Widya Istanto Nurcahyo
Unknown Affiliation

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

Perbedaan Pengaruh Pemberian Propofol Pentothal Dan Etomidate Terhadap Perubahan Kadar Procalcitonin Pada Operasi Dengan General Anestesi Cahyono, Iwan Dwi; Nurcahyo, Widya Istanto; Satoto, Hari Hendriarto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Procalcitonin is introduced and reviewed as a new marker of the inflammatory response to infection. Induction anesthetic agent usage is known for the procalcitonin increases.Objective: To determine the difference effects of propofol, penthotal and etomidate administration on procalcitonin concentration in general anastesia.Method: An experimental study on 24 patients who received general anesthesia. Samples were divided into three groups (n:8, respectively). The 1 st , the 2 nd ,and the 3 rd group received propofol , penthotal or etomidate as the induction anesthetic agent during the procedure, with the rate of administration propofol 2,5mg/body weight, penthotal 5mg/body weight, etomidat 0,3 mg/body weight and O2 :N2 O ratio 50%:50%. A specimen was taken from each group before induction anesthetic, four hours post induction and twenty four hours post induction. All specimens were taken to the clinical pathology laboratory for procalcitonin concentration testing. Statistical analyses were perfomed using Kruskal-Wallis test and Friedman test (with level of significance p<0,05).Result: The patients characteristics and variables data to be compared were normally distributed. The results showed a significant difference in percentage of procalcitonin concentration before and after the administration of propofol (p=0,008) but not significant for penthotal group and etomidat group (p=l,00). In the propofol, penthotal and etomidat group, the mean percentage of procalcitonin concentration was (0,175±0,1) ,(0,05±0,05) and (0,05±0,05). Statistically, propofol caused increase significant concentration of procalcitonin to penthotal and etomidate, with (p=0,053).Conclusion: Propofol significantly increased the percentage of procalcitonin concentration whether penthotal and etomidate given not significantly result for procalcitonin concentration.Keywords : propofol, penthotal, etomidate, procalcitonin concentration, general anesthesiaABSTRAKLatar belakang: Prokalsitonin diperkenalkan dan digunakan sebagai sebuah marker baru dari respon inflamasi terhadap infeksi. Obat induksi anestesi yang biasa digunakan telah diketahui mempengaruhi peningkatan prokalsitonin.Tujuan: Untuk menentukan perbedaan pengaruh dari propofol, pentotal dan etomidat terhadap kadar prokalsitonin dalam general anestesi.Metode: Studi eksperimental terhadap 24 pasien yang dilakukan general anestesi. Sampel dibagi menjadi 3 grup masing-masing 8 sampel tiap grup. Grup 1, 2 dan 3 mendapatkan propofol, pentotal atau etomidat sebagai obat induksi anestesi selama prosedur penelitian, dengan dosis pemberian propofol 2,5 mg/kgbb, pentotal 5 mg/kgbb dan etomidat 0,3 mg/kgbb dan rasio O2 dan N 2O 50% : 50%, sampel darah penderita diambil sebelum induksi anestesi, 4 jam setelah induksi anestesi dan 24 jam setelah induksi anestesi. Semua sampel kemudian dikirim ke laboratorium Patologi Klinik RSUP dr Kariadi Semarang untuk diperiksa kadar prokalsitonin. Data yang diperoleh dianalisa dengan tes Kruskall -Wallis dilanjutkan dengan tes Friedman.Hasil: Karakteristik umum penderita dan data variabel yang didapat kemudian dibandingkan memberikan gambaran distribusi yang merata. Pada penelitian ini menunjukkan hasil perbedaan bermakna dari kadar prokalsitonin sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok propofol (p=0,008) dan tidak bermakna pada kelompok pentotal dan etomidat dengan nilai (p=l,00). Dalam kelompok propofol, pentotal dan etomidat nilai tengah dari kadar prokalsitonin adalah (0,175±0,1), (0,05±0,05) dan (0,05±0,05). Secara meyakinkan bahwa propofol menyebabkan peningkatan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat, dengan nilai (p=0,053)Kesimpulan: Propofol secara meyakinkan meningkatkan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat.
