Articles

Found 37 Documents
Search

Quality Changes of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) by Killing Techniques During Chilling Temperature Storage Nurilmala, Mala; Nurjanah, .; Utama, Rahadian Hardja
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.341 KB)

Abstract

The time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end postrigor phase of catfish killed instantly in 0, 9, 57, and 144 hours was investigated. In addition, the time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end of postrigor phase of catfish killed after 12 hours without water media were 0, 6, 42, and 120 hours. Freshness declination of catfish killed instantly slower than killed after 12 hours without water media. Fish killed instantly had 5.1x105 colonies/g TPC (Total Plate Count) value and 24.36 mg N/100 TVB (Total Volatile Base) value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 3.95, 4.05, 4.30, 4.45, 4.45 and 3.45 respectively. On the other hand the fish killed after 12 hours without water media had 1,2x106 colonies /g, TPC value and 25,2 mg N/100 g TVB value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 2.3, 2.2, 2.8, 3.9, 3.7 and 2.85, respectively.Keywords: catfish, fish quality, low temperature
Quality Changes of Tilapia Fish (O. niloticus) by Killing Techniques and Gutting during Low Storage Temperature Munandar, Aris; Nurjanah, .; Nurilmala, Mala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.658 KB)

Abstract

Killing and gutting treatment at low storage temperature (0-5 oC) on tilapia fish (O. niloticus) showed significant results on the subjective test (organoleptic) and objectives (TPC/Total Plate Count, pH, and TVB/Total Volatile Base). The A1B2 treatment (dead pricker, gutting) gare the best quality, and this could he maintained for 10 days. Tilapia fish could be consumed up to-10 days because the number of bacteria at the end of the storage prevent reached 9.7x105 colonies/g. TVB value generated at the end of the storage period reached 20.45 mg N/g with some fluctuation of pH value during the storage. The quality of tilapia fish could maintain with the combination of treatment and storage at low temperature (0-5 oC).Keywords: chilling, fish quality, tilapia
Penggunaan Kitosan sebagai Pembentuk Gel pada Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) Nurilmala, Mala; Suptijah, Pipih; Nurfianti, Dini
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 10, No 1 (2007): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.852 KB)

Abstract

Konsumsi daging ikan Indonesia tahun 2005 masih rendah sebesar 26 kg/kapita/tahun, karena masyarakat kurang menggemari ikan dalam bentuk penyajian utuh sehingga perlu adanya diversifikasi produk seperti bakso ikan. Bakso merupakan produk makanan yang banyak digemari masyarakat, tetapi adanya isu penggunaan bahan tambahan berbahaya menurunkan minat konsumen. Untuk itu penggunaan bahan alami seperti kitosan sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kitosan yang dibuat serta memanfaatkannya sebagai pembentuk gel bakso ikan kurisi (Nemipterus nematophorus). Pada penelitian pendahuluan dibuat kitosan yang memenuhi standar. Konsentrasi kitosan yang digunakan ke dalam adonan dalam penelitian utama adalah 0% (tanpa kitosan); 0,1 %(v/b); 0,2 %(v/b); 0,3 %(v/b); 0,4 %(v/b); 0,5 %(v/b) yang diperoleh dari larutan kitosan 1,5 %(b/v) dan STPP 0,15 %(b/b) untuk pembanding. Konsentrasi kitosan terpilih untuk pengadonan adalah 0,2 %(v/b), bila dibandingkan dengan sodium tripoliposfat, kitosan lebih unggul dalam membentuk gel maupun organoleptik produk bakso ikan. Kitosan berpengaruh nyata terhadap organoleptik (penampakan dan tekstur), fisik (uji lipat uji gigit dan kekuatan gel.
Perbaikan Nilai Tambah Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) menjadi Gelatin serta Analisis Fisika-Kimia Nurilmala, Mala; Wahyuni, Mita; Wiratmaja, Heidi
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2006): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.394 KB)

Abstract

Tulang ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik dan didalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. Pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna dilakukan dengan metode asam klorida. Konsentrasi asam klorida yang digunakan berkisar antara 4 %-6 % v/v dengan lama perendaman 2 hari. Ekstraksi gelatin dilakukan dengan suhu berkisar antara 80-90 oC. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna menggunakan asam klorida serta menganalisis sifat fisika kimia gelatin yang dihasilkan. Perlakuan terpilih adalah kombinasi konsentrasi HCl 6% dengan suhu ekstraksi 80oC. Kadar air gelatin tulang ikan tuna adalah 6,54 %, abu 1,93 %, lemak 0,42 % dan protein 91,01 %. Titik gel gelatin tulang ikan tuna adalah pada suhu 7,61 oC, titik leleh 19,84 oC, titik isoelektrik pada pH 7, derajat putih 10,7 % dan asam amino glisin merupakan asam amino yang utama pada gelatin tulang ikan tuna.Kata kunci : gelatin, ikan tuna, limbah, tulang
Utilization and Fortification of Patin Fish on Extrusion Snack Nurilmala, Mala; Suptijah, Pipih; Subagja, Yugha; Hidayat, Taufik
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 17, No 2 (2014): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3433.416 KB)

