni 9,40 %, sedangkan pada udang ronggeng setelah perebusan yakni sebesar 10,17 %. Udang ronggeng segar mengandung 17 asam amino, 9 asam amino esensial dan 8 asam amino non esensial. Komposisi asam amino pada udang ronggeng segar (per 100 g) berturut-turut dari yang paling tinggi adalah asam glutamat (3306 mg), asam aspartat (1555 mg), alanin (1504 mg), glisin (1370 mg), valin (1016 mg), treonin (1002 mg), leusin (983 mg), lisin (857 mg), tirosin (787 mg), serin (674 mg), histidin (627 mg), arginin (624 mg), prolin (613 mg), fenilalanin (606 mg), isoleusin (599 mg), metionin (561 mg) dan sistin (300 mg),setelah perebusan kandungan asam amino daging udang ronggeng mengalami penurunan rata-rata sebesar                   (20,62 + 7,90)%.Kata kunci: asam amino, perebusan, udang ronggeng

AUTENTIKASI TUNA STEAK KOMERSIAL DENGAN METODE PCR-SEQUENCING

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2011): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.178 KB)

Abstract

Tuna is one of the  shery commodities which are susceptible to mislabeling and substituted with similarspecies, but lower price. Consumer as a purchaser will incur a loss (economical fraud) so it is needed a way toovercome these problems. This study aimed to optimized extraction of DNA obtained from the tuna and tunaexporter companies of modern markets, identi cation of DNA-based species-speci c primers with a target genecyt b, and characterization of DNA tuna authentication results. This study consisted of several steps beginning with the characterization of tuna, DNA extraction using CTAB method and Vivantis kit, ampli cation by PCR, electrophoresis, and nucleotide sequencing. The samples tested were successfully extracted and ampli ed with the appropriate size of 750 base pairs. PCR sequencing using cyt b gene targets resulted in the identi cation of tuna raw material. PCR sequencing of the nucleotide sequence of results which have been  tted to the NCBI data, which does not show any fraud in the form of substitution with other species. Species of yellow  n (Thunnus albacore), Albacore (Thunnus alalunga), big eye (Thunnus obesus) and blue  n (Thunnus macoyyi) has the highest homology i.e 99%, 99%, 99%, 100%, respectively.Keywords: authentication, cyt b, mt-DNA, PCR, tuna’s steaks

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KOMPONEN BIOAKTIF KEONG IPONG-IPONG (Fasciolaria salmo)

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 14, No 1 (2011): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.656 KB)

Abstract

Ipong-ipong snail (Fasciolaria salmo) is one of sea water gastropods that have not been utilized optimally. People believe that the snail has the ef cacies for increasing stamina and vitality. However, scienti c data supporting the ef cacy of this snail has not been elucidated yet. The purposes of this research was determined the yield, chemical content (water, protein, fat, ash, acid insoluble ash and carbohydrates), bioactive components and antioxidant activity. The yield of shells, meat, and viscera were 69.69%, 22.08% and 8.22%, respectively. Watercontent, protein, fat, ash, acid insoluble ash and carbohydrates were 73.075%, 18.28%, 0.575%, 2.77%, 0.15% and 5.2%, respecitevely. Six bioactive components were detected i.e alkaloids, steroids, reducing sugars, carbohydrates, peptides and amino acids. Antioxidant activity using DPPH method obtained the result IC50 of the meat extract with chloroform, ethyl acetate and methanol solvent were 9210 ppm, 6825 ppm, 1513.8 ppm, respectively. Meanwhile for viscera extract were. 2825 ppm, 4600 ppm and 994,47 ppm, respectively.Keywords: antioxidants, bioactives, Fasciolaria salmo, proximate, yield.