Perbedaan Agregasi Trombosit pada Penderita yang Mendapat Propofol dan Penthotal ., Arliansah; Nurcahyo, Widya Istanto; Satoto, Hariyo
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Perioperative bleeding is a serious and common problem in surgery. Some induction anesthetic agents are thought to inhibit platelet aggregation. The propofol and penthotal had effect on platelet aggregation. Objective : Determine the difference effects of propofol and penthotal administration on platelet aggregation. Method: An Randomized Clinical Control Trial study on 34 patients who received general anesthesia, divided into two groups (n: 17). Both groups received Propofol or Penthotal were examined TAT before and five minutes after induction All data were analyzed by pair t -test and independent t-test for Propofol or Penthotal and platelet aggregation. Result : Maximal platelet aggregation before and after the administration of propofol and penthotal is significant, difference. In propofol and penthotal group, the percentage of maximal platelet aggregation was 54,93±9,38 and 66,26±8,94 (p=0,0001). We found 64,71% hypoaggregation, 17,65% mild hypo aggregation and 17,65% normo aggregation on propofol group, and 11,76% of hypo aggregation, 23,53% mild hypoaggregation and 64,71% normoaggregation on penthotal group. Statistically, propofol caused significant hypoaggregation of platelet compared to penthotal). Conclusion : Propofol significantly lowers the percentage of maximal platelet aggregation and causes more hypoaggregation than penthotal.Keywords : propofol, penthotal, ADP, platelet aggregationABSTRAKLatar belakang : Perdarahan perioperatif merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi mempunyai pengaruh menghambat agregasi trombosit. Propofol dan Penthotal mempengaruhi Agregasi Trombosit. Tujuan: Membuktikan perbedaan pengaruh Propofol dan Penthotal terhadap Agregasi Trombosit. Metode: Merupakan penelitian Randomized Clinical Control Trial pada 34 pasien yang menjalani anestesi umum, dibagi menjadi 2 kelompok (n=17), Propofol dan Penthotal. Masing-masing kelompok diperiksa TAT sebelum induksi dan 5 menit setelah induksi. Uji statistik pair t-test dan independent t-test terhadap propofol atau penthotal dan agregasi trombosit. Hasil: Agregasi maksimal trombosit, sebelum dan sesudah pemberian propofol atau penthotal berbeda bermakna. Kelompok penthotal persentase agregasi maksimal trombosit 68,73 ± 6,06% dan propofol 54,68 ± 9,55%, menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p=0,001). Hasil sesudah perlakuan, kelompok propofol 14 orang hipoagregasi (82,4%), dan 3 orang normoagregsi (17,6%). Sementara kelompok penthotal 5 orang hipoagregasi (29,4%), dan sisanya 12 orang normoagregasi (70,6%). Secara statistik propofol secara bermakna menyebabkan hipoagregasi daripada penthotal. Kesimpulan : Propofol secara bermakna menurunkan agregasi maksimal trombosit dan menyebabkan hipoagregasi lebih banyak daripada penthotal.Kata kunci : propofol, penthotal, ADP, agregasi trombosit
Awareness dan Recall Intraoperatif Rofiq, Aunun; ., Witjaksono; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ASA reports the latest on intraoperative awareness conducted by the ASA is centered around the postoperative recall. As can be inferred from this chapter, introperatif awareness and postoperative recall is not a phenomenon that is not related at all, thereby allowing clinicians and researchers to use one of the two partially substitute for the other. Recall that typically do not provide actual estimates of the incidence of intraoperative awareness and simply represents the peak of the iceberg phenomenon. Monitor brain function can not be predicted with less recall very well, but better than the traditional autonomic parameters in knowing lost or the emergence of consciousness. Monitor brain function represents the rapid developments in anesthesia practice management. The ability to recognize intraoperative awareness and prevention by maintaining a depth of hypnosis level, offers great potential to prevent postoperative recall.Keywords : -ABSTRAKLaporan ASA terbaru mengenai awareness intraoperatif yang dilakukan oleh ASA dipusatkan seputar recall postoperative. Seperti dapat disimpulkan dari Bab ini, awareness introperatif dan recall postoperative