Abstract

Catfish (Pangasius sp.) is a well cultured freshwater fish. Fortification improves protein level in snack and an effort to vary catfish fish product. The purpose of this study was to determine drying method for fish grit, formulation of snack and its properties. Grit formation by several drying methods and proximate (AOAC) and degree of polarization. Snack used based on the physical measurement, namely development ratio. Formulations of grit composition of corn: rice: fish were 70%:30%:0% (K), 65%:25%:10% (A), 62.5%:22.5%:15% (B), 60%:20%:20% (C). Fish addition only effect the color of snack based on sensory analysis. There was no effect on snacks physical properties both 10% and 15% of fish grit added. Chemical measurements comprised water, ash, lipid, protein levels and polarization degree. Statistical analysis showed that fish addition effect the protein level on extrusion snack. In addition, polarization measurement showed that the snack with fish addition of 10% (A) and 15%( B) are fully gelatinized.Keyword: formulation, patin fish, snack
Perubahan kandungan vitamin dan mineral ikan kembung lelaki akibat proses penggorengan Nurilmala, Mala; ., Nurjanah; Febriyansyah, Reza; Hidayat, Taufik
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.497 KB)

Abstract

Abstract. Indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) is one of sea water fish in Indonesia. It is a good source of protein. This fish is consumed by vary processing methods. In addition, it is very known that frying is the favorite method for food processing including fish in Indonesia because of its specific taste. However there is no data found for changes of vitamin and mineral  compositions so far, thus our study investigated the effect of deep frying  using 4L palm oil at 180 oC for 5 minutes on vitamin A, B12, and minerals (Ca, Na,K, Fe, Zn, and Se) of this fish. The measurenment of vitamin A and B12 was carried  out by HPLC and  AAS for  mineral. The results showed that deep frying effected on vitamin A with significantly increased (P<0.05), on the other hand vitamin B12  decreased significantly (P<0.05).  Mineral Ca  increased significantly (P<0.05), however Na dan K  decreased significantly (P<0.05). No significant result for Fe and Zn. Furthermore, it is found that Se content was under limit detection.Keywords: deep frying; mineral; Rastrelliger kanagurta; vitaminAbstrak. Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu ikan laut Indonesia. Ikan ini  dikonsumsi  dengan berbagai metode pengolahan. Pengolahan dengan menggoreng merupakan metode yang sangat disukai di Indonesia karena akan menghasilkan rasa yang khas termasuk pada ikan kembung. Di sisi lain, belum adanya data yang ditemukan akibat metode penggorengan ini pada perubahan vitamin dan mineral ikan kembung, sehingga tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh yang terjadi pada kandungan vitamin A, B12, dan mineral ikan kembung (Ca, Na, K, Fe, Zn, dan Se)  setelah digoreng dalam deep fryer menggunakan 4L minyak goreng pada suhu 180 oC selama 5 menit. Pengujian yang dilakukan yaitu, uji vitamin A dan B12 dengan HPLC, serta uji mineral dengan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penggorengan deep fryingberpengaruh nyata (P<0,05) terhadap vitamin A, sedangkan vitamin B12menurun secara signifikan (P<0,05). Mineral Ca meningkat secara signifikan (P<0,05), sedangkan Na dan K  menurun secara signifikan (P<0,05) setelah proses penggorengan. Mineral Fe dan Zn tidak berubah secara signifikan. Selenium memiliki kandungan dibawah limit deteksi.Kata kunci: proses penggorengan; mineral; Rastrelliger kanagurta; vitamin; 
Perbaikan Nilai Tambah Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) menjadi Gelatin serta Analisis Fisika-Kimia Nurilmala, Mala; Wahyuni, Mita; Wiratmaja, Heidi
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 9, No 2 (2006): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Department of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.394 KB)