Pengaruh Penambahan Bahan Pengikat terhadap Karakteristik Fisik Otak-Otak Ikan Sapu-Sapu

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2005): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.783 KB)

Abstract

Otak-otak merupakan modifikasi produk olahan antara baso dan kamaboko yang sudah populer di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi maizena dan formula yang terbaik pada pembuatan otak-otak dari ikan sapu-sapu. Jenis bahan pengikat yang digunakan adalah tepung terigu, tapioka, dan campuran dengan maizena dengan konsentrasi total 2,5 %. Karakteristik produk diuji secara indrawi dengan skala hedonik dan komposisi gizi. Konsentrasi maizena yang paling disukai adalah ¼ bagian dan formula yang dipilih adalah bahan pengikat tapioka yang dicampur maizena. Nilai uji proksimat formula terpilih adalah kadar protein 15,49 %; abu 3,11 %; lemak 0,34 % dan karbohidrat 10,665 %.Kata Kunci: ikan sapu-sapu, maizena, organoleptik, otak-otak, proksimat.

Quality Changes of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) by Killing Techniques During Chilling Temperature Storage

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.341 KB)

Abstract

The time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end postrigor phase of catfish killed instantly in 0, 9, 57, and 144 hours was investigated. In addition, the time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end of postrigor phase of catfish killed after 12 hours without water media were 0, 6, 42, and 120 hours. Freshness declination of catfish killed instantly slower than killed after 12 hours without water media. Fish killed instantly had 5.1x105 colonies/g TPC (Total Plate Count) value and 24.36 mg N/100 TVB (Total Volatile Base) value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 3.95, 4.05, 4.30, 4.45, 4.45 and 3.45 respectively. On the other hand the fish killed after 12 hours without water media had 1,2x106 colonies /g, TPC value and 25,2 mg N/100 g TVB value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 2.3, 2.2, 2.8, 3.9, 3.7 and 2.85, respectively.Keywords: catfish, fish quality, low temperature

Quality Changes of Tilapia Fish (O. niloticus) by Killing Techniques and Gutting during Low Storage Temperature

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.658 KB)

Abstract

Killing and gutting treatment at low storage temperature (0-5 oC) on tilapia fish (O. niloticus) showed significant results on the subjective test (organoleptic) and objectives (TPC/Total Plate Count, pH, and TVB/Total Volatile Base). The A1B2 treatment (dead pricker, gutting) gare the best quality, and this could he maintained for 10 days. Tilapia fish could be consumed up to-10 days because the number of bacteria at the end of the storage prevent reached 9.7x105 colonies/g. TVB value generated at the end of the storage period reached 20.45 mg N/g with some fluctuation of pH value during the storage. The quality of tilapia fish could maintain with the combination of treatment and storage at low temperature (0-5 oC).Keywords: chilling, fish quality, tilapia

Kandungan Mineral dan Proksimat Kerang Darah (Anadara granosa) yang Diambil dari Kabupaten Boalemo, Gorontalo

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 8, No 2 (2005): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.152 KB)

Abstract

Mineral kalsium sebagai pembentuk tulang dan mineral (Cu, Fe, Zn, dan Se) yang berfungsi sebagai antioksidan serta proksimat dari kerang darah (Anadara granosa) yang diambil dari Teluk Tomini Boalemo Gorontalo telah diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penanganan dan pengolahan kerang darah di Boalemo serta menentukan komposisi kimia (proksimat, mineral Cu, Ca, Fe, dan Zn). Penentuan mineral dilakukan dengan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Kerang darah di Boalemo hanya dipanen jika ada pesanan dan pada saat nelayan tidak melaut untuk menangkap ikan. Kerang darah hanya sebagai substitusi ikan. Bentuk produk yang diperjual belikan adalah segar hidup, kupas rebus, dan sate. Hasil analisis mineral untuk kerang segar adalah: Cu 3,17 ppm, Ca 698, 49 ppm, Fe 93,91 ppm dan Zn 13,91 ppm. Sedangkan untuk kerang darah rebus diperoleh nilai Cu 3,15 ppm, Ca 1320,76 ppm, Fe 52,38 ppm dan Zn 12,99 ppm. Hasil proksimat kerang segar adalah: protein 19,48 %, lemak 2,50 %, air 74,37 % dan abu 2,24 %. Untuk kerang darah rebus diperoleh nilai proksimat sebagai berikut: protein 23,23 %, lemak 7,01 %, air 65,69 % dan abu 2,57 %.Kata kunci: AAS, antioksidan, kerang darah, mineral, proksimat