bukanlah fenomena yang tidak berhubungan sama sekali, sehingga membolehkan para klinisi dan peneliti untuk menggunakan salah satu di antara keduanya sebagia substitusi bagi yang lain. Recall secara khas memberikan estimasi yang tidak sebenarnya terhadap insidensi awareness intraoperatif dan hanya merepresentasikan puncak dari fenomena gunung es. Monitor fungsi otak tidak dapat memprediksi recall dengn sangat baik, tetapi lebih baik dari parameter otonom yang tradisional dalam mengetahui hilang atau timbulnya kesadaran. Monitor fungsi otak merepresentasikan perkembangan yang pesat dalam manajemen praktek anestesi. Kemampuan untuk mengenali awareness intraoperatif dan pencegahannya dengan mempertahankan kedalaman tingkat hypnosis, menawarkan potensi yang besar untuk mencegah recall postoperative.
Fisiologi dan Patofisiologi Aksis Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal Nugroho, Taufik Eko; Pujo, Jati Listiyanto; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The endocrine system consists of glands that secrete hormones that help maintain and regulate vital functions such as (1) in response to stress and injury, (2) the growth and development, (3) reproduction, (4) ion homeostasis, (5) energy metabolism, and (6) the immune response. Secretion of cortisol by the adrenal cortex is regulated by negative feedback system involving the arc length of the hypothalamus and anterior pituitary. In the system of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis, corticotropin releasing hormone (CRH) causes the release of pituitary ACTH. ACTH then stimulates the adrenal cortex to secrete cortisol. Cortisol returned to give further feedback on the hypothalamic-pituitary axis, and inhibits the production of CRH-ACTH. Fluctuating system, will vary according to the physiological needs of cortisol. If the system produces too much ACTH, so that too much cortisol, the cortisol affects the back and inhibit the production of CRH by the hypothalamus and decreased sensitivity of ACTH-producing cells to CRH by working directly on the anterior pituitary. Through this dual approach, cortisol negative feedback control to stabilize itself in the plasma concentration. When cortisol levels begin to drop, the inhibitory effects of cortisol on the hypothalamus and anterior pituitary is reduced so that the factors that stimulate increased secretion of cortisol (CRH-ACTH) will increase. The system is sensitive for the production of cortisol or cortisol administration or other synthetic glucocorticoid excess can rapidly inhibit the hypothalamic-pituitary and stop the production of ACTH.Keywords : -ABSTRAKSistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar yang mensekresi hormon yang membantu memelihara dan mengatur fungsi-fungsi vital seperti (1) respons terhadap stres dan cedera, (2) pertumbuhan dan perkembangan, (3) reproduksi, (4) homeostasis ion, (5) metabolisme energi, dan (6) respons kekebalan tubuh. Sekresi kortisol oleh korteks adrenal diatur oleh sistem umpan balik negatif lengkung panjang yang melibatkan hipotalamus dan hipofisis anterior. Pada sistem hipotalamus-hipofisis-adrenal, corticotropin releasing hormone (CRH) menyebabkan hipofisis melepaskan ACTH. Kemudian ACTH merangsang korteks adrenal untuk mensekresi kortisol. Selanjutnya kortisol kembali memberikan umpan balik terhadap aksis hipotalamus-hipofisis, dan menghambat produksi CRH-ACTH. Sistem mengalami fluktuasi, bervariasi menurut kebutuhan fisiologis akan kortisol. Jika sistem menghasilkan terlalu banyak ACTH, sehingga terlalu banyak kortisol, maka kortisol akan mempengaruhi kembali dan menghambat produksi CRH oleh hipotalamus serta menurunkan kepekaan sel-sel penghasil ACTH terhadap CRH dengan bekerja secara langsung pada hipofisis anterior. Melalui pendekatan ganda ini, kortisol melakukan kontrol umpan balik negatif untuk menstabilkan konsentrasinya sendiri dalam plasma. Apabila kadar kortisol mulai turun, efek inhibisi kortisol pada hipotalamus dan hipofisis anterior berkurang sehingga faktor-faktor yang merangsang peningkatan sekresi kortisol (CRH-ACTH) akan meningkat. Sistem ini peka karena produksi kortisol atau pemberian kortisol atau glukokortikoid sintetik lain secara berlebihan dapat dengan cepat menghambat aksis hipotalamus-hipofisis dan menghentikan produksi ACTH.