Abstract

Tulang ikan tuna (Thunnus sp.) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik dan didalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. Pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna dilakukan dengan metode asam klorida. Konsentrasi asam klorida yang digunakan berkisar antara 4 %-6 % v/v dengan lama perendaman 2 hari. Ekstraksi gelatin dilakukan dengan suhu berkisar antara 80-90 oC. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pembuatan gelatin dari tulang ikan tuna menggunakan asam klorida serta menganalisis sifat fisika kimia gelatin yang dihasilkan. Perlakuan terpilih adalah kombinasi konsentrasi HCl 6% dengan suhu ekstraksi 80oC. Kadar air gelatin tulang ikan tuna adalah 6,54 %, abu 1,93 %, lemak 0,42 % dan protein 91,01 %. Titik gel gelatin tulang ikan tuna adalah pada suhu 7,61 oC, titik leleh 19,84 oC, titik isoelektrik pada pH 7, derajat putih 10,7 % dan asam amino glisin merupakan asam amino yang utama pada gelatin tulang ikan tuna.Kata kunci : gelatin, ikan tuna, limbah, tulang
Penggunaan Kitosan sebagai Pembentuk Gel pada Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) Nurilmala, Mala; Suptijah, Pipih; Nurfianti, Dini
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 10, No 1 (2007): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Department of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.852 KB)

Abstract

Konsumsi daging ikan Indonesia tahun 2005 masih rendah sebesar 26 kg/kapita/tahun, karena masyarakat kurang menggemari ikan dalam bentuk penyajian utuh sehingga perlu adanya diversifikasi produk seperti bakso ikan. Bakso merupakan produk makanan yang banyak digemari masyarakat, tetapi adanya isu penggunaan bahan tambahan berbahaya menurunkan minat konsumen. Untuk itu penggunaan bahan alami seperti kitosan sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kitosan yang dibuat serta memanfaatkannya sebagai pembentuk gel bakso ikan kurisi (Nemipterus nematophorus). Pada penelitian pendahuluan dibuat kitosan yang memenuhi standar. Konsentrasi kitosan yang digunakan ke dalam adonan dalam penelitian utama adalah 0% (tanpa kitosan); 0,1 %(v/b); 0,2 %(v/b); 0,3 %(v/b); 0,4 %(v/b); 0,5 %(v/b) yang diperoleh dari larutan kitosan 1,5 %(b/v) dan STPP 0,15 %(b/b) untuk pembanding. Konsentrasi kitosan terpilih untuk pengadonan adalah 0,2 %(v/b), bila dibandingkan dengan sodium tripoliposfat, kitosan lebih unggul dalam membentuk gel maupun organoleptik produk bakso ikan. Kitosan berpengaruh nyata terhadap organoleptik (penampakan dan tekstur), fisik (uji lipat uji gigit dan kekuatan gel.
Quality Changes of Tilapia Fish (O. niloticus) by Killing Techniques and Gutting during Low Storage Temperature Munandar, Aris; Nurjanah, .; Nurilmala, Mala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 2 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.658 KB)

Abstract

Killing and gutting treatment at low storage temperature (0-5 oC) on tilapia fish (O. niloticus) showed significant results on the subjective test (organoleptic) and objectives (TPC/Total Plate Count, pH, and TVB/Total Volatile Base). The A1B2 treatment (dead pricker, gutting) gare the best quality, and this could he maintained for 10 days. Tilapia fish could be consumed up to-10 days because the number of bacteria at the end of the storage prevent reached 9.7x105 colonies/g. TVB value generated at the end of the storage period reached 20.45 mg N/g with some fluctuation of pH value during the storage. The quality of tilapia fish could maintain with the combination of treatment and storage at low temperature (0-5 oC).Keywords: chilling, fish quality, tilapia
Quality Changes of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) by Killing Techniques During Chilling Temperature Storage Nurilmala, Mala; Nurjanah, .; Utama, Rahadian Hardja
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 12, No 1 (2009): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.341 KB)

Abstract

The time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end postrigor phase of catfish killed instantly in 0, 9, 57, and 144 hours was investigated. In addition, the time of prerigor, rigor mortis, initial postrigor, and the end of postrigor phase of catfish killed after 12 hours without water media were 0, 6, 42, and 120 hours. Freshness declination of catfish killed instantly slower than killed after 12 hours without water media. Fish killed instantly had 5.1x105 colonies/g TPC (Total Plate Count) value and 24.36 mg N/100 TVB (Total Volatile Base) value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 3.95, 4.05, 4.30, 4.45, 4.45 and 3.45 respectively. On the other hand the fish killed after 12 hours without water media had 1,2x106 colonies /g, TPC value and 25,2 mg N/100 g TVB value. The sensory value for eyes, gills, mucus of body surface, meats, odor, and texture at the end of storage (the sixth day) was 2.3, 2.2, 2.8, 3.9, 3.7 and 2.85, respectively.Keywords: catfish, fish quality, low temperature