Pengaruh Pretreatment Vitamin C 200 Miligram Terhadap Kadar Cortisol Serum Pada Induksi Etomidat Anggraeni, Ratna; Satoto, Hariyo; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Backgrounds: Etomidate is one of anesthetic agent which has minimal effect on cardiovascular function. However, etomidate depress cortisol production. Vitamin C is one of the agent that hamper the effect of etomidate toward cortisol production. Objectives: To analyze the effect of pre-treatment with vitamin C 200 mg on cortisol serum concentration in elective surgery under general anesthesia. Method: This double blind, Randomized Controlled Trial with 30 subjects which divided into two groups (n=15), control group and treatment group which received etomidate 0,2 mg/kgBW and combination of etomidate and vitamin C 200 mg in pre-operation respectively. Each group was then examined for cortisol serum concentration pre-anesthesia, 2 hours post induction, and 8 hours post induction. Wilcoxon Signed Rank Test and Paired T Test was performed to compare cortisol serum concentration in each group. While Mann Whitney and Independent Sample T Test was used to compare between control and treatment group. Results: Cortisol serum concentration in control group between pre-anesthesia ;244,15 (181,39-382,75)] and 2 hours post induction [185,52 ± 35,88]; and between 2 hours and 8 hours post induction [349,81 ± 121,28] was significantly different with value 0,002 and 0,000 respectively. It showed that decrement of etomidate dosage mo 0,2 mg/kgBW still able to decrease cortisol serum production significantly. However, in treatment group cortisol serum concentration pre-anesthesia [258,49 1"5,45-369,09)] and 2 hours post induction [202,14 ± 45,3]; and between 2 hours and 8 hours post induction [251,39 ± 122,91] was non significant, with p value 0,256 and 0,691 respectively. It proved the negative effect of vitamin C on cortisol depression effect of etomidate. Cortisol serum concentration between control and treatment group was significantly different on 2 hours post induction, but non significant on 8 hours post induction. It showed that the negative effect of vitamin C in cortisol depression because of etomidate only significant during 8 hours post eduction Conclusions: The effect of Vitamin C 200 mg iv 30 minutes pre-operation can minimize Cortisol depression on administration of etomidate 0,2 mg/kgBWKeywords : Pretreatment, vit c 200 mg, cortisol serum, etomidateABSTRAKLatar Belakang: Etomidat adalah salah satu agen anestesi yang berefek minimal terhadap kardiovaskular. Namun, etomidat mendepresi produksi kortisol. Salah satu agen yang dapat meminimalisir efek depresi tersebut adalah vitamin C. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pretreatment vitamin C 200 mg pada operasi elektif dengan anestesi umum terhadap kadar kortisol serum. Metode: penelitian ini merupakan penelitian Randomized Contolled Trial dengan 30 subjek yang dibagi dalam dua kelompok sama besar (n=15), yaitu kelompok kontrol yang menerima etomidat 0,2 mg/kgBB dan kelompok perlakuan yang menerima etomidat dan vitamin C 200 mg iv preoperasi. Masing-masing kelompok tersebut selanjutnya diperiksa kadar kortisolnya pre anestesi, 2 jam pasca induksi, 8 jam pasca induksi. Uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test dan Paired T Test digunakan untuk membandingkan kadar kortisol di masing-masing kelompok. Uji Mann Whitney dan Independent Sample T Test digunakan untuk membandingkan antar kelompok kontrol dan perlakuan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok kontrol, kadar kortisol preanestesi 244,15 dan 2 jam pasca induksi 185,52 + 35,88 berbeda bermakna (p=0,002). Begitu pula antara kadar 2 jam dengan 8 jam pasca induksi 349,81 + 121,28 (p=0,000). Sedangkan pada kelompok perlakuan, kadar kortisol antara pre anestesi 258,49 (175,45-369,09) dan 2 jam pasca induksi 202,14 + 45,3 tidak berbeda bermakna (p=0,256), begitu pula 2 jam pasca induksi dengan 8 jam pasca induksi 251,39 + 122,91 (p=0,691). Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin C 200 mg intra vena 30 menit pre operasi dapat menurunkan efek depresi kortisol oleh pemberian etomidat 0,2 mg/kgBB.Kata kunci : pretreatment, vit c 200 mg, cortisol serum, etomidat
Lama Analgesia Lidokain 2% 80 mg Dibandingkan Kombinasi Lidokain 2% dan Epinefrin pada Blok Subarakhnoid Trisnanto, Rezka Dian; Budiono, Uripno; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Subarachnoid block using isobaric lidocaine, has been applied on many variable clinic surgeries. In the country, lidocaine 2% 80 mg is preferable because of its cost The disadvantage of using lidocaine 2% 80 cc is short duration, 45 - 60 minutes, despite many surgeries take more than 1 hour, despite many surgeries take more than 1 hour. Objective: to prove whether addition of epinephrine 0.02 mg on subarachnoiod block with lidocaine 2% 80 cc able to make longer time of analgesia. Methods: It is a experimental study with quota sampling design on the 52 patients, which are undergoing surgery. In the room, blood pressure (BP), heart rate (HR), respiratory rate (RR) were measured. All of the patients were fasting 6 hour and no premedications. In the Central Operating Room/ COT ("Instalasi Bedah Sentral / IBS") vein access 18 G was inserted and colloid 7.5 cc/KgBW given as preload. The patients were divided randomly into 2 groups, lidocaine group and lidocaine - epinephrine group. Motoric block evaluation was performed on the same time with level of analgesia evaluation by using Bromages criteria. Blood pressure, MAP, heart rate, respiratory rate were measured before and after subarachnoid block, in the first 10 minutes of surgery, measurement every minute, 20 th minute and every 10 minute, 20 th minute and then every 10 minute until there was no motoric block. Uncooperative patient and who need additional analgesia during surgery, was excluded. Using Mann - Whitney and p < 0.05. Data were gathered in tables. Results: There was no difference for patients characteristics and surgery distribution among 2 groups. Regression time of 2 segments on the lidocaine -epinephrine group was longer significantly than iidocaine group (p = 0.000). The onset of sensoric block on lidocaine was shorter significantly than lidocaine -epinephrine group (p = 0.025). Duration of motoric block on lidocaine -epinephrine group was longer significantly than lidocaine group (p = 0.000). There was no significant difference on maximal level in two groups. There was no difference significantly on BP, MAP, HR after preload. There was difference significantly on HR at 1 st and 2 nd during subarachnoid block given between two group. Side effect distribution had difference significantly. Conclusion: Regression time of 2 segments on iidocaine - epinephrine group was longer significantly than lidocaine group.Keywords : subarachnoid block, lidocaine 2% 80 mg, epinephrine 0.02 mgABSTRAKLatar belakang: Blok subarakhnoid menggunakan lidokain isobarik, banyak digunakan pada operas! untuk pasien dengan berbagai kondisi klinik. Di daerah banyak digunakan lidokain 2% 80 mg dikarenakan harganya yang relatif murah. Kerugian dari penggunaan lidokain 2% 80 mg adalah durasi yang singkat, yaitu antara 45 - 60 menit, padahal banyak tindakan pembedahan yang durasinya lebih dari 1 jam. Tujuan: Membuktikan apakah penambahan epinefrin 0,02 mg pada blok subarakhnoid dengan lidokain 2% 80 mg dapat memperpanjang lama analgesia. Metode : Merupakan penelitian eksperimental dengan desain quota sampling pada 52 pasien yang menjalani operasi di daerah region abdominal dengan blok subarakhnoid. Saat di ruangan dilakukan pengukuran tekanan darah, laju jantung, dan laju nafas. Semua penderita dipuasakan 6 jam dan tidak diberikan obat premedikasi. Penilaian blok motorik dilakukan pada saat yang sama dengan penilaian level analgesi dengan menggunakan criteria dari Bromage. Penilaian tekanan darah, TAR, laju jantung dan laju nafas dilakukan sebelum dan sesudah blok subarakhnoid selama 10 menit pertama pembedahan dilakukan tiap menit, menit ke 15,20 selanjutnya setiap 10 menit sampai hilangnya blok motorik. Pasien tidak kooperatif dan membutuhkan analgetik tambahan selama pembedahan dikeluarkan dari penelitian. Uji statistik menggunakan Mann - Whitney dan derajat kemaknaan p < 0,05. Penyajian data dalam bentuk tabel. Hasil: Karakteristik penderita dan distribusi operasi antara kedua kelompok tidak berbeda. Waktu regresi dua segmen kelompok lidokain - epinefrin lebih lama dibandingkan kelompok lidokain (p=0,000). Mula kerja blok sensorik kelompok lidokain lebih cepat dibandingkan dengan kelompok lidokain - epinefrin (pK),002). Mula kerja blok motorik kelompok lidokain lebih cepat dibandingkan dengan kelompok lidokain - epinefrin (/7= : 0,025). Lama kerja blok motorik kelompok lidokain - epinefrin lebih panjang dibandingkan dengan kelompok lidokain (p=0,000). Level maksimal blok sensorik tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. TDS, TDD, TAR, laju nafas pada keadaan hemodinamik setelah preload tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Pada laju jantung terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p=0,013). TDS, TDD, TAR, laju nafas selama blok subarakhnoid tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok. Laju jantung terdapat perbedaan bermakna pada menit pertama dan menit kedua selama blok subarakhnoid pada kedua kelompok. Distribusi efek samping terdapat perbedaan bermakna antara Kesimpulan: Waktu regresi 2 segmen kelompok lidokain - epinefrin lebih lama secara bermakna dibandingkan kelompok lidokain.Kata kunci : Blok subarakhnoid, lidokain 2% 80 mg, epinefrin 0,02 mg.
Monitoring Kardiovaskuler pada Pediatric Intensive Care Rusmaladewi, Aprilina; Leksana, Ery; Nurcahyo, Widya Istanto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Anesthesia plays an important role on the development of the Pediatric Intensive care because anestesiologist knowledge and skills in managing the airway and breathing, circulation and vascular access monitoring. Pediatric Anesthesia is also a leader in the management of childhood respiratory and intensive care. Anesthesia knowledge and skills in acute and emergency in the operating room and the skills to provide basic life su pport to make a lot of anesthetic to be a leader in the PICU.Keywords : -ABSTRAKAnestesi memegang peranan penting terhadap perkembangan Pediatric Intensive care karena ilmu pengetahuan dan keterampilan anestesiologist dalam mengelola jalan nafas dan pernafasan, monitoring sirkulasi dan akses vaskular. Pediatric Anestesi juga menjadi leader pada pengelolaan pernafasan pada anak dan intensive care. Ilmu pengetahuan anestesi dan keterampilan pada keadaan akut dan emergensi di dalam ruang operasi dan keterampilan dalam memberikan bantuan hidup dasar menjadikan anestesi menjadi leader di banyak PICU.Kata kunci : -
Hubungan Cardiopulmonary Bypass Dengan Jumlah Neutrofil Polimorfonuklear Pada Pasien Yang Menjalani Coronary Artery Bypass Grafting Kushendarto, Yanuar; Nurcahyo, Widya Istanto; Jatmiko, Heru Dwi
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Morbidity on the ischemic heart disease about 68 per 1000 persons or about 6.8%. Goal of IHD is revascularization of blocked vessels by farmacologic therapy or operatif therapy. (Percutaneous Coronary Intervention/PCI or Coronary Artery Bypass Graft/CABG). CABG can used cardio pulmonary bypass (CPB)/ On-Pump Coronary Artery Bypass or without CPB/ Off -Pump Coronary Artery Bypass (OPCAB). Organ disfuntion on the patient CABG with CPB machine related with Systemic Inflammatory Response Syndrome caused by operation or CPB machine factor. The purpose of this experiment is Cardio Pulmonary Bypass on Coronary Artery Bypass Graft with the amount of neutrofil polimorfonuklear, inflammation time caused many complication.Method : Patient who will CABG sampled to know ing neutrofil PMN on pra torakotomi, post torakotomi, minute 15 and minute 30 after using CPB machine.Result : the counting of neutrofil yieded yielded that there was significant difference between the amount of neutrofil on (pra torakotomi) compared with post torakotomi, minute 15 and minute 30 CPB (p < 0,05). There was significant difference too between the amount of neutrofil on (pra torakotomi) compared with neutrofil post torakotomi minute 30 CPB (p < 0,05) and minute 15 CPB and minute 30 CPB (p < 0,05). ). In contrast, there was no significant difference between neutrofil post torakotomi minute 15 CPB (p 0,05).Conclution : There was neutrofil increased on the patient CABG using CPB.Keywords : Cardio Pulmonary Bypass, Coronary Artery Bypass Grafting, neutrofil PMNABSTRAKLatar Belakang : Angka kejadian dan angka mortalitas penyakit jantung iskemik (Ischaemic Heart Disease/ IHD) masih cukup tinggi yaitu sekitar 68 tiap 1000 penduduk atau sekitar 6,8% dan jumlah penduduk. Pengobatan IHD bertujuan untuk revaskularisasi pembuluh darah yang tersumbat dapat menggunakan teknik farmakologik atau operatif (Percutaneous Coronary Intervention/ PCI atau Coronary Artery Bypass Graft/ CABG). Tindakan CABG dapat menggunakan mesin cardio pulmonary bypass (CPB)/ On-Pump Coronary Artery Bypass atau tanpa menggunakan mesin CPB / Off-Pump Coronary Artery Bypass (OPCAB). Kejadian disfungsi organ pada pasien yang menjalani operasi CABG dengan mesin CPB dihubungkan dengan Systemic Inflammatory Response Syndrome yang diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain faktor tindakan operasi dan faktor mesin CPB tersebut. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh lamanya waktu Cardio Pulmonary Bypass pada operasi Coronary Artery Bypass Graft terhadap pola jumlah neutrofil p olimorfonuklear darah tepi, dapat merupakan suatu penanda respon inflamasi yang dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi.Metode : Pasien yang akan menjalani operasi CABG diambil sampel darah untuk diperiksa gambaran neutrofil PMN pada pra torakotomi, post torakotomi, menit ke 15 dan menit ke 30 sete Fah pemasangan mesin CPB.Hasil : Uji beda jumlah neutrofil ditemukan perbedaan bermakna jumlah neutrofil pada menit ke (pra torakotomi) dengan post torakotomi, menit ke 15 dan menit ke 30 CPB (p < 0,05). Uji beda jµga ditemukan perbedaan bermakna pada jumlah neutrofil post torakotomi dengan menit ke 30 CPB (p < 0,05) dan menit ke 15 CPB dan menit ke 30 CPB (p < 0,05). Tetapi tidak ditemukan perbedaan bermakna jumlah neutrofil post torakotomi dengan menit ke 15 CPB (p 0,05).Simpulan : Terdapat peningkatan jumlah neutrofil pada pasien yang menjalani CABG menggunakan CPB.Kata kunci : Cardio Pulmonary Bypass, Coronary Artery Bypass Grafting, kadar neutrofil PMN 
RERATA WAKTU PENGGUNAAN MESIN CARDIOPULMONARY BYPASS PADA OPERASI PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG BULAN JANUARI 2011-2013 Zahlia, Ica Sabrina Defia; Nurcahyo, Widya Istanto; Ismail, Akhmad
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Jantung Koroner adalah salah satu penyakit pada sistem kardiovaskuler yang sering terjadi dan merupakan masalah kesehatan utama di negara maju. Beberapa pengobatan untuk penyakit jantung koroner meliputi pemberian obat-obatan, tindakan intervensi dengan prosedur kateterisasi (balloon dan stent/ring) dan operasi Bypass Coroner. Tindakan Coronary Arteri Bypass Graft dapat menggunakan mesin cardio pulmonarybypass yang sering disebut On-Pump Coronary Artery Bypass atau tanpa menggunakan mesin Cardio pulmonarybypass yang sering disebut Off-Pump Coronary Artery Bypass (OPCAB).Tujuan : Mengetahui  rerata lama penggunaaan mesin Cardiopulmonary Bypass pada pasien operasi jantung koroner yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Kariadi pada bulan Januari 2011 – Januari 2013Metode : Penilitian ini merupakan penilitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional karena variabel diukur pada suatu saat. Sampel penelitian merupakan pasien operasi CABG Penyakit Jantung Koroner dan mendapatkan perawatan mesin Cardiopulmonary Bypass di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Januari 2011 – Januari 2013. Data dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan ditampilkan dalam bentuk tabel serta grafik.Hasil : Terdapat rerata pemakaian mesin Cardiopulmonary Bypass (CPB) pada operasi penyakit jantung koroner di RSUP Dr Kariadi adalah sebesar 100,71 menit atau 1 jam 40 menit.Kesimpulan : Rerata pemakaian mesin Cardiopulmonary Bypass (CPB) pada operasi penyakit jantung koroner di RSUP Dr Kariadi Semarang periode Januari 2011 – Januari 2013 adalah sebesar 100,71 menit atau 1 jam 40 menit.
RERATA WAKTU PASIEN PASCA OPERASI TINGGAL DI RUANG PEMULIHAN RSUP DR KARIADI SEMARANG PADA BULAN MARET – MEI 2013 Apriliana, Harvina Dwi; Nurcahyo, Widya Istanto; Ismail, Akhmad
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 2, No 1 (2013): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Pulih dari anestesi dikelola di ruang pemulihan. Idealnya adalah bangun dari anestesi secara bertahap tanpa keluhan dengan pengawasan dan pengelolahan secara ketat sampai keadaan stabil. Setelah efek anestesi hilang, pasien kemudian dapat dipindahkan keluar dari ruang pemulihan ke bangsal.Tujuan : Mengetahui rerata waktu pasien pasca operasi tinggal di ruang pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode : Penelitian ini menggunakan penelitian observasional dengan pendekatan crossectional. Subjek penelitian ini adalah pasien pasca operasi tinggal di ruang pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret-Mei 2013. Waktu pasien tinggal di ruang pemulihan dihitung dengan menggunakan stopwatch dan dicari reratanya.Hasil : Diperoleh sampel sebanyak 23 pasien, dan di dapatkan rerata waktu pasien adalah 52,6 menit.Simpulan : Rerata waktu pasien pascaoperasi tinggal di ruang pemulihan RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan Maret sampai Mei 2013 adalah sebesar 52,6 menit yaitu lebih cepat dari standar yang telah ditetapkan.